PENGORBANAN IBU MUSANG
(Legenda Afrika My Version)
Di sebuah hutan Afrika, musim kemarau melanda begitu lama. Hewan-hewan bersedih hati karena kesusahan mencari makanan. Terutama mereka yang memakan tumbuhan. Hewan buas pemakan hewan lain pun terdampak kondisi ini. Kematian herbifora dan kurusnya mereka membuat karnivora kelaparan.
Di sebuah sudut ladang yang kering kerontang, terdapat Musi, si ibu musang bersama anak-anaknya sedang bersedih.
“Ibu, aku haus, aku mau minum” ucap Mongo merintih sedih. Belum sempat Musi menjawab keluhan Mongo, disambung kesah adiknya Mongi,”Aku juga Ibu, aku lapar.”
“Sabarlah anak-anakku. Tetaplah berdoa, semoga Allah SWT mengaruniai kita hujan yang berkah. Kalian tinggallah di sini, Ibu akan mencari makan di hutan seberang sungai itu. Mana tahu ada makanan yang bisa aku bawa dan kita makan bersama. Tetaplah kalian di sarang kita.”
Kedua anak musang itu diam di tempatnya sampai hari menjelang sore. Akan tetapi sang ibu tak juga datang. Kecemasan melanda hati mereka. Takut ibunya menjadi santapan binatang buas yang pasti juga sedang merasa kelaparan.
“Mongi, sebaiknya kita cari ibu, yuk!” Mongo menyampaikan ide pada adiknya. Sangi yang masih kecil menuruti saja ajakan kakaknya.
Mereka menuju ke seberang sungai. Ladang yang ditunjuk oleh ibunya, cukup jauh dari ladang tempat mereka tinggal.
“Kakak, jangan terlalu cepat, aku lelah. Aku tidak kuat lagi.” Mongi protes dengan langkah cepat Mongo.
“Hari makin petang. Akan banyak bahaya yang kita temui. Binatang-binatang lapar itu akan memangsa kita. Kita sudah memasuki hutan, jauh meninggalkan ladang kita”
Benar saja yang dikatakan Mongo, beberapa langkah dari tempat mereka berada, sepasang mata ular sedang mengintai mereka.
“Hai, mau kemana anak musang? Kalian masih bisa bertahan dengan kemarau panjang ini?” Ular menyapa dengan napsunya ingin menerkam mangsa.
Mongo dan Mongi terkejut bukan kepalang. Spontan teriakan mereka memenuhi langit-langit dan sampai pada telinga hewan-hewan penghuni hutan itu.
“Sepertinya itu teriakan Mongo dan Mongi. Bandel juga mereka menyusulku. Sudah kubilang tetap tinggal di ladang. Kenapa mereka sampai ke hutan ini?”
Musi, si ibu musang mencari sumber suara. Dengan naluri keibuannya, Musi segera menemukan Mongo dan Mongi.
“Mongo, Mongi, cepat menjauh dari ular itu.” Musi meneriaki kedua anaknya agar terhindar dari patukan ular berbisa. Sementara itu berbagai jurus disiapkan Musi untuk menakhlukkan ular berbis itu.
“Jangan kau ganggu anakku. Mereka masih kecil dan kurus. Kamu tidak akan kenyang. Mangsa saja aku, ibu mereka. Aku lebih besar dan berisi.”
Ular itu terkesiap sejenak. “Benar juga, lebih baik aku memangsa ibu musang itu. Aku bisa tidak makan berhari-hari. Sebelum binatang lain yang memangsanya , “ batin ular berbisa.
Tubuhnya meliuk menuju ibu musang. Sebuah pertempuran sengit di mulai. Mongo dan Mongi menyaksikan dari jauh dengan perasaan cemas.
Demi membela keselamatan anaknya, Musi seakan memiliki puluhan tenaga lebih kuat dari biasanya. Mulutnya terbuka selebar mungkin. Gigi-giri runcingnya siap menerkam kepala. Musi yakin bahwa bagian terkuat dari ular adalah kepalanya.
Kemana pun arah kepala ular itu bergerak, Musi selalu mengikuti dengan seksama. Ular merasa kebingungan dan kehilangan arah patukannya. Bersamaan dengan keinginan ular itu mematuk Musi diap menerkan kepala ular. Pertarungan hebat itu membuat Mongo dan Sangi melakukan gerakan untuk memecahkan konsentrasi ular. Mereka ingin membantu sang ibu.
Saat ular itu lengah, kepalanya digigit oleh Musi keras-keras. Ular mengerang dan mengibaskan ekornya. Tapi malangnya, ular yang juga kelaparan itu kehilangan tenaga.
“Alhamdulillah. Hore ibu menang, Ibu hebat!” Mongo dan Sangi teriak kegirangan
“Semua atas izin Allah SWT. Lagi pula sunnah hukumnya membunuh ular hitam seperti ini. Sekarang makanlah ular ini.
Mereka bersuka cita dengan rejeki mereka hari ini. Sejak itulah musang memangsa ular hingga hari ini.
Berkat pengorbanan tulus ibu musang, Allah mengutus angin dan mengizinkan awan berarak memenuhi langit Hutan Kimbau. Rintik hujan di akhir musim kemarau, disambut dendang ceria seluruh penghuni hutan
Mongoose adalah nama lain dari
musang. Dalam kenyataannya, mongoose
dapat memangsa ular sepanjang 3m., dalam
sebuah pertarungan berkecepatan tinggi. Ia
tidak kebal bisa ular tetapi Masya Allah dia bisa memulihkan diri dari racun dalam
beberapa jam dan memangsanya ular itu kembali.
Musang tergolong dalam binatang
menyusui, merupakan karnivora dari suku Viverridae. Beraktifitas di malam hari, disebut juga binatang noktunal. Kemampuan memanjatnya sangat baik sebagaimana
kucing hutan.
Yang paling dikenal adalah
musang luwak (Paradoxurus hermaphrodites) Perilaku unik musang, dia suka mengelabuhi
musuh atau pemangsanya dengan pura-pura mati, lho. Ada-ada saja., ya?
Ini adalah taksonomi lengkap dari musang
Taksonomi lengkap musang:
Kingdom Animalia, Filum Chordata,
Kelas Mammalia, Ordo Carnivora, Famili Paradoxurus , Spesies Paradoxurus hermaphrodites
Sumber:
2. htmlhttps://id.wikipedia.org/wiki/Musang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar