Pada zaman dahulu, sebelum Philipina dijajah oleh Spanyol. Pulau Sulu di Philipina Selatan, dikuasai oleh seorang sultan. Sangat disayangkan sultan itu memiliki sifat dan tabiat yang buruk. Dia sombong dengan kekayaan dan kekuasaannya. Ditambah lagi ia tidak penyayang pada rakyat kecil lagi miskin. Nama sultan itu adalah Sultan Barrabas.
Sultan tidak pernah menemui rakyatnya kecuali dengan pakaian kebesaran dan mahkota yang bertengger di kepalanya. Sehingga dia lebih mirip dengan selebritis yang bergaya.
Suatu saat sultan mengadakan pesta besar. Segala macam makanan terhidang di meja. Para pembesar diundang. Demikian juga dengan tamu dari negara lain.
"Wahai para tamuku, silahkan tuan-tuan menikmati hidangan sepuasnya." Ucap sultan dengan senyum lebar.
Semua menikmati hidangan dengan asyiknya. Segala macam unggas dan hewan ternak dengan berbagai masakan tersedia. Daging dan ikan ada yang dibakar, dipanggang, diasap, digoreng, digulai, dibumbu kare, direndang semua ada. Sayur mayur dengan ragam olahan setempat pun turut melengkapi hidangan. Belum lagi berbagai macam buah dari seluruh pelosok negeri.
"Wah, nikmat sekali semua hidangan ini." Para tamu bergumam puas mencicipi makanan resep khas kesultanan.
Tiba-tiba di tengah kerumunan orang-orang besar itu, muncullah seorang anak lelaki kecil. Wajahnya kurus, pakaiannya compang-camping dan terlihat sangat miskin.
Tidak ada yang memperhatikannya. Semua asyik dengan pesta saat itu. Si anak kecil mendekati sultan dan menarik-narik kaki sultan untuk mendapat perhatiannya. Sultan yang sedang duduk sambil menikmati hidangan merasa sangat terganggu.
"Tuan, saya lapar....sudah seminggu aku tidak mendapati makanan. Saya lapar tuan, halalkan makanan ini untuk saya cicipi," rengek anak itu.
"Siapa kamu? Berani beraninya masuk ke dalam pestaku. Kehadiranmu ini mengganggu kemeriahan pestaku!!!"
Tanpa pikir panjang semangkuk sup panas ditumpahkan ke kepala anak kecil itu. Tanpa sedikit pun rasa belas kasihan.
Seketika itu pula anak lelaki kecil menghilang tanpa wujud di hadapan sultan. Sebaliknya sultan meninggal mendadak dalam keadaannya.
Tidak ada rakyat yang menyesali kepergian sultan mereka untuk selamanya. Pemakamannya tanpa prosesi kenegaraan yang diramaikan oleh kedatangan para penziarah. Sungguh aneh, tidak ada rasa kehilangan dari siapapun rakyatnya.
Keesokan harinya sultan yang baru menggantikan kedudukan penguasa lama. Kali ini sultan pengganti yang memimpin mereka berbeda sangat jauh dari akal, akhlak dan budi pekertinya.
Bersamaan dengan itu tumbuhlah sebatang pohon di atas Makam Sultan Barrabas. Pohon aneh dan tak dikenal itu tumbuh menjadi pohon bercabang dan berbuah serupa dengan sifat sang sultan. Bijinya banyak menjengkelkan yang memakannya. Daging buahnya asam semasam wajah sultan Barrabas.
Orang-orang di wilayah Philipina Selatan menamai buah itu Bayabas sebagai kenangan mereka pada sultan yang memberi kenangan pahit untuk rakyat kecil yang lemah.
PESAN MORAL:
1. Janganlah sombong terhadap kekuasaan dan kekayaan karena kematian akan mengalahkan dan mengakhiri segalanya
2. Berkasihsayanglah kepada mereka yang lemah.
3. Jangan berberat hati untuk bersedekah, membagi hak fakir miskin yang ada pada kelebihan harta kita
4. Perbuatan dzalim akan mendapat balasan dari Alloh SWT, maka hindarilah perbuatan dzalim, karena tidak ada hijab antara yang terdzalimi dengan tuhannya
FAKTA UNIK:
1. Jambu biji merupakan tumbuhan berkayu, bercabang dan tergolong dalam dikotil
2. Nama ilmiahnya adalah Psidium guajava, dalam bahasa jawa disebut jambu biji atau jambu klutuk.
3. Banyak mengandung vitamin C, pada jambu biji merah, kasiatnya sangat besar untuk kesehatan, yaitu meningkatkan jumlah trombosit pada penderita demam berdarah.
SUMBER (REFERENSI):
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Jambu_biji
2. https://uniquelatestarticle.blogspot.com/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar