MENGAPA
LABA-LABA BERDELAPAN KAKI TIPIS
(Penulis: Titin
Harti Hastuti)
Di hutan Afrika pernah hidup seekor
laba-laba bernama Anansi. Anansi
memiliki delapan kaki yang besar dan tidak sekecil sekarang.
Istri Anansi sangat pandai memasak dan
dikenal sebagai juru masak yang baik. Akan tetapi sangat disayangkan, Anansi
memiliki sifat buruk. Ia selalu ingin
mencicipi makanan yang dibuat oleh istrinya untuk keluarga tetangga mereka.
“Istriku, jangan lupa bawakan masakan yang
kau buat. Aku ingin menikmati masakanmu yang lezat,” pesan Anansi pada istrinya
hampir tiap hari.
Istrinya selalu memenuhi permintaan
Anansi. Namun tanpa mereka sadari
kebiasaan itu menumbuhkan sifat malas pada diri Anansi. Hingga muncullah ide buruk, yang kelak akan
mencelakainya.
Suatu ketika, Anansi merasa jemu
bekerja. Ia memiliki ide untuk mendapatkan makanan gratis tanpa harus
bekerja. Anansi berhenti bekerja dari
keluarga Kelinci. Padahal kelinci itu
teman baiknya.
Anansi mencium sayuran hijau yang
dimasak di dapur keluarga Kelinci.
“Aha…kau memasak sayur hijau rupanya,”
Anansi berteriak penuh semangat.
“Sayurnya belum selesai dimasak,
Anansi. Tunggulah di sini bersamaku
sampai sayurannya masak,” jawab Kelinci
“Saya sangat senang dengan tawaranmu,
Kelinci. Sayangnya aku ada pekerjaan
lain.” Anansi berdalih.
‘Kalau aku tinggal bersama Kelinci untuk
menunggu sayurnya masak, pasti ia akan menyuruh aku bekerja.’ Anansi membatin.
“Lalu apa yang dapat kulakukan supaya
kau dapat makan bersamaku?” Kelinci
menawarkan niat baiknya.
"Aku akan mengikatkan jaring untuk
menghubungkan satu ujung kakiku dengan ujung alat masak kamu. Bila sayurnya sudah masak, kamu dapat menarik
jaring ini. Aku akan segera kemari.”
“Ide yang sangat bagus, aku akan
melakukannya.”
Di tengah perjalanan pulang dari rumah
keluarga Kelinci, Anansi diundang oleh keluarga Monyet untuk makan di rumah
mereka. Anansi mencium masakan kacang
yang sangat lezat. Tak disia-siakannya
tawaran keluarga Monyet itu.
“Baiklah Monyet aku terima tawaranmu.”
“Tapi masakan belum selesai, tunggulah
sebentar.”
“Aku tidak punya waktu, bagaimana kalau aku
ikatkan jaring di ujung kakiku dan ujung panci kamu? Jika masakan sudah selesai tarik jaring ini,
dan aku akan datang”
“Ide brilian, aku akan melakukannya.”
Monyet berjanji akan memberitahu Anansi bila sayur kacang sudah selesai
dimasak. Tentu dengan cara menarik
jaring penghubung.
Tak berapa lama Anansi mencium aroma
lezat masakan di keluarga Tupai, tetangga dekatnya. Seperti biasa Anansi begitu berani menanyakan
apa yang dimasak tetangganya.
Demikian berkali-kali ia mencium bahkan
sengaja mengendus aroma masakan para tetangganya. Saat itu juga ia diminta untuk
turut makan oleh tetangganya.
“Aku mencium ubi jalar di keluarga
Angsa" “Aku mencium kentang manis dan madu di keluarga Rubah” “Wah, ada
masakan jagung manis keju di keluarga Kucing” “Nampaknya ada kue lapis di
keluarga Merpati” “Hmm, ada masakan sop macaroni di keluarga Kancil”
Demikianlah ada delapan keluarga yang
belum selesai memasak. Karena tiap jenis
masakan yang belum masak itu dihubungkan dengan kakinya, maka ada delapan
jaring yang yang diikat pada kaki Anansi.
Tak sabar Anansi menunggu jaring di
kakinya ditarik tanda masakan sudah siap.
Ia sangat bangga dengan idenya yang menurutnya sangat cerdas.
‘Kira-kira siapa yang akan memanggilku
lebih dulu, ya?’ tanya Anansi dalam hati
Sesampai di tepi sungai, Anansi
merasakan tarikan di kakinya.
" Ah, ini tali jaring yang terikat
pada keluarga Kelinci. Aku akan makan sayur hijau kesukaanku.”
Namun sesuatu yang membingungkan
terjadi. Semua jaring ditarik satu
persatu saling susul, jaring ke-2, 3, 4 hingga 8. Tarikan dimulai dari keluarga Kelinci, Tupai,
Monyet, Angsa, Rubah, Kucing, Merpati dan Kancil.
“Aduh bagaimana ini, semua keluarga
memanggilku. Mana yang harus aku
dahulukan?”
Tarikan kedelapan jaring itu terasa
makin kuat. Anansi terguling ke dalam
sungai.
Kuat dan lamanya tarikan membuat kaki
Anansi memanjang dan mengecil.
“Oh, tidak ……!!! Apa yang terjadi
denganku?” Anansi berteriak tak percaya. Semua sungguh di luar dugaan dan harapannya.
Hari itu ia tidak menerima makanan apapun. Sebaliknya justru kakinya terulur menjadi
panjang dan tipis.
Delapan kaki panjang dan
tipis itu diwariskan turun- temurun dari generasi ke generasi laba-laba, hingga
sekarang.
Pesan Moral:
Jangan pernah malas dalam bekerja
Jangan mau mendapatkan sesuatu tanpa
pengorbanan, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.
Sebelum memutuskan sesuatu hendaklah
dipertimbangkan masak-masak agar tidak menimbulkan masalah dan
penyesalan di kelak kemudian hari
Referensi:
Lin Donn. “Why Anansi Has Eight Thin Legs”. http://africa.mrdonn.org/anansi.html (diakses
tanggal 16 Desember 2017)
Rinoko. “10 Fakta Unik Laba-Laba.”
https://www.facebook.com/permalink.php?id=424543870971044&story_fbid=450632125028885 (diakses tanggal 16 Desember 2017)
Fakta
Unik:
Laba-laba tergolong
dalam hewan berbuku-buku (arthropoda), dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki dan tak bersayap
Laba-laba tidak
memiliki mulut pengunyah, memiliki kaki delapan, tidak semua dapat menghasilkan
jaring penangkap mangsa, akan tetapi semuanya
mampu menghasilkan benang sutera (helaian serat protein
yang tipis namun kuat)
Link:
Anonim.”Laba-Laba” https://id.wikipedia.org/wiki/Laba-laba.
(diakses tanggal 16 Desember 2017)
William Hill Betting Locations | Mapyro
BalasHapusFind William Hill worrione.com sports betting 출장안마 locations in Maryland, West Virginia, Indiana, Pennsylvania, South Dakota, West หาเงินออนไลน์ Virginia 메이피로출장마사지 and aprcasino more. BetRivers.com.