Jumat, 19 Oktober 2018

Legenda Ke-24-Kemunculan Belalai dan Taring Gajah


LEGENDA KE-24
GAJO DAN BELALAINYA

Satu lagi khazanah kisah dari Afrika, kali ini dari Afrika Selatan.  Tentang Gajah bernama Gajo.
Awalnya Gajo diciptakan dengan tubuh besar dan gemuk tetapi tidak memiliki hidung yang sepanjang belalainya sekarang.  Sering kali Gajo mengeluhkan kesulitan yang dialaminya.
“Rabb, badan kami besar.  Kami butuh banyak minum dan makan.  Tapi kami tidak memiliki anggota tubuh untuk meraih dedaunan di ranting pohon.  Atau meraih rumput untuk kami makan.  Juga saat minum kami harus bersusah-susah untuk merunduk.  Sedangakan badan kami setambun ini, wahai Tuhan.  Mohon kiranya Engkau beri kemudahan pada kami.”  Gajo mengeluhkan keadaan diri dan nasibnya pada Allah SWT.
Doa ini didengar oleh Jalko si burung jalak.  Jalko yang bertengger untuk mematuk serangga yang hinggap pada tubuh Gajo.
“Sudah bagus hidung kamu pendek.  Kalau hidungmu panjang.  Aku tidak akan nyaman memakan serangga-serangga yang hinggap di punggungmu.  Malah aku takut terkena pukulan hidung panjangmu.”  Burung yang membantu meringankan rasa gatal gigitan serangga di punggung Gajo itu tersenyum sendiri.  Ia membayangkan Gajo  memainkan hidung untuk mengusir mangsanya, kutu dan serangga kecil.
“Kamu sudah lama menjadi sahabatku, aku tidak akan mengusirmu dengan hidung panjangku, kalau doaku ini dikabulkan.”  Gajo berjanji.
Siang itu udara begitu panas.  Gajo merasa kehausan.  Musim kemarau yang cukup panjang mengeringkan air yang ada di kubangan kecil di padang rumput.  Terpaksa Gajo pun berjalan jauh mencari air.  Jalko masih setia menemaninya kemana pun Gajo pergi.  Jalko sudah terlalu nyaman mendapat makanan di punggung Gajo.  Sebaliknya Gajo merasa terbantu dalam mengurangi rasa gatal oleh gangguan serangga.
Perjalanan iut mengantarkan Gajo pada rawa-rawa.  Betapa senangnya Gajo mendapat tempat yang banyak airnya.
“Alhamdulillah, Jalko, di depan kita ada rawa-rawa.  Wah, kita bisa tinggal di sini dalam waktu lama.  Air ini tidak akan habis walaupun kemarau masih belum berganti musim.”
“Aku turut senang Gajo, rejekimu, keberuntunganku juga.”  Jalko menari riang kesana-kemari di atas punggung Gajo.  Sesekali ia terbang di sekitar Gajo.  
Saat Gajo istirahat di bawah pohon rindang karena kelelahan, Jalko terbang mengawasi keadaan.
“Gawat, Gajo harus tahu di rawa ini ternyata ada seekor buaya yang bisa memangsanya.”  Jalko segera kembali pada Gajo.
“Bangun Gajo, rawa-rawa ini tidak aman buat kita.  Ada buaya yang siap menjadi pemangsamu.  Ayo kita pergi dari sini.”  Jalko melaporkan apa yang dilihatnya pada Gajo.
“Tidak mungkin, aku tidak melihat bahaya apapun.  Kamu jangan membohongiku kawan.”  Gajo yang masih setengah sadar dari tidur lelapnya tidak mengindahkan kabar dari Jalko.
Saat haus makin mendera kerongkongan Gajo, ia segera menuju rawa itu.  Tanpa curiga sedikitpun bahwa ada seekor buaya sedang bergerak pelan ke arahnya.  Buaya sengaja menyelamkan tubuhnya hanya lubang hidungnya sedikit muncul di permukaan.
Gajo memasukkan hidung pendeknya ke dalam air rawa itu, sambil menyimpuhkan kaki depannya.
“Alhamdulillah rasa hausku hilang juga.”
Baru saja Gajo berusaha menegakkan kaki dari posisi bersimpuhnya, tiba-tiba…….
“Aduh tolong aku terjepit.”  Gajo menyangka bahwa hidungnya terjepit akar pohon..
Ditariknya sekuat tenaga hidung itu tapi tidak juga berhasil.  Sebaliknya buaya juga merasa mangsa yang ditariknya terlalu berat.  Buaya ingin sekali memangsa Gajo.  Lumayan buat persediaan makan berhari-hari untuk mangsa sebesar ini, batin buaya, penuh harap.
Gajo berusaha untuk mundur sementara buaya tidak ingin menampakkan kepalanya di permukaan air.  Tentu saja hidung pendek Gajo memanjang karena pertarungan itu, hampir putus.  Beruntung datang sahabat setianya, Jalko.
“Gajo, kamu dalam bahaya.  Buaya itu benar-benar ingin memangsamu.”
“Tolong aku, Jalko!  Maafkan aku tidak percaya pada kata-katamu.”  Gajo menyesal.
“Baiklah kawan, aku akan mengalihkan perhatian buaya jahat itu.”
Jalko terbang di atas kepala buaya bahkan hinggap di lubang hidung buaya.  Buaya merasa terganggu.  Bidungnya terasa gatal dan ingin bersin.
“Kurang ajar kau jalak kecil.”  Buaya tak mampu menahan lagi hidung Gajo.  Dia bersin dengn keras, hampir saja Jalko terpelanting dan masuk mulut buaya.  Beruntung Jalko dapat terbang dengan gesit.
Gajo yang masih menarik hidungnya terjengkang.
Malangnya, hidung itu tetap panjang dan tak kembali pada keadaan semula.  Bahkan dua gigi serinya juga ikut tertarik menjadi dua taring di kanan kirinya.  Gajo merasa malu dengan hidung  dan taring panjangnya.  Maka dia mengasingkan diri bersama Jalko.  Sambil menunggu luka di hidungnya perlahan-lahan membaik, Gajo mencoba menerima kondisi barunya..
“Jalko nampaknya ada hikmah besar dari memanjangnya hidungku.  Aku akan memanfaatkannya untuk meraih dedaunan dan mencabut rumput.”
“Syukurlah, Gajo.  Kamu tidak perlu lagi malu dengan hidung barumu.”
“Aku akan terus berlatih menggunakannya.”
Sejak itu, gajah merasa sangat nyaman dengan belalainya.  Ia dapat dengan mudah memperoleh makan dan minum. Bahkan untuk mandi saat panas mendera. Juga memukul musuh-musuhnya.

PESAN MORAL:
1. Saat kita dalam kesulitan atau pun menginginkan sesuatu maka mohonlah pada Tuhan yang Maha Mendengar
2. Tetap waspada dan hati-hati dalam berbuat, dengarkan kata orang-orang dekat yang mengasihi kita maka hal ini akan mendekatkan kita pada keselamatan
3.  Dengan bersabar, berbaik sangka dan optimisme, kita akan mampu memperbaiki keadaan, mengubah musibah menjadi potensi dan karunia Allah SWT.

FAKTA ILMIAH
Yuk kita kenali tokoh legenda kita kali ini.  Gajah tergolong dalam mamalia (binatang menyusui).  Penyebarannya ada di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara.  Beberapa keluarga gajah sudah mengalami kepunahan yaitu mamut dan mastodon. 

Gajah Afrika jantan memiliki tinggi hingga 4 meter dan massanya bisa mencapai 7000 kg, Masya Allah, besar sekali, ya.
Mereka memiliki hidung panjang yang kita sebut belalai.  Fungsinya ternyata sangat banyak yaitu bernapas, menghisap air dan mengambil benda.  Wah, mirip tangan, ya?  Taringnya yang panjang sering kita sebut gading adalah perpanjangan dari gigi serinya, berfungsi sebagai senjata sekaligus alat untuk menggali dan memindahkan sesuatu.  Daun telinganya lebar untuk membantu mengatur suhu tubuh.

Ternyata morfologi tubuh gajah Afrika dan Asia ada bedanya, lho?  Gajah Afrika memiliki telinga lebih lebar dan bentuk punggung cekung sedangkan gajah asia, bertelinga lebih kecil dan punggung cembung.

Dari jenis makanannya, gajah adalah herbivora.  Tempat hidupnya tersebar di sabana, hutan, gurun dan rawa.

Sekarang kita simak taksonomi dari gajah ini.   Kingdomnya tentu Animalia, Filum: Chordata, Subfilum: Vertebrata, Kelas: Mamalia, Superordo:Afrotheria, Ordo:Proboscidea, Famili:Elephantidae, Genus:Loxodonta dan Elephas), Spesies: gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus)

REFERENSI:
1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar