KESYUKURAN BAYO, SI BUAYA PETUALANG
Di sebuah sungai di tengah padang rumput di dekat Hutan Okavango.
“Ah, aku bosan tinggal di kubangan air sempit ini. Betapa senangnya bila aku bisa tinggal
bersama zebra-zebra cantik itu. Bebas
berlari, bahkan menikmati juga sungai kecil ini. Sedangkan aku hanya tinggal di sini-sini
saja.” Buaya mengeluh dan menganggap
sungai kecil tempat dia tinggal layaknya kubangan yang membosankan. Ingin rasanya ia mendapatkan pengalaman baru
dengan berpetualang.
Suatu ketika, datang kawanan zebra ke sungai kecilnya untuk makan
minum dan makan rerumputannya. Bayo si
buaya tidak menerkam mereka. Ia ingin
diizinkan tinggal bersama zebra di padang rumput yang indah. Salah satu teman baru Bayo bernama Zibro, si
zebra tampan.
“Zibro, aku bosan tinggal di sini.
Izinkan aku mengikuti kalian, pergi ke dataran yang menghijau oleh
rerumputan.” Ungkap Bayo pada Zibro,
teman barunya.
“Wah, dataran tempat kami jauh sekali dari air. Lagi pula jalanmu sangat lambat.”
“Jangan kau remehkan aku aku akan bisa mengatasi kesulitan dan
kelemahanku sendiri.”
Akhirnya Zibro mengizinkan Bayo mengikutinya. Bayo menaiki tepi sungai dan mulai
merayap. Awalnya Bayo masih bisa
bersama-sama rombongan. Akan tetapi ada
saatnya Zibro berlari cepat dan Bayo pun tertinggal jauh. Sementara dirinya sudah cukup jauh dari sungai
tempat tinggalnya tadi.
“Ternyata daratan ini sangat panas, aku sudah tidak kuat lagi.” Bayo mencari tempat berteduh. Bayo menemukan pohon rindang untuk istirahat
di bawahnya. Dia terlelap karena
kelelahan yang amat memenatkan. Siapapun
yang melihatnya akan menganggapnya telah mati.
Sementara itu Zibro berusaha mencari Bayo yang telah lama
tertinggal. Ketika didapatinya Bayo
seakan telah mati, Zibro pergi meninggalkannya.
Penghuni padang rumput yang melintasi tempat itu dan memperhatikan
Bayo pasti menganggapnya buaya mati kecuali Cici si kelinci mungil. Ia yakin bahwa Bayo hanya tidur terlalu
lelap. Dengan hati-hati Cici membangunkan
Bayo.
“Kaukah Bayo yang ingin tinggal bersama kami di darat? Kabar tentang kamu sudah tersebar di padang
rumput ini. Bangunlah Bayo…..”
Bayo pun terbangun dengan mata yang masih tampak lelah dan malas.” Benar kelinci, aku ditinggalkan Zibro setelah
kami janji untuk bersahabat.
Sekarang aku baru menyadari
ternyata Allah telah memberikan terbaik untukku, yaitu di dalam air. Aku sangat menyesal dengan
ketidakpuasanku. Semua ini terjadi
karena aku tidak pandai bersyukur.” Bayo
benar-benar menyesal dan ingin bertaubat.
“Baiklah Bayo, aku akan mencari bantuan untuk membawamu kembali ke
air. Bersabarlah dan tunggu aku di sini. Aku akan mencari cara. Tidurlah seolah kamu telah mati.” Cici memutar otak untuk mendapatkan bantuan.
Di tengah perjalanan, Cici melihat pemangsa yang sangat mematikan,
Gala, si serigala liar.
“Aku ada mangsa mungil rupanya.”
Lirikan srigala membuat Cici ketakutan.
Gigi tajamnya menyeringai siap menerkamnya.
Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri
kecuali mengelabuhi Gala. “Sabarlah, Gala. Aku terlalu
kecil buat kamu. Aku akan tunjukkan
mangsa yang lebih besar dal lezat.”
“Jangan banyak bicara, coba tunjukkan kalau kamu tidak
membohongiku!”
Cici mengajak dan menunjuki tempat bayo istirahat.
“Lihatlah itu, ada buaya mati.
Allah akan murka dan menahan hujanNya bila bangkai buaya itu membusuk
dan mengotori udara padang rumput kita.
Kita harus mengembalikannya kesungai.”
“Bukankan itu makananku, kenapa harus kita bawa ke sungai?” Gala bertanya keheranan.
“Iya, kamu bisa berpesta setelah dagingnya empuk. Supaya empuk, dia harus kita rendam di air
sungai itu.” Cici menjelaskan.
Serigala menyetujui akal cerdik Cici tanpa kecurigaan
sedikitpun. Mereka berdua Nampak sebagai
pasangan yang mustahil, menyeret buaya itu ke sungai.
Bayo merasa sangat bahagia dapat kembali ke sungai. Sementara Gala keheranan dengan lenyapnya
buaya.
“Tunggulah, Gala. Nanti dia
akan muncul ke permukaan dengan dagingnya yang lembut,” bujuk Cici.
Serigala menunggu dengan tidak sabar di tepi sungai. Tanpa disadarinya bahaya mengintai. Buaya yang telah segar karena berada di
habitat yang tepat tiba-tiba menerkamnya.
Sejak itu, Bayo yakin bahwa tempat terbaiknya adalah rumah yang
Allah rejekikan, yaitu tinggal di perairan.
PESAN MORAL:
1. Bersyukurlah maka Allah akan
menambah nikmat-Nya sebaliknya bila kufur nikmat maka Allah akan mencabut
nikmat yang sudah ada
2. Tolong menolonglah dengan sesama
untuk keselarasan dalam kehidupan
3. Tetaplah cerdas dalam menggunakan
akal agar kita dapat memecahkan berbagai permasalahan
FAKTA UNIK:
Buaya merupakan reptilia buas.
Habitatnya ada di perairan air tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya. Makanan utama buaya adalah ikan, reptil lain
dan mamalia.
Dalam bahasa Inggris, buaya disebut crocodile yang berdekatan
dengan nama Yunaninya yaitu krokodilus.
Awal penamaan ini, karena orang Yunani melihat buaya pertama kali di
tepi Sungai Nil, dimana buaya memiliki kebiasaan berjemur di bebatuan tepi
sungai. Kroko berarti bebatuan kerikil dan
deilos bermakna cacing. Jadi krokodilus
adalah cacing bebatuan.
Taksonomi:
Kingdom-Animalia, Philum-Chordata, Kelas-Sauropsida, Ordo-Crocodilia,
Famili-Crocodyliadae, Species-Tomistoma schlegelli
REFERENSI:
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Buaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar