LEGENDA KE-24
GAJO DAN BELALAINYA
Satu lagi khazanah kisah dari Afrika, kali ini
dari Afrika Selatan. Tentang Gajah
bernama Gajo.
Awalnya Gajo diciptakan dengan tubuh besar dan
gemuk tetapi tidak memiliki hidung yang sepanjang belalainya sekarang. Sering kali Gajo mengeluhkan kesulitan yang
dialaminya.
“Rabb, badan kami besar. Kami butuh banyak minum dan makan. Tapi kami tidak memiliki anggota tubuh untuk
meraih dedaunan di ranting pohon. Atau
meraih rumput untuk kami makan. Juga
saat minum kami harus bersusah-susah untuk merunduk. Sedangakan badan kami setambun ini, wahai
Tuhan. Mohon kiranya Engkau beri
kemudahan pada kami.” Gajo mengeluhkan
keadaan diri dan nasibnya pada Allah SWT.
Doa ini didengar oleh Jalko si burung
jalak. Jalko yang bertengger untuk mematuk
serangga yang hinggap pada tubuh Gajo.
“Sudah bagus hidung kamu pendek. Kalau hidungmu panjang. Aku tidak akan nyaman memakan
serangga-serangga yang hinggap di punggungmu.
Malah aku takut terkena pukulan hidung panjangmu.” Burung yang membantu meringankan rasa gatal
gigitan serangga di punggung Gajo itu tersenyum sendiri. Ia membayangkan Gajo memainkan hidung untuk mengusir mangsanya,
kutu dan serangga kecil.
“Kamu sudah lama menjadi sahabatku, aku tidak
akan mengusirmu dengan hidung panjangku, kalau doaku ini dikabulkan.” Gajo berjanji.
Siang itu udara begitu panas. Gajo merasa kehausan. Musim kemarau yang cukup panjang mengeringkan
air yang ada di kubangan kecil di padang rumput. Terpaksa Gajo pun berjalan jauh mencari
air. Jalko masih setia menemaninya
kemana pun Gajo pergi. Jalko sudah
terlalu nyaman mendapat makanan di punggung Gajo. Sebaliknya Gajo merasa terbantu dalam
mengurangi rasa gatal oleh gangguan serangga.
Perjalanan iut mengantarkan Gajo pada
rawa-rawa. Betapa senangnya Gajo
mendapat tempat yang banyak airnya.
“Alhamdulillah, Jalko, di depan kita ada
rawa-rawa. Wah, kita bisa tinggal di
sini dalam waktu lama. Air ini tidak
akan habis walaupun kemarau masih belum berganti musim.”
“Aku turut senang Gajo, rejekimu,
keberuntunganku juga.” Jalko menari
riang kesana-kemari di atas punggung Gajo.
Sesekali ia terbang di sekitar Gajo.
Saat Gajo istirahat di bawah pohon rindang
karena kelelahan, Jalko terbang mengawasi keadaan.
“Gawat, Gajo harus tahu di rawa ini ternyata
ada seekor buaya yang bisa memangsanya.”
Jalko segera kembali pada Gajo.
“Bangun Gajo, rawa-rawa ini tidak aman buat
kita. Ada buaya yang siap menjadi
pemangsamu. Ayo kita pergi dari sini.” Jalko melaporkan apa yang dilihatnya pada
Gajo.
“Tidak mungkin, aku tidak melihat bahaya
apapun. Kamu jangan membohongiku kawan.” Gajo yang masih setengah sadar dari tidur
lelapnya tidak mengindahkan kabar dari Jalko.
Saat haus makin mendera kerongkongan Gajo, ia
segera menuju rawa itu. Tanpa curiga
sedikitpun bahwa ada seekor buaya sedang bergerak pelan ke arahnya. Buaya sengaja menyelamkan tubuhnya hanya
lubang hidungnya sedikit muncul di permukaan.
Gajo memasukkan hidung pendeknya ke dalam air
rawa itu, sambil menyimpuhkan kaki depannya.
“Alhamdulillah rasa hausku hilang juga.”
Baru saja Gajo berusaha menegakkan kaki dari
posisi bersimpuhnya, tiba-tiba…….
“Aduh tolong aku terjepit.” Gajo menyangka bahwa hidungnya terjepit akar
pohon..
Ditariknya sekuat tenaga hidung itu tapi tidak
juga berhasil. Sebaliknya buaya juga
merasa mangsa yang ditariknya terlalu berat.
Buaya ingin sekali memangsa Gajo.
Lumayan buat persediaan makan berhari-hari untuk mangsa sebesar ini,
batin buaya, penuh harap.
Gajo berusaha untuk mundur sementara buaya
tidak ingin menampakkan kepalanya di permukaan air. Tentu saja hidung pendek Gajo memanjang
karena pertarungan itu, hampir putus.
Beruntung datang sahabat setianya, Jalko.
“Gajo, kamu dalam bahaya. Buaya itu benar-benar ingin memangsamu.”
“Tolong aku, Jalko! Maafkan aku tidak percaya pada kata-katamu.” Gajo menyesal.
“Baiklah kawan, aku akan mengalihkan perhatian
buaya jahat itu.”
Jalko terbang di atas kepala buaya bahkan
hinggap di lubang hidung buaya. Buaya
merasa terganggu. Bidungnya terasa gatal
dan ingin bersin.
“Kurang ajar kau jalak kecil.” Buaya tak mampu menahan lagi hidung
Gajo. Dia bersin dengn keras, hampir
saja Jalko terpelanting dan masuk mulut buaya.
Beruntung Jalko dapat terbang dengan gesit.
Gajo yang masih
menarik hidungnya terjengkang.
Malangnya, hidung itu tetap panjang dan tak
kembali pada keadaan semula. Bahkan dua
gigi serinya juga ikut tertarik menjadi dua taring di kanan kirinya. Gajo merasa malu dengan hidung dan taring panjangnya. Maka dia mengasingkan diri bersama
Jalko. Sambil menunggu luka di hidungnya
perlahan-lahan membaik, Gajo mencoba menerima kondisi barunya..
“Jalko nampaknya ada hikmah besar dari
memanjangnya hidungku. Aku akan memanfaatkannya
untuk meraih dedaunan dan mencabut rumput.”
“Syukurlah, Gajo. Kamu tidak perlu lagi malu dengan hidung
barumu.”
“Aku akan terus berlatih menggunakannya.”
Sejak itu, gajah merasa sangat nyaman dengan
belalainya. Ia dapat dengan mudah
memperoleh makan dan minum. Bahkan untuk mandi saat panas mendera. Juga memukul
musuh-musuhnya.
PESAN MORAL:
1. Saat kita dalam kesulitan atau pun menginginkan
sesuatu maka mohonlah pada Tuhan yang Maha Mendengar
2. Tetap waspada dan hati-hati dalam berbuat,
dengarkan kata orang-orang dekat yang mengasihi kita maka hal ini akan
mendekatkan kita pada keselamatan
3. Dengan bersabar, berbaik sangka dan optimisme, kita
akan mampu memperbaiki keadaan, mengubah musibah menjadi potensi dan karunia
Allah SWT.
FAKTA ILMIAH
Yuk kita kenali
tokoh legenda kita kali ini. Gajah
tergolong dalam mamalia (binatang menyusui).
Penyebarannya ada di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Beberapa keluarga gajah sudah
mengalami kepunahan yaitu mamut dan mastodon.
Gajah Afrika
jantan memiliki tinggi hingga 4 meter dan massanya bisa mencapai 7000 kg, Masya
Allah, besar sekali, ya.
Mereka memiliki
hidung panjang yang kita sebut belalai.
Fungsinya ternyata sangat banyak yaitu bernapas, menghisap air dan
mengambil benda. Wah, mirip tangan, ya? Taringnya yang panjang sering kita sebut
gading adalah perpanjangan dari gigi serinya, berfungsi sebagai senjata
sekaligus alat untuk menggali dan memindahkan sesuatu. Daun telinganya lebar untuk membantu mengatur
suhu tubuh.
Ternyata
morfologi tubuh gajah Afrika dan Asia ada bedanya, lho? Gajah Afrika memiliki telinga lebih lebar dan
bentuk punggung cekung sedangkan gajah asia, bertelinga lebih kecil dan
punggung cembung.
Dari jenis
makanannya, gajah adalah herbivora.
Tempat hidupnya tersebar di sabana, hutan, gurun dan rawa.
Sekarang kita
simak taksonomi dari gajah ini. Kingdomnya tentu Animalia, Filum: Chordata,
Subfilum: Vertebrata, Kelas: Mamalia, Superordo:Afrotheria, Ordo:Proboscidea,
Famili:Elephantidae, Genus:Loxodonta dan Elephas), Spesies: gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus)
REFERENSI:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar