Sabtu, 24 November 2018

LEGENDA-29 TERBENTUKNYA GUNUNG MERAPI



LEGENDA-29
DUA EMPU PEMBANGKANG

Kisah ini turun temurun diwariskan bak dongeng pengantar tidur.  Karena umur legenda ini cukup lama, maka banyak diwarnai dengan agama dan budaya yang berkembang saat itu.  Tidak heran bila kisahnya diwarnai dengan kepercayaan pada banyak dewa (politeism)

Untuk menambah khasanah kekayaan imajinasi kita, yuk kita simak legenda terbentuknya Gunung Merapi ini.
***
Konon, Pulau Jawa ini awalnya dalam kondisi miring.  Tentu saja kondisi ini tidak nyaman untuk dihuni manusia.  Para dewa di kayangan pun mulai mendiskusikan keadaan ini.
          
 “Aku ingin membuat Pulau Jawa ini rata dan tidak miring seperti yang kalian saksikan di bawah sana,” kata Batara Guru, tetua para dewa menyampaikan keresahannya.
            
Maka terjadilah diskusi serius yang menghasilkan sebuah kesimpulan akan perlunya penyeimbang di tengah pulau tersebut.  Keputusan yang diambil para dewa adalah dengan meletakkan sebuah gunung di tengahnya.  Kali ini gunung yang akan dipindahkan adalah Gunung Jamurdipa yang terletak di Pantai Selatan ke daerah perbatasan Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.

“Wah, ternyata daerah yang akan kita pakai untuk memindahkan gunung ini ditempati oleh dua empu sakti.”  Para dewa mengeluhkan kesulitan yang mereka hadapi.  Untuk mengatasi kesulitan ini diutuslah dua Dewa, yaitu Batara Narada dan Dewa Penyarikan.


“Kami mengutus kalian berdua untuk menemui Empu Rama dan Empu Pamadi.  Mereka membuat keris langsung di atas paha dengan tangan mereka.  Inilah yang membuat Pulau Jawa makin miring.  Bujuklah mereka untuk pindah dari sana,” perintah Batara Guru.


Batara Narada dan Dewa Penyarikan segera menemui dua empu itu.


“Wahai Empu Rama dan Empu Pamadi, kami mendapat amanah dari Batara Guru.  Kami akan memindahkan Gunung Jamurdipa ke tempat kalian membuat keris ini.  Maka sebagai penghormatan pada kalian, para dewa meminta kalian meninggalkan tempat ini,  Supaya kalian tidak tertindih Gunung Jamurdipa,” kata Batara Narada.


“Terimakasih atas kedatangan kalian, tapi kami hanya akan mendapatkan keris yang berkualitas bila mendapatkan bahan dan membuatnya di sini.”  Empu Rama menjelaskan alasan mereka membuat keris itu pada tempat di tengah Pulau Jawa ini.


“Tapi akibat perbuatan kalian, Pulau Jawa makin miring dan akan terus bertambah miring.  Ini sangat berbahaya buat keseimbangan dan kenyamanan penghuninya.”


“Kami tetap tidak akan pindah dari sini apapun yang terjadi.”  Empu Pamadi menegaskan satu hal yang akan berakhir dengan pertempuran antara keempatnya.


Merekapun terlibat pertempuran sengit.  Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya.  Empu Rama dan Empu Pamadi dengan keris-keris pusaka buatan mereka sendiri mampu membuat Batara Narada dan Dewa Penyarikan kewalahan.


“Rasanya pertempuran ini harus kita sudahi, kalau tidak kita bisa celaka.”  Dewa Penyarikan mengeluhkan keterdesakan dari pihak dewa.


“Sebaiknya kita kembali ke kayangan dan melaporkan keadaan ini.”  Batara Narada memutuskan untuk kebali ke kayangan meskipun dengan tangan kosong.


Setiba di kayangan dan menemui Batara Guru, mereka melaporkan sifat keras kepala dari dua empu di tengah Pulau Jawa itu.


“Mereka tidak bisa dikasih penghormatan.  Kita beritahu baik-baik malah melawan. Kita tidak usah perhitungkan lagi nasib mereka.   Aku putuskan pemindahan Gunung Jamurdipa tetap dilakukan.  Dewa Bayu, segera tiup Gunung Jamurdipa dari Pantai Selatan.”  Batara Guru memerintahkan tanpa bertimbang rasa lagi.


Sendika dawuh, Batara Guru, saya akan segera melaksanakan perintah.”  Dewa Bayu yang menguasai angin segera memerintahkan tentaranya untuk mengangkat Gunung Jamurdipa. Dalam sekali tiup, gunung itu menimpa tempat kedua empu. 


Mereka tewas tertimpa tanah hempasan Gunung Jamurdipa.  Sementara perapian pembuatan keris tetap menyemburkan api panas membara, menimbulkan kawah pada puncaknya.  Gunung itu pun mendapat sebutan Merapi yang bermakna tempat perapian.


Pada kenyataannya, Gunung Merapi menjadi gunung paling aktif di Pulau Jawa bahkan Indonesia.

HIKMAH:
1.  Hendaklah kita mementingkan keselamatan alam lingkungan dalam rangka berakhlak pada alam sebagai sesame makhluk Tuhan. 
2.  Hendaklah kita mementingkan keselamatan bersama, sesama insane dalam rangka berakhlak pada sesama manusia.
3. Keinginan berada pada zona aman dan nyaman kadang membuat manusia enggan berhijrah walaupun itu diperintahkan oleh Allah SWT dan RasulNya.  Maka mengambil hikmah dari perintah hijrah akan meringankan langkah.  Sesungguhnya hijrah adalah dakbus salihin untuk mencari maslahat, kebaikan dan memperbaiki keadaan.

FAKTA ILMIAH:


Sebenarnya tahapan terbentuknya Gunung adalah sbb:
1.  Terjadinya akumulasi sedimen, lapisan-lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk hingga kedalaman beberapa kilometer.Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi. 
2.  Sedimen pada langkah pertama pembentukan gunung, mengalami deformasi karena gaya kompresi dari tumbukan antar lempeng tektonik.
3.  Pengangkatan kerak bumi akibat gerakan blok sesar. Tumbukan antarlempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung.  Bagian yang mengalami tarikan akan merenggang dan terjadilah graben yang membentuk lembah

Gunung Merapi memiliki ketinggian puncak di atas 2.930 meter dpl, terletak di tengah Pulau Jawa, sebagai gunung api paling aktif.  Berada di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah.  Kabupaten Magelang di sisi baratnya, Boyolali di sisi utara dan timur, Yogyakarta dan Sleman di sisi selatan, serta Klaten di sisi tenggara.   Sejak 2004, bagian puncaknya dijadikan Taman Nasional Gunung Merapi.

Terhitung dari tahun 1548, Gunung Merapi meletus lebih dari 68 kali.  Bahkan dalam setahun dapat meletus dua hingga lima kali.  Oleh karena itu, Merapi menjadi gunung yang sangat berbahaya.  Meskipun demikian, wilayah pemukiman penduduk mencapai ketinggian hingga 1700 m, hanya berjarak 4 km dari puncaknya.   Nah, Gunung Merapi dengan tingkat kepentingan yang tinggi ini, termasuk dalam proyek Decade Volcanoes

Terakhir letusan Merapi hingga tulisan ini dibuat, terjadi pada tanggal 24 Mei 2018 dengan ketinggian kepulan asap hingga 6000 m, hujan abu menyebar kea rah barat hingga Kebumen sepanjang jarak 40 km.

Bagian puncak merapi tidak ditumbuhi vegetasi apapun.  Vegetasi Merapi di bagian teratas didominasi alpine khas pegunungan, misalnya Rhododendron dan Edelweis jawa.  Bagian di bawahnya terdapat hutan bamboo dan tumbuhan pegunungan tropika.  Di bagian selatan terdapat hutan hujan tropis pegununga, dengan anggrek endemic Vanda tricolor yang termasuk dalam vegetasi langka.  Di bagian kaki, pada ketinggian kurang dari satu kilometer terdapat varietas salak unggul, Pondoh dan Nglumut

REFERENSI:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

https://ardiyansyah.com/2016/07/fungsi-gunung-dan-proses-terjadinya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar