Jumat, 12 Oktober 2018

Legenda ke-5 Mengapa Buaya Hidup di Air


KESYUKURAN BAYO, SI BUAYA PETUALANG

Di sebuah sungai di tengah padang rumput di dekat Hutan Okavango.

“Ah, aku bosan tinggal di kubangan air sempit ini.  Betapa senangnya bila aku bisa tinggal bersama zebra-zebra cantik itu.  Bebas berlari, bahkan menikmati juga sungai kecil ini.  Sedangkan aku hanya tinggal di sini-sini saja.”  Buaya mengeluh dan menganggap sungai kecil tempat dia tinggal layaknya kubangan yang membosankan.  Ingin rasanya ia mendapatkan pengalaman baru dengan berpetualang.

Suatu ketika, datang kawanan zebra ke sungai kecilnya untuk makan minum dan makan rerumputannya.  Bayo si buaya tidak menerkam mereka.  Ia ingin diizinkan tinggal bersama zebra di padang rumput yang indah.  Salah satu teman baru Bayo bernama Zibro, si zebra tampan.

“Zibro, aku bosan tinggal di sini.  Izinkan aku mengikuti kalian, pergi ke dataran yang menghijau oleh rerumputan.”  Ungkap Bayo pada Zibro, teman barunya.

“Wah, dataran tempat kami jauh sekali dari air.  Lagi pula jalanmu sangat lambat.”

“Jangan kau remehkan aku aku akan bisa mengatasi kesulitan dan kelemahanku sendiri.”
Akhirnya Zibro mengizinkan Bayo mengikutinya.  Bayo menaiki tepi sungai dan mulai merayap.  Awalnya Bayo masih bisa bersama-sama rombongan.  Akan tetapi ada saatnya Zibro berlari cepat dan Bayo pun tertinggal jauh.  Sementara dirinya sudah cukup jauh dari sungai tempat tinggalnya tadi.

“Ternyata daratan ini sangat panas, aku sudah tidak kuat lagi.”  Bayo mencari tempat berteduh.  Bayo menemukan pohon rindang untuk istirahat di bawahnya.  Dia terlelap karena kelelahan yang amat memenatkan.  Siapapun yang melihatnya akan menganggapnya telah mati. 

Sementara itu Zibro berusaha mencari Bayo yang telah lama tertinggal.  Ketika didapatinya Bayo seakan telah mati, Zibro pergi meninggalkannya.

Penghuni padang rumput yang melintasi tempat itu dan memperhatikan Bayo pasti menganggapnya buaya mati kecuali Cici si kelinci mungil.  Ia yakin bahwa Bayo hanya tidur terlalu lelap.  Dengan hati-hati Cici membangunkan Bayo.

“Kaukah Bayo yang ingin tinggal bersama kami di darat?  Kabar tentang kamu sudah tersebar di padang rumput ini.  Bangunlah Bayo…..”

Bayo pun terbangun dengan mata yang masih tampak lelah dan malas.”  Benar kelinci, aku ditinggalkan Zibro setelah kami janji untuk bersahabat.  Sekarang  aku baru menyadari ternyata Allah telah memberikan terbaik untukku, yaitu di dalam air.  Aku sangat menyesal dengan ketidakpuasanku.  Semua ini terjadi karena aku tidak pandai bersyukur.”  Bayo benar-benar menyesal dan ingin bertaubat.

“Baiklah Bayo, aku akan mencari bantuan untuk membawamu kembali ke air.  Bersabarlah dan tunggu aku di sini.  Aku akan mencari cara.  Tidurlah seolah kamu telah mati.”  Cici memutar otak untuk mendapatkan bantuan.

Di tengah perjalanan, Cici melihat pemangsa yang sangat mematikan, Gala, si serigala liar.
“Aku ada mangsa mungil rupanya.”  Lirikan srigala membuat Cici ketakutan.  Gigi tajamnya menyeringai siap menerkamnya.  

Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri kecuali mengelabuhi Gala. “Sabarlah, Gala.  Aku terlalu kecil buat kamu.  Aku akan tunjukkan mangsa yang lebih besar dal lezat.”

“Jangan banyak bicara, coba tunjukkan kalau kamu tidak membohongiku!”

Cici mengajak dan menunjuki tempat bayo istirahat.

“Lihatlah itu, ada buaya mati.  Allah akan murka dan menahan hujanNya bila bangkai buaya itu membusuk dan mengotori udara padang rumput kita.  Kita harus mengembalikannya kesungai.”

“Bukankan itu makananku, kenapa harus kita bawa ke sungai?”  Gala bertanya keheranan.

“Iya, kamu bisa berpesta setelah dagingnya empuk.  Supaya empuk, dia harus kita rendam di air sungai itu.”  Cici menjelaskan.

Serigala menyetujui akal cerdik Cici tanpa kecurigaan sedikitpun.  Mereka berdua Nampak sebagai pasangan yang mustahil, menyeret buaya itu ke sungai.

Bayo merasa sangat bahagia dapat kembali ke sungai.  Sementara Gala keheranan dengan lenyapnya buaya.

“Tunggulah, Gala.  Nanti dia akan muncul ke permukaan dengan dagingnya yang lembut,” bujuk Cici.

Serigala menunggu dengan tidak sabar di tepi sungai.  Tanpa disadarinya bahaya mengintai.  Buaya yang telah segar karena berada di habitat yang tepat tiba-tiba menerkamnya.

Sejak itu, Bayo yakin bahwa tempat terbaiknya adalah rumah yang Allah rejekikan, yaitu tinggal di perairan.

PESAN MORAL:
1. Bersyukurlah maka Allah akan menambah nikmat-Nya sebaliknya bila kufur nikmat maka Allah akan mencabut nikmat yang sudah ada
2. Tolong menolonglah dengan sesama untuk keselarasan dalam kehidupan
3. Tetaplah cerdas dalam menggunakan akal agar kita dapat memecahkan berbagai permasalahan

FAKTA UNIK:

Buaya merupakan reptilia buas.  Habitatnya ada di perairan air tawar seperti sungai, danau, rawa  dan lahan basah lainnya.  Makanan utama buaya adalah ikan, reptil lain dan mamalia.

Dalam bahasa Inggris, buaya disebut crocodile yang berdekatan dengan nama Yunaninya yaitu krokodilus.  Awal penamaan ini, karena orang Yunani melihat buaya pertama kali di tepi Sungai Nil, dimana buaya memiliki kebiasaan berjemur di bebatuan tepi sungai.  Kroko berarti bebatuan kerikil dan deilos bermakna cacing.  Jadi krokodilus adalah cacing bebatuan.

Taksonomi:
Kingdom-Animalia, Philum-Chordata, Kelas-Sauropsida, Ordo-Crocodilia, Famili-Crocodyliadae, Species-Tomistoma schlegelli

REFERENSI:
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Buaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar