MENGAPA NYAMUK SUARANYA MENDENGUNG?
Legenda yang satu ini memiliki banyak versi. Ada versi Nusantara, tepatnya Gunung
Kidul dan versi Afrika Barat. Kita akan menyimak keduanya. Bersiaplah.
JASA SEORANG
DUKUN BAYI
(Versi
Nusantara, Legenda dari Gunung Kidul)
Sebut saja nama
desanya, Desa Dadapan. Suasananya begitu
asri, di kaki Pegunungan Sejo setelah penghijauan yang dilakukan warga
berhasil. Sungai yang membelah kampung itupun selalu dialiri
air saat kemarau maupun musim hujan.
Masyarakatnya hidup sederhana dalam keadaan makmur dan tentram. Kebanyakan mereka hidup sebagai petan yang sekaligus peternak juga memelihara ikan. Sebagian kecil lainnya bermata pencaharian sebagai pedagang. Kerukunan dan kebersamaan warga membuat semua merasa nyaman tinggal di Desa Dadapan.
“Kita patut bersyukur pada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemakmuran untuk desa kita ini.” Lurah Desa Dadapan, Pak Haji Sukri memulai pertemuan di balai desa.
“Saya juga merasa bersyukur, warga desa dapat hidup tentram. Segala urusan terkait kepentingan bersama selalu mereka utamakan. Infak bersama dari hasil bumi pun terkumpul dengan mudah.” Bendahara desa menyampaikan kemajuan kas desa.
Akan tetapi keadaan ini tiba-tiba berubah. Seolah teror di siang bolong, seorang warga lari tergopoh-gopoh menuju balai pertemuan.
“Pak Lurah, Pak Carik, saya di kejar makhluk aneh. Tolong lindungi saya.” Seorang petani bernama Imin mengadu dengan napas tersengal-sengal.
“Tenang dulu, Pak Umam. Supaya kami lebih jelas mendengar penjelasan Pak Umam,” kata Pak Lurah sambil memberikan segelas air minum.
Pak Umma berkisah tentang kejadian aneh dan menakutkan yang dilihatnya. Seekor ratu nyamuk sebesar kambing memasuki kampung dengan suara yang memekakkan telinga. Yang lebih mengerikan, alat pengisapnya begitu besar. Seekor sapi yang sedang digunakan membajak oleh Pak Ummam langsung lemas tak berdaya diisap darahnya.
“Wah, berarti desa kita dalam bahaya!” seru Pak Carik
“Kita harus segera mendapatkan solusi.” Rapat di balai pertemuan berganti agenda. Pak Umam sebagai sumber berita, ikut bermusyawarah.
“Menurut saya, nyamuk itu sebentar lagi akan bertelur, Pak. Ratu nyamuk yang perutnya sebesar itu butuh bantuan untuk mengeluarkan telurnya.” Pak Umam yakin dengan analisanya. “Apalagi dia menanyakan kolam terdekat. Katanya buat menetaskan telurnya,” lanjut Pak Umam
“Baiklah, kalau begitu kita harus panggil Mbok Iyam, dukun bayi kita yang terampil itu.”
Hari itu juga sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, Mbok Iyam ditemani Babinsa menemui nyamuk yang sedang kesusahan mengeluarkan telurnya di pinggir kolam.
“Ratu Nyamuk, aku bisa menolongmu, asalkan kamu beritahu aku kenapa tubuhmu bisa sebesar ini? Kamu membuat kami ketakutan. Sekali saja kamu mengisap ternak-ternak kami, mereka bisa kehabisan darah.”
“Aku akan memberi tahumu asalkan kau bantu aku mengeluarkan telur-telur ini.”
“Tentu saja Ratu Nyamuk, bukankah aku sudah berjanji.”
Ratu Nyamuk memberitahukan pada Mbok Iyah rahasia kesaktiannya, yaitu cincin di ujung sayapnya.
“Untuk memudahkanmu bertelur, cincin itu akan aku ambil. Supaya kamu mengecil dulu. Begitu pula dengan telur-telurmu.”
Benar saja, begitu cincin itu diambil, telur itu keluar sangat banyak.
“Terima kasih Mbok Iyah, lega rasanya perutku. Sekarang pasangkan lagi cincin itu di sayapku.”
“Itu bukan bagian dari perjanjian kita. Aku menolongmu dengan cara mengambil cincin ini, jadi tidak ada keharusan aku mengembalikannya bukan?”
Ratu nyamuk marah dan mengejar Mbok Iyah untuk mendapatkan cincin itu. Mbok Iyak tak kehabisan akal. Tiap Ratu Nyamuk mengejarnya selalu saja disiapkan asap jerami buat mengusirnya.
“Aduh mataku sakit. Asap ini mengganggu sekali.” Ratu nyamuk menggerutu dengan suara ngung…..ngung….ngung…..
Sejak saat itulah suara itu diikuti anak keturunannya. Suara mendengung sambil terus mencari cincin yang pernah diambil Mbok Iyah.
Masyarakatnya hidup sederhana dalam keadaan makmur dan tentram. Kebanyakan mereka hidup sebagai petan yang sekaligus peternak juga memelihara ikan. Sebagian kecil lainnya bermata pencaharian sebagai pedagang. Kerukunan dan kebersamaan warga membuat semua merasa nyaman tinggal di Desa Dadapan.
“Kita patut bersyukur pada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemakmuran untuk desa kita ini.” Lurah Desa Dadapan, Pak Haji Sukri memulai pertemuan di balai desa.
“Saya juga merasa bersyukur, warga desa dapat hidup tentram. Segala urusan terkait kepentingan bersama selalu mereka utamakan. Infak bersama dari hasil bumi pun terkumpul dengan mudah.” Bendahara desa menyampaikan kemajuan kas desa.
Akan tetapi keadaan ini tiba-tiba berubah. Seolah teror di siang bolong, seorang warga lari tergopoh-gopoh menuju balai pertemuan.
“Pak Lurah, Pak Carik, saya di kejar makhluk aneh. Tolong lindungi saya.” Seorang petani bernama Imin mengadu dengan napas tersengal-sengal.
“Tenang dulu, Pak Umam. Supaya kami lebih jelas mendengar penjelasan Pak Umam,” kata Pak Lurah sambil memberikan segelas air minum.
Pak Umma berkisah tentang kejadian aneh dan menakutkan yang dilihatnya. Seekor ratu nyamuk sebesar kambing memasuki kampung dengan suara yang memekakkan telinga. Yang lebih mengerikan, alat pengisapnya begitu besar. Seekor sapi yang sedang digunakan membajak oleh Pak Ummam langsung lemas tak berdaya diisap darahnya.
“Wah, berarti desa kita dalam bahaya!” seru Pak Carik
“Kita harus segera mendapatkan solusi.” Rapat di balai pertemuan berganti agenda. Pak Umam sebagai sumber berita, ikut bermusyawarah.
“Menurut saya, nyamuk itu sebentar lagi akan bertelur, Pak. Ratu nyamuk yang perutnya sebesar itu butuh bantuan untuk mengeluarkan telurnya.” Pak Umam yakin dengan analisanya. “Apalagi dia menanyakan kolam terdekat. Katanya buat menetaskan telurnya,” lanjut Pak Umam
“Baiklah, kalau begitu kita harus panggil Mbok Iyam, dukun bayi kita yang terampil itu.”
Hari itu juga sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, Mbok Iyam ditemani Babinsa menemui nyamuk yang sedang kesusahan mengeluarkan telurnya di pinggir kolam.
“Ratu Nyamuk, aku bisa menolongmu, asalkan kamu beritahu aku kenapa tubuhmu bisa sebesar ini? Kamu membuat kami ketakutan. Sekali saja kamu mengisap ternak-ternak kami, mereka bisa kehabisan darah.”
“Aku akan memberi tahumu asalkan kau bantu aku mengeluarkan telur-telur ini.”
“Tentu saja Ratu Nyamuk, bukankah aku sudah berjanji.”
Ratu Nyamuk memberitahukan pada Mbok Iyah rahasia kesaktiannya, yaitu cincin di ujung sayapnya.
“Untuk memudahkanmu bertelur, cincin itu akan aku ambil. Supaya kamu mengecil dulu. Begitu pula dengan telur-telurmu.”
Benar saja, begitu cincin itu diambil, telur itu keluar sangat banyak.
“Terima kasih Mbok Iyah, lega rasanya perutku. Sekarang pasangkan lagi cincin itu di sayapku.”
“Itu bukan bagian dari perjanjian kita. Aku menolongmu dengan cara mengambil cincin ini, jadi tidak ada keharusan aku mengembalikannya bukan?”
Ratu nyamuk marah dan mengejar Mbok Iyah untuk mendapatkan cincin itu. Mbok Iyak tak kehabisan akal. Tiap Ratu Nyamuk mengejarnya selalu saja disiapkan asap jerami buat mengusirnya.
“Aduh mataku sakit. Asap ini mengganggu sekali.” Ratu nyamuk menggerutu dengan suara ngung…..ngung….ngung…..
Sejak saat itulah suara itu diikuti anak keturunannya. Suara mendengung sambil terus mencari cincin yang pernah diambil Mbok Iyah.
Pesan Moral:
- Janganlah memakai sesuatu yang membuat kita nampak hebat, padahal bisa membuat kita celaka
- Apapun masalahnya selalu hadapi dengan bermusyawarah, maka adakeberkahan dalam kebersamaan.
Nyamuk masuk dalam
klas insecta ordo Diptera. Memiliki sepasang sayap bersisik, tiga pasang kaki
panjang dan tubuhnya langsing. Terdapat
2700 spesies nyamuk.
Cara berkembangbiaknya dengan bertelur dimana telur-telur itu menyatu bersama darah. Makanan nyamuk sebenarnya adalah cairan nectar bunga.
Tempat bertelur nyamuk biasanya di daun dekat kolam atau kolam kering. Sensor kelembaban dan suhu ada dibagian bawah perutnya atau reseptor. Saat bertelur, telur yang dikeluarkan disusun seumpama rakit, berjumlah sekitar 300 butir yang masing-masing panjangnya. kurang dari 1 mm.
Perkembangan nyamuk mengalami metamorfosa hingga dewasanya yaitu fase telur, jentik-jentik atau larfa , pupa dan nyamuk dewasa.
Referensi:
- https://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk
- http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/221-asal-mula-nyamuk-berdengung
- http://www.allfolktales.com/wafrica/why_mosquitoes_buzz.php
Tidak ada komentar:
Posting Komentar