Kamis, 21 Maret 2019

LEGENDA KE-33 (KEINDAHAN BULU CENDERAWASIH)


KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH
           
Di daerah Pegunungan Bumberi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, hiduplah seorang perempuan tua kita sebut saja dia Meina,  bersama seekor anjing penjaga.  Anjing ini juga menemani perempuan tua untuk berburu di tengah hutan.
           
Suatu ketika persediaan makanan Meina habis.  Mereka merasa lapar dan mulai untuk berburu.  Di tengah perburuan mereka, Meina menemukan buah merah dan diberikannya pada anjing betina yang menemaninya itu. 
    
“Dinga, ini ada buah merah.  Makanlah! Kamu pasti lapar, bukan?”

Di luar dugaan ternyata setelah memakan buah merah, Dinga mengalami perubahan pada dirinya.  Perubahan ajaib karena tiba-tiba perusnya membesar.  Ada janin yang bergerak-gerak pada perutnya. Dinga pun melahirkan seekor anjing mungil.

“Aku ingin hamil dan melahirkan anak sepertimu, Dinga.” 

Meina kemudian memakan buah merah.  Benar saja, perut Meina mengalami perubahan.  Membesar dan bergerak-gerak menendang dinding rahimnya.  Ia bergegas pulang dan melahirkan sesosok bayi laki-laki mungil.

“Aku akan memberimu nama Kweiya.”

Kweiya tumbuh menjadi remaja yang baik lagi rajin.  Ia sangat sayang pada ibunya.  Setiap hari ia sanggup bekerja keras memerah keringat demi ibunya tercinta.

“Ibu, aku akan menyiapaka kebun sayur untuk kita.”

“Bagaimana bisa Kweiya, kita tidak punya ladang.  Selama ini aku hanya mencari makanan di hutan.”

“Ibu aku akan menebang hutan dan membuat ladang untuk kita Tanami,” ungkap Kweiya meyakinkan.

Kweiya berangkat ke hutan, menebang pohon dengan sabar. Ia membakar tetumbuhan yang ditebangnya. 

Asap tebal membubung tinggi, sehingga menarik perhatian seorang pengail ikan di sungai.  Pengail ikan itu mencari sumber asap.  Ternyata seorang pemuda tampan sedang bekerja keras menyiapkan lahan di hutan itu.

“Selamat siang, anak muda!  Siapa kamu dan mengapa kamu tebang pohon dan tumbuhan di hutan ini?” tanya pria tua.

“Aku Kweiya.  Aku  sedang membantu ibuku menyiapkan ladang  untuk menanam sayur dan bebijian.”

“Kamu tentulah seorang anak yang baik lagi berbakti.  Aku ingin memberikan hadiah ini untuk keluargamu.  Semoga bisa bermanfaat dan berkah di tangan anak serajin kamu.  Tapi tolong rahasiakan pemberianku ini pada siapapun termasuk ibumu,” lanjut Pak Tua.

“Terimakasih, Pak Tua,” ungkap Kweiya sambil menerima kapak besi pemberian Pak Tua.
Dengan kapak besi itu Kweiya meneruskan pekerjaannya.  Sesuatu yang ajaib terjadi.  Kweiya dapat menebang pohon-pohon itu dalam waktu sekejap.  Ia pulang dengan riang, memberi kabar pada ibunya bahwa kebun sudah siap.

Ibunya terheran-heran dengan kemampuan Kweiya dan menanyakan kelebihannya itu.  Kweiya tetap merahasikan kapak besi itu dan hanya mengatakan bahwa saat menebang pohon dan menyiapkan kebun, tangannya terasa ringan.

Keesokan harinya Kweiya bermaksud membalas budi baik Pak Tua dengan mengundangnya makan bersama.

“Ibu, tolong masakkan aku makanan yang lebih banyak dari biasanya,”  pinta Kweiya tanpa banyak mendapat pertanyaan dari Sang Ibu.

Dengan tetap merahasiakan kisahnya tentang Pak Tua, Kweiya membungkus Pak Tua dengan batang tebu berdaun kebat dan meletakkannya di depan rumah.

Rasa lelah dan haus memanggul Pak Tua bersama batangan tebu, Kweiya meminta ibunya mengambilkan sebatang tebu pembungkus Pak Tua.  Betapa kagetnya Meina saat melihat ada seorang pria tua di dalam gulungan batang tebu itu.  Kweiya akhirnya berterus terang bahwa Pak Tualah yang membantunya menyiapkan kebun.  Pak Tua bermaksud menikahi ibunya, maka Kweiya memohon kesediaan ibu untuk menikah.

Pernikahan berlangsug dengan baik.  Tuhan mengaruniakan dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.  Sangat disayangkan dua adik lelaki Kweiya memendam iri dengki karena mereka merasakan kasih sayang yang berbeda dari Sang Ibu.  Puncaknya, kedua adik laki-laki Kweiya menyerang dan mencelakai Kweiya saat bekerja di kebun.  Kweiya tidak membalas, bahkan memaafkan kedua adiknya.

Rasa sedih yang dalam membuat Kweiya memutuskan untuk memintal kulit binatang.  Ia bermaksud membuatnya menjadi bulu sayap untuk terbang meninggalkan dua adiknya yang jahat.

Saat pintalan selesai, disisipkannya pintalan itu pada ketiaknya, Kweiya berubah menjadi burung cantik dengan bulu penuh warna.  Ia terbang meninggalkan keluarganya. 

Ibu merasa sedih ditinggal Kweiya. “Kweiya pulanglah, Nak.  Ibu tak ingin kau tinggalkan.”. 

Ternyata Kweiya ada di atas atap rumah, ia memberitahukan bahwa pintalan kulit untuk ibu masih ada dan terselip di paying tikar.

“Ibu, ambillah pintalan kulit yang aku tinggalkan untuk ibu.  Apit pada ketiak Ibu, maka Ibu akan berubah sebagaimana aku.”

Meina memakaikan  pintalan itu di ketiaknya dan ia berubah menjadi burung yang cantik pula.  

Meskipun tidak secantik bulu Kweiya yang menjadi Cenderawasih jantan.  Meina mengikuti Kweiya meninggalkan keluarga itu.

Tinggallah Pak Tua dan tiga anaknya.  Mereka saling menyalahkan satu sama lain.  Pertengkaran tak dapat dihindarkan. 

“Gara-gara kalian, kita kehilangan ibu dan kakakmu.  Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”  Pak Tua tak bisa menahan marahnya.

Mereka saling melempar abu perapian.  Tiba-tiba tubuh mereka berubah menjadi burung dengan bulu yang kusam dan tak seindah bulu burung Cenderawasih tergantung baik dan buruknya sifat masing-masing.

Demikian kisah terjadinya burung Cenderawasih dari Fakfak Papua.

HIKMAH:
      1. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, maka Tuhan akan membukakan jalan keberuntungan yang tidak kalian duga
      2. Menjaga rahasia adalah perbuatan yang berat, kejujuran adalah obatnya
      3. Hindarkan dari iri dengki, ia adalah sumber permusuhan dan malapetaka
      4. Kesabaran akan embawa kebaikan bahkan menjanjikan keberuntungan.  Sementara sifat pemarah menjadi bibit pertengkaran dan melahirkan penyesalan.
FAKTA ILMIAH:
Cinderawasih sering juga di sebut Paradise Bird karena keindahan bulunya.  Penyebarannya banyak di Indonesia Timur, terutama Papua.  Cenderawasih termasuk dalam tipe burung Astronesia
Taksonomi burung Cenderawasih adalh sebagai berikut:  tergolong dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Passeriformes dan Famili Paradisaeidae.  Seentara itu turunannya tergolong dalam Genus Paradisaea dan Spesies Paradisaea sp.
Salah satu spesies yang unuk adalah Cenderawasih kuning-besar, yang memiliki nama ilmiah Paradisaea apoda (Cenderawasih tanpa kaki).  Spesimen ini dibawa ke Eropa dala sebuah ekspedisi dagang dengan terlebih dahulu diambil kakinya.  Maka munculah spesies tanpa kaki ini.  Mereka menganggap burung ini ajaib dari surga dan akan terus terbang tanpa hinggap karena tidak memiliki kaki.
REFERENSI:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar