Sabtu, 24 November 2018

LEGENDA KE-30 TERBENTUKNYA DANAU TOBA


LEGENDA KE-30
KARENA JANJI YANG TERINGKARI

Di daerah Sumatra Utara, pada zaman dulu, hiduplah seorang anak bernama Toba.  Daerah tempat tinggal Toba merupakan dataran rendah, daerah lembah yang subur.  Ditanami apapun, lembah itu akan menumbuhkan tanaman yang menjadi rejeki untuk penduduknya.

Bukan itu saja, kesejahteraan masyarakat juga tertopang dari aliran sungai yang jernih dan penuh dengan ikan.  

“Aku akan mengail ikan sore ini, mana tahu rejekiku banyak dan melimpah dari hasil memancing ikan,” gumam Toba seorang diri.

Sekian lama Toba melempar umpan diujung kailnya, tapi tak satu pun ikan ia dapati.  Diliputi perasaan putus asa, Toba putuskan untuk berhenti memancing.

“Mungkin bukan rejekiku dari mengail ikan kali ini.  Sungguh aneh, padahal aku lihat ikan banyak berenang-renang di sungai ini.”

Suatu keanehan terjadi.  Tiba-tiba saat hendak menarik kailnya, ada terasa ikan yang kuat menarik kailnya.

“Syukurlah, akhirnya aku dapat juga ikan besar.  Meskipun hanya satu ikan ini melebihi tangkapanku sebelumnya.”  Hati Toba benar-benar riang mendapatkan ikan emas sebesar itu, “Aku akan makan besar malam ini.”  Toba membawa ikannya dalam karung dan dipanggulnya.

Alangkah terkejutnya Toba.  Sesampai di rumah, ikan yang ditangkapnya itu berubah menjadi kepingan uang logam emas dan…..

“Siapa gadis yang ada dalam kamarku itu?  Mengapa tiba-tiba ia ada dalam kamarku?”  Toba ragu untuk memasuki kamar dan menanyakan siapa gadis itu.  Akan tetapi rasa penasaran mendera.  Paras cantik gadis yang sedang menyisir rambutnya itu mengusik hati Toba.

“Siapa sebenarnya kamu?” tanya Toba hati-hati

“Aku penjelmaan dari ikan emas yang kau bawa dari sungai itu.  Dan kepingan uang logam emas itu sisik-sisikku.”

Wanita yang sangat cantik itu membuat Toba jatuh cinta.  Maka saat itu juga Toba melamarnya untuk dijadikan istri.

“Aku tidak keberatan Kakanda, tapi dengan satu syarat, Kakanda tidak boleh mengungkit ataupun membicarakan asal-usulku, pada siapapun.”

“Apapun syaratnya akan aku ikuti, asal kamu mau jadi istriku.”

Dengan prosesi yang sederhana, menghadirkan dua saksi dan wali hakim sebagai wali nikah, pernikahan itu berjalan khidmat dan lancar.  Mereka pun hidup sebagai suami istri penuh kebahagiaan.

Buah cinta mereka adalah seorang anak laki-laki yang tampan dan manis, mereka berinama Samosir.  Samosir tumbuh sebagai seorang remaja yang dapat disuruh oleh ibunya.  Suatu hari ibunya menyuruh Samosir membawakan makanan untuk ayahnya di ladang.

“Samosir, bawakan makanan ini untuk makan ayahmu di ladang.  Kasihan ayah, pasti dia sudah lapar menunggu makanan ini.  Jangan sampai lambat, kamu harus segera menyampaikan bekal ini untuk ayah!”  Demikianlah perintah Ibu Samosir.

“Baik, Bu.”  Samosir segera berangkat.  Akan tetapi di tengah perjalanan, rasa lapar begitu menggoda.  Samosir berniat mengganjal perut dengan bekal untuk ayahnya itu.  Tapi karena godaan yang kuat dan rasa enaknya makanan, membuatnya hanya menyisakan sedikit makanan untuk ayahnya.

Toba sudah tidak bisa menahan rasa laparnya dan berniat untuk pulang.  Di tengah jalan, didapatinya anaknya, Samosir membawakan makanan untuknya.

“Kamu lama sekali mengantarkan makanan buat Ayah?  Sini wadah makanannya!”  Toba mengambil tempat makanan untuknya dengan rasa marah.  Apa lagi ketika dibuka, makanan itu tinggal tersisa sedikit saja.

Samosir mulai menyadari kesalahannya dan menunduk takut.

“Dasar anak ikan!” hardik Toba pada anaknya.  Suara hardikan itu seakan bergema memenuhi langit.  Sampai-sampai Istri Toba pun mendengarnya.

Istri Toba merasa perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Toba, ia pun marah.  “Kamu telah melanggar sumpah dan perjanjian kita.  Samosir pergilah kamu ke tempat yang tinggi.  Sebentar lagi akan datang banjir bandang dengan air bah yang besar.”

Samosir lari menuju suatu tempat yang tinggi.  Sementara Istri Toba menghempaskan dirinya ke dalam sungai. 

Tiba-tiba terjadi banjir bandang besar.  Air itu membekaskan genangan yang sangat besar dan luas yang dikenal dengan danau Toba.  Pulau yang ada di tengah danau, menjadi tempat tinggal bagi Samosir dan dinamai pulau Samosir.

HIKMAH:
1. Jagalah hati dari rasa amarah yang bisa membuat tindakan kita tidak terkendali
2. Menjaga lisan adalah bagian dari keselamatan di dunia dan akhirat.  Karena kesalahan ucap dari lisan dapat memutuskan hubungan baik dan menjadi sebab masuknya manusia dalam neraka
3. Peganglah janji-janji kita karena janji adalah hutang

FAKTA ILMIAH
Danau merupakan badan air di darat  sehingga ia menjadi bagian dari wilayah daratan.  Berdasarkan faktor pembentukannya ada berbagai macam danau.  Faktor-faktor tersebut antara lain:
1.  Terjadinya letusan gunung berapi sehingga disebut danau vulkanik.  Yaitu adanya letusan gunung berapi yang menghasilkan cekungan yang dapat menampung air dan terbentuklah danau.  Faktor ini dapat dikatakan alami atau terjadi tanpa campur tangan manusia.
2.  Adanya kegiatan penambangan, yaitu pengambilan logam atau material bermanfaat lainnya yang menyisakan cekungan di permukaan bumi.  Cekungan ini dapat menampung air dan terbentuklah danau.  Faktor ini melibatkan campur tangan manusia sehingga tergolong danau tidak alami
3.  Kesengajaan membuat danau sehingga  disebut danau buatan.  Yaitu danau yang direncanakan dengan matang pembuatannya  karena alasan tertentu, misalnya: untuk dijadikan tempat wisata, membuat penampungan dan cadangan air untuk berbagai keperluan seperti irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dll.

Salah satu danau alami penting di Indonesia adalah danau Toba.   Ukuran Danau Toba, panjang 100 km, lebar 30 km dan kedalaman 505 m, membuat danau ini menjadi danau vulkanik terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Ianya terbentuk pada kaldera gunung berapi super.  Letaknya ada di wilayah Provinsi Sumatra Utara, berada pada ketinggian 900 m dpl.

Analisa para ahli terhadap pembentukannya adalah sbb:
-Sekitar 69000-77000 tahun yang lalu terjadi kekuatan ledakan besar dari gunung berapi super massif.  Kekuatannya mencapai 8 VEI (Vulcanic Explosivity Index),  merupakan letusan terbesar yang pernah terjadi di bumi dalam 25 juta tahun,  sehingga mengakibatkan perubahan iklim global

REFERENSI:
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/danau/danau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar