Jumat, 22 Maret 2019

LEGENDA KE-37 (LEGENDA BUAH SEMANGKA DAN CINTA)


LEGENDA BUAH SEMANGKA (VIETNAM)

Di Vietnam, kita mengenal adanya Festival Tet, yaitu festival tahunan dimana orang-orang memakan semangka dan bijia-bijiannya di sepanjang jalan.
Nah, festival ini tidak lepas dari legenda berikut ini!
Berabad-abad lalu, badai melintasi Vietnam.  Badai menyapu pepohonan.  Cabang-cabang dan ranting-rantingnya beterbangan, jatuh.  Atap istana tersapu hingga rontok berkeping-keping. 
Di  lautan pun gelombang menggulung tinggi.  Perahu-perahu nelayan segera merapat ke tepi pantai.  Akan tetapi ada satu perahu yang terperangkap dalam badai. Lambung kapal terantuk karang, berputar mengikuti badai. 
“Turunkan layar! Turunkan layar!”  Komando mahkoda pada awak kapal.  Semua penumpang kalut dan panic dalam suasana yang tidak menguntungkan ini.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, lambung kapal bocor.  Air memasuki kapal, cepat menerobos ke dalam dan penumpang makin panik. 
“Bagaimana ini! Celaka!  Kita semua akan tenggelam dan mati bersama! Tuhan ampuni kami! Sial kita akan mati di sini sekarang juga!”  Teriakan riuh rendah saling bersahutan, penuh keputusasaan.
Akan tetapi hal ajaib yang terjadi.  Sebuah keranjang berisi bayi yang baru lahir ada satu  lepas dari pusaran badai, menuju tepi pantai.  Bayi itu terdampar di sana.
Seorang istri nelayan sedang berjalan di tepi pantai, di pagi itu.
“Ya, Tuhan, benarkah pendengaranku?  Sepagi ini ada suara bayi menangis?” Puong Anh, nama wanita itu terheran-heran.
Didekatinya sumber suara itu, ternyata sesosok bayi mungil. “Ya, Tuhan, bayi ini sungguh ajaib.  Dari pakaiannya pastilah dia anak orang aya.  Aku akan menghadiahkannya pada raja.  Semoga ada hadiah yang bisa aku terima.”
Puong Ahn menghadap raja.  Raja terlihat begitu bahagia dengan hadiah dari rakyatnya itu,” Benakah bayi ini telah selamat dari badai dengan keajaiban?”
“Benar Paduka, hamba dapati bayi ini di tepi pantai sehari setelah kabar hilangnya kapal yang diterpa badai”
“Kalau begitu, aku mau membesarkannya.  Bayi ini pastilah bayi ajaib.  Dan akan au beri nama Pangeran Mai An Tiem.
Pangeran Mei An Tiem tumbuh menjadi seorang pemuda yang masyhur.  Luas wawasan dan dalam ilmu pengetahuannya.  Kebijaksanaan dan kepahamannya pada keinginan raja membuatnya sering dimintai nasihat oleh dewan kerajaan.
Di usia dua puluh tahun Pangeran Mei menikah dengan salah satu putrid raja yang bernama Putri Co Ba.  Pesta pun diadakan dengan semeriah mungkin.
Ternyata kebahagiaan dan kemeriahan ini tidak dinikmati oleh pangeran Hau, putra kandung raja yang dilanda iri dengki pada Pangeran Mei An Tiem.  Muncullah rencana busuk terhadap Mei An Tiem.
“Aku harus meyakinan semua orang bahwa Mei An Tiem adalah seorang yang jahat, penghianat, anak angkat yang tak tahu diuntung.”  Rencana ini berlanjut dengan menyuap orang-orang istana agar menyebarkan kabar bohong, bahwa Pangeran Mei An Tiem adalah pemuda yang sombong, angkuh, gila kuasa dan akan mengudeta raja.
Suatu ketika kepala kerajaan menghadap raja dan berusaha memfitnah Pangeran Mei An Tiem, ”Paduka, adalah sebuah keharusan untuk mewaspadai Pangeran Mei An Tiem.  Beliau telah menyusun rencana bahkan menggerakkan pasukan untuk merebut kerajaan ini dari Paduka.” 
“Aku sangat paham keadaan menantuku itu, jangan kau coba merusak namanya di depanku.”
“Paduka, jangan sampai Paduka menyesal dan menunggu pasukannya makin kuat.  Hamba punya bukti.”  Dipanggilnya beberapa orang prajurit yang dibayar tinggi untuk mengaku bahwa mereka diberi imbalan besar untuk menyerang kerajaan.
Mendengar semua kesaksian itu, raja terpengaruh juga.  Maka ia pun memanggil Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba.
“Anak tak tahu diuntung.  Kamu aku asuh dari kecil ternyata menginginkan tahtaku.  Mulai saat ini aku usir kau dari negeri ini.  Pergilah bersama kapal yang akan membawamu meninggalkan kerajaan ini.”
Pangeran Mei An Tiem tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.  Sementara Putri Co Ba memilih untuk mengikuti suaminya.
“Ayahanda, lebih baik aku mati daripada harus terpisah dari Kanda Mei. Sampai ke ujung dunia pun aku akan tetap mendampinginya.
Akhirnya mereka menaiki kapal yang disediakan kerajaan.  Kesedihan yang mencoba ditahan oleh Sang Raja adalah perpisahan dengan dua orang yang sangat disayangi dan diyakini kebaikannya.
Perjalanan mengarungi samudra pun mereka jalani.  Hingga mereka terdampar di pulau yang subur namun sunyi.  Dalam kesunyian itu, mereka mensyukuri segala yang mereka dapatkan meskipun dengan segala susah payah.  Sangat berbeda dengan kehidupan di istana yang serba mewah dan mudah.
Mereka terbiasa setelah berhari-hari belajar mengambil buah dari pepohonan, mencari ikan di sungai, memanjat tebing untuk meraih buah matang di tepi sungai curam. Sesekali Putri Co Ba mengimpikan bisa kembali ke istana.  Akan tetapi kenyataan membuat mereka pasrah.
Suatu sore, Pangeran Mei An Tiem sedang berjalan di tepi danau.  Dilihatnya dua ekor burung sedang bertengkar memperebutkan beberapa biji hitam.  Ia meleraikan burung itu sebelum mereka bertarung.  Burung-burung itu terbang ke angkasa.
“Benih apa yang mereka perebutkan ini? Baiklah akan aku tanam.  Semoga  akan tumbuh menjadi tanaman bermanfaat.”
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, benih tumbuh menjalar menjadi tumbuhan yang tak biasa yang akhirnya berbuah.  Saat dirasa telah masak, mereka memetik buah berkulit hijau bermotif loreng itu.
“Hemmmm, betapa lezatnya buah ini.”  Putri Co Ba menikmati buah itu sambil membayangkan dirinya hadir di istana raja.
“Ayahanda pasti akan bahagia kalau turut merasakan buah terlezat ini.”  Pangeran Mei An Tiem memiliki ide untuk mengirim biji-biji hitam semangka itu.  Ia pun mencari ide bagaimana supaya Sang Raja dapat turut menikmati semangka dan sekaligus tahu bahwa semangka itu hadiah darinya.
Diputuskannya untuk menghanyutkan biji semangka itu. Dengan mengambill bagian dagingnya ia membuat sampan kecil dari kulit semangka.  Biji semangka diletakkan dalam sampan itu.  Di bagian luar kulit ia menulis damanya bersanding dengan nama Putri Co Ba.
“Dengan nama Tuhan, semoga hadiah ini sampai pada ayahanda.”
Demikianlah rasa cinta yang tulus pada Pangeran Mei An Tiem, hanyut bersama biji hitam semangka. 
Beberapa ari di laut, akhirnya kulit semangka itu ditemukan.  Sungguh bukan kebetulan kalau yang menemukannya Puong Ahn, istri nelayan yang juga penemu bayi ajaib.  Segera Puong Ahn yang telah mulai renta itu mengambil sampan kecil itu dan menyerahkan pada raja.
Baginda raja menerima hadiah itu dengan penuh rasa rindu.  “Aku tahu ini hadiah yang ingin kalian persembahkan untukku.  Aku akan menanamnya.  Jika benih ini baik, aku sendiri yang akan mencari dan menjemput kalian.”  Sang raja berjanji pada dirinya sendiri.  Ia tak mampu menahan rasa cinta dan rindu di hatinya.
Benar saja, biji-biji itu ditanam dan dipelihara dengan baik di kebun kerajaan.  Dalam beberapa bulan, buah semangka ranum telah siap dipetik.  Raja begitu ingin tahu rasa buah yang belum pernah dijumpainya itu.  Tanpa ragu dan bimbang karena keyakinan atas cinta kedua orang anaknya, Sang Raja memakan buah itu. 
“Luar biasa lezatnya buah ini, aku harus menepati janjiku.  Mencari dan menjemput Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba kembali ke istana.”
Kisah ini berakhir dengan pertemuan mengharukan antara Sang Raja dengan Pangeran Mei An Tie dan Putri Coba.  Kedatangan mereka disambut dengan pesta semangka yang mereka sebut Festival Tet hingga kini.  Sementara itu Pangeran Hau yang merasa malu telah mencelakai Pangeran Mei An Tiem, menyingkir jauh dari kerajaan.

HIKMAH:

1. Keluhuran budi akan mendatangkan cinta, asih dan sayang yang tetap akan dikenang hingga akhir hayat
2. Kerendahan hati untuk slalu menolong dan berbuat baik pada akhirnya akan melahirka cinta
3. Janganlah rasa iri dengki menghilangkan kasih sayang dan melahirkan permusuhan
4. Cobalah untuk bahagia saat orang lain bahagia dan bersedih saat orang lain menderita
5. Tetaplah gigih dalam keadaan apapun, karena Allah akan selalu membagikan jalan keluarNya
6. Buanglah dendam dengan mencoba memaafkan maka kemenangan akan menghampiri kita

FAKTA ILMIAH:

Semangka merupakan tanaman buah.  Memiliki tubuh merambat namun bukan merupakan stolon.  Berdaun lebar, berbunga terompet.  Buahnya yang besar mengingatkan kita pada labu. 

Semangka memiliki urutan taksonomi sebagai berikut: Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Curcubitales, Famili Cucurbitaceae, Genus Citrullus dan Spesies Citrullus lanotus.

Kandungan gizinya sangat banya, antara lain energy 30 kkal dalam 100 gram.  Karbohidrat 7,55 g, gula 6,2 g, serat 0,4 g, lemak 0,15 g, protein 0,61 g, air 91,45 g.  Selebihnya berupa vitamin A, B1, B2,B3, B5, B6, B9,dan vitamin C.  

Kandungan mineralnya meliputi Kalsium, Besi, Magnesium,  Fosfor, Kalium, dan Zink.

REFERENSI:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar