Di suatu
daerah di Philipina zaman dulu, ada suatu daerah bernama Samtay di Ilocos
utara. Daerah ini dengan izin Alloh SWT tidak pernah dilanda musibah
dan bala bencana sebagaimana daerah lain. Daerah ini tidak pernah
terkena topan maupun kekeringan. Sayangnya mereka belum mengenal
agama samawi pada saat itu.
“Kita
harus berterima kasih pada Anito, roh yang baik hati dan selalu menjaga negeri
kita ini.” Seorang kepala suku bernama Apo Anong selalu
mengingatkan pada para pengikutnya.
Mereka
percaya bahwa lonceng di tengah pusat negeri mereka merupakan lonceng
ajaib. Lonceng itu pemberian Anito, Sang Ruh Baik. Bila
mereka menginginkan sesuatu permintaan, mereka membunyikan lonceng seraya
mengucapkan mantera permohonan.
“Wahai
Anito, jagalah negeri ini dari topan dan kekeringan.” Begitulah
permintaan mereka pada Anito. Serta merta dengan izin Alloh SWT,
topan menyingkir dan kekeringan pun tidak terjadi.
Keamanan,
kemakmuran dan kesejahteraan Negeri Samtay membuat negeri sebelahnya iri hati.
“Apa
rahasia negeri itu sehingga tidak pernah ditimpa topan.” Kepala suku
negeri Sinjua bernama Apa Ambo pada suatu pertemuan dengan para tetua suku.
“Sebaiknya
kita utus seorang pemuda kampung kita untuk menyelidiki apa yang menjadi
rahasia kemakmuran kampong itu.” Ungkap orang kanan Apa Ambo
Tiba-tiba
seorang pemuda pemberani menawarkan dirinya untuk menjadi penyusup di negeri
Samtay.
“Biar
saya yang mencari berita rahasia ke negeri Samtay. Saya akan
berangkat malam ini juga.” Pemuda bernama Amang Suta menawarkan
diri. Ia adalah kepala keamanan Negeri Sinjua.
Benar
saja, Amang Suta menembus hutan perbatasan malam itu. Kemampuan bela
diri menjadi andalannya. Begitu memasuki alun-alun negeri,
dilihatnya seseorang sedang mengucap mantra perlindungan untuk seluruh penduduk
negeri.
“Ini
rupanya yang menjadi rahasia mereka,” gumam Amang Suta.
“Hai, orang
asing siapa kamu?” Apo Anong merasakan kehadiran orang lain yang tak
biasa malam itu.
“Aku
harus segera melarikan diri sebelum tertangkap para penjaga keamanan
negeri.”
“Hai,
jangan lari kamu orang asing. Kami tahu kamu sedang mencoba menguak rahasia
kami.” Suara para penjaga bersahutan mengejar Amang
Suta. Dengan sedikit perlawanan Amang Suta berhasil melarikan diri.
Sesampai
di Negeri Sinjua, segala rahasia Negeri Samtay dikisahkan Amang Suta pada
kepala suku. Mereka pun merencanakan penyerangan.
Sementara
itu Apo Anong segera berusaha menyembunyikan lonceng ajaib ke tengah hutan
malam itu juga, tanpa memberi tahu pada siapapun. "Penyusup itu pasti
bermaksud mencuri lonceng ini. Aku harus menyembunyikannya jauh ke tengah
hutan."
Beberapa
hari kemudian, di luar dugaan rakyat suku Samtay, penyerangan oleh suku Sinjua
tak dapat dielakkan lagi. Pembantaian keji mereka lakukan demi
mendapatkan lonceng ajaib. Salah satu yang terbunuh pada peperangan
kali ini adalah kepala suku Apo Anong. Ia belum sempat membeberkan
rahasia di mana lonceng itu ia sembunyikan.
Prajurit
suku Sinjua akhirnya putus asa dengan kegagalannya mencari lonceng
ajaib. Mereka kembali ke negerinya dengan tangan kosong.
Sementara
itu rakyat Negeri Samtay mulai bangkit dari keterpurukan akibat penyerangan
suku Sinjua. Tentu saja tanpa kehadiran lonceng ajaib.
Beberapa
puluh tahun kemudian, ujian topan dan badai melanda mereka, penduduk Negeri
Samtay. Mereka ingat akan cerita nenek moyang mereka tentang lonceng
ajaib. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya berharap
lonceng itu akan kembali membawa keberkahan.
Suatu
hari seorang anak kecil bernama Lawa Amung berjalan ke hutan untuk mendapatkan
buah-buahan liar yang bisa mereka makan. Maklum, kekeringan telah
menggagalkan panen mereka.
“Wah, aku
mendapatkan banyak buah beri di sini. Aku akan memetiknya
untuk semua anggota keluargaku. Pasti mereka sudah sangat merasa
lapar.”
Karena
asyiknya memetik buah beri, Amung tersandung akar pohon hingga terjatuh. Ia
mendongakkan kepalanya, untuk melihat pohon apa gerangan yang membuatnya
terjatuh.
“Wah,
pohon itu berbuah merah ranum. Sepertinya sangat
lezat. Seperti lonceng bergerombol. Mungkinkah ini
jelmaan dari lonceng ajaib? Ataukah ini petunjuk bahwa lonceng ajaib
itu hilang di sekitar sini?”
Berbagai
pertanyaan keheranan dari Lawa Amung sudah tak tertampung. Ia segera
menemui orang-orang di negerinya untuk menyampaikan kabar gembira ini.
Penduduk
negeri pun berbondong-bondong menuju hutan yang ditunjukkan oleh Lawa
Amung. Mereka takjub dengan buah yang asing itu. “Makopa!
Makopa! Makopa!” Orang-orang menyebutkan sebuah nama yang berarti
gerombolan cangkir mirip lonceng yang menggantung.
Mereka
segera menggali tempat sekitar pohon itu. Namun lonceng ajaib tak
juga mereka temukan. Akhirnya mereka memetik buah yang mereka beri
nama Makopa sebagai pelepas dahaga. Sejak itulah buah itu diberi
julukan Makopa. Dalam bahasa kita, buah itu bernama jambu air.
Demikianlah
kisah unik dari negara Philipina tentang munculnya buah Makopa yang dalam
bahasa kita disebut jambu air.
PESAN
MORAL:
1.
Segala sesuatu adalah pemberian Tuhan Yang Mahakuasa. Maka jangan sampai
salah meletakkan keyakinan tentang keberkahan. Dialah Sang Pemberi Berkah,
bukan benda yang sekedar menjadi wasilah. Dialah tempat memohon dan
bergantung bukan benda yang diyakini memberi keberkahan.
2.
Berilah wasiat karena ajal tidak pernah mengenal waktu
3.
Menjaga hak milik adalah bagian dari memelihara kehormatan. Maka
pertahankanlah hak kita meskipun hingga tetes darah penghabisan.
4.
Buang iri dengki dan keserakahan karena ianya adalah biang segala permusuhan
dan kerusakan.
FAKTA UNIK:
Makopa atau Jambu Samarang atau jambu air
tergolong dalam suku Myrtaceae. Nama
ilmiahnya Syzygium samarangense. Sedikit
berbeda dengan jambu air yang memiliki nama ilmiah Syzygium aqueum.
Ciri fisik dari Makopa, umumnya berupa perdu
dengan tinggi 3-10 meter. Batangnya
sering kali berbengkok dan banyak bercabang.
Daunnya merupakan daun tunggal berbentuk lonjong yang saling berhadapan. Tangkai daun sekitar 0,5-1,5 cm. Beraroma has bila diremas. Buah bertipe buah
buni (berbiji tertutup), berbentuk gasing atau mirip lonceng dengan pangkal
menguncup dan ujung melebar. Kulit buah
berwarna putih, hijau hingga merah.
Daging buah putih dan banyak mengandung air. Berasa asam hingga manis, kadang-kadang sepat
Kandungan nutrisinya terdiri atas kalsium,
natrium, protein, zat besi, serat, vitamin A dan C. Bagian kulitnya mengandung zat organic Jamboisme
Pemanfaatan
jambu air ini sangat beragam dari mulai batang, daun dan terutama
buahnya.
a. Kayu
dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan kayu bagat. Sebagian sebagai bahan kerajinan
b. Daun
dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus tapai ketan
c. Buahnya
dapat meningkatkan taraf kesehatan pengonsumsinya:
1. Berserat
tinggi sehingga membantu kesehatan pencernaan
2. Kadar
senyawa organiknya yaitu Jamboisme yang
merupakan alkaloid dapat mengontrol diabetes.
Fungsi Jamboisme adalah sebagai pengontrol konversi pati menjadi gula. Sehingga dapat mengendalikan kadar gula
darah.
3. Bersifar
diuretic sehingga membantu kerja ginjal dan hati dalam menetralisir zat beracun
4. Meningkatkan
imunitas dengan kandungan minerak kalsium dan besi serta vitamin A dan C.
5. Kadar
kalium dan antioksidan yang cukup tinggi dapat turut menurunkan kadar
kolesterol sehingga meringankan kerja jantung dan menurunkan resiko stroke
6. Membantu
regenerasi kulit, mencerahkannya, menghambat proses penuaan, mengatasi kulit
keriput, membantu mencegah penyakit cacar.
Caranya dengan konsumsi langsung, sebagai masker dan juga lulur.
7. Membantu
pencegahan penyakit kanker, menurunkan demam, mengobati asma, menjaga kesehatan
otak, meningkatkan kemampuan kognitif, meningkatkan kesuburan pada pria,
mencegah dehidarasi, menangkal radikal bebas, menyehatkan tulang, menyembuhkan sore eyes, mencegah osteoporosis, meningkatkan
kecerdasan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.
1. https://www.manfaat.id/buah/jambu-air/#3_Membantu_menghambat_proses_penuaan_dini
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Jambu_air
3. http://www.pepper.ph/7-local-fruits-origin/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar