LEGENDA
KE-27
KISAH:
BERSAHABATLAH DENGAN ALAM
Horisaboquet adalah seorang lelaki
tua yang baik hati. Ia berbadan kecil,
kurus dan berambut panjang menjuntai, namun memiliki kesaktian. Dia memiliki ilmu meringankan tubuh sehingga
bisa bergerak cepat bahkan menghilang. Sifat bijaksananya membuat Horisa tidak
sombong dengan kelebihan yang dimilikinya.
Tinggal di puncak Gunung Canlaon
pada masa yang jauh sebelum Spanyol datang menjajah. Di bawah arahan dan kepemimpinannya, Gunung
Canlaon diberkahi sebagai tempat yang subur.
Berbagai macam tanaman dapat tumbuh subur di sana. Sayur mayur palawija dan terutama
tembakau.
Semua warga Gunung Canlaon
mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Mereka merasa qanaah dengan apa yang mereka
ambil dari alam. Mereka bisa hidup
sederhana tanpa banyak keinginan berlebihan terhadap nikmat dunia.
Kembali lagi pada karisma
Horisaboquet, dia sangat dihormati. Bila
ia melewati suatu perkampungan, warga akan memberinya penghormatan.
“Selamat datang Tuan Horisa. Kami merasa beruntung anda mau bertandang ke
kampung kami.” Ojera seorang tetua salah satu kampung di Gunung Canlaon.”
“Terimakasih atas sambutannya Pak
Tua. Saya bermaksud mengumpulkan warga
di satu tanah lapang untuk membicarakan suatu hal.” Horisa menyampaikan maksud kedatangannya.
Persiapan untuk pertemuan besar
semua warga Gunung Canlaon seakan menandai pentingnya kegiatan tersebut. Horisaboquet segera menaiki mimbar.
“Dengan menyebut nama Tuhan Yang
Mahakuasa, Selamat dan kesejahteraan semoga selalu menyertai kita. Terimakasih untuk semua warga Canlaon yang
telah hadir pada pertemuan kali ini. Aku
akan menyampaikan beberapa hal penting:
1. Aku mendapat amanah dari Tuhan untuk
menyelesaikan permasalahan di seberang sana, alam lain yang sedang dirundung
permasalahan. Maka aku akan meninggalkan
kalian untuk beberapa lama.
2. Aku titipkan batas penanaman
yang kita sepakati bersama. Jangan
melewati batas itu karena bagian-bagian lahan memiliki fungsinya
masing-masing. Terutama bagian puncak
yang menjadi hutan resapan. Sama sekali
tidak boleh dijadikan lahan pertanian.
Kalau kalian melanggarnya maka kalian akan merasakan kesusahan
mendapatkan air dari sungai di tengah kampung kita ini.
3. Apabila kalian tetap
menanaminya aku akan mengambil semua tanaman tembakau kalian. Aku akan mengisap dengan batang cerutuku ini sampai
tembakau itu habis.
Pesanku
ini sangatlah penting untuk kalian ikuti.
Bila kalian langgar aku akan memenuhi ancamanku.”
Semua terdiam mendengarkan arahan
dari Horisaboquet. Tak lama kemudian
Horisaboquet menghilang dari pandangan seluruh warga. Mereka saling berbincang tentang pemimpin
meraka yang satu ini, untuk kemudian berpisah membubarkan diri.
Sekian lama kepergian Horisa, warga
masih mengikuti apa yang dipesankannya. Hingga lama kelamaan, mereka mulai digoda
bisikan setan dan nafsu untuk menikmati dunia lebih dari sekedar cukup
kebutuhan.
“Horisa tidak akan kembali
lagi. Dia hanya menakut-nakuti kita
supaya kita tetap miskin. Kalau puncak
Calaon ini kita Tanami tembakau, maka hasilnya akan lebih banyak dan membuat
kita kaya.” Seorang pemuda mengungkap
pandangannya.
“Aku tidak berani untuk melanggar
kesepakatan itu. Lagi pula kita sudah
cukup hidup tenang dan damai dengan apa yang kita terima sekarang.” Ojera bertahan dalam ketaatannya pada
Horisabaquet.
“Pak Tua, ini hanya akal-akalan
Horisa supaya tidak ada yang menyaingi wibawanya. Kalau kita tidak bisa melampaui ilmunya maka
kita masih bisa melampaui kekayaannya.
Sekarang begini saja. Bagaimana
kalau kita mencoba menanam melewati batas
kesepakatan. Bila benar
ancamannya maka ia akan datang untuk mengambil tembakau kita. Tapi bila tidak berarti dia telah berbohong
dan kita bebas menanami lahan di gunung ini hingga ke puncaknya.” Kini pendapat picik pemuda itu disetujui
banyak orang. Ojera tidak bisa melawan
keinginan dari mereka yang serakah.
Pemuda itu mulai mencoba melanggar
batas yang disarankan Horisa. Warga
cemas menunggu akibat yang diancamkan Horisa.
Akan tetapi ancaman itu tidak juga wujud nyata hingga panen yang didapat
pemuda itu cukup banyak.
“Apa yang kalian takutkan? Horisa hanya membohongi kita. Aku bisa mendapatkan panen lebih banyak dan
kita akan menjadi kaya raya. Mana
ancaman Horisa? Omong kosong!” suara
pemuda itu lantang jumawa.
Warga mulai tergiur membagi-bagi lahan sesuai
keinginan dan kesepakatan baru mereka.
Mereka
menanami hingga puncak gunung. Mereka
membabat hutan tanpa peduli risikonya. Begitulah
keserakahan telah menyelimuti hati sebagian besar warga. Hanya beberapa gelintir orang tua yang masih
mencemaskan akibat yang akan mereka dapatkan.
Menjelang panen tiba, gunung Canlaon
mengeluarkan asap. Asap itu begitu
panas, menyapu seluruh tanaman yang ada pada lahan mereka. Tidak bersisa.
“Ancaman Horisa akhirnya tertunaikan
juga.” Ojera hanya bisa berucap prihatin
dengan keadaan ini. Mereka meninggalkan
gunung, menyelamatkan diri dari amukan asap Canlaon.
Sampai saat ini asap masih
menggumpal dari atas Canlaon. Meskipun
tidak lagi panas dan berbahaya seperti serangan pertama yang menghabiskan
tanaman mereka. Sebagian orang percaya
bahwa Horisa belum selesai mengisap tembakau yang dia ambil dari warga Gunung
Canlaon.
HIKMAH
1. Semua yang terjadi adalah
bagian dari kehendak Allah SWT. Sebagai
ujian untuk diambil pelajaran darinya.
2. Janganlah melanggar
kesepakatan dan janji karena kesepakatan adalah amanah bersama serta janji
adalah hutang
3. Bersahabatlah dengan alam dan
jangan pernah mementingkan diri sendiri
4. Menggunakan alam secara
berlebihan akan berakibat pada bencana yang merugikan dan menyengsarakan
manusia.
FAKTA
ILMIAH
Salah satu gunung berapi aktif di Filipina adalah Gunung Canlaon.
Berdasarkan bentuknya, Canlaon termasuk dalam stratovolcano. Letaknya di provinsi Negros Occidental di
kabupaten Visayas. Hingga
tahun 2010, kota ini memiliki populasi 51254 jiwa dengan 9945 rumah tinggal.
Gunung
Canlaon berketinggian 2435 meter, meletus terakhir kali di tahun 2015.
Sedikit penjelasan tentang gunung
stratovolcano. Berdasar bentuk
puncaknya, Gunung srtratovolcana odalah gunung berapi kerucut, disebut juga
gunung berapi komposit. Pegunungan yang
tinggi dan mengerucut karena material letusan yang berupa lava dan abu vulkanik
mengeras.
Tipografinya, curam pada bagian
puncak dan landai pada bagian kaki. Hal
ini terjadi karena aliran lavanya amat kental, mengandung banyak silika
sehingga bersifat asam. Silika akan
cepat mendingin dan mengeras sebelum sebarannya cukup jauh.
REFERENSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar