Cerita
ini diungkap kembali sebagai bentuk pengembangan literasi. Sebagaimana legenda tentang awal mula tempat,
kejadian atau keadaan, maka semua didasarkan pada fiksi belaka. Banyak dibumbui hal-hal yang tidak masuk
akal. Penuh khayalan yang tidak memiliki
nilai kebenaran fakta namun penuh kebenaran nilai.
Oleh
karena itu, penulisan kisah ini lebih pada pengembangan imajinasi terutama pada
anak-anak untuk menjadi stimulasi fungsi otak.
Tentu saja sambil memperkaya perbendaharaan kreativitas dalam
bercerita. Semoga akibat positif akan
bisa kita ambil dalam kisah ini
***
Pada
zaman dahulu, keberadaan di alam semesta ini hanya ada tiga hal. Tuhan Yang Mahakuat, Yang Mahaesa dan paling
awal dan tak memiliki akhir. Selanjutnya
Tuhan Yangesa ini menciptakan Bathala dan anggotanya dengan tugas sebagai
pemimpin dunia yang masih sepi lagi sunyi.
Yang ketiga makhluk bernama Ulilangkalulua, seekor ular besar yang
bertugas mengatur awan.
Berhubung
di awan tidak ada kehidupan, Ulilangkalulua merasa kurang aktifitas. Ia sering mengunjungi bumi, bergerak dari gua
ke gua dari gunung ke gunung.
Suatu
saat dalam kunjungannya du bumi, Ulilangkalulua menemui Bathala dan dua dewa
pembantunya yang sombong.
“Wahai
Ulilangkalulua, mengapa kamu memasuki kawasan kekuasaanku? Tempatmu di awan bukan di bumi ini. Aku terganggu dengan ulahmu ini!”
“Kamu
sombong sekali Bathala. Aku terlalu jemu
untuk terus mengurus awan. Tidak
bolehkah aku sekedar bermain di bumi?”
“Tidah
bisa, aku akan menundukkanmu atau kamu kembali ke wilayahmu. Awan!”
Maka
terjadilah pertarungan yang seru untuk memperebutkan tempat di dunia.
“Terimalah
jurus lingkar tubuh ini.” Bathala segera
mengeluarkan jurus pamungkas karena tidak ingin terlalu lama bertarung dan
berlelah-lelah. Gerakan meliuknya segera
melipat ekoe dan melingkarkan hingga kepala.
Dengan satu jepitan dari ekor hingga kepala yang terlingkar-lingkar itu,
Bathala membunuh dewa ular raksasa.
Bangkainya dibakar untuk menghindari bau yang tak diinginkan.
Beberapa
tahun setelah pertempuran seru itu,
hadirlah sesosok dewa bernama Galangkalulua. Ia berkelana ke rumah Bathala sebagai
penyusup. Wujudnya sebagai kepala
bersayap. Tuhan Mahakuasa merestui penyusupan itu dan tidak pernah mencegahnya. Bahkan Dia mengulurkan tangannya sebagai
tanda pertemanan.
Galangkalulua
tidak memiliki tangan, karena wujudnya yang hanya kepala bersayap. Namun cukuplah persetujuan penguasa bumi dan
restunya untuk membuat Galangkalulua tinggal di dunia.
Bathala
dan Galangkalulua hidup bahagia selama
bertahun-tahun. Suatu hari Galangkalulua jatuh sakit. Bathala merawat
temannya dengan setia, tapi sia-sia saja.
“Kawan
jangan kau tinggalkan aku di bumi ini seorang diri. Aku akan merasa sangat kesepian dan
sedih.” Bathala mengungkap kesedihan
hatinya.
“Sahabat,
malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Bila ajalku tiba tolonglah kepala bersayapku
ini kau tanam di tempat pembakaran tubuh ular raksasa Ulilangkalulua. Kelak akan muncul dari pekuburanku sebatang
pohon yang berguna untuk kehidupan di bumi.
Kau akan mendapatinya sebagai temanmu.”
Demikian pesan terakhir Galangkalulua.
“Baiklah
kawan, aku akan memenuhi harapan terakhirmu.”
Bathala
menghormati harapan sang teman. Benar
saja perkataan Galangkalulua menjadi kenyataan.
Sebuah pohon yang luar tumbuh dari tempat pekuburannya. Benda itu memiliki batang yang keras dan bersisik
seperti tubuh ular raksasa. Buahnya
tampak seperti kepala, dan pelepahnya mengeluarkan daun pita seperti sayap yang
bisa digunakan sebagai sapu.
Jadilah
pohon itu memberi banyak manfaat pada kehidupan manusia sejak diutus Adam sebagai
khalifah di bumi dan Hawa sebagai pendampingnya. Mereka menamai buah itu "buko" atau
"kelapa" yang berarti "kepala" atau "tengkorak".
HIKMAH:
- Kesombongan dan egoism menjadi bibit permusuhan maka jauhkanlah tabiat buruk itu dari hati kita.
- Hindarilah permusuhan antar sesama makhluk di bumi karena hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup dan penderitaan satu sama lain
- Persahabatan akan terasa indah karena melahirkan perdamaian dan saling kasih sayang.
- Wasiat teramat penting bagi makhluk yang akan pasti menemui ajal maka berwasiatlah hal-hal yang baik sebelum meninggalkan bumi untuk selamanya.
FAKTA
UNIK:
- Kelapa tergolong dalam tumbuhan monokotil. Tidak memiliki kambium, batang relative tegak tanpa cabang. Ketinggian dapat mencapai 30 meter, diameter buah 10 hingga 20 cm.
- Diperkirakan berasal dari pesisir Samudra Hindia di sisi Asia tetapi hingga kini telah tersebar di seluruh pantai tropis dunia
- Memiliki nama ilmiah Cocos nicifera, tergolong dalam suku aren-arenan (Arecaceae)
SUMBER
(REFERENSI):
- https://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa
- https://uniquelatestarticle.blogspot.com/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar