Apapun keinginan Pina selalu disediakan sang ibu. Mulai dari makn minum kesukaan yang diinginkan Pina dipenuhi dengan segera. Barang-barang yang diinginkan Pina segera dibuatkan atau dibelikannya saat Ibu Pina tak bisa menyediakan sendiri.
"Ibu, Pina ingin makan bubur spesial pagi ini," ucap Pina suatu pagi.
"Tenang anakku, Ibu akan menyediakannya."
"Jangan lupa harus lengkap dengan daging cincang, kacang polong, irisan tomat, daun bawang dan seldri. O'ya juga telor ayam kampung satu butir." Deretan permintaan yang menyulitkan ibunya selalu saja ada dalam daftar kemauan Pina.
Beruntung Ibu Pina telah paham dengan kebiasaan sang anak, sehingga berbagai persediaan bahan makanan telah siap di dapur. Kalaupun tidak, ia akan segera berusaha mencari di warung ataupun pasar terdekat.
Sambil menunggu pesanannya dibuat oleh sang ibu, Pina justru bermain dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Dia tidak pernah membantu meringankan beban ibunya.
Suatu hari para tetangganya memberi saran pada Ibu Pina untuk tidak terlalu memanjakan Pina.
"Bu, ajarkan pada Pina sedikit kerja-kerja rumah. Sebentar lagi ia menjadi gadis dewasa. Bagaimana kalau dia tidak bisa melakukan kerja rumah tangga?" Seorang tetangga mengingatkannya suatu hari.
"Biarlah Bu...lagian saya masih kuat mengerjakannya sendiri. Nanti kalau Pina sudah besar dan berkeluarga, dengan sendirinya ia akan bisa melakukannya sendiri." Begitulah pembelaan Ibu Pina pada anak semata wayangnya.
Suatu saat sang ibu sedang sakit keras sehingga tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Karena ketidakpeduliannya, Pina tidak mengetahui keadaan ibunya itu.
"Ibu...Pina lapar. Bikinkan sub ikan Patin kesukaanku."
"Pina....Ibu sedang sakit. Apa kamu tidak melihat keadaan Ibu. Nak...? Coba sentuh tangan Ibu, Ibu merasa panas dingin."
"Iya Bu...Pina percaya." Pina hanya menimpali pendek dan meninggalkan ibunya.
"Pina, mau kemana kamu. Ambilkan Ibu air hangat. Ibu merasa kedinginan." Sang ibu menggigil dan terus berbaring di tempat tidur.
Pina menuju ke dapur mencari gelas. Sedangkan dia tidak tahu sama sekali dimana ibu menyimpan perabotan rumah dan barang pecah belah lainnya.
"Ibu, gelasnya dimana?!" teriak Pina.
"Di lemari dekat meja makan, kotak kedua." Ibu Pina menjawab lirih.
Karena enggan mencari gelas Pina pergi meninggalkan rumah dan bermain bersama kawannya hingga sore tiba. Pina ikut makan siang di rumah tetangganya.
Karena terlalu lama menunggu sang ibu mengambil sendiri air minum dengan tertatih-tatih. Sambil terus meratapi sikap anaknya,"Seandainya kudidik dengan benar niscaya Pina tidak akan menjadi pemalas seperti ini."
***
Sore itu Pina pulang setelah puas bermain.
"Pina darimana kamu? Kenapa tidak pamit, Nak.... Bukankah Ibu minta kamu buat mengambilkan air?" Suara ibu gemetar meahan sakit sekaligus kecewa.
"Nyari gelasnya susah, Bu. Pina nggak bisa nemukan gelasnya."
Pina memegangi perutnya yang kelaparan. Hari ini dia baru sekali makan itupun di rumah temannya. Sedangkan Ibu Pina sama sekali belum makan karena tak sanggup memasak.
"Pina, buatkan Ibu bubur ya Nak.... Kau juga tentunya mau makan malam bukan?"
"Pina nggak pernah masak, Bu?! Bagaimana aku akan bisa masak?!"
Ibu Pina terus membujuk anaknya agar mau memasak. Pina terpaksa menuruti permintaan ibunya karena perutnya pun terasa lapar.
Di dapur pina mencari beras untuk dimasak. Segala sesuatu ditanyakan dari dapur sambil berteriak. Dimana beras, dimana panci, dimana air, dimana garam dan seterusnya.
Ibu Pina pun jengkel dan hilang kesabarannya, " Pina, berapa ratus biji mata yang kamu butuhkan buat mencari semua barang yang ada di depan matamu?!!
Sesaat setelah teriakannya itu, petir diiringi guntur menggelegar. Cahayanya masuk ke dapur tempat Pina memasak.
Setelah itu, Ibu Pina tidak mendengar teriakan Pina yang bertanya ini itu lagi. Ditunggunya bubur masakan Pina hingga tertidur lelap.
Keesokan harinya sang ibu terbangun dan tidak mendapati Pina di sisinya. Keadaannya sedikit membaik setelah istirahat semalaman yang agak panjang.
Ibu turun dari tempat tidur untuk mencari Pina, namun tak juga ditemukannya.
"Mungkin Pina main lagi dan tidur di rumah tetangga karena tak sanggup memasak bubur," gumam Ibu Pina.
Hai telah siang dan Pina tak kunjung pulang. Sang ibu mulai khawatir dan menanyakan keberadaan Pina di rumah tetangganya. Namun hasilnya nihil. Yang didapatinya hanya nasihat tetangga untuk mendidik anaknya agar mau membantu kerja rumah tangga. Agar dia tidak terlalu memanjakan anaknya.
Diputuskannya untuk pulang kembali ke rumah dan mencari di dapur. Barangkali Pina bersembunyi di balik lemari atau balai-balai dapur.
Sesampai di rumah, Ibu Pina menuju dapur dan membuka seluruh lemari tempat penyimpanan bahan makanan dan perabotan. Betapa terkejutnya sang ibu, ketika menemukan sebentuk bulatan kepala berambut hijau seperti tunas. Bulatan itu berwatna kuning dengan banyak biji mata pada kulit luarnya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan anakku. Apakah ini karena perkataanku semalam? Pantaslah petir menyambar dan guntur penggelegar memasuki rumah ini. Oh....." Ibu Pina menangis meratapi kepergian Pina yang telah berubah menjadi buah aneh yang belum pernah dilihatnya itu.
Untuk mengenang kepergian Pina, Ibu Pina menanam tunas hijau diujung buah aneh itu. Tiap kali bertunas, ditanamnya kembali tunas baru dari pohon yang tumbuh. Maka penuhlah mengelilingi halaman rumahnya.
HIKMAH CERITA (PESAN MORAL):
1. Jangan terlalu memanjakan anak, sebaliknya anak harus dididik dan dilatih untuk bertanggung- jawab
2. Anak haruslah membalas kasih sayang orang tuanya dengan membantu meringankan bebannya. Apalagi bila keadaannya sedang dalam kesusahan
3. Berhati-hatilah dengan kemarahan orang tua, karena sumpahnya dalam keadaan marah dapat menjadi kenyataan.
FAKTA UNIK:
1. Nanas memiliki nama ilmiah Ananas comosus (L.) Merr. Tumbuhan daerah tropis yang berasal dari Brazil, Bolivia, Paraguay juga Indonesia. Taksonomi Nanas, tergolong dalam Kingdom Plantae, bukan Angiospermae, bukan monokotil, Ordo Poales, Famili Bromeliaceae, Subfamili Bromelioideae, Genus Ananas.
2. Ciri vegetasinya berperawakan rendah. Dapat hidup tahunan. Memiliki 30 atau lebih daun pita tebal dan kaku berujung tajam.
3. Buah menyerupai biji pinus sehingga diberinama pineapple
SUMBER:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Nanas
2. http://uniquelatestarticle.blogspot.co.id/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar