TERBENTUKNYA
PULAU TIMOR TIMUR
Dikisahkan
secara turun temurun, bahwa sebelum Timor Timur muncul sebagai pulau, terdapa
pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di
pulau itu hiduplah dua pemuda yang memiliki sifat sangat berlainan. Sebut saja namanya Rauk dan Mere. Meskipun mereka bersahabat, tetapi memeka
punya karakter yang sangat berbeda.
Rauk Mao adalah
pemuda yang pemberani dan cenderung nekat.
Kesukaannya dalam berburu dan berpetualang seringkali tidak mengindahkan
nasihat dari siapapun. Sementara Mere masih
mau memegang pesan dari
“Rauk, aku suka
dengan kegemaranmu berburu. Bahkan aku
sangat tersemangati dengan keberanianmu.
Tapi tolong kau jangan berburu buaya lagi.” Mere Lisboa mengingatkan sahabatnya yang
selalu melanggar pesan para tetua di pulau yang mereka diami.
“Mere, aku
sudah berhasil menahlukkan semua binatang di pulau ini. Komodo, ular, kuda liar, banteng. Semuanya.
Hanya satu yang sangat ingin aku tundukkan. Buaya dan rasa lezat dagingnya.” Rauk membanggakan dirinya dengan penuh kesombongan.
“Terserah kamu,
Rauk. Tapi tolong jangan kau buru buaya
itu di depan mataku.”
Mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan pulang, Mere memilih
untuk berbalik arah. Ia berfirasat bahwa
Rauk akan kembali memburu buaya saat ini juga.
Rauk akan terus mengikuti keinginannya dan tidak akan pernah menyerah
sebelum keinginannya terpenuhi.
Sesampainya di
tepi danau tempat buaya-buaya itu tinggal, betapa terkejutnya Mere melihat
seekor buaya meronta-ronta.
“Tolong, aku
terperangkap!!” Buaya itu
menggelepar-gelepar karena mulutnya terjepit bamboo.
“Tidak salah
lagi bambu ini milik Rauk.” Ternyata
Rauk memasang jerat dengan membelah bambu, membukanya dengan kayu penahan pada
ujungnya sementara di tengah dan meletakkan sebongkah daging ayam segar.
“Aduh, buaya,
pasti kamu kesakitan terjepit perangkap ini.
Tenanglah, aku akan menolongmu.” Mere membuka jepitan bambu besar itu
dengan sekuat tenaga.
Buaya terlepas
dan dapat bernafas lega. Ia berjanji
akan bersahabat dengan Mere. Sejak saat
itu mereka begitu karib. Kemana pun buaya itu pergi, ia selalu
menawarkan diri untuk membawa Mere berkelana mengarungi danau, bahkan samudra. Mere memanggil Aya pada sahabat barunya itu
“Terima kasih
sahabat, dengan kebaikanmu, aku bisa menikmati keindahan lautan. Tidak ada satu pun pantai yang belum aku
singgahi selama persahabatan kita, Aya,” ungkap Mere jujur.
“Kebaikanku
belum seberapa bila dibandingkan dengan selamatnya nyawaku dari jepitan bambu
beberapa tahun lalu.” Aya mengucapkan
rasa berhutang budinya pada Mere.
Suatu ketika
mereka tiba di sebuah pulau asing. Di
pulau asing itu, Mere berjumpa dengan seorang gadis. Rasa suka pada gadis itu membuat Mere
meminang dan menikahinya. Buah dari
kasih sayang mereka, lahirlah anak-anak Mere.
Meskipun Mere
sudah tidak sendiri, Aya tetap setia
membawa keluarga itu kemanapun mereka mau.
Hingga tibalah waktu yang sangat tidak mereka inginkan. Perpisahan!
“Mere, aku
sudah tua. Aku tidak akan kuat lagi membawa kalian sekeluarga kemana pun
kalian pergi.” Aya berucap sedih.
“Jangan berkata
begitu, Aya. Katakanlah kita akan terus
bersama, walaupun kau tidak lagi membawa kami mengarungi samudera, kami rela.
“Tiada ada yang
bisa melawan ajal. Tenanglah, aku tidak
akan pernah meninggalkan kalian. Di
waktu terakhirku, aku akan membawa kalian ke tengah samudera. Diantara dua
pulau besar dan gugus pulau kecil yang kita tempati ini, aku akan
berhenti. Saat jiwaku pergi, jasadku
akan menjadi tempat abadi kalian.”
Mereka pun
menuju samudera yang dimaksud oleh Aya.
Saat jiwa Aya pergi, tubuhnya terbujur kaku, perlahan tubuh itu melebar
menjadi sebuah pulau yang mirip dengan buaya.
Pulau itu dinamakan Pulau Timor.
Letaknya yang berada di bagian timur melengkapi namanya, Timor Timur
HIKMAH:
1. Tetaplah berbuat baik, karena kebaikan akan selalu membuahkan
kebaikan selanjutnya
2. Saling berterimakasih akan melahirkan keharmonian dalam kehidupan,
saling memberi dan menerima
3. Barang siapa menyayangi apa yang ada di bumi maa akan menyayanginya
para penduduk langit, maka saling berkasihsayanglah.
FAKTA ILMIAH:
Timor Timur
berdiri pada tanggal 17 Juli 1976 dan dibubarkan pada tanggal 19 Oktober 1999. Memilih terpisah dari Indonesia melalui
referendum saat pemerintahan Presiden BJ. Habibie. Resmi sebagai negara merdeka pada 20 Mei
2002, setelah menjadi provinsi ke-27 bersama Indonesia.
Selama 23 tahun bersama Indonesia, Gubernur yang bertugas adalah
Arnaldo dos Reis Araujo (1976-1992) dan Jose Abilio Osorio Soares (1992-1999)
Dijajah oleh
Portugal selama 450 tahun, kesejahteraan dan pembangunan tidak diperhatikan
oleh pemerintah Portugal. Atas
usulan dari partai politik APODETI dan UDT, Timor Timur ingin bergabung dengan
Indonesia pada 28 November 1975. Karena
ada sebagian partai yang berhaluan kiri, FRETELIN tidak ingin bergabung dengan
Indonesia, maka ABRI melakukan tindakan pengamanan terhadap potensi pertikaian
pada 7 Desember 1975.
Meskipun
dianggap invasi, Indonesia tidak pernah memperlakukan Timor Timur sebagai
daerah jajahan, bahkan banyak pembangunan yang diprioritaskan ke provinsi
termuda tersebut. Dalam pidatonya saat
memperingati dua tahun integrasi Timor Timu di Gedung DPRRI, Presiden Soeharto
mengatakan bahwa Timor Timur adalah saudara yang hilang dan telah kembali pada
pangkuan ibu pertiwi.
REFERENSI:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar