Kamis, 15 Februari 2018

Legenda ke-10 MUNCULNYA BUAH MANGGA (CERITA RAKYAT FILIPINA)



Kisah ini masih tentang awal mula munculnya buah-buahan.  Seperti halnya tentang buah durian dan jambu biji, cerita ini berasal dari Filipina.  Yuk kita simak ceritanya…..

Di sebuah desa terpencil propinsi bernama Aklan,  di Filipina, tinggallah seorang ayah dan seorang anaknya.  Pria itu bernama Daeogdog dan anak perempuannya bernama Aganhon.
Daeogdog memiliki karakter yang keras dan egois.  Ia tidak mau mendengar ucapan dan pendapat orang lain bila bertentangan dengan pendapat dan kemauannya.  Termasuk dalam membesarkan Aganhon, Daeogdog selalu menggunakan perintah dan larangan, tanpa dialog.

“Aganhon, kamu ini anak perenpuan bapak satu-satunya.  Kau baiknya tinggal di rumah saja.  Jangan banyak meninggalkan rumah.”

“Tapi ayah, aku juga butuh teman.  Penatnya aku harus tinggal terus di rumah sempit ini.”

“Pokoknya kamu tidak boleh keluar rumah.  Wajahmu yang cantik dan tutur katamu yang lembut itu akan menggelincirkanmu dengan pemuda tidak baik di kampung ini. Kamu jangan bertemu dengan mereka yang tidak punya kesibukan itu. Titik!!!” Perintah Daeogdog menjadi perkara final agar Aganhon tak ingin terkena kemarahan dan hukuman yang lebih hebat.  Tak segan ayah yang temperamental itu memukul anaknya.

Suatu hari datanglah seorang pemuda bernama Maeopig ingin memperistri Aganhon.  Ia cukup berharta dan terpandang di desa itu.  Hanya saja pemuda itu memiliki sifat yang serupa dengan ayah Aganhon.

“Kalau aku menjadi istrinya, siapa yang akan membebaskanku dari nasib terkekang dan tertekan.  Aku tak mau menjadi sasaran kemarahan, perintah dan larangan suamiku sampai aku tua,” gumam Aganhon pada dirinya sendiri.

Sepulang Maeoping, Daeogdog membujuk Aganhon dengan bersungguh-sungguh.

“Anakku, apa yang kau ragukan dari Maeopig.  Dia pemuda yang mapan, berperawakan bagus.  Dia pasti akan mampu memenuhi segala keinginanmu. Dia akan dapat membahagiakanmu.”

“Ayah, Aganhon mohon untuk memikirkannya barang dua atau tiga hari.  Sebelum menyampaikan kesanggupan.”

“Kamu jangan bertindak bodoh.  Kalau kamu tidak bersedia jadi istrinya apa kamu mau menunggu dilamar pemuda miskin kampong ini?  Aku tidak punya pilihan lain kecuali menikahkanmu dengan Maeopig!”

Tanpa memedulikan perasaan hati anaknya, Daeogdog menerima pertunangan Maeopig.  Diputuskannya secara sepihak hari pernikahan berikut pestanya.  Semua persiapan dilakukannya dengan suka cita.  Penyediaan dana dari Maeoping cukup untuk membuat sebuah pesta besar.
Persiapan menuju pelaminan tinggal beberapa saat lagi.  Perias sudah didatangkan dari kota.  Akan tetapi tiba-tiba Aganhon menghilang dan tak dapat ditemukan.

“Aganhon, kemana kamu?!  Jangan membuat ayahmu ini malu!!  Ayo keluar dari persembunyianmu!!! Akhiri lelucon yang buruk ini!!!” Daeogdog mulai marah meledak-ledak. 

Sebentar lagi mempelai pria akan segera datang sementara anaknya tak kunjung berhasil ditemukan. Daeogdog mengutus beberapa kerabat untuk mencari dimana anak perempuan satu-satunya berada. 

Hingga sampailah kabar dari seorang pengelana yang menemukan sesosok tubuh wanita belia nan cantik tergeletak di tepi sungai.  Sebilah belati menancap pada dada Aganhon. Rupanya Aganhon memilih mati dari pada dipersunting seseorang pemarah seperti halnya ayahnya.

“Siapakah wanita cantik yang sampai hati membunuh diri sendiri ini?  Aku harus membawanya ke desa terdekat,”  ucap pengelana itu.

Dipanggulnya wanita tanpa nyawa itu menuju desa terdekat.  Sampai di perbatasan desa, ia bertemu dengan kerabat utusan dari Deaogdog.   Diserahkannya wanita itu pada kerabatnya.  Untuk kemudian diserahkan pada sang ayah.

Melihat anaknya sudah tak bernyawa, jiwa Deaogdog terguncang.  Antara sesal, tangis dan tertawa, ia membawa segala kedukaan dalam mimpinya suatu malam.  Dalam mimpinya itu ia bertemu Aganhon.

“Ayah, sudahlah jangan sesali pilihanku.  Lebih baik aku seperti ini daripada dinikasi seseorang yang buruk perangai.  Karena hidupku akan lebih menderita.  Ada kabar gembira buat ayah.  Di tempatku mengakhiri hidup, ayah dapat menemukan pohon dengan buah yang sangat baik.  Ayolah Ayah, ke tempat itu bersamaku.”  Dalam mimpinya Deaogdog melihat pohon aneh yang bel;um pernah dilihatnya sebelum ini.

Begitu terbangun, Daeogdog bergegas ke sungai dan menemukan pohon yang sama.  Pohon besar berkayu dengan cabang yang sangat banyak.  Cabang itu bergoyang-goyang ditiup angin.  Buahnya lebat berwarna kuning ranum.

Tak tahan dengan buah asing itu, dipanjatnya pohon dan dipetiknya satu buah untuk dicicipinya.  Manis benar serta lemut buah itu, mengingatkannya pada kehalusan budi pekerti dan kecantikan anaknya.

“Mangga-mangga…..” Deaogdog mengucap sebuah nama yang dalam basa mereka bermakna hati.  Nama itu disebutnya karena bentuk buah yang menyerupai hati.  Juga untuk mengenang putrinya yang memiliki hati lembut dan budi yang baik.

PESAN MORAL:
1.      Utamakan dialog dalam kehidupan ini terhadap siapa saja, agar terhindar dari perasaan tertekan oleh siapapun.
2.      Hindarilah sifat temperamental karena akan banyak menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya
3.      Carilah jalan keluar dan jangan mengambil langkah pendek, sampai mencelakakan diri apalagi sampai bunuh diri.  Karena hal itu dilarang agama dan tanda keputusasaan.
4.      Pernikahan adalah hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan dan kebahagiaan anak. Maka jangan sampai mengabaikan factor kecenderungan hati anak

FAKTA UNIK:
1.      Mangga merupakan tanaman budidaya yang sangat baik untuk tumbuh di daerah tropis.  Berdaun menyirip seperti duri ikan.  Memiliki bunga majemuk yang berumah satu (dalam satu pohon terdapat jenis bunga jantan dan betina sehingga setiap pohon mangga berpeluang untuk menghasilkan buah
2.      Nama ilmiahnya adalah Mangifera indica dengan makna “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”.
3.      Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi antara 10 hingga 40 m.
4.      Berasal dari daerah di sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurang-kurangnya semenjak 1500 tahun yang silam.

SUMBER (REFERENSI)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar