LEGENDA SELAT SUNDA DAN GUNUNG
KRAKATAU
Pada jaman dahulu, Sumatra dan Jawa masih bersatu. Raja yang berkuasa bernama Prabu Rakata. Prabu Rakata dikenal sebagai seorang yang
adil dan bijaksana.
Usianya yang makin senja, membuatnya berniat menyerahkan kekuasaan
pada dua orang putranya.
“Putraku, Nak Mas Raden Sundana dan Raden Tapabaruna,
Prabu Rakata. Ayahanda sudah makin
sepuh dan banyak hal yang aku rasakan berat memimpin negeri ini.” Prabu Rakata memulai perbincangan dengan dua
putranya di peraduan.
“Ampun Ayahanda, Ananda rasa Ayahanda masih cukup kuat dan
sangat dibutuhkan oleh rakyat,” kata Raden Sundana. Sementara Raden Tapabaruna hanya diam dengan
keluhan Sang Prabu.
“Bagaimanapun kalian sudah dewasa. Jangan sampai saat ajal menjemput, kalian
tidak siap menerima amanat kepemimpinan yang aku tinggalkan.”
Pembicaraan serius ini membuat Sang Prabu memanggil beberapa
orang dekat di istananya.
“Wahai para pembantuku, orang-orang yang setia padaku juga
pada kerajaan. Aku memanggil kalian
untuk suatu keputusan besar dan sangat penting.
Aku membutuhkan pendapat kalian tentang kepemimpinan yang harus aku
serahkan pada dua putraku. Usiaku makin
uzur, sudah saatnya aku mendekatkan diri pada Yang Kuasa.”
Semua mendengarkan titah raja dengan seksama. Perundingan pun berlanjut dengan musyawarah
serius tentang masa depan kerajaan.
Akhirnya tibalah saatnya Sang Prabu mengumumkan keputusan
yang dimufakati para petinggi kerajaan.
“Sudah tiba saatnya aku mendekatkan diriku pada Yang Maha
Kuasa. Aku akan melakukan uzlah dan
suluk di Sang sisa usiaku. Maka aku
serahkan dua wilayah besar kerajaan ini.
Wilayah timur untuk Raden Sundana dan wilayah barat untuk Raden Tapabaruna.”
Keputusan raja disambut dengan riuh rendah suara rakyat. Ada yang suka ada juga yang kecewa bahkan ada
yang tidak terlalu mempermasalahkan siapa raja wilayahnya nanti. Semua sesuai dengan rasa kecintaan mereka
pada masing-masing pangeran kerajaan.
Sang Prabu akhirnya berangkat menyendiri. Dia hanya ditemani satu benda kesayangannya
yaitu guci. Beberapa tahun di tempat
uzlahnya, Sang Prabu mendengar kabar bahwa kedua putranya terlibat perang
besar.
“Sudah aku duga, saat aku masih ada pun sampai hati mereka
berbuat hal yang mengecewakanku.
Pengawal, aku harus melakukan sesuatu.”
Prabu Rakata berucap geram.
Murkanya kali ini tak dapat ia tahan.
Apakah yang dilakukan Sang Prabu Kemudian?
Sang Prabu mengisi penuh guci kesayangannya dengan air
laut. Ia bersama pengawal menemui kedua
putranya.
Demi mendengar Sang Prabu hendak pulang menemui mereka,
mereka melakukan kesepakatan.
“Kang Mas, aku tidak akan menghentikan peperangan ini,
seandainya ayahanda tidak berniat untuk pulang.
Aku berhenti bukan berarti kalah.
Ini semua aku lakukan untuk menghibur ayahanda prabu.”
“Baik Dimas, aku aan menerima tantanganmu itu, tunggu sampai
ayahanda berangkat. uzlah kembali.”
Keduanya tidak menyadari bahwa Sang Prabu telah kembali dan
mendengar perbincangan mereka.
“Kalian sangat mengecewakanku. Aku perintahkan kalian pulang dan berdiri di
wilayah masing-masing!!!”
Kedua putra raja itu pun mundur dengan pasukannya
masing-masing. Penyebab peperangan itu
ternyata perebutan daerah perbatasan yang kaya akan emas.
Sang Prabu segera memberikan pelajaran pada kedua
putranya.
“Baiklah, aku akan sirami wilayah sengketa ini dengan air
laut di guci ini. Kekayaan dunia yang
telah membuat anak-anakku berperang akan sirna.” Sang Prabu Rakata membenaman guci
kesayangannya, dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Guncangan dahsyat membelah daerah sengketa
itu menjadi dua. Air laut yang
disiramkan Sang Prabu mencari jalan menuju asalnya, membuat jalan air laut
menggenangi daerag gempa itu.
Akhirnya dua wilayah barat dan timur itu pun terbelah
sempurna. Guci yang ditanam itu berubah
menjadi gunung. Untuk mengenang pemilik
guci itu, mereka menamakannya sebagai Gunung Krakatau.
HIKMAH:
1. Janganlah kecintaan pada dunia, ambisi akan kekayaan dan
keduniaan menghilangkan persaudaraan dan rasa kemanusiaan
2. Perselisihan diantara saudara akan membekaskan rasa sakit
pada kedua orang tua, maka selalulah hidup rukun penuh kedamaian
3. Jadilah pemimpin yang adil karena ditangan pemimpin yang
adil, rakyat akan selamat. Sebaliknya
bila pemimpin tidak adil dan bijak, banyak yang akan menjadi korbannya.
FAKTA ILMIAH:
Krakatau
tergolong dalam gunung kaldera, memiliki ketinggian 813 m. Terletak di Selat Sunda, antara Jawa dan
Sumatera.
Anak Krakatau
'lahir' pada 11 Juni 1927, sekitar 40 tahun setelah letusan paling dahsyat di
bulan Agustus tahun 1883. Komposisi magma basa Anak Krakatau muncul di pusat
kompleks Krakatau. Anak Krakatau sudah berada di level kedua sejak 2012. Pada
pertengahan 2018 Anak Krakatau kembali bererupsi aktif dan letusan terakhirnya
terjadi pada tanggal 22 Desember 2018.
Erupsi Krakatau 1883 dikatakan sebagai erupsi terkuat yang
terekan sejarah dan masuk dalam Gueness Book of Record dengan nilai VEI
(Volcanic Explosivity Index) terbesar dan daya rusak terhebat dalam sejarah
peradaban manusia. Letusannya terdengar
hingga 4600 kilometer dan letusannya terdengar oleh 1/8 penduduk bumi, abu
vulkaniknya tersebar dalam radius 550 km.
Asapnya mencapai ketinggian 11 km. Meninggalkan bekas kaldera bawah laut
sedalam 250 m dan lebar 7km. Gelombang Tsunami
yang ditimbulkan setinggi 30m, menjangkau Port Elizabeth Afrika Selatan. Amukannya terjadi selama 20 jam 50 menit,
menghilangkan 162 desa dan menelan korban jiwa sebanyak 36417 jiwa. Kekuatan ini dinilai 21574 kali lebih hebat
dari jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Meskipun
letusan ini tampak dahsyat, ternyata Krakatau Purba jauh lebih dahsyat. Tertulis dalam teks Jawa Kuno berjudul
Pustaka Raja Parwa, di tahun 416 M, Gunung Krakatau Purba memiliki etinggian
2000 m di atas permukaan air laut, dengan lingkaran pantai 11 km.
Digambarkan
bahwa ledakan selama 10 hari dengan muntahan 1 juta ton perdetik berasal dari
Gunung Batuwara (Gunung Krakatau Purba).
Guncangan menakutkan terus terjadi, angin, bujan dan gelombang laut
begitu menakutkan, dunia menjadi gelap.
Pulau Jawa terpisah menjadi dua bagian yaitu Sumatra dan Jawa. Demikian menurut buku Pustaka Raja
Parwa. Akibat lain dari ledakan ini
adalah musnahnya beberapa peradaban di bumi ketika itu, antara lain Persia
Purba, suku-suku India di Amerika.
Temperatur bumi turun hingga 5-100 dalam 10-20 tahun
REFERENSI:
1. https://www.tanahnusantara.com/legenda-selat-sunda-sekilas-kisah-gunung-krakatau/17/3/2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar