LEGENDA KE-30
KARENA JANJI YANG TERINGKARI
Di daerah Sumatra Utara, pada zaman
dulu, hiduplah seorang anak bernama Toba.
Daerah tempat tinggal Toba merupakan dataran rendah, daerah lembah yang
subur. Ditanami apapun, lembah itu akan
menumbuhkan tanaman yang menjadi rejeki untuk penduduknya.
Bukan itu saja, kesejahteraan
masyarakat juga tertopang dari aliran sungai yang jernih dan penuh dengan ikan.
“Aku akan mengail ikan sore ini,
mana tahu rejekiku banyak dan melimpah dari hasil memancing ikan,” gumam Toba
seorang diri.
Sekian lama Toba melempar umpan
diujung kailnya, tapi tak satu pun ikan ia dapati. Diliputi perasaan putus asa, Toba putuskan
untuk berhenti memancing.
“Mungkin bukan rejekiku dari mengail
ikan kali ini. Sungguh aneh, padahal aku
lihat ikan banyak berenang-renang di sungai ini.”
Suatu keanehan terjadi. Tiba-tiba saat hendak menarik kailnya, ada
terasa ikan yang kuat menarik kailnya.
“Syukurlah, akhirnya aku dapat juga
ikan besar. Meskipun hanya satu ikan ini
melebihi tangkapanku sebelumnya.” Hati Toba
benar-benar riang mendapatkan ikan emas sebesar itu, “Aku akan makan besar malam
ini.” Toba membawa ikannya dalam karung
dan dipanggulnya.
Alangkah terkejutnya Toba. Sesampai di rumah, ikan yang ditangkapnya itu
berubah menjadi kepingan uang logam emas dan…..
“Siapa gadis yang ada dalam kamarku
itu? Mengapa tiba-tiba ia ada dalam
kamarku?” Toba ragu untuk memasuki kamar
dan menanyakan siapa gadis itu. Akan
tetapi rasa penasaran mendera. Paras cantik
gadis yang sedang menyisir rambutnya itu mengusik hati Toba.
“Siapa sebenarnya kamu?” tanya Toba
hati-hati
“Aku penjelmaan dari ikan emas yang
kau bawa dari sungai itu. Dan kepingan
uang logam emas itu sisik-sisikku.”
Wanita yang sangat cantik itu
membuat Toba jatuh cinta. Maka saat itu
juga Toba melamarnya untuk dijadikan istri.
“Aku tidak keberatan Kakanda, tapi
dengan satu syarat, Kakanda tidak boleh mengungkit ataupun membicarakan
asal-usulku, pada siapapun.”
“Apapun syaratnya akan aku ikuti,
asal kamu mau jadi istriku.”
Dengan prosesi yang sederhana,
menghadirkan dua saksi dan wali hakim sebagai wali nikah, pernikahan itu
berjalan khidmat dan lancar. Mereka pun
hidup sebagai suami istri penuh kebahagiaan.
Buah cinta mereka adalah seorang
anak laki-laki yang tampan dan manis, mereka berinama Samosir. Samosir tumbuh sebagai seorang remaja yang
dapat disuruh oleh ibunya. Suatu hari
ibunya menyuruh Samosir membawakan makanan untuk ayahnya di ladang.
“Samosir, bawakan makanan ini untuk
makan ayahmu di ladang. Kasihan ayah,
pasti dia sudah lapar menunggu makanan ini.
Jangan sampai lambat, kamu harus segera menyampaikan bekal ini untuk
ayah!” Demikianlah perintah Ibu Samosir.
“Baik, Bu.” Samosir segera berangkat. Akan tetapi di tengah perjalanan, rasa lapar
begitu menggoda. Samosir berniat
mengganjal perut dengan bekal untuk ayahnya itu. Tapi karena godaan yang kuat dan rasa enaknya
makanan, membuatnya hanya menyisakan sedikit makanan untuk ayahnya.
Toba sudah tidak bisa menahan rasa
laparnya dan berniat untuk pulang. Di
tengah jalan, didapatinya anaknya, Samosir membawakan makanan untuknya.
“Kamu lama sekali mengantarkan
makanan buat Ayah? Sini wadah
makanannya!” Toba mengambil tempat
makanan untuknya dengan rasa marah. Apa
lagi ketika dibuka, makanan itu tinggal tersisa sedikit saja.
Samosir mulai menyadari kesalahannya
dan menunduk takut.
“Dasar anak ikan!” hardik Toba pada
anaknya. Suara hardikan itu seakan bergema
memenuhi langit. Sampai-sampai Istri
Toba pun mendengarnya.
Istri Toba merasa perjanjian itu
dilanggar sendiri oleh Toba, ia pun marah.
“Kamu telah melanggar sumpah dan perjanjian kita. Samosir pergilah kamu ke tempat yang
tinggi. Sebentar lagi akan datang banjir
bandang dengan air bah yang besar.”
Samosir lari menuju suatu tempat
yang tinggi. Sementara Istri Toba menghempaskan
dirinya ke dalam sungai.
Tiba-tiba terjadi banjir bandang
besar. Air itu membekaskan genangan yang
sangat besar dan luas yang dikenal dengan danau Toba. Pulau yang ada di tengah danau, menjadi
tempat tinggal bagi Samosir dan dinamai pulau Samosir.
HIKMAH:
1. Jagalah hati
dari rasa amarah yang bisa membuat tindakan kita tidak terkendali
2. Menjaga lisan
adalah bagian dari keselamatan di dunia dan akhirat. Karena kesalahan ucap dari lisan dapat
memutuskan hubungan baik dan menjadi sebab masuknya manusia dalam neraka
3. Peganglah
janji-janji kita karena janji adalah hutang
FAKTA ILMIAH
Danau merupakan
badan air di darat sehingga ia menjadi
bagian dari wilayah daratan. Berdasarkan
faktor pembentukannya ada berbagai macam danau.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Terjadinya letusan gunung berapi sehingga
disebut danau vulkanik. Yaitu adanya
letusan gunung berapi yang menghasilkan cekungan yang dapat menampung air dan
terbentuklah danau. Faktor ini dapat
dikatakan alami atau terjadi tanpa campur tangan manusia.
2. Adanya kegiatan penambangan, yaitu pengambilan
logam atau material bermanfaat lainnya yang menyisakan cekungan di permukaan
bumi. Cekungan ini dapat menampung air
dan terbentuklah danau. Faktor ini
melibatkan campur tangan manusia sehingga tergolong danau tidak alami
3. Kesengajaan membuat danau sehingga disebut danau buatan. Yaitu danau yang direncanakan dengan matang
pembuatannya karena alasan tertentu,
misalnya: untuk dijadikan tempat wisata, membuat penampungan dan cadangan air
untuk berbagai keperluan seperti irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dll.
Salah satu
danau alami penting di Indonesia adalah danau Toba. Ukuran Danau Toba, panjang 100 km, lebar 30
km dan kedalaman 505 m, membuat danau ini menjadi danau vulkanik terbesar di
Indonesia bahkan di dunia. Ianya terbentuk pada kaldera gunung berapi super. Letaknya ada di wilayah Provinsi Sumatra
Utara, berada pada ketinggian 900 m dpl.
Analisa para
ahli terhadap pembentukannya adalah sbb:
-Sekitar
69000-77000 tahun yang lalu terjadi kekuatan ledakan besar dari gunung berapi
super massif. Kekuatannya mencapai 8 VEI
(Vulcanic Explosivity Index), merupakan
letusan terbesar yang pernah terjadi di bumi dalam 25 juta tahun, sehingga mengakibatkan perubahan iklim global
REFERENSI:
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/danau/danau