Sabtu, 03 Juli 2021

BUKU SOLO LEGENDA I

 

LEGENDA DUNIA

I

OLEH: KHADIJAH HANIF

(Kumpulan Legenda Mendunia, Sarat Hikmah, Kaya Amanah, Wawasan Bertambah)

SALAWU_TASIKMALAYA

2021



DAFTAR ISI

 

1.                   LEGENDA KE-1 _ ASAL MULA ASAP GUNUNG CANLAON, BERSAHABATLAH DENGAN ALAM_(PHILIPINA)

2.                  LEGENDA KE-2 _ PENYEBAB PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG_(MALAYSIA)

3.                  LEGENDA KE-3 _ MENGAPA NYAMUK BERDENGUNG, PENOLAKAN  EAR _(AFRIKA BARAT)

4.                  LEGENDA KE-4 _ MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?_(THAILAND)

5.                  LEGENDA KE-5_MENGAPA HARIMAU BERCORAK BELANG?_(VIETNAM)

6.                  LEGENDA KE-6_LEGENDA BUAH SEMANGKA _(VIETNAM)

7.                  LEGENDA KE-7_TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR_(TIMUR LESTE)

8.                  LEGENDA KE-8_LEGENDA SELAT SUNDA DAN GUNUNG KRAKATA_(INDONESIA)

9.                  LEGENDA KE-9_KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH_ (INDONESIA)

10.              LEGENDA KE-10_ASAL USUL  GEMPA BUMI_(JEPANG)

11.              LEGENDA KE-11_ASAL MULA NAGA_(CINA)

12.              LEGENDA KE-12_BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA_(CINA)

13.              LEGENDA KE-13_TERBENTUKNYA DANAU TOBA, KARENA JANJI YANG TERINGKARI_(INDONESIA)

14.              LEGENDA-14_DUA EMPU PEMBANGKANG, ASAL USUL GUNUNG MERAPI_(INDONESIA)

15.              LEGENDA KE-15_SIPUT YANG SETIA KAWAN, MENGAPA SIPUT MEMANJAT DAHAN?_(PHILIPINA)

16.              LEGENDA KE-16_PERSETERUAN JAKAL DAN SINGA_(AFRIKA)

17.              LEGENDA KE-17_PERSAHABATAN MUSANG DAN BURUNG SEKRETARIS_(AFRIKA)

18.              LEGENDA KE-18_AWAL MULA PERSAHABATAN  JAKAL, KARAKAL DAN ELAND_(AFRIKA)

19.              LEGENDA KE-19_MENGAPA CITAH BERLARI KENCANG, KARUNIA ALLAH UNTUK CITAH_(AFRIKA)

20.              LEGENDA KE-20_GAJO DAN BELALAINYA_(AFRIKA SELATAN)


LEGENDA KE-1

ASAL MULA ASAP GUNUNG CANLAON, BERSAHABATLAH DENGAN ALAM

(PHILIPINA)

 

KISAH:

Horisaboquet adalah seorang lelaki tua yang baik hati.  Ia berbadan kecil, kurus dan berambut panjang menjuntai, namun memiliki kesaktian.  Dia memiliki ilmu meringankan tubuh sehingga bisa bergerak cepat bahkan menghilang.  Sifat bijaksananya membuat Horisa tidak sombong dengan kelebihan yang dimilikinya. 

            Tinggal di puncak Gunung Canlaon pada masa yang jauh sebelum Spanyol datang menjajah.  Di bawah arahan dan kepemimpinannya, Gunung Canlaon diberkahi sebagai tempat yang subur.  Berbagai macam tanaman dapat tumbuh subur di sana.  Sayur mayur palawija dan terutama tembakau. 

Semua warga Gunung Canlaon mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.  Mereka merasa qanaah dengan apa yang mereka ambil dari alam.  Mereka bisa hidup sederhana tanpa banyak keinginan berlebihan terhadap nikmat dunia.

            Kembali lagi pada karisma Horisaboquet, dia sangat dihormati.  Bila ia melewati suatu perkampungan, warga akan memberinya penghormatan.

            “Selamat datang Tuan Horisa.  Kami merasa beruntung anda mau bertandang ke kampung kami.”  Ojera seorang tetua  salah satu kampung di Gunung Canlaon.”

            “Terimakasih atas sambutannya Pak Tua.  Saya bermaksud mengumpulkan warga di satu tanah lapang untuk membicarakan suatu hal.”  Horisa menyampaikan maksud kedatangannya.

            Persiapan untuk pertemuan besar semua warga Gunung Canlaon seakan menandai pentingnya kegiatan tersebut.  Horisaboquet segera menaiki mimbar.

            “Dengan menyebut nama Tuhan Yang Mahakuasa, Selamat dan kesejahteraan semoga selalu menyertai kita.  Terimakasih untuk semua warga Canlaon yang telah hadir pada pertemuan kali ini.  Aku akan menyampaikan beberapa hal penting:

1. Aku mendapat amanah dari Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan di seberang sana, alam lain yang sedang dirundung permasalahan.  Maka aku akan meninggalkan kalian untuk beberapa lama.

2. Aku titipkan batas penanaman yang kita sepakati bersama.  Jangan melewati batas itu karena bagian-bagian lahan memiliki fungsinya masing-masing.  Terutama bagian puncak yang menjadi hutan resapan.  Sama sekali tidak boleh dijadikan lahan pertanian.  Kalau kalian melanggarnya maka kalian akan merasakan kesusahan mendapatkan air dari sungai di tengah kampung kita ini.

3. Apabila kalian tetap menanaminya aku akan mengambil semua tanaman tembakau kalian.  Aku akan mengisap dengan batang cerutuku ini sampai tembakau itu habis.

            Pesanku ini sangatlah penting untuk kalian ikuti.  Bila kalian langgar aku akan memenuhi ancamanku.”

            Semua terdiam mendengarkan arahan dari Horisaboquet.  Tak lama kemudian Horisaboquet menghilang dari pandangan seluruh warga.  Mereka saling berbincang tentang pemimpin meraka yang satu ini, untuk kemudian berpisah membubarkan diri.

            Sekian lama kepergian Horisa, warga masih mengikuti apa yang dipesankannya.  Hingga lama kelamaan, mereka mulai digoda bisikan setan dan nafsu untuk menikmati dunia lebih dari sekedar cukup kebutuhan.

            “Horisa tidak akan kembali lagi.  Dia hanya menakut-nakuti kita supaya kita tetap miskin.  Kalau puncak Calaon ini kita Tanami tembakau, maka hasilnya akan lebih banyak dan membuat kita kaya.”  Seorang pemuda mengungkap pandangannya.

            “Aku tidak berani untuk melanggar kesepakatan itu.  Lagi pula kita sudah cukup hidup tenang dan damai dengan apa yang kita terima sekarang.”  Ojera bertahan dalam ketaatannya pada Horisabaquet.

            “Pak Tua, ini hanya akal-akalan Horisa supaya tidak ada yang menyaingi wibawanya.  Kalau kita tidak bisa melampaui ilmunya maka kita masih bisa melampaui kekayaannya.  Sekarang begini saja.  Bagaimana kalau kita mencoba menanam melewati batas  kesepakatan.  Bila benar ancamannya maka ia akan datang untuk mengambil tembakau kita.  Tapi bila tidak berarti dia telah berbohong dan kita bebas menanami lahan di gunung ini hingga  ke puncaknya.”  Kini pendapat picik pemuda itu disetujui banyak orang.  Ojera tidak bisa melawan keinginan dari mereka yang serakah.

            Pemuda itu mulai mencoba melanggar batas yang disarankan Horisa.  Warga cemas menunggu akibat yang diancamkan Horisa.  Akan tetapi ancaman itu tidak juga wujud nyata hingga panen yang didapat pemuda itu cukup banyak.

            “Apa yang kalian takutkan?  Horisa hanya membohongi kita.  Aku bisa mendapatkan panen lebih banyak dan kita akan menjadi kaya raya.  Mana ancaman Horisa?  Omong kosong!” suara pemuda itu lantang jumawa.

Warga  mulai tergiur membagi-bagi lahan sesuai keinginan dan kesepakatan baru mereka.

Mereka menanami hingga puncak gunung.  Mereka membabat hutan tanpa peduli risikonya.  Begitulah keserakahan telah menyelimuti hati sebagian besar warga.  Hanya beberapa gelintir orang tua yang masih mencemaskan akibat yang akan mereka dapatkan.

            Menjelang panen tiba, gunung Canlaon mengeluarkan asap.  Asap itu begitu panas, menyapu seluruh tanaman yang ada pada lahan mereka.  Tidak bersisa.

            “Ancaman Horisa akhirnya tertunaikan juga.”  Ojera hanya bisa berucap prihatin dengan keadaan ini.  Mereka meninggalkan gunung, menyelamatkan diri dari amukan asap Canlaon.

            Sampai saat ini asap masih menggumpal dari atas Canlaon.  Meskipun tidak lagi panas dan berbahaya seperti serangan pertama yang menghabiskan tanaman mereka.  Sebagian orang percaya bahwa Horisa belum selesai mengisap tembakau yang dia ambil dari warga Gunung Canlaon.

 

HIKMAH

1. Semua yang terjadi adalah bagian dari kehendak Allah SWT.  Sebagai ujian untuk diambil pelajaran darinya.

2. Janganlah melanggar kesepakatan dan janji karena kesepakatan adalah amanah bersama serta janji adalah hutang

3. Bersahabatlah dengan alam dan jangan pernah mementingkan diri sendiri

4. Menggunakan alam secara berlebihan akan berakibat pada bencana yang merugikan dan menyengsarakan manusia.

FAKTA ILMIAH

Salah satu gunung berapi aktif  di Filipina adalah Gunung Canlaon.  Berdasarkan bentuknya, Canlaon termasuk dalam stratovolcano.  Letaknya di provinsi Negros Occidental di kabupaten Visayas. Hingga tahun 2010, kota ini memiliki populasi 51254 jiwa dengan 9945 rumah tinggal.

Gunung Canlaon berketinggian 2435 meter, meletus terakhir kali di tahun 2015.

Sedikit penjelasan tentang gunung stratovolcano.   Berdasar bentuk puncaknya, Gunung srtratovolcana odalah gunung berapi kerucut, disebut juga gunung berapi komposit.  Pegunungan yang tinggi dan mengerucut karena material letusan yang berupa lava dan abu vulkanik mengeras.

Tipografinya, curam pada bagian puncak dan landai pada bagian kaki.  Hal ini terjadi karena aliran lavanya amat kental, mengandung banyak silika sehingga bersifat asam.  Silika akan cepat mendingin dan mengeras sebelum sebarannya cukup jauh.

REFERENSI

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/201-asal-mula-asap-gunung-canlaon#

http://cerita-legenda-dunia.blogspot.com/2013/06/asal-mula-asap-gunung-canlaon-philipina.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Kanlaon

https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi_kerucut


 

LEGENDA KE-2

ASAL USUL PERMUSUHAN AYAM DAN ELANG

(MALAYSIA)

 

KISAH:

Awalnya, Lalang si elang jantan dan Yama si ayam hutan jantan bersahabat karib.  Mereka hidup rukun dan saling menolong bantu.  Bahkan saat mencari makan, mereka lakukan bersama-sama di hutan itu.  O’ya, sebelum mereka bermusuhan, makanan mereka juga sama, yaitu biji-bijian.

“Yama, aku terbang di atas pohon di hutan ini, ya.  Kamu terbanglah dari dahan ke dahan.”  Lalang mengajak Yama mencari mangsa bersama

“Siap, Lalang.  Nanti kalau aku melihat mangsa terlebih dulu saya akan panggil kamu.”  Demikian keakraban it uterus mereka jaga.

Sore itu, Yama dan Lalang sedang asyik menikmati biji-bijian bersama.  Saking asyiknya mereka tidak menyadari ada yang sedang mengintai mereka.  Gala, sang srigala memerhatikan keduanya dari balik pohon besar.
            “Aha….ada santapan yang super lezat rupanya.  Aku sudah sangat lapar,” gumam Gala.  Maka srigala segera menyerbu ke alah Yama.  Srigala berhasil melukai ayam hutan itu.
            Lalang pun keheranan dengan kesedihan sahabatnya itu, “Yama coba ceritakan padaku kenapa wajahmu begitu murung? Apakah kamu sakit?”
3. Dari jenis makanannya, ayam hutan termasuk dalam omnivore (pemakan segala), rumput, bijijian, cacing, dan belalang. 

            “Aduh, aku terluka.  Tolong…!!!!  Ampun, Gala!  Lalang, tolonglah aku.  Seekor srigala menyerangku!”  Yama berlari dan berteriak meminta tolong.

Lalang terkejut dengan teriakan Yama.  Burung elang yang sedang menyantap biji jagung segera meninggalkan makanannya.  Dengan cakar dan paruhnya yang tajam, Lalang menyerbu srigala.

“Jangan kau ganggu Yama.  Ia teman karibku.  Rasalan paruh dan cakarku ini!”  Lalang mengamuk dan menyerang Gala.

“Ampun, Lalang.  Aku mengaku kalah.  Cakar dan paruhmu tajam sekali!”  Gala berlari meninggalkan dua sahabat itu.

Yama segera keluar dari persembunyiannya di dalam lubang pohon besar.  “Terimakasih Lalang, engkau memang sahabat sejatiku.”  Akan tetapi Yama tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.  Dalam hatinya ia mulai iri pada Lalang.  Andai saja dirinya bisa terbang seperti Lalang, tentu ia dengan mudah akan menghindar dari marabahaya

“Tidak Lalang, aku sehatsehat saja.  Hanya saja aku heran.  Bukankah kita sama-sama burung.  Tapi kenapa aku tidak bisa terbang tinggi?”

“Oh, itu yang membuatmu bersedih?  Sebenarnya aku juga tidak bisa terbang.  Paling hanya setinggi dahan itu, seperti juga kamu.”

“Lalu bagaimana kamu bisa terbang tinggi?”  tanya Yama penasaran

“Aku menjahit sayapku dengan jarum emas ini.  Sayapku pun menjadi lebih rapat dan aku pun bisa terbang.”

“Kalau begitu, bolehkah aku meminjam jarum emasmu?”

“Tentu saja boleh.  Tapi berjanjilah, kamu merahasiakan hal ini.  Kamu juga tidak boleh meminjamkan jarum emas ini pada bangsa burung yang lain.  Dan juga jaga jarum ini  jangan sampai hilang, ya!” pesan Lalang

“Terimakasih, Lalang.  Kamu memang sahabat terbaikku.  Tenanglah, aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa.”

Jarum emas itu diberikan kepada Yama.  Yama mulai menjahit kedua sayapnya.  Akan tetapi belum juga selesai menjahit, Yama sudah merasa kegirangan dan tidak sabar untuk terbang tinggi. 

“Hai, lihatlah aku bisa terbang tinggi.  Kukuruyuuuuuk, aku bisa terbang, aku bisa terbang.”  Yama kegirangan

Di bawah sana, ada seekor ayam betina terheran-heran dengan kemampuan Yama.  Ayam betinapun menanyakan bagaimana Yama bisa terbang.  Saking girangnya, Yama lupa akan janjinya pada Lalang. 

“Aku bisa terbang karena jarum emas yang aku pakai ini.”

“Boleh aku meminjamnya?” pinta ayam betina.

“Tadi aku letakkan di dekat batu itu.  Cari saja!”

Ayam betina mencari tapi tidak dapat menemukannya.  Tentu saja ada rasa bersalah dalam diri Yama. Yama ikut mencari jarum itu hingga pagi hari.  Dicakar-cakarnya tanah tidak juga dapat ditemukan.

“Aduh, pagipagi sudah mengais mencari makan?  Rajin seali Yama.  Nggak nungguin kau encari makan bareng, nih?” tanya Lalang akrab.

Yama mulai ketakutan.  Ia sangat yakin, Lalang akan marah besar.  Tapia pa boleh buat, ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Maafkan aku, jarum emas kamu hilang.”  Yama tertunduk lesu.

“Kau sudah berkhianat Yama.  Mulai saat ini aku tidak akan bersahabat lagi dengan kamu.  Kamu tahu jarum emas itu barang berharga satusatunya yang aku miliki.  Mulai saat ini, jika kamu tidak mengembalikan jarum emasku, kalian dan anak keturunan kalian akan menjadi santapanku.”

Sejak saat itu mereka saling bermusuhan.  Elang akan menyambar keluarga ayam tanpa ampun.  Sementara

Ayam dan keluarganya akan mengais-ngais tanah untuk mencari jarum emas yang hilang.  Mereka berharap suatu saat jarum emas itu akan dapat ditemukan dan permusuhan akan berakhir.


HIKMAH:

1.      Jagalah persahabatan dengan menghindari saling iri dengki.  Biarkan masingmasing enikmati arunia yang Allah bagikan pada tiap makhluknya.  Karena kadang iri akan membawa pada keinginan endapatkan sesuatu yang dimiliki sahabat kita

2.      Hindarilah perbuatan mengingkari janji karena akan menghilangkan kepercayaan bahkan menimbulkan permusuhan.

3.      Janganlah menjadi pendendam, tapi jadilah pemaaf.  Memberikan maaf itu sangat mulia dan menghilangkan permusuhan.

FAKTA ILMIAH:
AYAM HUTAN

1. Berdasarkan urutan taksonomi, ayam hutan memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Galliformes, Famili: Phasianidae, Genus: Gallus.  Spesies ayam hutan ada bermacammacam antara lain:  Gallus gallus (ayam hutan merah), Gallus lafayetii (ayam hutan Srilanka), Gallus sonneratii (ayam hutan kelabu), Gallus varius(ayam hutan hijau),  sehingga secara umum ayam hutan dinamai Gallus sp.

2. Ayam hutan termasuk jenis ayam liar yang menjadi nenek moyang ayam kampung.  Sehingga dari morfologinya tidak memiliki perbedaan.  Perbedaan justru antara ayam jantan dan betina.  Ayam jantan cenderung memiliki bulu yang lebih bervariasi dan mengilap. 

ELANG
1. Nah, tokoh kedua kali ini adalah elang.  Elang menyebar populasinya di seluruh Indonesia.  Karena penembakan dan perburuan, populasinya makin berkurang.

2. Klasifikasi ilmiah dari elang dapat diuraikan sebagai berikut, tergolong dalam Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Aves, Ordo: Accipitriformes, Famili: Accipitridae, Spesies: Accipitridae sp.

Elang dalam bahasa Inggris disebut Hawk dan untuk jenis yang lebih besar disebut Eagle.  Elang tergolong dalam binatang berdarah panas, bersayap dan tubuh tertutup penuh oleh bulu pelepah.  Cara berkembang biak sama dengan jenis aves yang lain, yaitu bertelor (ovipar).

3. Elang adalah hewan predator (pemangsa) hewan kecil seperti tikus, tupai, adal, ikan dan ayam.  Elang yang berhabitat di sekitar air memiliki mangsa utama binatang berkelas pisces. Bentuk paruhnya melengkung dan kuat berfungsi untuk mencabik daging mangsa.  Demikian juga dengan cakar kakinya tajam dan kuat untuk mencengkeram tangkapannya.

4. Keistimewaan organ elang juga terletak pada mata dan system pernapasannya.  Mata elang dapat memfokuskan pengelihatannya dalam jarak jauh sehingga dapat mendeteksi adanya mangsa.  Sementara itu, organ napasnya mampu menampung volume ogsigen dalam jumlah banyak.  Dengan kelebihannya ini elang dapat terbang pada ketinggian dalam waktu lama.

5. Jenis-jenis elang di Indonesia, antara lain: Elang Hitam, Elang Brontok, Elang Jawa Elang-ular Bido, Elang-ular Jari Pendek Elang Buteo, Elang Gunung, Garuda, Elang Sulawesi, Elang Wallace, Elang Flores, Elang-laut Perut Putih, Elang Bondol, Elang-ikan Kepala Abu, Elang-ikan Kecil, Elang Perut Karat, Elang Tikus, Elang Paria, Rajawali Kuskus Rajawali Tutul, dan Elang emas

 

REFERENSI:

1. https://edylaw.blogspot.com/2009/04/asal-mula-permusuhan-ayam-dan-elang.html/25/4/2019

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Ayam-Kampung

3. https://id.wikipedia.org/wiki/Elang

  

LEGENDA KE_3

MENGAPA NYAMUK BERDENGUNG

PENOLAKAN  EAR

(AFRIKA BARAT)

 

            “Aduh aku bingung dengan pemuda-pemuda yang datang melamarku.  Si Safe, tampan, perhatian dan romantis.  Si  Brown, manis, bertanggung jawab dan berdompet tebal. Si Warm, terkesan agak cuek, tapi aku suka.”

            Ibu Ear ikut kebingungan dekan sikap anaknya yang terlalu pilih-pilih.  Menurut ibu, Ear tidak member ketegasan, malah terkesan member harapan pada semua orang.

            “Ear, kamu nggak boleh memberi harapan pada setiap yang datang padamu.  Berilah ketegasan pada mereka.  Pada siapa hatimu bertambat dan ambil keputusan.”  Ibu menasihati Ear baik-baik.

            Ear yang keras kepala menyalahartikan nasihat Sang Ibu.  Dia bersikap kurang baik dan agak kasar,”Ibu, yang mau nikah itu aku.  Aku nggak bisa buru-buru.  Kalau Ibu nggak sabar, Ibu aja yang menikah dengan salah satu dari mereka.”
            Ibu kaget dan tidak menyangka Ear akan bicara sekasar itu.  Ya, memang ibu sudah lama menjanda dan ingin memiliki pendamping hidup.  Tapi sikap dan cara Ear cukup menyakitkan.
            “Ear, lancang sekali kamu.  Cepat ambil keputusan, sebelum kesempatan itu hilang dan berganti dengan lamaran seekor nyamuk!"
            Suara menggelegar bersamaan dengan sumpah serapah Sang Ibu. Rupanya perkataan Sang Ibu terdengar oleh nyamuk dan seakan terinspirasi untuk mencoba melamar Ear.

            Di malam sunyi saat semua terlelap, seekor nyamuk mendekatinya.
            “Ear, jadilah istriku.  Aku akan meminangmu.  Terimalah!”  Pinta Qitho, Sang Nyamuk penuh percaya diri.
            “Apa katamu? Lancang sekali berani menjadikan aku istri.  Kamu jelek  dan  lemah.  Kau akan mati tidak sampai sepekan”
            “Aku kuat Ear.  Percayalah, akan aku buktikan.”

            Ear merasa sakit hati dan merasa diremehkan.  Kemarahannya sampai ubun-ubun, hingga Ear terjatuh tak sadarkan diri.  Igauannya antara sadar dan tidak menceracau tidak karuan.
            Di sela igauannya, Ear memanggil ibu, meminta maaf atas kelancangannya.  “Bu…Bu……maafin Ear.  Cabutlah kutukan Ibu, hatiku sakit.”
            Saat sadar, ia bertekat untuk melukai nyamuk dengan apa saja yang bisa ia pukulkan. Nyamuk terus berkelit dan terbang menghindar .  Sampai akhirnya pukulan itu mengenainya dan membuatnya terluka.  Sayap Qitho tak bisa mengepak sempurna
            Nyamuk itu pergi membawa dendam  dan luka.  Dia bertemu dengan teman-temannya dan menceritakan kepedihan hatinya.
            “Aku tidak terima penghinaan ini.  Sebagai bukti kesetiakawanan kita, saya mohon kekompakannya.”

            “Apa yang harus kami lakukan, Qitho?”  Tanya sahabat karib Qitho

            “Setiap kamu  melihat telinga manusia, kita ganggu dengan suara dengungan di sebelahnya.  Biar mereka marah dan  memukul tanpa arah.  Aku akan puas melampiaskan dendam kita.  Mereka akan merasa terganggu dan terus jengkel.”

            Demikianlah dendam Qitho yang diikuti oleh teman-temannya sesama bangsa nyamuk. Mereka selalu mengganggu dengan dengunggannya, berputar-putar di sekitar telinga kita.

HIKMAH:

1. Jangan melawan dan menyakiti  orang tua, karena ucapannya menjadi doa

2. Bila bimbang terhadap pilihan , maka beristikharah  untuk mendapat memilih yang terbaik

3. Ukurlah kemampuan diri, jangan terlalu memaksakan kehendak, bisa jadi musuh kita bertambah banyak

 

FAKTA ILMIAH:

            Nyamuk masuk dalam klas insecta ordo Diptera. Memiliki  sepasang sayap bersisik, tiga pasang kaki panjang dan tubuhnya langsing.  Terdapat 2700 spesies nyamuk.

            Cara berkembangbiaknya dengan bertelur dimana telur-telur itu menyatu bersama darah. Makanan nyamuk sebenarnya adalah cairan nectar bunga.
            Tempat bertelur nyamuk biasanya di daun dekat kolam atau kolam kering.  Sensor kelembaban dan suhu ada dibagian bawah perutnya atau reseptor.  Saat bertelur, telur yang dikeluarkan disusun seumpama rakit, berjumlah sekitar 300 butir yang masing-masing panjangnya. kurang dari 1 mm.  
            Perkembangan nyamuk mengalami metamorfosa hingga dewasanya yaitu fase telur, jentik-jentik atau larfa , pupa dan nyamuk dewasa.

 

REFERENSI:

·               https://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk

·               http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/221-asal-mula-nyamuk-berdengung

·               http://www.allfolktales.com/wafrica/why_mosquitoes_buzz.php


 LEGENDA KE-4

MENGAPA THAILAND DISEBUT NEGERI GAJAH PUTIH?

(THAILAND)

 

Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, Thailand bukanlah negara dengan populasi gajah di dalamnya.  Sehingga sang raja mengutus abdi kerajaan yang dipercayanya untuk mencari sepasang gajah.  Tujuannya, untuk membuktikan pada rakyatnya bahwa binatang yang disebut gajah itu emang ada.

            “Pu nggawa, aku utus kalian untuk membeli gajah dari negeri lain.  Cukup satu pasang saja, jantan dan betina. Bawalah binatang itu dan kita pelihara di negeri kita.”

            “Baiklah Maharaja, segala titah akan kami laksanakan.”  Para punggawa itu mematuhi perintah raja.

            Maka berangkatlah utusan raja dengan kapal layar.  Sauh dilepas, samudra diarungi demi mendapatkan binatang bernama gajah.

            Penantian berharihari lamanya.  Gajah yang ditunggu itupun tiba di istana. Sepasang gajah itu begitu gemuk dan sehat sesuai pengorbanan yang dikeluarkan kerajaan.

            “Aku ingin mempertontonkan gajah-gajah ini di depan khalayak ramai, tapi sebelum rakyat tahu, para pembesar dan pegawai istana harus tahu terlebih dahulu.  Baru kemudian rakyat.  Aku tidak ingin para pembesar istana kalah dalam hal pengetahuan dengan rakyat jelata.”  Titah raja pun dilaksanakan malam itu juga.  Seluruh pembesar dan pegawai kerajaan harus menyaksikan gajah pada malam itu juga.

            “Berhubung keadaan gelap di malam ini, bawalah obor supaya semua yang hadir dapat menyaksikan seperti apa gajah itu.”

Atas perintah raja, para pawing gajah merasa keberatan.  “Maaf, Baginda Maharaja.  Gajah-gajah itu akan ketakutan bila melihat api.  Apalagi bila obor itu satusatunya sumber cahaya.  Mereka akan merasa terganggu dan silau.  Bisa-bisa mereka akan ngamuk dan berusaha keluar dari sangkar besi.”

Maharaja bisa memahami keberatan dari para pawing. Maka diputuskan tidak ada satu pun yang diperbolehkan membawa obor.

            Malam itu juga, para pembesar kerajaan dari segala penjuru pun datang. Timur, barat, selatan dan utara.  Mereka datang tanpa adanya penerangan sedikitpun.  Untuk mengetahui seperti apa wujud dari seekor gajah, mereka diberi kesempatan meraba gajah-gajah dalam sangkar itu.

            Pembesar kerajaan dari utara, Aroon, memegang kakinya.  Dalam benaknya gajah adalah binatang yang sangat besar karena tangannya tak mampu memeluk lingkar kakinya. “Benar kata orang-orang.  Gajah memang sangat besar.  Aku pun tak sanggup memeluk kakinya.”

            Lain halnya dengan Chaow, pembesar kerajaan dari wilayah selatan.  Ia menganggap bahwa gajah hanyalah sebentuk binatang kecil yang keras.  Saat itu ia hanya memegang gadingnya. ”Ah….ternyata orang-orang yang menceritakan bentuk gajah itu telah berbohong.  Gajah hanyalah binatang kecil yang keras.”

            Junta, pembesar dari barat menyentuh bagian perut.  Selama dia meraba tidak ada bagian lain yang teraba kecuali perut.  Ia pun berkesimpulan bahwa gajah sangatlah besar luas, tanpa ujung.

            Yang terakhir, Klahan, pembesar kerajaan dari wilayah timur.  Ia memegang ekor gajah, “Ternyata, gajah hanyalah seekor binatang kecil seperti ular.  Mereka telah berbohong bahwa gajah itu bertubuh besar.”

            Setelah semua meraba gajah. Para pembesar itu dianggap memiliki cukup pengetahuan untuk disampaikan pada rakyat.  Mereka diperintahkan untuk kembali pada rakyat dan menceritakan tentang gajah yang mereka raba.

            “Wahai para pembesar kerajaan, kembalilah pada rakyat kalian dan sampaikan dengan sebenar-benarnya gambaran wujud gajah yang sudah kalian ketahui malam ini.”  Demikian perintah raja agar para pembesar pulang kembali ke wilayahnya masing-masing.

            Begitu sampai ke wilayahnya, para pembesar itu bercerita pada rakyatnya sesuai pendapatnya masing-masing.  Mulailah permasalahan besar terjadi.  Rakyat yang saling bertemu dan menceritakan bentuk gajah.  Masing-masing meyakini bahwa penguasa daerah merekalah yang paling benar dalam menggambarkan tentang gajah. 

            “Pemimpin kalian telah berbohong, gajah itu hanyalah binatang kecil yang keras,  Pemimpin kami yang benar” ungkap rakyat dari sebelah timur.

            “Kami tetap yakin bahwa gajah itu sangat besar.  Pemimpin, Tuan Junta, tidak pernah berbohong,” kata rakyat di wilayah barat.

Keributan makin menjadi.  Maharaja kecewa dengan para pembesar yang enjadi olokolok rakyatnya bahkan nyaris menimbulkan perpecahan.  Raja yang bijaksana itu akhirnya memutuskan untuk mengundang rakyat menyaksikan langsung dua gajah itu di pendopo. 

“Rakyatku, kali ini kalian akan menyaksikan sendiri gajah itu.  Saya berharap bahwa kalian akan berhenti bertengkar setelah menyaksikan sendiri.  Langsung dari tempat ini.  Kalau ada penjelasan yang salah dari pembesar kerajaan, saya mohon maf karena kesalahan bukan pada mereka.  Saat mereka menyaksikan gajah-gajah ini, keadaan gelap gulita dan tidak ada penerangan sedikit pun.  Mereka tidak bermaksud membohongi kalian tapi mereka memegang gajah ini tanpa melihatnya.  Sekali lagi mulai saat ini, setelah kalian melihat sendiri, bersatulah kalian dan jangan ada keributan lagi.”

Rakyat merasa puas dengan penjelasan raja.  Mereka pulang dengan tertib dan damai.  Berat kehadiran gajah itu, rakyat Thailand embali rukun.  Maka sejak saat itu Thailand diberi julukan Negeri Gajah Putih.  Tujuannya untuk mengenang jasa para gajah yang enyatukan kembali rakyat seantero negeri.

 

HIKMAH:

1. Dalam mendapatkan pengetahuan, kita harus menggunakan seluruh indera kita sebagai alat menggali pengalaman dari lingkungan di luar diri kita.

2. Janganlah keinginan meninggikan suatu golongan dan demi gengsi membuat kita melakukan hal di luar rasionalitas, karena dapat berakibat fatal yang justru sangat jauh dari pengharapan

3. Tidak ada perbedaan antara pembesar dan rakyat jelata, maka perlakukan semua dengan adil

4. Pemimpin memegang peran yang paling strategis untuk menentukan nasib mereka yang ada di bawah kepemimpinannya, maka bijaksanalah.

 

FAKTA ILMIAH:

Thailand terletak di Asia Tenggara.  Berbatasan dengan Laos dan Kamboja di sebelah timur, Malaysia dan teluk Siam di selatan, Myanmar dan Laut Andaman di sebelah barat.   

Ibukotanya adalah Bangkok, dengan bahasa resmi Thai.  Sistem pemerintahannya berbentuk Monarki Konstitusional.  Semboyan negara  Chat, Satsana, Phra Maha Kasat(Thai: "Bangsa,  Agama, Raja"), lagu kebangsaannya Phleng Chat Thai  dan lagu kerajaan Sansoen Phra Barami.

Jumlah penduduk hingga 2015 sekitar 65 juta jiwa.  Mata uang yang mereka gunakan Bath.  Dalam mengemudi, mereka menggunakan lajur kiri seperti di negara kita.

Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.  Sekitar enam puluh persen.  Tidak mengherankan jika tulang punggung perekonomian negara berasal dari eksport pangan.  Saat ini Thailand adalah eksportir terbesar dunia untuk komoditas gula

            O’ya, untuk jenis gajah putih sebagai seekor binatang sebenarnya merupakan penyimpangan genetika gajah.  Gajah putih adalah nama lain dari gajah albino.  Penyimpangan ini jarang terjadi akan tetapai ada.   Sebagai gajah yang tidak normal, gajah putih emiliki fisik yang lemah.  Tidak memiliki cukup tenaga untuk dipekerjakan.  Perawatannya pun mahal.  Warna kulit ereka tidak sepenuhnya putih sebagaimana yang sering diilustrasikan.  Akan tetapi agak coklat kelabu merah dan berubah menjadi merah muda saat basah.

           

REFERENSI

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Thailand/17/3/2019

2. http://miaokta525.blogspot.com/2016/12/legenda-gajah-putih-thailand.html/

3. https://www.haibunda.com/nama-bayi/20181020104655-88-27387/37-nama-bayi-thailand-beserta-maknanya

4. http://www.thaizer.com/culture-sh…/the-elephant-in-thailand/


 

LEGENDA KE-5

MENGAPA HARIMAU BERCORAK BELANG?

(VIETNAM)

 

Di sebuah gua yang tak begitu besar, pintunya hanya cukup untuk dimasuki orang dewasa.  Agak sulit untuk memasukinya.  Gua itu ada di tengah hutan lebat yang letaknya jauh dari keramaian.  Bebatuan besar bisa dijadikan pijakan untuk meraihnya.  Di bagian dalam ada sebidang datar yang bisa digunakan untuk melakukan tafakur dan perenungan.    

Suatu pagi yang cerah, matahari menembus di sela pepohonan.  Udara segar menghembus semilir bersama tarian dedaunan. Seorang pemuda sakti yang sedang merenung di bagian luar  gua, Huyen namanya.  Ada beberapa kelebihan yang dimiliki Huyen, salah satunya, dapat berbicara dengan binatang.

Tiba-tiba, Huyen dikejutkan oleh kedatangan seekor kelinci.  Kelinci itu berlari kencang dengan rasa ketakutan yang amat sangat.

“Tolong Huyen, aku dikejar Si Raja Hutan, Con Ho.  Dia mau memangsaku.”  Napas Con Tho terengah-engah, naik turun.  Tubuhnya gemetaran.

Huyen yang berhati mulia itu iba mendengar cerita Con Tho, si kelinci yang malang. “Tenanglah, Con Tho.  Aku akan menolongmu.  Bersembunyilah di dalam gua, tempat perenunganku.  Aku akan menghadapi Con Ho.”

“Terimakasih Huyen.  Kau sungguh berhati emas.”  Con Tho merasa nyaman dalam usapan lembut tangan Huyen.

Con Ho yang merasa kehilangan buruannya terus mencari Con Tho. “Grrrrhhhh, kemana kelinci ecil itu.  Dia mau mempermainkan aku rupanya.  Con Tho kau tak akan bisa lepas dari kejaranku.”  Con Ho mengaum geram.  Buruannya kali ini ternyata tak semudah yang ia harapkan.  Sementara perutnya sudah merasa sangat lapar.

Akhirnya Con Ho tiba juga ke gua tempat persembunyian Con Tho.  Di depan gua itu, Con Ho bertemu Huyen.

“Salam, wahai,  pertapa yang baik.  Apakah kau melihat Con Tho yang melintas di sini?

“Iya, benar Con Ho, aku melihatnya.  Dia bersembunyi di dalam gua.”

“Kalau begitu, serahkan Con Tho padaku.  Dia mangsaku hari ini.  Kalau tidak, aku akan mengambilnya sendiri ke dalam gua.”

“Bersabarlah, Con Ho.  Kalau kamu bersedia aku ingin menukar kelinci itu dengan tangan kiriku.”  Huyen mengajukan tawaran yang cukup menarik buat Con Ho.

“Wah tawaran yang sangat menarik.”  Con Ho membatin, ” Baiklah aku pikir akan menjadi pengalaman menarik buatku bisa memakan daging manusia.”

Huyen memotong tangan kirinya,”Ini makanlah!”

Con Ho segera menyambar santapannya itu dan segera meninggalan Huyen menjadi buntung sebelah kiri tangannya.

            Con Tho yang menyaksikan peristiwa itu dari persembunyiannya, merasa sangat terkejut.  Betapa baik hati Huyen yang mau berkorban untuk dirinya, dengan sebuah pengorbanan yang luar biasa.  Belum hilang rasa kagetnya Con Tho kembali dikejutkan kejadian di depan matanya.  Ternyata tangan kiri Huyen tumbuh kembali, seperti sedia kala.

“Con Tho, keadaan sudah aman.  Sekarang pulanglah.  Lain kali berhati-hatilah.  Jangan memisahkan diri dari kelompokmu.  Semoga kamu selalu dalam keadaan aman.”  Huyen berpesan untuk keselamatan Con Tho.

“Terimakasih Huyen.  Aku takkan pernah melupakan kebaikanmu.”  Kelinci pun segera pulang menuju kawanannya dengan berlari sangat kencang.

Sementara itu Con Ho yang sedang berada di sarangnya, merasakan nikmatnya daging manusia.  Dalam benaknya terlintas, betapa mudah mendapatkan makanan.  “Sebaiknya aku mencari makan dengan cara ini.  Aku tidak harus lelah mengejar mangsa.  Sedikit berbohong tak engapa. Toh Huyen tak akan tahu kebohonganku.”

Keesokan harinya, Con Ho merancang cerita bohong pada Huyen.  Ia datangi Huyen, sang pertapa, dengan harapan ia akan mendapatkan potongan tangan kanannya.

“Huyen, hari ini aku ingin mencari makan dan aku mendapati kelinci di tengah hutan ini.  Tapi aku ingat tawaranmu kemarin.  Apakah kau akan menukar nyawa kelinci itu dengan tangan kananmu?”

Huyen tahu bahwa harimau itu berbohong.  Akan tetapi ia tidak ingin banyak berbicara dengan Con Ho.  Diberikannya tangan kanan pada harimau.  Harimau segera menyambar tangan kanan Huyen dengan sangat senang.  Segera dibawanya tangan itu menuju sarang untuk disantap.  Ia merasa berhasil memerdaya Huyen.

“Pertapa bodoh.  Mau saja dia aku bohongi.” Con Ho membatin.

Semua yang Con Ho dapatkan tidak membuatnya merasa puas.  Dia pikir kalau Huyen sudah kehilangan kedua tangannya, maka dengan akan mudah Huyen menjadi mangsa empuknya.

Keserakahan Con Ho yang sudah merasakan lezatnya daging manusia segera menuju gua untuk menerkan Huyen.  Sesampai di mulut gua, Con Ho membulatkan tekat untuk menerkam Huyen.  Ia nekat menerobos masuk.

Betapa terkejutnya Con Ho, tangan pertapa itu masih utuh.  Namun nafsu untuk menikmati daging manusia sudah tidak terbendung lagi.  Con Ho mengerang, mengaum dengan ganasnya.  Terjadilah pertempuran seru.

“Rasakan cakaran mautku, Huyen!”  Con Ho menyerbu dan menyerang Huyen.  Dengan lih ai Huyen membalas cakaran itu dengan sabetan tongkat sakti miliknya.

Alih-alih dapat melumpuhkan Huyen, justru harimau itulah yang banyak mendapatkan goresan luka. 

