Senin, 19 November 2018

LEGENDA KE-28 Asal Usul Siput Memanjat Dahan (Filipina)


 LEGENDA KE-28
SIPUT YANG SETIA KAWAN

Diawal-awal penciptaannya, Allah SWT memenuhi bumi dengan tumbuhan, kemudian barulah binatang. Di antara binatang-binatang itu terdapat  tupai, capung, lebah besar dan siput.  Masing-masing bernama Tupi, Capi, Tawon dan Putput.
 Mereka memutuskan untuk membagi tugas sesuai dengan kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing.  Tupi adalah yang paling besar dipilih menjadi pimpinan di rumah itu.  Dalam sebuah musyawarah Tupi membagi tugas untuk seluruh anggota keluarga itu.
“Aku paling besar dan gerakkanku lincah biarlah aku bertugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Tugas ini cukup berat dan berisiko di luar sana. Tawon, kamu punya senjata yang ampuh dan dapat terbang.  Maka tugas kamu menjadi penjaga untuk keselamatan semua anggota keluarga.  Kamu adalah lebah besar.  Racun di sengatmu akan tetap tertancap kuat dan tidak akan lepas dari badanmu saat menyengat.  Ini sangat berbeda dengan lebah kecil dari bangsamu.  Kamu Capi, dengan penampilan rapihmu, kamu sangat cocok untuk menjadi bagian humas.  Mengatur kerjasama dengan keluarga lain, sekaligus menjadi sekretaris pribadiku.  Putput, gerakanmu lambat maka aku tugaskan kamu untuk menjadi juru masak keluarga kita.”
“Baiklah Tuan Tupi, kami akan menjalankan tugas kami dengan sebaik mungkin.”   Demikianlah satu keluarga empat satwa itu bersepakat.
Suatu hari Tupi pergi untuk mencari bahan makanan karena persediaan makanan sudah mau habis.  Tupi pergi ke hutan dan melihat ada ikan dalam tempat yang mirip sangkar burung. 
“Alhamdulillah ada ikan dalam sangkar itu aku akan membawanya.  Di hutan ini pasti tidak ada siapa yang memilikinya.”  Tupi segera memasuki sangkar.  Tapi betapa malangnya sangkar tiba-tiba tertutup dan seorang pemburu menghampirinya.
“Nampaknya aku harus puas dengan seekor tupai kali ini.  Tidak mengapa.  Aku akan mencapurkannya dengan dedak dan memberikannya pada itik peliharaanku. 
Akhir hidup Tupi sangat tragis berakhir di ujung pisau dan menjadi makanan itik.
Tiga anggota keluarga yang lain tidak tahu bagaimana nasib dari tupi.  Seua berdoa sekiranya Tupi akan kembali.  Tapi hingga rasa lapar mendera, Tupi tidak juga pulang.  Mereka kehilangan kesabaran.  Diutuslah Capi untuk mencari Tupi, pemimpin mereka.
Capi terbang kian kemari hingga tapi lelah tidak juga menemukan Tupi.  Akhirnya ia hinggap pada setangkai teratai di pinggir danau.
Seekor ikan memperhatikannya mencari akal untuk bisa menyantap Si Capi.
“Hai, Capi kasihan sekali kamu.  Kelihatannya lelah sekali?” tanya Kani si ikan licik.
“Ia aku mencari pemimpin kami Tuan Tupi.  Ia sedang mencari makan buat kami tapi tidak juga kembali.”  Capi bercerita sedih.
“Kamu kelihatan lucu dengan wajah sedih dan penampilanmu yang amburadul itu.  Ha…ha…ha…lihat dasi kamu terjuntai mau jatuh,” olok Kani dari permukaan air.
Merasa tidak enak ditertawakan seperti itu, Capi membenahi dasinya.  Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih.  Posisi hinggap yang tidak stabil membuat Capi terpelanting ke danau dan langsung disantap Si Kani.
Dua anggota keluarga mereka tinggal Putput dan Tawon.  Mereka makin kelaparan dengan habisnya bahan makanan mereka.  Yang paling menderita adalah Tawon karena ia harus mencari bahan makanan jauh dari tempat tinggal mereka.  Sementara dia tidak bisa meninggalkan tugas menjaga seisi rumah. 
Berbeda dengan Putput ia dapat dengan mudah mendapatkan makanan.  Dari rerumputan bahkan dari sisa bahan makanan yang dibuang oleh keluarga lainnya.
“Aku sudah tidak tahan lagi.  Kemana mereka pergi.  Semua tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali.  Sedangkan aku tidak boleh meninggalkan rumah ini. “ Tawon kesal dengan keadaan yang harus dihadapinya. 
“Sabar, Tawon.  Sebaiknya kita cari mereka berdua.”
“Tidak bisa siput, aku mendapat tugas menjaga rumah kita ini, bukan?”
Akhirnya Tawon sudah tidak tahan dengan apa yang dideritanya.  Diikatkannya tali  pada perutnya untuk mengurangi rasa lapar.  Malangnya ikatan itu terlalu kencang.  Ia mati lemas kelaparan, terjatuh dalam keadaan terlentang. 
“Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun, aku sendirian sekarang.  Kemana teman-temanku?  Aku tidak mau sendiri.  Aku akan cari mereka sampai ketemu.”
Siput berjalan perlahan di atas rerumputan sambil memanggil Tupi dan Capi. Merayap tiada kenal lelah.  Apabila ada tumbuhan yang ia jumpai, ia akan memanjatnya.  Tujuannya untuk bisa melihat sekeliling dengan lebih leluasa.
Begitulah Putput dengan sabar merayap dari satu tempat ke tempat lain.  Memanjat tiap kali ada tetumbuhan yang tinggi.  Sepanjang perjalanan mencari teman-temannya, Putput menangis sedih.  Akibatnya sepanjang jejaknya, membekaskan tanda basah berupa lendir dari air matanya.
Kebiasaan ini diikuti oleh anak keturunannya, dari generasi ke generasi.  Jadilah siput senang memanjat apa saja.  Dengan tetap berharap akan bisa berjumpa dengan kawan-kawan  satu keluarga yang dicintainya.

HIKMAH:
1.  Dalam sebuah keluarga perlu adanya pemimpin dan pembagian tugas yang jelas untuk memberikan rasa tanggung jawab.
2. Masing-masing anggota keluarga hendaklah menjalankan apa yang menjadi tugasnya masing-masing
3. Sifat rasa setia kawan akan membuat kita merasa kehilangan atas ketidakhadiran kawan kita. Maka keinginan mengetahui kabar dan keadaan kawan bagian dari sifat setia kawan.
4. Tanda kesetiaan terhadap kawan adalah pengharapan atas keberuntungan dan keselamatan mereka.

FAKTA ILMIAH:
Siput tergolong dalam kelas Moluska Gastropoda, bermakna hewan bertubuh kunak dengan perut sebagai alat gerak atau kakinya.  Gastropoda terdiri dari dua jenis, yaitu yang bercangkang dan tidak bercangkang.  Cangkang Gastropoda berupa mangkuk bergelung.  Sedang Gastropoda tanpa cangkang disebut siput telanjang, dalam bahasa jawa disebut resrespo.
            Jumlah spesies Gastropoda menempati urutan kedua setelah  Insekta (serangga).
            Habitat siput sangatlah luas dari parit hingga gurun dari laut dangkal sampai laut dalam. Siput dapat hidup di air tawar, payau bahkan air asin.  Sebagian besar spesies siput justru hidup di laut.
            Kebanyakan siput hidup sebagai herbivora (pemakan tumbuhan).  Ada juga yang hidup sebagai omnivora (pemakan segala) dan karnivora (pemakan daging/hewan lain).
            Beberapa jenis Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebon  (Helix, sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)
            Taksonomi Siput (Helix pomatia): Kingdom, Animalia; Filum: Moluska, Kelas: Gastropoda, Subkelas: Orthogastropoda, Superordo: Heterobranchia, Ordo: Pulmonata, Famili: Helicidae, Genus: Helix, Spesies: Helix pomatia

REFERENSI:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar