ASAL USUL MELAKA
(Titin Harti Hastuti)
Di tahun 1406 hiduplah seorang raja yang bernama Muhammad Iskandar Syah. Awalnya Sang Raja bernama
Parameswara. Seorang raja yang
berasal dari Palembang. Raja Parameswara
melarikan diri dari Palembang karena serangan dari Raja Batara Tamavill yang
memplokamirkan dirinya sebagai kesatria pemberani. Dalam pelariannya, ia bersama 1000 pengikutnya
berlayar menuju Singapura, kemudian menyeberang ke Semenanjung Melayu.
Parameswara dan 1000 pengikutnya menetap
di Sungai Bertam. Orang-orang Seletar yang mendiami kawasan itu mendaulatnya
menjadi raja. Nampaknya mereka mencintai Sang Raja karena sifat arif dan
bijaksananya.
Sang Raja memiliki kegemaran
berburu. Ia mahir dalam memanah dan
melempar lembing. Selain itu Raja
Iskandar juga memiliki kepekaan untuk mengetahui keberadaan binatang buruannya.
Suatu hari Raja Iskandar Syah ditemani
beberapa pengawal berburu ke hutan.
Tentu saja dilengkapi dengan panah, lembing, tombak dan beberapa anjing
pemburu.
“Wahai pengawal, kita harus berhenti
dulu di sini.” Raja Iskandar bertitah.
“Baik Baginda, titah Baginda kami laksanakan,”
jawab para pengawal raja serempak
Raja Iskandar duduk bersila, memejamkan
mata dan menarik nafas dalam-dalam.
Rupanya Sang Raja sedang berkonsentrasi dan menggunakan daya kepekaannya
untuk mencari keberadaan binatang buruan.
Sementara para pengawal berjaga-jaga sambil memegang tali kekang anjing
pemburu.
“Pengawal, kita masih harus berjalan
seratus sihwa ke arah utara. Disana ada air terjun kecil dan semak semak
yang banyak pelanduknya.” Raja Iskandar membuka mata dan bersiap melanjutkan
perjalanan.
Merekapun berjalan sesuai arahan Sang
Raja. Sebuah air terjun kecil setinggi sekitar lima sihwa melengkapi keindahan
pemandangan di tepi hutan. Semak-semak
setinggi pinggang menganti pepohonan tinggi yang mereka jumpai sepanjang
perjalanan. Antara pepohonan dan semak
terpisahkan oleh Sungai Bertam.
“Lepaskan anjing-anjing pemburu kita
dari jembatan ini. Sementara kita
mengawasi dari seberang sungai.”
“Baiklah baginda. Bismillah,” Para pengawal
melaksanakan titah. Mereka melepaskan empat binatang buruan di jembatan Sungai.
Raja Iskandar dan para pengawalnya selalu
mengucap lafadz Basmalah saat melepaskan
panah, lembing, tombak, juga anjing
pemburu. Sebagaimana yang contoh dari Rasulullah SAW. Dengan maksud bila binatang buruannya mati sebelum
sempat disembelih, maka kedudukannya sama dengan penyembelihan dengan menyebut
Asma Allah.
Raja Iskandar dan empat pengawalnya
mengawasi keberadaan binatang buruan dengan senjatanya masing-masing. Panah di tangan Sang Raja. Tombak dan lembing
terhunus di tangan para pengawal.
“Lihat baginda ada seekor burung dara
hutan di atas pohon besar itu.” Seorang pengawal berikat kepala hitam menunjuk
pohon jati besar. Tingginya lebih dari delapan sihwa
“Ya, aku dapat melihatnya. Biar aku panah dengan panah saktiku.”
“Sreett.!!!” Panah itu mengenai sasarannya. Di luar dugaan Raja Iskandar yang tak pernah
meleset bidikannya, kali ini gagal. Burung
itu lebih cepat berkelit sebelum anak panah itu melukainya.
“Luar biasa. Belum pernah aku menemukan binatang-binatng
selincah yang ada di tempat ini.”
Mereka menyusuri tepi sungai sambil
terus mengikuti kearah mana anjing pemburu mereka mencari mangsa.
Sementara itu, di seberang sungai,
anjing-anjing pemburu sedang berusaha melumpuhkan seekor pelanduk.
“Wahai pengawal anjing pemburu kita
menggonggong di samping tebing sungai.”
“Benar Baginda. Nampaknya mereka
menemukan binatang buruan.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita
berenang menyeberangi sungai ini, Baginda?” Pengawal berikat kepala biru
memberikan saran.
“Baiklah. Kita sudah cukup jauh dari jembatan bambu
yang kita temui tadi. Kalau sungai cukup
dalam kita berenang.”
Mereka menyeberangi sungai yang ternyata
tidak terlalu dalam. Hanya sebatas
paha. Mungkin karena mereka berada di
daerah hulu.
Sesampai di tepi sungai, sejauh enam
sihwa, Raja Iskandar berniat membidikkan panahnya pada pelanduk yang sedang
berkelit dengan lincahnya. Akan tetapi
diurungkan niatnya demi melihat keindahan luar biasa di hadapannya.
***
Dua
anjing pemburu sedang mengeroyok seekor pelanduk. Dua ekor lainnya sedang memburu binatang
lain, entah dimana.
“Wahai
pelanduk menyerahlah. Raja kami
menginginkanmu. Kamu pelanduk bertuah lagi mulia.” Anjing
pemburu merayu pelanduk kiranya bisa diserahkan pada Raja Iskandar dengan suka
rela.
“Tidak
wahai anjing pemburu, aku memiliki anak untuk kepelihara dan kubesarkan.”
“Kalau
begitu kami akan menangkapmu.”
Berkali-kali anjing pemburu mengincar
sasaran dan berusaha menerkamnya.
Berkali-kali pula nyaris pelanduk terluka cakaran anjing pemburu.
Tiba-tiba….”Terimalah jurus kibas kaki belalangku.” Pelanduk meloncat tinggi
ke atas sambil melipat kaki belakang dan menendang kepala anjing pemburu hitam.
Anjing pemburu mengerang kesakitan dan terpelanting jatuh ke sungai.
Melihat kawannya terpental, anjing
pemburu putih bersiap menerkam. Akan
tetapi dengan lincah pelanduk bebas melarikan diri ke semak-semak dan menjauh
dari arena pertarungan.
Raja Iskandar dan para pengawal menghela
napas panjang. Baru kali ini mereka
gagal mendapatkan binatang buruan seekor pun.
“Nampaknya kita tidak akan mampu membawa
binatang buruan seekorpun, pengawal.
Binatang-binatang di sini sangat istimewa. Mereka lincah, cekatan dan pemberani” Raja Iskandar tak mampu menyembunyikan rasa
kecewanya
“Apa yang harus kami lakukan untuk
mengobati kekecewaan baginda?” Pengawal
berikat kepala hijau menunduk takzim.
“Kemarilah kalian semua wahai
pengawalku. Kita duduk berkeliling dan
bermusyawarah. Ada hal penting yang akan
aku sampaikan pada kalian.”
Para pengawal dan Raja Iskandar duduk
berkeliling di atas pasir tepi sungai.
Di bawah pohon setinggi langit-langit rumah berdaun kecil-kecil. Terik sinar matahari tengah hari tidak terasa
terhalang rindangnya pohon, ditambah semilir angin perbukitan.
“Aku sangat terkesan dengan keistimewaan
binatang di hutan ini. Aku rasa tempat
ini bertuah. Aku bermaksud menjadikan
kawasan ini sebagai sebuah negeri.” Raja
Iskandar mengawali musyawarah dengan menyampaikan keinginannya.
“Ampun Baginda, bukankah kita sudah
memiliki negeri?” Pengawal berikat kepala merah mengutarakan pandangannya.
“Memang kita sudah memiliki negeri. Tetapi tempat ini sangat baik untuk kita
diami. Banyaknya binatang buruan,
mungkin suatu saat bisa kita pelihara dan kita budidayakan. Ini akan sangat menyejahterakan rakyat kita
nantinya.”
“Lalu bagaimana dengan negeri kita yang
lama?” tanya pengawal berikat kepala hitam.
“Saya sependapat dengan Baginda, mungkin
Baginda berniat membuat tempat ini sebagai pusat negeri sehingga hanya sebagian
rakyat yang berpindah ke tempat ini,” ujar pengawal berikat kepala hijau.
“Benar sekali pengawal, apakah kalian
sependapat dengan keinginanku?” Para
pengawal mengangguk tanda memahami keinginan raja.
“Hanya saja….kira-kira apa nama yang
tepat untuk negeri ini?”
Ketika Raja Iskandar sedang berpikir
keras untuk menamai tempat itu, setetes air jatuh dari daun pohon tempatnya
bersandar.
“Pohon apa yang aku sandari ini, pengawal?”
“Ini pohon Melaka, Baginda?”
Keempat pengawal menjawab serentak.
“Melaka….Melaka….ya Melaka. Nama yang bagus. Aku beri nama tempat ini Melaka. Setujukah kalian, para pengawalku?”
Semua pengawal tersenyum dan merasa
senang dengan nama pilihan Raja Iskandar.
Sejak saat itu lahan dibuka dan Raja
Muhammad Iskandar menjadi raja pertama Melaka.
Rakyat Melaka hidup tentram, damai dan sejahtera dibawah kepemimpinan
Raja Iskandar yang bijaksana, rendah hati dan suka bermusyawarah.
Glosarium:
1. Melaka=nama
pohon kemloko (Jawa) (Phyllanthus emblica)
2. Bertam=nama
sungai di Semenajung Melayu
3. Selatar= salah satu dari 18 suku yang
membentuk kaum Orang Asli di Malaysia
4. Sihwa=satuan
panjang masyarakat Melayu senilai 2,4-3 meter
5. Pelanduk= kancil
(Tragulus, sp.)