Kamis, 25 April 2019

LEGENDA KE-40 ASAL USUL PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG-MALAYSIA


LEGENDA KE-40
ASAL USUL PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG-MALAYSIA

KISAH:
Awalnya, Lalang si elang jantan dan Yama si ayam hutan jantan bersahabat karib.  Mereka hidup rukun dan saling menolong bantu.  Bahkan saat mencari makan, mereka lakukan bersama-sama di hutan itu.  O’ya, sebelum mereka bermusuhan, makanan mereka juga sama, yaitu biji-bijian.
“Yama, aku terbang di atas pohon di hutan ini, ya.  Kamu terbanglah dari dahan ke dahan.”  Lalang mengajak Yama mencari mangsa bersama
“Siap, Lalang.  Nanti kalau aku melihat mangsa terlebih dulu saya akan panggil kamu.”  Demikian keakraban it uterus mereka jaga.
Sore itu, Yama dan Lalang sedang asyik menikmati biji-bijian bersama.  Saking asyiknya mereka tidak menyadari ada yang sedang mengintai mereka.  Gala, sang srigala memerhatikan keduanya dari balik pohon besar.

            “Aha….ada santapan yang super lezat rupanya.  Aku sudah sangat lapar,” gumam Gala.  Maka srigala segera menyerbu ke alah Yama.  Srigala berhasil melukai ayam hutan itu.
            Lalang pun keheranan dengan kesedihan sahabatnya itu, “Yama coba ceritakan padaku kenapa wajahmu begitu murung? Apakah kamu sakit?”
3. Dari jenis makanannya, ayam hutan termasuk dalam omnivore (pemakan segala), rumput, bijijian, cacing, dan belalang. 
            “Aduh, aku terluka.  Tolong…!!!!  Ampun, Gala!  Lalang, tolonglah aku.  Seekor srigala menyerangku!”  Yama berlari dan berteriak meminta tolong.
Lalang terkejut dengan teriakan Yama.  Burung elang yang sedang menyantap biji jagung segera meninggalkan makanannya.  Dengan cakar dan paruhnya yang tajam, Lalang menyerbu srigala.
“Jangan kau ganggu Yama.  Ia teman karibku.  Rasalan paruh dan cakarku ini!”  Lalang mengamuk dan menyerang Gala.
“Ampun, Lalang.  Aku mengaku kalah.  Cakar dan paruhmu tajam sekali!”  Gala berlari meninggalkan dua sahabat itu.
Yama segera keluar dari persembunyiannya di dalam lubang pohon besar.  “Terimakasih Lalang, engkau memang sahabat sejatiku.”  Akan tetapi Yama tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.  Dalam hatinya ia mulai iri pada Lalang.  Andai saja dirinya bisa terbang seperti Lalang, tentu ia dengan mudah akan menghindar dari marabahaya
“Tidak Lalang, aku sehatsehat saja.  Hanya saja aku heran.  Bukankah kita sama-sama burung.  Tapi kenapa aku tidak bisa terbang tinggi?”
“Oh, itu yang membuatmu bersedih?  Sebenarnya aku juga tidak bisa terbang.  Paling hanya setinggi dahan itu, seperti juga kamu.”
“Lalu bagaimana kamu bisa terbang tinggi?”  tanya Yama penasaran
“Aku menjahit sayapku dengan jarum emas ini.  Sayapku pun menjadi lebih rapat dan aku pun bisa terbang.”
“Kalau begitu, bolehkah aku meminjam jarum emasmu?”
“Tentu saja boleh.  Tapi berjanjilah, kamu merahasiakan hal ini.  Kamu juga tidak boleh meminjamkan jarum emas ini pada bangsa burung yang lain.  Dan juga jaga jarum ini  jangan sampai hilang, ya!” pesan Lalang
“Terimakasih, Lalang.  Kamu memang sahabat terbaikku.  Tenanglah, aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa.”
Jarum emas itu diberikan kepada Yama.  Yama mulai menjahit kedua sayapnya.  Akan tetapi belum juga selesai menjahit, Yama sudah merasa kegirangan dan tidak sabar untuk terbang tinggi. 
“Hai, lihatlah aku bisa terbang tinggi.  Kukuruyuuuuuk, aku bisa terbang, aku bisa terbang.”  Yama kegirangan
Di bawah sana, ada seekor ayam betina terheran-heran dengan kemampuan Yama.  Ayam betinapun menanyakan bagaimana Yama bisa terbang.  Saking girangnya, Yama lupa akan janjinya pada Lalang. 
“Aku bisa terbang karena jarum emas yang aku pakai ini.”
“Boleh aku meminjamnya?” pinta ayam betina.
“Tadi aku letakkan di dekat batu itu.  Cari saja!”
Ayam betina mencari tapi tidak dapat menemukannya.  Tentu saja ada rasa bersalah dalam diri Yama. Yama ikut mencari jarum itu hingga pagi hari.  Dicakar-cakarnya tanah tidak juga dapat ditemukan.
“Aduh, pagipagi sudah mengais mencari makan?  Rajin seali Yama.  Nggak nungguin kau encari makan bareng, nih?” tanya Lalang akrab.
Yama mulai ketakutan.  Ia sangat yakin, Lalang akan marah besar.  Tapia pa boleh buat, ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Maafkan aku, jarum emas kamu hilang.”  Yama tertunduk lesu.
“Kau sudah berkhianat Yama.  Mulai saat ini aku tidak akan bersahabat lagi dengan kamu.  Kamu tahu jarum emas itu barang berharga satusatunya yang aku miliki.  Mulai saat ini, jika kamu tidak mengembalikan jarum emasku, kalian dan anak keturunan kalian akan menjadi santapanku.”
Sejak saat itu mereka saling bermusuhan.  Elang akan menyambar keluarga ayam tanpa ampun.  Sementara
Ayam dan keluarganya akan mengais-ngais tanah untuk mencari jarum emas yang hilang.  Mereka berharap suatu saat jarum emas itu akan dapat ditemukan dan permusuhan akan berakhir.

HIKMAH:
Jagalah persahabatan dengan menghindari saling iri dengki.  Biarkan masingmasing enikmati arunia yang Allah bagikan pada tiap makhluknya.  Karena kadang iri akan membawa pada keinginan endapatkan sesuatu yang dimiliki sahabat kita
Hindarilah perbuatan mengingkari janji karena akan menghilangkan kepercayaan bahkan menimbulkan permusuhan.
Janganlah menjadi pendendam, tapi jadilah pemaaf.  Memberikan maaf itu sangat mulia dan menghilangkan permusuhan.

FAKTA ILMIAH:

AYAM HUTAN
1. Berdasarkan urutan taksonomi, ayam hutan memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Galliformes, Famili: Phasianidae, Genus: Gallus.  Spesies ayam hutan ada bermacammacam antara lain:  Gallus gallus (ayam hutan merah), Gallus lafayetii (ayam hutan Srilanka), Gallus sonneratii (ayam hutan kelabu), Gallus varius(ayam hutan hijau),  sehingga secara umum ayam hutan dinamai Gallus sp.
2. Ayam hutan termasuk jenis ayam liar yang menjadi nenek moyang ayam kampung.  Sehingga dari morfologinya tidak memiliki perbedaan.  Perbedaan justru antara ayam jantan dan betina.  Ayam jantan cenderung memiliki bulu yang lebih bervariasi dan mengilap. 

ELANG

1. Nah, tokoh kedua kali ini adalah elang.  Elang menyebar populasinya di seluruh Indonesia.  Karena penembakan dan perburuan, populasinya makin berkurang.
2. Klasifikasi ilmiah dari elang dapat diuraikan sebagai berikut, tergolong dalam Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Accipitriformes, Famili: Accipitridae, Spesies: Accipitridae sp.
Elang dalam bahasa Inggris disebut Hawk dan untuk jenis yang lebih besar disebut Eagle.  Elang tergolong dalam binatang berdarah panas, bersayap dan tubuh tertutup penuh oleh bulu pelepah.  Cara berkembang biak sama dengan jenis aves yang lain, yaitu bertelor (ovipar).
3. Elang adalah hewan predator (pemangsa) hewan kecil seperti tikus, tupai, adal, ikan dan ayam.  Elang yang berhabitat di sekitar air memiliki mangsa utama binatang berkelas pisces. Bentuk paruhnya melengkung dan kuat berfungsi untuk mencabik daging mangsa.  Demikian juga dengan cakar kakinya tajam dan kuat untuk mencengkeram tangkapannya.
4. Keistimewaan organ elang juga terletak pada mata dan system pernapasannya.  Mata elang dapat memfokuskan pengelihatannya dalam jarak jauh sehingga dapat mendeteksi adanya mangsa.  Sementara itu, organ napasnya mampu menampung volume ogsigen dalam jumlah banyak.  Dengan kelebihannya ini elang dapat terbang pada ketinggian dalam waktu lama.
5. Jenis-jenis elang di Indonesia, antara lain: Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Jawa Elang-ular Bido, Elang-ular Jari Pendek Elang Buteo, Elang Gunung, Garuda, Elang Sulawesi, Elang Wallace, Elang Flores, Elang-laut Perut Putih, Elang Bondol, Elang-ikan Kepala Abu, Elang-ikan Kecil, Elang Perut Karat, Elang Tikus, Elang Paria, Rajawali Kuskus Rajawali Tutul, dan Elang emas

REFERENSI:

Rabu, 24 April 2019

LEGENDA KE-17 (PENOLAKAN EAR-ASAL NYAMUK BERSUARA MENDENGUNGVERSI AFRIKA BARAT)

PENOLAKAN  EAR
(Legenda Afrika Barat)

“Aduh aku bingung dengan pemuda-pemuda yang datang melamarku.  Si Safe, tampan, perhatian dan romantis.  Si  Brown, manis, bertanggung jawab dan berdompet tebal. Si Warm, terkesan agak cuek, tapi aku suka.”

Ibu Ear ikut kebingungan dekan sikap anaknya yang terlalu pilih-pilih.  Menurut ibu, Ear tidak member ketegasan, malah terkesan member harapan pada semua orang.

“Ear, kamu nggak boleh memberi harapan pada setiap yang datang padamu.  Berilah ketegasan pada mereka.  Pada siapa hatimu bertambat dan ambil keputusan.”  Ibu menasihati Ear baik-baik.

Ear yang keras kepala menyalahartikan nasihat Sang Ibu.  Dia bersikap kurang baik dan agak kasar,”Ibu, yang mau nikah itu aku.  Aku nggak bisa buru-buru.  Kalau Ibu nggak sabar, Ibu aja yang menikah dengan salah satu dari mereka.”

Ibu kaget dan tidak menyangka Ear akan bicara sekasar itu.  Ya, memang ibu sudah lama menjanda dan ingin memiliki pendamping hidup.  Tapi sikap dan cara Ear cukup menyakitkan.

“Ear, lancang sekali kamu.  Cepat ambil keputusan, sebelum kesempatan itu hilang dan berganti dengan lamaran seekor nyamuk!"

Suara menggelegar bersamaan dengan sumpah serapah Sang Ibu. Rupanya perkataan Sang Ibu terdengar oleh nyamuk dan seakan terinspirasi untuk mencoba melamar Ear.

Di malam sunyi saat semua terlelap, seekor nyamuk mendekatinya.

“Ear, jadilah istriku.  Aku akan meminangmu.  Terimalah!”  Pinta Qitho, Sang Nyamuk penuh percaya diri.

“Apa katamu? Lancang sekali berani menjadikan aku istri.  Kamu jelek  dan  lemah.  Kau akan mati tidak sampai sepekan”

“Aku kuat Ear.  Percayalah, akan aku buktikan.”

Ear merasa sakit hati dan merasa diremehkan.  Kemarahannya sampai ubun-ubun, hingga Ear terjatuh tak sadarkan diri.  Igauannya antara sadar dan tidak menceracau tidak karuan.

Di sela igauannya, Ear memanggil ibu, meminta maaf atas kelancangannya.  “Bu…Bu……maafin Ear.  Cabutlah kutukan Ibu, hatiku sakit.”

Saat sadar, ia bertekat untuk melukai nyamuk dengan apa saja yang bisa ia pukulkan. Nyamuk terus berkelit dan terbang menghindar .  Sampai akhirnya pukulan itu mengenainya dan membuatnya terluka.  Sayap Qitho tak bisa mengepak sempurna

Nyamuk itu pergi membawa dendam  dan luka.  Dia bertemu dengan teman-temannya dan menceritakan kepedihan hatinya.

“Aku tidak terima penghinaan ini.  Sebagai bukti kesetiakawanan kita, saya mohon kekompakannya.”

“Apa yang harus kami lakukan, Qitho?”  Tanya sahabat karib Qitho

“Setiap kamu  melihat telinga manusia, kita ganggu dengan suara dengungan di sebelahnya.  Biar mereka marah dan  memukul tanpa arah.  Aku akan puat melampiaskan dendamkt.  Mereka akan merasa terganggu dan terus jengkel.”

Demikianlah dendam Qitho yang diikuti oleh teman-temannya sesama bangsa nyamuk. Mereka selalu mengganggu dengan dengunggannya, berputar-putar di sekitar telinga kita.

Pesan Moral
1. Jangan melawan dan menyakiti  orang tua, karena ucapannya menjadi doa
2. Bila bimbang terhadap pilihan , maka beristikharah  untuk mendapat memilih yang terbaik
3. Ukurlah kemampuan diri, jangan terlalu memaksakan kehendak, bisa jadi musuh kita bertambah banyak

Fakta ilmiah tentang Nyamuk:
Nyamuk masuk dalam klas insecta ordo Diptera. Memiliki  sepasang sayap bersisik, tiga pasang kaki panjang dan tubuhnya langsing.  Terdapat 2700 spesies nyamuk.

Cara berkembangbiaknya dengan bertelur dimana telur-telur itu menyatu bersama darah. Makanan nyamuk sebenarnya adalah cairan nectar bunga.

Tempat bertelur nyamuk biasanya di daun dekat kolam atau kolam kering.  Sensor kelembaban dan suhu ada dibagian bawah perutnya atau reseptor.  Saat bertelur, telur yang dikeluarkan disusun seumpama rakit, berjumlah sekitar 300 butir yang masing-masing panjangnya. kurang dari 1 mm.  

Perkembangan nyamuk mengalami metamorfosa hingga dewasanya yaitu fase telur, jentik-jentik atau larfa , pupa dan nyamuk dewasa.

Referensi:

#LEGENDA KE-39 MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?


#LEGENDA KE-39
MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?

Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, Thailand bukanlah negara dengan populasi gajah di dalamnya.  Sehingga sang raja mengutus abdi kerajaan yang dipercayanya untuk mencari sepasang gajah.  Tujuannya, untuk membuktikan pada rakyatnya bahwa binatang yang disebut gajah itu emang ada.
            “Pu nggawa, aku utus kalian untuk membeli gajah dari negeri lain.  Cukup satu pasang saja, jantan dan betina. Bawalah binatang itu dan kita pelihara di negeri kita.”
            “Baiklah Maharaja, segala titah akan kami laksanakan.”  Para punggawa itu mematuhi perintah raja.
            Maka berangkatlah utusan raja dengan kapal layar.  Sauh dilepas, samudra diarungi demi mendapatkan binatang bernama gajah.
            Penantian berharihari lamanya.  Gajah yang ditunggu itupun tiba di istana. Sepasang gajah itu begitu gemuk dan sehat sesuai pengorbanan yang dikeluarkan kerajaan.
            “Aku ingin mempertontonkan gajah-gajah ini di depan khalayak ramai, tapi sebelum rakyat tahu, para pembesar dan pegawai istana harus tahu terlebih dahulu.  Baru kemudian rakyat.  Aku tidak ingin para pembesar istana kalah dalam hal pengetahuan dengan rakyat jelata.”  Titah raja pun dilaksanakan malam itu juga.  Seluruh pembesar dan pegawai kerajaan harus menyaksikan gajah pada malam itu juga.
            “Berhubung keadaan gelap di malam ini, bawalah obor supaya semua yang hadir dapat menyaksikan seperti apa gajah itu.”
Atas perintah raja, para pawing gajah merasa keberatan.  “Maaf, Baginda Maharaja.  Gajah-gajah itu akan ketakutan bila melihat api.  Apalagi bila obor itu satusatunya sumber cahaya.  Mereka akan merasa terganggu dan silau.  Bisa-bisa mereka akan ngamuk dan berusaha keluar dari sangkar besi.”
Maharaja bisa memahami keberatan dari para pawing. Maka diputuskan tidak ada satu pun yang diperbolehkan membawa obor.
            Malam itu juga, para pembesar kerajaan dari segala penjuru pun datang. Timur, barat, selatan dan utara.  Mereka datang tanpa adanya penerangan sedikitpun.  Untuk mengetahui seperti apa wujud dari seekor gajah, mereka diberi kesempatan meraba gajah-gajah dalam sangkar itu.
            Pembesar kerajaan dari utara, Aroon, memegang kakinya.  Dalam benaknya gajah adalah binatang yang sangat besar karena tangannya tak mampu memeluk lingkar kakinya. “Benar kata orang-orang.  Gajah memang sangat besar.  Aku pun tak sanggup memeluk kakinya.”
            Lain halnya dengan Chaow, pembesar kerajaan dari wilayah selatan.  Ia menganggap bahwa gajah hanyalah sebentuk binatang kecil yang keras.  Saat itu ia hanya memegang gadingnya. ”Ah….ternyata orang-orang yang menceritakan bentuk gajah itu telah berbohong.  Gajah hanyalah binatang kecil yang keras.”
            Junta, pembesar dari barat menyentuh bagian perut.  Selama dia meraba tidak ada bagian lain yang teraba kecuali perut.  Ia pun berkesimpulan bahwa gajah sangatlah besar luas, tanpa ujung.
            Yang terakhir, Klahan, pembesar kerajaan dari wilayah timur.  Ia memegang ekor gajah, “Ternyata, gajah hanyalah seekor binatang kecil seperti ular.  Mereka telah berbohong bahwa gajah itu bertubuh besar.”
            Setelah semua meraba gajah. Para pembesar itu dianggap memiliki cukup pengetahuan untuk disampaikan pada rakyat.  Mereka diperintahkan untuk kembali pada rakyat dan menceritakan tentang gajah yang mereka raba.
            “Wahai para pembesar kerajaan, kembalilah pada rakyat kalian dan sampaikan dengan sebenar-benarnya gambaran wujud gajah yang sudah kalian ketahui malam ini.”  Demikian perintah raja agar para pembesar pulang kembali ke wilayahnya masing-masing.
            Begitu sampai ke wilayahnya, para pembesar itu bercerita pada rakyatnya sesuai pendapatnya masing-masing.  Mulailah permasalahan besar terjadi.  Rakyat yang saling bertemu dan menceritakan bentuk gajah.  Masing-masing meyakini bahwa penguasa daerah merekalah yang paling benar dalam menggambarkan tentang gajah. 
            “Pemimpin kalian telah berbohong, gajah itu hanyalah binatang kecil yang keras,  Pemimpin kami yang benar” ungkap rakyat dari sebelah timur.
            “Kami tetap yakin bahwa gajah itu sangat besar.  Pemimpin, Tuan Junta, tidak pernah berbohong,” kata rakyat di wilayah barat.
Keributan makin menjadi.  Maharaja kecewa dengan para pembesar yang enjadi olokolok rakyatnya bahkan nyaris menimbulkan perpecahan.  Raja yang bijaksana itu akhirnya memutuskan untuk mengundang rakyat menyaksikan langsung dua gajah itu di pendopo. 
“Rakyatku, kali ini kalian akan menyaksikan sendiri gajah itu.  Saya berharap bahwa kalian akan berhenti bertengkar setelah menyaksikan sendiri.  Langsung dari tempat ini.  Kalau ada penjelasan yang salah dari pembesar kerajaan, saya mohon maf karena kesalahan bukan pada mereka.  Saat mereka menyaksikan gajah-gajah ini, keadaan gelap gulita dan tidak ada penerangan sedikit pun.  Mereka tidak bermaksud membohongi kalian tapi mereka memegang gajah ini tanpa melihatnya.  Sekali lagi mulai saat ini, setelah kalian melihat sendiri, bersatulah kalian dan jangan ada keributan lagi.”
Rakyat merasa puas dengan penjelasan raja.  Mereka pulang dengan tertib dan damai.  Berat kehadiran gajah itu, rakyat Thailand embali rukun.  Maka sejak saat itu Thailand diberi julukan Negeri Gajah Putih.  Tujuannya untuk mengenang jasa para gajah yang enyatukan kembali rakyat seantero negeri.

HIKMAH:
1. Dalam mendapatkan pengetahuan, kita harus menggunakan seluruh indera kita sebagai alat menggali pengalaman dari lingkungan di luar diri kita.
2. Janganlah keinginan meninggikan suatu golongan dan demi gengsi membuat kita melakukan hal di luar rasionalitas, karena dapat berakibat fatal yang justru sangat jauh dari pengharapan
3. Tidak ada perbedaan antara pembesar dan rakyat jelata, maka perlakukan semua dengan adil
4. Pemimpin memegang peran yang paling strategis untuk menentukan nasib mereka yang ada di bawah kepemimpinannya, maka bijaksanalah.

FAKTA ILMIAH

Thailand terletak di Asia Tenggara.  Berbatasan dengan Laos dan Kamboja di sebelah timur, Malaysia dan teluk Siam di selatan, Myanmar dan Laut Andaman di sebelah barat.   
Ibukotanya adalah Bangkok, dengan bahasa resmi Thai.  Sistem pemerintahannya berbentuk Monarki Konstitusional.  Semboyan negara  Chat, Satsana, Phra Maha Kasat(Thai: "Bangsa,  Agama, Raja"), lagu kebangsaannya Phleng Chat Thai  dan lagu kerajaan Sansoen Phra Barami.
Jumlah penduduk hingga 2015 sekitar 65 juta jiwa.  Mata uang yang mereka gunakan Bath.  Dalam mengemudi, mereka menggunakan lajur kiri seperti di negara kita.
Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.  Sekitar enam puluh persen.  Tidak mengherankan jika tulang punggung perekonomian negara berasal dari eksport pangan.  Saat ini Thailand adalah eksportir terbesar dunia untuk komoditas gula
            O’ya, untuk jenis gajah putih sebagai seekor binatang sebenarnya merupakan penyimpangan genetika gajah.  Gajah putih adalah nama lain dari gajah albino.  Penyimpangan ini jarang terjadi akan tetapai ada.   Sebagai gajah yang tidak normal, gajah putih emiliki fisik yang lemah.  Tidak memiliki cukup tenaga untuk dipekerjakan.  Perawatannya pun mahal.  Warna kulit ereka tidak sepenuhnya putih sebagaimana yang sering diilustrasikan.  Akan tetapi agak coklat kelabu merah dan berubah menjadi merah muda saat basah.
           
REFERENSI

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Thailand/17/3/2019

#LEGENDA KE-38 MENGAPA HARIMAU BERCORAK BELANG?


#LEGENDA KE-38
MENGAPA HARIMAU BERCORAK BELANG?


Di sebuah gua yang tak begitu besar, pintunya hanya cukup untuk dimasuki orang dewasa.  Agak sulit untuk memasukinya.  Gua itu ada di tengah hutan lebat yang letaknya jauh dari keramaian.  Bebatuan besar bisa dijadikan pijakan untuk meraihnya.  Di bagian dalam ada sebidang datar yang bisa digunakan untuk melakukan tafakur dan perenungan.    
Suatu pagi yang cerah, matahari menembus di sela pepohonan.  Udara segar menghembus semilir bersama tarian dedaunan. Seorang pemuda sakti yang sedang merenung di bagian luar  gua, Huyen namanya.  Ada beberapa kelebihan yang dimiliki Huyen, salah satunya, dapat berbicara dengan binatang.
Tiba-tiba, Huyen dikejutkan oleh kedatangan seekor kelinci.  Kelinci itu berlari kencang dengan rasa ketakutan yang amat sangat.
“Tolong Huyen, aku dikejar Si Raja Hutan, Con Ho.  Dia mau memangsaku.”  Napas Con Tho terengah-engah, naik turun.  Tubuhnya gemetaran.
Huyen yang berhati mulia itu iba mendengar cerita Con Tho, si kelinci yang malang. “Tenanglah, Con Tho.  Aku akan menolongmu.  Bersembunyilah di dalam gua, tempat perenunganku.  Aku akan menghadapi Con Ho.”
“Terimakasih Huyen.  Kau sungguh berhati emas.”  Con Tho merasa nyaman dalam usapan lembut tangan Huyen.
Con Ho yang merasa kehilangan buruannya terus mencari Con Tho. “Grrrrhhhh, kemana kelinci ecil itu.  Dia mau mempermainkan aku rupanya.  Con Tho kau tak akan bisa lepas dari kejaranku.”  Con Ho mengaum geram.  Buruannya kali ini ternyata tak semudah yang ia harapkan.  Sementara perutnya sudah merasa sangat lapar.
Akhirnya Con Ho tiba juga ke gua tempat persembunyian Con Tho.  Di depan gua itu, Con Ho bertemu Huyen.
“Salam, wahai,  pertapa yang baik.  Apakah kau melihat Con Tho yang melintas di sini?
“Iya, benar Con Ho, aku melihatnya.  Dia bersembunyi di dalam gua.”
“Kalau begitu, serahkan Con Tho padaku.  Dia mangsaku hari ini.  Kalau tidak, aku akan mengambilnya sendiri ke dalam gua.”
“Bersabarlah, Con Ho.  Kalau kamu bersedia aku ingin menukar kelinci itu dengan tangan kiriku.”  Huyen mengajukan tawaran yang cukup menarik buat Con Ho.
“Wah tawaran yang sangat menarik.”  Con Ho membatin, ” Baiklah aku pikir akan menjadi pengalaman menarik buatku bisa memakan daging manusia.”
Huyen memotong tangan kirinya,”Ini makanlah!”
Con Ho segera menyambar santapannya itu dan segera meninggalan Huyen menjadi buntung sebelah kiri tangannya.
            Con Tho yang menyaksikan peristiwa itu dari persembunyiannya, merasa sangat terkejut.  Betapa baik hati Huyen yang mau berkorban untuk dirinya, dengan sebuah pengorbanan yang luar biasa.  Belum hilang rasa kagetnya Con Tho kembali dikejutkan kejadian di depan matanya.  Ternyata tangan kiri Huyen tumbuh kembali, seperti sedia kala.
“Con Tho, keadaan sudah aman.  Sekarang pulanglah.  Lain kali berhati-hatilah.  Jangan memisahkan diri dari kelompokmu.  Semoga kamu selalu dalam keadaan aman.”  Huyen berpesan untuk keselamatan Con Tho.
“Terimakasih Huyen.  Aku takkan pernah melupakan kebaikanmu.”  Kelinci pun segera pulang menuju kawanannya dengan berlari sangat kencang.
Sementara itu Con Ho yang sedang berada di sarangnya, merasakan nikmatnya daging manusia.  Dalam benaknya terlintas, betapa mudah mendapatkan makanan.  “Sebaiknya aku mencari makan dengan cara ini.  Aku tidak harus lelah mengejar mangsa.  Sedikit berbohong tak engapa. Toh Huyen tak akan tahu kebohonganku.”
Keesokan harinya, Con Ho merancang cerita bohong pada Huyen.  Ia datangi Huyen, sang pertapa, dengan harapan ia akan mendapatkan potongan tangan kanannya.
“Huyen, hari ini aku ingin mencari makan dan aku mendapati kelinci di tengah hutan ini.  Tapi aku ingat tawaranmu kemarin.  Apakah kau akan menukar nyawa kelinci itu dengan tangan kananmu?”
Huyen tahu bahwa harimau itu berbohong.  Akan tetapi ia tidak ingin banyak berbicara dengan Con Ho.  Diberikannya tangan kanan pada harimau.  Harimau segera menyambar tangan kanan Huyen dengan sangat senang.  Segera dibawanya tangan itu menuju sarang untuk disantap.  Ia merasa berhasil memerdaya Huyen.
“Pertapa bodoh.  Mau saja dia aku bohongi.” Con Ho membatin.
Semua yang Con Ho dapatkan tidak membuatnya merasa puas.  Dia pikir kalau Huyen sudah kehilangan kedua tangannya, maka dengan akan mudah Huyen menjadi mangsa empuknya.
Keserakahan Con Ho yang sudah merasakan lezatnya daging manusia segera menuju gua untuk menerkan Huyen.  Sesampai di mulut gua, Con Ho membulatkan tekat untuk menerkam Huyen.  Ia nekat menerobos masuk.
Betapa terkejutnya Con Ho, tangan pertapa itu masih utuh.  Namun nafsu untuk menikmati daging manusia sudah tidak terbendung lagi.  Con Ho mengerang, mengaum dengan ganasnya.  Terjadilah pertempuran seru.
“Rasakan cakaran mautku, Huyen!”  Con Ho menyerbu dan menyerang Huyen.  Dengan lih ai Huyen membalas cakaran itu dengan sabetan tongkat sakti miliknya.
Alih-alih dapat melumpuhkan Huyen, justru harimau itulah yang banyak mendapatkan goresan luka. 
“Huyen, ampun.  Aku mengaku kalah.  Kaulah pemenang dari pertarungan ini.  Maafkan kejahatanku selama ini.”  Con Ho tergolek lemas penuh luka.
“Baiklah, aku menerima permintaan maafmu.  Tetapi jangan sekalikali kau ulangi perbuatan licik, curang dan khianat ini.  Aku akan merawat lukamu sampai sembuh.”
Demikianlah kemuliaan hati Huyen.  Ia dengan sabar mengobati luka Con Ho hingga sembuh.   Bekas pukulan dan luka pada tubuh harimau membentuk garis belang.   Hingga kini  terdapat jenis harimau berbulu loreng atau belang.

HIKMAH:

1.       Jadilah hamba Allah SWT yang penyayang dan lembut hati.  Barang siapa yang menyayangi apa yang ada di bumi maka akan menyayanginya apa yang di langit
2.      Raihlah keinginan dengan kejujuran bukan kebohongan, karena dusta adalah salah satu dosa besar dan ciri manusia munafik.
3.      Jadilah kesatria dan petarung sejati yang tidak mengenal kata takut dan mudah menyerah karena selalu ada jalan bagi setiap pejuang.

FAKTA ILMIAH

Harimau dalam system taksonomi tergolong dalam:
Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mammalia, Ordo: Carnivora, Famili: Falidae, Genus: Panthera, Spesies: Panthera tigris atau Felis tigris.
            Harimau adalah jenis kucing terbesar bahkan lebih besar daripada singa.  Mungkin ukurannya sama dengan singa tapi massanya lebih besar.  Massa harimau jantang bisa mencapai 180-320 kg, sedangkan betinanya berkisar  120-180 kg.  Panjang harimau jantan antara 2,6-3,3 m sedangkan betinanya 2,3-2,75 m.
Pada ordo karnifora, harimau menduduki tempat ketiga terbesar setelah  beruang kutub dan beruang coklat.
Ada perbedaan yang tidak banyak diketahui, bahwa harimau lebih gemar berenang daripada kucing.  Bahkan ucing cenderung takut air.
Motif bulu harimau adalah variasi loreng coklat terang dan hitam

REFERENSI:
  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Harimau/17/3/2019
  2. https://ahadwahyudh.wordpress.com/2014/06/02/asal-usul-harimau-berkulit-belang/17/3/2019
  3. http://www.artinama-bayi.com/20100/nama-namapopulerdi-Vietnam/23/4/2019