KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH
Di daerah
Pegunungan Bumberi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, hiduplah seorang
perempuan tua kita sebut saja dia Meina, bersama seekor anjing penjaga. Anjing ini juga menemani perempuan tua untuk berburu
di tengah hutan.
Suatu ketika
persediaan makanan Meina habis. Mereka
merasa lapar dan mulai untuk berburu. Di
tengah perburuan mereka, Meina menemukan buah merah dan diberikannya pada
anjing betina yang menemaninya itu.
“Dinga, ini
ada buah merah. Makanlah! Kamu pasti
lapar, bukan?”
Di luar
dugaan ternyata setelah memakan buah merah, Dinga mengalami perubahan pada
dirinya. Perubahan ajaib karena
tiba-tiba perusnya membesar. Ada janin
yang bergerak-gerak pada perutnya. Dinga pun melahirkan seekor anjing mungil.
“Aku ingin
hamil dan melahirkan anak sepertimu, Dinga.”
Meina
kemudian memakan buah merah. Benar saja,
perut Meina mengalami perubahan.
Membesar dan bergerak-gerak menendang dinding rahimnya. Ia bergegas pulang dan melahirkan sesosok
bayi laki-laki mungil.
“Aku akan
memberimu nama Kweiya.”
Kweiya tumbuh
menjadi remaja yang baik lagi rajin. Ia
sangat sayang pada ibunya. Setiap hari
ia sanggup bekerja keras memerah keringat demi ibunya tercinta.
“Ibu, aku
akan menyiapaka kebun sayur untuk kita.”
“Bagaimana
bisa Kweiya, kita tidak punya ladang.
Selama ini aku hanya mencari makanan di hutan.”
“Ibu aku
akan menebang hutan dan membuat ladang untuk kita Tanami,” ungkap Kweiya
meyakinkan.
Kweiya
berangkat ke hutan, menebang pohon dengan sabar. Ia membakar tetumbuhan yang
ditebangnya.
Asap tebal
membubung tinggi, sehingga menarik perhatian seorang pengail ikan di
sungai. Pengail ikan itu mencari sumber
asap. Ternyata seorang pemuda tampan
sedang bekerja keras menyiapkan lahan di hutan itu.
“Selamat
siang, anak muda! Siapa kamu dan mengapa
kamu tebang pohon dan tumbuhan di hutan ini?” tanya pria tua.
“Aku
Kweiya. Aku sedang membantu ibuku menyiapkan ladang untuk menanam sayur dan bebijian.”
“Kamu
tentulah seorang anak yang baik lagi berbakti.
Aku ingin memberikan hadiah ini untuk keluargamu. Semoga bisa bermanfaat dan berkah di tangan
anak serajin kamu. Tapi tolong
rahasiakan pemberianku ini pada siapapun termasuk ibumu,” lanjut Pak Tua.
“Terimakasih,
Pak Tua,” ungkap Kweiya sambil menerima kapak besi pemberian Pak Tua.
Dengan kapak
besi itu Kweiya meneruskan pekerjaannya.
Sesuatu yang ajaib terjadi.
Kweiya dapat menebang pohon-pohon itu dalam waktu sekejap. Ia pulang dengan riang, memberi kabar pada
ibunya bahwa kebun sudah siap.
Ibunya
terheran-heran dengan kemampuan Kweiya dan menanyakan kelebihannya itu. Kweiya tetap merahasikan kapak besi itu dan
hanya mengatakan bahwa saat menebang pohon dan menyiapkan kebun, tangannya
terasa ringan.
Keesokan
harinya Kweiya bermaksud membalas budi baik Pak Tua dengan mengundangnya makan
bersama.
“Ibu, tolong
masakkan aku makanan yang lebih banyak dari biasanya,” pinta Kweiya tanpa banyak mendapat pertanyaan
dari Sang Ibu.
Dengan tetap
merahasiakan kisahnya tentang Pak Tua, Kweiya membungkus Pak Tua dengan batang
tebu berdaun kebat dan meletakkannya di depan rumah.
Rasa lelah
dan haus memanggul Pak Tua bersama batangan tebu, Kweiya meminta ibunya
mengambilkan sebatang tebu pembungkus Pak Tua.
Betapa kagetnya Meina saat melihat ada seorang pria tua di dalam
gulungan batang tebu itu. Kweiya
akhirnya berterus terang bahwa Pak Tualah yang membantunya menyiapkan
kebun. Pak Tua bermaksud menikahi
ibunya, maka Kweiya memohon kesediaan ibu untuk menikah.
Pernikahan
berlangsug dengan baik. Tuhan mengaruniakan
dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Sangat disayangkan dua adik lelaki Kweiya memendam iri dengki karena
mereka merasakan kasih sayang yang berbeda dari Sang Ibu. Puncaknya,
kedua adik laki-laki Kweiya menyerang dan mencelakai Kweiya saat bekerja di
kebun. Kweiya tidak membalas, bahkan
memaafkan kedua adiknya.
Rasa sedih
yang dalam membuat Kweiya memutuskan untuk memintal kulit binatang. Ia bermaksud membuatnya menjadi bulu sayap
untuk terbang meninggalkan dua adiknya yang jahat.
Saat
pintalan selesai, disisipkannya pintalan itu pada ketiaknya, Kweiya berubah
menjadi burung cantik dengan bulu penuh warna.
Ia terbang meninggalkan keluarganya.
Ibu merasa
sedih ditinggal Kweiya. “Kweiya
pulanglah, Nak. Ibu tak ingin kau
tinggalkan.”.
Ternyata
Kweiya ada di atas atap rumah, ia memberitahukan bahwa pintalan kulit untuk ibu
masih ada dan terselip di paying tikar.
“Ibu,
ambillah pintalan kulit yang aku tinggalkan untuk ibu. Apit pada ketiak Ibu, maka Ibu akan berubah
sebagaimana aku.”
Meina
memakaikan pintalan itu di ketiaknya dan
ia berubah menjadi burung yang cantik pula.
Meskipun tidak secantik bulu Kweiya yang menjadi Cenderawasih
jantan. Meina mengikuti Kweiya
meninggalkan keluarga itu.
Tinggallah
Pak Tua dan tiga anaknya. Mereka saling
menyalahkan satu sama lain. Pertengkaran
tak dapat dihindarkan.
“Gara-gara
kalian, kita kehilangan ibu dan kakakmu.
Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.” Pak Tua tak bisa menahan marahnya.
Mereka
saling melempar abu perapian. Tiba-tiba
tubuh mereka berubah menjadi burung dengan bulu yang kusam dan tak seindah bulu
burung Cenderawasih tergantung baik dan buruknya sifat masing-masing.
Demikian
kisah terjadinya burung Cenderawasih dari Fakfak Papua.
HIKMAH:
1. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua,
maka Tuhan akan membukakan jalan keberuntungan yang tidak kalian duga
2. Menjaga rahasia
adalah perbuatan yang berat, kejujuran adalah obatnya
3. Hindarkan dari
iri dengki, ia adalah sumber permusuhan dan malapetaka
4. Kesabaran akan
embawa kebaikan bahkan menjanjikan keberuntungan. Sementara sifat pemarah menjadi bibit
pertengkaran dan melahirkan penyesalan.
FAKTA
ILMIAH:
Cinderawasih sering juga di sebut Paradise Bird karena keindahan
bulunya. Penyebarannya banyak di
Indonesia Timur, terutama Papua.
Cenderawasih termasuk dalam tipe burung Astronesia
Taksonomi burung Cenderawasih adalh sebagai berikut: tergolong dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves,
Ordo Passeriformes dan Famili Paradisaeidae. Seentara itu turunannya tergolong dalam Genus
Paradisaea dan Spesies Paradisaea sp.
Salah satu spesies yang unuk adalah Cenderawasih kuning-besar, yang
memiliki nama ilmiah Paradisaea apoda (Cenderawasih tanpa kaki). Spesimen ini dibawa ke Eropa dala sebuah
ekspedisi dagang dengan terlebih dahulu diambil kakinya. Maka munculah spesies tanpa kaki ini. Mereka menganggap burung ini ajaib dari surga
dan akan terus terbang tanpa hinggap karena tidak memiliki kaki.
REFERENSI:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar