Jumat, 16 Februari 2018

Legenda Ke-11 MUNCULNYA POHON KELAPA (Cerita Rakyat Philipina)


Cerita ini diungkap kembali sebagai bentuk pengembangan literasi.  Sebagaimana legenda tentang awal mula tempat, kejadian atau keadaan, maka semua didasarkan pada fiksi belaka.  Banyak dibumbui hal-hal yang tidak masuk akal.  Penuh khayalan yang tidak memiliki nilai kebenaran fakta namun penuh kebenaran nilai.

Oleh karena itu, penulisan kisah ini lebih pada pengembangan imajinasi terutama pada anak-anak untuk menjadi stimulasi fungsi otak.  Tentu saja sambil memperkaya perbendaharaan kreativitas dalam bercerita.  Semoga akibat positif akan bisa kita ambil dalam kisah ini
***
Pada zaman dahulu, keberadaan di alam semesta ini hanya ada tiga hal.  Tuhan Yang Mahakuat, Yang Mahaesa dan paling awal dan tak memiliki akhir.  Selanjutnya Tuhan Yangesa ini menciptakan Bathala dan anggotanya dengan tugas sebagai pemimpin dunia yang masih sepi lagi sunyi.  Yang ketiga makhluk bernama Ulilangkalulua, seekor ular besar yang bertugas mengatur awan.

Berhubung di awan tidak ada kehidupan, Ulilangkalulua merasa kurang aktifitas.  Ia sering mengunjungi bumi, bergerak dari gua ke gua dari gunung ke gunung.

Suatu saat dalam kunjungannya du bumi, Ulilangkalulua menemui Bathala dan dua dewa pembantunya yang sombong. 

“Wahai Ulilangkalulua, mengapa kamu memasuki kawasan kekuasaanku?  Tempatmu di awan bukan di bumi ini.  Aku terganggu dengan ulahmu ini!”

“Kamu sombong sekali Bathala.  Aku terlalu jemu untuk terus mengurus awan.  Tidak bolehkah aku sekedar bermain di bumi?”

“Tidah bisa, aku akan menundukkanmu atau kamu kembali ke wilayahmu. Awan!”

Maka terjadilah pertarungan yang seru untuk memperebutkan tempat di dunia. 

“Terimalah jurus lingkar tubuh ini.”  Bathala segera mengeluarkan jurus pamungkas karena tidak ingin terlalu lama bertarung dan berlelah-lelah.  Gerakan meliuknya segera melipat ekoe dan melingkarkan hingga kepala.  Dengan satu jepitan dari ekor hingga kepala yang terlingkar-lingkar itu, Bathala membunuh dewa ular raksasa.  Bangkainya dibakar untuk menghindari bau yang tak diinginkan.

Beberapa tahun setelah pertempuran seru itu,  hadirlah sesosok dewa bernama Galangkalulua.  Ia berkelana ke rumah Bathala sebagai penyusup.  Wujudnya sebagai kepala bersayap.  Tuhan Mahakuasa  merestui penyusupan itu dan tidak pernah mencegahnya.  Bahkan Dia mengulurkan tangannya sebagai tanda pertemanan.

Galangkalulua tidak memiliki tangan, karena wujudnya yang hanya kepala bersayap.  Namun cukuplah persetujuan penguasa bumi dan restunya untuk membuat Galangkalulua tinggal di dunia.

Bathala dan Galangkalulua  hidup bahagia selama bertahun-tahun.  Suatu hari  Galangkalulua jatuh sakit. Bathala merawat temannya dengan setia, tapi sia-sia saja.
“Kawan jangan kau tinggalkan aku di bumi ini seorang diri.  Aku akan merasa sangat kesepian dan sedih.”  Bathala mengungkap kesedihan hatinya.

“Sahabat, malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih.  Bila ajalku tiba tolonglah kepala bersayapku ini kau tanam di tempat pembakaran tubuh ular raksasa Ulilangkalulua.  Kelak akan muncul dari pekuburanku sebatang pohon yang berguna untuk kehidupan di bumi.  Kau akan mendapatinya sebagai temanmu.”  Demikian pesan terakhir Galangkalulua.

“Baiklah kawan, aku akan memenuhi harapan terakhirmu.”

Bathala menghormati harapan sang teman.  Benar saja perkataan Galangkalulua menjadi kenyataan.  Sebuah pohon yang luar tumbuh dari tempat pekuburannya.  Benda itu memiliki batang yang keras dan bersisik seperti tubuh ular raksasa.  Buahnya tampak seperti kepala, dan pelepahnya mengeluarkan daun pita seperti sayap yang bisa digunakan sebagai sapu.

Jadilah pohon itu memberi banyak manfaat pada kehidupan manusia sejak diutus Adam sebagai khalifah di bumi dan Hawa sebagai pendampingnya.  Mereka menamai buah itu "buko" atau "kelapa" yang berarti "kepala" atau "tengkorak".

HIKMAH:
  1. Kesombongan dan egoism menjadi bibit permusuhan maka jauhkanlah tabiat buruk itu dari hati kita.
  2. Hindarilah permusuhan antar sesama makhluk di bumi karena hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup dan penderitaan satu sama lain
  3. Persahabatan akan terasa indah karena melahirkan perdamaian dan saling kasih sayang.
  4. Wasiat teramat penting bagi makhluk yang akan pasti menemui ajal maka berwasiatlah hal-hal yang baik sebelum meninggalkan bumi untuk selamanya.


FAKTA UNIK:
  1. Kelapa tergolong dalam tumbuhan monokotil.  Tidak memiliki kambium, batang  relative  tegak   tanpa cabang.  Ketinggian dapat mencapai 30 meter, diameter buah 10 hingga 20 cm.
  2. Diperkirakan berasal dari pesisir Samudra Hindia di sisi Asia tetapi hingga kini telah tersebar di seluruh pantai tropis dunia
  3. Memiliki nama ilmiah Cocos nicifera, tergolong dalam suku aren-arenan (Arecaceae)

SUMBER (REFERENSI):
  1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa
  2.  https://uniquelatestarticle.blogspot.com/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.htm


Tidak ada komentar:

Posting Komentar