LEGENDA
KE-40
ASAL
USUL PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG-MALAYSIA
KISAH:
Awalnya, Lalang si elang jantan dan Yama si
ayam hutan jantan bersahabat karib.
Mereka hidup rukun dan saling menolong bantu. Bahkan saat mencari makan, mereka lakukan
bersama-sama di hutan itu. O’ya, sebelum
mereka bermusuhan, makanan mereka juga sama, yaitu biji-bijian.
“Yama, aku terbang di atas pohon di hutan ini,
ya. Kamu terbanglah dari dahan ke
dahan.” Lalang mengajak Yama mencari
mangsa bersama
“Siap, Lalang.
Nanti kalau aku melihat mangsa terlebih dulu saya akan panggil
kamu.” Demikian keakraban it uterus
mereka jaga.
Sore itu, Yama dan Lalang sedang asyik
menikmati biji-bijian bersama. Saking
asyiknya mereka tidak menyadari ada yang sedang mengintai mereka. Gala, sang srigala memerhatikan keduanya dari
balik pohon besar.
“Aha….ada santapan yang super lezat rupanya. Aku sudah sangat lapar,” gumam Gala. Maka srigala segera menyerbu ke alah Yama. Srigala berhasil melukai ayam hutan itu.
Lalang pun keheranan dengan kesedihan sahabatnya itu, “Yama coba ceritakan padaku kenapa wajahmu begitu murung? Apakah kamu sakit?”
3. Dari jenis makanannya, ayam hutan termasuk dalam omnivore (pemakan segala), rumput, bijijian, cacing, dan belalang.
“Aha….ada santapan yang super lezat rupanya. Aku sudah sangat lapar,” gumam Gala. Maka srigala segera menyerbu ke alah Yama. Srigala berhasil melukai ayam hutan itu.
Lalang pun keheranan dengan kesedihan sahabatnya itu, “Yama coba ceritakan padaku kenapa wajahmu begitu murung? Apakah kamu sakit?”
3. Dari jenis makanannya, ayam hutan termasuk dalam omnivore (pemakan segala), rumput, bijijian, cacing, dan belalang.
“Aduh,
aku terluka. Tolong…!!!! Ampun, Gala!
Lalang, tolonglah aku. Seekor
srigala menyerangku!” Yama berlari dan
berteriak meminta tolong.
Lalang terkejut dengan teriakan Yama. Burung elang yang sedang menyantap biji
jagung segera meninggalkan makanannya.
Dengan cakar dan paruhnya yang tajam, Lalang menyerbu srigala.
“Jangan kau ganggu Yama. Ia teman karibku. Rasalan paruh dan cakarku ini!” Lalang mengamuk dan menyerang Gala.
“Ampun, Lalang.
Aku mengaku kalah. Cakar dan
paruhmu tajam sekali!” Gala berlari
meninggalkan dua sahabat itu.
Yama segera keluar dari persembunyiannya di
dalam lubang pohon besar. “Terimakasih
Lalang, engkau memang sahabat sejatiku.”
Akan tetapi Yama tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Dalam hatinya ia mulai iri pada Lalang. Andai saja dirinya bisa terbang seperti
Lalang, tentu ia dengan mudah akan menghindar dari marabahaya
“Tidak Lalang, aku sehatsehat saja. Hanya saja aku heran. Bukankah kita sama-sama burung. Tapi kenapa aku tidak bisa terbang tinggi?”
“Oh, itu yang membuatmu bersedih? Sebenarnya aku juga tidak bisa terbang. Paling hanya setinggi dahan itu, seperti juga
kamu.”
“Lalu bagaimana kamu bisa terbang tinggi?” tanya Yama penasaran
“Aku menjahit sayapku dengan jarum emas
ini. Sayapku pun menjadi lebih rapat dan
aku pun bisa terbang.”
“Kalau begitu, bolehkah aku meminjam jarum
emasmu?”
“Tentu saja boleh. Tapi berjanjilah, kamu merahasiakan hal ini. Kamu juga tidak boleh meminjamkan jarum emas
ini pada bangsa burung yang lain. Dan
juga jaga jarum ini jangan sampai
hilang, ya!” pesan Lalang
“Terimakasih, Lalang. Kamu memang sahabat terbaikku. Tenanglah, aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa.”
Jarum emas itu diberikan kepada Yama. Yama mulai menjahit kedua sayapnya. Akan tetapi belum juga selesai menjahit, Yama
sudah merasa kegirangan dan tidak sabar untuk terbang tinggi.
“Hai, lihatlah aku bisa terbang tinggi. Kukuruyuuuuuk, aku bisa terbang, aku bisa
terbang.” Yama kegirangan
Di bawah sana, ada seekor ayam betina
terheran-heran dengan kemampuan Yama.
Ayam betinapun menanyakan bagaimana Yama bisa terbang. Saking girangnya, Yama lupa akan janjinya
pada Lalang.
“Aku bisa terbang karena jarum emas yang aku
pakai ini.”
“Boleh aku meminjamnya?” pinta ayam betina.
“Tadi aku letakkan di dekat batu itu. Cari saja!”
Ayam betina mencari tapi tidak dapat
menemukannya. Tentu saja ada rasa
bersalah dalam diri Yama. Yama ikut mencari jarum itu hingga pagi hari. Dicakar-cakarnya tanah tidak juga dapat
ditemukan.
“Aduh, pagipagi sudah mengais mencari
makan? Rajin seali Yama. Nggak nungguin kau encari makan bareng, nih?”
tanya Lalang akrab.
Yama mulai ketakutan. Ia sangat yakin, Lalang akan marah
besar. Tapia pa boleh buat, ia harus
mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Maafkan aku, jarum emas kamu hilang.” Yama tertunduk lesu.
“Kau sudah berkhianat Yama. Mulai saat ini aku tidak akan bersahabat lagi
dengan kamu. Kamu tahu jarum emas itu
barang berharga satusatunya yang aku miliki.
Mulai saat ini, jika kamu tidak mengembalikan jarum emasku, kalian dan
anak keturunan kalian akan menjadi santapanku.”
Sejak saat itu mereka saling bermusuhan. Elang akan menyambar keluarga ayam tanpa
ampun. Sementara
Ayam dan
keluarganya akan mengais-ngais tanah untuk mencari jarum emas yang hilang. Mereka berharap suatu saat jarum emas itu
akan dapat ditemukan dan permusuhan akan berakhir.
HIKMAH:
Jagalah
persahabatan dengan menghindari saling iri dengki. Biarkan masingmasing enikmati arunia yang
Allah bagikan pada tiap makhluknya.
Karena kadang iri akan membawa pada keinginan endapatkan sesuatu yang
dimiliki sahabat kita
Hindarilah
perbuatan mengingkari janji karena akan menghilangkan kepercayaan bahkan
menimbulkan permusuhan.
Janganlah
menjadi pendendam, tapi jadilah pemaaf.
Memberikan maaf itu sangat mulia dan menghilangkan permusuhan.
FAKTA ILMIAH:
AYAM HUTAN
AYAM HUTAN
1. Berdasarkan urutan taksonomi, ayam hutan memiliki klasifikasi
ilmiah sebagai berikut:Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Galliformes, Famili: Phasianidae, Genus: Gallus.
Spesies ayam hutan ada bermacammacam antara lain: Gallus gallus (ayam hutan merah), Gallus
lafayetii (ayam hutan Srilanka), Gallus sonneratii (ayam hutan kelabu), Gallus
varius(ayam hutan hijau), sehingga
secara umum ayam hutan dinamai Gallus sp.
2. Ayam hutan termasuk jenis ayam liar yang menjadi nenek moyang ayam
kampung. Sehingga dari morfologinya tidak memiliki
perbedaan. Perbedaan justru antara ayam
jantan dan betina. Ayam jantan cenderung
memiliki bulu yang lebih bervariasi dan mengilap.
ELANG
1. Nah, tokoh kedua kali ini adalah elang. Elang menyebar populasinya di seluruh Indonesia. Karena penembakan dan perburuan, populasinya makin berkurang.
2. Klasifikasi
ilmiah dari elang dapat diuraikan sebagai berikut, tergolong dalam Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves,
Ordo: Accipitriformes,
Famili: Accipitridae, Spesies: Accipitridae sp.
Elang dalam bahasa Inggris disebut Hawk dan untuk jenis yang lebih
besar disebut Eagle. Elang tergolong
dalam binatang berdarah panas, bersayap dan tubuh tertutup penuh oleh bulu
pelepah. Cara berkembang biak sama
dengan jenis aves yang lain, yaitu bertelor (ovipar).
3. Elang adalah hewan predator (pemangsa) hewan kecil seperti tikus,
tupai, adal, ikan dan ayam. Elang yang
berhabitat di sekitar air memiliki mangsa utama binatang berkelas pisces. Bentuk
paruhnya melengkung dan kuat berfungsi untuk mencabik daging mangsa. Demikian juga dengan cakar kakinya tajam dan
kuat untuk mencengkeram tangkapannya.
4. Keistimewaan
organ elang juga terletak pada mata dan system pernapasannya. Mata elang dapat memfokuskan pengelihatannya
dalam jarak jauh sehingga dapat mendeteksi adanya mangsa. Sementara itu, organ napasnya mampu menampung
volume ogsigen dalam jumlah banyak.
Dengan kelebihannya ini elang dapat terbang pada ketinggian dalam waktu
lama.
5. Jenis-jenis
elang di Indonesia, antara lain: Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Jawa Elang-ular Bido, Elang-ular Jari Pendek Elang Buteo, Elang
Gunung, Garuda, Elang
Sulawesi, Elang Wallace, Elang Flores, Elang-laut Perut
Putih, Elang Bondol, Elang-ikan
Kepala Abu, Elang-ikan
Kecil, Elang
Perut Karat, Elang Tikus, Elang Paria, Rajawali
Kuskus Rajawali
Tutul, dan Elang emas
REFERENSI:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar