LEGENDA BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA
by: Khadijah Hanif
Berabad-abad yang lalu, Cina masih didominasi oleh daerah pedesaan. Mereka hidup tenang damai sebagai
petani. Musim semi hingga musim panas
tiba adalah saat mereka bertanam, sedangkan musim gugur adalah masa panen. Musim dingin adalah saat jeda mereka dari
bertani dan digunakan untuk istirahat.
Persediaan panen merega gunakan memenuhi kebutuhan di musim itu.
Yang dicemaskan oleh penduduk desa adalah hadirnya Nian, makhluk
jahat yang mengganggu mereka setiap musim dingin tiba.
“Inilah saat yang aku tunggu, musim salju. Aku akan memasuki desa dan mendapatkan
mangsaku.”
Nian selalu bersiap keluar dari persembunyiannya untuk menakuti
warga dengan lima tanduk tajam di kepalanya.
Cakar tajam di tangan, juga gigi yang siap mencabik siapapun yang
ditemuinya. Aumannya dan hentakan
kakinya lebih menyeramkan dari binatang buas manapun. Kaki besarnya siap menginjak rumah dan
meratakannya dengan tanah. Bila dijumpai
ada manusia maka ia akan menyantapnya bak ayam mengais cacing kesukaannya.
Warga pedesaan pun selalu berusaha lari menghindar atau bersembunyi
ke tempat yang di rasa aman.
“Ampun, Nian. Jangan kau
mangsa aku. Aku akan memberikan apa saja
yang kamu suka asal jangan aku dan keluargaku.”
Seseorang yang sudah berada di depan mulut nian tak bisa berkutik dan
akhirnya tewas. Mengerikan sekali.
Banyak diantara warga yang mengunci rumahnya. Berdoa memohon
perlindungan dari yang Maha Berkuasa.
Bila rumah itu tidak terinjak oleh Nian maka mereka selamat dari
Nian. Mereka berteriak,” Gong xi! Gong xi!
Selamat! Selamat!”
Nama Nian ini diberikan oleh warga sebagai penanda tahun baru. Nian artinya tahun. Kedatangan Nian yang muncul sekali dalam
setahun membuat orang-orang berniat melawannya.
Dengan berbagai cara dan strategi yang mereka musyawarahkan
bersama. Tentu untuk merumuskan langkah
penakhlukan terhadap Nian.
“Kita usir ramai-ramai Nian saat dia muncul.” Salah satu peserta musyawarah berjubah hitam
mengusulkan.
“Kalau hanya diusir, ia akan datang lagi. Sebaiknya kita bunuh saja dia. Dan kita aman selamanya,” Si Jubah Kuning
menyahut.
“Bagaimana akan aman bila kita membunuhnya, sedangkan Nian adalah
utusan Tuhan. Bisa-bisa Tuhan akan
memberikan hukuman yang lebih pedih untuk kita,” tukas Si Jubah Hijau.
Pertemuan tidak menghasilkan keputusan dan kata sepakat. Beruntunglah hadir seorang guru yang
bijaksana menenangkan suasana. Namanya
Guru Zhao.
“Tidak mungkin Nian itu utusan Tuhan. Tuhan Maha Melindungi, Maha
Kasih-Sayang. Dia tidak mungkin mengutus
makhluk untuk membunuh dan berbuat keji pada kita. Percayalah Nian adalah makhluk jahat yang
menjadi ujian bagi kita siapa yang mau berjuang menegakkan kebenaran, keadilan
dan menjaga nikmat hidup dari Tuhan.”
Guru Zhao menasihati warga dengan bijak.
Tampaknya, warga dapat memahami nasihat Guru Zhao dan muncullah keberanian
melawan Nian.
“Betul kata Guru Zhao, kita harus melawan Nian. Sudah banyak keluarga kita menjadi
korban. Juga rumah dan harta benda kita
dirusaknya,” ungkap warga bersahutan.
Musyawarah berlanjut, mengumpulkan informasi, data dan pendapat
dari seluruh warga. Terutama pengalaman
warga dalam mengusir Nian.
“Aku pernah membunyikan petasan saat Nian datang.
Dia langsung kabur dan menghindar dari tempat kami.” Seorang warga berjubah coklat mengungkap
pengalamannya.
“Kalau aku lain lagi, saat Nian datang, aku sedang memakai ikat
pinggang merah. Dia ketakutan sambil
menunjuk jari tangan berkuku panjangnya kea rah ikat pinggangku.” Si Jubah Biru
menimpali.
“Aku rasa Nian akan takut dengan semua benda berwarna merah. Beberapa tahun lalu aku memasang lampu dan aku
balut dengan kain merah. Ia tak mau
mendekati rumah kami,” tambah seorang pria bertubuh kekar.
Semua menganggukkan kepala, kegirangan seolah menemukan apa yang
menjadi kelemahan Nian.
“Nah, kalau pengalamanku, aku bersama kelompok tari Barongsaiku
menabuh gong dan tambur bertalu-talu.
Nian tidak mendekati tempat kami dan kamipun selamat,” jelas seorang
pemuda desa.
“Syukurlah, pertemuan kita kali ini banyak membawa berkah dan
faedah. Jadi bisa disimpulkan bahwa Nian
menakuti warna merah, tari Barongsai dan segala bunyiannya juga suara memekakkan
telinga dari petasan. Menjelang tahun
baru yang tinggal beberapa hari ini, kita harus menyiapkan perlawanan pada
Nian. Semua orang harus memasang lampion
bertutup kain merah di rumahnya. Lalu
kau anak muda, siapkan kelompok Barongsaimu lengkap dengan gong dan tambur yang
mengiringinya. Satu lagi siapkan petasan
sebanyak mungkin untuk memekakkah telinga Nian.”
Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan melawan Nian. Di sela-sela kesibukan panen pada musim
gugur, warga desa menyiapkan semua yang telah disepakati. Lampion-lampion yang mereka bungkus kain
hitam menghiasi rumah tiap rumah.
Menimbulkan keindahan yang tak biasanya.
Hari-hari yang mendebarkan tiba.
Mereka menunggu Nian keluar dari persembunyiannya. Benar saja, begitu
muncul sosok mengerikan itu, penduduk desa membunyikan petasa. Kelompok Barongsai menari dan membunyikan
petasan. Suara menjadi gegap gempita
malam itu.
Nian terkaget-kaget dengan segala hal tidak menyenangkan di
depannya. Hampir saja Nian pingsan
dibuatnya. Sebagian warga yang sudah siap
dengan jerat, tombak, pedang, panah dan senjata tajam lainnya tidak mau
kehilangan kesempatan terbaik menghabisi petualangan Nian.
“Aduh!!! Tolong jangan kalian binasakan aku. Aku akan datang dengan kawan-kawanku yang
lain bila kalian mencelakaiku.” Nian
mengerang kesakitan.
Tidak ada jalan lain kecuali Nian melarikan diri dari tempat
itu. Dia seakan trauma dengan derita
yang dialami malam itu.
Warga pun berteriak kegirangan merayakan kemenangan mereka,”Gong
xi! Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat! Selamat!”
Sejak saat itu, Barongsai, lampion merah, tabuhan gong dan tambur
serta bunyi petasan selalu memeriahkan tahun baru Cina.
HIKMAH:
1.
Tidak
ada utusan Tuhan yang berbuat kemungkaran dan penzaliman, maka hilangkan
prasangka baik pada mereka yang berbuat di luar keadilan
2.
Guru
adalah seseorang yang berilmu dan berakhlak sehingga dengan kebijaksanaannya ia
dapat berbuat banyak untuk sesama
3.
Musyawarah
meraih mufakat membawa keberkahan dan manfaat
4.
Persatuan
kesatuan menjadi kunci perbaikan dan perubahan signifikan untuk kepentingan
bersama
5.
Hindarkan
penzaliman karena ia akan kembali pada si pelaku kezaliman itu.
FAKTA:
Barongsai adalah tarian tradisional Cina yang mulai muncul pada
Dinasti Chin, abad ke-3 sebelum masehi. Dilestarikan hingga popular pada Dinasti Selatan-Utara
(Nan-Bei), pada tahun 420-589 Masehi. Kostum yang digunakan memiliki wajah singa
dengan warna beraneka ragam. Kostum ini
di dipakai bersama oleh dua orang untuk
mewakili empat kaki singa. Di Cina Barongsai memiliki dua versi. Versi utara dengan kostum singa bersurai
ikal, sementara versi selatan, kostum bersisik dan bertanduk sehingga lebih
menyerupai naga.
Tari Barongsai di Indonesia sempat marak bersama perkumpulan Tiong Hoa Koan hingga
meletusnya G30S-PKI. Sejak peristiwa itu
Cina tertekan secara budaya dan ideology tapi tidak secara ekonomi. Sejak reformasi, budaya ini dimunculkan
kembali. Begitu juga dengan tradisi
perayaan tahun baru Cina yang kita kenal
dengan IMLEK.
IMLEK sebagai peringatan tahun baru Cina menjadi hari terpenting di
Cina. Mereka memperingati pergantian
selama setengah bulan. Terhitung dari
tanggal satu hingga pertengahan bulan, saat bulan purnama. Tradisi peringatannya beraneka ragam dan telah bergeser dari tradisi awal Cina. Pesta kembang api lebih mendominasi daripada
Barongsai dan peledakan petasan . Akan
tetapi pemasangan lampion merah justru lebih digunakan untuk menarik
keberuntungan dan dipajang sepanjang tahun oleh sebagian masyarakat Tionghoa.
REFERENSI:
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek/21/2/2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar