Selasa, 13 Februari 2018

Legenda ke-8 MONYET PERTAMA DI DUNIA


Pada zaman dahulu kala, hiduplah di suatu daerah lereng gunung terpencil, seorang nenek tua .  Nenek itu tinggal bersama cucu lelakinya yang telah dewasa.  Mereka tinggal dalam sebuah rumah kecil berukuran sepuluh dan tujuh langkah orang dewasa.  Sangat sederhana dan cukup sempit, tersekat tiga ruangan saja.  Dua ruangan untuk kamar tidur dan satu ruangan untuk kegiatan sehari-hari mereka.

Antara keduanya memiliki sifat yang sangat bertolak belakang.  Sang nenek sangat rajin mencari nafkah meskipun usianya sudah senja dan badannya telah renta.  Sedangkan cucunya berbadan sehat, masih muda tetapi sangat pemalas.

“Cucuku, sebaiknya kau bantu nenek memisahkan biji-biji ini dari kapasnya,” ucap nenek di suatu hari

“Buat apa Nek, capek-capeng membuang biji kapas begini, hasilnya tak seberapa.  Lebih baik pergi ke kota.  Berjudi dengan sedikit uang saja, kalau menang kita bisa langsung menjadi orang kaya.  Selebihnya buat bersenang-senang.”

“Kamu selalu berkhayal dengan kemenangan yang tak kunjung datang Cucuku.  Lebih baik gunakan tenagamu untuk kerja yang mendatangkan manfaat.” 

Sang nenek tak henti-hentinya berusaha menyadarkan cucunya dari perilaku buruk.  Tetapi angan-angan panjang telah melalikan anak muda itu dari akal sehat dan nasihat baik neneknya yang seharusnya ia patuhi.

Nenek itu terus saja melanjutkan pekerjaannya.  Sekeranjang tempat kapas yang telah bersih dari bijinya dan sebatang kayu panjang yang digunakannya sebagai tongkat untuk berjalan.  Sementara anak laki-laki pemalas itu pergi ke kota setiap hari untuk berjudi dan terus bermimpi menjadi kaya dari hasil judinya.

Suatu ketika, sang nenek kehilangan uang untuk belanja pada hari itu.  Dia kebingungan bagaimana mau memasak tanpa uang hasil keringatnya itu.  Sementara tidak ada orang lain yang tinggal bersamanya kecuali cucu semata wayangnya.

“Ini pasti perbuatan cucuku.  Berapa lama lagi dia akan menghentikan perbuatan buruknya.  Mencuri dan berjudi.  Pergi pagi sore pulang pagi hanya menghabiskan uang di meja judi,” gumam nenek menahan marahnya.

Sementara nenek sedang kebingungan dan berusaha mendapatkan uang dengan kembali bersusah payah membuang biji kapas, anak-lelaki itu dalam perjalanan pulang.  Untuk menghindari kemarahan cucunya  bila mendapati di rumag tak ada makanan, nenek memalang pintu rapat-rapat.

“Nek, kenapa pintu ditutup.  Ayo buka pintunya Nek.  Aku sudah lapar dan ingin sarapan segera!!!” Anak lelaki itu berteriak dari luar rumah.

“Tunggu sebentar, aku sedang berusaha membersihkan kapas biar segera terjual.  Setelah itu aku akan segera menjualnya untuk makan kita hari ini.”

Anak lelaki tak tahu diri itu marah dan terus menggedor pintu.  Sehingga sang nenek terpaksa membukakan pintu.  Di luar dugaannya, anak lelaki itu telah menyiapkan batok kelapa untuk dilemparkan padanya.

Melihat kelakuan cucunya yang melampau itu nenek kehilangan kesabarannya. Diambilnya tongkat kayu, dipukulkannya pada anak lelaki itu.  Tiba-tiba cucunya berubah menjadi binatang yang buruk rupa.  Kapas-kapas hasil kerjanya berubah menjadi rambut yang menutupi seluruh tubuhnya, dan tongkat pemukul menjadi ekornya.

“Ah….apa yang terjadi denganku?  Nenek maafkan aku!!!”   Sesal anak itu hanya sampai pada hatinya karena ia pun sudah tak mampu berbicara.

Nenek hanya memandangi cucunya yang telah berubah menjadi binatang buruk rupa.  Namun  kemarahannya sudah sampai pada batas kesabaran untuk memaafkan perilaku kurang ajar cucunya.

Jelmaan anak laki-laki itu pergi ke kota untuk mengingatkan teman-temannya yang berkelakuan buruk seperti dirinya.
“Kuingatkan kalian sebelum menjadi seperti diriku.  Sadarlah!  Tinggalkan perbuatan ini.  Judi hanya memanjangkan angan kalian untuk menjadi kaya.  Sementara yang ada justru kemiskinan dan kesengsaraan yang kalian dapat.”

Hewan buruk rupa itu berusaha menyadarkan semampunya dengan isyarat gerak tubuhnya.  Tentu saja kawan-kawannya tidak mengetahui maksud monyet itu.  Maka dipukulkan ekornya pada satu persatu kawannya agar berhenti berjudi.  Akan tetapi nasib yang sama menimpa mereka.  Setiap terkena pukulan ekor itu, satu persayu mereka berubah menjadi seekor monyet.

Jadilah mereka sekawanan binatang buruk rupa.  Mereka kemudian lari menjauhi kota untuk hidup di hutan.  Mereka tinggal di pepohonan.  Sejak itulah mereka disebut oleh manusia sebagai monyet.

HIKMAH CERITA:
  1. Janganlah kalian memelihara perilaku buruk dan berkeras hati dari nasihat.
  2. Hormatilah orang tua, termasuk nenek kita.  Mereka adalah perantara kehidupan kita di dunia yang harus kita hormati, sayangi dan taati perintah baiknya.
  3. Bermalas-malasan, mencuri dan berjudi adalah perilaku sangat tidak terpuji.  Panjang angan-angan yang mengakibatkan kelalaian dan kemiskinan.
  4. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik agar kita bisa berubah menjadi baik.  Hindarilah pergaulan yang buruk yang akan menjerumuskan kita lebih jauh dari kebaikan.



FAKTA UNIK: 
  1. Monyet tergolong dalam primata.  Tubuhnya tertutup dengan bulu dan berekor panjang.  Ia dapat menggunakan alat bantu dengan memegang menggunakan tangannya
  2. Monyet berekor panjang memiliki nama ilmiah Macaca fascicularis.  Termasuk dalam Kingdom Animalia, Phylum Cordata, Kelas Mamalia, Ordo Primata. 


 SUMBER:
  1.  https://fairytalez.com/the-first-monkey/ fairy tales from Philippine
  2.  https://id.wikipedia.org/wiki/Monyet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar