Kisah
ini masih tentang awal mula munculnya buah-buahan. Seperti halnya tentang buah durian dan jambu
biji, cerita ini berasal dari Filipina.
Yuk kita simak ceritanya…..
Di
sebuah desa terpencil propinsi bernama Aklan, di Filipina, tinggallah seorang ayah dan
seorang anaknya. Pria itu bernama
Daeogdog dan anak perempuannya bernama Aganhon.
Daeogdog
memiliki karakter yang keras dan egois.
Ia tidak mau mendengar ucapan dan pendapat orang lain bila bertentangan
dengan pendapat dan kemauannya. Termasuk
dalam membesarkan Aganhon, Daeogdog selalu menggunakan perintah dan larangan,
tanpa dialog.
“Aganhon,
kamu ini anak perenpuan bapak satu-satunya.
Kau baiknya tinggal di rumah saja.
Jangan banyak meninggalkan rumah.”
“Tapi
ayah, aku juga butuh teman. Penatnya aku
harus tinggal terus di rumah sempit ini.”
“Pokoknya
kamu tidak boleh keluar rumah. Wajahmu
yang cantik dan tutur katamu yang lembut itu akan menggelincirkanmu dengan
pemuda tidak baik di kampung ini. Kamu jangan bertemu dengan mereka yang tidak
punya kesibukan itu. Titik!!!” Perintah Daeogdog menjadi perkara final agar
Aganhon tak ingin terkena kemarahan dan hukuman yang lebih hebat. Tak segan ayah yang temperamental itu memukul
anaknya.
Suatu
hari datanglah seorang pemuda bernama Maeopig ingin memperistri Aganhon. Ia cukup berharta dan terpandang di desa itu. Hanya saja pemuda itu memiliki sifat yang
serupa dengan ayah Aganhon.
“Kalau
aku menjadi istrinya, siapa yang akan membebaskanku dari nasib terkekang dan
tertekan. Aku tak mau menjadi sasaran
kemarahan, perintah dan larangan suamiku sampai aku tua,” gumam Aganhon pada
dirinya sendiri.
Sepulang
Maeoping, Daeogdog membujuk Aganhon dengan bersungguh-sungguh.
“Anakku,
apa yang kau ragukan dari Maeopig. Dia
pemuda yang mapan, berperawakan bagus. Dia pasti akan mampu memenuhi segala
keinginanmu. Dia akan dapat membahagiakanmu.”
“Ayah,
Aganhon mohon untuk memikirkannya barang dua atau tiga hari. Sebelum menyampaikan kesanggupan.”
“Kamu
jangan bertindak bodoh. Kalau kamu tidak
bersedia jadi istrinya apa kamu mau menunggu dilamar pemuda miskin kampong ini? Aku tidak punya pilihan lain kecuali
menikahkanmu dengan Maeopig!”
Tanpa
memedulikan perasaan hati anaknya, Daeogdog menerima pertunangan Maeopig. Diputuskannya secara sepihak hari pernikahan
berikut pestanya. Semua persiapan
dilakukannya dengan suka cita.
Penyediaan dana dari Maeoping cukup untuk membuat sebuah pesta besar.
Persiapan
menuju pelaminan tinggal beberapa saat lagi.
Perias sudah didatangkan dari kota.
Akan tetapi tiba-tiba Aganhon menghilang dan tak dapat ditemukan.
“Aganhon,
kemana kamu?! Jangan membuat ayahmu ini
malu!! Ayo keluar dari
persembunyianmu!!! Akhiri lelucon yang buruk ini!!!” Daeogdog mulai marah
meledak-ledak.
Sebentar
lagi mempelai pria akan segera datang sementara anaknya tak kunjung berhasil
ditemukan. Daeogdog mengutus beberapa kerabat untuk mencari dimana anak
perempuan satu-satunya berada.
Hingga
sampailah kabar dari seorang pengelana yang menemukan sesosok tubuh wanita
belia nan cantik tergeletak di tepi sungai. Sebilah belati menancap pada dada Aganhon.
Rupanya Aganhon memilih mati dari pada dipersunting seseorang pemarah seperti
halnya ayahnya.
“Siapakah
wanita cantik yang sampai hati membunuh diri sendiri ini? Aku harus membawanya ke desa terdekat,” ucap pengelana itu.
Dipanggulnya
wanita tanpa nyawa itu menuju desa terdekat.
Sampai di perbatasan desa, ia bertemu dengan kerabat utusan dari Deaogdog. Diserahkannya
wanita itu pada kerabatnya. Untuk
kemudian diserahkan pada sang ayah.
Melihat
anaknya sudah tak bernyawa, jiwa Deaogdog terguncang. Antara sesal, tangis dan tertawa, ia membawa
segala kedukaan dalam mimpinya suatu malam.
Dalam mimpinya itu ia bertemu Aganhon.
“Ayah,
sudahlah jangan sesali pilihanku. Lebih
baik aku seperti ini daripada dinikasi seseorang yang buruk perangai. Karena hidupku akan lebih menderita. Ada kabar gembira buat ayah. Di tempatku mengakhiri hidup, ayah dapat
menemukan pohon dengan buah yang sangat baik.
Ayolah Ayah, ke tempat itu bersamaku.”
Dalam mimpinya Deaogdog melihat pohon aneh yang bel;um pernah dilihatnya
sebelum ini.
Begitu
terbangun, Daeogdog bergegas ke sungai dan menemukan pohon yang sama. Pohon besar berkayu dengan cabang yang sangat
banyak. Cabang itu bergoyang-goyang
ditiup angin. Buahnya lebat berwarna
kuning ranum.
Tak
tahan dengan buah asing itu, dipanjatnya pohon dan dipetiknya satu buah untuk
dicicipinya. Manis benar serta lemut
buah itu, mengingatkannya pada kehalusan budi pekerti dan kecantikan anaknya.
“Mangga-mangga…..”
Deaogdog mengucap sebuah nama yang dalam basa mereka bermakna hati. Nama itu disebutnya karena bentuk buah yang
menyerupai hati. Juga untuk mengenang
putrinya yang memiliki hati lembut dan budi yang baik.
PESAN
MORAL:
1. Utamakan
dialog dalam kehidupan ini terhadap siapa saja, agar terhindar dari perasaan
tertekan oleh siapapun.
2. Hindarilah
sifat temperamental karena akan banyak menimbulkan ketidaknyamanan bagi
orang-orang di sekitarnya
3. Carilah
jalan keluar dan jangan mengambil langkah pendek, sampai mencelakakan diri apalagi
sampai bunuh diri. Karena hal itu dilarang
agama dan tanda keputusasaan.
4. Pernikahan
adalah hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan dan kebahagiaan anak.
Maka jangan sampai mengabaikan factor kecenderungan hati anak
FAKTA
UNIK:
1. Mangga
merupakan tanaman budidaya yang sangat baik untuk tumbuh di daerah tropis. Berdaun menyirip seperti duri ikan. Memiliki bunga majemuk yang berumah satu
(dalam satu pohon terdapat jenis bunga jantan dan betina sehingga setiap pohon mangga
berpeluang untuk menghasilkan buah
2. Nama
ilmiahnya adalah Mangifera indica dengan makna “(pohon) yang
berbuah mangga, berasal dari India”.
3. Pohon
mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus)
termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai
tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi antara 10 hingga 40
m.
4. Berasal
dari daerah di sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga
telah menyebar ke Asia Tenggara sekurang-kurangnya semenjak 1500
tahun yang silam.
SUMBER
(REFERENSI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar