Kamis, 21 Desember 2017

Legenda Ke-4 ASAL-USUL MELAKA

ASAL USUL MELAKA
(Titin Harti Hastuti)

Di tahun 1406 hiduplah seorang  raja yang bernama Muhammad Iskandar Syah.  Awalnya Sang Raja  bernama  Parameswara.  Seorang raja yang berasal dari Palembang.  Raja Parameswara melarikan diri dari Palembang karena serangan dari Raja Batara Tamavill yang memplokamirkan dirinya sebagai kesatria pemberani.  Dalam pelariannya, ia bersama 1000 pengikutnya berlayar menuju Singapura, kemudian menyeberang ke Semenanjung Melayu.
Parameswara dan 1000 pengikutnya menetap di Sungai Bertam.  Orang-orang Seletar yang mendiami kawasan itu mendaulatnya menjadi raja. Nampaknya mereka mencintai Sang Raja karena sifat arif dan bijaksananya.
Sang Raja memiliki kegemaran berburu.  Ia mahir dalam memanah dan melempar lembing.  Selain itu Raja Iskandar juga memiliki kepekaan untuk mengetahui keberadaan binatang buruannya.
Suatu hari Raja Iskandar Syah ditemani beberapa pengawal berburu ke hutan.  Tentu saja dilengkapi dengan panah, lembing, tombak dan beberapa anjing pemburu.
“Wahai pengawal, kita harus berhenti dulu di sini.” Raja Iskandar bertitah.
“Baik Baginda, titah Baginda kami laksanakan,” jawab para pengawal raja serempak
Raja Iskandar duduk bersila, memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.  Rupanya Sang Raja sedang berkonsentrasi dan menggunakan daya kepekaannya untuk mencari keberadaan binatang buruan.  Sementara para pengawal berjaga-jaga sambil memegang tali kekang anjing pemburu.
“Pengawal, kita masih harus berjalan seratus sihwa ke arah utara.  Disana ada air terjun kecil dan semak semak yang banyak pelanduknya.” Raja Iskandar membuka mata dan bersiap melanjutkan perjalanan.
Merekapun berjalan sesuai arahan Sang Raja. Sebuah air terjun kecil setinggi sekitar lima sihwa melengkapi keindahan pemandangan di tepi hutan.  Semak-semak setinggi pinggang menganti pepohonan tinggi yang mereka jumpai sepanjang perjalanan.  Antara pepohonan dan semak terpisahkan oleh Sungai Bertam.
“Lepaskan anjing-anjing pemburu kita dari jembatan ini.  Sementara kita mengawasi dari seberang sungai.”
“Baiklah baginda. Bismillah,” Para pengawal melaksanakan titah. Mereka melepaskan empat binatang buruan di jembatan Sungai.
Raja Iskandar dan para pengawalnya selalu mengucap lafadz  Basmalah saat melepaskan panah, lembing, tombak,  juga anjing pemburu.  Sebagaimana  yang contoh dari Rasulullah SAW.   Dengan maksud bila binatang buruannya mati sebelum sempat disembelih, maka kedudukannya sama dengan penyembelihan dengan menyebut Asma Allah.
Raja Iskandar dan empat pengawalnya mengawasi keberadaan binatang buruan dengan senjatanya masing-masing.  Panah di tangan Sang Raja. Tombak dan lembing terhunus di tangan para pengawal.
“Lihat baginda ada seekor burung dara hutan di atas pohon besar itu.” Seorang pengawal berikat kepala hitam menunjuk pohon jati besar. Tingginya lebih dari delapan sihwa
“Ya, aku dapat melihatnya.  Biar aku panah dengan panah saktiku.”
“Sreett.!!!” Panah itu mengenai sasarannya.  Di luar dugaan Raja Iskandar yang tak pernah meleset bidikannya, kali ini gagal.  Burung itu lebih cepat berkelit sebelum anak panah itu melukainya.
“Luar biasa.  Belum pernah aku menemukan binatang-binatng selincah yang ada di tempat ini.”
Mereka menyusuri tepi sungai sambil terus mengikuti kearah mana anjing pemburu mereka mencari mangsa. 
Sementara itu, di seberang sungai, anjing-anjing pemburu sedang berusaha melumpuhkan seekor pelanduk.
“Wahai pengawal anjing pemburu kita menggonggong di samping tebing sungai.”
“Benar Baginda. Nampaknya mereka menemukan binatang buruan.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita berenang menyeberangi sungai ini, Baginda?” Pengawal berikat kepala biru memberikan saran.
“Baiklah.  Kita sudah cukup jauh dari jembatan bambu yang kita temui tadi.  Kalau sungai cukup dalam kita berenang.”
Mereka menyeberangi sungai yang ternyata tidak terlalu dalam.  Hanya sebatas paha.  Mungkin karena mereka berada di daerah hulu.
Sesampai di tepi sungai, sejauh enam sihwa, Raja Iskandar berniat membidikkan panahnya pada pelanduk yang sedang berkelit dengan lincahnya.  Akan tetapi diurungkan niatnya demi melihat keindahan luar biasa di hadapannya.
***
Dua  anjing pemburu sedang mengeroyok seekor pelanduk.  Dua ekor lainnya sedang memburu binatang lain, entah dimana.
“Wahai pelanduk menyerahlah.  Raja kami menginginkanmu. Kamu pelanduk bertuah lagi mulia.” Anjing pemburu merayu pelanduk kiranya bisa diserahkan pada Raja Iskandar dengan suka rela.
“Tidak wahai anjing pemburu, aku memiliki anak untuk kepelihara dan kubesarkan.” 
“Kalau begitu kami akan menangkapmu.”
Berkali-kali anjing pemburu mengincar sasaran dan berusaha menerkamnya.  Berkali-kali pula nyaris pelanduk terluka cakaran anjing pemburu.
Tiba-tiba….”Terimalah jurus kibas kaki belalangku.” Pelanduk meloncat tinggi ke atas sambil melipat kaki belakang dan menendang kepala anjing pemburu hitam. Anjing pemburu mengerang kesakitan dan terpelanting jatuh ke sungai.
Melihat kawannya terpental, anjing pemburu putih bersiap menerkam.  Akan tetapi dengan lincah pelanduk bebas melarikan diri ke semak-semak dan menjauh dari arena pertarungan.
Raja Iskandar dan para pengawal menghela napas panjang.  Baru kali ini mereka gagal mendapatkan binatang buruan seekor pun.
“Nampaknya kita tidak akan mampu membawa binatang buruan seekorpun, pengawal.  Binatang-binatang di sini sangat istimewa.  Mereka lincah, cekatan dan pemberani”  Raja Iskandar tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya
“Apa yang harus kami lakukan untuk mengobati kekecewaan baginda?”  Pengawal berikat kepala hijau menunduk takzim.
“Kemarilah kalian semua wahai pengawalku.  Kita duduk berkeliling dan bermusyawarah.  Ada hal penting yang akan aku sampaikan pada kalian.”
Para pengawal dan Raja Iskandar duduk berkeliling di atas pasir tepi sungai.  Di bawah pohon setinggi langit-langit rumah berdaun kecil-kecil.  Terik sinar matahari tengah hari tidak terasa terhalang rindangnya pohon, ditambah semilir angin perbukitan.
“Aku sangat terkesan dengan keistimewaan binatang di hutan ini.  Aku rasa tempat ini bertuah.  Aku bermaksud menjadikan kawasan ini sebagai sebuah negeri.”  Raja Iskandar mengawali musyawarah dengan menyampaikan keinginannya.
“Ampun Baginda, bukankah kita sudah memiliki negeri?” Pengawal berikat kepala merah mengutarakan pandangannya.
“Memang kita sudah memiliki negeri.  Tetapi tempat ini sangat baik untuk kita diami.  Banyaknya binatang buruan, mungkin suatu saat bisa kita pelihara dan kita budidayakan.  Ini akan sangat menyejahterakan rakyat kita nantinya.”
“Lalu bagaimana dengan negeri kita yang lama?” tanya pengawal berikat kepala hitam.
“Saya sependapat dengan Baginda, mungkin Baginda berniat membuat tempat ini sebagai pusat negeri sehingga hanya sebagian rakyat yang berpindah ke tempat ini,” ujar pengawal berikat kepala hijau.
“Benar sekali pengawal, apakah kalian sependapat dengan keinginanku?”  Para pengawal mengangguk tanda memahami keinginan raja.
“Hanya saja….kira-kira apa nama yang tepat untuk negeri ini?”
Ketika Raja Iskandar sedang berpikir keras untuk menamai tempat itu, setetes air jatuh dari daun pohon tempatnya bersandar.
“Pohon apa yang aku sandari ini, pengawal?”
“Ini pohon Melaka,   Baginda?”  Keempat pengawal menjawab serentak.
“Melaka….Melaka….ya Melaka.  Nama yang bagus.  Aku beri nama tempat ini Melaka.  Setujukah kalian, para pengawalku?”
Semua pengawal tersenyum dan merasa senang dengan nama pilihan Raja Iskandar. 
Sejak saat itu lahan dibuka dan Raja Muhammad Iskandar menjadi raja pertama Melaka.  Rakyat Melaka hidup tentram, damai dan sejahtera dibawah kepemimpinan Raja Iskandar yang bijaksana, rendah hati dan suka bermusyawarah.

Glosarium:
1.      Melaka=nama pohon kemloko (Jawa) (Phyllanthus emblica)
2.      Bertam=nama sungai di Semenajung Melayu
3.      Selatar= salah satu dari 18 suku yang membentuk kaum Orang Asli di Malaysia
4.      Sihwa=satuan panjang masyarakat Melayu senilai 2,4-3 meter
5.      Pelanduk= kancil (Tragulus, sp.)


Legenda ke-7 ASAL-USUL KAKI TIPIS LABA-LABA

MENGAPA LABA-LABA BERDELAPAN KAKI TIPIS
(Penulis: Titin Harti Hastuti)

Di hutan Afrika pernah hidup seekor laba-laba bernama Anansi.  Anansi memiliki delapan kaki yang besar dan tidak sekecil sekarang.
Istri Anansi sangat pandai memasak dan dikenal sebagai juru masak yang baik. Akan tetapi sangat disayangkan, Anansi memiliki sifat buruk.  Ia selalu ingin mencicipi makanan yang dibuat oleh istrinya untuk keluarga tetangga mereka.
“Istriku, jangan lupa bawakan masakan yang kau buat. Aku ingin menikmati masakanmu yang lezat,” pesan Anansi pada istrinya hampir tiap hari.
Istrinya selalu memenuhi permintaan Anansi.  Namun tanpa mereka sadari kebiasaan itu menumbuhkan sifat malas pada diri Anansi.  Hingga muncullah ide buruk, yang kelak akan mencelakainya.
Suatu ketika, Anansi merasa jemu bekerja. Ia memiliki ide untuk mendapatkan makanan gratis tanpa harus bekerja.  Anansi berhenti bekerja dari keluarga Kelinci.  Padahal kelinci itu teman baiknya.
Anansi mencium sayuran hijau yang dimasak di dapur keluarga Kelinci.
“Aha…kau memasak sayur hijau rupanya,” Anansi berteriak penuh semangat. 
“Sayurnya belum selesai dimasak, Anansi.  Tunggulah di sini bersamaku sampai sayurannya masak,” jawab Kelinci
“Saya sangat senang dengan tawaranmu, Kelinci.  Sayangnya aku ada pekerjaan lain.”  Anansi berdalih. 
‘Kalau aku tinggal bersama Kelinci untuk menunggu sayurnya masak, pasti ia akan menyuruh aku bekerja.’ Anansi membatin.
“Lalu apa yang dapat kulakukan supaya kau dapat makan bersamaku?”  Kelinci menawarkan niat baiknya.
"Aku akan mengikatkan jaring untuk menghubungkan satu ujung kakiku dengan ujung alat masak kamu.  Bila sayurnya sudah masak, kamu dapat menarik jaring ini. Aku akan segera kemari.”
“Ide yang sangat bagus, aku akan melakukannya.” 
Di tengah perjalanan pulang dari rumah keluarga Kelinci, Anansi diundang oleh keluarga Monyet untuk makan di rumah mereka.  Anansi mencium masakan kacang yang sangat lezat.  Tak disia-siakannya tawaran keluarga Monyet itu.
“Baiklah Monyet aku terima tawaranmu.”
“Tapi masakan belum selesai, tunggulah sebentar.”
“Aku tidak punya waktu, bagaimana kalau aku ikatkan jaring di ujung kakiku dan ujung panci kamu?  Jika masakan sudah selesai tarik jaring ini, dan aku akan datang”
“Ide brilian, aku akan melakukannya.” Monyet berjanji akan memberitahu Anansi bila sayur kacang sudah selesai dimasak.  Tentu dengan cara menarik jaring penghubung.
Tak berapa lama Anansi mencium aroma lezat masakan di keluarga Tupai, tetangga dekatnya.  Seperti biasa Anansi begitu berani menanyakan apa yang dimasak tetangganya.
Demikian berkali-kali ia mencium bahkan sengaja mengendus aroma masakan para tetangganya. Saat itu juga ia diminta untuk turut makan oleh tetangganya.
“Aku mencium ubi jalar di keluarga Angsa" “Aku mencium kentang manis dan madu di keluarga Rubah” “Wah, ada masakan jagung manis keju di keluarga Kucing” “Nampaknya ada kue lapis di keluarga Merpati” “Hmm, ada masakan sop macaroni di keluarga Kancil”
Demikianlah ada delapan keluarga yang belum selesai memasak.  Karena tiap jenis masakan yang belum masak itu dihubungkan dengan kakinya, maka ada delapan jaring yang  yang diikat pada kaki Anansi.
Tak sabar Anansi menunggu jaring di kakinya ditarik tanda masakan sudah siap.  Ia sangat bangga dengan idenya yang menurutnya sangat cerdas.
‘Kira-kira siapa yang akan memanggilku lebih dulu, ya?’  tanya Anansi dalam hati
Sesampai di tepi sungai, Anansi merasakan tarikan di kakinya.
" Ah, ini tali jaring yang terikat pada keluarga Kelinci. Aku akan makan sayur hijau kesukaanku.”
Namun sesuatu yang membingungkan terjadi.  Semua jaring ditarik satu persatu saling susul, jaring ke-2, 3, 4 hingga 8.   Tarikan dimulai dari keluarga Kelinci, Tupai, Monyet, Angsa, Rubah, Kucing, Merpati dan Kancil.
 “Aduh bagaimana ini, semua keluarga memanggilku.  Mana yang harus aku dahulukan?”
Tarikan kedelapan jaring itu terasa makin kuat.  Anansi terguling ke dalam sungai.
Kuat dan lamanya tarikan membuat kaki Anansi memanjang dan mengecil.
“Oh, tidak ……!!! Apa yang terjadi denganku?”  Anansi berteriak tak percaya.  Semua sungguh di luar dugaan dan harapannya.
Hari itu ia tidak menerima makanan apapun.  Sebaliknya justru kakinya terulur menjadi panjang dan tipis.
Delapan kaki panjang dan tipis itu diwariskan turun- temurun dari generasi ke generasi laba-laba, hingga sekarang.

Pesan Moral:
Jangan pernah malas dalam bekerja
Jangan mau mendapatkan sesuatu tanpa pengorbanan, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.
Sebelum memutuskan sesuatu hendaklah dipertimbangkan masak-masak agar tidak menimbulkan masalah dan penyesalan di kelak kemudian hari
 Referensi:

Lin Donn. “Why Anansi Has Eight Thin Legs”.  http://africa.mrdonn.org/anansi.html (diakses tanggal 16 Desember 2017)

Rinoko. “10 Fakta Unik Laba-Laba.”  https://www.facebook.com/permalink.php?id=424543870971044&story_fbid=450632125028885 (diakses tanggal 16 Desember 2017)

Fakta Unik:
Laba-laba tergolong dalam hewan berbuku-buku  (arthropoda), dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki dan tak bersayap
Laba-laba tidak memiliki mulut pengunyah, memiliki kaki delapan, tidak semua dapat menghasilkan jaring penangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera (helaian serat protein yang tipis namun kuat)


Link: Anonim.”Laba-Laba”  https://id.wikipedia.org/wiki/Laba-laba. (diakses tanggal 16 Desember 2017)

Legenda ke-6 ASAL USUL LIDAH ULAR BERCABANG (NEPAL)

ASAL-USUL LIDAH ULAR BERCABANG
(Ditulis oleh:Titin Harti Hastuti)

Dikisahkan pada masa awal penciptaan hewan di muka bumi, setelah penciptaan tumbuh-tumbuhan, hiduplah  seekor burung garuda yang sangat menyayangi ibunya.  Apapun yang diinginkan Sang Ibu, Garuda Muda selalu mengikutinya.
“Anakku, tolong  sisiri bulu leber belakang Ibu.  Aku sudah tua dan sulit menyisir bulu bagian belakangku,” Suatu hari Sang Ibu meminta dengan suara parau.  Usianya yang makin lanjut, mengguratkan kelelahan di wajahnya.
“Baik Bu,” Garuda Muda menyisir bulu leher belakang ibunya. Bahkan dengan, hati-hati dan lembut  ia menyisir rata bulu sang ibu.  Ia teringat benar betapa sang ibu begitu kasih dan sayang padanya dari sejak kecil bahkan hingga kini.
Suatu ketika, Garuda Muda kehilangan Sang Ibu. Dicarinya kesana kemari, tetapi tak jua ia temukan. 
“Ibu…dimanakah ibu berada?  Ini, aku, anakmu, sangat kehilangan Ibu.” Garuda Muda berteriak sedih.  Terbang dengan tinggi kemudian menukik, terbang lagi hinggap di atas dahan pohon-pohon hutan.  Hanya satu harapannya bertemu dengan Sang Ibu.
Tujuh hari pencarian Garuda Muda tak membuahkan hasil. Diputuskannya untuk bertanya pada kawan-kawan sesama  penghuni hutan. Pertama kali ditemuinya rusa yang sedang memakan rumput dengan lahapnya.
“Wahai Rusa yang baik hati. Aku sudah tujuh hari kehilangan Ibuku.  Aku  mencari terbang kian kemari.  Namun  tak jua ketemukan ibuku.” 
“Wah, Garuda Muda kau memang anak yang berbakti.  Maafkan aku tidak bisa memberitahukan keberadaan ibumu.  Aku tidak melihatnya.  Tetapi cobalah bertanya pada Ular Kudra.  Beberapa hari ini tingkahnya agak mencurigakan.  Sepertinya Ular Kudra menyembunyikan sesuatu.” 
Garuda Muda pergi dengan menggenggam satu harapan.  Ia akan mendapat informasi penting dari ular Kudra.  Sebelum menemui ular Kudra, Garuda Muda memeriksa sekitar sarang ular Kudra.  Ternyata benar dugaan Rusa.  Terlihat dari kejauhan Ibu Garuda tertawan di sarang ular Kudra.  Ia ingin segera membebaskan Sang Ibu.  Akan tetapi penjagaan ketat menghalangi niatnya.   Ia khawatir keselamatan dirinya dan terutama  ibunya  terancam oleh ular-ular berbisa penjaga sarang itu. 
Keberadaan Garuda Muda tercium juga oleh ular Kudra.
“Aku tahu kau datang kemari pasti untuk membebaskan ibumu,” ujar ular Kudra
“Ular Kudra, aku tidak pernah rela kalau kau menyakiti ibuku barang segores pun.  Ayo segera bebaskan ibuku!!”   Garuda Muda meminta dengan geram
“Tidak semudah itu.  Aku akan membebaskan ibumu dengan syarat kau mengambilkan guci air Amrita.  Guci itu dijaga ratusan Dewa.  Disimpan di Kerajaan Bulan.  Barang siapa yang meminumnya maka ia akan hidup abadi     Begitu kamu serahkan guci Amrita padaku, Ibumu akan aku bebaskan”
Demi membahagiakan Sang Ibu, tanpa pikir panjang dipenuhinya syarat itu.  Tugas baru menanti, Garuda Muda terbang menuju bulan.
“Wahai para Dewa, mohon kiranya aku bisa membawa guci Amrita, agar aku bisa membebaskan ibuku dari ular Kudra.”  Garuda Muda mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya pada para Dewa penjaga
“Tidak bisa Garuda Muda.  Air ini bukan untuk penghuni bumi.  Banyak yang akan menyalahgunakan air ini.”
Meskipun sedih dengan keputusan para Dewa, Garuda Muda tidak putus asa Dengan sangat terpaksa Garuda Muda bertarung  dengan seratus Dewa penjaga.  Garuda Muda berhasil mendapatkannya. Dengan jurus Halimun ia dapat menyamarkan dirinya dari pengelihatan para dewa.
Garuda Muda segera menemui ular Kudra dan memberikan guci Amrita.
“Ular Kudra, aku telah berhasil mendapatkan guci ini. Kembalikan ibuku sekarang juga.”
Ular Kudra melepas Ibu Garuda.  Mereka berpelukan penuh haru dan kesyukuran. 
Kini guci Amrita berada di tangan ular Kudra.  Ia sangat ingin untuk hidup abadi di bumi.  Tetapi belum sempat ia meminum air Amrita, Dewa penjaga berdatangan untuk mengambil guci Amrita.
“Ular Kudra, kau tidak berhak minum air ini.  Kau tidak bisa menolak takdirmu untuk menjalani kefanaanmu.”
“Aku akan mempertahankannya sekemampuanku,  wahai para Dewa.  Bagaimanapun aku ingin seperti kalian yang hidup abadi”
Pertarungan terjadi.  Para Dewa berhasil merebut Guci Amrita. Namun sebagian air Amrita terpercik dari wadahnya, jatuh di rerumputan.
Ambisinya untuk berumur panjang membuatnya menjilati percikan air.  Tidak peduli rerumputan itu berdaun tajam.
“Ah….lidahku terbelah,” ular Kudra mengerang kesakitan.
Akibat dari perbuatannya itu lidah ular bercabang.  Turun temurun hingga kini, ular memiliki lidah bercabang.

Pesan Moral:
Taati dan kasihi ibu dengan tulus.  Sesungguhnya kasih ibu padamu sangat besar dan tak terbalaskan
Ambisi yang besar tanpa pertimbangan akal sehat bisa mencelakai diri sendiri
Fakta Unik:
Ular merupakan kelas reptilia tanpa kaki dan bertubuh panjang,  memiliki sisik sehingga digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata).
Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga, matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan di sekelilingnya, namun tidak dapat memfokuskan pandangannya. 
(    Anonim. “Ular”. https://id.wikipedia.org/wiki/Ular. Diakses tanggal 14 Desember 2017)

Sumber referensi kisah:
Astri Damayanti. “Lidah Ular Bercabang” http://www.bukuanak.id/search/label/Cerita%20Dunia (diakses tanggal 12 Desember 2017)
Wahyu Candra. Cerita Dongeng Binatang : Mengapa Lidah Ular Bercabang ! https://www.sewarga.com/2017/09/22/cerita-dongeng-binatang-mengapa-lidah-ular-bercabang/ (diakses tanggal 13 Desember 2017)