Rabu, 20 Februari 2019

LEGENDA KE-31 BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA

LEGENDA BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA
by: Khadijah Hanif

Berabad-abad yang lalu, Cina masih didominasi oleh daerah pedesaan.  Mereka hidup tenang damai sebagai petani.  Musim semi hingga musim panas tiba adalah saat mereka bertanam, sedangkan musim gugur adalah masa panen.  Musim dingin adalah saat jeda mereka dari bertani dan digunakan untuk istirahat.  Persediaan panen merega gunakan memenuhi kebutuhan di musim itu.

Yang dicemaskan oleh penduduk desa adalah hadirnya Nian, makhluk jahat yang mengganggu mereka setiap musim dingin tiba.

“Inilah saat yang aku tunggu, musim salju.  Aku akan memasuki desa dan mendapatkan mangsaku.” 

Nian selalu bersiap keluar dari persembunyiannya untuk menakuti warga dengan lima tanduk tajam di kepalanya.  Cakar tajam di tangan, juga gigi yang siap mencabik siapapun yang ditemuinya.  Aumannya dan hentakan kakinya lebih menyeramkan dari binatang buas manapun.  Kaki besarnya siap menginjak rumah dan meratakannya dengan tanah.  Bila dijumpai ada manusia maka ia akan menyantapnya bak ayam mengais cacing kesukaannya.

Warga pedesaan pun selalu berusaha lari menghindar atau bersembunyi ke tempat yang di rasa aman.
“Ampun, Nian.  Jangan kau mangsa aku.  Aku akan memberikan apa saja yang kamu suka asal jangan aku dan keluargaku.”  Seseorang yang sudah berada di depan mulut nian tak bisa berkutik dan akhirnya tewas.  Mengerikan sekali.

Banyak diantara warga yang mengunci rumahnya. Berdoa memohon perlindungan dari yang Maha Berkuasa.   Bila rumah itu tidak terinjak oleh Nian maka mereka selamat dari Nian.  Mereka berteriak,” Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat!”

Nama Nian ini diberikan oleh warga sebagai penanda tahun baru.  Nian artinya tahun.  Kedatangan Nian yang muncul sekali dalam setahun membuat orang-orang berniat melawannya.  Dengan berbagai cara dan strategi yang mereka musyawarahkan bersama.  Tentu untuk merumuskan langkah penakhlukan terhadap Nian.

“Kita usir ramai-ramai Nian saat dia muncul.”  Salah satu peserta musyawarah berjubah hitam mengusulkan.

“Kalau hanya diusir, ia akan datang lagi.  Sebaiknya kita bunuh saja dia.  Dan kita aman selamanya,” Si Jubah Kuning menyahut.

“Bagaimana akan aman bila kita membunuhnya, sedangkan Nian adalah utusan Tuhan.  Bisa-bisa Tuhan akan memberikan hukuman yang lebih pedih untuk kita,” tukas Si Jubah Hijau.

Pertemuan tidak menghasilkan keputusan dan kata sepakat.  Beruntunglah hadir seorang guru yang bijaksana menenangkan suasana.  Namanya Guru Zhao.

“Tidak mungkin Nian itu utusan Tuhan.  Tuhan Maha Melindungi, Maha Kasih-Sayang.  Dia tidak mungkin mengutus makhluk untuk membunuh dan berbuat keji pada kita.  Percayalah Nian adalah makhluk jahat yang menjadi ujian bagi kita siapa yang mau berjuang menegakkan kebenaran, keadilan dan menjaga nikmat hidup dari Tuhan.”  Guru Zhao menasihati warga dengan bijak.  Tampaknya, warga dapat memahami nasihat Guru Zhao dan muncullah keberanian melawan Nian.

“Betul kata Guru Zhao, kita harus melawan Nian.  Sudah banyak keluarga kita menjadi korban.  Juga rumah dan harta benda kita dirusaknya,” ungkap warga bersahutan.

Musyawarah berlanjut, mengumpulkan informasi, data dan pendapat dari seluruh warga.  Terutama pengalaman warga dalam mengusir Nian.

“Aku pernah membunyikan petasan saat Nian  datang.  Dia langsung kabur dan menghindar dari tempat kami.”  Seorang warga berjubah coklat mengungkap pengalamannya.

“Kalau aku lain lagi, saat Nian datang, aku sedang memakai ikat pinggang merah.  Dia ketakutan sambil menunjuk jari tangan berkuku panjangnya kea rah ikat pinggangku.” Si Jubah Biru menimpali.

“Aku rasa Nian akan takut dengan semua benda berwarna merah.  Beberapa tahun lalu aku memasang lampu dan aku balut dengan kain merah.  Ia tak mau mendekati rumah kami,” tambah seorang pria bertubuh kekar.

Semua menganggukkan kepala, kegirangan seolah menemukan apa yang menjadi kelemahan Nian.

“Nah, kalau pengalamanku, aku bersama kelompok tari Barongsaiku menabuh gong dan tambur bertalu-talu.  Nian tidak mendekati tempat kami dan kamipun selamat,” jelas seorang pemuda desa.

“Syukurlah, pertemuan kita kali ini banyak membawa berkah dan faedah.  Jadi bisa disimpulkan bahwa Nian menakuti warna merah, tari Barongsai dan segala bunyiannya juga suara memekakkan telinga dari petasan.  Menjelang tahun baru yang tinggal beberapa hari ini, kita harus menyiapkan perlawanan pada Nian.  Semua orang harus memasang lampion bertutup kain merah di rumahnya.  Lalu kau anak muda, siapkan kelompok Barongsaimu lengkap dengan gong dan tambur yang mengiringinya.  Satu lagi siapkan petasan sebanyak mungkin untuk memekakkah telinga Nian.”

Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan melawan Nian.  Di sela-sela kesibukan panen pada musim gugur, warga desa menyiapkan semua yang telah disepakati.  Lampion-lampion yang mereka bungkus kain hitam menghiasi rumah tiap rumah.  Menimbulkan keindahan yang tak biasanya.

Hari-hari yang mendebarkan tiba.  Mereka menunggu Nian keluar dari persembunyiannya. Benar saja, begitu muncul sosok mengerikan itu, penduduk desa membunyikan petasa.  Kelompok Barongsai menari dan membunyikan petasan.  Suara menjadi gegap gempita malam itu. 

Nian terkaget-kaget dengan segala hal tidak menyenangkan di depannya.  Hampir saja Nian pingsan dibuatnya.  Sebagian warga yang sudah siap dengan jerat, tombak, pedang, panah dan senjata tajam lainnya tidak mau kehilangan kesempatan terbaik menghabisi petualangan Nian.

“Aduh!!! Tolong jangan kalian binasakan aku.  Aku akan datang dengan kawan-kawanku yang lain bila kalian mencelakaiku.”  Nian mengerang kesakitan.

Tidak ada jalan lain kecuali Nian melarikan diri dari tempat itu.  Dia seakan trauma dengan derita yang dialami malam itu. 
Warga pun berteriak kegirangan merayakan kemenangan mereka,”Gong xi! Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat! Selamat!”

Sejak saat itu, Barongsai, lampion merah, tabuhan gong dan tambur serta bunyi petasan selalu memeriahkan tahun baru Cina. 

HIKMAH:
1.      Tidak ada utusan Tuhan yang berbuat kemungkaran dan penzaliman, maka hilangkan prasangka baik pada mereka yang berbuat di luar keadilan
2.      Guru adalah seseorang yang berilmu dan berakhlak sehingga dengan kebijaksanaannya ia dapat berbuat banyak untuk sesama
3.      Musyawarah meraih mufakat membawa keberkahan dan manfaat
4.      Persatuan kesatuan menjadi kunci perbaikan dan perubahan signifikan untuk kepentingan bersama
5.      Hindarkan penzaliman karena ia akan kembali pada si pelaku kezaliman itu.

FAKTA:
Barongsai adalah tarian tradisional Cina yang mulai muncul pada Dinasti Chin, abad ke-3 sebelum masehi.  Dilestarikan hingga popular pada Dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei), pada tahun 420-589 Masehi.  Kostum yang digunakan memiliki wajah singa dengan warna beraneka ragam.  Kostum ini di dipakai bersama  oleh dua orang untuk mewakili empat kaki singa. Di Cina Barongsai memiliki dua versi.  Versi utara dengan kostum singa bersurai ikal, sementara versi selatan, kostum bersisik dan bertanduk sehingga lebih menyerupai naga.

Tari Barongsai di Indonesia sempat marak bersama perkumpulan Tiong Hoa Koan hingga meletusnya G30S-PKI.  Sejak peristiwa itu Cina tertekan secara budaya dan ideology tapi tidak secara ekonomi.  Sejak reformasi, budaya ini dimunculkan kembali.  Begitu juga dengan tradisi perayaan tahun baru  Cina yang kita kenal dengan IMLEK.

IMLEK sebagai peringatan tahun baru Cina menjadi hari terpenting di Cina.  Mereka memperingati pergantian selama setengah bulan.  Terhitung dari tanggal satu hingga pertengahan bulan, saat bulan purnama.  Tradisi peringatannya beraneka ragam dan  telah bergeser dari tradisi awal Cina.   Pesta kembang api lebih mendominasi daripada Barongsai dan peledakan petasan .  Akan tetapi pemasangan lampion merah justru lebih digunakan untuk menarik keberuntungan dan dipajang sepanjang tahun oleh sebagian masyarakat Tionghoa.
  
REFERENSI:
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek/21/2/2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar