#LEGENDA KE-39
MENGAPA THAILAND DISEBUT
NEGERI GAJAH PUTIH?
Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, Thailand bukanlah negara
dengan populasi gajah di dalamnya.
Sehingga sang raja mengutus abdi kerajaan yang dipercayanya untuk
mencari sepasang gajah. Tujuannya, untuk
membuktikan pada rakyatnya bahwa binatang yang disebut gajah itu emang ada.
“Pu nggawa,
aku utus kalian untuk membeli gajah dari negeri lain. Cukup satu pasang saja, jantan dan betina.
Bawalah binatang itu dan kita pelihara di negeri kita.”
“Baiklah
Maharaja, segala titah akan kami laksanakan.”
Para punggawa itu mematuhi perintah raja.
Maka
berangkatlah utusan raja dengan kapal layar.
Sauh dilepas, samudra diarungi demi mendapatkan binatang bernama gajah.
Penantian berharihari
lamanya. Gajah yang ditunggu itupun tiba
di istana. Sepasang gajah itu begitu gemuk dan sehat sesuai pengorbanan yang
dikeluarkan kerajaan.
“Aku ingin
mempertontonkan gajah-gajah ini di depan khalayak ramai, tapi sebelum rakyat
tahu, para pembesar dan pegawai istana harus tahu terlebih dahulu. Baru kemudian rakyat. Aku tidak ingin para pembesar istana kalah
dalam hal pengetahuan dengan rakyat jelata.”
Titah raja pun dilaksanakan malam itu juga. Seluruh pembesar dan pegawai kerajaan harus
menyaksikan gajah pada malam itu juga.
“Berhubung
keadaan gelap di malam ini, bawalah obor supaya semua yang hadir dapat menyaksikan
seperti apa gajah itu.”
Atas perintah raja, para pawing gajah merasa keberatan. “Maaf, Baginda Maharaja. Gajah-gajah itu akan ketakutan bila melihat
api. Apalagi bila obor itu satusatunya
sumber cahaya. Mereka akan merasa
terganggu dan silau. Bisa-bisa mereka
akan ngamuk dan berusaha keluar dari sangkar besi.”
Maharaja bisa memahami keberatan dari para pawing. Maka
diputuskan tidak ada satu pun yang diperbolehkan membawa obor.
Malam itu
juga, para pembesar kerajaan dari segala penjuru pun datang. Timur, barat,
selatan dan utara. Mereka datang tanpa
adanya penerangan sedikitpun. Untuk
mengetahui seperti apa wujud dari seekor gajah, mereka diberi kesempatan meraba
gajah-gajah dalam sangkar itu.
Pembesar kerajaan
dari utara, Aroon, memegang kakinya.
Dalam benaknya gajah adalah binatang yang sangat besar karena tangannya
tak mampu memeluk lingkar kakinya. “Benar kata orang-orang. Gajah memang sangat besar. Aku pun tak sanggup memeluk kakinya.”
Lain halnya
dengan Chaow, pembesar kerajaan dari wilayah selatan. Ia menganggap bahwa gajah hanyalah sebentuk
binatang kecil yang keras. Saat itu ia
hanya memegang gadingnya. ”Ah….ternyata orang-orang yang menceritakan bentuk
gajah itu telah berbohong. Gajah
hanyalah binatang kecil yang keras.”
Junta,
pembesar dari barat menyentuh bagian perut.
Selama dia meraba tidak ada bagian lain yang teraba kecuali perut. Ia pun berkesimpulan bahwa gajah sangatlah
besar luas, tanpa ujung.
Yang
terakhir, Klahan, pembesar kerajaan dari wilayah timur. Ia memegang ekor gajah, “Ternyata, gajah
hanyalah seekor binatang kecil seperti ular.
Mereka telah berbohong bahwa gajah itu bertubuh besar.”
Setelah
semua meraba gajah. Para pembesar itu dianggap memiliki cukup pengetahuan untuk
disampaikan pada rakyat. Mereka
diperintahkan untuk kembali pada rakyat dan menceritakan tentang gajah yang
mereka raba.
“Wahai para
pembesar kerajaan, kembalilah pada rakyat kalian dan sampaikan dengan
sebenar-benarnya gambaran wujud gajah yang sudah kalian ketahui malam ini.” Demikian perintah raja agar para pembesar
pulang kembali ke wilayahnya masing-masing.
Begitu
sampai ke wilayahnya, para pembesar itu bercerita pada rakyatnya sesuai
pendapatnya masing-masing. Mulailah
permasalahan besar terjadi. Rakyat yang
saling bertemu dan menceritakan bentuk gajah.
Masing-masing meyakini bahwa penguasa daerah merekalah yang paling benar
dalam menggambarkan tentang gajah.
“Pemimpin
kalian telah berbohong, gajah itu hanyalah binatang kecil yang keras, Pemimpin kami yang benar” ungkap rakyat dari
sebelah timur.
“Kami tetap
yakin bahwa gajah itu sangat besar.
Pemimpin, Tuan Junta, tidak pernah berbohong,” kata rakyat di wilayah
barat.
Keributan makin menjadi.
Maharaja kecewa dengan para pembesar yang enjadi olokolok rakyatnya
bahkan nyaris menimbulkan perpecahan.
Raja yang bijaksana itu akhirnya memutuskan untuk mengundang rakyat
menyaksikan langsung dua gajah itu di pendopo.
“Rakyatku, kali ini kalian akan menyaksikan sendiri gajah
itu. Saya berharap bahwa kalian akan
berhenti bertengkar setelah menyaksikan sendiri. Langsung dari tempat ini. Kalau ada penjelasan yang salah dari pembesar
kerajaan, saya mohon maf karena kesalahan bukan pada mereka. Saat mereka menyaksikan gajah-gajah ini,
keadaan gelap gulita dan tidak ada penerangan sedikit pun. Mereka tidak bermaksud membohongi kalian tapi
mereka memegang gajah ini tanpa melihatnya.
Sekali lagi mulai saat ini, setelah kalian melihat sendiri, bersatulah
kalian dan jangan ada keributan lagi.”
Rakyat merasa puas dengan penjelasan raja. Mereka pulang dengan tertib dan damai. Berat kehadiran gajah itu, rakyat Thailand
embali rukun. Maka sejak saat itu
Thailand diberi julukan Negeri Gajah Putih.
Tujuannya untuk mengenang jasa para gajah yang enyatukan kembali rakyat
seantero negeri.
HIKMAH:
1. Dalam mendapatkan pengetahuan, kita harus menggunakan seluruh
indera kita sebagai alat menggali pengalaman dari lingkungan di luar diri kita.
2. Janganlah keinginan meninggikan suatu golongan dan demi
gengsi membuat kita melakukan hal di luar rasionalitas, karena dapat berakibat
fatal yang justru sangat jauh dari pengharapan
3. Tidak ada perbedaan antara pembesar dan rakyat jelata, maka
perlakukan semua dengan adil
4. Pemimpin memegang peran yang paling strategis untuk
menentukan nasib mereka yang ada di bawah kepemimpinannya, maka bijaksanalah.
FAKTA ILMIAH
Thailand terletak di Asia Tenggara. Berbatasan dengan Laos dan Kamboja di sebelah
timur, Malaysia dan teluk Siam di selatan, Myanmar dan Laut Andaman di sebelah
barat.
Ibukotanya adalah Bangkok, dengan bahasa resmi Thai. Sistem pemerintahannya berbentuk Monarki
Konstitusional. Semboyan
negara Chat, Satsana, Phra
Maha Kasat(Thai: "Bangsa, Agama, Raja"), lagu
kebangsaannya Phleng Chat Thai dan lagu kerajaan Sansoen
Phra Barami.
Jumlah penduduk hingga 2015 sekitar 65 juta jiwa. Mata uang yang mereka gunakan Bath. Dalam mengemudi, mereka menggunakan lajur
kiri seperti di negara kita.
Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai
petani. Sekitar enam puluh persen. Tidak mengherankan jika tulang punggung
perekonomian negara berasal dari eksport pangan. Saat ini Thailand adalah eksportir terbesar
dunia untuk komoditas gula
O’ya, untuk
jenis gajah putih sebagai seekor binatang sebenarnya merupakan penyimpangan genetika
gajah. Gajah putih adalah nama lain dari
gajah albino. Penyimpangan ini jarang
terjadi akan tetapai ada. Sebagai gajah
yang tidak normal, gajah putih emiliki fisik yang lemah. Tidak memiliki cukup tenaga untuk
dipekerjakan. Perawatannya pun mahal. Warna kulit ereka tidak sepenuhnya putih
sebagaimana yang sering diilustrasikan.
Akan tetapi agak coklat kelabu merah dan berubah menjadi merah muda saat
basah.
REFERENSI
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Thailand/17/3/2019
3. https://www.haibunda.com/nama-bayi/20181020104655-88-27387/37-nama-bayi-thailand-beserta-maknanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar