ASAL MULA LEUWI NINI
Berjalan menyusuri kampungku, Kampung Cibogo Desa Ciudian Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut tidak lengkap bila belum menikmati keindahan Sungai Leuwi Nini. Sungai yang deras nan jernih dengan beberapa lengkungan air agak dalam (leuwi). Batu-batu besar seukuran meja belajar turut menambah keasrian sekaligus suasana magis. Di kanan kiri sungai terdapat kebun dan sawah para petani.
Sejak aku pindah ke Tasikmalaya kurang lebih dua tahun lalu, baru kali ini aku menikmati jernih dan sejuknya Sungai Leuwi Nini kembali. Tiba-tiba aku terkenang peristiwa berpuluh tahun yang lalu, ketika itu aku masih belum lahir. Sebuah peristiwa bersejarah hingga Sungai ini dinamakan Leuwi Nini.
Konon ketika penduduk kampung kami masih beberapa orang tinggalan sepasang kakek nenek yang bernama Kek Dullah dan Nek Ijji. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Mata pencaharian mereka hanya dari memancing ikan di sungai untuk kemudian dijual. Kehidupan mereka jalani dengan ikhlas meskipun hidup dengan pas-pasan.
Mereka biasa pergi pagi-pagi sekitar pukul enam, setelah Shalat Subuh berjamaah. Mereka berdoa menengadahkan tangan agar dikuatkan menyambung hidup yang mungkin sudah tak berapa lama lagi. Usia senja membuat mereka khusyuk menghadap Sang Khalik.
“Kek, maafkan nenek yang selalu merepotkan kakek. Kalau Kakek sendirian Kakek tidak harus mencarikan nafkah buat saya. Cukup setengah penjualan ikan untuk Kakek dan setengahnya bias buat beli barang kebutuhan Kakek,” Nek Ijji memecah kebekuan pagi itu.
“Ehh….pamali bilang begitu. Dengar Nek, kalau aku sendirian siapa yang memasak buat aku. Siapa yang tiap hari dimintai tolong. Nek, tolong ini tolong itu. Wah, tentu aku akan sangat repot. Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Tolong siapkan makanan buat bekal kita!” Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing masing. Kakek Dulloh menyiapkan cacing umpan dan membungkusnya dengan daun alas sementara Nek Ijji menyiapkan nasi timbel lengkap dengan asin dan sambalnya.
Begitulah kehidupan sehari-hari sepasang suami-istri itu. Rumah panggung yang terbuat dari bambu teramat sederhana menjadi saksi setiap kebersahajaan yang mereka jalani. Tidak ada kemewahan yang dapat mereka kumpulkan dari hasil memancing ikan kecuali sesuap nasi penyambung hidup dari hari ke hari.
Sesudah Ashar Kakek datang membawa hasil penjualan ikan dari pasar. Dengan senyum lebar Nek Ijji menyambut kedatangan suaminya. Disiapkannya secangkir kopi pahit dan singkong rebus di atas tikar. Merekapun duduk santai sembari mengisi kesunyian hari mereka tanpa kehadiran anak ataupun cucu.
“Kek, sudah shalat Ashar belum? Di kamar sudah saya siapkan sarung.” Nenek Ijji memecahkan keheningan sambil terus memijat kaki suaminya.
“Sudah Nek, tadi aku shalat dulu di mushala kampung sebelah begitu terdengar adzan.”
“O’ya….. Kek, sepulang memancing tadi, saya tertidur sebentar setelah shalat Dzuhur. Saya bermimpi melihat tiga ekor ikan mas yang besar-besar.”
“Itu pertanda baik,Nek. Mungkin akan ada rejeki kita yang besar di sungai itu. Bisa jadi bukan hanya ikan tapi barang temuan lain.” Kakek Dulloh asyik dengan khayalannya. “Bagaimana kalau kita pergi sekarang juga. Aku khawatir ikan-ikan itu atau mungkin barang berharga yang diibaratkan ikan mas dalam mimpimu itu hilang?”
“Kakek ini ada-ada saja. Iye mah mimpi biasa. Bunga tidur bukan firasat. Lagi pula saya mimpinya di siang bolong. Kakek jangan berkhayal begitu. Kata orang bisa gila ”
Sejak mendengar mimpi istrinya itu Kek Dulloh tidak henti-hentinya berkhayal seolah hilang sifat kebersahajaannya. Malam itu tidur Sang kakek tidak begitu lelap. Hujan deras yang mengguyur seluruh kampung tidak sedikitpun mengurungkan niatnya menangkap tiga ekor ikan mas dalam mimpi istrinya. Kecuali kekhawatiran bila ikan-ikan itu terbawa arus sungai yang deras setiap kali hujan deras turun. Bahkan Shalat Subuh pagi itu dilaluinya tanpa kekhusyuan.
Bisikan untuk segera pergi ke sungai membuat Kek Dulloh lupa bahwa pagi masih gelap,
”Nek, cepat siapkan bekal kita. Aku heran kamu yang mimpi ada ikan emas besar di sungai itu kok tenang-tenang saja. Aku mah sampai tidak nyenyak tidur.” Kek Dulloh bersungut-sungut melihat istrinya yang tidak sesemangat dirinya.
“Kek tidak baik terlalu percaya sama mimpi. Kaduhung saya ceritakan mimpi saya kemarin. Apa tidak terlalu tergesa-gesa ke sungainya sekarang? Ini masih terlalu pagi dan lihatlah langit masih gelap!” Tanya Nek Ijji keheranan.,”Lagi pula tadi malam hujan deras sekali sebaiknya kita tunggu surut dulu sungainya.”
“Pokoknya siapkan bekal. Kalau kamu tidak mau ikut biar saya sendiri saja!” Kakek Dulloh agak marah mendengar panjang lebar saran istrinya.
Keributan kecil itu terhenti setelah Nek Ijji memutuskan untuk diam dan menuruti saja kemauan suaminya. Kekakuan membuat rumah sempit itu makin menghimpit. Nek Ijji menuju dapur untuk menyalakan tungku yang hanya satu-satunya. Beruntung setelah Shalat Tahajud ia sudah memasak nasi. Pekerjaannya kini hanya tinggal menggoreng ikan sisa penjualan di pasar kemarin.
Semua telah siap. Umpan di daun talas, rantang wadah nasi lengkap dengan goring ikan dan sambal dan satu teko air the, seperangkat kebutuhan merokok Kek Dulloh pun tidak ketinggalan. Seolah ingin mengobati keributan kecil tadi pagi, Nek Ijji menambahkan lalap pada bawaannya kali ini.
“Kek, punten nyak keur tadi mungkin saya membuat Kakek marah. Harusnya saya bersemangat seperti Kakek,” Nek Ijji mencoba mengalah dan memang selalu demikian bila keributan kecil hadir diantara mereka.
“Sudahlah, yang penting hari ini kita akan menangkap ikan dalam mimpimu itu.” Merekapun tertawa sambil terbatuk-batuk. Begitu riang layaknya pasangan remaja. Suasana menjadi begitu tidak biasa. Mungkinkah ini kebersamaan mereka yang terakhir?
Lima ratus meter mereka berjalan dari rumah menyusuri pematang sawah menghijau gelap diselimuti kabut pagi yang dingin. Seiring suara katak yang masih menikmati sisa-sisa air hujan semalam. Kesejukan menyeruak siapa jua yang menikmati pagi itu.
Suara derasnya air sungai menandakan beberapa langkah lagi mereka akan sampai. Remang-remang terlihat arus sungai begitu deras karena hujan semalaman.
“ Nampaknya kita harus mencari tempat yang paling tinggi. Batu-batu besar yang biasa kita pakai memancing tertutup air,” Kek Dulloh mengatur strategi.
“Hati-hati, Kek! Batu-batu ini nampaknya licin kalau basah.”
Mereka menaiki batu tertinggi dan terbesar di sungai itu. Semua bekal dihamparkan. Mata kail diberi umpan dan dilemparkan ke sungai. Tidak seperti biasanya, meskipun semalam hujan deras, mata kail itu begitu mudah menangkap ikan. 1,2,3,4,5,6,7 mereka dapatkan hanya dalam satu jam.
“Nek, rupanya benar firasat mimpimu itu. Lihatlah belum sampai terbit matahari, kita sudah mendapatkan tujuh ekor ikan besar.” Serak suara Kek Dulloh mengiringi senyum lebarnya.
“Alhamdulillah…semoga apa yang kita peroleh berkah.”
“Nek, tolong gulungkan rokok buat kakek. Yang lengkap dengan cengkeh dan kemenyannya, ya? Ini koreknya.” Kek Dulloh merogoh saku celananya dan……plung…“Aduhcilaka korek gasnya jatuh ke air. Tolong pegangi kail ini, aku mau cari dulu koreknya ke dalamleuwi”
“Jangan Kek…perasaan saya tidak enak. Saya khawatir leuwi ini cukup dalam. Lebih baik kita beli lagi korek dari hasil penjualan ikan hari ini.”
“Aku ingin sekarang merokoknya. Sudah jangan khawatir, aku sudah biasa berenang dileuwi ini.”
Tanpa menghiraukan saran istrinya, Kek Dulloh langsung menyelam. Nek Ijji hanya bisa pasrah dan berjuang mengalahkan kegundahannya. Dipeganginya kail dengan perasaan tak menentu. Sejak Kek Dulloh mencari korek tidak satu pun ikan memakan umpannya. Tangan Nek Ijji gemetar ketika kekhawatiran atas keselamatan Kek Dulloh memuncak. Hampir satu jam tak juga muncul Kek Dulloh dari leuwi itu.
Tidak mungkin kakek bisa bertahan lebih dari satu jam di bawah air. Apa yang terjadi denganmu, Kek? Nek Ijji berbicara dengan dirinya sendiri. Pikirannya tak menentu.
“Ya Alloh, apa yang harus kulakukan? Bismillahirrahmanirrahim…..” Nek Ijji memutuskan untuk menyelam mencari suaminya. Dalam benaknya ia harus menyelamatkan Kek Dulloh.
Akan tetapi hingga hari menjelang siang keduanya tak jua mencul kembali ke permukaan.
Salah seorang lelaki warga kampung yang melewati sungai itu keheranan menemukan perbekalan memancing dan ikan-ikan di dalam ember ditinggalkan pemiliknya. Ia tahu benar bahwa barang barang itu milik Kek Dulloh dan Nek Ijji.
Dibawanya barang-barang itu ke rumah Kek Dulloh. Akan tetapi tiada sahutan seseorang pun di rumah panggung itu. Kekhawatiran menghinggapi hati lelaki itu. Dimasukinya rumah Kek Dulloh untuk memastikan apakah Kek Dulloh atau Nek Ijji ada di dalamnya.
Siang itu berita kehilangan Kek Dulloh dan Nek Ijji segera menyebar keseluruh warga. Mereka berbondong-bondong untuk mencari Kek Dulloh dan Nek Ijji. Tiga orang menyelam ke dalamnya. Tak berapa lama ditemukan Kek Dulloh di sela-sela batu, tetapi Nek Ijji….hingga kini tidak ditemukan dimana jenazahnya berada. Ataukah sebenarnya masih hidup atau meninggalkah Nek Ijji?
Semua masih misteri yang hingga kini tidak terpecahkan. Untuk mengabadikan kejadian misterius itu penduduk kampung menamai sungai ini Leuwi Nini.
FAKTA ILMIAH
Danau adalah cekungan berukuran besar di
permukaan Bumi yang terisi oleh air
tawar.
Ciri- ciri
Danau
- Genangan airnya cukup dalam
- Terdapat beberapa tumbuhan air yang menutupi sebagian permukaan air danau, misalnya eceng gondok dan teratai
- Terdapat gelombang kecil di permukaan air danau oleh tiupan angin
- Permukaan airnya lebih tinggi dari permukaan air
Berdasarkan
proses pembentukannya ada banyak jenis danau, antara lain:
- Danau Vulkanik, terbentuk dari letusan gunung berapi yang membekaskan kawah yang luas pada puncaknya. Cekungan ini terisi air hujan dan menjadi danau.
- Danau Glacial, terbentuk oleh proseserosi glacial, yaitu erosi yang terjadi pada gletser. Erosi yang terus-menerus membekaskan cekungan dan terisi air membentuk danau. Contoh dari danau ini antar lain adalah danau Michigan di Amerika Serikat, Danau St. Laurence di Kanada, Danau Superior, dan Danau Mc. Kanzie.
- Danau Tektonik, terbentuk dari pergeseran lempeng yang menyisakan cekungan cukup besar dan luas. Cekungan ini menampung air hujan dan membentuk danau. Contoh danau jenis ini adalah Danau Maninjau, Danau Tempe, Danau Poso, Danau Singkarak, Danau Sentani dan Danau Tondano.
- Danau Buatan (bendungan), contoh dari danau jenis ini adalah Waduk Jatiluhur di Jawa Barat, Waduk Sempor di Jawa Tengah, dan Waduk Karangkates dan Solorejo di Jawa Timur.
- Danau Karst, danau yang terbentuk pelarutan tanah berkapur oleh air hujan. Pelarutan ini membekaskan cekungan yang luas, menampung air hujan dan terbentuk danau
- Danau Vulkanik-Tektonik, contohnya Danau Toba.
- Danau Sungai Mati (Oxbow Lake), merupakan danau yang terjadi karena adanya aliran sungai yang terputus yang diakibatkan dari proses pembelokan arah alirah (mendering). Contoh dari danau ini adalah danau di Sungai Barito yang berada di Pulau Kalimantan.
- Danau Laguna atau Haff, merupakan danau yang terbentuk karena adanya proses pengendapan materi yang terbawa arus sungai di daerah sekitar pantai, sehingga arus sungai yang terbendung dengan laut bebas dan membentuk genangan air. Genangan air yang terbentuk ini merupakan campuran air tawar yang dibawa oleh sungai dengan air laut.
- Danau Cirques, berasal dari pencairan es, merupakan danau yang banyak dijumpai di wilayah pegunungan yang tinggi, yang mana sebagian dari tubuh pegunungan tersebut ditutupi oleh massa es.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar