LEGENDA KE-28
SIPUT YANG SETIA KAWAN
Diawal-awal penciptaannya, Allah SWT memenuhi
bumi dengan tumbuhan, kemudian barulah binatang. Di antara binatang-binatang
itu terdapat tupai, capung, lebah besar
dan siput. Masing-masing bernama Tupi,
Capi, Tawon dan Putput.
Mereka
memutuskan untuk membagi tugas sesuai dengan kekuatan dan kemampuan mereka
masing-masing. Tupi adalah yang paling
besar dipilih menjadi pimpinan di rumah itu.
Dalam sebuah musyawarah Tupi membagi tugas untuk seluruh anggota
keluarga itu.
“Aku paling besar dan gerakkanku lincah biarlah
aku bertugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Tugas ini cukup berat dan
berisiko di luar sana. Tawon, kamu punya senjata yang ampuh dan dapat
terbang. Maka tugas kamu menjadi penjaga
untuk keselamatan semua anggota keluarga.
Kamu adalah lebah besar. Racun di
sengatmu akan tetap tertancap kuat dan tidak akan lepas dari badanmu saat
menyengat. Ini sangat berbeda dengan
lebah kecil dari bangsamu. Kamu Capi,
dengan penampilan rapihmu, kamu sangat cocok untuk menjadi bagian humas. Mengatur kerjasama dengan keluarga lain,
sekaligus menjadi sekretaris pribadiku.
Putput, gerakanmu lambat maka aku tugaskan kamu untuk menjadi juru masak
keluarga kita.”
“Baiklah Tuan Tupi, kami akan menjalankan tugas
kami dengan sebaik mungkin.”
Demikianlah satu keluarga empat satwa itu bersepakat.
Suatu hari Tupi pergi untuk mencari bahan
makanan karena persediaan makanan sudah mau habis. Tupi pergi ke hutan dan melihat ada ikan
dalam tempat yang mirip sangkar burung.
“Alhamdulillah ada ikan dalam sangkar itu aku
akan membawanya. Di hutan ini pasti
tidak ada siapa yang memilikinya.” Tupi
segera memasuki sangkar. Tapi betapa
malangnya sangkar tiba-tiba tertutup dan seorang pemburu menghampirinya.
“Nampaknya aku harus puas dengan seekor tupai
kali ini. Tidak mengapa. Aku akan mencapurkannya dengan dedak dan
memberikannya pada itik peliharaanku.
Akhir hidup Tupi sangat tragis berakhir di
ujung pisau dan menjadi makanan itik.
Tiga anggota keluarga yang lain tidak tahu
bagaimana nasib dari tupi. Seua berdoa
sekiranya Tupi akan kembali. Tapi hingga
rasa lapar mendera, Tupi tidak juga pulang.
Mereka kehilangan kesabaran.
Diutuslah Capi untuk mencari Tupi, pemimpin mereka.
Capi terbang kian kemari hingga tapi lelah
tidak juga menemukan Tupi. Akhirnya ia
hinggap pada setangkai teratai di pinggir danau.
Seekor ikan memperhatikannya mencari akal untuk
bisa menyantap Si Capi.
“Hai, Capi kasihan sekali kamu. Kelihatannya lelah sekali?” tanya Kani si
ikan licik.
“Ia aku mencari pemimpin kami Tuan Tupi. Ia sedang mencari makan buat kami tapi tidak
juga kembali.” Capi bercerita sedih.
“Kamu kelihatan lucu dengan wajah sedih dan
penampilanmu yang amburadul itu.
Ha…ha…ha…lihat dasi kamu terjuntai mau jatuh,” olok Kani dari permukaan
air.
Merasa tidak enak ditertawakan seperti itu,
Capi membenahi dasinya. Malang tak bisa
ditolak, untung tak bisa diraih. Posisi
hinggap yang tidak stabil membuat Capi terpelanting ke danau dan langsung
disantap Si Kani.
Dua anggota keluarga mereka tinggal Putput dan
Tawon. Mereka makin kelaparan dengan
habisnya bahan makanan mereka. Yang
paling menderita adalah Tawon karena ia harus mencari bahan makanan jauh dari
tempat tinggal mereka. Sementara dia
tidak bisa meninggalkan tugas menjaga seisi rumah.
Berbeda dengan Putput ia dapat dengan mudah
mendapatkan makanan. Dari rerumputan
bahkan dari sisa bahan makanan yang dibuang oleh keluarga lainnya.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Kemana mereka pergi. Semua tidak punya rasa tanggung jawab sama
sekali. Sedangkan aku tidak boleh
meninggalkan rumah ini. “ Tawon kesal dengan keadaan yang harus
dihadapinya.
“Sabar, Tawon.
Sebaiknya kita cari mereka berdua.”
“Tidak bisa siput, aku mendapat tugas menjaga
rumah kita ini, bukan?”
Akhirnya Tawon sudah tidak tahan dengan apa
yang dideritanya. Diikatkannya tali pada perutnya untuk mengurangi rasa
lapar. Malangnya ikatan itu terlalu
kencang. Ia mati lemas kelaparan,
terjatuh dalam keadaan terlentang.
“Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun, aku
sendirian sekarang. Kemana
teman-temanku? Aku tidak mau
sendiri. Aku akan cari mereka sampai
ketemu.”
Siput berjalan perlahan di atas rerumputan
sambil memanggil Tupi dan Capi. Merayap tiada kenal lelah. Apabila ada tumbuhan yang ia jumpai, ia akan
memanjatnya. Tujuannya untuk bisa
melihat sekeliling dengan lebih leluasa.
Begitulah Putput dengan sabar merayap dari satu
tempat ke tempat lain. Memanjat tiap
kali ada tetumbuhan yang tinggi. Sepanjang
perjalanan mencari teman-temannya, Putput menangis sedih. Akibatnya sepanjang jejaknya, membekaskan
tanda basah berupa lendir dari air matanya.
Kebiasaan ini diikuti oleh anak keturunannya,
dari generasi ke generasi. Jadilah siput
senang memanjat apa saja. Dengan tetap
berharap akan bisa berjumpa dengan kawan-kawan satu keluarga yang dicintainya.
HIKMAH:
1. Dalam sebuah keluarga perlu
adanya pemimpin dan pembagian tugas yang jelas untuk memberikan rasa tanggung
jawab.
2. Masing-masing anggota keluarga
hendaklah menjalankan apa yang menjadi tugasnya masing-masing
3. Sifat rasa setia kawan akan
membuat kita merasa kehilangan atas ketidakhadiran kawan kita. Maka keinginan
mengetahui kabar dan keadaan kawan bagian dari sifat setia kawan.
4. Tanda kesetiaan terhadap kawan
adalah pengharapan atas keberuntungan dan keselamatan mereka.
FAKTA
ILMIAH:
Siput tergolong dalam kelas
Moluska Gastropoda, bermakna hewan bertubuh kunak dengan perut sebagai alat
gerak atau kakinya. Gastropoda terdiri
dari dua jenis, yaitu yang bercangkang dan tidak bercangkang. Cangkang Gastropoda berupa mangkuk
bergelung. Sedang Gastropoda tanpa
cangkang disebut siput telanjang, dalam bahasa jawa disebut resrespo.
Jumlah spesies Gastropoda menempati
urutan kedua setelah Insekta (serangga).
Habitat siput sangatlah luas dari
parit hingga gurun dari laut dangkal sampai laut dalam. Siput dapat hidup di air
tawar, payau bahkan air asin. Sebagian
besar spesies siput justru hidup di laut.
Kebanyakan siput hidup sebagai herbivora
(pemakan tumbuhan). Ada juga yang hidup
sebagai omnivora (pemakan segala) dan karnivora (pemakan daging/hewan lain).
Beberapa jenis Gastropoda adalah
bekicot (Achatina fulica), siput kebon
(Helix, sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea
sp.)
Taksonomi
Siput (Helix pomatia): Kingdom, Animalia; Filum: Moluska, Kelas:
Gastropoda, Subkelas: Orthogastropoda, Superordo: Heterobranchia, Ordo:
Pulmonata, Famili: Helicidae, Genus: Helix, Spesies: Helix pomatia
REFERENSI:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar