Kamis, 21 Desember 2017

Legenda ke-6 ASAL USUL LIDAH ULAR BERCABANG (NEPAL)

ASAL-USUL LIDAH ULAR BERCABANG
(Ditulis oleh:Titin Harti Hastuti)

Dikisahkan pada masa awal penciptaan hewan di muka bumi, setelah penciptaan tumbuh-tumbuhan, hiduplah  seekor burung garuda yang sangat menyayangi ibunya.  Apapun yang diinginkan Sang Ibu, Garuda Muda selalu mengikutinya.
“Anakku, tolong  sisiri bulu leber belakang Ibu.  Aku sudah tua dan sulit menyisir bulu bagian belakangku,” Suatu hari Sang Ibu meminta dengan suara parau.  Usianya yang makin lanjut, mengguratkan kelelahan di wajahnya.
“Baik Bu,” Garuda Muda menyisir bulu leher belakang ibunya. Bahkan dengan, hati-hati dan lembut  ia menyisir rata bulu sang ibu.  Ia teringat benar betapa sang ibu begitu kasih dan sayang padanya dari sejak kecil bahkan hingga kini.
Suatu ketika, Garuda Muda kehilangan Sang Ibu. Dicarinya kesana kemari, tetapi tak jua ia temukan. 
“Ibu…dimanakah ibu berada?  Ini, aku, anakmu, sangat kehilangan Ibu.” Garuda Muda berteriak sedih.  Terbang dengan tinggi kemudian menukik, terbang lagi hinggap di atas dahan pohon-pohon hutan.  Hanya satu harapannya bertemu dengan Sang Ibu.
Tujuh hari pencarian Garuda Muda tak membuahkan hasil. Diputuskannya untuk bertanya pada kawan-kawan sesama  penghuni hutan. Pertama kali ditemuinya rusa yang sedang memakan rumput dengan lahapnya.
“Wahai Rusa yang baik hati. Aku sudah tujuh hari kehilangan Ibuku.  Aku  mencari terbang kian kemari.  Namun  tak jua ketemukan ibuku.” 
“Wah, Garuda Muda kau memang anak yang berbakti.  Maafkan aku tidak bisa memberitahukan keberadaan ibumu.  Aku tidak melihatnya.  Tetapi cobalah bertanya pada Ular Kudra.  Beberapa hari ini tingkahnya agak mencurigakan.  Sepertinya Ular Kudra menyembunyikan sesuatu.” 
Garuda Muda pergi dengan menggenggam satu harapan.  Ia akan mendapat informasi penting dari ular Kudra.  Sebelum menemui ular Kudra, Garuda Muda memeriksa sekitar sarang ular Kudra.  Ternyata benar dugaan Rusa.  Terlihat dari kejauhan Ibu Garuda tertawan di sarang ular Kudra.  Ia ingin segera membebaskan Sang Ibu.  Akan tetapi penjagaan ketat menghalangi niatnya.   Ia khawatir keselamatan dirinya dan terutama  ibunya  terancam oleh ular-ular berbisa penjaga sarang itu. 
Keberadaan Garuda Muda tercium juga oleh ular Kudra.
“Aku tahu kau datang kemari pasti untuk membebaskan ibumu,” ujar ular Kudra
“Ular Kudra, aku tidak pernah rela kalau kau menyakiti ibuku barang segores pun.  Ayo segera bebaskan ibuku!!”   Garuda Muda meminta dengan geram
“Tidak semudah itu.  Aku akan membebaskan ibumu dengan syarat kau mengambilkan guci air Amrita.  Guci itu dijaga ratusan Dewa.  Disimpan di Kerajaan Bulan.  Barang siapa yang meminumnya maka ia akan hidup abadi     Begitu kamu serahkan guci Amrita padaku, Ibumu akan aku bebaskan”
Demi membahagiakan Sang Ibu, tanpa pikir panjang dipenuhinya syarat itu.  Tugas baru menanti, Garuda Muda terbang menuju bulan.
“Wahai para Dewa, mohon kiranya aku bisa membawa guci Amrita, agar aku bisa membebaskan ibuku dari ular Kudra.”  Garuda Muda mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya pada para Dewa penjaga
“Tidak bisa Garuda Muda.  Air ini bukan untuk penghuni bumi.  Banyak yang akan menyalahgunakan air ini.”
Meskipun sedih dengan keputusan para Dewa, Garuda Muda tidak putus asa Dengan sangat terpaksa Garuda Muda bertarung  dengan seratus Dewa penjaga.  Garuda Muda berhasil mendapatkannya. Dengan jurus Halimun ia dapat menyamarkan dirinya dari pengelihatan para dewa.
Garuda Muda segera menemui ular Kudra dan memberikan guci Amrita.
“Ular Kudra, aku telah berhasil mendapatkan guci ini. Kembalikan ibuku sekarang juga.”
Ular Kudra melepas Ibu Garuda.  Mereka berpelukan penuh haru dan kesyukuran. 
Kini guci Amrita berada di tangan ular Kudra.  Ia sangat ingin untuk hidup abadi di bumi.  Tetapi belum sempat ia meminum air Amrita, Dewa penjaga berdatangan untuk mengambil guci Amrita.
“Ular Kudra, kau tidak berhak minum air ini.  Kau tidak bisa menolak takdirmu untuk menjalani kefanaanmu.”
“Aku akan mempertahankannya sekemampuanku,  wahai para Dewa.  Bagaimanapun aku ingin seperti kalian yang hidup abadi”
Pertarungan terjadi.  Para Dewa berhasil merebut Guci Amrita. Namun sebagian air Amrita terpercik dari wadahnya, jatuh di rerumputan.
Ambisinya untuk berumur panjang membuatnya menjilati percikan air.  Tidak peduli rerumputan itu berdaun tajam.
“Ah….lidahku terbelah,” ular Kudra mengerang kesakitan.
Akibat dari perbuatannya itu lidah ular bercabang.  Turun temurun hingga kini, ular memiliki lidah bercabang.

Pesan Moral:
Taati dan kasihi ibu dengan tulus.  Sesungguhnya kasih ibu padamu sangat besar dan tak terbalaskan
Ambisi yang besar tanpa pertimbangan akal sehat bisa mencelakai diri sendiri
Fakta Unik:
Ular merupakan kelas reptilia tanpa kaki dan bertubuh panjang,  memiliki sisik sehingga digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata).
Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga, matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan di sekelilingnya, namun tidak dapat memfokuskan pandangannya. 
(    Anonim. “Ular”. https://id.wikipedia.org/wiki/Ular. Diakses tanggal 14 Desember 2017)

Sumber referensi kisah:
Astri Damayanti. “Lidah Ular Bercabang” http://www.bukuanak.id/search/label/Cerita%20Dunia (diakses tanggal 12 Desember 2017)
Wahyu Candra. Cerita Dongeng Binatang : Mengapa Lidah Ular Bercabang ! https://www.sewarga.com/2017/09/22/cerita-dongeng-binatang-mengapa-lidah-ular-bercabang/ (diakses tanggal 13 Desember 2017)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar