Sabtu, 13 Oktober 2018

Legenda Ke-19 Mengapa Singa Mengaum


MEMBESARNYA  SUARA SINGA

Dalam tutur masyarakat Afrika, dahulu kala suara singa tidak sekeras sekarang ini, bahkan cenderung lembut.  Para penghuni hutan sering kali  tiba-tiba menjadi mangsa singa.  Mereka tidak sempat menghindar dari terkaman singa,  karena tidak tidak menyadari kehadirannya.

“Kalau begini keadaannya, kita bisa punah oleh keserakahan Raja kita.”  Kely si kelinci putih mengungkap keresahannya.

“Jangankan kamu Kely, aku yang segagah  ini pun sebentar lagi hanya akan tinggal namanya,” tukas Rafa, si jerapah gagah cemas.

“Kita harus cari jalan untuk membuat suaranya menjadi keras,” usul Kely.

Keresahan melanda penghuni hutan.  Mereka berdoa pada Allah SWT untuk bisa selamat dari ancaman tiba-tiba raja mereka .

“Ya Allah, kami rela kalau memang sudah ketentuanMu, bahwa kami menjadi rejeki buat raja kami.  Tapi mohon jalan keluar dari kedatangannya yang tidak pernah kita sadari.  Sungguh kebinasaan bagi keturunan kami sudah di depan mata.”  Penghuni hutan merintih dalam doa yang syahdu

Akhirnya dengan izin Allah SWT, para penghuni hutan mengadakan rapat mendadak.  Semua hadir, ada beruang atlas, kera, orang hutan, banteng, bison dan segela jenis binatang hutan afrika  yang lain.

“Aku punya usul.  Ada satu cara membuat raja kita bersuara.”  Boru si beruang atlas mengajukan usulan brilian. “Aku senang memakan madu.  Aku ingin mengajaknya menikmati madu hutan sampai kenyang dan tertidur lelap.  Biar dia tidur di dekat sarang lebah.   Lebah yang merasa madunya dicuri akan marah dan menyerang raja saat tidur.”

“Usulanmu brilian Boru.  Tapi apakah sengatan lebah tidak akan membahayakan raja kita?” tanya Sony si bison perkasa.

“Tentu saja tidak.  Ia hanya akan lebab oleh sengatan.  Rasa sakit sengatan lebah akan membuatnya  marah dan berteriak kesakitan.  Semoga dengan begitu suara aumannya akan membesar.”  Boru menjelaskan.

Semua penghuni hutan setuju.  Boru membuat strategi untuk bisa mengajak Liony, raja hutan yang ditakuti semua rakyatnya.

“Paduka, raja hutan yang gagah perkasa, ada berita buruk dari keluarga Paduka. “  Boru berbicara hati-hati.

“Kabar buruk apa Boru, sampai kau berani menemuiku.  Tidakkan kamu takut aku mangsa?”  Liony menampakkan taringnya.  Seringainya menggetarkan hati Boru.

“Saya yakin dengan berita ini, Paduka pasti  tidak akan melukaiku.  Saudara Paduka yang bernama Liona  sedang sakit keras di hutan sebelah.  Saya diutus menjemput Paduka untuk menolongnya.”

“Benarkah?  Baiklah tunjukkan aku jalan ke sana.”

Mereka pun berjalan sangat jauh menuju hutan tetangga.  Sementara hutan mereka pun belum tampak ujungnya.

Liony kelelahan saat mereka memasuki wilayah  lebah hutan.  Boru memberikan beberapa keping  sarang madu hutan untuk diminum oleh sang raja.  Liony meminum madu itu hingga kenyang dan tertidur pulas.

“Ternyata nikmat sekali madu hutan ini.  Pantaslah kamu senang sekali meminumnya, Boru.”

“Iya, Paduka.  Sekarang Paduka istirahatlah untuk memulihkan tenaga.  Perjalanan kita masih jauh.”

Karena terlalu kenyang dan lelah Liony terlelap.  Lebah hutan baru menyadari bahwa sarangnya yang penuh madu dicuri musuh pengganggu.  Mereka mencari siapa gerangan pencuri itu.  Ketika dilihatnya sarang itu telah dihisap oleh raja hutan, mereka mengamuk dan menyerang bersama Liony dengan membabi buta.

Bukan kepalang kagetnya Liony.  Ia mengaum kesakitan oleh sengatan lebah.  Aumannya tidak juga memekakkan telinga lebah.  Liony makin marah dan membesarkan suaranya.  Hingga ia berhasil mengaum dengan suara mengerikan seperti yang kita dengar saat ini. 

Lebah pun kaget dengan suara auman itu dan menghentikan sengatannya.

Seluruh penghuni hutan bersyukur doa mereka dikabulkan.  Sekarang mereka dengan mudah menyadari kehadiran pemangsa yang paling mengerikan itu.

PESAN MORAL:

1. Dalam menghadapi setiap  masalah selalulah meminta petunjuk dari Allah SWT untuk diberi jalan keluar yang terbaik
2.  Kebersamaan dalam musyawarah akan mencapai mukahat yang maslahah
3.  Bersyukurlah atas segala karunia Allah, maka Allah akan menambah lagi nikmatNya

FAKTA UNIK:

Nah, binatang yang satu ini menjadi simbul keperkasaan dan kita menyebutkan metafornya dengan raja hutan.  Nama Singa dari bahasa Sansekerta, Simha.  Nama ilmiahnya adalah Panthera leo

Ternyata dalam menangkap mangsa, singa jantan lebih mengandalkan singa betina.  Aneh juga, ya?  Mungkin singa betina lebih lincah tanpa bulu tebal si tenguk dan dagunya.  Singa memang lebih kuat dan perkasa sibanding semua bangsa kucing.  Tapi kelemahannya, mereka tidak bisa memanjat pohon.

Taksonomi:
Kingdom-Animalia, Filum:Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo: Carnivora, Famili: Felidae (bangsa kucing), Genus: Panthera, Spesies: Panthera leo

REFERENSI:
2.  https://id.wikipedia.org/wiki/Singa

Jumat, 12 Oktober 2018

Legenda ke-5 Mengapa Buaya Hidup di Air


KESYUKURAN BAYO, SI BUAYA PETUALANG

Di sebuah sungai di tengah padang rumput di dekat Hutan Okavango.

“Ah, aku bosan tinggal di kubangan air sempit ini.  Betapa senangnya bila aku bisa tinggal bersama zebra-zebra cantik itu.  Bebas berlari, bahkan menikmati juga sungai kecil ini.  Sedangkan aku hanya tinggal di sini-sini saja.”  Buaya mengeluh dan menganggap sungai kecil tempat dia tinggal layaknya kubangan yang membosankan.  Ingin rasanya ia mendapatkan pengalaman baru dengan berpetualang.

Suatu ketika, datang kawanan zebra ke sungai kecilnya untuk makan minum dan makan rerumputannya.  Bayo si buaya tidak menerkam mereka.  Ia ingin diizinkan tinggal bersama zebra di padang rumput yang indah.  Salah satu teman baru Bayo bernama Zibro, si zebra tampan.

“Zibro, aku bosan tinggal di sini.  Izinkan aku mengikuti kalian, pergi ke dataran yang menghijau oleh rerumputan.”  Ungkap Bayo pada Zibro, teman barunya.

“Wah, dataran tempat kami jauh sekali dari air.  Lagi pula jalanmu sangat lambat.”

“Jangan kau remehkan aku aku akan bisa mengatasi kesulitan dan kelemahanku sendiri.”
Akhirnya Zibro mengizinkan Bayo mengikutinya.  Bayo menaiki tepi sungai dan mulai merayap.  Awalnya Bayo masih bisa bersama-sama rombongan.  Akan tetapi ada saatnya Zibro berlari cepat dan Bayo pun tertinggal jauh.  Sementara dirinya sudah cukup jauh dari sungai tempat tinggalnya tadi.

“Ternyata daratan ini sangat panas, aku sudah tidak kuat lagi.”  Bayo mencari tempat berteduh.  Bayo menemukan pohon rindang untuk istirahat di bawahnya.  Dia terlelap karena kelelahan yang amat memenatkan.  Siapapun yang melihatnya akan menganggapnya telah mati. 

Sementara itu Zibro berusaha mencari Bayo yang telah lama tertinggal.  Ketika didapatinya Bayo seakan telah mati, Zibro pergi meninggalkannya.

Penghuni padang rumput yang melintasi tempat itu dan memperhatikan Bayo pasti menganggapnya buaya mati kecuali Cici si kelinci mungil.  Ia yakin bahwa Bayo hanya tidur terlalu lelap.  Dengan hati-hati Cici membangunkan Bayo.

“Kaukah Bayo yang ingin tinggal bersama kami di darat?  Kabar tentang kamu sudah tersebar di padang rumput ini.  Bangunlah Bayo…..”

Bayo pun terbangun dengan mata yang masih tampak lelah dan malas.”  Benar kelinci, aku ditinggalkan Zibro setelah kami janji untuk bersahabat.  Sekarang  aku baru menyadari ternyata Allah telah memberikan terbaik untukku, yaitu di dalam air.  Aku sangat menyesal dengan ketidakpuasanku.  Semua ini terjadi karena aku tidak pandai bersyukur.”  Bayo benar-benar menyesal dan ingin bertaubat.

“Baiklah Bayo, aku akan mencari bantuan untuk membawamu kembali ke air.  Bersabarlah dan tunggu aku di sini.  Aku akan mencari cara.  Tidurlah seolah kamu telah mati.”  Cici memutar otak untuk mendapatkan bantuan.

Di tengah perjalanan, Cici melihat pemangsa yang sangat mematikan, Gala, si serigala liar.
“Aku ada mangsa mungil rupanya.”  Lirikan srigala membuat Cici ketakutan.  Gigi tajamnya menyeringai siap menerkamnya.  

Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri kecuali mengelabuhi Gala. “Sabarlah, Gala.  Aku terlalu kecil buat kamu.  Aku akan tunjukkan mangsa yang lebih besar dal lezat.”

“Jangan banyak bicara, coba tunjukkan kalau kamu tidak membohongiku!”

Cici mengajak dan menunjuki tempat bayo istirahat.

“Lihatlah itu, ada buaya mati.  Allah akan murka dan menahan hujanNya bila bangkai buaya itu membusuk dan mengotori udara padang rumput kita.  Kita harus mengembalikannya kesungai.”

“Bukankan itu makananku, kenapa harus kita bawa ke sungai?”  Gala bertanya keheranan.

“Iya, kamu bisa berpesta setelah dagingnya empuk.  Supaya empuk, dia harus kita rendam di air sungai itu.”  Cici menjelaskan.

Serigala menyetujui akal cerdik Cici tanpa kecurigaan sedikitpun.  Mereka berdua Nampak sebagai pasangan yang mustahil, menyeret buaya itu ke sungai.

Bayo merasa sangat bahagia dapat kembali ke sungai.  Sementara Gala keheranan dengan lenyapnya buaya.

“Tunggulah, Gala.  Nanti dia akan muncul ke permukaan dengan dagingnya yang lembut,” bujuk Cici.

Serigala menunggu dengan tidak sabar di tepi sungai.  Tanpa disadarinya bahaya mengintai.  Buaya yang telah segar karena berada di habitat yang tepat tiba-tiba menerkamnya.

Sejak itu, Bayo yakin bahwa tempat terbaiknya adalah rumah yang Allah rejekikan, yaitu tinggal di perairan.

PESAN MORAL:
1. Bersyukurlah maka Allah akan menambah nikmat-Nya sebaliknya bila kufur nikmat maka Allah akan mencabut nikmat yang sudah ada
2. Tolong menolonglah dengan sesama untuk keselarasan dalam kehidupan
3. Tetaplah cerdas dalam menggunakan akal agar kita dapat memecahkan berbagai permasalahan

FAKTA UNIK:

Buaya merupakan reptilia buas.  Habitatnya ada di perairan air tawar seperti sungai, danau, rawa  dan lahan basah lainnya.  Makanan utama buaya adalah ikan, reptil lain dan mamalia.

Dalam bahasa Inggris, buaya disebut crocodile yang berdekatan dengan nama Yunaninya yaitu krokodilus.  Awal penamaan ini, karena orang Yunani melihat buaya pertama kali di tepi Sungai Nil, dimana buaya memiliki kebiasaan berjemur di bebatuan tepi sungai.  Kroko berarti bebatuan kerikil dan deilos bermakna cacing.  Jadi krokodilus adalah cacing bebatuan.

Taksonomi:
Kingdom-Animalia, Philum-Chordata, Kelas-Sauropsida, Ordo-Crocodilia, Famili-Crocodyliadae, Species-Tomistoma schlegelli

REFERENSI:
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Buaya

Senin, 08 Oktober 2018

Legenda Ke-26 JANJI KUDA NIL



JANJI KUDA NIL
(Mengapa Kuda Nil Tidak Memakan Ikan? -Versi Afrika)

Saat banjir besar melanda kaum Nabi Nuh, Alloh memberikan wahyu pada Nabi Nuh untuk membuat perahu besar yang bisa menampung semua binatang dan para pengikut Nabi Nuh.  Binatang itu diselamatkan Nabi Nuh dengan jumlah sepasang, maksudnya untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya.

“Hai, Nuh buat apa kamu membuat perahu di daratan seperti ini.  Betapa bodohnya kamu.  Bahkan menyerupai orang gila.”  Para pembangkang yang tidak mempercai kerasulan Nabi Nuh mencemooh dengan perkataan yang menyakitkan.

“Wahai, kaumku, sesungguhnya Allah akan menguji kita dengan datangnya iar bah yang sangat besar.  Barng siapa yang beriman maka menyatulah dengan barisanku, niscaya kalian akan selamat.”  Berbagai macam cara Nabi Nuh lakukan untuk menyadarkan kaumnya dari kemusyrikan, penyebahan berhala dan berbagai perbuatan keji lainnya.

Diantara mereka bahkan ada yang berani menjadikan perahu itu sebahai tempat buang hajat. “Perahu diatas  bukit ini tidak ada gunanya.  Sebaiknya kita pakai untuk buang air saja.”  Penghinaan kaum yang ingkar itu makin menjadi.

Hingga suatu ketika banjir besar itu benar-benar datang.  Pengikut Nuh dan pasangan hewan sudah siap di dalam perahu.  Termasuk di dalamnya, sepasang kuda nil bernama Hippo dan Hippi.

Berhari-hari rombongan dalam kapal besar itu terobang-ambing, hingga saatnya tiba, Alloh SWT menganugerahi tempat yang nyaman dan aman untuk di tinggali.  Semua berbahagia dengan kondisi ini, kecuali pasangan kuda Nil.

Apa yang menjadi penyebabnya? Ternyata,  Hippo dan Hippi  sangat ingin hidup di air tawar yang dingin.

“Ya Allah, tempatkan kami di dalam sungai atau danau.  Kami merasa kurang nyaman berada di daratan.  Kami mohon, wahai Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang.”

Mulut besar Hippo dan Hippi juga tubuhnya yang besar sangat dikhawatirkan menghabiskan ikan di sungai atau danau yang mereka tempati.  Maka permohonan mereka akan dikabulkan apabila Hippo dan Hippi sanggup untuk tidak memakan ikan.

“Saya sanggup wahai Nabi Alloh, Nuh.  Kami tidak akan memakan ikan lagi.  Biarlah ikan-ikan itu untuk orang-orang beriman pengikut Nabi Nuh.”

Akhirnya tinggallah Hippo-Hippi di salam sungai.  Keinginan memakan ikan tetap ada, tapi mereka tahan.  Bahkan untuk membuat ikan-ikan itu menjauh dari mereka, Hippo dan Hippi membuang hajat di sungai itu dalam jumlah banyak.

“Wah, Hippo-Hippi membuat air ini kotor.  Aku sangat tidak nyaman berada di dekat mereka.  Kawan-kawan yuk kita pindah ke bagian lain sungai ini,” ucap sekawanan ikan sambil pergi menghindar.

Sejak saat itu berkat ketaatan Hippo-Hippi, mereka tetap diizinkan tinggal di sungai dan tidak memangsa ikan.  Mereka lebih suka memakan tumbuhan atau binatang selain ikan.  Mereka bidup bahagia di sungai dan beranak pinak di sana.

Pesan Moral:
1.  Sebagai makhluk berdoalah pada Pencipta kita, apapun yang menjadi keinginan kita.  Selama permohonan itu tidak menyalahi perintahnya
2.  Pilihan yang dapat menyelamatkan makhluk adalah taat pada Allah Yang Maha Menciptakan dan Memelihara makhluknya.

Fakta Unik:

Kuda nil dalam bahas ilmiahnya bernama Hippopotamus amphibious.  Tergolong ke dalam mamalia.  Berukuran besar setelah gajah dan badak putih, merupakan omnivore, berasal dari Afrika, Sub-Sahara.

Kulit kuda nil berwarna kelabu gelap.  Mereka bergading besar untuk bertahan.  Mulut besar dengan gigi besar serta berkaki empat pendek dan gemuk.  Meskipun ukurannya bisa mencapai 1,5 sampai 3 ton, kuda nil dapat berlari cepat hingga 30 km/jam.  Unik bukan?

Taksonomi kuda nil:
Kingdom-Animalia, Filum-Chordata, Kelas-Mamalia, Superordo-Cetartiodactylia, Ordo-Artiodactyla, Famili-Hippopotamidae,Genus-Hippopotamus, Spesies-H. amphibious.

Sumber:
2.   http://angolarising.blogspot.com /african-folklore

Legenda ke-18 MENGAPA MUSANG MEMANGSA ULAR?

PENGORBANAN IBU MUSANG
(Legenda Afrika My Version)

Di sebuah hutan Afrika, musim kemarau melanda begitu lama.  Hewan-hewan bersedih hati karena kesusahan mencari makanan.  Terutama mereka yang memakan tumbuhan.  Hewan buas pemakan hewan lain pun terdampak kondisi ini.  Kematian herbifora dan kurusnya mereka membuat karnivora kelaparan.

Di sebuah sudut ladang yang kering kerontang, terdapat Musi, si ibu musang bersama anak-anaknya sedang bersedih.

“Ibu, aku haus, aku mau minum” ucap Mongo merintih sedih.  Belum sempat Musi menjawab keluhan Mongo, disambung kesah adiknya Mongi,”Aku juga Ibu, aku lapar.”

“Sabarlah anak-anakku.  Tetaplah berdoa, semoga Allah SWT mengaruniai kita hujan yang berkah.  Kalian tinggallah di sini, Ibu akan mencari makan di hutan seberang sungai itu.  Mana tahu ada makanan yang bisa aku bawa dan kita makan bersama.  Tetaplah kalian di sarang kita.”

Kedua anak musang itu diam di tempatnya sampai hari menjelang sore.  Akan tetapi sang ibu tak juga datang.  Kecemasan melanda hati mereka.  Takut ibunya menjadi santapan binatang buas yang pasti juga sedang merasa kelaparan.

“Mongi, sebaiknya kita cari ibu, yuk!”  Mongo menyampaikan ide pada adiknya.  Sangi yang masih kecil menuruti saja ajakan kakaknya.

Mereka menuju ke seberang sungai.  Ladang yang ditunjuk oleh ibunya, cukup jauh dari ladang tempat mereka tinggal.

“Kakak, jangan terlalu cepat, aku lelah.  Aku tidak kuat lagi.”  Mongi protes dengan langkah cepat Mongo.

“Hari makin petang.  Akan banyak bahaya yang kita temui.  Binatang-binatang lapar itu akan memangsa kita.  Kita sudah memasuki hutan, jauh meninggalkan ladang kita”

Benar saja yang dikatakan Mongo, beberapa langkah dari tempat mereka berada, sepasang mata ular sedang mengintai mereka.

“Hai, mau kemana anak musang?  Kalian masih bisa bertahan dengan kemarau panjang ini?”  Ular menyapa dengan napsunya ingin menerkam mangsa.

Mongo dan Mongi terkejut bukan kepalang.  Spontan teriakan mereka memenuhi langit-langit dan sampai pada telinga hewan-hewan penghuni hutan itu.

“Sepertinya itu teriakan Mongo dan Mongi.  Bandel juga mereka menyusulku.  Sudah kubilang tetap tinggal di ladang.  Kenapa mereka sampai ke hutan ini?”

Musi, si ibu musang mencari sumber suara.  Dengan naluri keibuannya, Musi segera menemukan Mongo dan Mongi.

“Mongo, Mongi, cepat menjauh dari ular itu.”  Musi meneriaki kedua anaknya agar terhindar dari patukan ular berbisa.  Sementara itu berbagai jurus disiapkan Musi untuk menakhlukkan ular berbis itu.

“Jangan kau ganggu anakku.  Mereka masih kecil dan kurus.  Kamu tidak akan kenyang.  Mangsa saja aku, ibu mereka.  Aku lebih besar dan berisi.”

Ular itu terkesiap sejenak.  “Benar juga, lebih baik aku memangsa ibu musang itu.  Aku bisa tidak makan berhari-hari.  Sebelum binatang lain yang memangsanya , “ batin ular berbisa.

Tubuhnya meliuk menuju ibu musang.  Sebuah pertempuran sengit di mulai.  Mongo dan Mongi menyaksikan dari jauh dengan perasaan cemas.

Demi membela keselamatan anaknya, Musi seakan memiliki puluhan tenaga lebih kuat dari biasanya.  Mulutnya terbuka selebar mungkin.  Gigi-giri runcingnya siap menerkam kepala.  Musi yakin bahwa bagian terkuat dari ular adalah kepalanya.

Kemana pun arah kepala ular itu bergerak, Musi selalu mengikuti dengan seksama.  Ular merasa kebingungan dan kehilangan arah patukannya.  Bersamaan dengan keinginan ular itu mematuk Musi diap menerkan kepala ular.  Pertarungan hebat itu  membuat Mongo dan Sangi melakukan gerakan untuk memecahkan konsentrasi ular.  Mereka ingin membantu sang ibu.

Saat ular itu lengah, kepalanya digigit oleh Musi keras-keras. Ular mengerang dan mengibaskan ekornya.  Tapi malangnya, ular yang juga kelaparan itu kehilangan tenaga.

“Alhamdulillah.  Hore ibu menang, Ibu hebat!”  Mongo dan Sangi teriak kegirangan

“Semua atas izin Allah SWT.   Lagi pula sunnah hukumnya membunuh  ular hitam  seperti ini.  Sekarang makanlah ular ini.

Mereka bersuka cita dengan rejeki mereka hari ini.  Sejak itulah musang memangsa ular hingga hari ini.

Berkat pengorbanan tulus ibu musang, Allah mengutus angin dan mengizinkan awan berarak memenuhi langit Hutan Kimbau.  Rintik hujan di akhir musim kemarau, disambut dendang ceria seluruh penghuni hutan

 Pesan Moral:
1.  Menurut pada nasihat orang tua adalah jalan menuju keselamatan
2.  Bersabarlah atas ujian dari Allah dengan tetap berbaik sangka
3.  Berkasih sayanglah pada yang lemah, maka Allah akan menguatkan kita
4.  Jangan remehkan amal baik walau pun dianggap kecil, karena keikhlasanlah yang akan membesarkannya.

VERSI AFRIKA (Dalam Proses)

Fakta Unik Musang:

Mongoose adalah nama lain dari musang.  Dalam kenyataannya, mongoose dapat memangsa ular sepanjang  3m., dalam sebuah pertarungan berkecepatan tinggi.  Ia tidak kebal bisa ular tetapi Masya Allah dia bisa memulihkan diri dari racun dalam beberapa jam dan memangsanya ular itu kembali.

Musang tergolong dalam binatang menyusui, merupakan karnivora dari suku Viverridae.  Beraktifitas di malam  hari, disebut juga binatang noktunal.  Kemampuan memanjatnya sangat baik sebagaimana kucing hutan.


Yang paling dikenal adalah musang luwak (Paradoxurus hermaphrodites)  Perilaku unik musang, dia suka mengelabuhi musuh atau pemangsanya dengan pura-pura mati, lho.  Ada-ada saja., ya?

Ini adalah taksonomi lengkap dari musang

Taksonomi lengkap musang:
Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Mammalia, Ordo Carnivora, Famili Paradoxurus , Spesies Paradoxurus hermaphrodites

Referensi:
Sumber:
2. htmlhttps://id.wikipedia.org/wiki/Musang 

Minggu, 07 Oktober 2018

Legenda ke-16 MENGAPA NYAMUK SUARANYA MENDENGUNG?


MENGAPA NYAMUK SUARANYA MENDENGUNG?
Legenda yang satu ini memiliki banyak versi.  Ada versi Nusantara, tepatnya Gunung Kidul  dan versi Afrika Barat.  Kita akan menyimak keduanya.  Bersiaplah.

JASA SEORANG DUKUN BAYI
(Versi Nusantara, Legenda dari Gunung Kidul)

Sebut saja nama desanya, Desa Dadapan.  Suasananya begitu asri, di kaki Pegunungan Sejo setelah penghijauan yang dilakukan warga berhasil.  Sungai  yang membelah kampung itupun selalu dialiri air saat kemarau maupun musim hujan. 

Masyarakatnya hidup sederhana dalam keadaan makmur dan tentram.  Kebanyakan mereka hidup sebagai petan yang sekaligus peternak juga memelihara ikan.  Sebagian kecil lainnya bermata pencaharian sebagai pedagang.  Kerukunan dan kebersamaan warga membuat semua merasa nyaman tinggal di Desa Dadapan.


“Kita patut bersyukur pada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemakmuran untuk desa kita ini.”  Lurah Desa Dadapan, Pak Haji Sukri memulai pertemuan di balai desa.


“Saya juga merasa bersyukur, warga desa dapat hidup tentram.  Segala urusan terkait kepentingan bersama selalu mereka utamakan.  Infak bersama dari hasil bumi pun terkumpul dengan mudah.”  Bendahara desa menyampaikan kemajuan kas desa.


Akan tetapi keadaan ini tiba-tiba berubah.  Seolah teror di siang bolong, seorang warga lari tergopoh-gopoh menuju balai pertemuan.


“Pak Lurah, Pak Carik, saya di kejar makhluk aneh.  Tolong lindungi saya.”  Seorang petani bernama  Imin mengadu dengan napas tersengal-sengal.


“Tenang dulu, Pak Umam.  Supaya kami lebih jelas mendengar penjelasan Pak Umam,” kata Pak Lurah sambil memberikan segelas air minum.


Pak Umma berkisah tentang kejadian aneh dan menakutkan yang dilihatnya.  Seekor ratu  nyamuk sebesar kambing memasuki kampung dengan suara yang memekakkan telinga.  Yang lebih mengerikan, alat pengisapnya begitu besar.  Seekor sapi yang sedang digunakan membajak oleh Pak Ummam langsung lemas tak berdaya diisap darahnya.


“Wah, berarti desa kita dalam bahaya!” seru Pak Carik


“Kita  harus segera mendapatkan solusi.”  Rapat di balai pertemuan berganti agenda.  Pak Umam sebagai sumber berita, ikut bermusyawarah.


“Menurut saya, nyamuk itu sebentar lagi akan bertelur, Pak.  Ratu  nyamuk yang perutnya sebesar itu butuh bantuan untuk mengeluarkan telurnya.”  Pak Umam yakin dengan analisanya.  “Apalagi  dia menanyakan kolam terdekat.  Katanya buat menetaskan telurnya,” lanjut Pak Umam


“Baiklah, kalau begitu kita harus panggil Mbok Iyam, dukun bayi kita yang terampil itu.”


Hari itu juga sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, Mbok Iyam ditemani Babinsa menemui nyamuk yang sedang kesusahan mengeluarkan telurnya di pinggir kolam.


“Ratu Nyamuk, aku bisa menolongmu, asalkan kamu beritahu aku kenapa tubuhmu bisa sebesar ini?  Kamu membuat kami ketakutan.  Sekali saja kamu mengisap ternak-ternak kami, mereka bisa kehabisan darah.”


“Aku akan memberi tahumu asalkan kau bantu aku mengeluarkan telur-telur ini.”


“Tentu saja Ratu Nyamuk, bukankah aku sudah berjanji.”


Ratu Nyamuk memberitahukan pada Mbok Iyah rahasia kesaktiannya, yaitu cincin di ujung sayapnya.


“Untuk memudahkanmu bertelur, cincin itu akan aku ambil.  Supaya kamu mengecil dulu.  Begitu pula dengan telur-telurmu.”


Benar saja, begitu cincin itu diambil, telur itu keluar sangat banyak.


“Terima kasih Mbok Iyah, lega rasanya perutku.  Sekarang pasangkan lagi cincin itu di sayapku.”


“Itu bukan bagian dari perjanjian kita.  Aku menolongmu dengan cara mengambil cincin ini, jadi tidak ada  keharusan aku mengembalikannya bukan?”


Ratu nyamuk marah dan mengejar Mbok Iyah untuk mendapatkan cincin itu.  Mbok Iyak tak kehabisan akal.  Tiap Ratu Nyamuk mengejarnya selalu saja disiapkan asap jerami buat mengusirnya.


“Aduh mataku sakit.  Asap ini mengganggu sekali.”  Ratu nyamuk menggerutu dengan suara ngung…..ngung….ngung…..


Sejak saat itulah suara itu diikuti anak keturunannya.  Suara mendengung sambil terus mencari cincin yang pernah diambil Mbok Iyah.
Pesan Moral:
  •           Janganlah memakai sesuatu yang membuat kita nampak hebat, padahal bisa membuat kita celaka
  •           Apapun masalahnya selalu hadapi dengan bermusyawarah, maka adakeberkahan dalam kebersamaan.
Fakta ilmiah tentang Nyamuk:

Nyamuk masuk dalam klas insecta ordo Diptera. Memiliki  sepasang sayap bersisik, tiga pasang kaki panjang dan tubuhnya langsing.  Terdapat 2700 spesies nyamuk.

Cara berkembangbiaknya dengan bertelur dimana telur-telur itu menyatu bersama darah.  Makanan nyamuk sebenarnya adalah cairan nectar bunga.


Tempat bertelur nyamuk biasanya di daun dekat kolam atau kolam kering.  Sensor kelembaban dan suhu ada dibagian bawah perutnya atau reseptor.  Saat bertelur, telur yang dikeluarkan disusun seumpama rakit, berjumlah sekitar 300 butir yang masing-masing panjangnya. kurang dari 1 mm.  


Perkembangan nyamuk mengalami metamorfosa hingga dewasanya yaitu fase telur, jentik-jentik atau larfa , pupa dan nyamuk dewasa.

Referensi: