Pada zaman dahulu kala, hiduplah di suatu daerah lereng gunung
terpencil, seorang nenek tua . Nenek itu
tinggal bersama cucu lelakinya yang telah dewasa. Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil
berukuran sepuluh dan tujuh langkah orang dewasa. Sangat sederhana dan cukup sempit, tersekat tiga
ruangan saja. Dua ruangan untuk kamar
tidur dan satu ruangan untuk kegiatan sehari-hari mereka.
Antara keduanya memiliki sifat yang sangat bertolak
belakang. Sang nenek sangat rajin
mencari nafkah meskipun usianya sudah senja dan badannya telah renta. Sedangkan cucunya berbadan sehat, masih muda
tetapi sangat pemalas.
“Cucuku, sebaiknya kau bantu nenek memisahkan biji-biji ini dari
kapasnya,” ucap nenek di suatu hari
“Buat apa Nek, capek-capeng membuang biji kapas begini, hasilnya
tak seberapa. Lebih baik pergi ke kota. Berjudi dengan sedikit uang saja, kalau
menang kita bisa langsung menjadi orang kaya.
Selebihnya buat bersenang-senang.”
“Kamu selalu berkhayal dengan kemenangan yang tak kunjung datang
Cucuku. Lebih baik gunakan tenagamu
untuk kerja yang mendatangkan manfaat.”
Sang nenek tak henti-hentinya berusaha menyadarkan cucunya dari
perilaku buruk. Tetapi angan-angan
panjang telah melalikan anak muda itu dari akal sehat dan nasihat baik neneknya
yang seharusnya ia patuhi.
Nenek itu terus saja melanjutkan pekerjaannya. Sekeranjang tempat kapas yang telah bersih
dari bijinya dan sebatang kayu panjang yang digunakannya sebagai tongkat untuk
berjalan. Sementara anak laki-laki pemalas
itu pergi ke kota setiap hari untuk berjudi dan terus bermimpi menjadi kaya
dari hasil judinya.
Suatu ketika, sang nenek kehilangan uang untuk belanja pada hari
itu. Dia kebingungan bagaimana mau
memasak tanpa uang hasil keringatnya itu.
Sementara tidak ada orang lain yang tinggal bersamanya kecuali cucu
semata wayangnya.
“Ini pasti perbuatan cucuku.
Berapa lama lagi dia akan menghentikan perbuatan buruknya. Mencuri dan berjudi. Pergi pagi sore pulang pagi hanya menghabiskan
uang di meja judi,” gumam nenek menahan marahnya.
Sementara nenek sedang kebingungan dan berusaha mendapatkan uang
dengan kembali bersusah payah membuang biji kapas, anak-lelaki itu dalam
perjalanan pulang. Untuk menghindari
kemarahan cucunya bila mendapati di
rumag tak ada makanan, nenek memalang pintu rapat-rapat.
“Nek, kenapa pintu ditutup.
Ayo buka pintunya Nek. Aku sudah
lapar dan ingin sarapan segera!!!” Anak lelaki itu berteriak dari luar rumah.
“Tunggu sebentar, aku sedang berusaha membersihkan kapas biar
segera terjual. Setelah itu aku akan
segera menjualnya untuk makan kita hari ini.”
Anak lelaki tak tahu diri itu marah dan terus menggedor
pintu. Sehingga sang nenek terpaksa
membukakan pintu. Di luar dugaannya,
anak lelaki itu telah menyiapkan batok kelapa untuk dilemparkan padanya.
Melihat kelakuan cucunya yang melampau itu nenek kehilangan
kesabarannya. Diambilnya tongkat kayu, dipukulkannya pada anak lelaki itu. Tiba-tiba cucunya berubah menjadi binatang
yang buruk rupa. Kapas-kapas hasil
kerjanya berubah menjadi rambut yang menutupi seluruh tubuhnya, dan tongkat
pemukul menjadi ekornya.
“Ah….apa yang terjadi denganku?
Nenek maafkan aku!!!” Sesal anak itu hanya sampai pada hatinya
karena ia pun sudah tak mampu berbicara.
Nenek hanya memandangi cucunya yang telah berubah menjadi binatang
buruk rupa. Namun kemarahannya sudah sampai pada batas
kesabaran untuk memaafkan perilaku kurang ajar cucunya.
Jelmaan anak laki-laki itu pergi ke kota untuk mengingatkan
teman-temannya yang berkelakuan buruk seperti dirinya.
“Kuingatkan kalian sebelum menjadi seperti diriku. Sadarlah!
Tinggalkan perbuatan ini. Judi
hanya memanjangkan angan kalian untuk menjadi kaya. Sementara yang ada justru kemiskinan dan
kesengsaraan yang kalian dapat.”
Hewan buruk rupa itu berusaha menyadarkan semampunya dengan
isyarat gerak tubuhnya. Tentu saja
kawan-kawannya tidak mengetahui maksud monyet itu. Maka dipukulkan ekornya pada satu persatu
kawannya agar berhenti berjudi. Akan
tetapi nasib yang sama menimpa mereka.
Setiap terkena pukulan ekor itu, satu persayu mereka berubah menjadi
seekor monyet.
Jadilah mereka sekawanan binatang buruk rupa. Mereka kemudian lari menjauhi kota untuk
hidup di hutan. Mereka tinggal di
pepohonan. Sejak itulah mereka disebut
oleh manusia sebagai monyet.
HIKMAH CERITA:
- Janganlah kalian memelihara perilaku buruk dan berkeras hati dari nasihat.
- Hormatilah orang tua, termasuk nenek kita. Mereka adalah perantara kehidupan kita di dunia yang harus kita hormati, sayangi dan taati perintah baiknya.
- Bermalas-malasan, mencuri dan berjudi adalah perilaku sangat tidak terpuji. Panjang angan-angan yang mengakibatkan kelalaian dan kemiskinan.
- Bertemanlah dengan orang-orang yang baik agar kita bisa berubah menjadi baik. Hindarilah pergaulan yang buruk yang akan menjerumuskan kita lebih jauh dari kebaikan.
FAKTA UNIK:
- Monyet tergolong dalam primata. Tubuhnya tertutup dengan bulu dan berekor panjang. Ia dapat menggunakan alat bantu dengan memegang menggunakan tangannya
- Monyet berekor panjang memiliki nama ilmiah Macaca fascicularis. Termasuk dalam Kingdom Animalia, Phylum Cordata, Kelas Mamalia, Ordo Primata.
- https://fairytalez.com/the-first-monkey/ fairy tales from Philippine
- https://id.wikipedia.org/wiki/Monyet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar