LEGENDA BUAH SEMANGKA (VIETNAM)
Di Vietnam,
kita mengenal adanya Festival Tet, yaitu festival tahunan dimana orang-orang
memakan semangka dan bijia-bijiannya di sepanjang jalan.
Nah, festival
ini tidak lepas dari legenda berikut ini!
Berabad-abad
lalu, badai melintasi Vietnam. Badai
menyapu pepohonan. Cabang-cabang dan
ranting-rantingnya beterbangan, jatuh.
Atap istana tersapu hingga rontok berkeping-keping.
Di lautan pun gelombang menggulung tinggi. Perahu-perahu nelayan segera merapat ke tepi
pantai. Akan tetapi ada satu perahu yang
terperangkap dalam badai. Lambung kapal terantuk karang, berputar mengikuti
badai.
“Turunkan
layar! Turunkan layar!” Komando mahkoda
pada awak kapal. Semua penumpang kalut
dan panic dalam suasana yang tidak menguntungkan ini.
Untung tak
dapat diraih, malang tak dapat ditolak, lambung kapal bocor. Air memasuki kapal, cepat menerobos ke dalam
dan penumpang makin panik.
“Bagaimana ini!
Celaka! Kita semua akan tenggelam dan
mati bersama! Tuhan ampuni kami! Sial kita akan mati di sini sekarang juga!” Teriakan riuh rendah saling bersahutan, penuh
keputusasaan.
Akan tetapi hal
ajaib yang terjadi. Sebuah keranjang
berisi bayi yang baru lahir ada satu lepas dari pusaran badai, menuju tepi
pantai. Bayi itu terdampar di sana.
Seorang istri
nelayan sedang berjalan di tepi pantai, di pagi itu.
“Ya, Tuhan,
benarkah pendengaranku? Sepagi ini ada
suara bayi menangis?” Puong Anh, nama wanita itu terheran-heran.
Didekatinya
sumber suara itu, ternyata sesosok bayi mungil. “Ya, Tuhan, bayi ini sungguh
ajaib. Dari pakaiannya pastilah dia anak
orang aya. Aku akan menghadiahkannya
pada raja. Semoga ada hadiah yang bisa
aku terima.”
Puong Ahn
menghadap raja. Raja terlihat begitu
bahagia dengan hadiah dari rakyatnya itu,” Benakah bayi ini telah selamat dari
badai dengan keajaiban?”
“Benar Paduka, hamba
dapati bayi ini di tepi pantai sehari setelah kabar hilangnya kapal yang diterpa
badai”
“Kalau begitu,
aku mau membesarkannya. Bayi ini
pastilah bayi ajaib. Dan akan au beri
nama Pangeran Mai An Tiem.
Pangeran Mei An
Tiem tumbuh menjadi seorang pemuda yang masyhur. Luas wawasan dan dalam ilmu
pengetahuannya. Kebijaksanaan dan
kepahamannya pada keinginan raja membuatnya sering dimintai nasihat oleh dewan
kerajaan.
Di usia dua
puluh tahun Pangeran Mei menikah dengan salah satu putrid raja yang bernama
Putri Co Ba. Pesta pun diadakan dengan
semeriah mungkin.
Ternyata
kebahagiaan dan kemeriahan ini tidak dinikmati oleh pangeran Hau, putra kandung
raja yang dilanda iri dengki pada Pangeran Mei An Tiem. Muncullah rencana busuk terhadap Mei An Tiem.
“Aku harus
meyakinan semua orang bahwa Mei An Tiem adalah seorang yang jahat, penghianat,
anak angkat yang tak tahu diuntung.”
Rencana ini berlanjut dengan menyuap orang-orang istana agar menyebarkan
kabar bohong, bahwa Pangeran Mei An Tiem adalah pemuda yang sombong, angkuh,
gila kuasa dan akan mengudeta raja.
Suatu ketika
kepala kerajaan menghadap raja dan berusaha memfitnah Pangeran Mei An Tiem, ”Paduka,
adalah sebuah keharusan untuk mewaspadai Pangeran Mei An Tiem. Beliau telah menyusun rencana bahkan
menggerakkan pasukan untuk merebut kerajaan ini dari Paduka.”
“Aku sangat
paham keadaan menantuku itu, jangan kau coba merusak namanya di depanku.”
“Paduka, jangan
sampai Paduka menyesal dan menunggu pasukannya makin kuat. Hamba punya bukti.” Dipanggilnya beberapa orang prajurit yang
dibayar tinggi untuk mengaku bahwa mereka diberi imbalan besar untuk menyerang
kerajaan.
Mendengar semua
kesaksian itu, raja terpengaruh juga.
Maka ia pun memanggil Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba.
“Anak tak tahu
diuntung. Kamu aku asuh dari kecil
ternyata menginginkan tahtaku. Mulai
saat ini aku usir kau dari negeri ini.
Pergilah bersama kapal yang akan membawamu meninggalkan kerajaan ini.”
Pangeran Mei An
Tiem tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.
Sementara Putri Co Ba memilih untuk mengikuti suaminya.
“Ayahanda,
lebih baik aku mati daripada harus terpisah dari Kanda Mei. Sampai ke ujung
dunia pun aku akan tetap mendampinginya.
Akhirnya mereka
menaiki kapal yang disediakan kerajaan.
Kesedihan yang mencoba ditahan oleh Sang Raja adalah perpisahan dengan
dua orang yang sangat disayangi dan diyakini kebaikannya.
Perjalanan
mengarungi samudra pun mereka jalani.
Hingga mereka terdampar di pulau yang subur namun sunyi. Dalam kesunyian itu, mereka mensyukuri segala
yang mereka dapatkan meskipun dengan segala susah payah. Sangat berbeda dengan kehidupan di istana
yang serba mewah dan mudah.
Mereka terbiasa
setelah berhari-hari belajar mengambil buah dari pepohonan, mencari ikan di
sungai, memanjat tebing untuk meraih buah matang di tepi sungai curam. Sesekali
Putri Co Ba mengimpikan bisa kembali ke istana.
Akan tetapi kenyataan membuat mereka pasrah.
Suatu sore,
Pangeran Mei An Tiem sedang berjalan di tepi danau. Dilihatnya dua ekor burung sedang bertengkar
memperebutkan beberapa biji hitam. Ia
meleraikan burung itu sebelum mereka bertarung.
Burung-burung itu terbang ke angkasa.
“Benih apa yang
mereka perebutkan ini? Baiklah akan aku tanam.
Semoga akan tumbuh menjadi
tanaman bermanfaat.”
Hari berganti
pekan, pekan berganti bulan, benih tumbuh menjalar menjadi tumbuhan yang tak
biasa yang akhirnya berbuah. Saat dirasa
telah masak, mereka memetik buah berkulit hijau bermotif loreng itu.
“Hemmmm, betapa
lezatnya buah ini.” Putri Co Ba
menikmati buah itu sambil membayangkan dirinya hadir di istana raja.
“Ayahanda pasti
akan bahagia kalau turut merasakan buah terlezat ini.” Pangeran Mei An Tiem memiliki ide untuk
mengirim biji-biji hitam semangka itu.
Ia pun mencari ide bagaimana supaya Sang Raja dapat turut menikmati
semangka dan sekaligus tahu bahwa semangka itu hadiah darinya.
Diputuskannya untuk
menghanyutkan biji semangka itu. Dengan mengambill bagian dagingnya ia membuat
sampan kecil dari kulit semangka. Biji
semangka diletakkan dalam sampan itu. Di
bagian luar kulit ia menulis damanya bersanding dengan nama Putri Co Ba.
“Dengan nama
Tuhan, semoga hadiah ini sampai pada ayahanda.”
Demikianlah
rasa cinta yang tulus pada Pangeran Mei An Tiem, hanyut bersama biji hitam
semangka.
Beberapa ari di
laut, akhirnya kulit semangka itu ditemukan.
Sungguh bukan kebetulan kalau yang menemukannya Puong Ahn, istri nelayan
yang juga penemu bayi ajaib. Segera
Puong Ahn yang telah mulai renta itu mengambil sampan kecil itu dan menyerahkan
pada raja.
Baginda raja menerima
hadiah itu dengan penuh rasa rindu. “Aku
tahu ini hadiah yang ingin kalian persembahkan untukku. Aku akan menanamnya. Jika benih ini baik, aku sendiri yang akan
mencari dan menjemput kalian.” Sang raja
berjanji pada dirinya sendiri. Ia tak
mampu menahan rasa cinta dan rindu di hatinya.
Benar saja,
biji-biji itu ditanam dan dipelihara dengan baik di kebun kerajaan. Dalam beberapa bulan, buah semangka ranum
telah siap dipetik. Raja begitu ingin
tahu rasa buah yang belum pernah dijumpainya itu. Tanpa ragu dan bimbang karena keyakinan atas
cinta kedua orang anaknya, Sang Raja memakan buah itu.
“Luar biasa
lezatnya buah ini, aku harus menepati janjiku.
Mencari dan menjemput Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba kembali ke
istana.”
Kisah ini
berakhir dengan pertemuan mengharukan antara Sang Raja dengan Pangeran Mei An
Tie dan Putri Coba. Kedatangan mereka
disambut dengan pesta semangka yang mereka sebut Festival Tet hingga kini. Sementara itu Pangeran Hau yang merasa malu
telah mencelakai Pangeran Mei An Tiem, menyingkir jauh dari kerajaan.
HIKMAH:
1. Keluhuran budi akan mendatangkan cinta, asih dan sayang yang tetap akan
dikenang hingga akhir hayat
2. Kerendahan hati untuk slalu menolong dan berbuat baik pada akhirnya
akan melahirka cinta
3. Janganlah rasa iri dengki menghilangkan kasih sayang dan melahirkan
permusuhan
4. Cobalah untuk bahagia saat orang lain bahagia dan bersedih saat
orang lain menderita
5. Tetaplah gigih dalam keadaan apapun, karena Allah akan selalu
membagikan jalan keluarNya
6. Buanglah dendam dengan mencoba memaafkan maka kemenangan akan
menghampiri kita
FAKTA ILMIAH:
Semangka merupakan tanaman buah. Memiliki tubuh merambat namun bukan merupakan stolon. Berdaun lebar, berbunga terompet. Buahnya yang besar mengingatkan kita pada labu.
Semangka memiliki urutan taksonomi sebagai berikut: Kingdom Plantae,
Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Curcubitales,
Famili Cucurbitaceae, Genus Citrullus dan Spesies Citrullus lanotus.
Kandungan gizinya sangat banya, antara lain energy 30 kkal dalam 100
gram. Karbohidrat 7,55 g, gula 6,2 g,
serat 0,4 g, lemak 0,15 g, protein 0,61 g, air 91,45 g. Selebihnya berupa vitamin A, B1, B2,B3,
B5, B6, B9,dan vitamin C.
Kandungan
mineralnya meliputi Kalsium, Besi, Magnesium, Fosfor, Kalium, dan Zink.
REFERENSI:
2. https://tridharma.or.id/sekolah-minggu-tridharma-asal-usul-datangnya-buah-semangka-ke-Vietnam/17/3/2019