Jumat, 22 Maret 2019

LEGENDA KE-37 (LEGENDA BUAH SEMANGKA DAN CINTA)


LEGENDA BUAH SEMANGKA (VIETNAM)

Di Vietnam, kita mengenal adanya Festival Tet, yaitu festival tahunan dimana orang-orang memakan semangka dan bijia-bijiannya di sepanjang jalan.
Nah, festival ini tidak lepas dari legenda berikut ini!
Berabad-abad lalu, badai melintasi Vietnam.  Badai menyapu pepohonan.  Cabang-cabang dan ranting-rantingnya beterbangan, jatuh.  Atap istana tersapu hingga rontok berkeping-keping. 
Di  lautan pun gelombang menggulung tinggi.  Perahu-perahu nelayan segera merapat ke tepi pantai.  Akan tetapi ada satu perahu yang terperangkap dalam badai. Lambung kapal terantuk karang, berputar mengikuti badai. 
“Turunkan layar! Turunkan layar!”  Komando mahkoda pada awak kapal.  Semua penumpang kalut dan panic dalam suasana yang tidak menguntungkan ini.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, lambung kapal bocor.  Air memasuki kapal, cepat menerobos ke dalam dan penumpang makin panik. 
“Bagaimana ini! Celaka!  Kita semua akan tenggelam dan mati bersama! Tuhan ampuni kami! Sial kita akan mati di sini sekarang juga!”  Teriakan riuh rendah saling bersahutan, penuh keputusasaan.
Akan tetapi hal ajaib yang terjadi.  Sebuah keranjang berisi bayi yang baru lahir ada satu  lepas dari pusaran badai, menuju tepi pantai.  Bayi itu terdampar di sana.
Seorang istri nelayan sedang berjalan di tepi pantai, di pagi itu.
“Ya, Tuhan, benarkah pendengaranku?  Sepagi ini ada suara bayi menangis?” Puong Anh, nama wanita itu terheran-heran.
Didekatinya sumber suara itu, ternyata sesosok bayi mungil. “Ya, Tuhan, bayi ini sungguh ajaib.  Dari pakaiannya pastilah dia anak orang aya.  Aku akan menghadiahkannya pada raja.  Semoga ada hadiah yang bisa aku terima.”
Puong Ahn menghadap raja.  Raja terlihat begitu bahagia dengan hadiah dari rakyatnya itu,” Benakah bayi ini telah selamat dari badai dengan keajaiban?”
“Benar Paduka, hamba dapati bayi ini di tepi pantai sehari setelah kabar hilangnya kapal yang diterpa badai”
“Kalau begitu, aku mau membesarkannya.  Bayi ini pastilah bayi ajaib.  Dan akan au beri nama Pangeran Mai An Tiem.
Pangeran Mei An Tiem tumbuh menjadi seorang pemuda yang masyhur.  Luas wawasan dan dalam ilmu pengetahuannya.  Kebijaksanaan dan kepahamannya pada keinginan raja membuatnya sering dimintai nasihat oleh dewan kerajaan.
Di usia dua puluh tahun Pangeran Mei menikah dengan salah satu putrid raja yang bernama Putri Co Ba.  Pesta pun diadakan dengan semeriah mungkin.
Ternyata kebahagiaan dan kemeriahan ini tidak dinikmati oleh pangeran Hau, putra kandung raja yang dilanda iri dengki pada Pangeran Mei An Tiem.  Muncullah rencana busuk terhadap Mei An Tiem.
“Aku harus meyakinan semua orang bahwa Mei An Tiem adalah seorang yang jahat, penghianat, anak angkat yang tak tahu diuntung.”  Rencana ini berlanjut dengan menyuap orang-orang istana agar menyebarkan kabar bohong, bahwa Pangeran Mei An Tiem adalah pemuda yang sombong, angkuh, gila kuasa dan akan mengudeta raja.
Suatu ketika kepala kerajaan menghadap raja dan berusaha memfitnah Pangeran Mei An Tiem, ”Paduka, adalah sebuah keharusan untuk mewaspadai Pangeran Mei An Tiem.  Beliau telah menyusun rencana bahkan menggerakkan pasukan untuk merebut kerajaan ini dari Paduka.” 
“Aku sangat paham keadaan menantuku itu, jangan kau coba merusak namanya di depanku.”
“Paduka, jangan sampai Paduka menyesal dan menunggu pasukannya makin kuat.  Hamba punya bukti.”  Dipanggilnya beberapa orang prajurit yang dibayar tinggi untuk mengaku bahwa mereka diberi imbalan besar untuk menyerang kerajaan.
Mendengar semua kesaksian itu, raja terpengaruh juga.  Maka ia pun memanggil Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba.
“Anak tak tahu diuntung.  Kamu aku asuh dari kecil ternyata menginginkan tahtaku.  Mulai saat ini aku usir kau dari negeri ini.  Pergilah bersama kapal yang akan membawamu meninggalkan kerajaan ini.”
Pangeran Mei An Tiem tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.  Sementara Putri Co Ba memilih untuk mengikuti suaminya.
“Ayahanda, lebih baik aku mati daripada harus terpisah dari Kanda Mei. Sampai ke ujung dunia pun aku akan tetap mendampinginya.
Akhirnya mereka menaiki kapal yang disediakan kerajaan.  Kesedihan yang mencoba ditahan oleh Sang Raja adalah perpisahan dengan dua orang yang sangat disayangi dan diyakini kebaikannya.
Perjalanan mengarungi samudra pun mereka jalani.  Hingga mereka terdampar di pulau yang subur namun sunyi.  Dalam kesunyian itu, mereka mensyukuri segala yang mereka dapatkan meskipun dengan segala susah payah.  Sangat berbeda dengan kehidupan di istana yang serba mewah dan mudah.
Mereka terbiasa setelah berhari-hari belajar mengambil buah dari pepohonan, mencari ikan di sungai, memanjat tebing untuk meraih buah matang di tepi sungai curam. Sesekali Putri Co Ba mengimpikan bisa kembali ke istana.  Akan tetapi kenyataan membuat mereka pasrah.
Suatu sore, Pangeran Mei An Tiem sedang berjalan di tepi danau.  Dilihatnya dua ekor burung sedang bertengkar memperebutkan beberapa biji hitam.  Ia meleraikan burung itu sebelum mereka bertarung.  Burung-burung itu terbang ke angkasa.
“Benih apa yang mereka perebutkan ini? Baiklah akan aku tanam.  Semoga  akan tumbuh menjadi tanaman bermanfaat.”
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, benih tumbuh menjalar menjadi tumbuhan yang tak biasa yang akhirnya berbuah.  Saat dirasa telah masak, mereka memetik buah berkulit hijau bermotif loreng itu.
“Hemmmm, betapa lezatnya buah ini.”  Putri Co Ba menikmati buah itu sambil membayangkan dirinya hadir di istana raja.
“Ayahanda pasti akan bahagia kalau turut merasakan buah terlezat ini.”  Pangeran Mei An Tiem memiliki ide untuk mengirim biji-biji hitam semangka itu.  Ia pun mencari ide bagaimana supaya Sang Raja dapat turut menikmati semangka dan sekaligus tahu bahwa semangka itu hadiah darinya.
Diputuskannya untuk menghanyutkan biji semangka itu. Dengan mengambill bagian dagingnya ia membuat sampan kecil dari kulit semangka.  Biji semangka diletakkan dalam sampan itu.  Di bagian luar kulit ia menulis damanya bersanding dengan nama Putri Co Ba.
“Dengan nama Tuhan, semoga hadiah ini sampai pada ayahanda.”
Demikianlah rasa cinta yang tulus pada Pangeran Mei An Tiem, hanyut bersama biji hitam semangka. 
Beberapa ari di laut, akhirnya kulit semangka itu ditemukan.  Sungguh bukan kebetulan kalau yang menemukannya Puong Ahn, istri nelayan yang juga penemu bayi ajaib.  Segera Puong Ahn yang telah mulai renta itu mengambil sampan kecil itu dan menyerahkan pada raja.
Baginda raja menerima hadiah itu dengan penuh rasa rindu.  “Aku tahu ini hadiah yang ingin kalian persembahkan untukku.  Aku akan menanamnya.  Jika benih ini baik, aku sendiri yang akan mencari dan menjemput kalian.”  Sang raja berjanji pada dirinya sendiri.  Ia tak mampu menahan rasa cinta dan rindu di hatinya.
Benar saja, biji-biji itu ditanam dan dipelihara dengan baik di kebun kerajaan.  Dalam beberapa bulan, buah semangka ranum telah siap dipetik.  Raja begitu ingin tahu rasa buah yang belum pernah dijumpainya itu.  Tanpa ragu dan bimbang karena keyakinan atas cinta kedua orang anaknya, Sang Raja memakan buah itu. 
“Luar biasa lezatnya buah ini, aku harus menepati janjiku.  Mencari dan menjemput Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba kembali ke istana.”
Kisah ini berakhir dengan pertemuan mengharukan antara Sang Raja dengan Pangeran Mei An Tie dan Putri Coba.  Kedatangan mereka disambut dengan pesta semangka yang mereka sebut Festival Tet hingga kini.  Sementara itu Pangeran Hau yang merasa malu telah mencelakai Pangeran Mei An Tiem, menyingkir jauh dari kerajaan.

HIKMAH:

1. Keluhuran budi akan mendatangkan cinta, asih dan sayang yang tetap akan dikenang hingga akhir hayat
2. Kerendahan hati untuk slalu menolong dan berbuat baik pada akhirnya akan melahirka cinta
3. Janganlah rasa iri dengki menghilangkan kasih sayang dan melahirkan permusuhan
4. Cobalah untuk bahagia saat orang lain bahagia dan bersedih saat orang lain menderita
5. Tetaplah gigih dalam keadaan apapun, karena Allah akan selalu membagikan jalan keluarNya
6. Buanglah dendam dengan mencoba memaafkan maka kemenangan akan menghampiri kita

FAKTA ILMIAH:

Semangka merupakan tanaman buah.  Memiliki tubuh merambat namun bukan merupakan stolon.  Berdaun lebar, berbunga terompet.  Buahnya yang besar mengingatkan kita pada labu. 

Semangka memiliki urutan taksonomi sebagai berikut: Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Curcubitales, Famili Cucurbitaceae, Genus Citrullus dan Spesies Citrullus lanotus.

Kandungan gizinya sangat banya, antara lain energy 30 kkal dalam 100 gram.  Karbohidrat 7,55 g, gula 6,2 g, serat 0,4 g, lemak 0,15 g, protein 0,61 g, air 91,45 g.  Selebihnya berupa vitamin A, B1, B2,B3, B5, B6, B9,dan vitamin C.  

Kandungan mineralnya meliputi Kalsium, Besi, Magnesium,  Fosfor, Kalium, dan Zink.

REFERENSI:


LEGENDA KE-36 (TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR)


TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR

Dikisahkan secara turun temurun, bahwa sebelum Timor Timur muncul sebagai pulau, terdapa pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Di pulau itu hiduplah dua pemuda yang memiliki sifat sangat berlainan.  Sebut saja namanya Rauk dan Mere.  Meskipun mereka bersahabat, tetapi memeka punya karakter yang sangat berbeda.
Rauk Mao adalah pemuda yang pemberani dan cenderung nekat.  Kesukaannya dalam berburu dan berpetualang seringkali tidak mengindahkan nasihat dari siapapun.  Sementara Mere masih mau memegang pesan dari
“Rauk, aku suka dengan kegemaranmu berburu.  Bahkan aku sangat tersemangati dengan keberanianmu.  Tapi tolong kau jangan berburu buaya lagi.”  Mere Lisboa mengingatkan sahabatnya yang selalu melanggar pesan para tetua di pulau yang mereka diami.
“Mere, aku sudah berhasil menahlukkan semua binatang di pulau ini.  Komodo, ular, kuda liar, banteng.  Semuanya.  Hanya satu yang sangat ingin aku tundukkan.  Buaya dan rasa lezat dagingnya.”  Rauk membanggakan dirinya dengan penuh kesombongan.
“Terserah kamu, Rauk.  Tapi tolong jangan kau buru buaya itu di depan mataku.”
Mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.  Di tengah perjalanan pulang, Mere memilih untuk berbalik arah.  Ia berfirasat bahwa Rauk akan kembali memburu buaya saat ini juga.  Rauk akan terus mengikuti keinginannya dan tidak akan pernah menyerah sebelum keinginannya terpenuhi.
Sesampainya di tepi danau tempat buaya-buaya itu tinggal, betapa terkejutnya Mere melihat seekor buaya meronta-ronta.
“Tolong, aku terperangkap!!”  Buaya itu menggelepar-gelepar karena mulutnya terjepit bamboo.
“Tidak salah lagi bambu ini milik Rauk.”  Ternyata Rauk memasang jerat dengan membelah bambu, membukanya dengan kayu penahan pada ujungnya sementara di tengah dan meletakkan sebongkah daging ayam segar.
“Aduh, buaya, pasti kamu kesakitan terjepit perangkap ini.  Tenanglah, aku akan menolongmu.” Mere membuka jepitan bambu besar itu dengan sekuat tenaga.
Buaya terlepas dan dapat bernafas lega.  Ia berjanji akan bersahabat dengan Mere.  Sejak saat itu mereka begitu  karib.  Kemana pun buaya itu pergi, ia selalu menawarkan diri untuk membawa Mere berkelana mengarungi danau, bahkan samudra.  Mere memanggil Aya pada sahabat barunya itu
“Terima kasih sahabat, dengan kebaikanmu, aku bisa menikmati keindahan lautan.  Tidak ada satu pun pantai yang belum aku singgahi selama persahabatan kita, Aya,” ungkap Mere jujur.
“Kebaikanku belum seberapa bila dibandingkan dengan selamatnya nyawaku dari jepitan bambu beberapa tahun lalu.”  Aya mengucapkan rasa berhutang budinya pada Mere.
Suatu ketika mereka tiba di sebuah pulau asing.  Di pulau asing itu, Mere berjumpa dengan seorang gadis.  Rasa suka pada gadis itu membuat Mere meminang dan menikahinya.  Buah dari kasih sayang mereka, lahirlah anak-anak Mere. 
Meskipun Mere sudah tidak sendiri,  Aya tetap setia membawa keluarga itu kemanapun mereka mau.  Hingga tibalah waktu yang sangat tidak mereka inginkan.  Perpisahan!
“Mere, aku sudah tua.  Aku tidak akan kuat  lagi membawa kalian sekeluarga kemana pun kalian pergi.”  Aya berucap sedih.
“Jangan berkata begitu, Aya.  Katakanlah kita akan terus bersama, walaupun kau tidak lagi membawa kami mengarungi samudera, kami rela.
“Tiada ada yang bisa melawan ajal.  Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian.  Di waktu terakhirku, aku akan membawa kalian ke tengah samudera. Diantara dua pulau besar dan gugus pulau kecil yang kita tempati ini, aku akan berhenti.  Saat jiwaku pergi, jasadku akan menjadi tempat abadi kalian.”
Mereka pun menuju samudera yang dimaksud oleh Aya.  Saat jiwa Aya pergi, tubuhnya terbujur kaku, perlahan tubuh itu melebar menjadi sebuah pulau yang mirip dengan buaya.  Pulau itu dinamakan Pulau Timor.  Letaknya yang berada di bagian timur melengkapi namanya, Timor Timur

HIKMAH:
1. Tetaplah berbuat baik, karena kebaikan akan selalu membuahkan kebaikan selanjutnya
2. Saling berterimakasih akan melahirkan keharmonian dalam kehidupan, saling memberi dan menerima
3. Barang siapa menyayangi apa yang ada di bumi maa akan menyayanginya para penduduk langit, maka saling berkasihsayanglah.

FAKTA ILMIAH:
Timor Timur berdiri pada tanggal 17 Juli 1976 dan dibubarkan pada tanggal 19 Oktober 1999.  Memilih terpisah dari Indonesia melalui referendum saat pemerintahan Presiden BJ. Habibie.  Resmi sebagai negara merdeka pada 20 Mei 2002, setelah menjadi provinsi ke-27 bersama Indonesia.
Selama 23 tahun bersama Indonesia, Gubernur yang bertugas adalah Arnaldo dos Reis Araujo (1976-1992) dan Jose Abilio Osorio Soares (1992-1999)
Dijajah oleh Portugal selama 450 tahun, kesejahteraan dan pembangunan tidak diperhatikan oleh pemerintah Portugal.    Atas usulan dari partai politik APODETI dan UDT, Timor Timur ingin bergabung dengan Indonesia pada 28 November 1975.  Karena ada sebagian partai yang berhaluan kiri, FRETELIN tidak ingin bergabung dengan Indonesia, maka ABRI melakukan tindakan pengamanan terhadap potensi pertikaian pada 7 Desember 1975.
Meskipun dianggap invasi, Indonesia tidak pernah memperlakukan Timor Timur sebagai daerah jajahan, bahkan banyak pembangunan yang diprioritaskan ke provinsi termuda tersebut.  Dalam pidatonya saat memperingati dua tahun integrasi Timor Timu di Gedung DPRRI, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Timor Timur adalah saudara yang hilang dan telah kembali pada pangkuan ibu pertiwi.

REFERENSI:

Kamis, 21 Maret 2019

LEGENDA KE-35 (TERBENTUKNYA SELAT SUNDA DAN GUNUNG KRAKATAU)


LEGENDA SELAT SUNDA DAN GUNUNG KRAKATAU

Pada jaman dahulu, Sumatra dan Jawa masih bersatu.  Raja yang berkuasa bernama Prabu Rakata.  Prabu Rakata dikenal sebagai seorang yang adil dan bijaksana.
Usianya yang makin senja, membuatnya berniat menyerahkan kekuasaan pada dua orang putranya.
“Putraku, Nak Mas Raden Sundana dan Raden Tapabaruna, Prabu Rakata.  Ayahanda sudah makin sepuh dan banyak hal yang aku rasakan berat memimpin negeri ini.”  Prabu Rakata memulai perbincangan dengan dua putranya di peraduan.
“Ampun Ayahanda, Ananda rasa Ayahanda masih cukup kuat dan sangat dibutuhkan oleh rakyat,” kata Raden Sundana.  Sementara Raden Tapabaruna hanya diam dengan keluhan Sang Prabu.
“Bagaimanapun kalian sudah dewasa.  Jangan sampai saat ajal menjemput, kalian tidak siap menerima amanat kepemimpinan yang aku tinggalkan.”
Pembicaraan serius ini membuat Sang Prabu memanggil beberapa orang dekat di istananya.
“Wahai para pembantuku, orang-orang yang setia padaku juga pada kerajaan.  Aku memanggil kalian untuk suatu keputusan besar dan sangat penting.  Aku membutuhkan pendapat kalian tentang kepemimpinan yang harus aku serahkan pada dua putraku.  Usiaku makin uzur, sudah saatnya aku mendekatkan diri pada Yang Kuasa.”
Semua mendengarkan titah raja dengan seksama.  Perundingan pun berlanjut dengan musyawarah serius tentang masa depan kerajaan.
Akhirnya tibalah saatnya Sang Prabu mengumumkan keputusan yang dimufakati para petinggi kerajaan.
“Sudah tiba saatnya aku mendekatkan diriku pada Yang Maha Kuasa.  Aku akan melakukan uzlah dan suluk di Sang sisa usiaku.  Maka aku serahkan dua wilayah besar kerajaan ini.  Wilayah timur untuk Raden Sundana dan wilayah barat untuk Raden Tapabaruna.”
Keputusan raja disambut dengan riuh rendah suara rakyat.  Ada yang suka ada juga yang kecewa bahkan ada yang tidak terlalu mempermasalahkan siapa raja wilayahnya nanti.  Semua sesuai dengan rasa kecintaan mereka pada  masing-masing pangeran kerajaan.
Sang Prabu akhirnya berangkat menyendiri.  Dia hanya ditemani satu benda kesayangannya yaitu guci.  Beberapa tahun di tempat uzlahnya, Sang Prabu mendengar kabar bahwa kedua putranya terlibat perang besar.
“Sudah aku duga, saat aku masih ada pun sampai hati mereka berbuat hal yang mengecewakanku.  Pengawal, aku harus melakukan sesuatu.”  Prabu Rakata berucap geram.  Murkanya kali ini tak dapat ia tahan.
Apakah yang dilakukan Sang Prabu Kemudian?
Sang Prabu mengisi penuh guci kesayangannya dengan air laut.  Ia bersama pengawal menemui kedua putranya.
Demi mendengar Sang Prabu hendak pulang menemui mereka, mereka melakukan kesepakatan.
“Kang Mas, aku tidak akan menghentikan peperangan ini, seandainya ayahanda tidak berniat untuk pulang.  Aku berhenti bukan berarti kalah.  Ini semua aku lakukan untuk menghibur ayahanda prabu.”
“Baik Dimas, aku aan menerima tantanganmu itu, tunggu sampai ayahanda berangkat. uzlah kembali.”
Keduanya tidak menyadari bahwa Sang Prabu telah kembali dan mendengar perbincangan mereka.
“Kalian sangat mengecewakanku.  Aku perintahkan kalian pulang dan berdiri di wilayah masing-masing!!!”
Kedua putra raja itu pun mundur dengan pasukannya masing-masing.  Penyebab peperangan itu ternyata perebutan daerah perbatasan yang kaya akan emas.
Sang Prabu segera memberikan pelajaran pada kedua putranya. 
“Baiklah, aku akan sirami wilayah sengketa ini dengan air laut di guci ini.  Kekayaan dunia yang telah membuat anak-anakku berperang akan sirna.”  Sang Prabu Rakata membenaman guci kesayangannya, dan sesuatu yang luar biasa terjadi.  Guncangan dahsyat membelah daerah sengketa itu menjadi dua.  Air laut yang disiramkan Sang Prabu mencari jalan menuju asalnya, membuat jalan air laut menggenangi daerag gempa itu.
Akhirnya dua wilayah barat dan timur itu pun terbelah sempurna.  Guci yang ditanam itu berubah menjadi gunung.  Untuk mengenang pemilik guci itu, mereka menamakannya sebagai Gunung Krakatau.

HIKMAH:
1. Janganlah kecintaan pada dunia, ambisi akan kekayaan dan keduniaan menghilangkan persaudaraan dan rasa kemanusiaan
2. Perselisihan diantara saudara akan membekaskan rasa sakit pada kedua orang tua, maka selalulah hidup rukun penuh kedamaian
3. Jadilah pemimpin yang adil karena ditangan pemimpin yang adil, rakyat akan selamat.  Sebaliknya bila pemimpin tidak adil dan bijak, banyak yang akan menjadi korbannya.

FAKTA ILMIAH:
Krakatau tergolong dalam gunung kaldera, memiliki ketinggian 813 m.  Terletak di Selat Sunda, antara Jawa dan Sumatera.
Anak Krakatau 'lahir' pada 11 Juni 1927, sekitar 40 tahun setelah letusan paling dahsyat di bulan Agustus tahun 1883. Komposisi magma basa Anak Krakatau muncul di pusat kompleks Krakatau. Anak Krakatau sudah berada di level kedua sejak 2012. Pada pertengahan 2018 Anak Krakatau kembali bererupsi aktif dan letusan terakhirnya terjadi pada tanggal 22 Desember 2018.
            Erupsi Krakatau 1883 dikatakan sebagai erupsi terkuat yang terekan sejarah dan masuk dalam Gueness Book of Record dengan nilai VEI (Volcanic Explosivity Index) terbesar dan daya rusak terhebat dalam sejarah peradaban manusia.   Letusannya terdengar hingga 4600 kilometer dan letusannya terdengar oleh 1/8 penduduk bumi, abu vulkaniknya tersebar dalam radius 550 km.  Asapnya mencapai ketinggian 11 km. Meninggalkan bekas kaldera bawah laut sedalam 250 m dan lebar 7km.  Gelombang Tsunami yang ditimbulkan setinggi 30m, menjangkau Port Elizabeth Afrika Selatan.  Amukannya terjadi selama 20 jam 50 menit, menghilangkan 162 desa dan menelan korban jiwa sebanyak 36417 jiwa.  Kekuatan ini dinilai 21574 kali lebih hebat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

            Meskipun letusan ini tampak dahsyat, ternyata Krakatau Purba jauh lebih dahsyat.  Tertulis dalam teks Jawa Kuno berjudul Pustaka Raja Parwa, di tahun 416 M, Gunung Krakatau Purba memiliki etinggian 2000 m di atas permukaan air laut, dengan lingkaran pantai 11 km.
            Digambarkan bahwa ledakan selama 10 hari dengan muntahan 1 juta ton perdetik berasal dari Gunung Batuwara (Gunung Krakatau Purba).  Guncangan menakutkan terus terjadi, angin, bujan dan gelombang laut begitu menakutkan, dunia menjadi gelap.  Pulau Jawa terpisah menjadi dua bagian yaitu Sumatra dan Jawa.  Demikian menurut buku Pustaka Raja Parwa.  Akibat lain dari ledakan ini adalah musnahnya beberapa peradaban di bumi ketika itu, antara lain Persia Purba, suku-suku India di Amerika.  Temperatur bumi turun hingga 5-100 dalam 10-20 tahun


REFERENSI:
1. https://www.tanahnusantara.com/legenda-selat-sunda-sekilas-kisah-gunung-krakatau/17/3/2019

LEGENDA KE-33 (KEINDAHAN BULU CENDERAWASIH)


KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH
           
Di daerah Pegunungan Bumberi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, hiduplah seorang perempuan tua kita sebut saja dia Meina,  bersama seekor anjing penjaga.  Anjing ini juga menemani perempuan tua untuk berburu di tengah hutan.
           
Suatu ketika persediaan makanan Meina habis.  Mereka merasa lapar dan mulai untuk berburu.  Di tengah perburuan mereka, Meina menemukan buah merah dan diberikannya pada anjing betina yang menemaninya itu. 
    
“Dinga, ini ada buah merah.  Makanlah! Kamu pasti lapar, bukan?”

Di luar dugaan ternyata setelah memakan buah merah, Dinga mengalami perubahan pada dirinya.  Perubahan ajaib karena tiba-tiba perusnya membesar.  Ada janin yang bergerak-gerak pada perutnya. Dinga pun melahirkan seekor anjing mungil.

“Aku ingin hamil dan melahirkan anak sepertimu, Dinga.” 

Meina kemudian memakan buah merah.  Benar saja, perut Meina mengalami perubahan.  Membesar dan bergerak-gerak menendang dinding rahimnya.  Ia bergegas pulang dan melahirkan sesosok bayi laki-laki mungil.

“Aku akan memberimu nama Kweiya.”

Kweiya tumbuh menjadi remaja yang baik lagi rajin.  Ia sangat sayang pada ibunya.  Setiap hari ia sanggup bekerja keras memerah keringat demi ibunya tercinta.

“Ibu, aku akan menyiapaka kebun sayur untuk kita.”

“Bagaimana bisa Kweiya, kita tidak punya ladang.  Selama ini aku hanya mencari makanan di hutan.”

“Ibu aku akan menebang hutan dan membuat ladang untuk kita Tanami,” ungkap Kweiya meyakinkan.

Kweiya berangkat ke hutan, menebang pohon dengan sabar. Ia membakar tetumbuhan yang ditebangnya. 

Asap tebal membubung tinggi, sehingga menarik perhatian seorang pengail ikan di sungai.  Pengail ikan itu mencari sumber asap.  Ternyata seorang pemuda tampan sedang bekerja keras menyiapkan lahan di hutan itu.

“Selamat siang, anak muda!  Siapa kamu dan mengapa kamu tebang pohon dan tumbuhan di hutan ini?” tanya pria tua.

“Aku Kweiya.  Aku  sedang membantu ibuku menyiapkan ladang  untuk menanam sayur dan bebijian.”

“Kamu tentulah seorang anak yang baik lagi berbakti.  Aku ingin memberikan hadiah ini untuk keluargamu.  Semoga bisa bermanfaat dan berkah di tangan anak serajin kamu.  Tapi tolong rahasiakan pemberianku ini pada siapapun termasuk ibumu,” lanjut Pak Tua.

“Terimakasih, Pak Tua,” ungkap Kweiya sambil menerima kapak besi pemberian Pak Tua.
Dengan kapak besi itu Kweiya meneruskan pekerjaannya.  Sesuatu yang ajaib terjadi.  Kweiya dapat menebang pohon-pohon itu dalam waktu sekejap.  Ia pulang dengan riang, memberi kabar pada ibunya bahwa kebun sudah siap.

Ibunya terheran-heran dengan kemampuan Kweiya dan menanyakan kelebihannya itu.  Kweiya tetap merahasikan kapak besi itu dan hanya mengatakan bahwa saat menebang pohon dan menyiapkan kebun, tangannya terasa ringan.

Keesokan harinya Kweiya bermaksud membalas budi baik Pak Tua dengan mengundangnya makan bersama.

“Ibu, tolong masakkan aku makanan yang lebih banyak dari biasanya,”  pinta Kweiya tanpa banyak mendapat pertanyaan dari Sang Ibu.

Dengan tetap merahasiakan kisahnya tentang Pak Tua, Kweiya membungkus Pak Tua dengan batang tebu berdaun kebat dan meletakkannya di depan rumah.

Rasa lelah dan haus memanggul Pak Tua bersama batangan tebu, Kweiya meminta ibunya mengambilkan sebatang tebu pembungkus Pak Tua.  Betapa kagetnya Meina saat melihat ada seorang pria tua di dalam gulungan batang tebu itu.  Kweiya akhirnya berterus terang bahwa Pak Tualah yang membantunya menyiapkan kebun.  Pak Tua bermaksud menikahi ibunya, maka Kweiya memohon kesediaan ibu untuk menikah.

Pernikahan berlangsug dengan baik.  Tuhan mengaruniakan dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.  Sangat disayangkan dua adik lelaki Kweiya memendam iri dengki karena mereka merasakan kasih sayang yang berbeda dari Sang Ibu.  Puncaknya, kedua adik laki-laki Kweiya menyerang dan mencelakai Kweiya saat bekerja di kebun.  Kweiya tidak membalas, bahkan memaafkan kedua adiknya.

Rasa sedih yang dalam membuat Kweiya memutuskan untuk memintal kulit binatang.  Ia bermaksud membuatnya menjadi bulu sayap untuk terbang meninggalkan dua adiknya yang jahat.

Saat pintalan selesai, disisipkannya pintalan itu pada ketiaknya, Kweiya berubah menjadi burung cantik dengan bulu penuh warna.  Ia terbang meninggalkan keluarganya. 

Ibu merasa sedih ditinggal Kweiya. “Kweiya pulanglah, Nak.  Ibu tak ingin kau tinggalkan.”. 

Ternyata Kweiya ada di atas atap rumah, ia memberitahukan bahwa pintalan kulit untuk ibu masih ada dan terselip di paying tikar.

“Ibu, ambillah pintalan kulit yang aku tinggalkan untuk ibu.  Apit pada ketiak Ibu, maka Ibu akan berubah sebagaimana aku.”

Meina memakaikan  pintalan itu di ketiaknya dan ia berubah menjadi burung yang cantik pula.  

Meskipun tidak secantik bulu Kweiya yang menjadi Cenderawasih jantan.  Meina mengikuti Kweiya meninggalkan keluarga itu.

Tinggallah Pak Tua dan tiga anaknya.  Mereka saling menyalahkan satu sama lain.  Pertengkaran tak dapat dihindarkan. 

“Gara-gara kalian, kita kehilangan ibu dan kakakmu.  Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”  Pak Tua tak bisa menahan marahnya.

Mereka saling melempar abu perapian.  Tiba-tiba tubuh mereka berubah menjadi burung dengan bulu yang kusam dan tak seindah bulu burung Cenderawasih tergantung baik dan buruknya sifat masing-masing.

Demikian kisah terjadinya burung Cenderawasih dari Fakfak Papua.

HIKMAH:
      1. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, maka Tuhan akan membukakan jalan keberuntungan yang tidak kalian duga
      2. Menjaga rahasia adalah perbuatan yang berat, kejujuran adalah obatnya
      3. Hindarkan dari iri dengki, ia adalah sumber permusuhan dan malapetaka
      4. Kesabaran akan embawa kebaikan bahkan menjanjikan keberuntungan.  Sementara sifat pemarah menjadi bibit pertengkaran dan melahirkan penyesalan.
FAKTA ILMIAH:
Cinderawasih sering juga di sebut Paradise Bird karena keindahan bulunya.  Penyebarannya banyak di Indonesia Timur, terutama Papua.  Cenderawasih termasuk dalam tipe burung Astronesia
Taksonomi burung Cenderawasih adalh sebagai berikut:  tergolong dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Passeriformes dan Famili Paradisaeidae.  Seentara itu turunannya tergolong dalam Genus Paradisaea dan Spesies Paradisaea sp.
Salah satu spesies yang unuk adalah Cenderawasih kuning-besar, yang memiliki nama ilmiah Paradisaea apoda (Cenderawasih tanpa kaki).  Spesimen ini dibawa ke Eropa dala sebuah ekspedisi dagang dengan terlebih dahulu diambil kakinya.  Maka munculah spesies tanpa kaki ini.  Mereka menganggap burung ini ajaib dari surga dan akan terus terbang tanpa hinggap karena tidak memiliki kaki.
REFERENSI:


LEGENDA KE-34 (ASAL USUL GEMPA BUMI)


ASAL USUL  GEMPA BUMI

Kisah ini muncul dari satu daerah  yang dulu bernama Edo dan dikenal dengan nama Tokyo hingga saat ini.  Tentu hampir semua orang mengenal Tokyo sebagai ibu kota negara Jepang.
Nah, ada sesuatu yang menarik untuk kita simak tentang asal mula kejadian gempa bedasarkan legenda versi rakyat Jepang.  Ayo, kita simak!
Dulu kala di daerah Edo, hidup seorang yang kaya raya.  Ia senang mengundang warga untuk berpesta pora. Nama orang itu Eito yang bemakna orang yang makmur.
Kemakmuran Eito tidak lepas dari peran Dewa Kashima.  Kashima merupakan dewa penjaga seekor lele besar yang bernama Namazu.  Ia menahan Namazu dengan batu agar tidak bergerak.  Sekali saja Dewa Kashima lengah dalam menjaga maka lele raksasa ini akan menggoyang bumi.
“Namazu, tetaplah kamu dalam keadaanmu.  Jangan sekalipun kamu bergerak kecuali aku perintahkan untuk memberi pelajaran pada para pendurhaka. Aku akan melihat tingkah laku manusia ,” ungkap Kashima suatu ketika.
“Baiklah aku akan menuruti apa perintahmu, Dewa Kashima,” jawab Namazu.
Kashima memeriksa perilaku manusia.  Dari kejauhan terdengar suara riuh rendah pesta pora di satu titik di tengah kota Edo.
“Ayo, silahkan kalian habiskan hidangan ini.  Tambah lagi sakenya.”  Eito berkeliling melayani tamu-tamu istimewanya.  Semua tenggelam dalam kemewahan pesta.
“Tenang Tuan Eito, perut kami cukup lapar untuk menampung semua makanan dan minuman ini.”  Salah satu tokoh penting di kampung itu menimpali.
Tanpa disadari oleh Eito dan para tamunya, hadir sesosok pria tua menuju pesta itu.  Ia menyelinap ke tengah kerumunan tamu pesta undangan.  Pakaiannya yang compang-camping, embuat para tamu menyingkir menjauhinya.
“Kenapa kamu datang kemari.  Ini bukan tempat untukmu.  Sungguh menjijikkan!” hardik seseorang berkimono biru.
Keributan itu akhirnya membuat Eito bangkit dari kursi kebesarannya.  Dengan sombongnya, ia berkacak pinggang dan berteriak.  Ia sengaja melakukannya untuk disaksikan oleh semua tamu undangan, bahwa ia tidak enyukai kehadiran pria tua itu.
“Hai, tamu tak diundang.  Kamu telah menggangguku dan semua tamuku.  Pergi sekarang juga.  Kalau tidak, tak segan-segan aku menyuruh orang-orangku untuk mengusir.”
“Maafkan tuan hamba hanya memerlukan sedikit makanan untuk engganjal perutku yang telah lama tidak terisi barang sesuap nasi ataupun minuman.” Pria tua berucap memelas.
“ Itu bukan urusanku.  Mengeluhlah pada Tuhanmu tapi jangan padaku.  Makananku bukan untuk manusia miskin dan sial sepertimu.”
Saat orang kanan Eito mendekati pria tua.  Tiba-tiba pria itu menghilang.  Hanya terdengar suara menggema dari langit-langit tempat pesta.
“Namazu, aku dapati banyak orang sombong di sini.  Bergeraklah kamu, biar mereka merasakan akibat kesombongan mereka.” Kashima menggeser batu penindih Namazu.
Tiba-tiba bumi yang mereka pijak berguncang keras.
“Ampun Namazu, ampun Namazu.  Kami tidak akan sombong lagi.  Kami akan berbagi pada ereka yang miskin.”  Mereka menyebut nama Namazu, nama yang mereka dengar dari suara gaib itu.  “Wahai yonaoshi daimyojin, perbaiki keadaan kami.  Kaulah Namazu Dewa Perbaikan Bumi, jangan kau teruskan kemarahanmu!” 
Teriakan orang-orang itu tidak menghentikan gerak Namazu.  Semua bangunan retak dan rata dengan tanah.  Sementara warga yang sedang pesta lari tunggang langgang menyelaatkan diri mereka masing-masing dari himpitan bumi.

HIKMAH:
1. Jangan Pernah sombong atas kenikmatan yang kita terima, karena semua dari Allah SWT
2. Gunakanlah nikmat itu untuk berbagi pada sesama, saling menolong dan membantu bukan dijadikan alasan untuk menghardik dan mencemooh
3. Sifat kikir dan pelit mendatangkan murka Allah SWT dan bencana, sebaliknya, sedekah dapat menolaknya

FAKTA ILMIAH:
Gempa bumi erupakan getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat dari pelepasan energy dari dalam bumi secara tiba-tiba sehingga menimbulkan gelombang seismic.  Gempa bisa disebabkan oleh gerakan lempeng bumi (tektonik) atau desakan magma pada peristiwa letusan gunung berapi (vulkanik)


Gempa bumi diukur dengan menggunakan seismometer yang merekam getaran dan menggambarkannya dalam grafik yang disebut seismograph.  Moment Magnitudo merupakan ukuran besarnya gempa atau lebih dikenal dengan satuan Scala Richter, dimana  1 SR=5 MM.

Berdasarkan penyebabnya ada berbagai jenis gempa bumi:
Gempa bumi tektonik
Gempa bumi vulkanik
Gempa bumi runtuhan
Gempa bumi tumbukan
Gempa bumi buatan

Berdasarkan kedalamannya:
Gempa bumi dalam (hiposentrum lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi)
Gempa bumi menengah ( hiposentrum antara 60 km-300 km dalam kerak bumi)
Gempa bumi dangkal (hiposentru kurang dari 60 km)

Berdasarkan kecepatannya:
Gempa bumi primer (kecepatan gelombangnya 7-14 km/s) getaran berasal dari hiposentrrum
 Gempa bumi sekunder (kecepatan antara 4-7 km/s) dimana getarannya tidak dapat merambat melalui lapisan cair


REFERENSI



  • https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi/15 Maret 2018
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Namazu_(Japanese_mythology)/15 Maret 2018
  • http://www.personal.psu.edu/faculty/g/j/gjs4/Shaking_Up_Japan.pdf/11 Maret 2018
  • https://www.anehdidunia.com/2015/11/mitos-asal-usul-gempa-bumi.html/10 Maret 2018