Jumat, 19 Oktober 2018



LEGENDA KE-1
PERSETERUAN JAKAL DAN SINGA

Berhari-hari Lion terbakar dendam karena tipuan Jakal.  Ia merasa menjadi binatang paling bodoh meskipun badannya besar dan kuat.

“Tenanglah sahabat.  Aku akan membantumu mencari Jakal.  Aku juga punya dendam padanya. Satu keluargaku habis dimangsanya,” ucap Mice, si tikus betina.  Mice yang sering menjadi mangsa Jakal ingin musuhnya binasa oleh Lion.  Persahabatan Mice dan Lion bermula dari bantuan Mice untuk melepas Lion dari jaring perangkap yang dipasang pemburu.

Dengan bantuan Mice, Lion dapat mengetahui di mana Jakal berada.

“Aduh, celaka, Raja Rimba itu mengejarku.”  Jakal berlari mencari celah sempit yang bisa dipakainya untuk bersembunyi.

Berkali-kali Jakal harus memutar otak tiap kali bertemu Lion.  Trik apa lagi yang harus dia lemparkan untuk mengelabuhi Lion.

Kadang muncul kekhawatiran, apabila mereka bertemu lagi, mungkin Lion sudah tidak percaya dengan tipuannya.  Pasti Lion akan lebih waspada dan Jakal pun kebingungan tentang trik yang sudah disiapkan di otaknya bila sewaktu-waktu bertemu dengan Lion.

Suatu saat Jakal benar-benar berada dalam keadaan terjepit.  Dari arah berlawanan muncul Lion di depannya.
“Hai, Jakal.  Kamu belum membayar tipuanmu padaku tempo hari.  Kamu tidak akan bisa lagi mengelak dariku.”  Dari kejauhan Lion berteriak.  Wajah geramnya menyeringai.  Tampak gigi taring Lion meneteskan air liur siap menyantap mangsa.

Lion makin dekat.  Jakal tidak mau kehilangan akal karena takut.

Di depannya ada  jurang yang berundak-undak.  Banyak bebatuan di tebingnya. Jakal menuruni jurang seakan terjatuh.  Ia menyangga batu yang digesernya seolah menimpanya.

“Jakal kemana kamu?  Jangan sembunyi dariku!  Aku akan segera menemukanmu.”

“Lion, tolong aku.  Aku tertimpa batu.  Sebentar lagi batu-batu tebing ini akan runtuh dan kita berdua akan binasa.”

“Tipuan apa lagi yang akan kau lemparkan padaku.  Aku tidak percaya.”  Lion membalas.

“Lihatlah batu yang menimpaku ini.  Aku menahan batu ini supaya batu tebing ini tidak runtuh satu persatu menimpa kita.  Aku akan mengambil kayu penyangga.  Kalau tidak kita akan mati.”

“Baiklah aku akan menyangga batu itu dan setelah semua baik-baik saja.  Bersiaplah untuk menjadi mangsaku.”

Begitu Lion menyanggupi perjanjian itu, Jakal lari sekencang mungkin menjauhi Lion.  Sementara Lion tetap dalam keadaannya menyangga batu.

Sekian lama Lion menyangga batu, Jakal tidak juga datang.  Baru disadarinya bahwa ia telah tertipu lagi oleh jakal.  Dengan hati kesal dilemparkannya baru itu.  Tidak peduli batu-batu di atasnya menimpanya.  Tubuhnya yang kuat tidak merasa sakit yang berarti.  Lagipula sakit dihatinya lebih besar daripada sakitnya tertimpa batu.

PESAN MORAL
1.       Kecerdikan akan dapat mengalahkan kekuatan tapi lemah dalam akal dan ingatan.
2.       Jangan kecil dengan rasa lemah karena selalu ada jalan bagi yang mau berusaha
3.       Jangan pernah sombong oleh kekuatan yang ada pada kita semuanya atas izin dan pemberianNya

FAKTA ILMIAH (Tentang Singa dan Jakal sudah ada di legenda sebelumnya)
Singa tergolong dalam jenis kucing.  Makanya mereka memiliki kemiripan dalam ciri fisik.  Hanya saja ukurannya yang membuat kita menjaga jarak dengan mereka.
Beberapa fakta menarik tentang singa antara lain:
1). Singa adalah kucing terbesar kedua setelah harimau.
2). Menuanya bulu dan rambut  terkait dengan umurnya, makin tua makin gelap.  Wah kebalikan dengan kita ya, bangsa manusia.  Makin tua makin pudar warna rambutnya.

3). Rambut yang panjang dan gelap adalah daya tarik singa jantan.  Singa betina akan lebih menyukai singa berambut panjang dan gelap yang menunjukkan kematangan usia singa tersebut.
4). Singa adalah perenang yang handal, kalau dia sudah mengincar mangsa maka seolah pantang gagal menangkapnya
5). Lompatan singa sangat jauh, bisa mencapai 36 kaki.
6). Dalam satu hari singa makan hingga sekitar 18 pon (8,1 kg) daging
REFERENSI:

Legenda Ke-25-Persahabatan Musang dan Burung Sekretaris



PERSAHABATAN MUSANG DAN BURUNG SEKRETARIS

Ini ada lagi cerita tentang permusuhan antara musang dan ular tapi dengan versi yang berbeda.  Kali ini versi dari negara asalnya, Afrika.


Zaman dahulu musang bersahabat dengan  burung sekretaris (Lucu, ya, namanya?  Dinamakan burung sekretaris mungkin karena memiliki kaki jenjang dan bulu cantik seperti seseorang yang berseragam abu dan hitam.  Mengingatkan kita pada sekretaris kantor).

Suatu ketika burung sekretaris berpamitan ingin pergi mandi karena merasa kegerahan.

Dalam kesendiriannya, musang bertemu dengan ular di semak-semak.

“Hai, musang, maukah kamu menemaniku berjalan-jalan di padang rumput kita ini?”

“Aku nggak keberatan ular, hitung-hitung buat mengusir rasa sepi.”


“Tahukah kamu, ada sesuatu yang istimewa ingin aku tunjukkan padamu.”

“Apa itu, Ular?  Musang penasaran, ingin tahu

Setelah perjalanan yang cukup jauh, ternyata ular menunjukkan sebuah sarang di tanah.  Ada beberapa telur dalam sarang itu.  Musang benar-benar tidak tahu siapa pemilik telur itu.

“Apakah kamu mau mencicipi telur-telur itu?  Rasanya sangat lezat, Musang.”

“Aku tidak ingin memakannya.  Aku belum pernah makan telur sebelumnya.”

“Mereka sangat lezat, gurih dan segar.  Aku sering memakannya.  Enak sekali, coba lihat caraku memakannya.”   Ular terus membujuk dan menampakkan kelezatan rasa dari telur-telur itu.

Musang mulai tergoda memakan telur itu tanpa bertanya siapa yang memilikinya.


“Benar juga, Ular, telur-telur ini memang lezat.”  Mereka berdua makan hingga telur terakhir dimakan oleh musang.  Bersamaan dengan itu, datanglah burung sekretaris.


Ular yang licik memulai fitnahannya pada musang.”Sangat disayangkan, telur anda yang cantik ini dimakan oleh musang hingga habis.”


“Teganya kamu, Musang.  Memakan telur teman dekatmu sendiri.  Burung sekretaris marah besar, kecewa dan sedih  merasa dikhianati.


“Maafkan aku aku tidak tahu kalau ini telur-telurmu.   Ular juga memakannya.  Justru ular yang mengajakku memakan  telurmu ini.  Aku sudah menolaknya tapi dia tetap membujukku.”

Burung sekretaris juga melihat ada cangkang di samping tubuh ular. 

“Kalian berdua memakan telur-telur saya!”


"Anda berdua sudah makan telur saya," kata Sekretaris Bird dengan marah.

“Ular tidak memberi tahuku bahwa ini telur kamu, kalau begitu kita serang saja perusak persahabatan kita ini.

Mereka berdua menyerang ular dengan sengit.  Bahkan gerakan musang sangat cepat memburu kepala ular.  Ular kewalahan dan mati oleh musang.

“Mulai sekarang, aku akan turut menjaga sarangmu dari serangan ular-ular jahat itu.  Kalu mereka mencuri telurmu, aku akan membinasakannya”


"Benar saja.  Musang menepati janjinya untuk memakan ular.  Dengan mengandalkan gerak cepatnya, Musang dapat dengan mudah mengalahkan ular.


Sementara itu, burung sekretaris belajar membuat sarang di tempat yang lebih aman.  Di dahan pohon yang rindang ataupun berduri, supaya aman dari serangan ular.  Hingga kini burung sekretaris juga memakan ular dengan menggunakan kekuatan kakinya yang jenjang juga menyerang dengan tanduk kakinya.

PESAN MORAL:
1. Janganlah kau memakai atau memakan sesuatu tanpa kau tahu siapa pemiliknya 
2. Janganlah menjadi pengkhianat karena sifat ini akan mendekatkan kita pada kebinasaan
3. Tetaplah menjalin persahabatan dan hindarkan diri dari permusuhan
4. Waspadalah pada kejahatan mereka yang senang mengadu domba dan memecah belah
5. Permintaan maaf saat bersalah akan menyambungkan kembali persahabatan yang terkoyak dan menghapus permusuhan

FAKTA ILMIAH
Fakta ilmiah tentang musang sudah pernah kita ungkapkan pada legenda terdahulu, sekarang kita simak dulu apa burung sekretaris itu?

Burung sekretaris adalah jenis burung pemangsa berukuran besar.  Merupakan hewan endemic yang khas hidup di Afrika.  Banyak dijumpai di padang rumput terbuka, Savana di wilayah Sub-Sahara  Afrika.

Taksonomi:
Kingdom:Animalia,  Filum: Chodata, Kelas: Aves, Ordo: Accipitriformes, Famili Sagittariidae, Genus: Sagittarius, Spesies: Sagitarius serpentarius.

Nah, kita tentu penasaran Mengapa burung ini mendapat julukan burung sekretaris.  Secara etimologi, ilmu asal-usul kata.   Sekretaris disematkan pada burung ini karena jambulnya yang mirip dengan pena.  Seorang sekretaris biasanya menyelipkan pena di telinganya.  Selain itu kaki yang jenjang dan bulu mirip seragam seorang sekretaris wanita bisa jadi menginspirasi pemberi nama pertama untuk burung ini.

Hipotesa yang lebih ilmiah adalah penyerapan kata dari bahasa Prancis yang diserap dari bahasa Arab saqr at tair yang bermakna burung pemangsa.

Nama genus Sagitarius, bermakna pemanah (bahasa Latin) dan nama spesies serpentarius terkait keterampilannya sebagai pemburu.

REFERENSI :
1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Burung_sekretaris
2.  http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore

Legenda Ke-24-Kemunculan Belalai dan Taring Gajah


LEGENDA KE-24
GAJO DAN BELALAINYA

Satu lagi khazanah kisah dari Afrika, kali ini dari Afrika Selatan.  Tentang Gajah bernama Gajo.
Awalnya Gajo diciptakan dengan tubuh besar dan gemuk tetapi tidak memiliki hidung yang sepanjang belalainya sekarang.  Sering kali Gajo mengeluhkan kesulitan yang dialaminya.
“Rabb, badan kami besar.  Kami butuh banyak minum dan makan.  Tapi kami tidak memiliki anggota tubuh untuk meraih dedaunan di ranting pohon.  Atau meraih rumput untuk kami makan.  Juga saat minum kami harus bersusah-susah untuk merunduk.  Sedangakan badan kami setambun ini, wahai Tuhan.  Mohon kiranya Engkau beri kemudahan pada kami.”  Gajo mengeluhkan keadaan diri dan nasibnya pada Allah SWT.
Doa ini didengar oleh Jalko si burung jalak.  Jalko yang bertengger untuk mematuk serangga yang hinggap pada tubuh Gajo.
“Sudah bagus hidung kamu pendek.  Kalau hidungmu panjang.  Aku tidak akan nyaman memakan serangga-serangga yang hinggap di punggungmu.  Malah aku takut terkena pukulan hidung panjangmu.”  Burung yang membantu meringankan rasa gatal gigitan serangga di punggung Gajo itu tersenyum sendiri.  Ia membayangkan Gajo  memainkan hidung untuk mengusir mangsanya, kutu dan serangga kecil.
“Kamu sudah lama menjadi sahabatku, aku tidak akan mengusirmu dengan hidung panjangku, kalau doaku ini dikabulkan.”  Gajo berjanji.
Siang itu udara begitu panas.  Gajo merasa kehausan.  Musim kemarau yang cukup panjang mengeringkan air yang ada di kubangan kecil di padang rumput.  Terpaksa Gajo pun berjalan jauh mencari air.  Jalko masih setia menemaninya kemana pun Gajo pergi.  Jalko sudah terlalu nyaman mendapat makanan di punggung Gajo.  Sebaliknya Gajo merasa terbantu dalam mengurangi rasa gatal oleh gangguan serangga.
Perjalanan iut mengantarkan Gajo pada rawa-rawa.  Betapa senangnya Gajo mendapat tempat yang banyak airnya.
“Alhamdulillah, Jalko, di depan kita ada rawa-rawa.  Wah, kita bisa tinggal di sini dalam waktu lama.  Air ini tidak akan habis walaupun kemarau masih belum berganti musim.”
“Aku turut senang Gajo, rejekimu, keberuntunganku juga.”  Jalko menari riang kesana-kemari di atas punggung Gajo.  Sesekali ia terbang di sekitar Gajo.  
Saat Gajo istirahat di bawah pohon rindang karena kelelahan, Jalko terbang mengawasi keadaan.
“Gawat, Gajo harus tahu di rawa ini ternyata ada seekor buaya yang bisa memangsanya.”  Jalko segera kembali pada Gajo.
“Bangun Gajo, rawa-rawa ini tidak aman buat kita.  Ada buaya yang siap menjadi pemangsamu.  Ayo kita pergi dari sini.”  Jalko melaporkan apa yang dilihatnya pada Gajo.
“Tidak mungkin, aku tidak melihat bahaya apapun.  Kamu jangan membohongiku kawan.”  Gajo yang masih setengah sadar dari tidur lelapnya tidak mengindahkan kabar dari Jalko.
Saat haus makin mendera kerongkongan Gajo, ia segera menuju rawa itu.  Tanpa curiga sedikitpun bahwa ada seekor buaya sedang bergerak pelan ke arahnya.  Buaya sengaja menyelamkan tubuhnya hanya lubang hidungnya sedikit muncul di permukaan.
Gajo memasukkan hidung pendeknya ke dalam air rawa itu, sambil menyimpuhkan kaki depannya.
“Alhamdulillah rasa hausku hilang juga.”
Baru saja Gajo berusaha menegakkan kaki dari posisi bersimpuhnya, tiba-tiba…….
“Aduh tolong aku terjepit.”  Gajo menyangka bahwa hidungnya terjepit akar pohon..
Ditariknya sekuat tenaga hidung itu tapi tidak juga berhasil.  Sebaliknya buaya juga merasa mangsa yang ditariknya terlalu berat.  Buaya ingin sekali memangsa Gajo.  Lumayan buat persediaan makan berhari-hari untuk mangsa sebesar ini, batin buaya, penuh harap.
Gajo berusaha untuk mundur sementara buaya tidak ingin menampakkan kepalanya di permukaan air.  Tentu saja hidung pendek Gajo memanjang karena pertarungan itu, hampir putus.  Beruntung datang sahabat setianya, Jalko.
“Gajo, kamu dalam bahaya.  Buaya itu benar-benar ingin memangsamu.”
“Tolong aku, Jalko!  Maafkan aku tidak percaya pada kata-katamu.”  Gajo menyesal.
“Baiklah kawan, aku akan mengalihkan perhatian buaya jahat itu.”
Jalko terbang di atas kepala buaya bahkan hinggap di lubang hidung buaya.  Buaya merasa terganggu.  Bidungnya terasa gatal dan ingin bersin.
“Kurang ajar kau jalak kecil.”  Buaya tak mampu menahan lagi hidung Gajo.  Dia bersin dengn keras, hampir saja Jalko terpelanting dan masuk mulut buaya.  Beruntung Jalko dapat terbang dengan gesit.
Gajo yang masih menarik hidungnya terjengkang.
Malangnya, hidung itu tetap panjang dan tak kembali pada keadaan semula.  Bahkan dua gigi serinya juga ikut tertarik menjadi dua taring di kanan kirinya.  Gajo merasa malu dengan hidung  dan taring panjangnya.  Maka dia mengasingkan diri bersama Jalko.  Sambil menunggu luka di hidungnya perlahan-lahan membaik, Gajo mencoba menerima kondisi barunya..
“Jalko nampaknya ada hikmah besar dari memanjangnya hidungku.  Aku akan memanfaatkannya untuk meraih dedaunan dan mencabut rumput.”
“Syukurlah, Gajo.  Kamu tidak perlu lagi malu dengan hidung barumu.”
“Aku akan terus berlatih menggunakannya.”
Sejak itu, gajah merasa sangat nyaman dengan belalainya.  Ia dapat dengan mudah memperoleh makan dan minum. Bahkan untuk mandi saat panas mendera. Juga memukul musuh-musuhnya.

PESAN MORAL:
1. Saat kita dalam kesulitan atau pun menginginkan sesuatu maka mohonlah pada Tuhan yang Maha Mendengar
2. Tetap waspada dan hati-hati dalam berbuat, dengarkan kata orang-orang dekat yang mengasihi kita maka hal ini akan mendekatkan kita pada keselamatan
3.  Dengan bersabar, berbaik sangka dan optimisme, kita akan mampu memperbaiki keadaan, mengubah musibah menjadi potensi dan karunia Allah SWT.

FAKTA ILMIAH
Yuk kita kenali tokoh legenda kita kali ini.  Gajah tergolong dalam mamalia (binatang menyusui).  Penyebarannya ada di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara.  Beberapa keluarga gajah sudah mengalami kepunahan yaitu mamut dan mastodon. 

Gajah Afrika jantan memiliki tinggi hingga 4 meter dan massanya bisa mencapai 7000 kg, Masya Allah, besar sekali, ya.
Mereka memiliki hidung panjang yang kita sebut belalai.  Fungsinya ternyata sangat banyak yaitu bernapas, menghisap air dan mengambil benda.  Wah, mirip tangan, ya?  Taringnya yang panjang sering kita sebut gading adalah perpanjangan dari gigi serinya, berfungsi sebagai senjata sekaligus alat untuk menggali dan memindahkan sesuatu.  Daun telinganya lebar untuk membantu mengatur suhu tubuh.

Ternyata morfologi tubuh gajah Afrika dan Asia ada bedanya, lho?  Gajah Afrika memiliki telinga lebih lebar dan bentuk punggung cekung sedangkan gajah asia, bertelinga lebih kecil dan punggung cembung.

Dari jenis makanannya, gajah adalah herbivora.  Tempat hidupnya tersebar di sabana, hutan, gurun dan rawa.

Sekarang kita simak taksonomi dari gajah ini.   Kingdomnya tentu Animalia, Filum: Chordata, Subfilum: Vertebrata, Kelas: Mamalia, Superordo:Afrotheria, Ordo:Proboscidea, Famili:Elephantidae, Genus:Loxodonta dan Elephas), Spesies: gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus)

REFERENSI:
1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah

Minggu, 14 Oktober 2018

LEGENDA KE-23 : KISAH JAKAL, KARAKAL DAN ELAND


AKHIRNYA MEREKA BERSAHABAT
(Kisah Jakal, Karakal dan Eland)

Nama hewan ini tentu masih asing buat kita.  Baiklah akan diperkenalkan sedikit apa itu Jakal, Karakal dan Eland.  Jakal adalah bangsa srigala, dengan ukuran lebih kecil.  Karakal sebangsa kucing bertelinga hitam sedangkan Eland merupakan jenis kijang berukuran paling besar.

Suatu ketika Karakal pulang dari perburuannya.  Di tengah perjalanan yang melelahkan, ia ingin segera sampai di rumah dengan berlari.  Tidak sengaja ia menabrak binatang yang belum pernah diketahuinya sebelum ini.

Besarnya tubuh binatang itu membuatnya kaget dan ketakutan.  Tidak ada jalan lain, ia mendekati binatang itu dengan waspada dan berhati-hati,”Assalamu’alaikum, kawan, siapa namamu?”

Sosok besar itu tidak segera menjawab, ia menghentakkan kakinya ke tanah.  Menghasilkan gumpalan debu seperti awan besar.  Kemudia ia menjawab dengan nada kasar tidak bersahabat, “Namaku Eland! Kamu siapa?”  Eland tidak menjawab salam dari Karakal.

Karakal masih terkagum-kagum dengan ukuran besar Eland, ia lebih senang menganggapnya sebagai raja kijang atau kijang raksasa.  Hanya sampai disitu saja percakapan keduanya.  Karakal terus berlari secepat mungkin, masih dengan rasa takutnya sambil berkata,”Aku Karakal.”

Karakal tidak begitu bersahabat baik dengan Jakal.  Sekali waktu Jakal menampakkan perhatiannya.  Anehnya, terkadang mereka juga bertengkar bahkan terlibat perkelahian.

“Apa yang membuatmu tersengal-sengal? Adakah sesuatu yang akan ingin mencelakaimu?”

“Aku menabrak tetangga kita di bawah sana.  Dia besar sekali.  Sungguh baru kali ini aku melihat kijang sebesar itu.”

“Bodoh sekali kamu.  Dia itu mangsa yang sangat enak.  Kenapa tidak kau terkam daging besar itu?”

“Aku terlalu kecil untuk memangsanya.”

Kedua sahabat itu bersepakat untuk memangsa bersama Eland.  Pikir mereka, meskipun besar akan lebih mudah bila diserang bersama.  Saat-saat seperti ini, mereka terlihat seperti sahabat karib.  Mereka pun turun mengendap-endap ke rumah Eland di kaki bukit.  Eland menyadari kehadiran mereka.  Ia curiga bahwa mereka akan memangsanya juga keluarganya. 

Eland segera bersembunyi di dekat isterinya.”Ada yang berniat jahat pada kita.  Apa yang harus aku lakukan?”  Eland kebingungan dalam cemasnya. 

Isterinya menyarankan sesuatu.”Tenanglah, aku punya akal.  Buat anak kita menangis di depan mereka, katakana bahwa anakmu kelaparan. Berusahalah untuk membuat mereka iba.”

Eland mengikuti saran isterinya, ditanduknya kaki anaknya hingga menangis.

Tangisan yang pilu itu membuat Jakal bertanya penyebab tangisan sedih itu.”Mengapa anakmu menangis.  Tampaknya dia sedih sekali.”

“Benar, Jakal.  Dia sudah tidak makan berhari-hari.  Kalaupun kalian menginginkan daging kami, daging kami tidak akan enak dimakan.  Kami akan bisa kalian nikmati kalau kami dalam keadaan kenyang.”

Tiba-tiba Jakal melirik kearah Karakal.  Eland dan keluarganya sedang lapar, dagingnya akan keras.  Sementara Karakal pasti akan lebih lezat.  Maka Jakal mengikatkan tali pada Karakal. 

“Subhanallah, Jakal, apakah kamu mau memangsaku?”  Karakal protes dengan kelakuan Jakal.

“Tenanglah, aku sudah terlalu lapar.”  Jakal menyeringai.  Taringnya meneteskan air liur dan matanya menatap tajam.  Mengerikan.

Karakal segera mengambil langkah penyelamatan diri.  Ia lari sekencang mungkin sedangkan Jakal tetap memegang tali pengikat leher Karakal. Jakal terjatuh ke dalam lubang cukup dalam.  Tubuhnya terpelanting hingga memar.  Sementara itu Karakal terlepas dari tali kekang itu.

Jakal mengaduh dan meminta tolong pada Karakal.  Ia berjanji tidak akan berkhianat lagi.  Melihat Jakal celaka, Karakal membantunya untuk naik dari lubang.  Dibantunya Jakal untuk sembuh dari luka-luka itu.

Mereka pun memutuskan untuk tidak saling mencelakai lagi.  Mereka pun bersahabat dengan Eland dengan masih terus merasa kagum dengan tubuh besarnya yang gagah.

PESAN MORAL:
Bersahabatlah dengan tulus maka kita akan mendapatkan ketenangan dan berbagai kemudahan.
Persahabatan berarti menyambung tali silaturahmi.  Di dalamnya ada keberkahan, saling menolong, memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan menjadi penyembuh dari berbagai penyakit
Hindari sifat khianat karena sifat itu akan mengantarkan kita pada celaka
Jawablah salam dengan keramahan agar menghapus segala kebencian, menghilangkan kekhawatiran dan rasa takut.

FAKTA ILMIAH
Karakal: Sejenis kucing berukuran sedang, habitatnya tersebar di Asia Barat, Asia Selatan dan Afrika.  Nama Karakal dari bahasa Turki karakulak yang bermakna telinga hitam.  D Afrika, dikenal dengan sebutan Rooikat atau kucing merah.

Karakal bertubuh ramping dan berotot, kakinya panjang, ekornya pendek.  Berat jenis jantan bisa mencapai13-18 kg, sedangkan betinanya sekitar 11 kg. Panjang tubuhnya 65-90 cm. Warna bulunya bervariasi antara merah anggur, abu-abu ataupun warna pasir, motif bintik kemerahan.  Pupil mata berupa lingkaran bercelah.  Ciri yang paling mencolok adalah telinga panjang hitamnya yang berfungsi mencari mangsa.  Kakinya berambut di antara bantalan kakinya.

Taksonomi:
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo:Carnivora, Famili: Felidae, Subfamili:Felinae, Genus: Caracal, Spesies beragam sesuai pemberi namanya (Caracal caracal/Caracal melanotis/Felis caracal )

Jakal: Jakal tergolong dalam jenis Canis, yang meliputi serigala dan anjing.  Ada tiga macam Jakal, yaitu jakal emas, jakal punggung hitam, jakal bersisi garis.  Mereka tersebar di Afrika dan Eurosia(Asia dan Eropa)

Taksonomi:
Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo:Carnivora, Famili: Canidae,  Genus: Canis, Spesies: Canis aureus (Jakal emas), jakal sisi bergaris (Canis adustus)
jakal punggung hitam Canis mesomelas

Eland:
Eland raksasa (Taurotragus derbianus) salah saru spesies kijang dari genus Taurotragus.  Ukurannya mencapai 220-290 cm, sangat besar , ya?  Bila dibandingkan kijang pada umumnya, sekitar dua kali lipatnya.  Habitatnya di padang rumput dan hutan terbuka di Afrika.

Berdasarkan jenis makanannya, Eland tergolong dalam herbivora.  Makanannya berupa ranting, rumput dan dedaunan

Eland hidup berkoloni dengan anggota 15-25 ekor tentu tujuannya untuk membentuk kelompok solid yang dapat menggagalkan serangan mangsa seperti harimau dan singa.

Taksonomi:
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia Ordo:Artiodactyla, Famili: Bovidae, Subfamili: Bovinae, Genus: Taurotragus, Spesies: T. derbianus

REFERENSI: