Sabtu, 24 November 2018

LEGENDA KE-30 TERBENTUKNYA DANAU TOBA


LEGENDA KE-30
KARENA JANJI YANG TERINGKARI

Di daerah Sumatra Utara, pada zaman dulu, hiduplah seorang anak bernama Toba.  Daerah tempat tinggal Toba merupakan dataran rendah, daerah lembah yang subur.  Ditanami apapun, lembah itu akan menumbuhkan tanaman yang menjadi rejeki untuk penduduknya.

Bukan itu saja, kesejahteraan masyarakat juga tertopang dari aliran sungai yang jernih dan penuh dengan ikan.  

“Aku akan mengail ikan sore ini, mana tahu rejekiku banyak dan melimpah dari hasil memancing ikan,” gumam Toba seorang diri.

Sekian lama Toba melempar umpan diujung kailnya, tapi tak satu pun ikan ia dapati.  Diliputi perasaan putus asa, Toba putuskan untuk berhenti memancing.

“Mungkin bukan rejekiku dari mengail ikan kali ini.  Sungguh aneh, padahal aku lihat ikan banyak berenang-renang di sungai ini.”

Suatu keanehan terjadi.  Tiba-tiba saat hendak menarik kailnya, ada terasa ikan yang kuat menarik kailnya.

“Syukurlah, akhirnya aku dapat juga ikan besar.  Meskipun hanya satu ikan ini melebihi tangkapanku sebelumnya.”  Hati Toba benar-benar riang mendapatkan ikan emas sebesar itu, “Aku akan makan besar malam ini.”  Toba membawa ikannya dalam karung dan dipanggulnya.

Alangkah terkejutnya Toba.  Sesampai di rumah, ikan yang ditangkapnya itu berubah menjadi kepingan uang logam emas dan…..

“Siapa gadis yang ada dalam kamarku itu?  Mengapa tiba-tiba ia ada dalam kamarku?”  Toba ragu untuk memasuki kamar dan menanyakan siapa gadis itu.  Akan tetapi rasa penasaran mendera.  Paras cantik gadis yang sedang menyisir rambutnya itu mengusik hati Toba.

“Siapa sebenarnya kamu?” tanya Toba hati-hati

“Aku penjelmaan dari ikan emas yang kau bawa dari sungai itu.  Dan kepingan uang logam emas itu sisik-sisikku.”

Wanita yang sangat cantik itu membuat Toba jatuh cinta.  Maka saat itu juga Toba melamarnya untuk dijadikan istri.

“Aku tidak keberatan Kakanda, tapi dengan satu syarat, Kakanda tidak boleh mengungkit ataupun membicarakan asal-usulku, pada siapapun.”

“Apapun syaratnya akan aku ikuti, asal kamu mau jadi istriku.”

Dengan prosesi yang sederhana, menghadirkan dua saksi dan wali hakim sebagai wali nikah, pernikahan itu berjalan khidmat dan lancar.  Mereka pun hidup sebagai suami istri penuh kebahagiaan.

Buah cinta mereka adalah seorang anak laki-laki yang tampan dan manis, mereka berinama Samosir.  Samosir tumbuh sebagai seorang remaja yang dapat disuruh oleh ibunya.  Suatu hari ibunya menyuruh Samosir membawakan makanan untuk ayahnya di ladang.

“Samosir, bawakan makanan ini untuk makan ayahmu di ladang.  Kasihan ayah, pasti dia sudah lapar menunggu makanan ini.  Jangan sampai lambat, kamu harus segera menyampaikan bekal ini untuk ayah!”  Demikianlah perintah Ibu Samosir.

“Baik, Bu.”  Samosir segera berangkat.  Akan tetapi di tengah perjalanan, rasa lapar begitu menggoda.  Samosir berniat mengganjal perut dengan bekal untuk ayahnya itu.  Tapi karena godaan yang kuat dan rasa enaknya makanan, membuatnya hanya menyisakan sedikit makanan untuk ayahnya.

Toba sudah tidak bisa menahan rasa laparnya dan berniat untuk pulang.  Di tengah jalan, didapatinya anaknya, Samosir membawakan makanan untuknya.

“Kamu lama sekali mengantarkan makanan buat Ayah?  Sini wadah makanannya!”  Toba mengambil tempat makanan untuknya dengan rasa marah.  Apa lagi ketika dibuka, makanan itu tinggal tersisa sedikit saja.

Samosir mulai menyadari kesalahannya dan menunduk takut.

“Dasar anak ikan!” hardik Toba pada anaknya.  Suara hardikan itu seakan bergema memenuhi langit.  Sampai-sampai Istri Toba pun mendengarnya.

Istri Toba merasa perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Toba, ia pun marah.  “Kamu telah melanggar sumpah dan perjanjian kita.  Samosir pergilah kamu ke tempat yang tinggi.  Sebentar lagi akan datang banjir bandang dengan air bah yang besar.”

Samosir lari menuju suatu tempat yang tinggi.  Sementara Istri Toba menghempaskan dirinya ke dalam sungai. 

Tiba-tiba terjadi banjir bandang besar.  Air itu membekaskan genangan yang sangat besar dan luas yang dikenal dengan danau Toba.  Pulau yang ada di tengah danau, menjadi tempat tinggal bagi Samosir dan dinamai pulau Samosir.

HIKMAH:
1. Jagalah hati dari rasa amarah yang bisa membuat tindakan kita tidak terkendali
2. Menjaga lisan adalah bagian dari keselamatan di dunia dan akhirat.  Karena kesalahan ucap dari lisan dapat memutuskan hubungan baik dan menjadi sebab masuknya manusia dalam neraka
3. Peganglah janji-janji kita karena janji adalah hutang

FAKTA ILMIAH
Danau merupakan badan air di darat  sehingga ia menjadi bagian dari wilayah daratan.  Berdasarkan faktor pembentukannya ada berbagai macam danau.  Faktor-faktor tersebut antara lain:
1.  Terjadinya letusan gunung berapi sehingga disebut danau vulkanik.  Yaitu adanya letusan gunung berapi yang menghasilkan cekungan yang dapat menampung air dan terbentuklah danau.  Faktor ini dapat dikatakan alami atau terjadi tanpa campur tangan manusia.
2.  Adanya kegiatan penambangan, yaitu pengambilan logam atau material bermanfaat lainnya yang menyisakan cekungan di permukaan bumi.  Cekungan ini dapat menampung air dan terbentuklah danau.  Faktor ini melibatkan campur tangan manusia sehingga tergolong danau tidak alami
3.  Kesengajaan membuat danau sehingga  disebut danau buatan.  Yaitu danau yang direncanakan dengan matang pembuatannya  karena alasan tertentu, misalnya: untuk dijadikan tempat wisata, membuat penampungan dan cadangan air untuk berbagai keperluan seperti irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dll.

Salah satu danau alami penting di Indonesia adalah danau Toba.   Ukuran Danau Toba, panjang 100 km, lebar 30 km dan kedalaman 505 m, membuat danau ini menjadi danau vulkanik terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Ianya terbentuk pada kaldera gunung berapi super.  Letaknya ada di wilayah Provinsi Sumatra Utara, berada pada ketinggian 900 m dpl.

Analisa para ahli terhadap pembentukannya adalah sbb:
-Sekitar 69000-77000 tahun yang lalu terjadi kekuatan ledakan besar dari gunung berapi super massif.  Kekuatannya mencapai 8 VEI (Vulcanic Explosivity Index),  merupakan letusan terbesar yang pernah terjadi di bumi dalam 25 juta tahun,  sehingga mengakibatkan perubahan iklim global

REFERENSI:
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/danau/danau

LEGENDA-29 TERBENTUKNYA GUNUNG MERAPI



LEGENDA-29
DUA EMPU PEMBANGKANG

Kisah ini turun temurun diwariskan bak dongeng pengantar tidur.  Karena umur legenda ini cukup lama, maka banyak diwarnai dengan agama dan budaya yang berkembang saat itu.  Tidak heran bila kisahnya diwarnai dengan kepercayaan pada banyak dewa (politeism)

Untuk menambah khasanah kekayaan imajinasi kita, yuk kita simak legenda terbentuknya Gunung Merapi ini.
***
Konon, Pulau Jawa ini awalnya dalam kondisi miring.  Tentu saja kondisi ini tidak nyaman untuk dihuni manusia.  Para dewa di kayangan pun mulai mendiskusikan keadaan ini.
          
 “Aku ingin membuat Pulau Jawa ini rata dan tidak miring seperti yang kalian saksikan di bawah sana,” kata Batara Guru, tetua para dewa menyampaikan keresahannya.
            
Maka terjadilah diskusi serius yang menghasilkan sebuah kesimpulan akan perlunya penyeimbang di tengah pulau tersebut.  Keputusan yang diambil para dewa adalah dengan meletakkan sebuah gunung di tengahnya.  Kali ini gunung yang akan dipindahkan adalah Gunung Jamurdipa yang terletak di Pantai Selatan ke daerah perbatasan Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.

“Wah, ternyata daerah yang akan kita pakai untuk memindahkan gunung ini ditempati oleh dua empu sakti.”  Para dewa mengeluhkan kesulitan yang mereka hadapi.  Untuk mengatasi kesulitan ini diutuslah dua Dewa, yaitu Batara Narada dan Dewa Penyarikan.


“Kami mengutus kalian berdua untuk menemui Empu Rama dan Empu Pamadi.  Mereka membuat keris langsung di atas paha dengan tangan mereka.  Inilah yang membuat Pulau Jawa makin miring.  Bujuklah mereka untuk pindah dari sana,” perintah Batara Guru.


Batara Narada dan Dewa Penyarikan segera menemui dua empu itu.


“Wahai Empu Rama dan Empu Pamadi, kami mendapat amanah dari Batara Guru.  Kami akan memindahkan Gunung Jamurdipa ke tempat kalian membuat keris ini.  Maka sebagai penghormatan pada kalian, para dewa meminta kalian meninggalkan tempat ini,  Supaya kalian tidak tertindih Gunung Jamurdipa,” kata Batara Narada.


“Terimakasih atas kedatangan kalian, tapi kami hanya akan mendapatkan keris yang berkualitas bila mendapatkan bahan dan membuatnya di sini.”  Empu Rama menjelaskan alasan mereka membuat keris itu pada tempat di tengah Pulau Jawa ini.


“Tapi akibat perbuatan kalian, Pulau Jawa makin miring dan akan terus bertambah miring.  Ini sangat berbahaya buat keseimbangan dan kenyamanan penghuninya.”


“Kami tetap tidak akan pindah dari sini apapun yang terjadi.”  Empu Pamadi menegaskan satu hal yang akan berakhir dengan pertempuran antara keempatnya.


Merekapun terlibat pertempuran sengit.  Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya.  Empu Rama dan Empu Pamadi dengan keris-keris pusaka buatan mereka sendiri mampu membuat Batara Narada dan Dewa Penyarikan kewalahan.


“Rasanya pertempuran ini harus kita sudahi, kalau tidak kita bisa celaka.”  Dewa Penyarikan mengeluhkan keterdesakan dari pihak dewa.


“Sebaiknya kita kembali ke kayangan dan melaporkan keadaan ini.”  Batara Narada memutuskan untuk kebali ke kayangan meskipun dengan tangan kosong.


Setiba di kayangan dan menemui Batara Guru, mereka melaporkan sifat keras kepala dari dua empu di tengah Pulau Jawa itu.


“Mereka tidak bisa dikasih penghormatan.  Kita beritahu baik-baik malah melawan. Kita tidak usah perhitungkan lagi nasib mereka.   Aku putuskan pemindahan Gunung Jamurdipa tetap dilakukan.  Dewa Bayu, segera tiup Gunung Jamurdipa dari Pantai Selatan.”  Batara Guru memerintahkan tanpa bertimbang rasa lagi.


Sendika dawuh, Batara Guru, saya akan segera melaksanakan perintah.”  Dewa Bayu yang menguasai angin segera memerintahkan tentaranya untuk mengangkat Gunung Jamurdipa. Dalam sekali tiup, gunung itu menimpa tempat kedua empu. 


Mereka tewas tertimpa tanah hempasan Gunung Jamurdipa.  Sementara perapian pembuatan keris tetap menyemburkan api panas membara, menimbulkan kawah pada puncaknya.  Gunung itu pun mendapat sebutan Merapi yang bermakna tempat perapian.


Pada kenyataannya, Gunung Merapi menjadi gunung paling aktif di Pulau Jawa bahkan Indonesia.

HIKMAH:
1.  Hendaklah kita mementingkan keselamatan alam lingkungan dalam rangka berakhlak pada alam sebagai sesame makhluk Tuhan. 
2.  Hendaklah kita mementingkan keselamatan bersama, sesama insane dalam rangka berakhlak pada sesama manusia.
3. Keinginan berada pada zona aman dan nyaman kadang membuat manusia enggan berhijrah walaupun itu diperintahkan oleh Allah SWT dan RasulNya.  Maka mengambil hikmah dari perintah hijrah akan meringankan langkah.  Sesungguhnya hijrah adalah dakbus salihin untuk mencari maslahat, kebaikan dan memperbaiki keadaan.

FAKTA ILMIAH:


Sebenarnya tahapan terbentuknya Gunung adalah sbb:
1.  Terjadinya akumulasi sedimen, lapisan-lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk hingga kedalaman beberapa kilometer.Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi. 
2.  Sedimen pada langkah pertama pembentukan gunung, mengalami deformasi karena gaya kompresi dari tumbukan antar lempeng tektonik.
3.  Pengangkatan kerak bumi akibat gerakan blok sesar. Tumbukan antarlempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung.  Bagian yang mengalami tarikan akan merenggang dan terjadilah graben yang membentuk lembah

Gunung Merapi memiliki ketinggian puncak di atas 2.930 meter dpl, terletak di tengah Pulau Jawa, sebagai gunung api paling aktif.  Berada di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah.  Kabupaten Magelang di sisi baratnya, Boyolali di sisi utara dan timur, Yogyakarta dan Sleman di sisi selatan, serta Klaten di sisi tenggara.   Sejak 2004, bagian puncaknya dijadikan Taman Nasional Gunung Merapi.

Terhitung dari tahun 1548, Gunung Merapi meletus lebih dari 68 kali.  Bahkan dalam setahun dapat meletus dua hingga lima kali.  Oleh karena itu, Merapi menjadi gunung yang sangat berbahaya.  Meskipun demikian, wilayah pemukiman penduduk mencapai ketinggian hingga 1700 m, hanya berjarak 4 km dari puncaknya.   Nah, Gunung Merapi dengan tingkat kepentingan yang tinggi ini, termasuk dalam proyek Decade Volcanoes

Terakhir letusan Merapi hingga tulisan ini dibuat, terjadi pada tanggal 24 Mei 2018 dengan ketinggian kepulan asap hingga 6000 m, hujan abu menyebar kea rah barat hingga Kebumen sepanjang jarak 40 km.

Bagian puncak merapi tidak ditumbuhi vegetasi apapun.  Vegetasi Merapi di bagian teratas didominasi alpine khas pegunungan, misalnya Rhododendron dan Edelweis jawa.  Bagian di bawahnya terdapat hutan bamboo dan tumbuhan pegunungan tropika.  Di bagian selatan terdapat hutan hujan tropis pegununga, dengan anggrek endemic Vanda tricolor yang termasuk dalam vegetasi langka.  Di bagian kaki, pada ketinggian kurang dari satu kilometer terdapat varietas salak unggul, Pondoh dan Nglumut

REFERENSI:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

https://ardiyansyah.com/2016/07/fungsi-gunung-dan-proses-terjadinya.html

Senin, 19 November 2018

LEGENDA KE-28 Asal Usul Siput Memanjat Dahan (Filipina)


 LEGENDA KE-28
SIPUT YANG SETIA KAWAN

Diawal-awal penciptaannya, Allah SWT memenuhi bumi dengan tumbuhan, kemudian barulah binatang. Di antara binatang-binatang itu terdapat  tupai, capung, lebah besar dan siput.  Masing-masing bernama Tupi, Capi, Tawon dan Putput.
 Mereka memutuskan untuk membagi tugas sesuai dengan kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing.  Tupi adalah yang paling besar dipilih menjadi pimpinan di rumah itu.  Dalam sebuah musyawarah Tupi membagi tugas untuk seluruh anggota keluarga itu.
“Aku paling besar dan gerakkanku lincah biarlah aku bertugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Tugas ini cukup berat dan berisiko di luar sana. Tawon, kamu punya senjata yang ampuh dan dapat terbang.  Maka tugas kamu menjadi penjaga untuk keselamatan semua anggota keluarga.  Kamu adalah lebah besar.  Racun di sengatmu akan tetap tertancap kuat dan tidak akan lepas dari badanmu saat menyengat.  Ini sangat berbeda dengan lebah kecil dari bangsamu.  Kamu Capi, dengan penampilan rapihmu, kamu sangat cocok untuk menjadi bagian humas.  Mengatur kerjasama dengan keluarga lain, sekaligus menjadi sekretaris pribadiku.  Putput, gerakanmu lambat maka aku tugaskan kamu untuk menjadi juru masak keluarga kita.”
“Baiklah Tuan Tupi, kami akan menjalankan tugas kami dengan sebaik mungkin.”   Demikianlah satu keluarga empat satwa itu bersepakat.
Suatu hari Tupi pergi untuk mencari bahan makanan karena persediaan makanan sudah mau habis.  Tupi pergi ke hutan dan melihat ada ikan dalam tempat yang mirip sangkar burung. 
“Alhamdulillah ada ikan dalam sangkar itu aku akan membawanya.  Di hutan ini pasti tidak ada siapa yang memilikinya.”  Tupi segera memasuki sangkar.  Tapi betapa malangnya sangkar tiba-tiba tertutup dan seorang pemburu menghampirinya.
“Nampaknya aku harus puas dengan seekor tupai kali ini.  Tidak mengapa.  Aku akan mencapurkannya dengan dedak dan memberikannya pada itik peliharaanku. 
Akhir hidup Tupi sangat tragis berakhir di ujung pisau dan menjadi makanan itik.
Tiga anggota keluarga yang lain tidak tahu bagaimana nasib dari tupi.  Seua berdoa sekiranya Tupi akan kembali.  Tapi hingga rasa lapar mendera, Tupi tidak juga pulang.  Mereka kehilangan kesabaran.  Diutuslah Capi untuk mencari Tupi, pemimpin mereka.
Capi terbang kian kemari hingga tapi lelah tidak juga menemukan Tupi.  Akhirnya ia hinggap pada setangkai teratai di pinggir danau.
Seekor ikan memperhatikannya mencari akal untuk bisa menyantap Si Capi.
“Hai, Capi kasihan sekali kamu.  Kelihatannya lelah sekali?” tanya Kani si ikan licik.
“Ia aku mencari pemimpin kami Tuan Tupi.  Ia sedang mencari makan buat kami tapi tidak juga kembali.”  Capi bercerita sedih.
“Kamu kelihatan lucu dengan wajah sedih dan penampilanmu yang amburadul itu.  Ha…ha…ha…lihat dasi kamu terjuntai mau jatuh,” olok Kani dari permukaan air.
Merasa tidak enak ditertawakan seperti itu, Capi membenahi dasinya.  Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih.  Posisi hinggap yang tidak stabil membuat Capi terpelanting ke danau dan langsung disantap Si Kani.
Dua anggota keluarga mereka tinggal Putput dan Tawon.  Mereka makin kelaparan dengan habisnya bahan makanan mereka.  Yang paling menderita adalah Tawon karena ia harus mencari bahan makanan jauh dari tempat tinggal mereka.  Sementara dia tidak bisa meninggalkan tugas menjaga seisi rumah. 
Berbeda dengan Putput ia dapat dengan mudah mendapatkan makanan.  Dari rerumputan bahkan dari sisa bahan makanan yang dibuang oleh keluarga lainnya.
“Aku sudah tidak tahan lagi.  Kemana mereka pergi.  Semua tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali.  Sedangkan aku tidak boleh meninggalkan rumah ini. “ Tawon kesal dengan keadaan yang harus dihadapinya. 
“Sabar, Tawon.  Sebaiknya kita cari mereka berdua.”
“Tidak bisa siput, aku mendapat tugas menjaga rumah kita ini, bukan?”
Akhirnya Tawon sudah tidak tahan dengan apa yang dideritanya.  Diikatkannya tali  pada perutnya untuk mengurangi rasa lapar.  Malangnya ikatan itu terlalu kencang.  Ia mati lemas kelaparan, terjatuh dalam keadaan terlentang. 
“Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun, aku sendirian sekarang.  Kemana teman-temanku?  Aku tidak mau sendiri.  Aku akan cari mereka sampai ketemu.”
Siput berjalan perlahan di atas rerumputan sambil memanggil Tupi dan Capi. Merayap tiada kenal lelah.  Apabila ada tumbuhan yang ia jumpai, ia akan memanjatnya.  Tujuannya untuk bisa melihat sekeliling dengan lebih leluasa.
Begitulah Putput dengan sabar merayap dari satu tempat ke tempat lain.  Memanjat tiap kali ada tetumbuhan yang tinggi.  Sepanjang perjalanan mencari teman-temannya, Putput menangis sedih.  Akibatnya sepanjang jejaknya, membekaskan tanda basah berupa lendir dari air matanya.
Kebiasaan ini diikuti oleh anak keturunannya, dari generasi ke generasi.  Jadilah siput senang memanjat apa saja.  Dengan tetap berharap akan bisa berjumpa dengan kawan-kawan  satu keluarga yang dicintainya.

HIKMAH:
1.  Dalam sebuah keluarga perlu adanya pemimpin dan pembagian tugas yang jelas untuk memberikan rasa tanggung jawab.
2. Masing-masing anggota keluarga hendaklah menjalankan apa yang menjadi tugasnya masing-masing
3. Sifat rasa setia kawan akan membuat kita merasa kehilangan atas ketidakhadiran kawan kita. Maka keinginan mengetahui kabar dan keadaan kawan bagian dari sifat setia kawan.
4. Tanda kesetiaan terhadap kawan adalah pengharapan atas keberuntungan dan keselamatan mereka.

FAKTA ILMIAH:
Siput tergolong dalam kelas Moluska Gastropoda, bermakna hewan bertubuh kunak dengan perut sebagai alat gerak atau kakinya.  Gastropoda terdiri dari dua jenis, yaitu yang bercangkang dan tidak bercangkang.  Cangkang Gastropoda berupa mangkuk bergelung.  Sedang Gastropoda tanpa cangkang disebut siput telanjang, dalam bahasa jawa disebut resrespo.
            Jumlah spesies Gastropoda menempati urutan kedua setelah  Insekta (serangga).
            Habitat siput sangatlah luas dari parit hingga gurun dari laut dangkal sampai laut dalam. Siput dapat hidup di air tawar, payau bahkan air asin.  Sebagian besar spesies siput justru hidup di laut.
            Kebanyakan siput hidup sebagai herbivora (pemakan tumbuhan).  Ada juga yang hidup sebagai omnivora (pemakan segala) dan karnivora (pemakan daging/hewan lain).
            Beberapa jenis Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebon  (Helix, sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)
            Taksonomi Siput (Helix pomatia): Kingdom, Animalia; Filum: Moluska, Kelas: Gastropoda, Subkelas: Orthogastropoda, Superordo: Heterobranchia, Ordo: Pulmonata, Famili: Helicidae, Genus: Helix, Spesies: Helix pomatia

REFERENSI:

Legenda Ke-27 Asal Usul Asap Gunung Canlaon


LEGENDA KE-27
KISAH:
BERSAHABATLAH DENGAN ALAM

Horisaboquet adalah seorang lelaki tua yang baik hati.  Ia berbadan kecil, kurus dan berambut panjang menjuntai, namun memiliki kesaktian.  Dia memiliki ilmu meringankan tubuh sehingga bisa bergerak cepat bahkan menghilang.  Sifat bijaksananya membuat Horisa tidak sombong dengan kelebihan yang dimilikinya. 
            Tinggal di puncak Gunung Canlaon pada masa yang jauh sebelum Spanyol datang menjajah.  Di bawah arahan dan kepemimpinannya, Gunung Canlaon diberkahi sebagai tempat yang subur.  Berbagai macam tanaman dapat tumbuh subur di sana.  Sayur mayur palawija dan terutama tembakau. 
Semua warga Gunung Canlaon mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.  Mereka merasa qanaah dengan apa yang mereka ambil dari alam.  Mereka bisa hidup sederhana tanpa banyak keinginan berlebihan terhadap nikmat dunia.
            Kembali lagi pada karisma Horisaboquet, dia sangat dihormati.  Bila ia melewati suatu perkampungan, warga akan memberinya penghormatan.
            “Selamat datang Tuan Horisa.  Kami merasa beruntung anda mau bertandang ke kampung kami.”  Ojera seorang tetua  salah satu kampung di Gunung Canlaon.”
            “Terimakasih atas sambutannya Pak Tua.  Saya bermaksud mengumpulkan warga di satu tanah lapang untuk membicarakan suatu hal.”  Horisa menyampaikan maksud kedatangannya.
            Persiapan untuk pertemuan besar semua warga Gunung Canlaon seakan menandai pentingnya kegiatan tersebut.  Horisaboquet segera menaiki mimbar.
            “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Mahakuasa, Selamat dan kesejahteraan semoga selalu menyertai kita.  Terimakasih untuk semua warga Canlaon yang telah hadir pada pertemuan kali ini.  Aku akan menyampaikan beberapa hal penting:
1. Aku mendapat amanah dari Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan di seberang sana, alam lain yang sedang dirundung permasalahan.  Maka aku akan meninggalkan kalian untuk beberapa lama.
2. Aku titipkan batas penanaman yang kita sepakati bersama.  Jangan melewati batas itu karena bagian-bagian lahan memiliki fungsinya masing-masing.  Terutama bagian puncak yang menjadi hutan resapan.  Sama sekali tidak boleh dijadikan lahan pertanian.  Kalau kalian melanggarnya maka kalian akan merasakan kesusahan mendapatkan air dari sungai di tengah kampung kita ini.
3. Apabila kalian tetap menanaminya aku akan mengambil semua tanaman tembakau kalian.  Aku akan mengisap dengan batang cerutuku ini sampai tembakau itu habis.
            Pesanku ini sangatlah penting untuk kalian ikuti.  Bila kalian langgar aku akan memenuhi ancamanku.”
            Semua terdiam mendengarkan arahan dari Horisaboquet.  Tak lama kemudian Horisaboquet menghilang dari pandangan seluruh warga.  Mereka saling berbincang tentang pemimpin meraka yang satu ini, untuk kemudian berpisah membubarkan diri.
            Sekian lama kepergian Horisa, warga masih mengikuti apa yang dipesankannya.  Hingga lama kelamaan, mereka mulai digoda bisikan setan dan nafsu untuk menikmati dunia lebih dari sekedar cukup kebutuhan.
            “Horisa tidak akan kembali lagi.  Dia hanya menakut-nakuti kita supaya kita tetap miskin.  Kalau puncak Calaon ini kita Tanami tembakau, maka hasilnya akan lebih banyak dan membuat kita kaya.”  Seorang pemuda mengungkap pandangannya.
            “Aku tidak berani untuk melanggar kesepakatan itu.  Lagi pula kita sudah cukup hidup tenang dan damai dengan apa yang kita terima sekarang.”  Ojera bertahan dalam ketaatannya pada Horisabaquet.
            “Pak Tua, ini hanya akal-akalan Horisa supaya tidak ada yang menyaingi wibawanya.  Kalau kita tidak bisa melampaui ilmunya maka kita masih bisa melampaui kekayaannya.  Sekarang begini saja.  Bagaimana kalau kita mencoba menanam melewati batas  kesepakatan.  Bila benar ancamannya maka ia akan datang untuk mengambil tembakau kita.  Tapi bila tidak berarti dia telah berbohong dan kita bebas menanami lahan di gunung ini hingga  ke puncaknya.”  Kini pendapat picik pemuda itu disetujui banyak orang.  Ojera tidak bisa melawan keinginan dari mereka yang serakah.
            Pemuda itu mulai mencoba melanggar batas yang disarankan Horisa.  Warga cemas menunggu akibat yang diancamkan Horisa.  Akan tetapi ancaman itu tidak juga wujud nyata hingga panen yang didapat pemuda itu cukup banyak.
            “Apa yang kalian takutkan?  Horisa hanya membohongi kita.  Aku bisa mendapatkan panen lebih banyak dan kita akan menjadi kaya raya.  Mana ancaman Horisa?  Omong kosong!” suara pemuda itu lantang jumawa.
Warga  mulai tergiur membagi-bagi lahan sesuai keinginan dan kesepakatan baru mereka.
Mereka menanami hingga puncak gunung.  Mereka membabat hutan tanpa peduli risikonya.  Begitulah keserakahan telah menyelimuti hati sebagian besar warga.  Hanya beberapa gelintir orang tua yang masih mencemaskan akibat yang akan mereka dapatkan.
            Menjelang panen tiba, gunung Canlaon mengeluarkan asap.  Asap itu begitu panas, menyapu seluruh tanaman yang ada pada lahan mereka.  Tidak bersisa.
            “Ancaman Horisa akhirnya tertunaikan juga.”  Ojera hanya bisa berucap prihatin dengan keadaan ini.  Mereka meninggalkan gunung, menyelamatkan diri dari amukan asap Canlaon.
            Sampai saat ini asap masih menggumpal dari atas Canlaon.  Meskipun tidak lagi panas dan berbahaya seperti serangan pertama yang menghabiskan tanaman mereka.  Sebagian orang percaya bahwa Horisa belum selesai mengisap tembakau yang dia ambil dari warga Gunung Canlaon.

HIKMAH
1. Semua yang terjadi adalah bagian dari kehendak Allah SWT.  Sebagai ujian untuk diambil pelajaran darinya.
2. Janganlah melanggar kesepakatan dan janji karena kesepakatan adalah amanah bersama serta janji adalah hutang
3. Bersahabatlah dengan alam dan jangan pernah mementingkan diri sendiri
4. Menggunakan alam secara berlebihan akan berakibat pada bencana yang merugikan dan menyengsarakan manusia.

FAKTA ILMIAH
Salah satu gunung berapi aktif  di Filipina adalah Gunung Canlaon.  Berdasarkan bentuknya, Canlaon termasuk dalam stratovolcano.  Letaknya di provinsi Negros Occidental di kabupaten Visayas. Hingga tahun 2010, kota ini memiliki populasi 51254 jiwa dengan 9945 rumah tinggal.
Gunung Canlaon berketinggian 2435 meter, meletus terakhir kali di tahun 2015.
Sedikit penjelasan tentang gunung stratovolcano.   Berdasar bentuk puncaknya, Gunung srtratovolcana odalah gunung berapi kerucut, disebut juga gunung berapi komposit.  Pegunungan yang tinggi dan mengerucut karena material letusan yang berupa lava dan abu vulkanik mengeras.
Tipografinya, curam pada bagian puncak dan landai pada bagian kaki.  Hal ini terjadi karena aliran lavanya amat kental, mengandung banyak silika sehingga bersifat asam.  Silika akan cepat mendingin dan mengeras sebelum sebarannya cukup jauh.

REFERENSI