ASAL-USUL LIDAH ULAR BERCABANG
(Ditulis oleh:Titin Harti Hastuti)
Dikisahkan pada masa awal penciptaan
hewan di muka bumi, setelah penciptaan tumbuh-tumbuhan, hiduplah seekor burung garuda yang sangat menyayangi
ibunya. Apapun yang diinginkan Sang Ibu,
Garuda Muda selalu mengikutinya.
“Anakku, tolong sisiri bulu leber belakang Ibu. Aku sudah tua dan sulit menyisir bulu bagian
belakangku,” Suatu hari Sang Ibu meminta dengan suara parau. Usianya yang makin lanjut, mengguratkan
kelelahan di wajahnya.
“Baik Bu,” Garuda Muda menyisir bulu
leher belakang ibunya. Bahkan dengan, hati-hati dan lembut ia menyisir rata bulu sang ibu. Ia teringat benar betapa sang ibu begitu
kasih dan sayang padanya dari sejak kecil bahkan hingga kini.
Suatu ketika, Garuda Muda kehilangan
Sang Ibu. Dicarinya kesana kemari, tetapi tak jua ia temukan.
“Ibu…dimanakah ibu berada? Ini, aku, anakmu, sangat kehilangan Ibu.”
Garuda Muda berteriak sedih. Terbang
dengan tinggi kemudian menukik, terbang lagi hinggap di atas dahan pohon-pohon
hutan. Hanya satu harapannya bertemu
dengan Sang Ibu.
Tujuh hari pencarian Garuda Muda tak
membuahkan hasil. Diputuskannya untuk bertanya pada kawan-kawan sesama penghuni hutan. Pertama kali ditemuinya rusa
yang sedang memakan rumput dengan lahapnya.
“Wahai Rusa yang baik hati. Aku sudah
tujuh hari kehilangan Ibuku. Aku mencari terbang kian kemari. Namun
tak jua ketemukan ibuku.”
“Wah, Garuda Muda kau memang anak yang
berbakti. Maafkan aku tidak bisa
memberitahukan keberadaan ibumu. Aku tidak
melihatnya. Tetapi cobalah bertanya pada
Ular Kudra. Beberapa hari ini tingkahnya
agak mencurigakan. Sepertinya Ular Kudra
menyembunyikan sesuatu.”
Garuda Muda pergi dengan menggenggam
satu harapan. Ia akan mendapat informasi
penting dari ular Kudra. Sebelum menemui
ular Kudra, Garuda Muda memeriksa sekitar sarang ular Kudra. Ternyata benar dugaan Rusa. Terlihat dari kejauhan Ibu Garuda tertawan di
sarang ular Kudra. Ia ingin segera
membebaskan Sang Ibu. Akan tetapi
penjagaan ketat menghalangi niatnya. Ia
khawatir keselamatan dirinya dan terutama
ibunya terancam oleh ular-ular
berbisa penjaga sarang itu.
Keberadaan Garuda Muda tercium juga oleh
ular Kudra.
“Aku tahu kau datang kemari pasti untuk
membebaskan ibumu,” ujar ular Kudra
“Ular Kudra, aku tidak pernah rela kalau
kau menyakiti ibuku barang segores pun.
Ayo segera bebaskan ibuku!!” Garuda
Muda meminta dengan geram
“Tidak semudah itu. Aku akan membebaskan ibumu dengan syarat kau
mengambilkan guci air Amrita. Guci itu
dijaga ratusan Dewa. Disimpan di Kerajaan
Bulan. Barang siapa yang meminumnya maka
ia akan hidup abadi Begitu kamu
serahkan guci Amrita padaku, Ibumu akan aku bebaskan”
Demi membahagiakan Sang Ibu, tanpa pikir
panjang dipenuhinya syarat itu. Tugas
baru menanti, Garuda Muda terbang menuju bulan.
“Wahai para Dewa, mohon kiranya aku bisa
membawa guci Amrita, agar aku bisa membebaskan ibuku dari ular Kudra.” Garuda Muda mengungkapkan kesulitan yang
dihadapinya pada para Dewa penjaga
“Tidak bisa Garuda Muda. Air ini bukan untuk penghuni bumi. Banyak yang akan menyalahgunakan air ini.”
Meskipun sedih dengan keputusan para Dewa,
Garuda Muda tidak putus asa Dengan sangat terpaksa Garuda Muda bertarung dengan seratus Dewa penjaga. Garuda Muda berhasil mendapatkannya. Dengan
jurus Halimun ia dapat menyamarkan dirinya dari pengelihatan para dewa.
Garuda Muda segera menemui ular Kudra
dan memberikan guci Amrita.
“Ular Kudra, aku telah berhasil
mendapatkan guci ini. Kembalikan ibuku sekarang juga.”
Ular
Kudra melepas Ibu Garuda. Mereka berpelukan
penuh haru dan kesyukuran.
Kini
guci Amrita berada di tangan ular Kudra.
Ia sangat ingin untuk hidup abadi di bumi. Tetapi belum sempat ia meminum air Amrita, Dewa
penjaga berdatangan untuk mengambil guci Amrita.
“Ular Kudra, kau tidak berhak minum air
ini. Kau tidak bisa menolak takdirmu
untuk menjalani kefanaanmu.”
“Aku akan mempertahankannya
sekemampuanku, wahai para Dewa. Bagaimanapun aku ingin seperti kalian yang
hidup abadi”
Pertarungan terjadi. Para Dewa berhasil merebut Guci Amrita. Namun
sebagian air Amrita terpercik dari wadahnya, jatuh di rerumputan.
Ambisinya untuk berumur panjang
membuatnya menjilati percikan air. Tidak
peduli rerumputan itu berdaun tajam.
“Ah….lidahku terbelah,” ular Kudra
mengerang kesakitan.
Akibat dari perbuatannya itu lidah ular
bercabang. Turun temurun hingga kini,
ular memiliki lidah bercabang.
Pesan
Moral:
Taati
dan kasihi ibu dengan tulus.
Sesungguhnya kasih ibu padamu sangat besar dan tak terbalaskan
Ambisi
yang besar tanpa pertimbangan akal sehat bisa mencelakai diri sendiri
Fakta
Unik:
Ular merupakan kelas reptilia tanpa kaki dan
bertubuh panjang, memiliki sisik sehingga
digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata).
Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga,
matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat
gerakan di sekelilingnya, namun tidak dapat memfokuskan pandangannya.
( Anonim. “Ular”.
https://id.wikipedia.org/wiki/Ular.
Diakses tanggal 14 Desember 2017)
Sumber
referensi kisah:
Astri
Damayanti. “Lidah Ular Bercabang” http://www.bukuanak.id/search/label/Cerita%20Dunia
(diakses tanggal 12 Desember 2017)
Wahyu
Candra. Cerita Dongeng Binatang : Mengapa Lidah Ular Bercabang !
https://www.sewarga.com/2017/09/22/cerita-dongeng-binatang-mengapa-lidah-ular-bercabang/
(diakses tanggal 13 Desember 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar