Sabtu, 17 Februari 2018

Legenda Ke-13 SAAT LANSONES KEHILANGAN RACUN

Dalam bahasa Tagalog, Lansones berasal dari kata lason yang bermakna racun.  Buah Lasones berbentuk bulat-bulat lonjong kecil berwarna kuning dan akan mematikan bila dimakan karena racunnya.  Gugusan buah kecil debfan warna krem bergerombol itu berasal dari daerah Paete, Laguna, Philipina.  Saking beracunnya, semut pun enggan mendekatinya.  Jangankan merayapi buahnya, baru sampai pada dahannya  pun  semut-semut itu sudah mati.

Semua keadaan ini berubah dengan karunia yang Tuhan berikan pada seseorang bernama Mang Selo.  Bagaimana kisahnya?  Yuk kita simak bersama!
***
Mang Selo seorang tua yang miskin.  Dia hidup sebatang kara tanpa sanak saudara, tidak berkeluarga.  Lebih menyedihkannya, ia juga tidak punya rumah.

“Aku harus mencari kacang-kacangan di lading tak bertuan untuk menyambung hidupku.”  Gumam Mang Selo suatu hari.  Kehebatan Mang Selo adalah bahwa dia tidak pernah mau mengambil hak orang lain untuk mengisi perutnya yang lebih banyak lapar itu.

Suatu ketika, Mang Selo tak mendapatkan makanan apapun untuk menghilangkan laparnya.  Yang ditemukannya hanya Lasones yang beracun.

“Ya Tuhan….aku sangat lapar, tapi aku tidak akan pernah mengambil buah-buahan di ladang orang.  Lebih baik aku lapar daripada tertelan barang yang bukan hak milikku.” 

Dalam keadaan lelah menuju kampung yang dia tinggali, ia berteduh di bawah pohon rindang. Rasa kantuk, lelah dan lapar membuatnya tertidur lelap di hutan Paete yang lebat dan pekat.

Tiba-tiba sesosok malaikat mendatanginya.

“Mang Selo, aku tahu kamu dalam keadaan lapar.  Buah-buah di samping tempatmu berbaring telah ditakdirkan Tuhan untuk kehilangan racunnya.  Akulah yang diperintahkan untuk mengambil racun dari Lasones.”  Malaikat itu mencubit buah Lason untuk mengambil racunnya.

“Siapa engkau wahai sosok yang tak kukenal?  Apa maksud tuan menemuiku?”  Mang Selo agak takut dengan hadirnya sosok aneh itu.
“Jangan takut, aku membawa kabar gembira untukmu.  Karena kebaikan budi dan kesabaranmu maka Tuhan mengarunaimu buah lezat dari Lasones yang kuambil racunnya.”

“Benarkah Tuan?”  Dalam hatinya, Mang Selo tak habis-habisnya bersyukur. “Terimakasih Tuhan.  Kau beri hamba rejeki yang aku butuhkan.”

Sosok itu tiba-tiba menghilang.  Saat membuka mata, didapatinya kulit buah Lasones berserakan di bawah pohonnya, bekas dimakan entah oleh siapa.

Kelaparan yang amat sangat membuatnya memberanikan diri buat mencicipi Layones. 

“Dengan nama Tuhan Yang Pemurah lagi Penyayang.  Semoga benarlah buah ini tidak lagi beracun.”

Mang Selo telah memenangkan pertaruhannya, buah itu ternyata manis dan segar.  Warna dan coraknya pun berubah menjadi bening dengan bercak bekas cubitan malaikat saat mengambil racun. 

Ia segera menyebarkan kabar gembira pada orang lain yang dijumpainya. Sifat pemurahnya meskipun dalam keadaan miskin telah membuatnya mulia di sisi Tuhan dan para malaikat.

PESAN MORAL:
1.      Jadilah orang yang senantiasa menjaga kehormatan diri dengan menghargai hak orang lain.
2.      Hindarilah dari perbuatan jahat meskipun kita sedang susah dan ada kesempatan untuk melakukannya.
3.      Buah dari semua kesabaran, kesyukuran dan akhlak yang baik adalah bertamabhnya nikmat dan karunia Tuhan YME.
4.      Tetaplah pemurah meskipun kita dalam kesulitan, minimal dengan senyuman

FAKTA UNIK ANGGUR:
  1.      Anggur merupakan tanaman budidaya penghasil buah.  Tanaman perdu yang merambat dengan daun tunggal bertangkai yang keluar dari batang dan cabang tanaman.
2.      Dengan nama latin Vitis vinifera, memiliki banyak varian namun masih dalam genus Vitis dan family Vitaceae, ordo Rhamnales, kelas Dikotil.
3.      Memiliki banyak khasiat antara lain berperan aktif dalam berbagai metabolism tubuh, mampu mencegah terbentuknya sel kanker Mengandung senyawa polifenol, resveratol sebagai antioksidan dan pengikat radikal bebas.
4.      Biasanya diolah sebagai kismis, anggur, jus atau dimakan langsung

SUMBER REFERENSI:
1. http://leniblogs.blogspot.co.id/2012/12/taksonomi-buah-anggur.html
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Anggur
3. https://uniquelatestarticle.blogspot.com/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.htm

Jumat, 16 Februari 2018

Legenda ke-12 ASAL MULA LEUWI NINI


ASAL MULA LEUWI NINI

Berjalan menyusuri kampungku, Kampung Cibogo Desa Ciudian Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut tidak lengkap bila belum menikmati keindahan Sungai Leuwi Nini.  Sungai yang deras nan jernih dengan beberapa lengkungan air agak dalam (leuwi). Batu-batu besar seukuran meja belajar turut menambah keasrian sekaligus suasana magis.  Di kanan kiri sungai terdapat kebun dan sawah para petani. 
Sejak aku pindah ke Tasikmalaya kurang lebih dua tahun lalu, baru kali ini aku menikmati jernih dan sejuknya Sungai Leuwi Nini kembali.  Tiba-tiba aku terkenang peristiwa berpuluh tahun yang lalu, ketika itu aku masih belum lahir.  Sebuah peristiwa bersejarah hingga Sungai ini dinamakan Leuwi Nini.
Konon ketika penduduk kampung kami masih beberapa orang tinggalan sepasang kakek nenek yang bernama Kek Dullah dan Nek Ijji.  Mereka hidup dalam kesederhanaan.  Mata pencaharian mereka hanya dari memancing ikan di sungai untuk kemudian dijual.  Kehidupan mereka jalani dengan ikhlas meskipun hidup dengan pas-pasan.
Mereka biasa pergi pagi-pagi sekitar pukul enam, setelah Shalat Subuh berjamaah. Mereka berdoa menengadahkan tangan agar dikuatkan menyambung hidup yang mungkin sudah tak berapa lama lagi.  Usia senja membuat mereka khusyuk menghadap Sang Khalik. 
“Kek, maafkan nenek yang selalu merepotkan kakek.  Kalau Kakek sendirian Kakek tidak harus mencarikan nafkah buat saya.  Cukup setengah penjualan ikan untuk Kakek dan setengahnya bias buat beli barang kebutuhan Kakek,”  Nek Ijji memecah kebekuan pagi itu.
“Ehh….pamali bilang begitu.  Dengar Nek, kalau aku sendirian siapa yang memasak buat aku.  Siapa yang tiap hari dimintai tolong.  Nek, tolong ini tolong itu.  Wah, tentu aku akan sangat repot.  Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Tolong siapkan makanan buat bekal kita!”  Mereka pun sibuk dengan pekerjaan masing masing. Kakek Dulloh menyiapkan cacing umpan dan membungkusnya dengan daun alas sementara Nek Ijji menyiapkan nasi timbel lengkap dengan asin dan sambalnya.
Begitulah kehidupan sehari-hari sepasang suami-istri itu.  Rumah panggung yang terbuat dari bambu teramat sederhana menjadi saksi setiap kebersahajaan yang mereka jalani. Tidak ada kemewahan yang dapat mereka kumpulkan dari hasil memancing ikan kecuali sesuap nasi penyambung hidup dari hari ke hari. 
Sesudah Ashar Kakek datang membawa hasil penjualan ikan dari pasar.  Dengan senyum lebar Nek Ijji menyambut kedatangan suaminya.  Disiapkannya secangkir kopi pahit dan singkong rebus di atas tikar.  Merekapun duduk santai sembari mengisi kesunyian hari mereka tanpa kehadiran anak ataupun cucu.
“Kek, sudah shalat Ashar belum? Di kamar sudah saya siapkan sarung.”  Nenek Ijji memecahkan keheningan sambil terus memijat kaki suaminya.
“Sudah Nek, tadi aku shalat dulu di mushala kampung sebelah begitu terdengar adzan.”
“O’ya…..  Kek, sepulang memancing tadi, saya tertidur sebentar setelah shalat Dzuhur. Saya bermimpi melihat tiga ekor ikan mas yang besar-besar.”
“Itu pertanda baik,Nek. Mungkin akan ada rejeki kita yang besar di sungai itu.  Bisa jadi bukan hanya ikan tapi barang temuan lain.”  Kakek Dulloh asyik dengan khayalannya. “Bagaimana kalau kita pergi sekarang juga.  Aku khawatir ikan-ikan itu atau mungkin barang berharga yang diibaratkan ikan mas dalam mimpimu itu hilang?”
“Kakek ini ada-ada saja.  Iye mah mimpi biasa.  Bunga tidur bukan firasat.  Lagi pula saya mimpinya di siang bolong.  Kakek jangan berkhayal begitu.  Kata orang bisa gila ”
Sejak mendengar mimpi istrinya itu Kek Dulloh tidak henti-hentinya berkhayal seolah hilang sifat kebersahajaannya.  Malam itu tidur Sang kakek tidak begitu lelap.  Hujan deras yang mengguyur seluruh kampung tidak sedikitpun mengurungkan niatnya menangkap tiga ekor ikan mas dalam mimpi istrinya.  Kecuali kekhawatiran bila ikan-ikan itu terbawa arus sungai yang deras setiap kali hujan deras turun.  Bahkan Shalat Subuh pagi itu dilaluinya tanpa kekhusyuan.
Bisikan untuk segera pergi ke sungai membuat Kek Dulloh lupa bahwa pagi masih gelap, 
”Nek, cepat siapkan bekal kita.  Aku heran kamu yang mimpi ada ikan emas besar di sungai itu kok tenang-tenang saja.  Aku mah sampai tidak nyenyak tidur.”  Kek Dulloh bersungut-sungut melihat istrinya yang tidak sesemangat dirinya.
“Kek tidak baik terlalu percaya sama mimpi.  Kaduhung saya ceritakan mimpi saya kemarin.  Apa tidak terlalu tergesa-gesa ke sungainya sekarang?  Ini masih terlalu pagi dan lihatlah langit masih gelap!” Tanya Nek Ijji keheranan.,”Lagi pula tadi malam hujan deras sekali sebaiknya kita tunggu surut dulu sungainya.”
“Pokoknya siapkan bekal.  Kalau kamu tidak mau ikut biar saya sendiri saja!” Kakek Dulloh agak marah mendengar panjang lebar saran istrinya.
Keributan kecil itu terhenti setelah Nek Ijji memutuskan untuk diam dan menuruti saja kemauan suaminya.  Kekakuan membuat rumah sempit itu makin menghimpit.  Nek Ijji menuju dapur untuk menyalakan tungku yang hanya satu-satunya.  Beruntung setelah Shalat Tahajud ia sudah memasak nasi.  Pekerjaannya kini hanya tinggal menggoreng ikan sisa penjualan di pasar kemarin.
Semua telah siap.  Umpan di daun talas, rantang wadah nasi lengkap dengan goring ikan dan sambal dan satu teko air the, seperangkat kebutuhan merokok Kek Dulloh pun tidak ketinggalan.                                                    Seolah ingin mengobati keributan kecil tadi pagi, Nek Ijji menambahkan lalap pada bawaannya kali ini.
“Kek, punten nyak keur tadi mungkin saya membuat Kakek marah.  Harusnya saya bersemangat seperti Kakek,” Nek Ijji mencoba mengalah dan memang selalu demikian bila keributan kecil hadir diantara mereka.
“Sudahlah, yang penting hari ini kita akan menangkap ikan dalam mimpimu itu.” Merekapun tertawa sambil terbatuk-batuk.  Begitu riang layaknya pasangan remaja.  Suasana menjadi begitu tidak biasa.  Mungkinkah ini kebersamaan mereka yang terakhir?
Lima ratus meter mereka berjalan dari rumah menyusuri pematang sawah menghijau gelap diselimuti kabut pagi yang dingin.  Seiring suara katak yang masih menikmati sisa-sisa air hujan semalam.  Kesejukan menyeruak siapa jua yang menikmati pagi itu.
                Suara derasnya air sungai menandakan beberapa langkah lagi mereka akan sampai. Remang-remang terlihat arus sungai begitu deras karena hujan semalaman.
            “ Nampaknya kita harus mencari tempat yang paling tinggi.  Batu-batu besar yang biasa kita pakai memancing tertutup air,” Kek Dulloh mengatur strategi.
                “Hati-hati, Kek!  Batu-batu ini nampaknya licin kalau basah.”
            Mereka menaiki batu tertinggi dan terbesar di sungai itu.  Semua bekal dihamparkan. Mata kail diberi umpan dan dilemparkan ke sungai.  Tidak seperti biasanya, meskipun semalam hujan deras, mata kail itu begitu mudah menangkap ikan. 1,2,3,4,5,6,7 mereka dapatkan hanya dalam satu jam.
                “Nek, rupanya benar firasat mimpimu itu.  Lihatlah belum sampai terbit matahari, kita sudah mendapatkan tujuh ekor ikan besar.”  Serak suara Kek Dulloh mengiringi senyum lebarnya. 
                “Alhamdulillah…semoga apa yang kita peroleh berkah.”
                “Nek, tolong gulungkan rokok buat kakek.  Yang lengkap dengan cengkeh dan kemenyannya, ya?  Ini koreknya.”  Kek Dulloh merogoh saku celananya dan……plung…“Aduhcilaka korek gasnya jatuh ke air.  Tolong pegangi kail ini, aku mau cari dulu  koreknya ke dalamleuwi”
                “Jangan Kek…perasaan saya tidak enak.  Saya khawatir leuwi ini cukup dalam.  Lebih baik kita beli lagi korek dari hasil penjualan ikan hari ini.”
                “Aku ingin sekarang merokoknya.  Sudah jangan khawatir, aku sudah biasa berenang dileuwi ini.”
                Tanpa menghiraukan saran istrinya, Kek Dulloh langsung menyelam. Nek Ijji hanya bisa pasrah dan berjuang mengalahkan kegundahannya.  Dipeganginya kail dengan perasaan tak menentu.  Sejak Kek Dulloh mencari korek tidak satu pun ikan memakan umpannya. Tangan Nek Ijji gemetar ketika kekhawatiran atas keselamatan Kek Dulloh memuncak.  Hampir satu jam tak juga muncul Kek Dulloh dari leuwi itu.
                Tidak mungkin kakek bisa bertahan lebih dari satu jam di bawah air.  Apa yang terjadi denganmu, Kek?  Nek Ijji berbicara dengan dirinya sendiri.  Pikirannya tak menentu.
                “Ya Alloh, apa yang harus kulakukan? Bismillahirrahmanirrahim…..”  Nek Ijji memutuskan untuk menyelam mencari suaminya.  Dalam benaknya ia harus menyelamatkan Kek Dulloh.
                Akan tetapi hingga hari menjelang siang keduanya tak jua mencul kembali ke permukaan.
 Salah seorang lelaki warga kampung yang melewati sungai itu keheranan menemukan perbekalan memancing dan ikan-ikan di dalam ember ditinggalkan pemiliknya.  Ia tahu benar bahwa barang barang itu milik Kek Dulloh dan Nek Ijji. 
Dibawanya barang-barang itu ke rumah Kek Dulloh.  Akan tetapi tiada sahutan seseorang pun di rumah panggung itu.  Kekhawatiran menghinggapi hati lelaki itu. Dimasukinya rumah Kek Dulloh untuk memastikan apakah Kek Dulloh atau Nek Ijji ada di dalamnya.
Siang itu berita kehilangan Kek Dulloh dan Nek Ijji segera menyebar keseluruh warga. Mereka berbondong-bondong untuk mencari Kek Dulloh dan Nek Ijji.  Tiga orang menyelam ke dalamnya. Tak berapa lama ditemukan Kek Dulloh di sela-sela batu, tetapi Nek Ijji….hingga kini tidak ditemukan dimana jenazahnya berada. Ataukah sebenarnya masih hidup atau meninggalkah Nek Ijji? 
Semua masih misteri yang hingga kini tidak terpecahkan.  Untuk mengabadikan kejadian misterius itu penduduk kampung menamai sungai ini Leuwi Nini.

FAKTA ILMIAH
Danau adalah cekungan berukuran besar di permukaan  Bumi yang terisi oleh air tawar.
Ciri- ciri Danau
  • Genangan airnya cukup dalam
  • Terdapat beberapa tumbuhan air yang menutupi sebagian permukaan air danau,                     misalnya eceng gondok dan  teratai
  • Terdapat gelombang kecil di permukaan air danau oleh tiupan angin
  • Permukaan airnya lebih tinggi dari permukaan air

Berdasarkan proses pembentukannya ada banyak jenis danau, antara lain:
  1. Danau Vulkanik, terbentuk dari letusan gunung berapi yang membekaskan kawah yang luas pada puncaknya.  Cekungan ini terisi air hujan dan menjadi danau.
  2. Danau Glacial, terbentuk oleh proseserosi glacial, yaitu erosi yang terjadi pada gletser.  Erosi yang terus-menerus membekaskan cekungan dan terisi air membentuk danau. Contoh dari danau ini antar lain adalah danau Michigan di Amerika Serikat, Danau St. Laurence di Kanada, Danau Superior, dan Danau Mc. Kanzie.
  3. Danau Tektonik, terbentuk dari pergeseran lempeng yang menyisakan cekungan cukup besar dan luas.  Cekungan ini menampung air hujan dan membentuk danau.  Contoh danau jenis ini adalah Danau Maninjau, Danau Tempe, Danau Poso, Danau Singkarak, Danau Sentani dan Danau Tondano.
  4. Danau Buatan (bendungan), contoh dari danau jenis ini adalah Waduk Jatiluhur di Jawa Barat, Waduk Sempor di Jawa Tengah, dan Waduk Karangkates dan Solorejo di Jawa Timur.
  5. Danau Karst, danau yang terbentuk pelarutan tanah berkapur oleh air hujan.  Pelarutan ini membekaskan cekungan yang luas, menampung air hujan dan terbentuk danau
  6. Danau Vulkanik-Tektonik, contohnya Danau Toba.
  7. Danau Sungai Mati (Oxbow Lake), merupakan danau yang terjadi karena adanya aliran sungai yang terputus yang diakibatkan dari proses pembelokan arah alirah (mendering). Contoh dari danau ini adalah danau di Sungai Barito yang berada di Pulau Kalimantan.
  8. Danau Laguna atau Haff, merupakan danau yang terbentuk karena adanya proses pengendapan materi yang terbawa arus sungai di daerah sekitar pantai, sehingga arus sungai yang terbendung dengan laut bebas dan membentuk genangan air. Genangan air yang terbentuk ini merupakan campuran air tawar yang dibawa oleh sungai dengan air laut.
  9. Danau Cirques, berasal dari pencairan es,  merupakan danau yang banyak dijumpai di wilayah pegunungan yang tinggi, yang  mana sebagian dari tubuh pegunungan tersebut ditutupi oleh massa es.


  

Legenda Ke-11 MUNCULNYA POHON KELAPA (Cerita Rakyat Philipina)


Cerita ini diungkap kembali sebagai bentuk pengembangan literasi.  Sebagaimana legenda tentang awal mula tempat, kejadian atau keadaan, maka semua didasarkan pada fiksi belaka.  Banyak dibumbui hal-hal yang tidak masuk akal.  Penuh khayalan yang tidak memiliki nilai kebenaran fakta namun penuh kebenaran nilai.

Oleh karena itu, penulisan kisah ini lebih pada pengembangan imajinasi terutama pada anak-anak untuk menjadi stimulasi fungsi otak.  Tentu saja sambil memperkaya perbendaharaan kreativitas dalam bercerita.  Semoga akibat positif akan bisa kita ambil dalam kisah ini
***
Pada zaman dahulu, keberadaan di alam semesta ini hanya ada tiga hal.  Tuhan Yang Mahakuat, Yang Mahaesa dan paling awal dan tak memiliki akhir.  Selanjutnya Tuhan Yangesa ini menciptakan Bathala dan anggotanya dengan tugas sebagai pemimpin dunia yang masih sepi lagi sunyi.  Yang ketiga makhluk bernama Ulilangkalulua, seekor ular besar yang bertugas mengatur awan.

Berhubung di awan tidak ada kehidupan, Ulilangkalulua merasa kurang aktifitas.  Ia sering mengunjungi bumi, bergerak dari gua ke gua dari gunung ke gunung.

Suatu saat dalam kunjungannya du bumi, Ulilangkalulua menemui Bathala dan dua dewa pembantunya yang sombong. 

“Wahai Ulilangkalulua, mengapa kamu memasuki kawasan kekuasaanku?  Tempatmu di awan bukan di bumi ini.  Aku terganggu dengan ulahmu ini!”

“Kamu sombong sekali Bathala.  Aku terlalu jemu untuk terus mengurus awan.  Tidak bolehkah aku sekedar bermain di bumi?”

“Tidah bisa, aku akan menundukkanmu atau kamu kembali ke wilayahmu. Awan!”

Maka terjadilah pertarungan yang seru untuk memperebutkan tempat di dunia. 

“Terimalah jurus lingkar tubuh ini.”  Bathala segera mengeluarkan jurus pamungkas karena tidak ingin terlalu lama bertarung dan berlelah-lelah.  Gerakan meliuknya segera melipat ekoe dan melingkarkan hingga kepala.  Dengan satu jepitan dari ekor hingga kepala yang terlingkar-lingkar itu, Bathala membunuh dewa ular raksasa.  Bangkainya dibakar untuk menghindari bau yang tak diinginkan.

Beberapa tahun setelah pertempuran seru itu,  hadirlah sesosok dewa bernama Galangkalulua.  Ia berkelana ke rumah Bathala sebagai penyusup.  Wujudnya sebagai kepala bersayap.  Tuhan Mahakuasa  merestui penyusupan itu dan tidak pernah mencegahnya.  Bahkan Dia mengulurkan tangannya sebagai tanda pertemanan.

Galangkalulua tidak memiliki tangan, karena wujudnya yang hanya kepala bersayap.  Namun cukuplah persetujuan penguasa bumi dan restunya untuk membuat Galangkalulua tinggal di dunia.

Bathala dan Galangkalulua  hidup bahagia selama bertahun-tahun.  Suatu hari  Galangkalulua jatuh sakit. Bathala merawat temannya dengan setia, tapi sia-sia saja.
“Kawan jangan kau tinggalkan aku di bumi ini seorang diri.  Aku akan merasa sangat kesepian dan sedih.”  Bathala mengungkap kesedihan hatinya.

“Sahabat, malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih.  Bila ajalku tiba tolonglah kepala bersayapku ini kau tanam di tempat pembakaran tubuh ular raksasa Ulilangkalulua.  Kelak akan muncul dari pekuburanku sebatang pohon yang berguna untuk kehidupan di bumi.  Kau akan mendapatinya sebagai temanmu.”  Demikian pesan terakhir Galangkalulua.

“Baiklah kawan, aku akan memenuhi harapan terakhirmu.”

Bathala menghormati harapan sang teman.  Benar saja perkataan Galangkalulua menjadi kenyataan.  Sebuah pohon yang luar tumbuh dari tempat pekuburannya.  Benda itu memiliki batang yang keras dan bersisik seperti tubuh ular raksasa.  Buahnya tampak seperti kepala, dan pelepahnya mengeluarkan daun pita seperti sayap yang bisa digunakan sebagai sapu.

Jadilah pohon itu memberi banyak manfaat pada kehidupan manusia sejak diutus Adam sebagai khalifah di bumi dan Hawa sebagai pendampingnya.  Mereka menamai buah itu "buko" atau "kelapa" yang berarti "kepala" atau "tengkorak".

HIKMAH:
  1. Kesombongan dan egoism menjadi bibit permusuhan maka jauhkanlah tabiat buruk itu dari hati kita.
  2. Hindarilah permusuhan antar sesama makhluk di bumi karena hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup dan penderitaan satu sama lain
  3. Persahabatan akan terasa indah karena melahirkan perdamaian dan saling kasih sayang.
  4. Wasiat teramat penting bagi makhluk yang akan pasti menemui ajal maka berwasiatlah hal-hal yang baik sebelum meninggalkan bumi untuk selamanya.


FAKTA UNIK:
  1. Kelapa tergolong dalam tumbuhan monokotil.  Tidak memiliki kambium, batang  relative  tegak   tanpa cabang.  Ketinggian dapat mencapai 30 meter, diameter buah 10 hingga 20 cm.
  2. Diperkirakan berasal dari pesisir Samudra Hindia di sisi Asia tetapi hingga kini telah tersebar di seluruh pantai tropis dunia
  3. Memiliki nama ilmiah Cocos nicifera, tergolong dalam suku aren-arenan (Arecaceae)

SUMBER (REFERENSI):
  1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa
  2.  https://uniquelatestarticle.blogspot.com/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.htm


Kamis, 15 Februari 2018

Legenda ke-10 MUNCULNYA BUAH MANGGA (CERITA RAKYAT FILIPINA)



Kisah ini masih tentang awal mula munculnya buah-buahan.  Seperti halnya tentang buah durian dan jambu biji, cerita ini berasal dari Filipina.  Yuk kita simak ceritanya…..

Di sebuah desa terpencil propinsi bernama Aklan,  di Filipina, tinggallah seorang ayah dan seorang anaknya.  Pria itu bernama Daeogdog dan anak perempuannya bernama Aganhon.
Daeogdog memiliki karakter yang keras dan egois.  Ia tidak mau mendengar ucapan dan pendapat orang lain bila bertentangan dengan pendapat dan kemauannya.  Termasuk dalam membesarkan Aganhon, Daeogdog selalu menggunakan perintah dan larangan, tanpa dialog.

“Aganhon, kamu ini anak perenpuan bapak satu-satunya.  Kau baiknya tinggal di rumah saja.  Jangan banyak meninggalkan rumah.”

“Tapi ayah, aku juga butuh teman.  Penatnya aku harus tinggal terus di rumah sempit ini.”

“Pokoknya kamu tidak boleh keluar rumah.  Wajahmu yang cantik dan tutur katamu yang lembut itu akan menggelincirkanmu dengan pemuda tidak baik di kampung ini. Kamu jangan bertemu dengan mereka yang tidak punya kesibukan itu. Titik!!!” Perintah Daeogdog menjadi perkara final agar Aganhon tak ingin terkena kemarahan dan hukuman yang lebih hebat.  Tak segan ayah yang temperamental itu memukul anaknya.

Suatu hari datanglah seorang pemuda bernama Maeopig ingin memperistri Aganhon.  Ia cukup berharta dan terpandang di desa itu.  Hanya saja pemuda itu memiliki sifat yang serupa dengan ayah Aganhon.

“Kalau aku menjadi istrinya, siapa yang akan membebaskanku dari nasib terkekang dan tertekan.  Aku tak mau menjadi sasaran kemarahan, perintah dan larangan suamiku sampai aku tua,” gumam Aganhon pada dirinya sendiri.

Sepulang Maeoping, Daeogdog membujuk Aganhon dengan bersungguh-sungguh.

“Anakku, apa yang kau ragukan dari Maeopig.  Dia pemuda yang mapan, berperawakan bagus.  Dia pasti akan mampu memenuhi segala keinginanmu. Dia akan dapat membahagiakanmu.”

“Ayah, Aganhon mohon untuk memikirkannya barang dua atau tiga hari.  Sebelum menyampaikan kesanggupan.”

“Kamu jangan bertindak bodoh.  Kalau kamu tidak bersedia jadi istrinya apa kamu mau menunggu dilamar pemuda miskin kampong ini?  Aku tidak punya pilihan lain kecuali menikahkanmu dengan Maeopig!”

Tanpa memedulikan perasaan hati anaknya, Daeogdog menerima pertunangan Maeopig.  Diputuskannya secara sepihak hari pernikahan berikut pestanya.  Semua persiapan dilakukannya dengan suka cita.  Penyediaan dana dari Maeoping cukup untuk membuat sebuah pesta besar.
Persiapan menuju pelaminan tinggal beberapa saat lagi.  Perias sudah didatangkan dari kota.  Akan tetapi tiba-tiba Aganhon menghilang dan tak dapat ditemukan.

“Aganhon, kemana kamu?!  Jangan membuat ayahmu ini malu!!  Ayo keluar dari persembunyianmu!!! Akhiri lelucon yang buruk ini!!!” Daeogdog mulai marah meledak-ledak. 

Sebentar lagi mempelai pria akan segera datang sementara anaknya tak kunjung berhasil ditemukan. Daeogdog mengutus beberapa kerabat untuk mencari dimana anak perempuan satu-satunya berada. 

Hingga sampailah kabar dari seorang pengelana yang menemukan sesosok tubuh wanita belia nan cantik tergeletak di tepi sungai.  Sebilah belati menancap pada dada Aganhon. Rupanya Aganhon memilih mati dari pada dipersunting seseorang pemarah seperti halnya ayahnya.

“Siapakah wanita cantik yang sampai hati membunuh diri sendiri ini?  Aku harus membawanya ke desa terdekat,”  ucap pengelana itu.

Dipanggulnya wanita tanpa nyawa itu menuju desa terdekat.  Sampai di perbatasan desa, ia bertemu dengan kerabat utusan dari Deaogdog.   Diserahkannya wanita itu pada kerabatnya.  Untuk kemudian diserahkan pada sang ayah.

Melihat anaknya sudah tak bernyawa, jiwa Deaogdog terguncang.  Antara sesal, tangis dan tertawa, ia membawa segala kedukaan dalam mimpinya suatu malam.  Dalam mimpinya itu ia bertemu Aganhon.

“Ayah, sudahlah jangan sesali pilihanku.  Lebih baik aku seperti ini daripada dinikasi seseorang yang buruk perangai.  Karena hidupku akan lebih menderita.  Ada kabar gembira buat ayah.  Di tempatku mengakhiri hidup, ayah dapat menemukan pohon dengan buah yang sangat baik.  Ayolah Ayah, ke tempat itu bersamaku.”  Dalam mimpinya Deaogdog melihat pohon aneh yang bel;um pernah dilihatnya sebelum ini.

Begitu terbangun, Daeogdog bergegas ke sungai dan menemukan pohon yang sama.  Pohon besar berkayu dengan cabang yang sangat banyak.  Cabang itu bergoyang-goyang ditiup angin.  Buahnya lebat berwarna kuning ranum.

Tak tahan dengan buah asing itu, dipanjatnya pohon dan dipetiknya satu buah untuk dicicipinya.  Manis benar serta lemut buah itu, mengingatkannya pada kehalusan budi pekerti dan kecantikan anaknya.

“Mangga-mangga…..” Deaogdog mengucap sebuah nama yang dalam basa mereka bermakna hati.  Nama itu disebutnya karena bentuk buah yang menyerupai hati.  Juga untuk mengenang putrinya yang memiliki hati lembut dan budi yang baik.

PESAN MORAL:
1.      Utamakan dialog dalam kehidupan ini terhadap siapa saja, agar terhindar dari perasaan tertekan oleh siapapun.
2.      Hindarilah sifat temperamental karena akan banyak menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya
3.      Carilah jalan keluar dan jangan mengambil langkah pendek, sampai mencelakakan diri apalagi sampai bunuh diri.  Karena hal itu dilarang agama dan tanda keputusasaan.
4.      Pernikahan adalah hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan dan kebahagiaan anak. Maka jangan sampai mengabaikan factor kecenderungan hati anak

FAKTA UNIK:
1.      Mangga merupakan tanaman budidaya yang sangat baik untuk tumbuh di daerah tropis.  Berdaun menyirip seperti duri ikan.  Memiliki bunga majemuk yang berumah satu (dalam satu pohon terdapat jenis bunga jantan dan betina sehingga setiap pohon mangga berpeluang untuk menghasilkan buah
2.      Nama ilmiahnya adalah Mangifera indica dengan makna “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”.
3.      Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi antara 10 hingga 40 m.
4.      Berasal dari daerah di sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurang-kurangnya semenjak 1500 tahun yang silam.

SUMBER (REFERENSI)


Legenda Ke-2 ASAL MULA BUAH DURIAN VERSI PHILIPINA



ASAL MULA BUAH DURIAN-VERSI PHILIPINA


Kisah ini berasal dari Calinan, kepulauan Mindanao, Philipina.  Pada suatu zaman, kepulauan Mindanao dipimpin oleh seorang raja bertangan besi, dia bernama Barom-Mai.

Meskipun Raja Barom-Mai bisa memaksa dengan kekuasaan dan kekuatannya, tetapi ia tidak mampu menundukkan hati istrinya.  Sang istri selalu saja berusaha melarikan diri.  Ia akan meninggalkan istana setiap suaminya lengah dan ada kesempatan.

“Istriku, Putri Anne….mengapa kau selalu kabur dari istana dan meninggalkanku?”

“Maafkan aku Kanda, aku selalu ingat pada kedua orang tuku.  Aku merasa lebih nyaman berada di istana ayahanda.”  Putri Anne memilih alasan dengan hati-hati, ia mencoba menyembunyikan perasaan hatinya yang belum bisa mencintai Raja Barom-Mai.  Terbayang oleh permaisuri muda itu, bila ia sampai menyinggung perasaan raja maka tangan besinya akan berbicara.

Dalam keadaan putus asa, raja pergi ke seeorang paranormal yang terkenal di kerajaannya.  Paranormal itu bernama Impit Purok dan mendapat julukan pertapa setengah dewa karena kesaktiannya.

“Impit Purok, tolonglah aku.  Apa sebenarnya yang terjadi pada permaisuriku.  Dia selalu meninggalkanku, hingga aku curiga dia sebenarnya tidak mencintaiku bahkan mungkin membenciku.”

“Aku rasa permasalahan Tuan Raja tidaklah seberat yang Tuan duga.  Aku akan menyelesaikan permasalahan Tuan.”

Impit Purok mengambil sesuatu yang dapat digunakan menulis pada masanya.  Pertapa itu memberi syarat pada raja untuk menyediakan tiga hal,  yaitu telor tabon hitam, dua belas sendok susu segar bebas karbohidrat tanpa noda, dan nectar dari pohon kepercayaan.

Setelah mendapat catatan kebutuhan untuk membuat ramuan itu, raja mencari ke seantero negeri tiga bahan ramuan tadi.  Tidak tanggung-tanggung, raja meminta bantuan beberapa binatang yang dapat bicara bahkan pada peri udara.

“Aku tak mampu lagi menyediakan barang yang kau sarankan, wahai Impit Purok.  Apa lagi yang bisa kulakukan untuk menundukkan istriku?”  Raja menyampaikan keputusasaannya mencari tiga bahan permintaan Impit Purok.

“Baiklah baginda raja, aku akan membantu mengusahakan sendiri bahan yang aku syaratkan.  Dengan catatan bila ratu kembali lagi, maka anda harus membuatkan pesta untukku.  Dalam pesta itu aku ingin dinobatkan menjadi tamu kehormatan anda.”  Rupanya sang raja menyetujui persyaratan yang diajukan Impit Purok.

Segeralah  Impit Purok mengerahkan kemampuan sihirnya untuk mendapatkan bahan-bahan ramuan pengikat sang ratu.  Dengan hati-hati ia membuat lubang kecil pada tabon telor.  Susu carabao dan nectar dituangkan ke dalamnya.  Terakhir dicampurkannya tiga bahan itu dengan tongkat sihirnya.

“Baginda,  tanamlah ramuan dalam telor tabon ini pada kebun anda.  Maka akan tumbuh tanaman berbuah halus, harum mempesona.  Berikan buahnya yang lezat pada ratu muda.  Anda akan mendapati ratu sangat mencintai anda.”

“Baiklah akan kulakukan saranmu.”

Semua yang dikatakan Impit Purok terbukti kebenarannya.  Ramuan dari Impit Purok ditanam pada sebidang taman istana.  Tak berapa lama tumbuh tanaman berbuah ranum, beraroma harum, rasanya pun lembut dan lezat.  Buah pertama yang matang diberikan pada permaisuri.

“Kanda, aku tak mau berpisah dengan Kanda.  Aku ingin disini, menikmati buah ranum yang lezat ini.”  Seketika itu juga ratu berubah perasaan dan tabiat.

“Terimakasih istriku, aku akan membuatkan pesta untuk kepulanganmu.”

Karena terlalu bahagia, raja terlupa akan janjinya untuk menobatkan Impit Purok sebagai tamu kehormatannya.  Impit Purok marah besar dengan pengingkaran janji raja.  Ia merasa dihinakan, diabaikan dan dilupakan jasanya.

“Tidak tahu diuntung.  Ditolong tapi melupakan yang menolongnya.  Ini sebuah penghinaan untuk pertapa setengah dewa seperti aku.  Biar aku kutuk buah itu benjadi buah berduri dengan bau menyengat.”

Buah ranum, mulus nan harum itu tiba-tiba berubah menjadi buah berduri dan baunya terlalu menyengat.  Sejak saat itu mereka menyebut buah itu durian, yang berarti buah berduri.

PESAN MORAL:

1. Dalam berikhtiar jangan mengabaikan jalan terbaik yang harus dipilih dalam berikhtiar agar kita tidak terjebak pada jalan yang salah, misalnya menggunakan ilmu terlarang seperti sihir.
2. Hargailah pengorbanan orang lain dengan tulus dan tidak mudah melupakan  jasa orang lain.  Barang siapa bersyukur pada Tuhannya maka dia akan bersyukur dengan sesama manusia
3. Jadilah ikhlas saat menolong agar tidak ada beban dan keinginan untuk terbalaskannya jasa.

FAKTA UNIK

1. Durian merupakan tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara.  
2. Daging buah tersimpan pada beberapa (2 atau lebih, tergantung besar buah) bilik terpisah,  enak untuk dimakan. 
3. Kulitnya berduri tajam, kuat dan tebal. 
4. Bau buah matangnya menyengat, sebagian menyukainya sebagian lagi merasa mual bila menciumnya. 
5. Dapat dimanfaatkan sebagai penambah aroma durian pada berbagai masakan, atau dimakan langsung daging buahnya.
6. Disebut King of Fruit dengan nama ilmiah Durio ziberthinus, Berdasarkan taksonomi tumbuhan, kingdom Plantae, ordo Malvales, family Malvaceae, genus Durio dan spesies D. ziberthinus.
Batang bercabang, tergolong dalam dikotil
SUMBER (REFERENSI):

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Durian

2. https://uniquelatestarticle.blogspot.com/2017/06/cerita-rakyat-filipina-asal-usul-buah.htm