Senin, 25 Februari 2019

LEGENDA KE-32 ASAL MULA NAGA (Cina)


LEGENDA KE-32 ASAL MULA NAGA

KISAH:

            Di sebuah pedesaan yang asri,  dikelilingi perbukitan , diantara bukit –bukit itu terhampar padang rumput yang luas, tinggallah seorang pemuda yang teramat rajin.  Ia senang membantu ibunya,  pemuda itu bernama Liong Yu.
            Tinggal berdua dalam rumah sederhana tidak membuat mereka hilang kebahagiaan.  Liong Yu dan ibunya melewati hidup dengan kasih sayang.
            “Liong Yu, makan dulu.  Ini ibu memasak makanan kesukaanmu.”  Ibu menyodorkan hidangan kesukaannya.
            “Ibu saja yang makan, aku sudah makan di rumah Hieun Tse.  Dia mengadakan pesta hari ini.”
            “Ayolah Liong Yu, makanan itu juga hasil keringat kamu.  Ibu menukar beras dengan sekerat daging untuk kari ini.”
            Liong Yu tidak bisa menolak ajakan ibunya.  Keduanya tampak harmonis tinggal di rumah kecil itu
            Keseharian Liong Yu diisi dengan bekerja mencari rumput untuk Hieun Tse, petani kaya dengan banyak lahan dan ternak.
            “Liong Yun, ini beras untuk upah kerja kerasmu hari ini.”  Hieun Tse memberikan sekantung beras yang cukup untuk makan hari ini dan menukar sebagiannya dengan lauk pauk.
            “Terima kasih, Tuan  Hieun Tse,” balas Liong Yu.  Liong Yu pulang dengan riang.  Begitulah hari-hari dilaluinya dengan mencari rumput, pulang, menyerahkan hasil merumputnya dan beristirahat.
            Suatu ketika, negeri itu dilanda kekeringan.  Hujan tak mau menyapa hingga beberapa tahu.  Akhirnya rerumputan pun kering. 
            Liong Yu kebingungan hendak mencari rumput ke mana., sementara persediaan beras dan bahan makanan di rumahnya hampir habis.  Liong Yu tidak mau menyerah, ia terus berjalan mencari rumput.  Hingga pandangannya menyambangi hamparan rumput hijau di balik bukit.
            “Luar biasa, ternyata di sini masih ada rumput hijau.  Aku akan mengambil rumput di sini tiap hari.”  Liong Yu mulai merumput dan….. “Benda apa ini.  Indah sekali, berkilauan dan penuh warna.”  Liong Yu mengan bil benda seperti manik-manikitu dan membawanya pulang.
            Di rumahnya, ia tidak menyampaikan manik-manik yang ditemukannya pada sang ibu.  Ia menyimpannya pada wadah beras upah kerjanya.
            Saat Liong Yu hendak menuangkan beras upahnya ke dalam  kendi, ia terheran-heran.  Karena kendinya penuh terisi beras.  Diamatinya keajaiban yang terjadi di rumahnya itu. 
            “Aku yakin.  Manik-manik ini  yang membuat berasnya tak habis bahkan bisa dinikmati banyak orang.”  Liong Yu mulai memenghadiahkan beras itu pada warga.  Ia tidak lagi mencari rumput untuk Hieun Tse.  Warga pun merasa senang kecuali para petani dan juga Hieun Tse.
            Hieun Tse mulai kebingungan dengan ternaknya yang kelaparan. Ia membujuk Liong Yu untuk tetap merumput dengan upah yang lebih besar.
            “Ayolah, Liong Yu.  Tetaplah merumput untuk sapi-sapiku.  Aku akan memberimu upah lima kali lipat dari biasanya.”
            “Tidak Tuan, saya sudah lelah bekerja.  Saya kini bisa dengan mudah mendapatkan beras.  Bahkan saya bisa membagikan beras itu untuk warga yang kesusahan selama musim kering ini.
            Dalam perbincangan itu akhirnya, rahasia tentang manik-manik  terbongkar juga.  Hieun Tse berminat untuk membelinya dengan harga yang sangat mahal.
            “Aku akan merelakan semua lahan pertanian, ternak dan rumah saya, asalkan kau mau menyerahkan manic-manik itu.”
            “Tidak Tuan, manik-manik itu telah melepaskan saya dari segala kesulitan hidup.”
Hieun Tse pulang dengan rasa kecewa.  Dalam hatinya ia berniat untuk mencuri manik-manik itu.
            Malam harinya, Hieun Tse menyatroni rumah Liong Yu.  Ia mengendap-endap masuk kamar yang sempit itu.  Tanpa sengaja Hieun Tse menginjak sesuatu yang menimbulkan suara gaduh.
            Liong Yu terbangun dan kaget dengan sosok bertopeng.  Dari perawakannya ia yakin bahwa sosok itu adalah Hieun Tse.
            “Tuan Hieun Tse, untuk apa Tuan kemari.  Apa hanya sekedar mendapatkan manic-manik itu?”
            “Berikan manik-manik itu padaku atau jiwamu akan terancam.”  Hieun Tse mengarahkan senjata pada Liong Yu.
            “Baiklah, Tuan.  Tapi permintaan saya, janganlah Tuan celakai saya.”  Liong Yu menuju kendi tempat penyimpanan beras. 
            Tiba-tiba Liong Yu berpikir, bahwa dengan menelan manik-manik itu  dan semua akan baik-baik saja.
            Di luar dugaannya,  manik-manik itu  bergolak dan menimbulkan rasa pana yang luar biasa pada tubuh Liong Yu.  Rasa haus tidak dapat ditahannya.  Liong Yu lari menuju sungai dan danau kemudian meminum semua airnya.  Tapi rasa haus itu tidak juga hilang bahkan rasa haus makin menjadi.  Bara api tersembur dari mulut Liong Yu disertai perubahan bentuk dan wujudnya. 
            Liong Yu menjadi seekor binatang besar berkaki empat,  Berkepala ular dengan rumbai-rumbai  dan sisik yang memenuhi tubuhnya.  Dengan keadaan yang mengerikan itu, warga mengusirnya menjauhi kampung dan menjadi seekor ular naga.
            Hingga saat ini, orang-orang Cina menyebut ular naga dengan kata Liong atau Lung.

HIKMAH
1.  Jadikan kerja keras menjadi semangat hidup untuk bisa bertahan dalam keadaan mudah maupun susah, karena tiap tetes keringatlebih berharga di sisi Allah SWT daripada hasil dari tetesan keringat itu sendiri
2.  Janganlah terlena dengan sesuatu yang bisa dengan mudah kita dapatkan. 
3.  Kadang mendapatkan sesuatu tanpa banyak pengorbanan membawa risiko besar di luar perkiraan kita..

FAKTA ILMIAH:
            Dalam khazanah ilmu keislaman, naga merupakan makhluk ghaib yang memiliki tugas menjaga istanaIiblis.  Bahkan ular naga berkolaborasi dengan Iblis untuk memerdaya Adam dan Hawa.  Iblis memasuki surge dengan bersembunyi di mulut ular naga.  Ular naga digambarkan sebagai ular yang berbentuk semacam unta berkaki empat namun berpenampilan cantik.
            Sebagian orang menganggap bahwa Komodo adalah wujud yang paling dekat dengan ular naga.  Ada beberapa alasan orang  berpandangan demikian.  Komodo merupakan reptile tertua bahkan masuk dalam binatang purba yang masih ada di muka bumi sejak jutaan tahun yang lalu.  Komodo memiliki kulit bersisik dan tergolong binatang buas yang dapat memakan mangsa melebihi berat badannya dan bertahan tidak makan dalam beberapa pekan.  Kecepatan menangkap mangsa pun cukup fantastis untuk seekor roptil, 29 km/jam.
             Nah, sampai saat ini umumnya naga dianggap sebagai binatang mitos.  Naga adalah reptile berkaki empat seolah kadal raksasa, akan tetapi memiliki sayap, dapat terbang dan bisa menyemburkan api dari mulutnya.
            Masing-masing negara memiliki imajinasi yang beragam tentang naga ini.  Oleh karena itu penamaan dan gambaran wujudnya beraneka ragam.  Di inggris naga mendapat julukan dragon, di Skandinavia, namanya draken sedangkan di Cina disebut Liong atau Lung. 
            Sebagai contoh tentang keunikan imajinasi tentang naga ada di masyarakat Dayak Kalimantan.  Naga adalah binatang di bawah air atau tanah yang bertumbuh tambun, bersisik semacam ular dan memiliki kaki empat.



Rabu, 20 Februari 2019

LEGENDA KE-31 BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA

LEGENDA BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA
by: Khadijah Hanif

Berabad-abad yang lalu, Cina masih didominasi oleh daerah pedesaan.  Mereka hidup tenang damai sebagai petani.  Musim semi hingga musim panas tiba adalah saat mereka bertanam, sedangkan musim gugur adalah masa panen.  Musim dingin adalah saat jeda mereka dari bertani dan digunakan untuk istirahat.  Persediaan panen merega gunakan memenuhi kebutuhan di musim itu.

Yang dicemaskan oleh penduduk desa adalah hadirnya Nian, makhluk jahat yang mengganggu mereka setiap musim dingin tiba.

“Inilah saat yang aku tunggu, musim salju.  Aku akan memasuki desa dan mendapatkan mangsaku.” 

Nian selalu bersiap keluar dari persembunyiannya untuk menakuti warga dengan lima tanduk tajam di kepalanya.  Cakar tajam di tangan, juga gigi yang siap mencabik siapapun yang ditemuinya.  Aumannya dan hentakan kakinya lebih menyeramkan dari binatang buas manapun.  Kaki besarnya siap menginjak rumah dan meratakannya dengan tanah.  Bila dijumpai ada manusia maka ia akan menyantapnya bak ayam mengais cacing kesukaannya.

Warga pedesaan pun selalu berusaha lari menghindar atau bersembunyi ke tempat yang di rasa aman.
“Ampun, Nian.  Jangan kau mangsa aku.  Aku akan memberikan apa saja yang kamu suka asal jangan aku dan keluargaku.”  Seseorang yang sudah berada di depan mulut nian tak bisa berkutik dan akhirnya tewas.  Mengerikan sekali.

Banyak diantara warga yang mengunci rumahnya. Berdoa memohon perlindungan dari yang Maha Berkuasa.   Bila rumah itu tidak terinjak oleh Nian maka mereka selamat dari Nian.  Mereka berteriak,” Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat!”

Nama Nian ini diberikan oleh warga sebagai penanda tahun baru.  Nian artinya tahun.  Kedatangan Nian yang muncul sekali dalam setahun membuat orang-orang berniat melawannya.  Dengan berbagai cara dan strategi yang mereka musyawarahkan bersama.  Tentu untuk merumuskan langkah penakhlukan terhadap Nian.

“Kita usir ramai-ramai Nian saat dia muncul.”  Salah satu peserta musyawarah berjubah hitam mengusulkan.

“Kalau hanya diusir, ia akan datang lagi.  Sebaiknya kita bunuh saja dia.  Dan kita aman selamanya,” Si Jubah Kuning menyahut.

“Bagaimana akan aman bila kita membunuhnya, sedangkan Nian adalah utusan Tuhan.  Bisa-bisa Tuhan akan memberikan hukuman yang lebih pedih untuk kita,” tukas Si Jubah Hijau.

Pertemuan tidak menghasilkan keputusan dan kata sepakat.  Beruntunglah hadir seorang guru yang bijaksana menenangkan suasana.  Namanya Guru Zhao.

“Tidak mungkin Nian itu utusan Tuhan.  Tuhan Maha Melindungi, Maha Kasih-Sayang.  Dia tidak mungkin mengutus makhluk untuk membunuh dan berbuat keji pada kita.  Percayalah Nian adalah makhluk jahat yang menjadi ujian bagi kita siapa yang mau berjuang menegakkan kebenaran, keadilan dan menjaga nikmat hidup dari Tuhan.”  Guru Zhao menasihati warga dengan bijak.  Tampaknya, warga dapat memahami nasihat Guru Zhao dan muncullah keberanian melawan Nian.

“Betul kata Guru Zhao, kita harus melawan Nian.  Sudah banyak keluarga kita menjadi korban.  Juga rumah dan harta benda kita dirusaknya,” ungkap warga bersahutan.

Musyawarah berlanjut, mengumpulkan informasi, data dan pendapat dari seluruh warga.  Terutama pengalaman warga dalam mengusir Nian.

“Aku pernah membunyikan petasan saat Nian  datang.  Dia langsung kabur dan menghindar dari tempat kami.”  Seorang warga berjubah coklat mengungkap pengalamannya.

“Kalau aku lain lagi, saat Nian datang, aku sedang memakai ikat pinggang merah.  Dia ketakutan sambil menunjuk jari tangan berkuku panjangnya kea rah ikat pinggangku.” Si Jubah Biru menimpali.

“Aku rasa Nian akan takut dengan semua benda berwarna merah.  Beberapa tahun lalu aku memasang lampu dan aku balut dengan kain merah.  Ia tak mau mendekati rumah kami,” tambah seorang pria bertubuh kekar.

Semua menganggukkan kepala, kegirangan seolah menemukan apa yang menjadi kelemahan Nian.

“Nah, kalau pengalamanku, aku bersama kelompok tari Barongsaiku menabuh gong dan tambur bertalu-talu.  Nian tidak mendekati tempat kami dan kamipun selamat,” jelas seorang pemuda desa.

“Syukurlah, pertemuan kita kali ini banyak membawa berkah dan faedah.  Jadi bisa disimpulkan bahwa Nian menakuti warna merah, tari Barongsai dan segala bunyiannya juga suara memekakkan telinga dari petasan.  Menjelang tahun baru yang tinggal beberapa hari ini, kita harus menyiapkan perlawanan pada Nian.  Semua orang harus memasang lampion bertutup kain merah di rumahnya.  Lalu kau anak muda, siapkan kelompok Barongsaimu lengkap dengan gong dan tambur yang mengiringinya.  Satu lagi siapkan petasan sebanyak mungkin untuk memekakkah telinga Nian.”

Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan melawan Nian.  Di sela-sela kesibukan panen pada musim gugur, warga desa menyiapkan semua yang telah disepakati.  Lampion-lampion yang mereka bungkus kain hitam menghiasi rumah tiap rumah.  Menimbulkan keindahan yang tak biasanya.

Hari-hari yang mendebarkan tiba.  Mereka menunggu Nian keluar dari persembunyiannya. Benar saja, begitu muncul sosok mengerikan itu, penduduk desa membunyikan petasa.  Kelompok Barongsai menari dan membunyikan petasan.  Suara menjadi gegap gempita malam itu. 

Nian terkaget-kaget dengan segala hal tidak menyenangkan di depannya.  Hampir saja Nian pingsan dibuatnya.  Sebagian warga yang sudah siap dengan jerat, tombak, pedang, panah dan senjata tajam lainnya tidak mau kehilangan kesempatan terbaik menghabisi petualangan Nian.

“Aduh!!! Tolong jangan kalian binasakan aku.  Aku akan datang dengan kawan-kawanku yang lain bila kalian mencelakaiku.”  Nian mengerang kesakitan.

Tidak ada jalan lain kecuali Nian melarikan diri dari tempat itu.  Dia seakan trauma dengan derita yang dialami malam itu. 
Warga pun berteriak kegirangan merayakan kemenangan mereka,”Gong xi! Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat! Selamat!”

Sejak saat itu, Barongsai, lampion merah, tabuhan gong dan tambur serta bunyi petasan selalu memeriahkan tahun baru Cina. 

HIKMAH:
1.      Tidak ada utusan Tuhan yang berbuat kemungkaran dan penzaliman, maka hilangkan prasangka baik pada mereka yang berbuat di luar keadilan
2.      Guru adalah seseorang yang berilmu dan berakhlak sehingga dengan kebijaksanaannya ia dapat berbuat banyak untuk sesama
3.      Musyawarah meraih mufakat membawa keberkahan dan manfaat
4.      Persatuan kesatuan menjadi kunci perbaikan dan perubahan signifikan untuk kepentingan bersama
5.      Hindarkan penzaliman karena ia akan kembali pada si pelaku kezaliman itu.

FAKTA:
Barongsai adalah tarian tradisional Cina yang mulai muncul pada Dinasti Chin, abad ke-3 sebelum masehi.  Dilestarikan hingga popular pada Dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei), pada tahun 420-589 Masehi.  Kostum yang digunakan memiliki wajah singa dengan warna beraneka ragam.  Kostum ini di dipakai bersama  oleh dua orang untuk mewakili empat kaki singa. Di Cina Barongsai memiliki dua versi.  Versi utara dengan kostum singa bersurai ikal, sementara versi selatan, kostum bersisik dan bertanduk sehingga lebih menyerupai naga.

Tari Barongsai di Indonesia sempat marak bersama perkumpulan Tiong Hoa Koan hingga meletusnya G30S-PKI.  Sejak peristiwa itu Cina tertekan secara budaya dan ideology tapi tidak secara ekonomi.  Sejak reformasi, budaya ini dimunculkan kembali.  Begitu juga dengan tradisi perayaan tahun baru  Cina yang kita kenal dengan IMLEK.

IMLEK sebagai peringatan tahun baru Cina menjadi hari terpenting di Cina.  Mereka memperingati pergantian selama setengah bulan.  Terhitung dari tanggal satu hingga pertengahan bulan, saat bulan purnama.  Tradisi peringatannya beraneka ragam dan  telah bergeser dari tradisi awal Cina.   Pesta kembang api lebih mendominasi daripada Barongsai dan peledakan petasan .  Akan tetapi pemasangan lampion merah justru lebih digunakan untuk menarik keberuntungan dan dipajang sepanjang tahun oleh sebagian masyarakat Tionghoa.
  
REFERENSI:
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek/21/2/2019