LEGENDA DUNIA
I
OLEH: KHADIJAH HANIF
(Kumpulan Legenda Mendunia, Sarat Hikmah, Kaya Amanah, Wawasan Bertambah)
SALAWU_TASIKMALAYA
2021
DAFTAR
ISI
1.
LEGENDA KE-1 _
ASAL MULA ASAP GUNUNG CANLAON, BERSAHABATLAH DENGAN ALAM_(PHILIPINA)
2.
LEGENDA
KE-2 _ PENYEBAB PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG_(MALAYSIA)
3.
LEGENDA
KE-3 _ MENGAPA NYAMUK BERDENGUNG, PENOLAKAN EAR _(AFRIKA BARAT)
4.
LEGENDA
KE-4 _ MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI
GAJAH PUTIH?_(THAILAND)
5.
LEGENDA
KE-5_MENGAPA HARIMAU BERCORAK BELANG?_(VIETNAM)
6.
LEGENDA
KE-6_LEGENDA BUAH SEMANGKA _(VIETNAM)
7.
LEGENDA
KE-7_TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR_(TIMUR LESTE)
8.
LEGENDA
KE-8_LEGENDA SELAT SUNDA DAN GUNUNG KRAKATA_(INDONESIA)
9.
LEGENDA KE-9_KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH_ (INDONESIA)
10.
LEGENDA KE-10_ASAL
USUL GEMPA BUMI_(JEPANG)
11.
LEGENDA KE-11_ASAL MULA NAGA_(CINA)
12.
LEGENDA KE-12_BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA_(CINA)
13.
LEGENDA
KE-13_TERBENTUKNYA DANAU TOBA, KARENA JANJI YANG TERINGKARI_(INDONESIA)
14.
LEGENDA-14_DUA
EMPU PEMBANGKANG, ASAL USUL GUNUNG MERAPI_(INDONESIA)
15.
LEGENDA
KE-15_SIPUT YANG SETIA KAWAN, MENGAPA
SIPUT MEMANJAT DAHAN?_(PHILIPINA)
16.
LEGENDA
KE-16_PERSETERUAN JAKAL DAN SINGA_(AFRIKA)
17.
LEGENDA KE-17_PERSAHABATAN MUSANG DAN BURUNG SEKRETARIS_(AFRIKA)
18.
LEGENDA
KE-18_AWAL MULA PERSAHABATAN JAKAL, KARAKAL
DAN ELAND_(AFRIKA)
19.
LEGENDA
KE-19_MENGAPA CITAH BERLARI KENCANG, KARUNIA ALLAH UNTUK CITAH_(AFRIKA)
20.
LEGENDA KE-20_GAJO DAN
BELALAINYA_(AFRIKA SELATAN)
LEGENDA KE-1
ASAL MULA ASAP GUNUNG CANLAON, BERSAHABATLAH
DENGAN ALAM
(PHILIPINA)
KISAH:
Horisaboquet adalah seorang lelaki tua yang baik
hati. Ia berbadan kecil, kurus dan berambut panjang menjuntai, namun
memiliki kesaktian. Dia memiliki ilmu meringankan tubuh sehingga
bisa bergerak cepat bahkan menghilang. Sifat bijaksananya membuat
Horisa tidak sombong dengan kelebihan yang dimilikinya.
Tinggal
di puncak Gunung Canlaon pada masa yang jauh sebelum Spanyol datang
menjajah. Di bawah arahan dan kepemimpinannya, Gunung Canlaon
diberkahi sebagai tempat yang subur. Berbagai macam tanaman dapat
tumbuh subur di sana. Sayur mayur palawija dan terutama
tembakau.
Semua warga Gunung Canlaon mensyukuri segala nikmat yang
diberikan Allah SWT. Mereka merasa qanaah dengan apa yang mereka
ambil dari alam. Mereka bisa hidup sederhana tanpa banyak keinginan
berlebihan terhadap nikmat dunia.
Kembali
lagi pada karisma Horisaboquet, dia sangat dihormati. Bila ia
melewati suatu perkampungan, warga akan memberinya penghormatan.
“Selamat
datang Tuan Horisa. Kami merasa beruntung anda mau bertandang ke
kampung kami.” Ojera seorang tetua salah satu kampung di
Gunung Canlaon.”
“Terimakasih
atas sambutannya Pak Tua. Saya bermaksud mengumpulkan warga di satu
tanah lapang untuk membicarakan suatu hal.” Horisa menyampaikan
maksud kedatangannya.
Persiapan
untuk pertemuan besar semua warga Gunung Canlaon seakan menandai pentingnya
kegiatan tersebut. Horisaboquet segera menaiki mimbar.
“Dengan
menyebut nama Tuhan Yang Mahakuasa, Selamat dan kesejahteraan semoga selalu
menyertai kita. Terimakasih untuk semua warga Canlaon yang telah
hadir pada pertemuan kali ini. Aku akan menyampaikan beberapa hal
penting:
1. Aku mendapat amanah dari Tuhan
untuk menyelesaikan permasalahan di seberang sana, alam lain yang sedang
dirundung permasalahan. Maka aku akan meninggalkan kalian untuk
beberapa lama.
2. Aku titipkan batas penanaman yang
kita sepakati bersama. Jangan melewati batas itu karena
bagian-bagian lahan memiliki fungsinya masing-masing. Terutama
bagian puncak yang menjadi hutan resapan. Sama sekali tidak boleh
dijadikan lahan pertanian. Kalau kalian melanggarnya maka kalian
akan merasakan kesusahan mendapatkan air dari sungai di tengah kampung kita
ini.
3. Apabila kalian tetap menanaminya
aku akan mengambil semua tanaman tembakau kalian. Aku akan mengisap
dengan batang cerutuku ini sampai tembakau itu habis.
Pesanku ini sangatlah penting untuk kalian ikuti. Bila kalian
langgar aku akan memenuhi ancamanku.”
Semua
terdiam mendengarkan arahan dari Horisaboquet. Tak lama kemudian
Horisaboquet menghilang dari pandangan seluruh warga. Mereka saling
berbincang tentang pemimpin meraka yang satu ini, untuk kemudian berpisah
membubarkan diri.
Sekian
lama kepergian Horisa, warga masih mengikuti apa yang
dipesankannya. Hingga lama kelamaan, mereka mulai digoda bisikan
setan dan nafsu untuk menikmati dunia lebih dari sekedar cukup kebutuhan.
“Horisa
tidak akan kembali lagi. Dia hanya menakut-nakuti kita supaya kita
tetap miskin. Kalau puncak Calaon ini kita Tanami tembakau, maka
hasilnya akan lebih banyak dan membuat kita kaya.” Seorang pemuda
mengungkap pandangannya.
“Aku
tidak berani untuk melanggar kesepakatan itu. Lagi pula kita sudah
cukup hidup tenang dan damai dengan apa yang kita terima
sekarang.” Ojera bertahan dalam ketaatannya pada Horisabaquet.
“Pak
Tua, ini hanya akal-akalan Horisa supaya tidak ada yang menyaingi
wibawanya. Kalau kita tidak bisa melampaui ilmunya maka kita masih
bisa melampaui kekayaannya. Sekarang begini
saja. Bagaimana kalau kita mencoba menanam melewati
batas kesepakatan. Bila benar ancamannya maka ia akan
datang untuk mengambil tembakau kita. Tapi bila tidak berarti dia
telah berbohong dan kita bebas menanami lahan di gunung ini
hingga ke puncaknya.” Kini pendapat picik pemuda itu
disetujui banyak orang. Ojera tidak bisa melawan keinginan dari
mereka yang serakah.
Pemuda
itu mulai mencoba melanggar batas yang disarankan Horisa. Warga
cemas menunggu akibat yang diancamkan Horisa. Akan tetapi ancaman
itu tidak juga wujud nyata hingga panen yang didapat pemuda itu cukup banyak.
“Apa
yang kalian takutkan? Horisa hanya membohongi kita. Aku
bisa mendapatkan panen lebih banyak dan kita akan menjadi kaya
raya. Mana ancaman Horisa? Omong kosong!” suara pemuda
itu lantang jumawa.
Warga mulai tergiur membagi-bagi lahan sesuai
keinginan dan kesepakatan baru mereka.
Mereka menanami hingga puncak
gunung. Mereka membabat hutan tanpa peduli
risikonya. Begitulah keserakahan telah menyelimuti hati sebagian
besar warga. Hanya beberapa gelintir orang tua yang masih
mencemaskan akibat yang akan mereka dapatkan.
Menjelang
panen tiba, gunung Canlaon mengeluarkan asap. Asap itu begitu panas,
menyapu seluruh tanaman yang ada pada lahan mereka. Tidak bersisa.
“Ancaman
Horisa akhirnya tertunaikan juga.” Ojera hanya bisa berucap prihatin
dengan keadaan ini. Mereka meninggalkan gunung, menyelamatkan diri
dari amukan asap Canlaon.
Sampai
saat ini asap masih menggumpal dari atas Canlaon. Meskipun tidak
lagi panas dan berbahaya seperti serangan pertama yang menghabiskan tanaman
mereka. Sebagian orang percaya bahwa Horisa belum selesai mengisap
tembakau yang dia ambil dari warga Gunung Canlaon.
HIKMAH
1. Semua yang terjadi adalah bagian
dari kehendak Allah SWT. Sebagai ujian untuk diambil pelajaran
darinya.
2. Janganlah melanggar kesepakatan dan
janji karena kesepakatan adalah amanah bersama serta janji adalah hutang
3. Bersahabatlah dengan alam dan
jangan pernah mementingkan diri sendiri
4. Menggunakan alam secara berlebihan akan berakibat pada bencana yang merugikan dan menyengsarakan manusia.
FAKTA ILMIAH
Salah satu gunung berapi aktif di Filipina adalah
Gunung Canlaon. Berdasarkan bentuknya, Canlaon termasuk dalam
stratovolcano. Letaknya di provinsi Negros Occidental di kabupaten
Visayas. Hingga tahun 2010, kota ini memiliki populasi 51254 jiwa dengan
9945 rumah tinggal.
Gunung Canlaon berketinggian 2435 meter, meletus terakhir
kali di tahun 2015.
Sedikit penjelasan tentang gunung
stratovolcano. Berdasar bentuk puncaknya, Gunung
srtratovolcana odalah gunung berapi kerucut, disebut juga gunung berapi
komposit. Pegunungan yang tinggi dan mengerucut karena material
letusan yang berupa lava dan abu vulkanik mengeras.
Tipografinya, curam pada bagian puncak dan landai pada bagian
kaki. Hal ini terjadi karena aliran lavanya amat kental, mengandung
banyak silika sehingga bersifat asam. Silika akan cepat mendingin
dan mengeras sebelum sebarannya cukup jauh.
REFERENSI
http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/201-asal-mula-asap-gunung-canlaon#
http://cerita-legenda-dunia.blogspot.com/2013/06/asal-mula-asap-gunung-canlaon-philipina.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kanlaon
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi_kerucut
LEGENDA KE-2
ASAL USUL PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG
(MALAYSIA)
KISAH:
Awalnya, Lalang si elang jantan dan Yama si ayam hutan jantan
bersahabat karib. Mereka hidup rukun dan saling menolong
bantu. Bahkan saat mencari makan, mereka lakukan bersama-sama di
hutan itu. O’ya, sebelum mereka bermusuhan, makanan mereka juga
sama, yaitu biji-bijian.
“Yama, aku terbang di atas pohon di hutan ini,
ya. Kamu terbanglah dari dahan ke dahan.” Lalang mengajak
Yama mencari mangsa bersama
“Siap, Lalang. Nanti kalau aku melihat mangsa
terlebih dulu saya akan panggil kamu.” Demikian keakraban it uterus
mereka jaga.
Sore itu, Yama dan Lalang sedang asyik menikmati biji-bijian
bersama. Saking asyiknya mereka tidak menyadari ada yang sedang
mengintai mereka. Gala, sang srigala memerhatikan keduanya dari
balik pohon besar.
“Aha….ada
santapan yang super lezat rupanya. Aku sudah sangat lapar,” gumam
Gala. Maka srigala segera menyerbu ke alah Yama. Srigala
berhasil melukai ayam hutan itu.
Lalang
pun keheranan dengan kesedihan sahabatnya itu, “Yama coba ceritakan padaku
kenapa wajahmu begitu murung? Apakah kamu sakit?”
3. Dari jenis makanannya, ayam hutan termasuk dalam omnivore (pemakan segala),
rumput, bijijian, cacing, dan belalang.
“Aduh,
aku terluka. Tolong…!!!! Ampun, Gala! Lalang,
tolonglah aku. Seekor srigala menyerangku!” Yama berlari
dan berteriak meminta tolong.
Lalang terkejut dengan teriakan Yama. Burung elang
yang sedang menyantap biji jagung segera meninggalkan
makanannya. Dengan cakar dan paruhnya yang tajam, Lalang menyerbu
srigala.
“Jangan kau ganggu Yama. Ia teman
karibku. Rasalan paruh dan cakarku ini!” Lalang mengamuk
dan menyerang Gala.
“Ampun, Lalang. Aku mengaku
kalah. Cakar dan paruhmu tajam sekali!” Gala berlari
meninggalkan dua sahabat itu.
Yama segera keluar dari persembunyiannya di dalam lubang
pohon besar. “Terimakasih Lalang, engkau memang sahabat
sejatiku.” Akan tetapi Yama tidak bisa menyembunyikan rasa
sedihnya. Dalam hatinya ia mulai iri pada Lalang. Andai
saja dirinya bisa terbang seperti Lalang, tentu ia dengan mudah akan menghindar
dari marabahaya
“Tidak Lalang, aku sehatsehat saja. Hanya saja aku
heran. Bukankah kita sama-sama burung. Tapi kenapa aku
tidak bisa terbang tinggi?”
“Oh, itu yang membuatmu bersedih? Sebenarnya aku
juga tidak bisa terbang. Paling hanya setinggi dahan itu, seperti
juga kamu.”
“Lalu bagaimana kamu bisa terbang tinggi?” tanya
Yama penasaran
“Aku menjahit sayapku dengan jarum emas
ini. Sayapku pun menjadi lebih rapat dan aku pun bisa terbang.”
“Kalau begitu, bolehkah aku meminjam jarum emasmu?”
“Tentu saja boleh. Tapi berjanjilah, kamu
merahasiakan hal ini. Kamu juga tidak boleh meminjamkan jarum emas
ini pada bangsa burung yang lain. Dan juga jaga jarum
ini jangan sampai hilang, ya!” pesan Lalang
“Terimakasih, Lalang. Kamu memang sahabat
terbaikku. Tenanglah, aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa.”
Jarum emas itu diberikan kepada Yama. Yama mulai
menjahit kedua sayapnya. Akan tetapi belum juga selesai menjahit,
Yama sudah merasa kegirangan dan tidak sabar untuk terbang tinggi.
“Hai, lihatlah aku bisa terbang
tinggi. Kukuruyuuuuuk, aku bisa terbang, aku bisa
terbang.” Yama kegirangan
Di bawah sana, ada seekor ayam betina terheran-heran dengan
kemampuan Yama. Ayam betinapun menanyakan bagaimana Yama bisa
terbang. Saking girangnya, Yama lupa akan janjinya pada
Lalang.
“Aku bisa terbang karena jarum emas yang aku pakai ini.”
“Boleh aku meminjamnya?” pinta ayam betina.
“Tadi aku letakkan di dekat batu itu. Cari saja!”
Ayam betina mencari tapi tidak dapat
menemukannya. Tentu saja ada rasa bersalah dalam diri Yama. Yama
ikut mencari jarum itu hingga pagi hari. Dicakar-cakarnya tanah
tidak juga dapat ditemukan.
“Aduh, pagipagi sudah mengais mencari makan? Rajin
seali Yama. Nggak nungguin kau encari makan bareng, nih?” tanya
Lalang akrab.
Yama mulai ketakutan. Ia sangat yakin, Lalang akan
marah besar. Tapia pa boleh buat, ia harus mengatakan apa yang
sebenarnya terjadi.
“Maafkan aku, jarum emas kamu hilang.” Yama
tertunduk lesu.
“Kau sudah berkhianat Yama. Mulai saat ini aku
tidak akan bersahabat lagi dengan kamu. Kamu tahu jarum emas itu
barang berharga satusatunya yang aku miliki. Mulai saat ini, jika
kamu tidak mengembalikan jarum emasku, kalian dan anak keturunan kalian akan
menjadi santapanku.”
Sejak saat itu mereka saling bermusuhan. Elang
akan menyambar keluarga ayam tanpa ampun. Sementara
Ayam dan keluarganya akan
mengais-ngais tanah untuk mencari jarum emas yang hilang. Mereka
berharap suatu saat jarum emas itu akan dapat ditemukan dan permusuhan akan
berakhir.
HIKMAH:
1.
Jagalah persahabatan dengan menghindari saling iri
dengki. Biarkan masingmasing enikmati arunia yang Allah bagikan pada
tiap makhluknya. Karena kadang iri akan membawa pada keinginan
endapatkan sesuatu yang dimiliki sahabat kita
2.
Hindarilah perbuatan mengingkari janji karena akan
menghilangkan kepercayaan bahkan menimbulkan permusuhan.
3. Janganlah menjadi pendendam, tapi jadilah pemaaf. Memberikan maaf itu sangat mulia dan menghilangkan permusuhan.
FAKTA ILMIAH:
AYAM HUTAN
1. Berdasarkan urutan taksonomi, ayam
hutan memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:Kingdom: Animalia, Filum:
Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Galliformes, Famili: Phasianidae, Genus: Gallus. Spesies
ayam hutan ada bermacammacam antara lain: Gallus gallus (ayam
hutan merah), Gallus lafayetii (ayam hutan Srilanka), Gallus sonneratii (ayam
hutan kelabu), Gallus varius(ayam hutan hijau), sehingga secara umum
ayam hutan dinamai Gallus sp.
2. Ayam hutan termasuk jenis ayam liar
yang menjadi nenek moyang ayam kampung. Sehingga dari morfologinya
tidak memiliki perbedaan. Perbedaan justru antara ayam jantan dan
betina. Ayam jantan cenderung memiliki bulu yang lebih bervariasi
dan mengilap.
ELANG
1. Nah, tokoh kedua kali ini adalah
elang. Elang menyebar populasinya di seluruh
Indonesia. Karena penembakan dan perburuan, populasinya makin
berkurang.
2. Klasifikasi ilmiah dari elang dapat
diuraikan sebagai berikut, tergolong dalam
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Accipitriformes, Famili: Accipitridae,
Spesies: Accipitridae sp.
Elang dalam bahasa Inggris disebut
Hawk dan untuk jenis yang lebih besar disebut Eagle. Elang tergolong
dalam binatang berdarah panas, bersayap dan tubuh tertutup penuh oleh bulu
pelepah. Cara berkembang biak sama dengan jenis aves yang lain,
yaitu bertelor (ovipar).
3. Elang adalah hewan predator
(pemangsa) hewan kecil seperti tikus, tupai, adal, ikan dan
ayam. Elang yang berhabitat di sekitar air memiliki mangsa utama
binatang berkelas pisces. Bentuk paruhnya melengkung dan kuat berfungsi untuk
mencabik daging mangsa. Demikian juga dengan cakar kakinya tajam dan
kuat untuk mencengkeram tangkapannya.
4. Keistimewaan organ elang juga
terletak pada mata dan system pernapasannya. Mata elang dapat memfokuskan
pengelihatannya dalam jarak jauh sehingga dapat mendeteksi adanya
mangsa. Sementara itu, organ napasnya mampu menampung volume ogsigen
dalam jumlah banyak. Dengan kelebihannya ini elang dapat terbang
pada ketinggian dalam waktu lama.
5. Jenis-jenis elang di Indonesia,
antara lain: Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Jawa Elang-ular Bido, Elang-ular
Jari Pendek Elang Buteo, Elang Gunung, Garuda, Elang Sulawesi, Elang Wallace,
Elang Flores, Elang-laut Perut Putih, Elang Bondol, Elang-ikan Kepala Abu,
Elang-ikan Kecil, Elang Perut Karat, Elang Tikus, Elang Paria, Rajawali Kuskus
Rajawali Tutul, dan Elang emas
REFERENSI:
1. https://edylaw.blogspot.com/2009/04/asal-mula-permusuhan-ayam-dan-elang.html/25/4/2019
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Ayam-Kampung
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Elang
LEGENDA KE_3
MENGAPA NYAMUK BERDENGUNG
PENOLAKAN EAR
(AFRIKA BARAT)
“Aduh
aku bingung dengan pemuda-pemuda yang datang melamarku. Si Safe, tampan,
perhatian dan romantis. Si Brown, manis, bertanggung
jawab dan berdompet tebal. Si Warm, terkesan agak cuek, tapi aku suka.”
Ibu
Ear ikut kebingungan dekan sikap anaknya yang terlalu
pilih-pilih. Menurut ibu, Ear tidak member ketegasan, malah terkesan
member harapan pada semua orang.
“Ear,
kamu nggak boleh memberi harapan pada setiap yang datang
padamu. Berilah ketegasan pada mereka. Pada siapa hatimu
bertambat dan ambil keputusan.” Ibu menasihati Ear baik-baik.
Ear
yang keras kepala menyalahartikan nasihat Sang Ibu. Dia bersikap
kurang baik dan agak kasar,”Ibu, yang mau nikah itu aku. Aku nggak
bisa buru-buru. Kalau Ibu nggak sabar, Ibu aja yang menikah dengan
salah satu dari mereka.”
Ibu kaget dan tidak menyangka
Ear akan bicara sekasar itu. Ya, memang ibu sudah lama menjanda dan
ingin memiliki pendamping hidup. Tapi sikap dan cara Ear cukup
menyakitkan.
“Ear, lancang sekali
kamu. Cepat ambil keputusan, sebelum kesempatan itu hilang dan
berganti dengan lamaran seekor nyamuk!"
Suara menggelegar bersamaan
dengan sumpah serapah Sang Ibu. Rupanya perkataan Sang Ibu terdengar oleh
nyamuk dan seakan terinspirasi untuk mencoba melamar Ear.
Di
malam sunyi saat semua terlelap, seekor nyamuk mendekatinya.
“Ear, jadilah
istriku. Aku akan meminangmu. Terimalah!” Pinta
Qitho, Sang Nyamuk penuh percaya diri.
“Apa katamu? Lancang sekali
berani menjadikan aku istri. Kamu
jelek dan lemah. Kau akan mati tidak sampai
sepekan”
“Aku kuat
Ear. Percayalah, akan aku buktikan.”
Ear
merasa sakit hati dan merasa diremehkan. Kemarahannya sampai
ubun-ubun, hingga Ear terjatuh tak sadarkan diri. Igauannya antara
sadar dan tidak menceracau tidak karuan.
Di sela igauannya, Ear
memanggil ibu, meminta maaf atas kelancangannya. “Bu…Bu……maafin
Ear. Cabutlah kutukan Ibu, hatiku sakit.”
Saat sadar, ia bertekat untuk
melukai nyamuk dengan apa saja yang bisa ia pukulkan. Nyamuk terus
berkelit dan terbang menghindar . Sampai akhirnya pukulan itu
mengenainya dan membuatnya terluka. Sayap Qitho tak bisa mengepak
sempurna
Nyamuk itu pergi membawa
dendam dan luka. Dia bertemu dengan teman-temannya dan menceritakan
kepedihan hatinya.
“Aku tidak terima penghinaan
ini. Sebagai bukti kesetiakawanan kita, saya mohon kekompakannya.”
“Apa
yang harus kami lakukan, Qitho?” Tanya sahabat karib Qitho
“Setiap
kamu melihat telinga manusia, kita ganggu dengan suara dengungan di
sebelahnya. Biar mereka marah dan memukul tanpa
arah. Aku akan puas melampiaskan dendam kita. Mereka akan
merasa terganggu dan terus jengkel.”
Demikianlah
dendam Qitho yang diikuti oleh teman-temannya sesama bangsa nyamuk. Mereka
selalu mengganggu dengan dengunggannya, berputar-putar di sekitar telinga kita.
HIKMAH:
1. Jangan melawan dan menyakiti
orang tua, karena ucapannya menjadi doa
2. Bila bimbang terhadap pilihan ,
maka beristikharah untuk mendapat memilih yang terbaik
3. Ukurlah kemampuan diri, jangan
terlalu memaksakan kehendak, bisa jadi musuh kita bertambah banyak
FAKTA ILMIAH:
Nyamuk
masuk dalam klas insecta ordo Diptera. Memiliki sepasang sayap
bersisik, tiga pasang kaki panjang dan tubuhnya langsing. Terdapat
2700 spesies nyamuk.
Cara
berkembangbiaknya dengan bertelur dimana telur-telur itu menyatu bersama
darah. Makanan nyamuk sebenarnya adalah cairan nectar bunga.
Tempat bertelur nyamuk
biasanya di daun dekat kolam atau kolam kering. Sensor kelembaban
dan suhu ada dibagian bawah perutnya atau reseptor. Saat bertelur,
telur yang dikeluarkan disusun seumpama rakit, berjumlah sekitar 300 butir yang
masing-masing panjangnya. kurang dari 1 mm.
Perkembangan nyamuk mengalami
metamorfosa hingga dewasanya yaitu fase telur, jentik-jentik atau larfa , pupa
dan nyamuk dewasa.
REFERENSI:
·
https://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk
·
http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/221-asal-mula-nyamuk-berdengung
·
http://www.allfolktales.com/wafrica/why_mosquitoes_buzz.php
MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?
(THAILAND)
Sebenarnya
ratusan tahun yang lalu, Thailand bukanlah negara dengan populasi gajah di
dalamnya. Sehingga sang raja mengutus abdi kerajaan yang
dipercayanya untuk mencari sepasang gajah. Tujuannya, untuk
membuktikan pada rakyatnya bahwa binatang yang disebut gajah itu emang ada.
“Pu
nggawa, aku utus kalian untuk membeli gajah dari negeri lain. Cukup
satu pasang saja, jantan dan betina. Bawalah binatang itu dan kita pelihara di
negeri kita.”
“Baiklah
Maharaja, segala titah akan kami laksanakan.” Para punggawa itu
mematuhi perintah raja.
Maka
berangkatlah utusan raja dengan kapal layar. Sauh dilepas, samudra
diarungi demi mendapatkan binatang bernama gajah.
Penantian
berharihari lamanya. Gajah yang ditunggu itupun tiba di istana. Sepasang
gajah itu begitu gemuk dan sehat sesuai pengorbanan yang dikeluarkan kerajaan.
“Aku
ingin mempertontonkan gajah-gajah ini di depan khalayak ramai, tapi sebelum
rakyat tahu, para pembesar dan pegawai istana harus tahu terlebih
dahulu. Baru kemudian rakyat. Aku tidak ingin para
pembesar istana kalah dalam hal pengetahuan dengan rakyat
jelata.” Titah raja pun dilaksanakan malam itu
juga. Seluruh pembesar dan pegawai kerajaan harus menyaksikan gajah
pada malam itu juga.
“Berhubung
keadaan gelap di malam ini, bawalah obor supaya semua yang hadir dapat
menyaksikan seperti apa gajah itu.”
Atas
perintah raja, para pawing gajah merasa keberatan. “Maaf, Baginda
Maharaja. Gajah-gajah itu akan ketakutan bila melihat
api. Apalagi bila obor itu satusatunya sumber
cahaya. Mereka akan merasa terganggu dan silau. Bisa-bisa
mereka akan ngamuk dan berusaha keluar dari sangkar besi.”
Maharaja
bisa memahami keberatan dari para pawing. Maka diputuskan tidak ada satu pun
yang diperbolehkan membawa obor.
Malam
itu juga, para pembesar kerajaan dari segala penjuru pun datang. Timur, barat,
selatan dan utara. Mereka datang tanpa adanya penerangan
sedikitpun. Untuk mengetahui seperti apa wujud dari seekor gajah,
mereka diberi kesempatan meraba gajah-gajah dalam sangkar itu.
Pembesar
kerajaan dari utara, Aroon, memegang kakinya. Dalam benaknya gajah
adalah binatang yang sangat besar karena tangannya tak mampu memeluk lingkar
kakinya. “Benar kata orang-orang. Gajah memang sangat
besar. Aku pun tak sanggup memeluk kakinya.”
Lain
halnya dengan Chaow, pembesar kerajaan dari wilayah selatan. Ia
menganggap bahwa gajah hanyalah sebentuk binatang kecil yang
keras. Saat itu ia hanya memegang gadingnya. ”Ah….ternyata orang-orang
yang menceritakan bentuk gajah itu telah berbohong. Gajah hanyalah
binatang kecil yang keras.”
Junta,
pembesar dari barat menyentuh bagian perut. Selama dia meraba tidak
ada bagian lain yang teraba kecuali perut. Ia pun berkesimpulan
bahwa gajah sangatlah besar luas, tanpa ujung.
Yang
terakhir, Klahan, pembesar kerajaan dari wilayah timur. Ia memegang
ekor gajah, “Ternyata, gajah hanyalah seekor binatang kecil seperti
ular. Mereka telah berbohong bahwa gajah itu bertubuh besar.”
Setelah
semua meraba gajah. Para pembesar itu dianggap memiliki cukup pengetahuan untuk
disampaikan pada rakyat. Mereka diperintahkan untuk kembali pada
rakyat dan menceritakan tentang gajah yang mereka raba.
“Wahai
para pembesar kerajaan, kembalilah pada rakyat kalian dan sampaikan dengan
sebenar-benarnya gambaran wujud gajah yang sudah kalian ketahui malam
ini.” Demikian perintah raja agar para pembesar pulang kembali ke
wilayahnya masing-masing.
Begitu
sampai ke wilayahnya, para pembesar itu bercerita pada rakyatnya sesuai
pendapatnya masing-masing. Mulailah permasalahan besar
terjadi. Rakyat yang saling bertemu dan menceritakan bentuk
gajah. Masing-masing meyakini bahwa penguasa daerah merekalah yang paling
benar dalam menggambarkan tentang gajah.
“Pemimpin
kalian telah berbohong, gajah itu hanyalah binatang kecil yang
keras, Pemimpin kami yang benar” ungkap rakyat dari sebelah timur.
“Kami
tetap yakin bahwa gajah itu sangat besar. Pemimpin, Tuan Junta,
tidak pernah berbohong,” kata rakyat di wilayah barat.
Keributan
makin menjadi. Maharaja kecewa dengan para pembesar yang enjadi
olokolok rakyatnya bahkan nyaris menimbulkan perpecahan. Raja yang
bijaksana itu akhirnya memutuskan untuk mengundang rakyat menyaksikan langsung
dua gajah itu di pendopo.
“Rakyatku,
kali ini kalian akan menyaksikan sendiri gajah itu. Saya berharap
bahwa kalian akan berhenti bertengkar setelah menyaksikan
sendiri. Langsung dari tempat ini. Kalau ada penjelasan
yang salah dari pembesar kerajaan, saya mohon maf karena kesalahan bukan pada
mereka. Saat mereka menyaksikan gajah-gajah ini, keadaan gelap
gulita dan tidak ada penerangan sedikit pun. Mereka tidak bermaksud
membohongi kalian tapi mereka memegang gajah ini tanpa
melihatnya. Sekali lagi mulai saat ini, setelah kalian melihat
sendiri, bersatulah kalian dan jangan ada keributan lagi.”
Rakyat
merasa puas dengan penjelasan raja. Mereka pulang dengan tertib dan
damai. Berat kehadiran gajah itu, rakyat Thailand embali
rukun. Maka sejak saat itu Thailand diberi julukan Negeri Gajah
Putih. Tujuannya untuk mengenang jasa para gajah yang enyatukan
kembali rakyat seantero negeri.
HIKMAH:
1. Dalam mendapatkan pengetahuan, kita harus
menggunakan seluruh indera kita sebagai alat menggali pengalaman dari
lingkungan di luar diri kita.
2. Janganlah keinginan meninggikan suatu golongan
dan demi gengsi membuat kita melakukan hal di luar rasionalitas, karena dapat
berakibat fatal yang justru sangat jauh dari pengharapan
3. Tidak ada perbedaan antara pembesar dan rakyat
jelata, maka perlakukan semua dengan adil
4. Pemimpin memegang peran yang paling strategis
untuk menentukan nasib mereka yang ada di bawah kepemimpinannya, maka
bijaksanalah.
FAKTA ILMIAH:
Thailand
terletak di Asia Tenggara. Berbatasan dengan Laos dan Kamboja di
sebelah timur, Malaysia dan teluk Siam di selatan, Myanmar dan Laut Andaman di
sebelah barat.
Ibukotanya
adalah Bangkok, dengan bahasa resmi Thai. Sistem pemerintahannya
berbentuk Monarki Konstitusional. Semboyan negara Chat,
Satsana, Phra Maha Kasat(Thai: "Bangsa, Agama, Raja"),
lagu kebangsaannya Phleng Chat Thai dan lagu kerajaan Sansoen Phra Barami.
Jumlah
penduduk hingga 2015 sekitar 65 juta jiwa. Mata uang yang mereka
gunakan Bath. Dalam mengemudi, mereka menggunakan lajur kiri seperti
di negara kita.
Mata
pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani. Sekitar enam
puluh persen. Tidak mengherankan jika tulang punggung perekonomian
negara berasal dari eksport pangan. Saat ini Thailand adalah eksportir
terbesar dunia untuk komoditas gula
O’ya,
untuk jenis gajah putih sebagai seekor binatang sebenarnya merupakan
penyimpangan genetika gajah. Gajah putih adalah nama lain dari gajah
albino. Penyimpangan ini jarang terjadi akan tetapai ada. Sebagai
gajah yang tidak normal, gajah putih emiliki fisik yang lemah. Tidak
memiliki cukup tenaga untuk dipekerjakan. Perawatannya pun
mahal. Warna kulit ereka tidak sepenuhnya putih sebagaimana yang sering
diilustrasikan. Akan tetapi agak coklat kelabu merah dan berubah
menjadi merah muda saat basah.
REFERENSI
1.
https://id.wikipedia.org/wiki/Thailand/17/3/2019
2. http://miaokta525.blogspot.com/2016/12/legenda-gajah-putih-thailand.html/
3. https://www.haibunda.com/nama-bayi/20181020104655-88-27387/37-nama-bayi-thailand-beserta-maknanya
4. http://www.thaizer.com/culture-sh…/the-elephant-in-thailand/
LEGENDA KE-5
MENGAPA HARIMAU BERCORAK BELANG?
(VIETNAM)
Di
sebuah gua yang tak begitu besar, pintunya hanya cukup untuk dimasuki orang
dewasa. Agak sulit untuk memasukinya. Gua itu ada di
tengah hutan lebat yang letaknya jauh dari keramaian. Bebatuan besar
bisa dijadikan pijakan untuk meraihnya. Di bagian dalam ada sebidang
datar yang bisa digunakan untuk melakukan tafakur dan
perenungan.
Suatu
pagi yang cerah, matahari menembus di sela pepohonan. Udara segar
menghembus semilir bersama tarian dedaunan. Seorang pemuda sakti yang sedang
merenung di bagian luar gua, Huyen namanya. Ada beberapa
kelebihan yang dimiliki Huyen, salah satunya, dapat berbicara dengan binatang.
Tiba-tiba, Huyen dikejutkan oleh kedatangan seekor
kelinci. Kelinci itu berlari kencang dengan rasa ketakutan yang amat
sangat.
“Tolong Huyen, aku dikejar Si Raja Hutan, Con Ho. Dia
mau memangsaku.” Napas Con Tho terengah-engah, naik
turun. Tubuhnya gemetaran.
Huyen yang berhati mulia itu iba mendengar cerita Con Tho, si
kelinci yang malang. “Tenanglah, Con Tho. Aku akan
menolongmu. Bersembunyilah di dalam gua, tempat perenunganku. Aku
akan menghadapi Con Ho.”
“Terimakasih Huyen. Kau sungguh berhati
emas.” Con Tho merasa nyaman dalam usapan lembut tangan Huyen.
Con Ho yang merasa kehilangan buruannya terus mencari Con
Tho. “Grrrrhhhh, kemana kelinci ecil itu. Dia mau mempermainkan aku
rupanya. Con Tho kau tak akan bisa lepas dari
kejaranku.” Con Ho mengaum geram. Buruannya kali ini
ternyata tak semudah yang ia harapkan. Sementara perutnya sudah
merasa sangat lapar.
Akhirnya Con Ho tiba juga ke gua tempat persembunyian Con
Tho. Di depan gua itu, Con Ho bertemu Huyen.
“Salam, wahai, pertapa yang
baik. Apakah kau melihat Con Tho yang melintas di sini?
“Iya, benar Con Ho, aku melihatnya. Dia
bersembunyi di dalam gua.”
“Kalau begitu, serahkan Con Tho padaku. Dia mangsaku
hari ini. Kalau tidak, aku akan mengambilnya sendiri ke dalam gua.”
“Bersabarlah, Con Ho. Kalau kamu bersedia aku
ingin menukar kelinci itu dengan tangan kiriku.” Huyen mengajukan
tawaran yang cukup menarik buat Con Ho.
“Wah tawaran yang sangat menarik.” Con Ho
membatin, ” Baiklah aku pikir akan menjadi pengalaman menarik buatku bisa
memakan daging manusia.”
Huyen memotong tangan kirinya,”Ini makanlah!”
Con Ho segera menyambar santapannya itu dan segera
meninggalan Huyen menjadi buntung sebelah kiri tangannya.
Con
Tho yang menyaksikan peristiwa itu dari persembunyiannya, merasa sangat
terkejut. Betapa baik hati Huyen yang mau berkorban untuk dirinya,
dengan sebuah pengorbanan yang luar biasa. Belum hilang rasa
kagetnya Con Tho kembali dikejutkan kejadian di depan
matanya. Ternyata tangan kiri Huyen tumbuh kembali, seperti sedia
kala.
“Con Tho, keadaan sudah aman. Sekarang
pulanglah. Lain kali berhati-hatilah. Jangan memisahkan
diri dari kelompokmu. Semoga kamu selalu dalam keadaan
aman.” Huyen berpesan untuk keselamatan Con Tho.
“Terimakasih Huyen. Aku takkan pernah melupakan
kebaikanmu.” Kelinci pun segera pulang menuju kawanannya dengan
berlari sangat kencang.
Sementara itu Con Ho yang sedang berada di sarangnya,
merasakan nikmatnya daging manusia. Dalam benaknya terlintas, betapa
mudah mendapatkan makanan. “Sebaiknya aku mencari makan dengan cara
ini. Aku tidak harus lelah mengejar mangsa. Sedikit
berbohong tak engapa. Toh Huyen tak akan tahu kebohonganku.”
Keesokan harinya, Con Ho merancang cerita bohong pada
Huyen. Ia datangi Huyen, sang pertapa, dengan harapan ia akan
mendapatkan potongan tangan kanannya.
“Huyen, hari ini aku ingin mencari makan dan aku mendapati
kelinci di tengah hutan ini. Tapi aku ingat tawaranmu kemarin. Apakah
kau akan menukar nyawa kelinci itu dengan tangan kananmu?”
Huyen tahu bahwa harimau itu berbohong. Akan
tetapi ia tidak ingin banyak berbicara dengan Con Ho. Diberikannya
tangan kanan pada harimau. Harimau segera menyambar tangan kanan Huyen
dengan sangat senang. Segera dibawanya tangan itu menuju sarang
untuk disantap. Ia merasa berhasil memerdaya Huyen.
“Pertapa bodoh. Mau saja dia aku bohongi.” Con Ho
membatin.
Semua yang Con Ho dapatkan tidak membuatnya merasa
puas. Dia pikir kalau Huyen sudah kehilangan kedua tangannya, maka
dengan akan mudah Huyen menjadi mangsa empuknya.
Keserakahan Con Ho yang sudah merasakan lezatnya daging
manusia segera menuju gua untuk menerkan Huyen. Sesampai di mulut
gua, Con Ho membulatkan tekat untuk menerkam Huyen. Ia nekat
menerobos masuk.
Betapa terkejutnya Con Ho, tangan pertapa itu masih
utuh. Namun nafsu untuk menikmati daging manusia sudah tidak
terbendung lagi. Con Ho mengerang, mengaum dengan
ganasnya. Terjadilah pertempuran seru.
“Rasakan cakaran mautku, Huyen!” Con Ho menyerbu
dan menyerang Huyen. Dengan lih ai Huyen membalas cakaran itu dengan
sabetan tongkat sakti miliknya.
Alih-alih dapat melumpuhkan Huyen, justru harimau itulah yang
banyak mendapatkan goresan luka.
“Huyen, ampun. Aku mengaku
kalah. Kaulah pemenang dari pertarungan ini. Maafkan
kejahatanku selama ini.” Con Ho tergolek lemas penuh luka.
“Baiklah, aku menerima permintaan maafmu. Tetapi
jangan sekalikali kau ulangi perbuatan licik, curang dan khianat
ini. Aku akan merawat lukamu sampai sembuh.”
Demikianlah kemuliaan hati Huyen. Ia dengan sabar
mengobati luka Con Ho hingga sembuh. Bekas pukulan dan luka
pada tubuh harimau membentuk garis belang. Hingga
kini terdapat jenis harimau berbulu loreng atau belang.
HIKMAH:
1. Jadilah
hamba Allah SWT yang penyayang dan lembut hati. Barang siapa yang
menyayangi apa yang ada di bumi maka akan menyayanginya apa yang di langit
2. Raihlah
keinginan dengan kejujuran bukan kebohongan, karena dusta adalah salah satu
dosa besar dan ciri manusia munafik.
3. Jadilah
kesatria dan petarung sejati yang tidak mengenal kata takut dan mudah menyerah
karena selalu ada jalan bagi setiap pejuang.
FAKTA
ILMIAH
Harimau
dalam system taksonomi tergolong dalam:
Kingdom:
Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mammalia, Ordo: Carnivora, Famili: Falidae,
Genus: Panthera, Spesies: Panthera tigris atau Felis
tigris.
Harimau
adalah jenis kucing terbesar bahkan lebih besar daripada
singa. Mungkin ukurannya sama dengan singa tapi massanya lebih
besar. Massa harimau jantang bisa mencapai 180-320 kg, sedangkan
betinanya berkisar 120-180 kg. Panjang harimau jantan
antara 2,6-3,3 m sedangkan betinanya 2,3-2,75 m.
Pada ordo karnifora, harimau menduduki tempat ketiga terbesar
setelah beruang kutub dan beruang coklat.
Ada
perbedaan yang tidak banyak diketahui, bahwa harimau lebih gemar berenang
daripada kucing. Bahkan ucing cenderung takut air.
Motif
bulu harimau adalah variasi loreng coklat terang dan hitam
REFERENSI:
- https://id.wikipedia.org/wiki/Harimau/17/3/2019
- https://ahadwahyudh.wordpress.com/2014/06/02/asal-usul-harimau-berkulit-belang/17/3/2019
- http://www.artinama-bayi.com/20100/nama-namapopulerdi-Vietnam/23/4/2019
LEGENDA KE-6
LEGENDA BUAH SEMANGKA
(VIETNAM)
Di Vietnam,
kita mengenal adanya Festival Tet, yaitu festival tahunan dimana orang-orang
memakan semangka dan bijia-bijiannya di sepanjang jalan.
Nah, festival
ini tidak lepas dari legenda berikut ini!
Berabad-abad
lalu, badai melintasi Vietnam. Badai menyapu
pepohonan. Cabang-cabang dan ranting-rantingnya beterbangan,
jatuh. Atap istana tersapu hingga rontok berkeping-keping.
Di lautan
pun gelombang menggulung tinggi. Perahu-perahu nelayan segera
merapat ke tepi pantai. Akan tetapi ada satu perahu yang
terperangkap dalam badai. Lambung kapal terantuk karang, berputar mengikuti
badai.
“Turunkan
layar! Turunkan layar!” Komando mahkoda pada awak
kapal. Semua penumpang kalut dan panic dalam suasana yang tidak
menguntungkan ini.
Untung tak
dapat diraih, malang tak dapat ditolak, lambung kapal bocor. Air
memasuki kapal, cepat menerobos ke dalam dan penumpang makin panik.
“Bagaimana ini!
Celaka! Kita semua akan tenggelam dan mati bersama! Tuhan ampuni
kami! Sial kita akan mati di sini sekarang juga!” Teriakan riuh
rendah saling bersahutan, penuh keputusasaan.
Akan tetapi hal
ajaib yang terjadi. Sebuah keranjang berisi bayi yang baru lahir ada
satu lepas dari pusaran badai, menuju tepi pantai. Bayi
itu terdampar di sana.
Seorang istri
nelayan sedang berjalan di tepi pantai, di pagi itu.
“Ya, Tuhan,
benarkah pendengaranku? Sepagi ini ada suara bayi menangis?” Puong
Anh, nama wanita itu terheran-heran.
Didekatinya
sumber suara itu, ternyata sesosok bayi mungil. “Ya, Tuhan, bayi ini sungguh
ajaib. Dari pakaiannya pastilah dia anak orang aya. Aku
akan menghadiahkannya pada raja. Semoga ada hadiah yang bisa aku
terima.”
Puong Ahn
menghadap raja. Raja terlihat begitu bahagia dengan hadiah dari
rakyatnya itu,” Benakah bayi ini telah selamat dari badai dengan keajaiban?”
“Benar Paduka,
hamba dapati bayi ini di tepi pantai sehari setelah kabar hilangnya kapal yang
diterpa badai”
“Kalau begitu,
aku mau membesarkannya. Bayi ini pastilah bayi ajaib. Dan
akan au beri nama Pangeran Mai An Tiem.
Pangeran Mei An
Tiem tumbuh menjadi seorang pemuda yang masyhur. Luas wawasan dan
dalam ilmu pengetahuannya. Kebijaksanaan dan kepahamannya pada
keinginan raja membuatnya sering dimintai nasihat oleh dewan kerajaan.
Di usia dua
puluh tahun Pangeran Mei menikah dengan salah satu putrid raja yang bernama
Putri Co Ba. Pesta pun diadakan dengan semeriah mungkin.
Ternyata
kebahagiaan dan kemeriahan ini tidak dinikmati oleh pangeran Hau, putra kandung
raja yang dilanda iri dengki pada Pangeran Mei An Tiem. Muncullah
rencana busuk terhadap Mei An Tiem.
“Aku harus
meyakinan semua orang bahwa Mei An Tiem adalah seorang yang jahat, penghianat,
anak angkat yang tak tahu diuntung.” Rencana ini berlanjut dengan
menyuap orang-orang istana agar menyebarkan kabar bohong, bahwa Pangeran Mei An
Tiem adalah pemuda yang sombong, angkuh, gila kuasa dan akan mengudeta raja.
Suatu ketika
kepala kerajaan menghadap raja dan berusaha memfitnah Pangeran Mei An Tiem,
”Paduka, adalah sebuah keharusan untuk mewaspadai Pangeran Mei An
Tiem. Beliau telah menyusun rencana bahkan menggerakkan pasukan
untuk merebut kerajaan ini dari Paduka.”
“Aku sangat
paham keadaan menantuku itu, jangan kau coba merusak namanya di depanku.”
“Paduka, jangan
sampai Paduka menyesal dan menunggu pasukannya makin kuat. Hamba
punya bukti.” Dipanggilnya beberapa orang prajurit yang dibayar
tinggi untuk mengaku bahwa mereka diberi imbalan besar untuk menyerang
kerajaan.
Mendengar semua
kesaksian itu, raja terpengaruh juga. Maka ia pun memanggil Pangeran
Mei An Tiem dan Putri Co Ba.
“Anak tak tahu
diuntung. Kamu aku asuh dari kecil ternyata menginginkan
tahtaku. Mulai saat ini aku usir kau dari negeri
ini. Pergilah bersama kapal yang akan membawamu meninggalkan
kerajaan ini.”
Pangeran Mei An
Tiem tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sementara Putri Co
Ba memilih untuk mengikuti suaminya.
“Ayahanda,
lebih baik aku mati daripada harus terpisah dari Kanda Mei. Sampai ke ujung
dunia pun aku akan tetap mendampinginya.
Akhirnya mereka
menaiki kapal yang disediakan kerajaan. Kesedihan yang mencoba
ditahan oleh Sang Raja adalah perpisahan dengan dua orang yang sangat disayangi
dan diyakini kebaikannya.
Perjalanan
mengarungi samudra pun mereka jalani. Hingga mereka terdampar di
pulau yang subur namun sunyi. Dalam kesunyian itu, mereka mensyukuri
segala yang mereka dapatkan meskipun dengan segala susah
payah. Sangat berbeda dengan kehidupan di istana yang serba mewah
dan mudah.
Mereka terbiasa
setelah berhari-hari belajar mengambil buah dari pepohonan, mencari ikan di
sungai, memanjat tebing untuk meraih buah matang di tepi sungai curam. Sesekali
Putri Co Ba mengimpikan bisa kembali ke istana. Akan tetapi
kenyataan membuat mereka pasrah.
Suatu sore,
Pangeran Mei An Tiem sedang berjalan di tepi danau. Dilihatnya dua
ekor burung sedang bertengkar memperebutkan beberapa biji hitam. Ia
meleraikan burung itu sebelum mereka bertarung. Burung-burung itu
terbang ke angkasa.
“Benih apa yang
mereka perebutkan ini? Baiklah akan aku tanam. Semoga akan
tumbuh menjadi tanaman bermanfaat.”
Hari berganti
pekan, pekan berganti bulan, benih tumbuh menjalar menjadi tumbuhan yang tak
biasa yang akhirnya berbuah. Saat dirasa telah masak, mereka memetik
buah berkulit hijau bermotif loreng itu.
“Hemmmm, betapa
lezatnya buah ini.” Putri Co Ba menikmati buah itu sambil
membayangkan dirinya hadir di istana raja.
“Ayahanda pasti
akan bahagia kalau turut merasakan buah terlezat ini.” Pangeran Mei
An Tiem memiliki ide untuk mengirim biji-biji hitam semangka itu. Ia
pun mencari ide bagaimana supaya Sang Raja dapat turut menikmati semangka dan
sekaligus tahu bahwa semangka itu hadiah darinya.
Diputuskannya
untuk menghanyutkan biji semangka itu. Dengan mengambill bagian dagingnya ia
membuat sampan kecil dari kulit semangka. Biji semangka diletakkan
dalam sampan itu. Di bagian luar kulit ia menulis damanya bersanding
dengan nama Putri Co Ba.
“Dengan nama
Tuhan, semoga hadiah ini sampai pada ayahanda.”
Demikianlah
rasa cinta yang tulus pada Pangeran Mei An Tiem, hanyut bersama biji hitam
semangka.
Beberapa ari di
laut, akhirnya kulit semangka itu ditemukan. Sungguh bukan kebetulan
kalau yang menemukannya Puong Ahn, istri nelayan yang juga penemu bayi
ajaib. Segera Puong Ahn yang telah mulai renta itu mengambil sampan
kecil itu dan menyerahkan pada raja.
Baginda raja
menerima hadiah itu dengan penuh rasa rindu. “Aku tahu ini hadiah
yang ingin kalian persembahkan untukku. Aku akan
menanamnya. Jika benih ini baik, aku sendiri yang akan mencari dan
menjemput kalian.” Sang raja berjanji pada dirinya
sendiri. Ia tak mampu menahan rasa cinta dan rindu di hatinya.
Benar saja,
biji-biji itu ditanam dan dipelihara dengan baik di kebun
kerajaan. Dalam beberapa bulan, buah semangka ranum telah siap
dipetik. Raja begitu ingin tahu rasa buah yang belum pernah
dijumpainya itu. Tanpa ragu dan bimbang karena keyakinan atas cinta
kedua orang anaknya, Sang Raja memakan buah itu.
“Luar biasa
lezatnya buah ini, aku harus menepati janjiku. Mencari dan menjemput
Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba kembali ke istana.”
Kisah ini
berakhir dengan pertemuan mengharukan antara Sang Raja dengan Pangeran Mei An
Tie dan Putri Coba. Kedatangan mereka disambut dengan pesta semangka
yang mereka sebut Festival Tet hingga kini. Sementara itu Pangeran
Hau yang merasa malu telah mencelakai Pangeran Mei An Tiem, menyingkir jauh
dari kerajaan.
HIKMAH:
1. Keluhuran budi akan mendatangkan cinta, asih dan sayang yang
tetap akan dikenang hingga akhir hayat
2. Kerendahan hati untuk slalu menolong dan berbuat baik pada
akhirnya akan melahirka cinta
3. Janganlah rasa iri dengki menghilangkan kasih sayang dan
melahirkan permusuhan
4. Cobalah untuk bahagia saat orang lain bahagia dan bersedih saat
orang lain menderita
5. Tetaplah gigih dalam keadaan apapun, karena Allah akan selalu
membagikan jalan keluarNya
6. Buanglah dendam dengan mencoba memaafkan maka kemenangan akan
menghampiri kita
FAKTA ILMIAH:
Semangka merupakan tanaman buah. Memiliki tubuh merambat
namun bukan merupakan stolon. Berdaun lebar, berbunga terompet.
Buahnya yang besar mengingatkan kita pada labu.
Semangka memiliki urutan taksonomi sebagai berikut: Kingdom Plantae,
Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Curcubitales,
Famili Cucurbitaceae, Genus Citrullus dan
Spesies Citrullus lanotus.
Kandungan gizinya sangat banya, antara lain energy 30 kkal dalam
100 gram. Karbohidrat 7,55 g, gula 6,2 g, serat 0,4 g, lemak 0,15 g,
protein 0,61 g, air 91,45 g. Selebihnya berupa vitamin A, B1,
B2,B3, B5, B6, B9,dan vitamin C.
Kandungan mineralnya meliputi Kalsium, Besi,
Magnesium, Fosfor, Kalium, dan Zink.
REFERENSI:
1. https://wikipedia.org/wiki/Semangka/17/3/2019
2. https://tridharma.or.id/sekolah-minggu-tridharma-asal-usul-datangnya-buah-semangka-ke-Vietnam/17/3/2019
3. http://www.arti-nama-bayi.com/17/2/2019
LEGENDA KE-7
TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR
(TIMUR LESTE)
Dikisahkan
secara turun temurun, bahwa sebelum Timor Timur muncul sebagai pulau, terdapa
pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di pulau itu hiduplah dua pemuda
yang memiliki sifat sangat berlainan. Sebut saja namanya Rauk dan
Mere. Meskipun mereka bersahabat, tetapi memeka punya karakter yang
sangat berbeda.
Rauk
Mao adalah pemuda yang pemberani dan cenderung nekat. Kesukaannya dalam
berburu dan berpetualang seringkali tidak mengindahkan nasihat dari
siapapun. Sementara Mere masih mau memegang pesan dari
“Rauk,
aku suka dengan kegemaranmu berburu. Bahkan aku sangat tersemangati
dengan keberanianmu. Tapi tolong kau jangan berburu buaya
lagi.” Mere Lisboa mengingatkan sahabatnya yang selalu melanggar
pesan para tetua di pulau yang mereka diami.
“Mere,
aku sudah berhasil menahlukkan semua binatang di pulau ini. Komodo,
ular, kuda liar, banteng. Semuanya. Hanya satu yang
sangat ingin aku tundukkan. Buaya dan rasa lezat
dagingnya.” Rauk membanggakan dirinya dengan penuh kesombongan.
“Terserah
kamu, Rauk. Tapi tolong jangan kau buru buaya itu di depan mataku.”
Mereka pun
berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan
pulang, Mere memilih untuk berbalik arah. Ia berfirasat bahwa Rauk
akan kembali memburu buaya saat ini juga. Rauk akan terus mengikuti
keinginannya dan tidak akan pernah menyerah sebelum keinginannya terpenuhi.
Sesampainya
di tepi danau tempat buaya-buaya itu tinggal, betapa terkejutnya Mere melihat
seekor buaya meronta-ronta.
“Tolong,
aku terperangkap!!” Buaya itu menggelepar-gelepar karena mulutnya
terjepit bamboo.
“Tidak
salah lagi bambu ini milik Rauk.” Ternyata Rauk memasang jerat
dengan membelah bambu, membukanya dengan kayu penahan pada ujungnya sementara
di tengah dan meletakkan sebongkah daging ayam segar.
“Aduh,
buaya, pasti kamu kesakitan terjepit perangkap ini. Tenanglah, aku
akan menolongmu.” Mere membuka jepitan bambu besar itu dengan sekuat tenaga.
Buaya
terlepas dan dapat bernafas lega. Ia berjanji akan bersahabat dengan
Mere. Sejak saat itu mereka
begitu karib. Kemana pun buaya itu pergi, ia selalu
menawarkan diri untuk membawa Mere berkelana mengarungi danau, bahkan samudra. Mere
memanggil Aya pada sahabat barunya itu
“Terima
kasih sahabat, dengan kebaikanmu, aku bisa menikmati keindahan
lautan. Tidak ada satu pun pantai yang belum aku singgahi selama
persahabatan kita, Aya,” ungkap Mere jujur.
“Kebaikanku
belum seberapa bila dibandingkan dengan selamatnya nyawaku dari jepitan bambu
beberapa tahun lalu.” Aya mengucapkan rasa berhutang budinya pada
Mere.
Suatu
ketika mereka tiba di sebuah pulau asing. Di pulau asing itu, Mere
berjumpa dengan seorang gadis. Rasa suka pada gadis itu membuat Mere
meminang dan menikahinya. Buah dari kasih sayang mereka, lahirlah
anak-anak Mere.
Meskipun
Mere sudah tidak sendiri, Aya tetap setia membawa keluarga itu
kemanapun mereka mau. Hingga tibalah waktu yang sangat tidak mereka
inginkan. Perpisahan!
“Mere,
aku sudah tua. Aku tidak akan kuat lagi membawa kalian
sekeluarga kemana pun kalian pergi.” Aya berucap sedih.
“Jangan
berkata begitu, Aya. Katakanlah kita akan terus bersama, walaupun
kau tidak lagi membawa kami mengarungi samudera, kami rela.
“Tiada
ada yang bisa melawan ajal. Tenanglah, aku tidak akan pernah
meninggalkan kalian. Di waktu terakhirku, aku akan membawa kalian ke
tengah samudera. Diantara dua pulau besar dan gugus pulau kecil yang kita
tempati ini, aku akan berhenti. Saat jiwaku pergi, jasadku akan
menjadi tempat abadi kalian.”
Mereka
pun menuju samudera yang dimaksud oleh Aya. Saat jiwa Aya pergi,
tubuhnya terbujur kaku, perlahan tubuh itu melebar menjadi sebuah pulau yang
mirip dengan buaya. Pulau itu dinamakan Pulau
Timor. Letaknya yang berada di bagian timur melengkapi namanya,
Timor Timur
HIKMAH:
1. Tetaplah
berbuat baik, karena kebaikan akan selalu membuahkan kebaikan selanjutnya
2. Saling
berterimakasih akan melahirkan keharmonian dalam kehidupan, saling memberi dan
menerima
3. Barang siapa
menyayangi apa yang ada di bumi maa akan menyayanginya para penduduk langit,
maka saling berkasihsayanglah.
FAKTA ILMIAH:
Timor
Timur berdiri pada tanggal 17 Juli 1976 dan dibubarkan pada tanggal 19 Oktober 1999. Memilih
terpisah dari Indonesia melalui referendum saat pemerintahan Presiden BJ.
Habibie. Resmi sebagai negara merdeka pada 20 Mei 2002, setelah
menjadi provinsi ke-27 bersama Indonesia.
Selama 23 tahun
bersama Indonesia, Gubernur yang bertugas adalah Arnaldo dos Reis Araujo
(1976-1992) dan Jose Abilio Osorio Soares (1992-1999)
Dijajah
oleh Portugal selama 450 tahun, kesejahteraan dan pembangunan tidak
diperhatikan oleh pemerintah Portugal. Atas usulan dari
partai politik APODETI dan UDT, Timor Timur ingin bergabung dengan Indonesia
pada 28 November 1975. Karena ada sebagian partai yang berhaluan
kiri, FRETELIN tidak ingin bergabung dengan Indonesia, maka ABRI melakukan
tindakan pengamanan terhadap potensi pertikaian pada 7 Desember 1975.
Meskipun
dianggap invasi, Indonesia tidak pernah memperlakukan Timor Timur sebagai
daerah jajahan, bahkan banyak pembangunan yang diprioritaskan ke provinsi
termuda tersebut. Dalam pidatonya saat memperingati dua tahun
integrasi Timor Timu di Gedung DPRRI, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Timor
Timur adalah saudara yang hilang dan telah kembali pada pangkuan ibu pertiwi.
REFERENSI:
1. http://daonlontar.blogspot.com/2013/04/mitologi-asal-usul-pulau-timor-timur.html/17/3/2019
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Timor_Leste/17/3/2019
LEGENDA KE-8
LEGENDA SELAT SUNDA DAN GUNUNG KRAKATAU
(INDONESIA)
Pada
jaman dahulu, Sumatra dan Jawa masih bersatu. Raja yang berkuasa bernama
Prabu Rakata. Prabu Rakata dikenal sebagai seorang yang adil dan
bijaksana.
Usianya
yang makin senja, membuatnya berniat menyerahkan kekuasaan pada dua orang
putranya.
“Putraku, Nak
Mas Raden Sundana dan Raden Tapabaruna, Prabu
Rakata. Ayahanda sudah makin sepuh dan banyak hal yang aku rasakan berat
memimpin negeri ini.” Prabu Rakata memulai perbincangan dengan dua
putranya di peraduan.
“Ampun
Ayahanda, Ananda rasa Ayahanda masih cukup kuat dan sangat dibutuhkan oleh
rakyat,” kata Raden Sundana. Sementara Raden Tapabaruna hanya diam dengan
keluhan Sang Prabu.
“Bagaimanapun
kalian sudah dewasa. Jangan sampai saat ajal menjemput, kalian tidak siap
menerima amanat kepemimpinan yang aku tinggalkan.”
Pembicaraan
serius ini membuat Sang Prabu memanggil beberapa orang dekat di istananya.
“Wahai
para pembantuku, orang-orang yang setia padaku juga pada kerajaan. Aku
memanggil kalian untuk suatu keputusan besar dan sangat penting. Aku
membutuhkan pendapat kalian tentang kepemimpinan yang harus aku serahkan pada
dua putraku. Usiaku makin uzur, sudah saatnya aku mendekatkan diri pada
Yang Kuasa.”
Semua
mendengarkan titah raja dengan seksama. Perundingan pun berlanjut dengan
musyawarah serius tentang masa depan kerajaan.
Akhirnya
tibalah saatnya Sang Prabu mengumumkan keputusan yang dimufakati para petinggi
kerajaan.
“Sudah
tiba saatnya aku mendekatkan diriku pada Yang Maha Kuasa. Aku akan
melakukan uzlah dan suluk di Sang sisa usiaku. Maka aku serahkan dua
wilayah besar kerajaan ini. Wilayah timur untuk Raden Sundana dan wilayah
barat untuk Raden Tapabaruna.”
Keputusan
raja disambut dengan riuh rendah suara rakyat. Ada yang suka ada juga
yang kecewa bahkan ada yang tidak terlalu mempermasalahkan siapa raja
wilayahnya nanti. Semua sesuai dengan rasa kecintaan mereka pada
masing-masing pangeran kerajaan.
Sang
Prabu akhirnya berangkat menyendiri. Dia hanya ditemani satu benda
kesayangannya yaitu guci. Beberapa tahun di tempat uzlahnya, Sang Prabu
mendengar kabar bahwa kedua putranya terlibat perang besar.
“Sudah
aku duga, saat aku masih ada pun sampai hati mereka berbuat hal yang
mengecewakanku. Pengawal, aku harus melakukan sesuatu.” Prabu
Rakata berucap geram. Murkanya kali ini tak dapat ia tahan.
Apakah
yang dilakukan Sang Prabu Kemudian?
Sang
Prabu mengisi penuh guci kesayangannya dengan air laut. Ia bersama
pengawal menemui kedua putranya.
Demi
mendengar Sang Prabu hendak pulang menemui mereka, mereka melakukan
kesepakatan.
“Kang
Mas, aku tidak akan menghentikan peperangan ini, seandainya ayahanda tidak
berniat untuk pulang. Aku berhenti bukan berarti kalah. Ini semua
aku lakukan untuk menghibur ayahanda prabu.”
“Baik
Dimas, aku aan menerima tantanganmu itu, tunggu sampai ayahanda berangkat.
uzlah kembali.”
Keduanya
tidak menyadari bahwa Sang Prabu telah kembali dan mendengar perbincangan
mereka.
“Kalian
sangat mengecewakanku. Aku perintahkan kalian pulang dan berdiri di
wilayah masing-masing!!!”
Kedua
putra raja itu pun mundur dengan pasukannya masing-masing. Penyebab
peperangan itu ternyata perebutan daerah perbatasan yang kaya akan emas.
Sang
Prabu segera memberikan pelajaran pada kedua putranya.
“Baiklah,
aku akan sirami wilayah sengketa ini dengan air laut di guci ini.
Kekayaan dunia yang telah membuat anak-anakku berperang akan sirna.” Sang
Prabu Rakata membenaman guci kesayangannya, dan sesuatu yang luar biasa
terjadi. Guncangan dahsyat membelah daerah sengketa itu menjadi
dua. Air laut yang disiramkan Sang Prabu mencari jalan menuju asalnya,
membuat jalan air laut menggenangi daerag gempa itu.
Akhirnya
dua wilayah barat dan timur itu pun terbelah sempurna. Guci yang ditanam
itu berubah menjadi gunung. Untuk mengenang pemilik guci itu, mereka
menamakannya sebagai Gunung Krakatau.
HIKMAH:
1. Janganlah kecintaan pada dunia, ambisi akan
kekayaan dan keduniaan menghilangkan persaudaraan dan rasa kemanusiaan
2. Perselisihan diantara saudara akan membekaskan
rasa sakit pada kedua orang tua, maka selalulah hidup rukun penuh kedamaian
3. Jadilah pemimpin yang adil karena ditangan
pemimpin yang adil, rakyat akan selamat. Sebaliknya bila pemimpin tidak
adil dan bijak, banyak yang akan menjadi korbannya.
FAKTA ILMIAH:
Krakatau
tergolong dalam gunung kaldera, memiliki ketinggian 813 m. Terletak di
Selat Sunda, antara Jawa dan Sumatera.
Anak
Krakatau 'lahir' pada 11 Juni 1927, sekitar 40 tahun setelah letusan paling
dahsyat di bulan Agustus tahun 1883. Komposisi magma basa Anak Krakatau muncul
di pusat kompleks Krakatau. Anak Krakatau sudah berada di level kedua sejak
2012. Pada pertengahan 2018 Anak Krakatau kembali bererupsi aktif dan letusan
terakhirnya terjadi pada tanggal 22 Desember 2018.
Erupsi
Krakatau 1883 dikatakan sebagai erupsi terkuat yang terekan sejarah dan masuk
dalam Gueness Book of Record dengan nilai VEI (Volcanic Explosivity Index)
terbesar dan daya rusak terhebat dalam sejarah peradaban
manusia. Letusannya terdengar hingga 4600 kilometer dan letusannya
terdengar oleh 1/8 penduduk bumi, abu vulkaniknya tersebar dalam radius 550
km. Asapnya mencapai ketinggian 11 km. Meninggalkan bekas kaldera
bawah laut sedalam 250 m dan lebar 7km. Gelombang Tsunami yang
ditimbulkan setinggi 30m, menjangkau Port Elizabeth Afrika
Selatan. Amukannya terjadi selama 20 jam 50 menit, menghilangkan 162
desa dan menelan korban jiwa sebanyak 36417 jiwa. Kekuatan ini
dinilai 21574 kali lebih hebat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki.
Meskipun
letusan ini tampak dahsyat, ternyata Krakatau Purba jauh lebih
dahsyat. Tertulis dalam teks Jawa Kuno berjudul Pustaka Raja Parwa,
di tahun 416 M, Gunung Krakatau Purba memiliki etinggian 2000 m di atas
permukaan air laut, dengan lingkaran pantai 11 km.
Digambarkan
bahwa ledakan selama 10 hari dengan muntahan 1 juta ton perdetik berasal dari
Gunung Batuwara (Gunung Krakatau Purba). Guncangan menakutkan terus
terjadi, angin, bujan dan gelombang laut begitu menakutkan, dunia menjadi
gelap. Pulau Jawa terpisah menjadi dua bagian yaitu Sumatra dan
Jawa. Demikian menurut buku Pustaka Raja Parwa. Akibat
lain dari ledakan ini adalah musnahnya beberapa peradaban di bumi ketika itu,
antara lain Persia Purba, suku-suku India di Amerika. Temperatur
bumi turun hingga 5-100 dalam 10-20 tahun
REFERENSI:
1.
https://www.tanahnusantara.com/legenda-selat-sunda-sekilas-kisah-gunung-krakatau/17/3/2019
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau/17/3/2019
LEGENDA KE-9
KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH
(INDONESIA)
Di daerah Pegunungan Bumberi,
Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, hiduplah seorang perempuan tua kita
sebut saja dia Meina, bersama seekor anjing penjaga. Anjing ini juga menemani perempuan tua untuk berburu di
tengah hutan.
Suatu ketika persediaan makanan Meina
habis. Mereka merasa lapar dan mulai untuk berburu. Di
tengah perburuan mereka, Meina menemukan buah merah dan diberikannya pada
anjing betina yang menemaninya itu.
“Dinga, ini ada buah merah. Makanlah! Kamu
pasti lapar, bukan?”
Di luar dugaan ternyata setelah memakan buah merah,
Dinga mengalami perubahan pada dirinya. Perubahan ajaib karena
tiba-tiba perusnya membesar. Ada janin yang bergerak-gerak pada
perutnya. Dinga pun melahirkan seekor anjing mungil.
“Aku ingin hamil dan melahirkan anak sepertimu,
Dinga.”
Meina kemudian memakan buah merah. Benar
saja, perut Meina mengalami perubahan. Membesar dan bergerak-gerak
menendang dinding rahimnya. Ia bergegas pulang dan melahirkan
sesosok bayi laki-laki mungil.
“Aku akan memberimu nama Kweiya.”
Kweiya tumbuh menjadi remaja yang baik lagi
rajin. Ia sangat sayang pada ibunya. Setiap hari ia
sanggup bekerja keras memerah keringat demi ibunya tercinta.
“Ibu, aku akan menyiapaka kebun sayur untuk kita.”
“Bagaimana bisa Kweiya, kita tidak punya
ladang. Selama ini aku hanya mencari makanan di hutan.”
“Ibu aku akan menebang hutan dan membuat ladang untuk
kita Tanami,” ungkap Kweiya meyakinkan.
Kweiya berangkat ke hutan, menebang pohon dengan sabar.
Ia membakar tetumbuhan yang ditebangnya.
Asap tebal membubung tinggi, sehingga menarik perhatian
seorang pengail ikan di sungai. Pengail ikan itu mencari sumber
asap. Ternyata seorang pemuda tampan sedang bekerja keras menyiapkan
lahan di hutan itu.
“Selamat siang, anak muda! Siapa kamu dan
mengapa kamu tebang pohon dan tumbuhan di hutan ini?” tanya pria tua.
“Aku Kweiya. Aku sedang membantu
ibuku menyiapkan ladang untuk menanam sayur dan bebijian.”
“Kamu tentulah seorang anak yang baik lagi
berbakti. Aku ingin memberikan hadiah ini untuk
keluargamu. Semoga bisa bermanfaat dan berkah di tangan anak serajin
kamu. Tapi tolong rahasiakan pemberianku ini pada siapapun termasuk
ibumu,” lanjut Pak Tua.
“Terimakasih, Pak Tua,” ungkap Kweiya sambil menerima
kapak besi pemberian Pak Tua.
Dengan kapak besi itu Kweiya meneruskan
pekerjaannya. Sesuatu yang ajaib terjadi. Kweiya dapat
menebang pohon-pohon itu dalam waktu sekejap. Ia pulang dengan
riang, memberi kabar pada ibunya bahwa kebun sudah siap.
Ibunya terheran-heran dengan kemampuan Kweiya dan
menanyakan kelebihannya itu. Kweiya tetap merahasikan kapak besi itu
dan hanya mengatakan bahwa saat menebang pohon dan menyiapkan kebun, tangannya
terasa ringan.
Keesokan harinya Kweiya bermaksud membalas budi baik
Pak Tua dengan mengundangnya makan bersama.
“Ibu, tolong masakkan aku makanan yang lebih banyak
dari biasanya,” pinta Kweiya tanpa banyak mendapat pertanyaan dari
Sang Ibu.
Dengan tetap merahasiakan kisahnya tentang Pak Tua,
Kweiya membungkus Pak Tua dengan batang tebu berdaun kebat dan meletakkannya di
depan rumah.
Rasa lelah dan haus memanggul Pak Tua bersama batangan
tebu, Kweiya meminta ibunya mengambilkan sebatang tebu pembungkus Pak
Tua. Betapa kagetnya Meina saat melihat ada seorang pria tua di
dalam gulungan batang tebu itu. Kweiya akhirnya berterus terang
bahwa Pak Tualah yang membantunya menyiapkan kebun. Pak Tua
bermaksud menikahi ibunya, maka Kweiya memohon kesediaan ibu untuk menikah.
Pernikahan berlangsug dengan baik. Tuhan
mengaruniakan dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Sangat
disayangkan dua adik lelaki Kweiya memendam iri dengki karena mereka merasakan
kasih sayang yang berbeda dari Sang Ibu. Puncaknya, kedua adik
laki-laki Kweiya menyerang dan mencelakai Kweiya saat bekerja di kebun.
Kweiya tidak membalas, bahkan memaafkan kedua adiknya.
Rasa sedih yang dalam membuat Kweiya memutuskan untuk
memintal kulit binatang. Ia bermaksud membuatnya menjadi bulu sayap
untuk terbang meninggalkan dua adiknya yang jahat.
Saat pintalan selesai, disisipkannya pintalan itu pada
ketiaknya, Kweiya berubah menjadi burung cantik dengan bulu penuh
warna. Ia terbang meninggalkan keluarganya.
Ibu merasa sedih ditinggal Kweiya. “Kweiya
pulanglah, Nak. Ibu tak ingin kau tinggalkan.”.
Ternyata Kweiya ada di atas atap rumah, ia
memberitahukan bahwa pintalan kulit untuk ibu masih ada dan terselip di paying
tikar.
“Ibu, ambillah pintalan kulit yang aku tinggalkan untuk
ibu. Apit pada ketiak Ibu, maka Ibu akan berubah sebagaimana aku.”
Meina memakaikan pintalan itu di ketiaknya
dan ia berubah menjadi burung yang cantik pula.
Meskipun tidak secantik bulu Kweiya yang menjadi
Cenderawasih jantan. Meina mengikuti Kweiya meninggalkan keluarga
itu.
Tinggallah Pak Tua dan tiga anaknya. Mereka
saling menyalahkan satu sama lain. Pertengkaran tak dapat
dihindarkan.
“Gara-gara kalian, kita kehilangan ibu dan
kakakmu. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan
kalian.” Pak Tua tak bisa menahan marahnya.
Mereka saling melempar abu perapian. Tiba-tiba
tubuh mereka berubah menjadi burung dengan bulu yang kusam dan tak seindah bulu
burung Cenderawasih tergantung baik dan buruknya sifat masing-masing.
Demikian kisah terjadinya burung Cenderawasih dari
Fakfak Papua.
HIKMAH:
1. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, maka Tuhan akan
membukakan jalan keberuntungan yang tidak kalian duga
2. Menjaga rahasia adalah perbuatan yang berat, kejujuran adalah
obatnya
3. Hindarkan dari iri dengki, ia adalah sumber permusuhan dan
malapetaka
4. Kesabaran akan embawa kebaikan bahkan menjanjikan
keberuntungan. Sementara sifat pemarah menjadi bibit pertengkaran
dan melahirkan penyesalan.
FAKTA ILMIAH:
Cinderawasih sering juga di sebut Paradise Bird karena
keindahan bulunya. Penyebarannya banyak di Indonesia Timur, terutama
Papua. Cenderawasih termasuk dalam tipe burung Astronesia
Taksonomi burung Cenderawasih adalh sebagai
berikut: tergolong dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata,
Kelas Aves, Ordo Passeriformes dan Famili Paradisaeidae. Seentara
itu turunannya tergolong dalam Genus Paradisaea dan
Spesies Paradisaea sp.
Salah satu spesies yang unuk adalah Cenderawasih
kuning-besar, yang memiliki nama ilmiah Paradisaea apoda (Cenderawasih
tanpa kaki). Spesimen ini dibawa ke Eropa dala sebuah ekspedisi
dagang dengan terlebih dahulu diambil kakinya. Maka munculah spesies
tanpa kaki ini. Mereka menganggap burung ini ajaib dari surga dan
akan terus terbang tanpa hinggap karena tidak memiliki kaki.
REFERENSI:
1. http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/300-Asal-Usul-Burung-Cenderawasih/10
Maret 2019
2. https://histori.id/legenda-asal-usul-burung-cendrawasih/10 Maret
2019
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Burung-burung_Cenderawasih/10 Maret
2019
LEGENDA KE-10
ASAL USUL GEMPA BUMI
(JEPANG)
Kisah
ini muncul dari satu daerah yang dulu bernama Edo dan dikenal dengan
nama Tokyo hingga saat ini. Tentu hampir semua orang mengenal Tokyo
sebagai ibu kota negara Jepang.
Nah,
ada sesuatu yang menarik untuk kita simak tentang asal mula kejadian gempa
bedasarkan legenda versi rakyat Jepang. Ayo, kita simak!
Dulu
kala di daerah Edo, hidup seorang yang kaya raya. Ia senang mengundang
warga untuk berpesta pora. Nama orang itu Eito yang bemakna orang yang makmur.
Kemakmuran
Eito tidak lepas dari peran Dewa Kashima. Kashima merupakan dewa
penjaga seekor lele besar yang bernama Namazu. Ia menahan Namazu
dengan batu agar tidak bergerak. Sekali saja Dewa Kashima lengah
dalam menjaga maka lele raksasa ini akan menggoyang bumi.
“Namazu,
tetaplah kamu dalam keadaanmu. Jangan sekalipun kamu bergerak
kecuali aku perintahkan untuk memberi pelajaran pada para pendurhaka. Aku akan
melihat tingkah laku manusia ,” ungkap Kashima suatu ketika.
“Baiklah
aku akan menuruti apa perintahmu, Dewa Kashima,” jawab Namazu.
Kashima memeriksa perilaku manusia. Dari
kejauhan terdengar suara riuh rendah pesta pora di satu titik di tengah kota
Edo.
“Ayo,
silahkan kalian habiskan hidangan ini. Tambah lagi
sakenya.” Eito berkeliling melayani tamu-tamu
istimewanya. Semua tenggelam dalam kemewahan pesta.
“Tenang
Tuan Eito, perut kami cukup lapar untuk menampung semua makanan dan minuman
ini.” Salah satu tokoh penting di kampung itu menimpali.
Tanpa
disadari oleh Eito dan para tamunya, hadir sesosok pria tua menuju pesta
itu. Ia menyelinap ke tengah kerumunan tamu pesta
undangan. Pakaiannya yang compang-camping, embuat para tamu
menyingkir menjauhinya.
“Kenapa
kamu datang kemari. Ini bukan tempat untukmu. Sungguh
menjijikkan!” hardik seseorang berkimono biru.
Keributan
itu akhirnya membuat Eito bangkit dari kursi kebesarannya. Dengan
sombongnya, ia berkacak pinggang dan berteriak. Ia sengaja
melakukannya untuk disaksikan oleh semua tamu undangan, bahwa ia tidak enyukai
kehadiran pria tua itu.
“Hai,
tamu tak diundang. Kamu telah menggangguku dan semua
tamuku. Pergi sekarang juga. Kalau tidak, tak segan-segan
aku menyuruh orang-orangku untuk mengusir.”
“Maafkan
tuan hamba hanya memerlukan sedikit makanan untuk engganjal perutku yang telah
lama tidak terisi barang sesuap nasi ataupun minuman.” Pria tua berucap
memelas.
“
Itu bukan urusanku. Mengeluhlah pada Tuhanmu tapi jangan
padaku. Makananku bukan untuk manusia miskin dan sial sepertimu.”
Saat
orang kanan Eito mendekati pria tua. Tiba-tiba pria itu
menghilang. Hanya terdengar suara menggema dari langit-langit tempat
pesta.
“Namazu,
aku dapati banyak orang sombong di sini. Bergeraklah kamu, biar mereka
merasakan akibat kesombongan mereka.” Kashima menggeser batu penindih Namazu.
Tiba-tiba
bumi yang mereka pijak berguncang keras.
“Ampun
Namazu, ampun Namazu. Kami tidak akan sombong lagi. Kami
akan berbagi pada ereka yang miskin.” Mereka menyebut nama Namazu,
nama yang mereka dengar dari suara gaib itu. “Wahai yonaoshi
daimyojin, perbaiki keadaan kami. Kaulah Namazu Dewa Perbaikan Bumi,
jangan kau teruskan kemarahanmu!”
Teriakan
orang-orang itu tidak menghentikan gerak Namazu. Semua bangunan retak
dan rata dengan tanah. Sementara warga yang sedang pesta lari
tunggang langgang menyelaatkan diri mereka masing-masing dari himpitan bumi.
HIKMAH:
1. Jangan Pernah sombong atas kenikmatan yang kita
terima, karena semua dari Allah SWT
2. Gunakanlah nikmat itu untuk berbagi pada sesama,
saling menolong dan membantu bukan dijadikan alasan untuk menghardik dan
mencemooh
3. Sifat kikir dan pelit mendatangkan murka Allah SWT
dan bencana, sebaliknya, sedekah dapat menolaknya
FAKTA ILMIAH:
Gempa bumi erupakan getaran yang terjadi di permukaan
bumi akibat dari pelepasan energy dari dalam bumi secara tiba-tiba sehingga
menimbulkan gelombang seismic. Gempa bisa disebabkan oleh gerakan lempeng
bumi (tektonik) atau desakan magma pada peristiwa letusan gunung berapi
(vulkanik)
Gempa bumi diukur dengan menggunakan seismometer yang
merekam getaran dan menggambarkannya dalam grafik yang disebut
seismograph. Moment Magnitudo merupakan ukuran besarnya gempa atau lebih
dikenal dengan satuan Scala Richter, dimana 1 SR=5 MM.
Berdasarkan penyebabnya ada berbagai jenis gempa bumi:
Gempa bumi tektonik
Gempa bumi vulkanik
Gempa bumi runtuhan
Gempa bumi tumbukan
Gempa bumi buatan
Berdasarkan kedalamannya:
Gempa bumi dalam (hiposentrum lebih dari 300 km di
bawah permukaan bumi)
Gempa bumi menengah ( hiposentrum antara 60 km-300 km
dalam kerak bumi)
Gempa bumi dangkal (hiposentru kurang dari 60 km)
Berdasarkan kecepatannya:
Gempa bumi primer (kecepatan gelombangnya 7-14 km/s)
getaran berasal dari hiposentrrum
Gempa bumi sekunder (kecepatan antara 4-7 km/s)
dimana getarannya tidak dapat merambat melalui lapisan cair
REFERENSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi/15 Maret 2018
https://en.wikipedia.org/wiki/Namazu_(Japanese_mythology)/15 Maret
2018
http://www.personal.psu.edu/faculty/g/j/gjs4/Shaking_Up_Japan.pdf/11
Maret 2018
https://www.anehdidunia.com/2015/11/mitos-asal-usul-gempa-bumi.html/10 Maret 2018
LEGENDA KE-11
ASAL MULA NAGA
(CINA)
KISAH:
Di
sebuah pedesaan yang asri, dikelilingi perbukitan , diantara bukit
–bukit itu terhampar padang rumput yang luas, tinggallah seorang pemuda yang
teramat rajin. Ia senang membantu ibunya, pemuda itu
bernama Liong Yu.
Tinggal
berdua dalam rumah sederhana tidak membuat mereka hilang
kebahagiaan. Liong Yu dan ibunya melewati hidup dengan kasih sayang.
“Liong
Yu, makan dulu. Ini ibu memasak makanan kesukaanmu.” Ibu
menyodorkan hidangan kesukaannya.
“Ibu
saja yang makan, aku sudah makan di rumah Hieun Tse. Dia mengadakan
pesta hari ini.”
“Ayolah
Liong Yu, makanan itu juga hasil keringat kamu. Ibu menukar beras
dengan sekerat daging untuk kari ini.”
Liong
Yu tidak bisa menolak ajakan ibunya. Keduanya tampak harmonis
tinggal di rumah kecil itu
Keseharian
Liong Yu diisi dengan bekerja mencari rumput untuk Hieun Tse, petani kaya
dengan banyak lahan dan ternak.
“Liong
Yun, ini beras untuk upah kerja kerasmu hari ini.” Hieun Tse
memberikan sekantung beras yang cukup untuk makan hari ini dan menukar
sebagiannya dengan lauk pauk.
“Terima
kasih, Tuan Hieun Tse,” balas Liong Yu. Liong Yu pulang
dengan riang. Begitulah hari-hari dilaluinya dengan mencari rumput,
pulang, menyerahkan hasil merumputnya dan beristirahat.
Suatu
ketika, negeri itu dilanda kekeringan. Hujan tak mau menyapa hingga
beberapa tahu. Akhirnya rerumputan pun kering.
Liong
Yu kebingungan hendak mencari rumput ke mana., sementara persediaan beras dan
bahan makanan di rumahnya hampir habis. Liong Yu tidak mau menyerah,
ia terus berjalan mencari rumput. Hingga pandangannya menyambangi
hamparan rumput hijau di balik bukit.
“Luar
biasa, ternyata di sini masih ada rumput hijau. Aku akan mengambil
rumput di sini tiap hari.” Liong Yu mulai merumput dan….. “Benda apa
ini. Indah sekali, berkilauan dan penuh warna.” Liong Yu
mengan bil benda seperti manik-manikitu dan membawanya pulang.
Di
rumahnya, ia tidak menyampaikan manik-manik yang ditemukannya pada sang
ibu. Ia menyimpannya pada wadah beras upah kerjanya.
Saat
Liong Yu hendak menuangkan beras upahnya ke dalam kendi, ia
terheran-heran. Karena kendinya penuh terisi
beras. Diamatinya keajaiban yang terjadi di rumahnya itu.
“Aku
yakin. Manik-manik ini yang membuat berasnya tak habis
bahkan bisa dinikmati banyak orang.” Liong Yu mulai memenghadiahkan
beras itu pada warga. Ia tidak lagi mencari rumput untuk Hieun
Tse. Warga pun merasa senang kecuali para petani dan juga Hieun Tse.
Hieun
Tse mulai kebingungan dengan ternaknya yang kelaparan. Ia membujuk Liong Yu
untuk tetap merumput dengan upah yang lebih besar.
“Ayolah,
Liong Yu. Tetaplah merumput untuk sapi-sapiku. Aku akan
memberimu upah lima kali lipat dari biasanya.”
“Tidak
Tuan, saya sudah lelah bekerja. Saya kini bisa dengan mudah
mendapatkan beras. Bahkan saya bisa membagikan beras itu untuk warga
yang kesusahan selama musim kering ini.
Dalam
perbincangan itu akhirnya, rahasia tentang manik-manik terbongkar
juga. Hieun Tse berminat untuk membelinya dengan harga yang sangat
mahal.
“Aku
akan merelakan semua lahan pertanian, ternak dan rumah saya, asalkan kau mau
menyerahkan manic-manik itu.”
“Tidak
Tuan, manik-manik itu telah melepaskan saya dari segala kesulitan hidup.”
Hieun Tse pulang dengan rasa kecewa. Dalam hatinya
ia berniat untuk mencuri manik-manik itu.
Malam
harinya, Hieun Tse menyatroni rumah Liong Yu. Ia mengendap-endap
masuk kamar yang sempit itu. Tanpa sengaja Hieun Tse menginjak
sesuatu yang menimbulkan suara gaduh.
Liong
Yu terbangun dan kaget dengan sosok bertopeng. Dari perawakannya ia
yakin bahwa sosok itu adalah Hieun Tse.
“Tuan
Hieun Tse, untuk apa Tuan kemari. Apa hanya sekedar mendapatkan
manic-manik itu?”
“Berikan
manik-manik itu padaku atau jiwamu akan terancam.” Hieun Tse
mengarahkan senjata pada Liong Yu.
“Baiklah,
Tuan. Tapi permintaan saya, janganlah Tuan celakai
saya.” Liong Yu menuju kendi tempat penyimpanan beras.
Tiba-tiba
Liong Yu berpikir, bahwa dengan menelan manik-manik itu dan semua
akan baik-baik saja.
Di
luar dugaannya, manik-manik itu bergolak dan menimbulkan
rasa pana yang luar biasa pada tubuh Liong Yu. Rasa haus tidak dapat
ditahannya. Liong Yu lari menuju sungai dan danau kemudian meminum
semua airnya. Tapi rasa haus itu tidak juga hilang bahkan rasa haus
makin menjadi. Bara api tersembur dari mulut Liong Yu disertai
perubahan bentuk dan wujudnya.
Liong
Yu menjadi seekor binatang besar berkaki empat, Berkepala ular
dengan rumbai-rumbai dan sisik yang memenuhi
tubuhnya. Dengan keadaan yang mengerikan itu, warga mengusirnya
menjauhi kampung dan menjadi seekor ular naga.
Hingga
saat ini, orang-orang Cina menyebut ular naga dengan kata Liong atau Lung.
HIKMAH
1. Jadikan kerja keras menjadi semangat
hidup untuk bisa bertahan dalam keadaan mudah maupun susah, karena tiap tetes
keringatlebih berharga di sisi Allah SWT daripada hasil dari tetesan keringat
itu sendiri
2. Janganlah terlena dengan sesuatu yang bisa
dengan mudah kita dapatkan.
3. Kadang mendapatkan sesuatu tanpa banyak
pengorbanan membawa risiko besar di luar perkiraan kita..
FAKTA ILMIAH:
Dalam
khazanah ilmu keislaman, naga merupakan makhluk ghaib yang memiliki tugas
menjaga istanaIiblis. Bahkan ular naga berkolaborasi dengan Iblis
untuk memerdaya Adam dan Hawa. Iblis memasuki surge dengan
bersembunyi di mulut ular naga. Ular naga digambarkan sebagai ular
yang berbentuk semacam unta berkaki empat namun berpenampilan cantik.
Sebagian
orang menganggap bahwa Komodo adalah wujud yang paling dekat dengan ular
naga. Ada beberapa alasan orang berpandangan
demikian. Komodo merupakan reptile tertua bahkan masuk dalam
binatang purba yang masih ada di muka bumi sejak jutaan tahun yang
lalu. Komodo memiliki kulit bersisik dan tergolong binatang buas
yang dapat memakan mangsa melebihi berat badannya dan bertahan tidak makan
dalam beberapa pekan. Kecepatan menangkap mangsa pun cukup fantastis
untuk seekor roptil, 29 km/jam.
Nah, sampai saat ini umumnya naga dianggap sebagai binatang
mitos. Naga adalah reptile berkaki empat seolah kadal raksasa, akan
tetapi memiliki sayap, dapat terbang dan bisa menyemburkan api dari mulutnya.
Masing-masing
negara memiliki imajinasi yang beragam tentang naga ini. Oleh karena
itu penamaan dan gambaran wujudnya beraneka ragam. Di inggris naga
mendapat julukan dragon, di Skandinavia, namanya draken sedangkan di Cina
disebut Liong atau Lung.
Sebagai
contoh tentang keunikan imajinasi tentang naga ada di masyarakat Dayak
Kalimantan. Naga adalah binatang di bawah air atau tanah yang
bertumbuh tambun, bersisik semacam ular dan memiliki kaki empat.
REFERENSI:
1. https://nulis.babe.news/baca/0cc0e2/pandangan-islam-tentang-ular-naga/21/2/2019
2. https://mocomi.com/international-folk-tales-how-the-dragon-came-to-be/21/2/2019* dengan translasi dan perubahan
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Naga/21/2/2019
4. https://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/03/160312_vert_earth_komodo/21/2/2019
LEGENDA
KE-12
BARONGSAI
DAN TAHUN BARU CINA
(Cina)
Berabad-abad yang lalu, Cina masih didominasi oleh
daerah pedesaan. Mereka hidup tenang damai sebagai
petani. Musim semi hingga musim panas tiba adalah saat mereka
bertanam, sedangkan musim gugur adalah masa panen. Musim dingin
adalah saat jeda mereka dari bertani dan digunakan untuk
istirahat. Persediaan panen merega gunakan memenuhi kebutuhan di
musim itu.
Yang dicemaskan oleh penduduk desa adalah hadirnya
Nian, makhluk jahat yang mengganggu mereka setiap musim dingin tiba.
“Inilah saat yang aku tunggu, musim
salju. Aku akan memasuki desa dan mendapatkan mangsaku.”
Nian selalu bersiap keluar dari persembunyiannya untuk
menakuti warga dengan lima tanduk tajam di kepalanya. Cakar tajam di
tangan, juga gigi yang siap mencabik siapapun yang ditemuinya. Aumannya
dan hentakan kakinya lebih menyeramkan dari binatang buas
manapun. Kaki besarnya siap menginjak rumah dan meratakannya dengan
tanah. Bila dijumpai ada manusia maka ia akan menyantapnya bak ayam
mengais cacing kesukaannya.
Warga pedesaan pun selalu berusaha lari menghindar atau
bersembunyi ke tempat yang di rasa aman.
“Ampun, Nian. Jangan kau mangsa
aku. Aku akan memberikan apa saja yang kamu suka asal jangan aku dan
keluargaku.” Seseorang yang sudah berada di depan mulut nian tak
bisa berkutik dan akhirnya tewas. Mengerikan sekali.
Banyak diantara warga yang mengunci rumahnya. Berdoa
memohon perlindungan dari yang Maha Berkuasa. Bila rumah itu
tidak terinjak oleh Nian maka mereka selamat dari Nian. Mereka
berteriak,” Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat!”
Nama Nian ini diberikan oleh warga sebagai penanda
tahun baru. Nian artinya tahun. Kedatangan Nian yang
muncul sekali dalam setahun membuat orang-orang berniat
melawannya. Dengan berbagai cara dan strategi yang mereka musyawarahkan
bersama. Tentu untuk merumuskan langkah penakhlukan terhadap Nian.
“Kita usir ramai-ramai Nian saat dia
muncul.” Salah satu peserta musyawarah berjubah hitam mengusulkan.
“Kalau hanya diusir, ia akan datang
lagi. Sebaiknya kita bunuh saja dia. Dan kita aman
selamanya,” Si Jubah Kuning menyahut.
“Bagaimana akan aman bila kita membunuhnya, sedangkan
Nian adalah utusan Tuhan. Bisa-bisa Tuhan akan memberikan hukuman
yang lebih pedih untuk kita,” tukas Si Jubah Hijau.
Pertemuan tidak menghasilkan keputusan dan kata
sepakat. Beruntunglah hadir seorang guru yang bijaksana menenangkan
suasana. Namanya Guru Zhao.
“Tidak mungkin Nian itu utusan Tuhan. Tuhan
Maha Melindungi, Maha Kasih-Sayang. Dia tidak mungkin mengutus
makhluk untuk membunuh dan berbuat keji pada kita. Percayalah Nian
adalah makhluk jahat yang menjadi ujian bagi kita siapa yang mau berjuang
menegakkan kebenaran, keadilan dan menjaga nikmat hidup dari
Tuhan.” Guru Zhao menasihati warga dengan bijak. Tampaknya,
warga dapat memahami nasihat Guru Zhao dan muncullah keberanian melawan Nian.
“Betul kata Guru Zhao, kita harus melawan
Nian. Sudah banyak keluarga kita menjadi korban. Juga
rumah dan harta benda kita dirusaknya,” ungkap warga bersahutan.
Musyawarah berlanjut, mengumpulkan informasi, data dan
pendapat dari seluruh warga. Terutama pengalaman warga dalam
mengusir Nian.
“Aku pernah membunyikan petasan saat
Nian datang. Dia langsung kabur dan menghindar dari
tempat kami.” Seorang warga berjubah coklat mengungkap pengalamannya.
“Kalau aku lain lagi, saat Nian datang, aku sedang
memakai ikat pinggang merah. Dia ketakutan sambil menunjuk jari
tangan berkuku panjangnya kea rah ikat pinggangku.” Si Jubah Biru menimpali.
“Aku rasa Nian akan takut dengan semua benda berwarna
merah. Beberapa tahun lalu aku memasang lampu dan aku balut dengan
kain merah. Ia tak mau mendekati rumah kami,” tambah seorang pria
bertubuh kekar.
Semua menganggukkan kepala, kegirangan seolah menemukan
apa yang menjadi kelemahan Nian.
“Nah, kalau pengalamanku, aku bersama kelompok tari
Barongsaiku menabuh gong dan tambur bertalu-talu. Nian tidak
mendekati tempat kami dan kamipun selamat,” jelas seorang pemuda desa.
“Syukurlah, pertemuan kita kali ini banyak membawa
berkah dan faedah. Jadi bisa disimpulkan bahwa Nian menakuti warna
merah, tari Barongsai dan segala bunyiannya juga suara memekakkan telinga dari
petasan. Menjelang tahun baru yang tinggal beberapa hari ini, kita
harus menyiapkan perlawanan pada Nian. Semua orang harus memasang
lampion bertutup kain merah di rumahnya. Lalu kau anak muda, siapkan
kelompok Barongsaimu lengkap dengan gong dan tambur yang
mengiringinya. Satu lagi siapkan petasan sebanyak mungkin untuk
memekakkah telinga Nian.”
Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan melawan
Nian. Di sela-sela kesibukan panen pada musim gugur, warga desa
menyiapkan semua yang telah disepakati. Lampion-lampion yang mereka
bungkus kain hitam menghiasi rumah tiap rumah. Menimbulkan keindahan
yang tak biasanya.
Hari-hari yang mendebarkan tiba. Mereka
menunggu Nian keluar dari persembunyiannya. Benar saja, begitu muncul sosok
mengerikan itu, penduduk desa membunyikan petasa. Kelompok Barongsai
menari dan membunyikan petasan. Suara menjadi gegap gempita malam
itu.
Nian terkaget-kaget dengan segala hal tidak
menyenangkan di depannya. Hampir saja Nian pingsan
dibuatnya. Sebagian warga yang sudah siap dengan jerat, tombak,
pedang, panah dan senjata tajam lainnya tidak mau kehilangan kesempatan terbaik
menghabisi petualangan Nian.
“Aduh!!! Tolong jangan kalian binasakan
aku. Aku akan datang dengan kawan-kawanku yang lain bila kalian
mencelakaiku.” Nian mengerang kesakitan.
Tidak ada jalan lain kecuali Nian melarikan diri dari
tempat itu. Dia seakan trauma dengan derita yang dialami malam
itu.
Warga pun berteriak kegirangan merayakan kemenangan
mereka,”Gong xi! Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat! Selamat!”
Sejak saat itu, Barongsai, lampion merah, tabuhan gong
dan tambur serta bunyi petasan selalu memeriahkan tahun baru Cina.
HIKMAH:
1. Tidak
ada utusan Tuhan yang berbuat kemungkaran dan penzaliman, maka hilangkan
prasangka baik pada mereka yang berbuat di luar keadilan
2. Guru
adalah seseorang yang berilmu dan berakhlak sehingga dengan kebijaksanaannya ia
dapat berbuat banyak untuk sesama
3. Musyawarah
meraih mufakat membawa keberkahan dan manfaat
4. Persatuan
kesatuan menjadi kunci perbaikan dan perubahan signifikan untuk kepentingan
bersama
5. Hindarkan
penzaliman karena ia akan kembali pada si pelaku kezaliman itu.
FAKTA:
Barongsai adalah tarian tradisional Cina yang mulai
muncul pada Dinasti Chin, abad ke-3 sebelum masehi. Dilestarikan
hingga popular pada Dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei), pada tahun 420-589
Masehi. Kostum yang digunakan memiliki wajah singa dengan warna
beraneka ragam. Kostum ini di dipakai bersama oleh dua
orang untuk mewakili empat kaki singa. Di Cina Barongsai memiliki dua
versi. Versi utara dengan kostum singa bersurai ikal, sementara
versi selatan, kostum bersisik dan bertanduk sehingga lebih menyerupai naga.
Tari Barongsai di Indonesia sempat marak bersama
perkumpulan Tiong Hoa Koan hingga meletusnya G30S-PKI. Sejak
peristiwa itu Cina tertekan secara budaya dan ideology tapi tidak secara
ekonomi. Sejak reformasi, budaya ini dimunculkan
kembali. Begitu juga dengan tradisi perayaan tahun
baru Cina yang kita kenal dengan IMLEK.
IMLEK sebagai peringatan tahun baru Cina menjadi hari
terpenting di Cina. Mereka memperingati pergantian selama setengah
bulan. Terhitung dari tanggal satu hingga pertengahan bulan, saat
bulan purnama. Tradisi peringatannya beraneka ragam
dan telah bergeser dari tradisi awal Cina. Pesta
kembang api lebih mendominasi daripada Barongsai dan peledakan petasan . Akan
tetapi pemasangan lampion merah justru lebih digunakan untuk menarik
keberuntungan dan dipajang sepanjang tahun oleh sebagian masyarakat Tionghoa.
REFERENSI:
1. https://reeleks.wordpress.com/2009/11/04/asal-usul-Barongsai/21/2/201
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Barongsai/21/2/2019
3.
https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek/21/2/2019
LEGENDA KE-13
TERBENTUKNYA DANAU TOBA, KARENA JANJI YANG TERINGKARI
(INDONESIA)
Di daerah Sumatra Utara, pada zaman dulu, hiduplah
seorang anak bernama Toba. Daerah tempat tinggal Toba merupakan
dataran rendah, daerah lembah yang subur. Ditanami apapun, lembah itu
akan menumbuhkan tanaman yang menjadi rejeki untuk penduduknya.
Bukan itu saja, kesejahteraan masyarakat juga
tertopang dari aliran sungai yang jernih dan penuh dengan ikan.
“Aku akan mengail ikan sore ini, mana tahu
rejekiku banyak dan melimpah dari hasil memancing ikan,” gumam Toba seorang
diri.
Sekian lama Toba melempar umpan diujung kailnya,
tapi tak satu pun ikan ia dapati. Diliputi perasaan putus asa, Toba
putuskan untuk berhenti memancing.
“Mungkin bukan rejekiku dari mengail ikan kali ini. Sungguh
aneh, padahal aku lihat ikan banyak berenang-renang di sungai ini.”
Suatu keanehan terjadi. Tiba-tiba saat
hendak menarik kailnya, ada terasa ikan yang kuat menarik kailnya.
“Syukurlah, akhirnya aku dapat juga ikan
besar. Meskipun hanya satu ikan ini melebihi tangkapanku
sebelumnya.” Hati Toba benar-benar riang mendapatkan ikan emas
sebesar itu, “Aku akan makan besar malam ini.” Toba membawa ikannya
dalam karung dan dipanggulnya.
Alangkah terkejutnya Toba. Sesampai di
rumah, ikan yang ditangkapnya itu berubah menjadi kepingan uang logam emas
dan…..
“Siapa gadis yang ada dalam kamarku
itu? Mengapa tiba-tiba ia ada dalam kamarku?” Toba ragu
untuk memasuki kamar dan menanyakan siapa gadis itu. Akan tetapi
rasa penasaran mendera. Paras cantik gadis yang sedang menyisir
rambutnya itu mengusik hati Toba.
“Siapa sebenarnya kamu?” tanya Toba hati-hati
“Aku penjelmaan dari ikan emas yang kau bawa dari
sungai itu. Dan kepingan uang logam emas itu sisik-sisikku.”
Wanita yang sangat cantik itu membuat Toba jatuh
cinta. Maka saat itu juga Toba melamarnya untuk dijadikan istri.
“Aku tidak keberatan Kakanda, tapi dengan satu
syarat, Kakanda tidak boleh mengungkit ataupun membicarakan asal-usulku, pada
siapapun.”
“Apapun syaratnya akan aku ikuti, asal kamu mau
jadi istriku.”
Dengan prosesi yang sederhana, menghadirkan dua
saksi dan wali hakim sebagai wali nikah, pernikahan itu berjalan khidmat dan
lancar. Mereka pun hidup sebagai suami istri penuh kebahagiaan.
Buah cinta mereka adalah seorang anak laki-laki
yang tampan dan manis, mereka berinama Samosir. Samosir tumbuh
sebagai seorang remaja yang dapat disuruh oleh ibunya. Suatu hari
ibunya menyuruh Samosir membawakan makanan untuk ayahnya di ladang.
“Samosir, bawakan makanan ini untuk makan ayahmu
di ladang. Kasihan ayah, pasti dia sudah lapar menunggu makanan
ini. Jangan sampai lambat, kamu harus segera menyampaikan bekal ini
untuk ayah!” Demikianlah perintah Ibu Samosir.
“Baik, Bu.” Samosir segera
berangkat. Akan tetapi di tengah perjalanan, rasa lapar begitu
menggoda. Samosir berniat mengganjal perut dengan bekal untuk
ayahnya itu. Tapi karena godaan yang kuat dan rasa enaknya makanan,
membuatnya hanya menyisakan sedikit makanan untuk ayahnya.
Toba sudah tidak bisa menahan rasa laparnya dan
berniat untuk pulang. Di tengah jalan, didapatinya anaknya, Samosir
membawakan makanan untuknya.
“Kamu lama sekali mengantarkan makanan buat
Ayah? Sini wadah makanannya!” Toba mengambil tempat
makanan untuknya dengan rasa marah. Apa lagi ketika dibuka, makanan
itu tinggal tersisa sedikit saja.
Samosir mulai menyadari kesalahannya dan menunduk
takut.
“Dasar anak ikan!” hardik Toba pada
anaknya. Suara hardikan itu seakan bergema memenuhi
langit. Sampai-sampai Istri Toba pun mendengarnya.
Istri Toba merasa perjanjian itu dilanggar sendiri
oleh Toba, ia pun marah. “Kamu telah melanggar sumpah dan perjanjian
kita. Samosir pergilah kamu ke tempat yang
tinggi. Sebentar lagi akan datang banjir bandang dengan air bah yang
besar.”
Samosir lari menuju suatu tempat yang
tinggi. Sementara Istri Toba menghempaskan dirinya ke dalam
sungai.
Tiba-tiba terjadi banjir bandang
besar. Air itu membekaskan genangan yang sangat besar dan luas yang
dikenal dengan danau Toba. Pulau yang ada di tengah danau, menjadi
tempat tinggal bagi Samosir dan dinamai pulau Samosir.
HIKMAH:
1. Jagalah hati dari rasa amarah yang bisa membuat
tindakan kita tidak terkendali
2. Menjaga lisan adalah bagian dari keselamatan di
dunia dan akhirat. Karena kesalahan ucap dari lisan dapat memutuskan
hubungan baik dan menjadi sebab masuknya manusia dalam neraka
3. Peganglah janji-janji kita karena janji adalah
hutang
FAKTA ILMIAH
Danau merupakan badan air di
darat sehingga ia menjadi bagian dari wilayah
daratan. Berdasarkan faktor pembentukannya ada berbagai macam
danau. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Terjadinya letusan gunung berapi
sehingga disebut danau vulkanik. Yaitu adanya letusan gunung berapi
yang menghasilkan cekungan yang dapat menampung air dan terbentuklah
danau. Faktor ini dapat dikatakan alami atau terjadi tanpa campur
tangan manusia.
2. Adanya kegiatan penambangan, yaitu
pengambilan logam atau material bermanfaat lainnya yang menyisakan cekungan di
permukaan bumi. Cekungan ini dapat menampung air dan terbentuklah
danau. Faktor ini melibatkan campur tangan manusia sehingga
tergolong danau tidak alami
3. Kesengajaan membuat danau
sehingga disebut danau buatan. Yaitu danau yang
direncanakan dengan matang pembuatannya karena alasan tertentu, misalnya:
untuk dijadikan tempat wisata, membuat penampungan dan cadangan air untuk
berbagai keperluan seperti irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dll.
Salah satu danau alami penting di Indonesia adalah
danau Toba. Ukuran Danau Toba, panjang 100 km, lebar 30 km dan
kedalaman 505 m, membuat danau ini menjadi danau vulkanik terbesar di Indonesia
bahkan di dunia. Ianya terbentuk pada kaldera gunung berapi
super. Letaknya ada di wilayah Provinsi Sumatra Utara, berada pada
ketinggian 900 m dpl.
Analisa para ahli terhadap pembentukannya adalah
sbb:
-Sekitar 69000-77000 tahun yang lalu terjadi
kekuatan ledakan besar dari gunung berapi super massif. Kekuatannya
mencapai 8 VEI (Vulcanic Explosivity Index), merupakan letusan
terbesar yang pernah terjadi di bumi dalam 25 juta tahun, sehingga
mengakibatkan perubahan iklim global
REFERENSI:
https://gelut.com/misteri/misteri-dan-asal-mula-danau-toba/
https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Toba
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/danau/danau
LEGENDA-14
DUA EMPU PEMBANGKANG, ASAL USUL GUNUNG MERAPI
(INDONESIA)
Kisah ini turun temurun diwariskan
bak dongeng pengantar tidur. Karena umur legenda ini cukup lama,
maka banyak diwarnai dengan agama dan budaya yang berkembang saat
itu. Tidak heran bila kisahnya diwarnai dengan kepercayaan pada
banyak dewa (politeism)
Untuk menambah khasanah kekayaan imajinasi kita, yuk kita simak legenda
terbentuknya Gunung Merapi ini.
***
Konon, Pulau Jawa ini awalnya dalam
kondisi miring. Tentu saja kondisi ini tidak nyaman untuk dihuni
manusia. Para dewa di kayangan pun mulai mendiskusikan keadaan ini.
“Aku ingin membuat Pulau Jawa
ini rata dan tidak miring seperti yang kalian saksikan di bawah sana,” kata
Batara Guru, tetua para dewa menyampaikan keresahannya.
Maka terjadilah diskusi serius yang
menghasilkan sebuah kesimpulan akan perlunya penyeimbang di tengah pulau
tersebut. Keputusan yang diambil para dewa adalah dengan meletakkan
sebuah gunung di tengahnya. Kali ini gunung yang akan dipindahkan
adalah Gunung Jamurdipa yang terletak di Pantai Selatan ke daerah perbatasan
Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.
“Wah, ternyata daerah yang akan kita pakai untuk memindahkan gunung ini
ditempati oleh dua empu sakti.” Para dewa mengeluhkan kesulitan yang
mereka hadapi. Untuk mengatasi kesulitan ini diutuslah dua Dewa,
yaitu Batara Narada dan Dewa Penyarikan.
“Kami mengutus kalian berdua untuk menemui Empu Rama dan Empu
Pamadi. Mereka membuat keris langsung di atas paha dengan tangan
mereka. Inilah yang membuat Pulau Jawa makin
miring. Bujuklah mereka untuk pindah dari sana,” perintah Batara
Guru.
Batara Narada dan Dewa Penyarikan segera menemui dua empu itu.
“Wahai Empu Rama dan Empu Pamadi, kami mendapat amanah dari Batara
Guru. Kami akan memindahkan Gunung Jamurdipa ke tempat kalian
membuat keris ini. Maka sebagai penghormatan pada kalian, para dewa
meminta kalian meninggalkan tempat ini, Supaya kalian tidak
tertindih Gunung Jamurdipa,” kata Batara Narada.
“Terimakasih atas kedatangan kalian, tapi kami hanya akan mendapatkan keris
yang berkualitas bila mendapatkan bahan dan membuatnya di
sini.” Empu Rama menjelaskan alasan mereka membuat keris itu pada
tempat di tengah Pulau Jawa ini.
“Tapi akibat perbuatan kalian, Pulau Jawa makin miring dan akan terus bertambah
miring. Ini sangat berbahaya buat keseimbangan dan kenyamanan
penghuninya.”
“Kami tetap tidak akan pindah dari sini apapun yang terjadi.” Empu
Pamadi menegaskan satu hal yang akan berakhir dengan pertempuran antara
keempatnya.
Merekapun terlibat pertempuran sengit. Masing-masing mengeluarkan
jurus andalannya. Empu Rama dan Empu Pamadi dengan keris-keris
pusaka buatan mereka sendiri mampu membuat Batara Narada dan Dewa Penyarikan
kewalahan.
“Rasanya pertempuran ini harus kita sudahi, kalau tidak kita bisa
celaka.” Dewa Penyarikan mengeluhkan keterdesakan dari pihak dewa.
“Sebaiknya kita kembali ke kayangan dan melaporkan keadaan
ini.” Batara Narada memutuskan untuk kebali ke kayangan meskipun
dengan tangan kosong.
Setiba di kayangan dan menemui Batara Guru, mereka melaporkan sifat keras
kepala dari dua empu di tengah Pulau Jawa itu.
“Mereka tidak bisa dikasih penghormatan. Kita beritahu baik-baik
malah melawan. Kita tidak usah perhitungkan lagi nasib
mereka. Aku putuskan pemindahan Gunung Jamurdipa tetap
dilakukan. Dewa Bayu, segera tiup Gunung Jamurdipa dari Pantai
Selatan.” Batara Guru memerintahkan tanpa bertimbang rasa lagi.
“Sendika dawuh, Batara Guru, saya akan segera melaksanakan
perintah.” Dewa Bayu yang menguasai angin segera memerintahkan
tentaranya untuk mengangkat Gunung Jamurdipa. Dalam sekali tiup, gunung itu
menimpa tempat kedua empu.
Mereka tewas tertimpa tanah hempasan Gunung Jamurdipa. Sementara
perapian pembuatan keris tetap menyemburkan api panas membara, menimbulkan
kawah pada puncaknya. Gunung itu pun mendapat sebutan Merapi yang
bermakna tempat perapian.
Pada kenyataannya, Gunung Merapi menjadi gunung paling aktif di Pulau Jawa
bahkan Indonesia.
HIKMAH:
1. Hendaklah kita
mementingkan keselamatan alam lingkungan dalam rangka berakhlak pada alam
sebagai sesame makhluk Tuhan.
2. Hendaklah kita mementingkan
keselamatan bersama, sesama insane dalam rangka berakhlak pada sesama manusia.
3. Keinginan berada pada zona aman
dan nyaman kadang membuat manusia enggan berhijrah walaupun itu diperintahkan
oleh Allah SWT dan RasulNya. Maka mengambil hikmah dari perintah
hijrah akan meringankan langkah. Sesungguhnya hijrah adalah dakbus
salihin untuk mencari maslahat, kebaikan dan memperbaiki keadaan.
FAKTA ILMIAH:
Sebenarnya tahapan terbentuknya
Gunung adalah sbb:
1. Terjadinya akumulasi
sedimen, lapisan-lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk hingga kedalaman
beberapa kilometer.Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi.
2. Sedimen pada langkah
pertama pembentukan gunung, mengalami deformasi karena gaya kompresi dari
tumbukan antar lempeng tektonik.
3. Pengangkatan kerak bumi
akibat gerakan blok sesar. Tumbukan antarlempeng akan mengangkat sebagian kerak
bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung.
Bagian yang mengalami tarikan akan merenggang dan terjadilah graben yang
membentuk lembah
Gunung Merapi memiliki ketinggian
puncak di atas 2.930 meter dpl, terletak di tengah Pulau Jawa, sebagai gunung
api paling aktif. Berada di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa
Tengah. Kabupaten Magelang di sisi baratnya, Boyolali di sisi utara
dan timur, Yogyakarta dan Sleman di sisi selatan, serta Klaten di sisi
tenggara. Sejak 2004, bagian puncaknya dijadikan Taman Nasional
Gunung Merapi.
Terhitung dari tahun 1548, Gunung
Merapi meletus lebih dari 68 kali. Bahkan dalam setahun dapat
meletus dua hingga lima kali. Oleh karena itu, Merapi menjadi gunung
yang sangat berbahaya. Meskipun demikian, wilayah pemukiman penduduk
mencapai ketinggian hingga 1700 m, hanya berjarak 4 km dari
puncaknya. Nah, Gunung Merapi dengan tingkat kepentingan yang
tinggi ini, termasuk dalam proyek Decade Volcanoes
Terakhir letusan Merapi hingga
tulisan ini dibuat, terjadi pada tanggal 24 Mei 2018 dengan ketinggian kepulan
asap hingga 6000 m, hujan abu menyebar kea rah barat hingga Kebumen sepanjang
jarak 40 km.
Bagian puncak merapi tidak ditumbuhi
vegetasi apapun. Vegetasi Merapi di bagian teratas didominasi alpine
khas pegunungan, misalnya Rhododendron dan Edelweis
jawa. Bagian di bawahnya terdapat hutan bamboo dan tumbuhan
pegunungan tropika. Di bagian selatan terdapat hutan hujan tropis
pegununga, dengan anggrek endemic Vanda tricolor yang termasuk dalam vegetasi
langka. Di bagian kaki, pada ketinggian kurang dari satu kilometer
terdapat varietas salak unggul, Pondoh dan Nglumut
REFERENSI:
https://histori.id/legenda-asal-usul-gunung-merapi/
https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-dari-yogyakarta-asal-mula-gunung-merapi/
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi
https://ardiyansyah.com/2016/07/fungsi-gunung-dan-proses-terjadinya.html
LEGENDA KE-15
SIPUT YANG SETIA KAWAN, MENGAPA SIPUT MEMANJAT
DAHAN?
(PHILIPINA)
Diawal-awal penciptaannya, Allah SWT memenuhi bumi
dengan tumbuhan, kemudian barulah binatang. Di antara binatang-binatang itu
terdapat tupai, capung, lebah besar dan
siput. Masing-masing bernama Tupi, Capi, Tawon dan Putput.
Mereka memutuskan untuk membagi tugas sesuai
dengan kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing. Tupi adalah yang
paling besar dipilih menjadi pimpinan di rumah itu. Dalam sebuah
musyawarah Tupi membagi tugas untuk seluruh anggota keluarga itu.
“Aku paling besar dan gerakkanku lincah biarlah aku
bertugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Tugas ini cukup berat dan
berisiko di luar sana. Tawon, kamu punya senjata yang ampuh dan dapat
terbang. Maka tugas kamu menjadi penjaga untuk keselamatan semua
anggota keluarga. Kamu adalah lebah besar. Racun di
sengatmu akan tetap tertancap kuat dan tidak akan lepas dari badanmu saat
menyengat. Ini sangat berbeda dengan lebah kecil dari
bangsamu. Kamu Capi, dengan penampilan rapihmu, kamu sangat cocok
untuk menjadi bagian humas. Mengatur kerjasama dengan keluarga lain,
sekaligus menjadi sekretaris pribadiku. Putput, gerakanmu lambat
maka aku tugaskan kamu untuk menjadi juru masak keluarga kita.”
“Baiklah Tuan Tupi, kami akan menjalankan tugas
kami dengan sebaik mungkin.” Demikianlah satu keluarga empat
satwa itu bersepakat.
Suatu hari Tupi pergi untuk mencari bahan makanan
karena persediaan makanan sudah mau habis. Tupi pergi ke hutan dan
melihat ada ikan dalam tempat yang mirip sangkar burung.
“Alhamdulillah ada ikan dalam sangkar itu aku akan
membawanya. Di hutan ini pasti tidak ada siapa yang
memilikinya.” Tupi segera memasuki sangkar. Tapi betapa
malangnya sangkar tiba-tiba tertutup dan seorang pemburu menghampirinya.
“Nampaknya aku harus puas dengan seekor tupai kali
ini. Tidak mengapa. Aku akan mencapurkannya dengan dedak
dan memberikannya pada itik peliharaanku.
Akhir hidup Tupi sangat tragis berakhir di ujung
pisau dan menjadi makanan itik.
Tiga anggota keluarga yang lain tidak tahu
bagaimana nasib dari tupi. Seua berdoa sekiranya Tupi akan
kembali. Tapi hingga rasa lapar mendera, Tupi tidak juga
pulang. Mereka kehilangan kesabaran. Diutuslah Capi untuk
mencari Tupi, pemimpin mereka.
Capi terbang kian kemari hingga tapi lelah tidak
juga menemukan Tupi. Akhirnya ia hinggap pada setangkai teratai di
pinggir danau.
Seekor ikan memperhatikannya mencari akal untuk
bisa menyantap Si Capi.
“Hai, Capi kasihan sekali
kamu. Kelihatannya lelah sekali?” tanya Kani si ikan licik.
“Ia aku mencari pemimpin kami Tuan
Tupi. Ia sedang mencari makan buat kami tapi tidak juga
kembali.” Capi bercerita sedih.
“Kamu kelihatan lucu dengan wajah sedih dan
penampilanmu yang amburadul itu. Ha…ha…ha…lihat dasi kamu terjuntai
mau jatuh,” olok Kani dari permukaan air.
Merasa tidak enak ditertawakan seperti itu, Capi
membenahi dasinya. Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa
diraih. Posisi hinggap yang tidak stabil membuat Capi terpelanting
ke danau dan langsung disantap Si Kani.
Dua anggota keluarga mereka tinggal Putput dan
Tawon. Mereka makin kelaparan dengan habisnya bahan makanan
mereka. Yang paling menderita adalah Tawon karena ia harus mencari
bahan makanan jauh dari tempat tinggal mereka. Sementara dia tidak
bisa meninggalkan tugas menjaga seisi rumah.
Berbeda dengan Putput ia dapat dengan mudah
mendapatkan makanan. Dari rerumputan bahkan dari sisa bahan makanan
yang dibuang oleh keluarga lainnya.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Kemana
mereka pergi. Semua tidak punya rasa tanggung jawab sama
sekali. Sedangkan aku tidak boleh meninggalkan rumah ini. “ Tawon
kesal dengan keadaan yang harus dihadapinya.
“Sabar, Tawon. Sebaiknya kita cari
mereka berdua.”
“Tidak bisa siput, aku mendapat tugas menjaga
rumah kita ini, bukan?”
Akhirnya Tawon sudah tidak tahan dengan apa yang
dideritanya. Diikatkannya tali pada perutnya untuk
mengurangi rasa lapar. Malangnya ikatan itu terlalu
kencang. Ia mati lemas kelaparan, terjatuh dalam keadaan
terlentang.
“Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun, aku
sendirian sekarang. Kemana teman-temanku? Aku tidak mau
sendiri. Aku akan cari mereka sampai ketemu.”
Siput berjalan perlahan di atas rerumputan sambil
memanggil Tupi dan Capi. Merayap tiada kenal lelah. Apabila ada
tumbuhan yang ia jumpai, ia akan memanjatnya. Tujuannya untuk bisa
melihat sekeliling dengan lebih leluasa.
Begitulah Putput dengan sabar merayap dari satu
tempat ke tempat lain. Memanjat tiap kali ada tetumbuhan yang
tinggi. Sepanjang perjalanan mencari teman-temannya, Putput menangis
sedih. Akibatnya sepanjang jejaknya, membekaskan tanda basah berupa
lendir dari air matanya.
Kebiasaan ini diikuti oleh anak keturunannya, dari
generasi ke generasi. Jadilah siput senang memanjat apa
saja. Dengan tetap berharap akan bisa berjumpa dengan
kawan-kawan satu keluarga yang dicintainya.
HIKMAH:
1. Dalam sebuah keluarga perlu adanya pemimpin dan
pembagian tugas yang jelas untuk memberikan rasa tanggung jawab.
2. Masing-masing anggota keluarga hendaklah menjalankan apa
yang menjadi tugasnya masing-masing
3. Sifat rasa setia kawan akan membuat kita merasa kehilangan
atas ketidakhadiran kawan kita. Maka keinginan mengetahui kabar dan keadaan
kawan bagian dari sifat setia kawan.
4. Tanda kesetiaan terhadap kawan adalah pengharapan atas
keberuntungan dan keselamatan mereka.
FAKTA ILMIAH:
Siput tergolong dalam kelas Moluska Gastropoda,
bermakna hewan bertubuh kunak dengan perut sebagai alat gerak atau
kakinya. Gastropoda terdiri dari dua jenis, yaitu yang bercangkang
dan tidak bercangkang. Cangkang Gastropoda berupa mangkuk bergelung. Sedang
Gastropoda tanpa cangkang disebut siput telanjang, dalam bahasa jawa disebut
resrespo.
Jumlah spesies Gastropoda menempati urutan kedua setelah Insekta
(serangga).
Habitat siput sangatlah luas dari parit hingga gurun dari laut dangkal sampai
laut dalam. Siput dapat hidup di air tawar, payau bahkan air asin.
Sebagian besar spesies siput justru hidup di laut.
Kebanyakan siput hidup sebagai herbivora (pemakan tumbuhan). Ada juga
yang hidup sebagai omnivora (pemakan segala) dan karnivora (pemakan
daging/hewan lain).
Beberapa jenis Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebon
(Helix, sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)
Taksonomi
Siput (Helix pomatia): Kingdom, Animalia; Filum: Moluska, Kelas:
Gastropoda, Subkelas: Orthogastropoda, Superordo: Heterobranchia, Ordo:
Pulmonata, Famili: Helicidae, Genus: Helix, Spesies: Helix
pomatia
REFERENSI:
https://id.wikipedia.org/wiki/Siput
https://id.wikipedia.org/wiki/Helix_pomatia
LEGENDA
KE-16
PERSETERUAN
JAKAL DAN SINGA
(AFRIKA)
Berhari-hari Lion terbakar dendam karena tipuan Jakal. Ia merasa menjadi binatang
paling bodoh meskipun badannya besar dan kuat.
“Tenanglah sahabat. Aku akan membantumu
mencari Jakal. Aku juga punya dendam padanya. Satu keluargaku habis
dimangsanya,” ucap Mice, si tikus betina. Mice yang sering menjadi
mangsa Jakal ingin musuhnya binasa oleh Lion. Persahabatan Mice dan
Lion bermula dari bantuan Mice untuk melepas Lion dari jaring perangkap yang
dipasang pemburu.
Dengan bantuan Mice, Lion dapat mengetahui di mana
Jakal berada.
“Aduh, celaka, Raja Rimba itu mengejarku.” Jakal
berlari mencari celah sempit yang bisa dipakainya untuk bersembunyi.
Berkali-kali Jakal harus memutar otak tiap kali
bertemu Lion. Trik apa lagi yang harus dia lemparkan untuk
mengelabuhi Lion.
Kadang muncul kekhawatiran, apabila mereka bertemu
lagi, mungkin Lion sudah tidak percaya dengan tipuannya. Pasti Lion
akan lebih waspada dan Jakal pun kebingungan tentang trik yang sudah disiapkan
di otaknya bila sewaktu-waktu bertemu dengan Lion.
Suatu saat Jakal benar-benar berada dalam keadaan
terjepit. Dari arah berlawanan muncul Lion di depannya.
“Hai, Jakal. Kamu belum membayar
tipuanmu padaku tempo hari. Kamu tidak akan bisa lagi mengelak
dariku.” Dari kejauhan Lion berteriak. Wajah geramnya
menyeringai. Tampak gigi taring Lion meneteskan air liur siap
menyantap mangsa.
Lion makin dekat. Jakal tidak mau
kehilangan akal karena takut.
Di depannya ada jurang yang
berundak-undak. Banyak bebatuan di tebingnya. Jakal menuruni jurang
seakan terjatuh. Ia menyangga batu yang digesernya seolah
menimpanya.
“Jakal kemana kamu? Jangan sembunyi
dariku! Aku akan segera menemukanmu.”
“Lion, tolong aku. Aku tertimpa
batu. Sebentar lagi batu-batu tebing ini akan runtuh dan kita berdua
akan binasa.”
“Tipuan apa lagi yang akan kau lemparkan
padaku. Aku tidak percaya.” Lion membalas.
“Lihatlah batu yang menimpaku ini. Aku
menahan batu ini supaya batu tebing ini tidak runtuh satu persatu menimpa
kita. Aku akan mengambil kayu penyangga. Kalau tidak kita
akan mati.”
“Baiklah aku akan menyangga batu itu dan setelah
semua baik-baik saja. Bersiaplah untuk menjadi mangsaku.”
Begitu Lion menyanggupi perjanjian itu, Jakal lari
sekencang mungkin menjauhi Lion. Sementara Lion tetap dalam
keadaannya menyangga batu.
Sekian lama Lion menyangga batu, Jakal tidak juga
datang. Baru disadarinya bahwa ia telah tertipu lagi oleh
jakal. Dengan hati kesal dilemparkannya baru itu. Tidak
peduli batu-batu di atasnya menimpanya. Tubuhnya yang kuat tidak merasa
sakit yang berarti. Lagipula sakit dihatinya lebih besar daripada
sakitnya tertimpa batu.
PESAN MORAL
1. Kecerdikan
akan dapat mengalahkan kekuatan tapi lemah dalam akal dan ingatan.
2. Jangan
kecil dengan rasa lemah karena selalu ada jalan bagi yang mau berusaha
3. Jangan
pernah sombong oleh kekuatan yang ada pada kita semuanya atas izin dan
pemberianNya
FAKTA ILMIAH (Tentang Singa dan Jakal sudah ada di
legenda sebelumnya)
Singa tergolong dalam jenis
kucing. Makanya mereka memiliki kemiripan dalam ciri
fisik. Hanya saja ukurannya yang membuat kita menjaga jarak dengan
mereka.
Beberapa fakta menarik tentang singa antara lain:
1). Singa adalah kucing terbesar kedua setelah harimau.
2). Menuanya bulu dan rambut terkait dengan umurnya, makin tua makin
gelap. Wah kebalikan dengan kita ya, bangsa
manusia. Makin tua makin pudar warna rambutnya.
3). Rambut yang panjang dan gelap adalah daya tarik singa
jantan. Singa betina akan lebih menyukai singa berambut panjang dan
gelap yang menunjukkan kematangan usia singa tersebut.
4). Singa adalah perenang yang handal, kalau dia sudah mengincar mangsa maka
seolah pantang gagal menangkapnya
5). Lompatan singa sangat jauh, bisa mencapai 36
kaki.
6). Dalam satu hari singa makan hingga sekitar 18 pon (8,1 kg) daging
REFERENSI:
1. http://sekolahbagiilmu.blogspot.com/2017/03/40-fakta-unik-tentang-singa-yang-belum.html
2. http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore
LEGENDA KE-17
PERSAHABATAN MUSANG
DAN BURUNG SEKRETARIS
(AFRIKA)
Ini ada lagi cerita tentang
permusuhan antara musang dan ular tapi dengan versi yang
berbeda. Kali ini versi dari negara asalnya, Afrika.
Zaman dahulu
musang bersahabat dengan burung sekretaris (Lucu, ya,
namanya? Dinamakan burung sekretaris mungkin karena memiliki kaki
jenjang dan bulu cantik seperti seseorang yang berseragam abu dan
hitam. Mengingatkan kita pada sekretaris kantor).
Suatu ketika
burung sekretaris berpamitan ingin pergi mandi karena merasa kegerahan.
Dalam kesendiriannya, musang bertemu dengan ular di
semak-semak.
“Hai,
musang, maukah kamu menemaniku berjalan-jalan di padang rumput kita ini?”
“Aku nggak
keberatan ular, hitung-hitung buat mengusir rasa sepi.”
“Tahukah
kamu, ada sesuatu yang istimewa ingin aku tunjukkan padamu.”
“Apa itu,
Ular? Musang penasaran, ingin tahu
Setelah
perjalanan yang cukup jauh, ternyata ular menunjukkan sebuah sarang di
tanah. Ada beberapa telur dalam sarang itu. Musang
benar-benar tidak tahu siapa pemilik telur itu.
“Apakah kamu
mau mencicipi telur-telur itu? Rasanya sangat lezat, Musang.”
“Aku tidak
ingin memakannya. Aku belum pernah makan telur sebelumnya.”
“Mereka
sangat lezat, gurih dan segar. Aku sering
memakannya. Enak sekali, coba lihat caraku
memakannya.” Ular terus membujuk dan menampakkan kelezatan
rasa dari telur-telur itu.
Musang mulai
tergoda memakan telur itu tanpa bertanya siapa yang memilikinya.
“Benar juga,
Ular, telur-telur ini memang lezat.” Mereka berdua makan hingga
telur terakhir dimakan oleh musang. Bersamaan dengan itu, datanglah
burung sekretaris.
Ular yang
licik memulai fitnahannya pada musang.”Sangat disayangkan, telur anda yang
cantik ini dimakan oleh musang hingga habis.”
“Teganya kamu,
Musang. Memakan telur teman dekatmu sendiri.” Burung
sekretaris marah besar, kecewa dan sedih merasa dikhianati.
“Maafkan aku
aku tidak tahu kalau ini telur-telurmu. Ular juga
memakannya. Justru ular yang mengajakku memakan telurmu
ini. Aku sudah menolaknya tapi dia tetap membujukku.”
Burung
sekretaris juga melihat ada cangkang di samping tubuh ular.
“Kalian
berdua memakan telur-telur saya!”
"Anda
berdua sudah makan telur saya," kata Sekretaris Bird dengan marah.
“Ular tidak
memberi tahuku bahwa ini telur kamu, kalau begitu kita serang saja perusak
persahabatan kita ini.”
Mereka
berdua menyerang ular dengan sengit. Bahkan gerakan musang sangat
cepat memburu kepala ular. Ular kewalahan dan mati oleh musang.
“Mulai
sekarang, aku akan turut menjaga sarangmu dari serangan ular-ular jahat
itu. Kalu mereka mencuri telurmu, aku akan membinasakannya”
"Benar
saja. Musang menepati janjinya untuk memakan ular. Dengan
mengandalkan gerak cepatnya, Musang dapat dengan mudah mengalahkan ular.
Sementara
itu, burung sekretaris belajar membuat sarang di tempat yang lebih
aman. Di dahan pohon yang rindang ataupun berduri, supaya aman
dari serangan ular. Hingga kini burung sekretaris juga memakan ular
dengan menggunakan kekuatan kakinya yang jenjang juga menyerang dengan tanduk
kakinya.
PESAN MORAL:
1. Janganlah kau memakai atau memakan sesuatu tanpa kau tahu
siapa pemiliknya
2. Janganlah menjadi pengkhianat karena sifat ini akan
mendekatkan kita pada kebinasaan
3. Tetaplah menjalin persahabatan dan hindarkan diri dari
permusuhan
4. Waspadalah pada kejahatan mereka yang senang mengadu domba
dan memecah belah
5. Permintaan maaf saat bersalah akan menyambungkan kembali
persahabatan yang terkoyak dan menghapus permusuhan
FAKTA ILMIAH
Fakta ilmiah tentang musang sudah pernah kita ungkapkan pada
legenda terdahulu, sekarang kita simak dulu apa burung sekretaris itu?
Burung sekretaris adalah jenis burung pemangsa berukuran besar. Merupakan
hewan endemic yang khas hidup di Afrika. Banyak dijumpai di padang
rumput terbuka, Savana di wilayah Sub-Sahara Afrika.
Taksonomi:
Kingdom:Animalia, Filum: Chodata, Kelas: Aves,
Ordo: Accipitriformes, Famili Sagittariidae, Genus: Sagittarius,
Spesies: Sagitarius serpentarius.
Nah, kita tentu penasaran Mengapa burung ini mendapat julukan
burung sekretaris. Secara etimologi, ilmu asal-usul
kata. Sekretaris disematkan pada burung ini karena jambulnya
yang mirip dengan pena. Seorang sekretaris biasanya menyelipkan pena
di telinganya. Selain itu kaki yang jenjang dan bulu mirip seragam
seorang sekretaris wanita bisa jadi menginspirasi pemberi nama pertama untuk
burung ini.
Hipotesa yang lebih ilmiah adalah penyerapan kata dari bahasa
Prancis yang diserap dari bahasa Arab saqr at tair yang
bermakna burung pemangsa.
Nama genus Sagitarius, bermakna pemanah (bahasa
Latin) dan nama spesies serpentarius terkait keterampilannya
sebagai pemburu.
REFERENSI :
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Burung_sekretaris
2. http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore
LEGENDA
KE-18
AWAL MULA PERSAHABATAN JAKAL, KARAKAL DAN ELAND
Nama
hewan ini tentu masih asing buat kita. Baiklah akan diperkenalkan
sedikit apa itu Jakal, Karakal dan Eland. Jakal adalah bangsa
srigala, dengan ukuran lebih kecil. Karakal sebangsa kucing
bertelinga hitam sedangkan Eland merupakan jenis kijang berukuran paling besar.
Suatu ketika Karakal pulang dari perburuannya. Di
tengah perjalanan yang melelahkan, ia ingin segera sampai di rumah dengan
berlari. Tidak sengaja ia menabrak binatang yang belum pernah
diketahuinya sebelum ini.
Besarnya tubuh binatang itu membuatnya kaget dan ketakutan. Tidak
ada jalan lain, ia mendekati binatang itu dengan waspada dan
berhati-hati,”Assalamu’alaikum, kawan, siapa namamu?”
Sosok besar itu tidak segera menjawab, ia menghentakkan
kakinya ke tanah. Menghasilkan gumpalan debu seperti awan besar. Kemudia
ia menjawab dengan nada kasar tidak bersahabat, “Namaku Eland! Kamu
siapa?” Eland tidak menjawab salam dari Karakal.
Karakal
masih terkagum-kagum dengan ukuran besar Eland, ia lebih senang menganggapnya
sebagai raja kijang atau kijang raksasa. Hanya sampai disitu saja
percakapan keduanya. Karakal terus berlari secepat mungkin, masih
dengan rasa takutnya sambil berkata,”Aku Karakal.”
Karakal tidak begitu bersahabat baik dengan
Jakal. Sekali waktu Jakal menampakkan
perhatiannya. Anehnya, terkadang mereka juga bertengkar bahkan
terlibat perkelahian.
“Apa yang membuatmu tersengal-sengal? Adakah sesuatu yang
akan ingin mencelakaimu?”
“Aku menabrak tetangga kita di bawah sana. Dia
besar sekali. Sungguh baru kali ini aku melihat kijang sebesar itu.”
“Bodoh sekali kamu. Dia itu mangsa yang sangat
enak. Kenapa tidak kau terkam daging besar itu?”
“Aku terlalu kecil untuk memangsanya.”
Kedua sahabat itu bersepakat untuk memangsa bersama
Eland. Pikir mereka, meskipun besar akan lebih mudah bila diserang
bersama. Saat-saat seperti ini, mereka terlihat seperti sahabat
karib. Mereka pun turun mengendap-endap ke rumah Eland di kaki
bukit. Eland menyadari kehadiran mereka. Ia curiga bahwa
mereka akan memangsanya juga keluarganya.
Eland segera bersembunyi di dekat isterinya.”Ada yang berniat
jahat pada kita. Apa yang harus aku lakukan?” Eland
kebingungan dalam cemasnya.
Isterinya menyarankan sesuatu.”Tenanglah, aku punya
akal. Buat anak kita menangis di depan mereka, katakana bahwa anakmu
kelaparan. Berusahalah untuk membuat mereka iba.”
Eland mengikuti saran isterinya, ditanduknya kaki anaknya
hingga menangis.
Tangisan yang pilu itu membuat Jakal bertanya penyebab tangisan
sedih itu.”Mengapa anakmu menangis. Tampaknya dia sedih sekali.”
“Benar, Jakal. Dia sudah tidak makan
berhari-hari. Kalaupun kalian menginginkan daging kami, daging kami
tidak akan enak dimakan. Kami akan bisa kalian nikmati kalau kami
dalam keadaan kenyang.”
Tiba-tiba Jakal melirik kearah Karakal. Eland dan
keluarganya sedang lapar, dagingnya akan keras. Sementara Karakal
pasti akan lebih lezat. Maka Jakal mengikatkan tali pada
Karakal.
“Subhanallah, Jakal, apakah kamu mau
memangsaku?” Karakal protes dengan kelakuan Jakal.
“Tenanglah, aku sudah terlalu lapar.” Jakal
menyeringai. Taringnya meneteskan air liur dan matanya menatap
tajam. Mengerikan.
Karakal
segera mengambil langkah penyelamatan diri. Ia lari sekencang
mungkin sedangkan Jakal tetap memegang tali pengikat leher Karakal. Jakal
terjatuh ke dalam lubang cukup dalam. Tubuhnya terpelanting hingga
memar. Sementara itu Karakal terlepas dari tali kekang itu.
Jakal mengaduh dan meminta tolong pada Karakal. Ia
berjanji tidak akan berkhianat lagi. Melihat Jakal celaka, Karakal
membantunya untuk naik dari lubang. Dibantunya Jakal untuk sembuh
dari luka-luka itu.
Mereka pun memutuskan untuk tidak saling mencelakai
lagi. Mereka pun bersahabat dengan Eland dengan masih terus merasa
kagum dengan tubuh besarnya yang gagah.
PESAN MORAL:
Bersahabatlah dengan tulus maka kita akan
mendapatkan ketenangan dan berbagai kemudahan.
Persahabatan berarti menyambung tali
silaturahmi. Di dalamnya ada keberkahan, saling menolong,
memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan menjadi penyembuh dari berbagai
penyakit
Hindari sifat khianat karena sifat itu akan
mengantarkan kita pada celaka
Jawablah salam dengan keramahan agar menghapus
segala kebencian, menghilangkan kekhawatiran dan rasa takut.
FAKTA ILMIAH
Karakal: Sejenis kucing berukuran sedang,
habitatnya tersebar di Asia Barat, Asia Selatan dan Afrika. Nama
Karakal dari bahasa Turki karakulak yang bermakna telinga hitam. D
Afrika, dikenal dengan sebutan Rooikat atau kucing merah.
Karakal bertubuh ramping dan berotot, kakinya
panjang, ekornya pendek. Berat jenis jantan bisa mencapai13-18 kg,
sedangkan betinanya sekitar 11 kg. Panjang tubuhnya 65-90 cm. Warna bulunya
bervariasi antara merah anggur, abu-abu ataupun warna pasir, motif bintik
kemerahan. Pupil mata berupa lingkaran bercelah. Ciri
yang paling mencolok adalah telinga panjang hitamnya yang berfungsi mencari
mangsa. Kakinya berambut di antara bantalan kakinya.
Taksonomi:
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas:
Mamalia, Ordo:Carnivora, Famili: Felidae, Subfamili:Felinae, Genus: Caracal,
Spesies beragam sesuai pemberi namanya (Caracal caracal/Caracal
melanotis/Felis caracal )
Jakal: Jakal tergolong dalam jenis Canis, yang
meliputi serigala dan anjing. Ada tiga macam Jakal, yaitu jakal
emas, jakal punggung hitam, jakal bersisi garis. Mereka tersebar di
Afrika dan Eurosia(Asia dan Eropa)
Taksonomi:
Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia,
Ordo:Carnivora, Famili: Canidae, Genus: Canis,
Spesies: Canis aureus (Jakal
emas), jakal sisi bergaris (Canis
adustus)
jakal punggung hitam Canis mesomelas
Eland:
Eland raksasa (Taurotragus derbianus)
salah saru spesies kijang dari genus Taurotragus. Ukurannya mencapai
220-290 cm, sangat besar , ya? Bila dibandingkan kijang pada
umumnya, sekitar dua kali lipatnya. Habitatnya di padang rumput dan
hutan terbuka di Afrika.
Berdasarkan jenis makanannya, Eland tergolong
dalam herbivora. Makanannya berupa ranting, rumput dan dedaunan
Eland hidup berkoloni dengan anggota 15-25 ekor
tentu tujuannya untuk membentuk kelompok solid yang dapat menggagalkan serangan
mangsa seperti harimau dan singa.
Taksonomi:
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas:
Mamalia Ordo:Artiodactyla, Famili: Bovidae,
Subfamili: Bovinae,
Genus: Taurotragus, Spesies: T. derbianus
REFERENSI:
http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore
https://id.wikipedia.org/wiki/Karakal
https://id.wikipedia.org/wiki/Eland
https://id.wikipedia.org/wiki/Jakal
LEGENDA
KE-19
MENGAPA CITAH BERLARI KENCANG,
KARUNIA
ALLAH UNTUK CITAH
(Afrika)
Allah SWT yang Maha Mencipta memberikan ujian
pada tiap makhluknya. Dia ingin melihat siapa yang paling baik
amalannya.
Di sebuah hutan Afrika hiduplah Citah yang
bercakar lembut. Dengan cakarnya yang lembut ini, ia kesulitan dalam
mengejar maupun menangkap mangsa.
“Gala, maukah kau meminjami aku cakarmu yang
kuat itu? Aku kesusahan mendapatkan jejekiku.” Citah
mengeluhkan kesusahannya pada Gala, sahabat dekatnya, si serigala hutan.
“Tentu saja, Citah. Silakan kau
pakai, nanti kalau kamu sudah dapat mangsa kembalikan padaku.”
Saat mau mencari mangsa, ternyata ada
perlombaan yang diadakan raja hutan. Perlombaan ini untuk menentukan
siapa yang tercepat di hutan itu. Yang hadir di sana keluarga kijang
yang diwakili oleh Tsebi, si tsessebe, kijang dengan kecepatan paling hebat. Sedangkan
keluarga besar kucing diwakili oleh Citah.
“Ayo Tsebi, kita bertanding kecepatan dengan
sportif, ya?”
“Aku akan bisa mengalahkan kamu
Citah. Cakar yang kau pinjam itu akan dengan mudah lepas dari kuku
kakimu.” Tsebi mencibir dan menyombongkan diri.
“La haula walaa quwata illa
billah.” Hanya kalimat itu yang bisa terucapkan dari kepasrahan
Citah. Ada rasa ciut juga dalam hati Citah. Tapi dia
bertekat untuk membawa nama baik keluarga besarnya.
Benar saja, Tsebi meninggalkannya jauh di belakang. Tapi
Citah tetap berusaha lari secepat yang ia mampu. Tsebi yang merasa
di atas angin itu lengah dari bahaya di depannya. Kaki panjangnya
tersandung batu dan terguling.
“Aduh, tolooong!” Teriakan kesakitan
meminta bantuan terdengar oleh Citah.
Citah yang berhati lembut berusaha mencari
sumber suara itu. Betapa kagetnya Citah, ternyata yang mendapat
musibah itu Tsebi yang sempat merendahkannya. Ada pergumulan dalam
hatinya, antara menolong Tsebi atau menjadi pemenang di perlombaan
ini. Dengan rasa kasihnya, Citah memilih untuk menolong Tsebi.
“Tsebi, bersabarlah, aku akan mencari ramuan di
hutan ini untuk menghentikan darah yang keluar dari lukamu.”
“Citah, aku bukan hanya luka, kaki depanku
patah, Errr!” Tsebi mengerang kesakitan.
“Baiklah aku tahu batang pohon tulang untuk
memperbaiki patah kakimu.”
Dengan sabar Citah merawat kaki Tsebi sampai
membaik dan dapat melanjutkan perjalanan.
Di akhir perlombaan, para penghuni hutan sudah
tidak sabar melihat jagoan tercepatnya masing-masing. Siapa kiranya
yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Betapa kecewanya mereka,
ternyata Citah dan Tsebi datang dengan berjalan santai. Bahkan Citah
memapah Tsebi.
“Dengan ini, perlombaan
diulang. Pada kejuaraan kali ini dinyatakan kedua peserta terdisqualifikasi.” Raja
hutan mengumumkan dengan kecewa dan marah. Semua yang terjadi
dijelaskan oleh Citah.
“Paduka, sebenarnya Tsebi lebih cepat hanya
saja dia terjatuh.” Ungkap Citah.
“Tidak Paduka, meskipun saya lebih cepat, saya
rela menyerahkan penghargaan juara pada Citah. Justru saya ingin
meminta maaf padanya sudah menyombongkan diri di depannya.”
Melihat kerendahan hati dan kemuliaan sikap
Citah, Allah SWT mengaruniakannya cakar yang keras dan kuat lebih dari yang
dipinjam Citah dari serigala.
Pada perlombaan yang diulang oleh raja, Citah
dapat lari dengan benar-benar lebih cepat. Tsebi pun mengakui
kehebatan gerak cepat Citah yang dikaruniakan Allah SWT.
PESAN MORAL:
1. Jangan pernah menyombongkan diri,
segala nikmat adalah titipan dari Allah. Sangat mudah bagiNya
mencabut kembali nikmat itu.
2. Tetaplah berbuat baik pada sesama saat
mereka membutuhkan, bahkan pada sainganmu sekalipun. Perbuatan baik
itu akan melembutkan hati dan menumbuhkan kasih sayang.
3. Allah SWT menguji dengan segala hal
yang kita jumpai dalam kehidupan ini, Ia menilai siapa yang terbaik
amalannya. Dia juga yang akan membalas tanpa perhitunga, baik
karunia di dunia mupun di akhirat.
FAKTA ILMIAH:
Yuk kita simak! Citah ternyata berasal dari
bahasa Sansekerta, chitraka, yang artinya berbintik. Dia termasuk
anggota dari keluarga kucing (Felidae), lho!. Dikenal memiliki
kecepatan yang sangat tinggi bahkan paling cepat dengan level 110
km/jam. Bahkan hebatnya percepatannya bisa mencapai 0-100 km/jam2. Kecepatan
ini lebih hebat dari mobil balap formula satu.
Corak Citah sangat indah dengan bintik gelap
diantara bulu keemasannya. Dia mengandalkan kecepatan dalam
menangkap mangsa bukan dengan mengendap-endap sebagaimana jenis macan yang
lain.
Taksonomi:
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas:
Mammalia, Ordo: Carnivora, Famili:Feliade, Subfamili:Acinonychinae,
Genus: Acinonyx, Spesies: Acinonyx jubatus.
REFERENSI:
1. http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Citah
LEGENDA KE-20
GAJO DAN BELALAINYA
(AFRIKA SELATAN)
Satu lagi khazanah kisah dari Afrika, kali ini dari Afrika
Selatan. Tentang Gajah bernama Gajo.
Awalnya Gajo diciptakan dengan tubuh besar dan gemuk tetapi
tidak memiliki hidung yang sepanjang belalainya sekarang. Sering
kali Gajo mengeluhkan kesulitan yang dialaminya.
“Rabb, badan kami besar. Kami butuh banyak minum
dan makan. Tapi kami tidak memiliki anggota tubuh untuk meraih
dedaunan di ranting pohon. Atau meraih rumput untuk kami
makan. Juga saat minum kami harus bersusah-susah untuk
merunduk. Sedangakan badan kami setambun ini, wahai
Tuhan. Mohon kiranya Engkau beri kemudahan pada
kami.” Gajo mengeluhkan keadaan diri dan nasibnya pada Allah SWT.
Doa ini didengar oleh Jalko si burung jalak. Jalko
yang bertengger untuk mematuk serangga yang hinggap pada tubuh Gajo.
“Sudah bagus hidung kamu pendek. Kalau hidungmu
panjang. Aku tidak akan nyaman memakan serangga-serangga yang
hinggap di punggungmu. Malah aku takut terkena pukulan hidung
panjangmu.” Burung yang membantu meringankan rasa gatal gigitan serangga
di punggung Gajo itu tersenyum sendiri. Ia membayangkan
Gajo memainkan hidung untuk mengusir mangsanya, kutu dan serangga
kecil.
“Kamu sudah lama menjadi sahabatku, aku tidak akan mengusirmu
dengan hidung panjangku, kalau doaku ini dikabulkan.” Gajo berjanji.
Siang itu udara begitu panas. Gajo merasa
kehausan. Musim kemarau yang cukup panjang mengeringkan air yang ada
di kubangan kecil di padang rumput. Terpaksa Gajo pun berjalan jauh
mencari air. Jalko masih setia menemaninya kemana pun Gajo pergi. Jalko
sudah terlalu nyaman mendapat makanan di punggung Gajo. Sebaliknya
Gajo merasa terbantu dalam mengurangi rasa gatal oleh gangguan serangga.
Perjalanan iut mengantarkan Gajo pada
rawa-rawa. Betapa senangnya Gajo mendapat tempat yang banyak airnya.
“Alhamdulillah, Jalko, di depan kita ada
rawa-rawa. Wah, kita bisa tinggal di sini dalam waktu
lama. Air ini tidak akan habis walaupun kemarau masih belum berganti
musim.”
“Aku turut senang Gajo, rejekimu, keberuntunganku
juga.” Jalko menari riang kesana-kemari di atas punggung
Gajo. Sesekali ia terbang di sekitar Gajo.
Saat Gajo istirahat di bawah pohon rindang karena kelelahan,
Jalko terbang mengawasi keadaan.
“Gawat, Gajo harus tahu di rawa ini ternyata ada seekor buaya
yang bisa memangsanya.” Jalko segera kembali pada Gajo.
“Bangun Gajo, rawa-rawa ini tidak aman buat
kita. Ada buaya yang siap menjadi pemangsamu. Ayo kita
pergi dari sini.” Jalko melaporkan apa yang dilihatnya pada Gajo.
“Tidak mungkin, aku tidak melihat bahaya
apapun. Kamu jangan membohongiku kawan.” Gajo yang masih
setengah sadar dari tidur lelapnya tidak mengindahkan kabar dari Jalko.
Saat haus makin mendera kerongkongan Gajo, ia segera menuju
rawa itu. Tanpa curiga sedikitpun bahwa ada seekor buaya sedang
bergerak pelan ke arahnya. Buaya sengaja menyelamkan tubuhnya hanya
lubang hidungnya sedikit muncul di permukaan.
Gajo memasukkan hidung pendeknya ke dalam air rawa itu,
sambil menyimpuhkan kaki depannya.
“Alhamdulillah rasa hausku hilang juga.”
Baru saja Gajo berusaha menegakkan kaki dari posisi
bersimpuhnya, tiba-tiba…….
“Aduh tolong aku terjepit.” Gajo menyangka bahwa
hidungnya terjepit akar pohon..
Ditariknya sekuat tenaga hidung itu tapi tidak juga
berhasil. Sebaliknya buaya juga merasa mangsa yang ditariknya
terlalu berat. Buaya ingin sekali memangsa Gajo. Lumayan
buat persediaan makan berhari-hari untuk mangsa sebesar ini, batin buaya, penuh
harap.
Gajo berusaha untuk mundur sementara buaya tidak ingin
menampakkan kepalanya di permukaan air. Tentu saja hidung pendek
Gajo memanjang karena pertarungan itu, hampir putus. Beruntung
datang sahabat setianya, Jalko.
“Gajo, kamu dalam bahaya. Buaya itu benar-benar
ingin memangsamu.”
“Tolong aku, Jalko! Maafkan aku tidak percaya pada
kata-katamu.” Gajo menyesal.
“Baiklah kawan, aku akan mengalihkan perhatian buaya jahat
itu.”
Jalko terbang di atas kepala buaya bahkan hinggap di lubang
hidung buaya. Buaya merasa terganggu. Bidungnya terasa
gatal dan ingin bersin.
“Kurang ajar kau jalak kecil.” Buaya tak mampu
menahan lagi hidung Gajo. Dia bersin dengn keras, hampir saja Jalko
terpelanting dan masuk mulut buaya. Beruntung Jalko dapat terbang
dengan gesit.
Gajo
yang masih menarik hidungnya terjengkang.
Malangnya, hidung itu tetap panjang dan tak kembali pada
keadaan semula. Bahkan dua gigi serinya juga ikut tertarik menjadi
dua taring di kanan kirinya. Gajo merasa malu dengan
hidung dan taring panjangnya. Maka dia mengasingkan diri
bersama Jalko. Sambil menunggu luka di hidungnya perlahan-lahan
membaik, Gajo mencoba menerima kondisi barunya..
“Jalko nampaknya ada hikmah besar dari memanjangnya
hidungku. Aku akan memanfaatkannya untuk meraih dedaunan dan
mencabut rumput.”
“Syukurlah, Gajo. Kamu tidak perlu lagi malu
dengan hidung barumu.”
“Aku akan terus berlatih menggunakannya.”
Sejak itu, gajah merasa sangat nyaman dengan
belalainya. Ia dapat dengan mudah memperoleh makan dan minum. Bahkan
untuk mandi saat panas mendera. Juga memukul musuh-musuhnya.
PESAN
MORAL:
1. Saat
kita dalam kesulitan atau pun menginginkan sesuatu maka mohonlah pada Tuhan yang
Maha Mendengar
2.
Tetap waspada dan hati-hati dalam berbuat, dengarkan kata orang-orang dekat
yang mengasihi kita maka hal ini akan mendekatkan kita pada keselamatan
3.
Dengan bersabar, berbaik sangka dan optimisme, kita akan mampu memperbaiki
keadaan, mengubah musibah menjadi potensi dan karunia Allah SWT.
FAKTA
ILMIAH
Yuk
kita kenali tokoh legenda kita kali ini. Gajah tergolong dalam
mamalia (binatang menyusui). Penyebarannya ada di seluruh Afrika,
Asia Selatan dan Asia Tenggara. Beberapa keluarga gajah sudah
mengalami kepunahan yaitu mamut dan mastodon.
Gajah
Afrika jantan memiliki tinggi hingga 4 meter dan massanya bisa mencapai 7000
kg, Masya Allah, besar sekali, ya.
Mereka
memiliki hidung panjang yang kita sebut belalai. Fungsinya ternyata
sangat banyak yaitu bernapas, menghisap air dan mengambil
benda. Wah, mirip tangan, ya? Taringnya yang panjang
sering kita sebut gading adalah perpanjangan dari gigi serinya, berfungsi
sebagai senjata sekaligus alat untuk menggali dan memindahkan sesuatu. Daun
telinganya lebar untuk membantu mengatur suhu tubuh.
Ternyata
morfologi tubuh gajah Afrika dan Asia ada bedanya, lho? Gajah Afrika
memiliki telinga lebih lebar dan bentuk punggung cekung sedangkan gajah asia,
bertelinga lebih kecil dan punggung cembung.
Dari
jenis makanannya, gajah adalah herbivora. Tempat hidupnya tersebar
di sabana, hutan, gurun dan rawa.
Sekarang
kita simak taksonomi dari gajah ini. Kingdomnya tentu
Animalia, Filum: Chordata, Subfilum: Vertebrata, Kelas: Mamalia, Superordo:Afrotheria,
Ordo:Proboscidea, Famili:Elephantidae, Genus:Loxodonta dan Elephas),
Spesies: gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah
asia (Elephas maximus)
REFERENSI:
1.
https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah
2. http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore
Tidak ada komentar:
Posting Komentar