Rabu, 24 April 2019

#LEGENDA KE-39 MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?


#LEGENDA KE-39
MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?

Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, Thailand bukanlah negara dengan populasi gajah di dalamnya.  Sehingga sang raja mengutus abdi kerajaan yang dipercayanya untuk mencari sepasang gajah.  Tujuannya, untuk membuktikan pada rakyatnya bahwa binatang yang disebut gajah itu emang ada.
            “Pu nggawa, aku utus kalian untuk membeli gajah dari negeri lain.  Cukup satu pasang saja, jantan dan betina. Bawalah binatang itu dan kita pelihara di negeri kita.”
            “Baiklah Maharaja, segala titah akan kami laksanakan.”  Para punggawa itu mematuhi perintah raja.
            Maka berangkatlah utusan raja dengan kapal layar.  Sauh dilepas, samudra diarungi demi mendapatkan binatang bernama gajah.
            Penantian berharihari lamanya.  Gajah yang ditunggu itupun tiba di istana. Sepasang gajah itu begitu gemuk dan sehat sesuai pengorbanan yang dikeluarkan kerajaan.
            “Aku ingin mempertontonkan gajah-gajah ini di depan khalayak ramai, tapi sebelum rakyat tahu, para pembesar dan pegawai istana harus tahu terlebih dahulu.  Baru kemudian rakyat.  Aku tidak ingin para pembesar istana kalah dalam hal pengetahuan dengan rakyat jelata.”  Titah raja pun dilaksanakan malam itu juga.  Seluruh pembesar dan pegawai kerajaan harus menyaksikan gajah pada malam itu juga.
            “Berhubung keadaan gelap di malam ini, bawalah obor supaya semua yang hadir dapat menyaksikan seperti apa gajah itu.”
Atas perintah raja, para pawing gajah merasa keberatan.  “Maaf, Baginda Maharaja.  Gajah-gajah itu akan ketakutan bila melihat api.  Apalagi bila obor itu satusatunya sumber cahaya.  Mereka akan merasa terganggu dan silau.  Bisa-bisa mereka akan ngamuk dan berusaha keluar dari sangkar besi.”
Maharaja bisa memahami keberatan dari para pawing. Maka diputuskan tidak ada satu pun yang diperbolehkan membawa obor.
            Malam itu juga, para pembesar kerajaan dari segala penjuru pun datang. Timur, barat, selatan dan utara.  Mereka datang tanpa adanya penerangan sedikitpun.  Untuk mengetahui seperti apa wujud dari seekor gajah, mereka diberi kesempatan meraba gajah-gajah dalam sangkar itu.
            Pembesar kerajaan dari utara, Aroon, memegang kakinya.  Dalam benaknya gajah adalah binatang yang sangat besar karena tangannya tak mampu memeluk lingkar kakinya. “Benar kata orang-orang.  Gajah memang sangat besar.  Aku pun tak sanggup memeluk kakinya.”
            Lain halnya dengan Chaow, pembesar kerajaan dari wilayah selatan.  Ia menganggap bahwa gajah hanyalah sebentuk binatang kecil yang keras.  Saat itu ia hanya memegang gadingnya. ”Ah….ternyata orang-orang yang menceritakan bentuk gajah itu telah berbohong.  Gajah hanyalah binatang kecil yang keras.”
            Junta, pembesar dari barat menyentuh bagian perut.  Selama dia meraba tidak ada bagian lain yang teraba kecuali perut.  Ia pun berkesimpulan bahwa gajah sangatlah besar luas, tanpa ujung.
            Yang terakhir, Klahan, pembesar kerajaan dari wilayah timur.  Ia memegang ekor gajah, “Ternyata, gajah hanyalah seekor binatang kecil seperti ular.  Mereka telah berbohong bahwa gajah itu bertubuh besar.”
            Setelah semua meraba gajah. Para pembesar itu dianggap memiliki cukup pengetahuan untuk disampaikan pada rakyat.  Mereka diperintahkan untuk kembali pada rakyat dan menceritakan tentang gajah yang mereka raba.
            “Wahai para pembesar kerajaan, kembalilah pada rakyat kalian dan sampaikan dengan sebenar-benarnya gambaran wujud gajah yang sudah kalian ketahui malam ini.”  Demikian perintah raja agar para pembesar pulang kembali ke wilayahnya masing-masing.
            Begitu sampai ke wilayahnya, para pembesar itu bercerita pada rakyatnya sesuai pendapatnya masing-masing.  Mulailah permasalahan besar terjadi.  Rakyat yang saling bertemu dan menceritakan bentuk gajah.  Masing-masing meyakini bahwa penguasa daerah merekalah yang paling benar dalam menggambarkan tentang gajah. 
            “Pemimpin kalian telah berbohong, gajah itu hanyalah binatang kecil yang keras,  Pemimpin kami yang benar” ungkap rakyat dari sebelah timur.
            “Kami tetap yakin bahwa gajah itu sangat besar.  Pemimpin, Tuan Junta, tidak pernah berbohong,” kata rakyat di wilayah barat.
Keributan makin menjadi.  Maharaja kecewa dengan para pembesar yang enjadi olokolok rakyatnya bahkan nyaris menimbulkan perpecahan.  Raja yang bijaksana itu akhirnya memutuskan untuk mengundang rakyat menyaksikan langsung dua gajah itu di pendopo. 
“Rakyatku, kali ini kalian akan menyaksikan sendiri gajah itu.  Saya berharap bahwa kalian akan berhenti bertengkar setelah menyaksikan sendiri.  Langsung dari tempat ini.  Kalau ada penjelasan yang salah dari pembesar kerajaan, saya mohon maf karena kesalahan bukan pada mereka.  Saat mereka menyaksikan gajah-gajah ini, keadaan gelap gulita dan tidak ada penerangan sedikit pun.  Mereka tidak bermaksud membohongi kalian tapi mereka memegang gajah ini tanpa melihatnya.  Sekali lagi mulai saat ini, setelah kalian melihat sendiri, bersatulah kalian dan jangan ada keributan lagi.”
Rakyat merasa puas dengan penjelasan raja.  Mereka pulang dengan tertib dan damai.  Berat kehadiran gajah itu, rakyat Thailand embali rukun.  Maka sejak saat itu Thailand diberi julukan Negeri Gajah Putih.  Tujuannya untuk mengenang jasa para gajah yang enyatukan kembali rakyat seantero negeri.

HIKMAH:
1. Dalam mendapatkan pengetahuan, kita harus menggunakan seluruh indera kita sebagai alat menggali pengalaman dari lingkungan di luar diri kita.
2. Janganlah keinginan meninggikan suatu golongan dan demi gengsi membuat kita melakukan hal di luar rasionalitas, karena dapat berakibat fatal yang justru sangat jauh dari pengharapan
3. Tidak ada perbedaan antara pembesar dan rakyat jelata, maka perlakukan semua dengan adil
4. Pemimpin memegang peran yang paling strategis untuk menentukan nasib mereka yang ada di bawah kepemimpinannya, maka bijaksanalah.

FAKTA ILMIAH

Thailand terletak di Asia Tenggara.  Berbatasan dengan Laos dan Kamboja di sebelah timur, Malaysia dan teluk Siam di selatan, Myanmar dan Laut Andaman di sebelah barat.   
Ibukotanya adalah Bangkok, dengan bahasa resmi Thai.  Sistem pemerintahannya berbentuk Monarki Konstitusional.  Semboyan negara  Chat, Satsana, Phra Maha Kasat(Thai: "Bangsa,  Agama, Raja"), lagu kebangsaannya Phleng Chat Thai  dan lagu kerajaan Sansoen Phra Barami.
Jumlah penduduk hingga 2015 sekitar 65 juta jiwa.  Mata uang yang mereka gunakan Bath.  Dalam mengemudi, mereka menggunakan lajur kiri seperti di negara kita.
Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.  Sekitar enam puluh persen.  Tidak mengherankan jika tulang punggung perekonomian negara berasal dari eksport pangan.  Saat ini Thailand adalah eksportir terbesar dunia untuk komoditas gula
            O’ya, untuk jenis gajah putih sebagai seekor binatang sebenarnya merupakan penyimpangan genetika gajah.  Gajah putih adalah nama lain dari gajah albino.  Penyimpangan ini jarang terjadi akan tetapai ada.   Sebagai gajah yang tidak normal, gajah putih emiliki fisik yang lemah.  Tidak memiliki cukup tenaga untuk dipekerjakan.  Perawatannya pun mahal.  Warna kulit ereka tidak sepenuhnya putih sebagaimana yang sering diilustrasikan.  Akan tetapi agak coklat kelabu merah dan berubah menjadi merah muda saat basah.
           
REFERENSI

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Thailand/17/3/2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar