Jumat, 22 Maret 2019

LEGENDA KE-36 (TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR)


TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR

Dikisahkan secara turun temurun, bahwa sebelum Timor Timur muncul sebagai pulau, terdapa pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Di pulau itu hiduplah dua pemuda yang memiliki sifat sangat berlainan.  Sebut saja namanya Rauk dan Mere.  Meskipun mereka bersahabat, tetapi memeka punya karakter yang sangat berbeda.
Rauk Mao adalah pemuda yang pemberani dan cenderung nekat.  Kesukaannya dalam berburu dan berpetualang seringkali tidak mengindahkan nasihat dari siapapun.  Sementara Mere masih mau memegang pesan dari
“Rauk, aku suka dengan kegemaranmu berburu.  Bahkan aku sangat tersemangati dengan keberanianmu.  Tapi tolong kau jangan berburu buaya lagi.”  Mere Lisboa mengingatkan sahabatnya yang selalu melanggar pesan para tetua di pulau yang mereka diami.
“Mere, aku sudah berhasil menahlukkan semua binatang di pulau ini.  Komodo, ular, kuda liar, banteng.  Semuanya.  Hanya satu yang sangat ingin aku tundukkan.  Buaya dan rasa lezat dagingnya.”  Rauk membanggakan dirinya dengan penuh kesombongan.
“Terserah kamu, Rauk.  Tapi tolong jangan kau buru buaya itu di depan mataku.”
Mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.  Di tengah perjalanan pulang, Mere memilih untuk berbalik arah.  Ia berfirasat bahwa Rauk akan kembali memburu buaya saat ini juga.  Rauk akan terus mengikuti keinginannya dan tidak akan pernah menyerah sebelum keinginannya terpenuhi.
Sesampainya di tepi danau tempat buaya-buaya itu tinggal, betapa terkejutnya Mere melihat seekor buaya meronta-ronta.
“Tolong, aku terperangkap!!”  Buaya itu menggelepar-gelepar karena mulutnya terjepit bamboo.
“Tidak salah lagi bambu ini milik Rauk.”  Ternyata Rauk memasang jerat dengan membelah bambu, membukanya dengan kayu penahan pada ujungnya sementara di tengah dan meletakkan sebongkah daging ayam segar.
“Aduh, buaya, pasti kamu kesakitan terjepit perangkap ini.  Tenanglah, aku akan menolongmu.” Mere membuka jepitan bambu besar itu dengan sekuat tenaga.
Buaya terlepas dan dapat bernafas lega.  Ia berjanji akan bersahabat dengan Mere.  Sejak saat itu mereka begitu  karib.  Kemana pun buaya itu pergi, ia selalu menawarkan diri untuk membawa Mere berkelana mengarungi danau, bahkan samudra.  Mere memanggil Aya pada sahabat barunya itu
“Terima kasih sahabat, dengan kebaikanmu, aku bisa menikmati keindahan lautan.  Tidak ada satu pun pantai yang belum aku singgahi selama persahabatan kita, Aya,” ungkap Mere jujur.
“Kebaikanku belum seberapa bila dibandingkan dengan selamatnya nyawaku dari jepitan bambu beberapa tahun lalu.”  Aya mengucapkan rasa berhutang budinya pada Mere.
Suatu ketika mereka tiba di sebuah pulau asing.  Di pulau asing itu, Mere berjumpa dengan seorang gadis.  Rasa suka pada gadis itu membuat Mere meminang dan menikahinya.  Buah dari kasih sayang mereka, lahirlah anak-anak Mere. 
Meskipun Mere sudah tidak sendiri,  Aya tetap setia membawa keluarga itu kemanapun mereka mau.  Hingga tibalah waktu yang sangat tidak mereka inginkan.  Perpisahan!
“Mere, aku sudah tua.  Aku tidak akan kuat  lagi membawa kalian sekeluarga kemana pun kalian pergi.”  Aya berucap sedih.
“Jangan berkata begitu, Aya.  Katakanlah kita akan terus bersama, walaupun kau tidak lagi membawa kami mengarungi samudera, kami rela.
“Tiada ada yang bisa melawan ajal.  Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian.  Di waktu terakhirku, aku akan membawa kalian ke tengah samudera. Diantara dua pulau besar dan gugus pulau kecil yang kita tempati ini, aku akan berhenti.  Saat jiwaku pergi, jasadku akan menjadi tempat abadi kalian.”
Mereka pun menuju samudera yang dimaksud oleh Aya.  Saat jiwa Aya pergi, tubuhnya terbujur kaku, perlahan tubuh itu melebar menjadi sebuah pulau yang mirip dengan buaya.  Pulau itu dinamakan Pulau Timor.  Letaknya yang berada di bagian timur melengkapi namanya, Timor Timur

HIKMAH:
1. Tetaplah berbuat baik, karena kebaikan akan selalu membuahkan kebaikan selanjutnya
2. Saling berterimakasih akan melahirkan keharmonian dalam kehidupan, saling memberi dan menerima
3. Barang siapa menyayangi apa yang ada di bumi maa akan menyayanginya para penduduk langit, maka saling berkasihsayanglah.

FAKTA ILMIAH:
Timor Timur berdiri pada tanggal 17 Juli 1976 dan dibubarkan pada tanggal 19 Oktober 1999.  Memilih terpisah dari Indonesia melalui referendum saat pemerintahan Presiden BJ. Habibie.  Resmi sebagai negara merdeka pada 20 Mei 2002, setelah menjadi provinsi ke-27 bersama Indonesia.
Selama 23 tahun bersama Indonesia, Gubernur yang bertugas adalah Arnaldo dos Reis Araujo (1976-1992) dan Jose Abilio Osorio Soares (1992-1999)
Dijajah oleh Portugal selama 450 tahun, kesejahteraan dan pembangunan tidak diperhatikan oleh pemerintah Portugal.    Atas usulan dari partai politik APODETI dan UDT, Timor Timur ingin bergabung dengan Indonesia pada 28 November 1975.  Karena ada sebagian partai yang berhaluan kiri, FRETELIN tidak ingin bergabung dengan Indonesia, maka ABRI melakukan tindakan pengamanan terhadap potensi pertikaian pada 7 Desember 1975.
Meskipun dianggap invasi, Indonesia tidak pernah memperlakukan Timor Timur sebagai daerah jajahan, bahkan banyak pembangunan yang diprioritaskan ke provinsi termuda tersebut.  Dalam pidatonya saat memperingati dua tahun integrasi Timor Timu di Gedung DPRRI, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Timor Timur adalah saudara yang hilang dan telah kembali pada pangkuan ibu pertiwi.

REFERENSI:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar