Kamis, 21 Desember 2017

Legenda ke-7 ASAL-USUL KAKI TIPIS LABA-LABA

MENGAPA LABA-LABA BERDELAPAN KAKI TIPIS
(Penulis: Titin Harti Hastuti)

Di hutan Afrika pernah hidup seekor laba-laba bernama Anansi.  Anansi memiliki delapan kaki yang besar dan tidak sekecil sekarang.
Istri Anansi sangat pandai memasak dan dikenal sebagai juru masak yang baik. Akan tetapi sangat disayangkan, Anansi memiliki sifat buruk.  Ia selalu ingin mencicipi makanan yang dibuat oleh istrinya untuk keluarga tetangga mereka.
“Istriku, jangan lupa bawakan masakan yang kau buat. Aku ingin menikmati masakanmu yang lezat,” pesan Anansi pada istrinya hampir tiap hari.
Istrinya selalu memenuhi permintaan Anansi.  Namun tanpa mereka sadari kebiasaan itu menumbuhkan sifat malas pada diri Anansi.  Hingga muncullah ide buruk, yang kelak akan mencelakainya.
Suatu ketika, Anansi merasa jemu bekerja. Ia memiliki ide untuk mendapatkan makanan gratis tanpa harus bekerja.  Anansi berhenti bekerja dari keluarga Kelinci.  Padahal kelinci itu teman baiknya.
Anansi mencium sayuran hijau yang dimasak di dapur keluarga Kelinci.
“Aha…kau memasak sayur hijau rupanya,” Anansi berteriak penuh semangat. 
“Sayurnya belum selesai dimasak, Anansi.  Tunggulah di sini bersamaku sampai sayurannya masak,” jawab Kelinci
“Saya sangat senang dengan tawaranmu, Kelinci.  Sayangnya aku ada pekerjaan lain.”  Anansi berdalih. 
‘Kalau aku tinggal bersama Kelinci untuk menunggu sayurnya masak, pasti ia akan menyuruh aku bekerja.’ Anansi membatin.
“Lalu apa yang dapat kulakukan supaya kau dapat makan bersamaku?”  Kelinci menawarkan niat baiknya.
"Aku akan mengikatkan jaring untuk menghubungkan satu ujung kakiku dengan ujung alat masak kamu.  Bila sayurnya sudah masak, kamu dapat menarik jaring ini. Aku akan segera kemari.”
“Ide yang sangat bagus, aku akan melakukannya.” 
Di tengah perjalanan pulang dari rumah keluarga Kelinci, Anansi diundang oleh keluarga Monyet untuk makan di rumah mereka.  Anansi mencium masakan kacang yang sangat lezat.  Tak disia-siakannya tawaran keluarga Monyet itu.
“Baiklah Monyet aku terima tawaranmu.”
“Tapi masakan belum selesai, tunggulah sebentar.”
“Aku tidak punya waktu, bagaimana kalau aku ikatkan jaring di ujung kakiku dan ujung panci kamu?  Jika masakan sudah selesai tarik jaring ini, dan aku akan datang”
“Ide brilian, aku akan melakukannya.” Monyet berjanji akan memberitahu Anansi bila sayur kacang sudah selesai dimasak.  Tentu dengan cara menarik jaring penghubung.
Tak berapa lama Anansi mencium aroma lezat masakan di keluarga Tupai, tetangga dekatnya.  Seperti biasa Anansi begitu berani menanyakan apa yang dimasak tetangganya.
Demikian berkali-kali ia mencium bahkan sengaja mengendus aroma masakan para tetangganya. Saat itu juga ia diminta untuk turut makan oleh tetangganya.
“Aku mencium ubi jalar di keluarga Angsa" “Aku mencium kentang manis dan madu di keluarga Rubah” “Wah, ada masakan jagung manis keju di keluarga Kucing” “Nampaknya ada kue lapis di keluarga Merpati” “Hmm, ada masakan sop macaroni di keluarga Kancil”
Demikianlah ada delapan keluarga yang belum selesai memasak.  Karena tiap jenis masakan yang belum masak itu dihubungkan dengan kakinya, maka ada delapan jaring yang  yang diikat pada kaki Anansi.
Tak sabar Anansi menunggu jaring di kakinya ditarik tanda masakan sudah siap.  Ia sangat bangga dengan idenya yang menurutnya sangat cerdas.
‘Kira-kira siapa yang akan memanggilku lebih dulu, ya?’  tanya Anansi dalam hati
Sesampai di tepi sungai, Anansi merasakan tarikan di kakinya.
" Ah, ini tali jaring yang terikat pada keluarga Kelinci. Aku akan makan sayur hijau kesukaanku.”
Namun sesuatu yang membingungkan terjadi.  Semua jaring ditarik satu persatu saling susul, jaring ke-2, 3, 4 hingga 8.   Tarikan dimulai dari keluarga Kelinci, Tupai, Monyet, Angsa, Rubah, Kucing, Merpati dan Kancil.
 “Aduh bagaimana ini, semua keluarga memanggilku.  Mana yang harus aku dahulukan?”
Tarikan kedelapan jaring itu terasa makin kuat.  Anansi terguling ke dalam sungai.
Kuat dan lamanya tarikan membuat kaki Anansi memanjang dan mengecil.
“Oh, tidak ……!!! Apa yang terjadi denganku?”  Anansi berteriak tak percaya.  Semua sungguh di luar dugaan dan harapannya.
Hari itu ia tidak menerima makanan apapun.  Sebaliknya justru kakinya terulur menjadi panjang dan tipis.
Delapan kaki panjang dan tipis itu diwariskan turun- temurun dari generasi ke generasi laba-laba, hingga sekarang.

Pesan Moral:
Jangan pernah malas dalam bekerja
Jangan mau mendapatkan sesuatu tanpa pengorbanan, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.
Sebelum memutuskan sesuatu hendaklah dipertimbangkan masak-masak agar tidak menimbulkan masalah dan penyesalan di kelak kemudian hari
 Referensi:

Lin Donn. “Why Anansi Has Eight Thin Legs”.  http://africa.mrdonn.org/anansi.html (diakses tanggal 16 Desember 2017)

Rinoko. “10 Fakta Unik Laba-Laba.”  https://www.facebook.com/permalink.php?id=424543870971044&story_fbid=450632125028885 (diakses tanggal 16 Desember 2017)

Fakta Unik:
Laba-laba tergolong dalam hewan berbuku-buku  (arthropoda), dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki dan tak bersayap
Laba-laba tidak memiliki mulut pengunyah, memiliki kaki delapan, tidak semua dapat menghasilkan jaring penangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera (helaian serat protein yang tipis namun kuat)


Link: Anonim.”Laba-Laba”  https://id.wikipedia.org/wiki/Laba-laba. (diakses tanggal 16 Desember 2017)

1 komentar:

  1. William Hill Betting Locations | Mapyro
    Find William Hill worrione.com sports betting 출장안마 locations in Maryland, West Virginia, Indiana, Pennsylvania, South Dakota, West หาเงินออนไลน์ Virginia 메이피로출장마사지 and aprcasino more. BetRivers.com.

    BalasHapus