“Huyen, ampun.  Aku mengaku kalah.  Kaulah pemenang dari pertarungan ini.  Maafkan kejahatanku selama ini.”  Con Ho tergolek lemas penuh luka.

“Baiklah, aku menerima permintaan maafmu.  Tetapi jangan sekalikali kau ulangi perbuatan licik, curang dan khianat ini.  Aku akan merawat lukamu sampai sembuh.”

Demikianlah kemuliaan hati Huyen.  Ia dengan sabar mengobati luka Con Ho hingga sembuh.   Bekas pukulan dan luka pada tubuh harimau membentuk garis belang.   Hingga kini  terdapat jenis harimau berbulu loreng atau belang.

 

HIKMAH:

1.       Jadilah hamba Allah SWT yang penyayang dan lembut hati.  Barang siapa yang menyayangi apa yang ada di bumi maka akan menyayanginya apa yang di langit

2.      Raihlah keinginan dengan kejujuran bukan kebohongan, karena dusta adalah salah satu dosa besar dan ciri manusia munafik.

3.      Jadilah kesatria dan petarung sejati yang tidak mengenal kata takut dan mudah menyerah karena selalu ada jalan bagi setiap pejuang.

 

FAKTA ILMIAH

Harimau dalam system taksonomi tergolong dalam:

Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mammalia, Ordo: Carnivora, Famili: Falidae, Genus: Panthera, Spesies: Panthera tigris atau Felis tigris.

            Harimau adalah jenis kucing terbesar bahkan lebih besar daripada singa.  Mungkin ukurannya sama dengan singa tapi massanya lebih besar.  Massa harimau jantang bisa mencapai 180-320 kg, sedangkan betinanya berkisar  120-180 kg.  Panjang harimau jantan antara 2,6-3,3 m sedangkan betinanya 2,3-2,75 m.

Pada ordo karnifora, harimau menduduki tempat ketiga terbesar setelah  beruang kutub dan beruang coklat.

Ada perbedaan yang tidak banyak diketahui, bahwa harimau lebih gemar berenang daripada kucing.  Bahkan ucing cenderung takut air.

Motif bulu harimau adalah variasi loreng coklat terang dan hitam

 

REFERENSI:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Harimau/17/3/2019
  2. https://ahadwahyudh.wordpress.com/2014/06/02/asal-usul-harimau-berkulit-belang/17/3/2019
  3. http://www.artinama-bayi.com/20100/nama-namapopulerdi-Vietnam/23/4/2019



 

 


 

LEGENDA KE-6
LEGENDA BUAH SEMANGKA

(VIETNAM)

 

Di Vietnam, kita mengenal adanya Festival Tet, yaitu festival tahunan dimana orang-orang memakan semangka dan bijia-bijiannya di sepanjang jalan.

Nah, festival ini tidak lepas dari legenda berikut ini!

Berabad-abad lalu, badai melintasi Vietnam.  Badai menyapu pepohonan.  Cabang-cabang dan ranting-rantingnya beterbangan, jatuh.  Atap istana tersapu hingga rontok berkeping-keping. 

Di  lautan pun gelombang menggulung tinggi.  Perahu-perahu nelayan segera merapat ke tepi pantai.  Akan tetapi ada satu perahu yang terperangkap dalam badai. Lambung kapal terantuk karang, berputar mengikuti badai. 

“Turunkan layar! Turunkan layar!”  Komando mahkoda pada awak kapal.  Semua penumpang kalut dan panic dalam suasana yang tidak menguntungkan ini.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, lambung kapal bocor.  Air memasuki kapal, cepat menerobos ke dalam dan penumpang makin panik. 

“Bagaimana ini! Celaka!  Kita semua akan tenggelam dan mati bersama! Tuhan ampuni kami! Sial kita akan mati di sini sekarang juga!”  Teriakan riuh rendah saling bersahutan, penuh keputusasaan.

Akan tetapi hal ajaib yang terjadi.  Sebuah keranjang berisi bayi yang baru lahir ada satu  lepas dari pusaran badai, menuju tepi pantai.  Bayi itu terdampar di sana.

Seorang istri nelayan sedang berjalan di tepi pantai, di pagi itu.

“Ya, Tuhan, benarkah pendengaranku?  Sepagi ini ada suara bayi menangis?” Puong Anh, nama wanita itu terheran-heran.

Didekatinya sumber suara itu, ternyata sesosok bayi mungil. “Ya, Tuhan, bayi ini sungguh ajaib.  Dari pakaiannya pastilah dia anak orang aya.  Aku akan menghadiahkannya pada raja.  Semoga ada hadiah yang bisa aku terima.”

Puong Ahn menghadap raja.  Raja terlihat begitu bahagia dengan hadiah dari rakyatnya itu,” Benakah bayi ini telah selamat dari badai dengan keajaiban?”

“Benar Paduka, hamba dapati bayi ini di tepi pantai sehari setelah kabar hilangnya kapal yang diterpa badai”

“Kalau begitu, aku mau membesarkannya.  Bayi ini pastilah bayi ajaib.  Dan akan au beri nama Pangeran Mai An Tiem.

Pangeran Mei An Tiem tumbuh menjadi seorang pemuda yang masyhur.  Luas wawasan dan dalam ilmu pengetahuannya.  Kebijaksanaan dan kepahamannya pada keinginan raja membuatnya sering dimintai nasihat oleh dewan kerajaan.

Di usia dua puluh tahun Pangeran Mei menikah dengan salah satu putrid raja yang bernama Putri Co Ba.  Pesta pun diadakan dengan semeriah mungkin.

Ternyata kebahagiaan dan kemeriahan ini tidak dinikmati oleh pangeran Hau, putra kandung raja yang dilanda iri dengki pada Pangeran Mei An Tiem.  Muncullah rencana busuk terhadap Mei An Tiem.

“Aku harus meyakinan semua orang bahwa Mei An Tiem adalah seorang yang jahat, penghianat, anak angkat yang tak tahu diuntung.”  Rencana ini berlanjut dengan menyuap orang-orang istana agar menyebarkan kabar bohong, bahwa Pangeran Mei An Tiem adalah pemuda yang sombong, angkuh, gila kuasa dan akan mengudeta raja.

Suatu ketika kepala kerajaan menghadap raja dan berusaha memfitnah Pangeran Mei An Tiem, ”Paduka, adalah sebuah keharusan untuk mewaspadai Pangeran Mei An Tiem.  Beliau telah menyusun rencana bahkan menggerakkan pasukan untuk merebut kerajaan ini dari Paduka.” 

“Aku sangat paham keadaan menantuku itu, jangan kau coba merusak namanya di depanku.”

“Paduka, jangan sampai Paduka menyesal dan menunggu pasukannya makin kuat.  Hamba punya bukti.”  Dipanggilnya beberapa orang prajurit yang dibayar tinggi untuk mengaku bahwa mereka diberi imbalan besar untuk menyerang kerajaan.

Mendengar semua kesaksian itu, raja terpengaruh juga.  Maka ia pun memanggil Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba.

“Anak tak tahu diuntung.  Kamu aku asuh dari kecil ternyata menginginkan tahtaku.  Mulai saat ini aku usir kau dari negeri ini.  Pergilah bersama kapal yang akan membawamu meninggalkan kerajaan ini.”

Pangeran Mei An Tiem tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan.  Sementara Putri Co Ba memilih untuk mengikuti suaminya.

“Ayahanda, lebih baik aku mati daripada harus terpisah dari Kanda Mei. Sampai ke ujung dunia pun aku akan tetap mendampinginya.

Akhirnya mereka menaiki kapal yang disediakan kerajaan.  Kesedihan yang mencoba ditahan oleh Sang Raja adalah perpisahan dengan dua orang yang sangat disayangi dan diyakini kebaikannya.

Perjalanan mengarungi samudra pun mereka jalani.  Hingga mereka terdampar di pulau yang subur namun sunyi.  Dalam kesunyian itu, mereka mensyukuri segala yang mereka dapatkan meskipun dengan segala susah payah.  Sangat berbeda dengan kehidupan di istana yang serba mewah dan mudah.

Mereka terbiasa setelah berhari-hari belajar mengambil buah dari pepohonan, mencari ikan di sungai, memanjat tebing untuk meraih buah matang di tepi sungai curam. Sesekali Putri Co Ba mengimpikan bisa kembali ke istana.  Akan tetapi kenyataan membuat mereka pasrah.

Suatu sore, Pangeran Mei An Tiem sedang berjalan di tepi danau.  Dilihatnya dua ekor burung sedang bertengkar memperebutkan beberapa biji hitam.  Ia meleraikan burung itu sebelum mereka bertarung.  Burung-burung itu terbang ke angkasa.

“Benih apa yang mereka perebutkan ini? Baiklah akan aku tanam.  Semoga  akan tumbuh menjadi tanaman bermanfaat.”

Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, benih tumbuh menjalar menjadi tumbuhan yang tak biasa yang akhirnya berbuah.  Saat dirasa telah masak, mereka memetik buah berkulit hijau bermotif loreng itu.

“Hemmmm, betapa lezatnya buah ini.”  Putri Co Ba menikmati buah itu sambil membayangkan dirinya hadir di istana raja.

“Ayahanda pasti akan bahagia kalau turut merasakan buah terlezat ini.”  Pangeran Mei An Tiem memiliki ide untuk mengirim biji-biji hitam semangka itu.  Ia pun mencari ide bagaimana supaya Sang Raja dapat turut menikmati semangka dan sekaligus tahu bahwa semangka itu hadiah darinya.

Diputuskannya untuk menghanyutkan biji semangka itu. Dengan mengambill bagian dagingnya ia membuat sampan kecil dari kulit semangka.  Biji semangka diletakkan dalam sampan itu.  Di bagian luar kulit ia menulis damanya bersanding dengan nama Putri Co Ba.

“Dengan nama Tuhan, semoga hadiah ini sampai pada ayahanda.”

Demikianlah rasa cinta yang tulus pada Pangeran Mei An Tiem, hanyut bersama biji hitam semangka. 

Beberapa ari di laut, akhirnya kulit semangka itu ditemukan.  Sungguh bukan kebetulan kalau yang menemukannya Puong Ahn, istri nelayan yang juga penemu bayi ajaib.  Segera Puong Ahn yang telah mulai renta itu mengambil sampan kecil itu dan menyerahkan pada raja.

Baginda raja menerima hadiah itu dengan penuh rasa rindu.  “Aku tahu ini hadiah yang ingin kalian persembahkan untukku.  Aku akan menanamnya.  Jika benih ini baik, aku sendiri yang akan mencari dan menjemput kalian.”  Sang raja berjanji pada dirinya sendiri.  Ia tak mampu menahan rasa cinta dan rindu di hatinya.

Benar saja, biji-biji itu ditanam dan dipelihara dengan baik di kebun kerajaan.  Dalam beberapa bulan, buah semangka ranum telah siap dipetik.  Raja begitu ingin tahu rasa buah yang belum pernah dijumpainya itu.  Tanpa ragu dan bimbang karena keyakinan atas cinta kedua orang anaknya, Sang Raja memakan buah itu. 

“Luar biasa lezatnya buah ini, aku harus menepati janjiku.  Mencari dan menjemput Pangeran Mei An Tiem dan Putri Co Ba kembali ke istana.”

Kisah ini berakhir dengan pertemuan mengharukan antara Sang Raja dengan Pangeran Mei An Tie dan Putri Coba.  Kedatangan mereka disambut dengan pesta semangka yang mereka sebut Festival Tet hingga kini.  Sementara itu Pangeran Hau yang merasa malu telah mencelakai Pangeran Mei An Tiem, menyingkir jauh dari kerajaan.

 

HIKMAH:

 

1. Keluhuran budi akan mendatangkan cinta, asih dan sayang yang tetap akan dikenang hingga akhir hayat

2. Kerendahan hati untuk slalu menolong dan berbuat baik pada akhirnya akan melahirka cinta

3. Janganlah rasa iri dengki menghilangkan kasih sayang dan melahirkan permusuhan

4. Cobalah untuk bahagia saat orang lain bahagia dan bersedih saat orang lain menderita

5. Tetaplah gigih dalam keadaan apapun, karena Allah akan selalu membagikan jalan keluarNya

6. Buanglah dendam dengan mencoba memaafkan maka kemenangan akan menghampiri kita

 

FAKTA ILMIAH:

 

Semangka merupakan tanaman buah.  Memiliki tubuh merambat namun bukan merupakan stolon.  Berdaun lebar, berbunga terompet.  Buahnya yang besar mengingatkan kita pada labu. 

 

Semangka memiliki urutan taksonomi sebagai berikut: Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Curcubitales, Famili Cucurbitaceae, Genus Citrullus dan Spesies Citrullus lanotus.

 

Kandungan gizinya sangat banya, antara lain energy 30 kkal dalam 100 gram.  Karbohidrat 7,55 g, gula 6,2 g, serat 0,4 g, lemak 0,15 g, protein 0,61 g, air 91,45 g.  Selebihnya berupa vitamin A, B1, B2,B3, B5, B6, B9,dan vitamin C.  

 

Kandungan mineralnya meliputi Kalsium, Besi, Magnesium,  Fosfor, Kalium, dan Zink.

 

REFERENSI:

 

1. https://wikipedia.org/wiki/Semangka/17/3/2019

2. https://tridharma.or.id/sekolah-minggu-tridharma-asal-usul-datangnya-buah-semangka-ke-Vietnam/17/3/2019

3. http://www.arti-nama-bayi.com/17/2/2019


 

LEGENDA KE-7
TERBENTUKNYA PULAU TIMOR TIMUR

(TIMUR LESTE)

 

Dikisahkan secara turun temurun, bahwa sebelum Timor Timur muncul sebagai pulau, terdapa pulau-pulau kecil di sekitarnya.  Di pulau itu hiduplah dua pemuda yang memiliki sifat sangat berlainan.  Sebut saja namanya Rauk dan Mere.  Meskipun mereka bersahabat, tetapi memeka punya karakter yang sangat berbeda.

Rauk Mao adalah pemuda yang pemberani dan cenderung nekat.  Kesukaannya dalam berburu dan berpetualang seringkali tidak mengindahkan nasihat dari siapapun.  Sementara Mere masih mau memegang pesan dari

“Rauk, aku suka dengan kegemaranmu berburu.  Bahkan aku sangat tersemangati dengan keberanianmu.  Tapi tolong kau jangan berburu buaya lagi.”  Mere Lisboa mengingatkan sahabatnya yang selalu melanggar pesan para tetua di pulau yang mereka diami.

“Mere, aku sudah berhasil menahlukkan semua binatang di pulau ini.  Komodo, ular, kuda liar, banteng.  Semuanya.  Hanya satu yang sangat ingin aku tundukkan.  Buaya dan rasa lezat dagingnya.”  Rauk membanggakan dirinya dengan penuh kesombongan.

“Terserah kamu, Rauk.  Tapi tolong jangan kau buru buaya itu di depan mataku.”

Mereka pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.  Di tengah perjalanan pulang, Mere memilih untuk berbalik arah.  Ia berfirasat bahwa Rauk akan kembali memburu buaya saat ini juga.  Rauk akan terus mengikuti keinginannya dan tidak akan pernah menyerah sebelum keinginannya terpenuhi.

Sesampainya di tepi danau tempat buaya-buaya itu tinggal, betapa terkejutnya Mere melihat seekor buaya meronta-ronta.

“Tolong, aku terperangkap!!”  Buaya itu menggelepar-gelepar karena mulutnya terjepit bamboo.

“Tidak salah lagi bambu ini milik Rauk.”  Ternyata Rauk memasang jerat dengan membelah bambu, membukanya dengan kayu penahan pada ujungnya sementara di tengah dan meletakkan sebongkah daging ayam segar.

“Aduh, buaya, pasti kamu kesakitan terjepit perangkap ini.  Tenanglah, aku akan menolongmu.” Mere membuka jepitan bambu besar itu dengan sekuat tenaga.

Buaya terlepas dan dapat bernafas lega.  Ia berjanji akan bersahabat dengan Mere.  Sejak saat itu mereka begitu  karib.  Kemana pun buaya itu pergi, ia selalu menawarkan diri untuk membawa Mere berkelana mengarungi danau, bahkan samudra.  Mere memanggil Aya pada sahabat barunya itu

“Terima kasih sahabat, dengan kebaikanmu, aku bisa menikmati keindahan lautan.  Tidak ada satu pun pantai yang belum aku singgahi selama persahabatan kita, Aya,” ungkap Mere jujur.

“Kebaikanku belum seberapa bila dibandingkan dengan selamatnya nyawaku dari jepitan bambu beberapa tahun lalu.”  Aya mengucapkan rasa berhutang budinya pada Mere.

Suatu ketika mereka tiba di sebuah pulau asing.  Di pulau asing itu, Mere berjumpa dengan seorang gadis.  Rasa suka pada gadis itu membuat Mere meminang dan menikahinya.  Buah dari kasih sayang mereka, lahirlah anak-anak Mere. 

Meskipun Mere sudah tidak sendiri,  Aya tetap setia membawa keluarga itu kemanapun mereka mau.  Hingga tibalah waktu yang sangat tidak mereka inginkan.  Perpisahan!

“Mere, aku sudah tua.  Aku tidak akan kuat  lagi membawa kalian sekeluarga kemana pun kalian pergi.”  Aya berucap sedih.

“Jangan berkata begitu, Aya.  Katakanlah kita akan terus bersama, walaupun kau tidak lagi membawa kami mengarungi samudera, kami rela.

“Tiada ada yang bisa melawan ajal.  Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian.  Di waktu terakhirku, aku akan membawa kalian ke tengah samudera. Diantara dua pulau besar dan gugus pulau kecil yang kita tempati ini, aku akan berhenti.  Saat jiwaku pergi, jasadku akan menjadi tempat abadi kalian.”

Mereka pun menuju samudera yang dimaksud oleh Aya.  Saat jiwa Aya pergi, tubuhnya terbujur kaku, perlahan tubuh itu melebar menjadi sebuah pulau yang mirip dengan buaya.  Pulau itu dinamakan Pulau Timor.  Letaknya yang berada di bagian timur melengkapi namanya, Timor Timur

 

HIKMAH:

1. Tetaplah berbuat baik, karena kebaikan akan selalu membuahkan kebaikan selanjutnya

2. Saling berterimakasih akan melahirkan keharmonian dalam kehidupan, saling memberi dan menerima

3. Barang siapa menyayangi apa yang ada di bumi maa akan menyayanginya para penduduk langit, maka saling berkasihsayanglah.

 

FAKTA ILMIAH:

Timor Timur berdiri pada tanggal 17 Juli 1976 dan dibubarkan pada tanggal 19 Oktober 1999.  Memilih terpisah dari Indonesia melalui referendum saat pemerintahan Presiden BJ. Habibie.  Resmi sebagai negara merdeka pada 20 Mei 2002, setelah menjadi provinsi ke-27 bersama Indonesia.

Selama 23 tahun bersama Indonesia, Gubernur yang bertugas adalah Arnaldo dos Reis Araujo (1976-1992) dan Jose Abilio Osorio Soares (1992-1999)

Dijajah oleh Portugal selama 450 tahun, kesejahteraan dan pembangunan tidak diperhatikan oleh pemerintah Portugal.    Atas usulan dari partai politik APODETI dan UDT, Timor Timur ingin bergabung dengan Indonesia pada 28 November 1975.  Karena ada sebagian partai yang berhaluan kiri, FRETELIN tidak ingin bergabung dengan Indonesia, maka ABRI melakukan tindakan pengamanan terhadap potensi pertikaian pada 7 Desember 1975.

Meskipun dianggap invasi, Indonesia tidak pernah memperlakukan Timor Timur sebagai daerah jajahan, bahkan banyak pembangunan yang diprioritaskan ke provinsi termuda tersebut.  Dalam pidatonya saat memperingati dua tahun integrasi Timor Timu di Gedung DPRRI, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Timor Timur adalah saudara yang hilang dan telah kembali pada pangkuan ibu pertiwi.

 

REFERENSI:

1. http://daonlontar.blogspot.com/2013/04/mitologi-asal-usul-pulau-timor-timur.html/17/3/2019

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Timor_Leste/17/3/2019

 


 

LEGENDA KE-8
LEGENDA SELAT SUNDA DAN GUNUNG KRAKATAU

(INDONESIA)

 

Pada jaman dahulu, Sumatra dan Jawa masih bersatu.  Raja yang berkuasa bernama Prabu Rakata.  Prabu Rakata dikenal sebagai seorang yang adil dan bijaksana.

Usianya yang makin senja, membuatnya berniat menyerahkan kekuasaan pada dua orang putranya.

“Putraku, Nak Mas Raden Sundana dan Raden TapabarunaPrabu Rakata.  Ayahanda sudah makin sepuh dan banyak hal yang aku rasakan berat memimpin negeri ini.”  Prabu Rakata memulai perbincangan dengan dua putranya di peraduan.

“Ampun Ayahanda, Ananda rasa Ayahanda masih cukup kuat dan sangat dibutuhkan oleh rakyat,” kata Raden Sundana.  Sementara Raden Tapabaruna hanya diam dengan keluhan Sang Prabu.

“Bagaimanapun kalian sudah dewasa.  Jangan sampai saat ajal menjemput, kalian tidak siap menerima amanat kepemimpinan yang aku tinggalkan.”

Pembicaraan serius ini membuat Sang Prabu memanggil beberapa orang dekat di istananya.

“Wahai para pembantuku, orang-orang yang setia padaku juga pada kerajaan.  Aku memanggil kalian untuk suatu keputusan besar dan sangat penting.  Aku membutuhkan pendapat kalian tentang kepemimpinan yang harus aku serahkan pada dua putraku.  Usiaku makin uzur, sudah saatnya aku mendekatkan diri pada Yang Kuasa.”

Semua mendengarkan titah raja dengan seksama.  Perundingan pun berlanjut dengan musyawarah serius tentang masa depan kerajaan.

Akhirnya tibalah saatnya Sang Prabu mengumumkan keputusan yang dimufakati para petinggi kerajaan.

“Sudah tiba saatnya aku mendekatkan diriku pada Yang Maha Kuasa.  Aku akan melakukan uzlah dan suluk di Sang sisa usiaku.  Maka aku serahkan dua wilayah besar kerajaan ini.  Wilayah timur untuk Raden Sundana dan wilayah barat untuk Raden Tapabaruna.”

Keputusan raja disambut dengan riuh rendah suara rakyat.  Ada yang suka ada juga yang kecewa bahkan ada yang tidak terlalu mempermasalahkan siapa raja wilayahnya nanti.  Semua sesuai dengan rasa kecintaan mereka pada  masing-masing pangeran kerajaan.

Sang Prabu akhirnya berangkat menyendiri.  Dia hanya ditemani satu benda kesayangannya yaitu guci.  Beberapa tahun di tempat uzlahnya, Sang Prabu mendengar kabar bahwa kedua putranya terlibat perang besar.

“Sudah aku duga, saat aku masih ada pun sampai hati mereka berbuat hal yang mengecewakanku.  Pengawal, aku harus melakukan sesuatu.”  Prabu Rakata berucap geram.  Murkanya kali ini tak dapat ia tahan.

Apakah yang dilakukan Sang Prabu Kemudian?

Sang Prabu mengisi penuh guci kesayangannya dengan air laut.  Ia bersama pengawal menemui kedua putranya.

Demi mendengar Sang Prabu hendak pulang menemui mereka, mereka melakukan kesepakatan.

“Kang Mas, aku tidak akan menghentikan peperangan ini, seandainya ayahanda tidak berniat untuk pulang.  Aku berhenti bukan berarti kalah.  Ini semua aku lakukan untuk menghibur ayahanda prabu.”

“Baik Dimas, aku aan menerima tantanganmu itu, tunggu sampai ayahanda berangkat. uzlah kembali.”

Keduanya tidak menyadari bahwa Sang Prabu telah kembali dan mendengar perbincangan mereka.

“Kalian sangat mengecewakanku.  Aku perintahkan kalian pulang dan berdiri di wilayah masing-masing!!!”

Kedua putra raja itu pun mundur dengan pasukannya masing-masing.  Penyebab peperangan itu ternyata perebutan daerah perbatasan yang kaya akan emas.

Sang Prabu segera memberikan pelajaran pada kedua putranya. 

“Baiklah, aku akan sirami wilayah sengketa ini dengan air laut di guci ini.  Kekayaan dunia yang telah membuat anak-anakku berperang akan sirna.”  Sang Prabu Rakata membenaman guci kesayangannya, dan sesuatu yang luar biasa terjadi.  Guncangan dahsyat membelah daerah sengketa itu menjadi dua.  Air laut yang disiramkan Sang Prabu mencari jalan menuju asalnya, membuat jalan air laut menggenangi daerag gempa itu.

Akhirnya dua wilayah barat dan timur itu pun terbelah sempurna.  Guci yang ditanam itu berubah menjadi gunung.  Untuk mengenang pemilik guci itu, mereka menamakannya sebagai Gunung Krakatau.

 

HIKMAH:

1. Janganlah kecintaan pada dunia, ambisi akan kekayaan dan keduniaan menghilangkan persaudaraan dan rasa kemanusiaan

2. Perselisihan diantara saudara akan membekaskan rasa sakit pada kedua orang tua, maka selalulah hidup rukun penuh kedamaian

3. Jadilah pemimpin yang adil karena ditangan pemimpin yang adil, rakyat akan selamat.  Sebaliknya bila pemimpin tidak adil dan bijak, banyak yang akan menjadi korbannya.

 

FAKTA ILMIAH:

Krakatau tergolong dalam gunung kaldera, memiliki ketinggian 813 m.  Terletak di Selat Sunda, antara Jawa dan Sumatera.

Anak Krakatau 'lahir' pada 11 Juni 1927, sekitar 40 tahun setelah letusan paling dahsyat di bulan Agustus tahun 1883. Komposisi magma basa Anak Krakatau muncul di pusat kompleks Krakatau. Anak Krakatau sudah berada di level kedua sejak 2012. Pada pertengahan 2018 Anak Krakatau kembali bererupsi aktif dan letusan terakhirnya terjadi pada tanggal 22 Desember 2018.

            Erupsi Krakatau 1883 dikatakan sebagai erupsi terkuat yang terekan sejarah dan masuk dalam Gueness Book of Record dengan nilai VEI (Volcanic Explosivity Index) terbesar dan daya rusak terhebat dalam sejarah peradaban manusia.   Letusannya terdengar hingga 4600 kilometer dan letusannya terdengar oleh 1/8 penduduk bumi, abu vulkaniknya tersebar dalam radius 550 km.  Asapnya mencapai ketinggian 11 km. Meninggalkan bekas kaldera bawah laut sedalam 250 m dan lebar 7km.  Gelombang Tsunami yang ditimbulkan setinggi 30m, menjangkau Port Elizabeth Afrika Selatan.  Amukannya terjadi selama 20 jam 50 menit, menghilangkan 162 desa dan menelan korban jiwa sebanyak 36417 jiwa.  Kekuatan ini dinilai 21574 kali lebih hebat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

 

            Meskipun letusan ini tampak dahsyat, ternyata Krakatau Purba jauh lebih dahsyat.  Tertulis dalam teks Jawa Kuno berjudul Pustaka Raja Parwa, di tahun 416 M, Gunung Krakatau Purba memiliki etinggian 2000 m di atas permukaan air laut, dengan lingkaran pantai 11 km.

            Digambarkan bahwa ledakan selama 10 hari dengan muntahan 1 juta ton perdetik berasal dari Gunung Batuwara (Gunung Krakatau Purba).  Guncangan menakutkan terus terjadi, angin, bujan dan gelombang laut begitu menakutkan, dunia menjadi gelap.  Pulau Jawa terpisah menjadi dua bagian yaitu Sumatra dan Jawa.  Demikian menurut buku Pustaka Raja Parwa.  Akibat lain dari ledakan ini adalah musnahnya beberapa peradaban di bumi ketika itu, antara lain Persia Purba, suku-suku India di Amerika.  Temperatur bumi turun hingga 5-100 dalam 10-20 tahun

 

 

REFERENSI:

1. https://www.tanahnusantara.com/legenda-selat-sunda-sekilas-kisah-gunung-krakatau/17/3/2019

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau/17/3/2019


 

LEGENDA KE-9
KEINDAHAN BULU BURUNG CENDERAWASIH

(INDONESIA)

           

Di daerah Pegunungan Bumberi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, hiduplah seorang perempuan tua kita sebut saja dia Meina,  bersama seekor anjing penjaga.  Anjing ini juga menemani perempuan tua untuk berburu di tengah hutan.

           

Suatu ketika persediaan makanan Meina habis.  Mereka merasa lapar dan mulai untuk berburu.  Di tengah perburuan mereka, Meina menemukan buah merah dan diberikannya pada anjing betina yang menemaninya itu. 

    

“Dinga, ini ada buah merah.  Makanlah! Kamu pasti lapar, bukan?”

 

Di luar dugaan ternyata setelah memakan buah merah, Dinga mengalami perubahan pada dirinya.  Perubahan ajaib karena tiba-tiba perusnya membesar.  Ada janin yang bergerak-gerak pada perutnya. Dinga pun melahirkan seekor anjing mungil.

 

“Aku ingin hamil dan melahirkan anak sepertimu, Dinga.” 

 

Meina kemudian memakan buah merah.  Benar saja, perut Meina mengalami perubahan.  Membesar dan bergerak-gerak menendang dinding rahimnya.  Ia bergegas pulang dan melahirkan sesosok bayi laki-laki mungil.

 

“Aku akan memberimu nama Kweiya.”

 

Kweiya tumbuh menjadi remaja yang baik lagi rajin.  Ia sangat sayang pada ibunya.  Setiap hari ia sanggup bekerja keras memerah keringat demi ibunya tercinta.

 

“Ibu, aku akan menyiapaka kebun sayur untuk kita.”

 

“Bagaimana bisa Kweiya, kita tidak punya ladang.  Selama ini aku hanya mencari makanan di hutan.”

 

“Ibu aku akan menebang hutan dan membuat ladang untuk kita Tanami,” ungkap Kweiya meyakinkan.

 

Kweiya berangkat ke hutan, menebang pohon dengan sabar. Ia membakar tetumbuhan yang ditebangnya. 

 

Asap tebal membubung tinggi, sehingga menarik perhatian seorang pengail ikan di sungai.  Pengail ikan itu mencari sumber asap.  Ternyata seorang pemuda tampan sedang bekerja keras menyiapkan lahan di hutan itu.

 

“Selamat siang, anak muda!  Siapa kamu dan mengapa kamu tebang pohon dan tumbuhan di hutan ini?” tanya pria tua.

 

“Aku Kweiya.  Aku  sedang membantu ibuku menyiapkan ladang  untuk menanam sayur dan bebijian.”

 

“Kamu tentulah seorang anak yang baik lagi berbakti.  Aku ingin memberikan hadiah ini untuk keluargamu.  Semoga bisa bermanfaat dan berkah di tangan anak serajin kamu.  Tapi tolong rahasiakan pemberianku ini pada siapapun termasuk ibumu,” lanjut Pak Tua.

 

“Terimakasih, Pak Tua,” ungkap Kweiya sambil menerima kapak besi pemberian Pak Tua.

Dengan kapak besi itu Kweiya meneruskan pekerjaannya.  Sesuatu yang ajaib terjadi.  Kweiya dapat menebang pohon-pohon itu dalam waktu sekejap.  Ia pulang dengan riang, memberi kabar pada ibunya bahwa kebun sudah siap.

 

Ibunya terheran-heran dengan kemampuan Kweiya dan menanyakan kelebihannya itu.  Kweiya tetap merahasikan kapak besi itu dan hanya mengatakan bahwa saat menebang pohon dan menyiapkan kebun, tangannya terasa ringan.

 

Keesokan harinya Kweiya bermaksud membalas budi baik Pak Tua dengan mengundangnya makan bersama.

 

“Ibu, tolong masakkan aku makanan yang lebih banyak dari biasanya,”  pinta Kweiya tanpa banyak mendapat pertanyaan dari Sang Ibu.

 

Dengan tetap merahasiakan kisahnya tentang Pak Tua, Kweiya membungkus Pak Tua dengan batang tebu berdaun kebat dan meletakkannya di depan rumah.

 

Rasa lelah dan haus memanggul Pak Tua bersama batangan tebu, Kweiya meminta ibunya mengambilkan sebatang tebu pembungkus Pak Tua.  Betapa kagetnya Meina saat melihat ada seorang pria tua di dalam gulungan batang tebu itu.  Kweiya akhirnya berterus terang bahwa Pak Tualah yang membantunya menyiapkan kebun.  Pak Tua bermaksud menikahi ibunya, maka Kweiya memohon kesediaan ibu untuk menikah.

 

Pernikahan berlangsug dengan baik.  Tuhan mengaruniakan dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.  Sangat disayangkan dua adik lelaki Kweiya memendam iri dengki karena mereka merasakan kasih sayang yang berbeda dari Sang Ibu.  Puncaknya, kedua adik laki-laki Kweiya menyerang dan mencelakai Kweiya saat bekerja di kebun.  Kweiya tidak membalas, bahkan memaafkan kedua adiknya.

 

Rasa sedih yang dalam membuat Kweiya memutuskan untuk memintal kulit binatang.  Ia bermaksud membuatnya menjadi bulu sayap untuk terbang meninggalkan dua adiknya yang jahat.

 

Saat pintalan selesai, disisipkannya pintalan itu pada ketiaknya, Kweiya berubah menjadi burung cantik dengan bulu penuh warna.  Ia terbang meninggalkan keluarganya. 

 

Ibu merasa sedih ditinggal Kweiya. “Kweiya pulanglah, Nak.  Ibu tak ingin kau tinggalkan.”. 

 

Ternyata Kweiya ada di atas atap rumah, ia memberitahukan bahwa pintalan kulit untuk ibu masih ada dan terselip di paying tikar.

 

“Ibu, ambillah pintalan kulit yang aku tinggalkan untuk ibu.  Apit pada ketiak Ibu, maka Ibu akan berubah sebagaimana aku.”

 

Meina memakaikan  pintalan itu di ketiaknya dan ia berubah menjadi burung yang cantik pula.  

 

Meskipun tidak secantik bulu Kweiya yang menjadi Cenderawasih jantan.  Meina mengikuti Kweiya meninggalkan keluarga itu.

 

Tinggallah Pak Tua dan tiga anaknya.  Mereka saling menyalahkan satu sama lain.  Pertengkaran tak dapat dihindarkan. 

 

“Gara-gara kalian, kita kehilangan ibu dan kakakmu.  Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.”  Pak Tua tak bisa menahan marahnya.

 

Mereka saling melempar abu perapian.  Tiba-tiba tubuh mereka berubah menjadi burung dengan bulu yang kusam dan tak seindah bulu burung Cenderawasih tergantung baik dan buruknya sifat masing-masing.

 

Demikian kisah terjadinya burung Cenderawasih dari Fakfak Papua.

 

HIKMAH:

      1. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, maka Tuhan akan membukakan jalan keberuntungan yang tidak kalian duga

      2. Menjaga rahasia adalah perbuatan yang berat, kejujuran adalah obatnya

      3. Hindarkan dari iri dengki, ia adalah sumber permusuhan dan malapetaka

      4. Kesabaran akan embawa kebaikan bahkan menjanjikan keberuntungan.  Sementara sifat pemarah menjadi bibit pertengkaran dan melahirkan penyesalan.

FAKTA ILMIAH:

Cinderawasih sering juga di sebut Paradise Bird karena keindahan bulunya.  Penyebarannya banyak di Indonesia Timur, terutama Papua.  Cenderawasih termasuk dalam tipe burung Astronesia

Taksonomi burung Cenderawasih adalh sebagai berikut:  tergolong dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Passeriformes dan Famili Paradisaeidae.  Seentara itu turunannya tergolong dalam Genus Paradisaea dan Spesies Paradisaea sp.

Salah satu spesies yang unuk adalah Cenderawasih kuning-besar, yang memiliki nama ilmiah Paradisaea apoda (Cenderawasih tanpa kaki).  Spesimen ini dibawa ke Eropa dala sebuah ekspedisi dagang dengan terlebih dahulu diambil kakinya.  Maka munculah spesies tanpa kaki ini.  Mereka menganggap burung ini ajaib dari surga dan akan terus terbang tanpa hinggap karena tidak memiliki kaki.

REFERENSI:

1.  http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/300-Asal-Usul-Burung-Cenderawasih/10 Maret 2019

2.  https://histori.id/legenda-asal-usul-burung-cendrawasih/10 Maret 2019

3.  https://id.wikipedia.org/wiki/Burung-burung_Cenderawasih/10 Maret 2019


 

LEGENDA KE-10
ASAL USUL  GEMPA BUMI

(JEPANG)

Kisah ini muncul dari satu daerah  yang dulu bernama Edo dan dikenal dengan nama Tokyo hingga saat ini.  Tentu hampir semua orang mengenal Tokyo sebagai ibu kota negara Jepang.

Nah, ada sesuatu yang menarik untuk kita simak tentang asal mula kejadian gempa bedasarkan legenda versi rakyat Jepang.  Ayo, kita simak!

Dulu kala di daerah Edo, hidup seorang yang kaya raya.  Ia senang mengundang warga untuk berpesta pora. Nama orang itu Eito yang bemakna orang yang makmur.

Kemakmuran Eito tidak lepas dari peran Dewa Kashima.  Kashima merupakan dewa penjaga seekor lele besar yang bernama Namazu.  Ia menahan Namazu dengan batu agar tidak bergerak.  Sekali saja Dewa Kashima lengah dalam menjaga maka lele raksasa ini akan menggoyang bumi.

“Namazu, tetaplah kamu dalam keadaanmu.  Jangan sekalipun kamu bergerak kecuali aku perintahkan untuk memberi pelajaran pada para pendurhaka. Aku akan melihat tingkah laku manusia ,” ungkap Kashima suatu ketika.

“Baiklah aku akan menuruti apa perintahmu, Dewa Kashima,” jawab Namazu.

Kashima memeriksa perilaku manusia.  Dari kejauhan terdengar suara riuh rendah pesta pora di satu titik di tengah kota Edo.

“Ayo, silahkan kalian habiskan hidangan ini.  Tambah lagi sakenya.”  Eito berkeliling melayani tamu-tamu istimewanya.  Semua tenggelam dalam kemewahan pesta.

“Tenang Tuan Eito, perut kami cukup lapar untuk menampung semua makanan dan minuman ini.”  Salah satu tokoh penting di kampung itu menimpali.

Tanpa disadari oleh Eito dan para tamunya, hadir sesosok pria tua menuju pesta itu.  Ia menyelinap ke tengah kerumunan tamu pesta undangan.  Pakaiannya yang compang-camping, embuat para tamu menyingkir menjauhinya.

“Kenapa kamu datang kemari.  Ini bukan tempat untukmu.  Sungguh menjijikkan!” hardik seseorang berkimono biru.

Keributan itu akhirnya membuat Eito bangkit dari kursi kebesarannya.  Dengan sombongnya, ia berkacak pinggang dan berteriak.  Ia sengaja melakukannya untuk disaksikan oleh semua tamu undangan, bahwa ia tidak enyukai kehadiran pria tua itu.

“Hai, tamu tak diundang.  Kamu telah menggangguku dan semua tamuku.  Pergi sekarang juga.  Kalau tidak, tak segan-segan aku menyuruh orang-orangku untuk mengusir.”

“Maafkan tuan hamba hanya memerlukan sedikit makanan untuk engganjal perutku yang telah lama tidak terisi barang sesuap nasi ataupun minuman.” Pria tua berucap memelas.

“ Itu bukan urusanku.  Mengeluhlah pada Tuhanmu tapi jangan padaku.  Makananku bukan untuk manusia miskin dan sial sepertimu.”

Saat orang kanan Eito mendekati pria tua.  Tiba-tiba pria itu menghilang.  Hanya terdengar suara menggema dari langit-langit tempat pesta.

“Namazu, aku dapati banyak orang sombong di sini.  Bergeraklah kamu, biar mereka merasakan akibat kesombongan mereka.” Kashima menggeser batu penindih Namazu.

Tiba-tiba bumi yang mereka pijak berguncang keras.

“Ampun Namazu, ampun Namazu.  Kami tidak akan sombong lagi.  Kami akan berbagi pada ereka yang miskin.”  Mereka menyebut nama Namazu, nama yang mereka dengar dari suara gaib itu.  “Wahai yonaoshi daimyojin, perbaiki keadaan kami.  Kaulah Namazu Dewa Perbaikan Bumi, jangan kau teruskan kemarahanmu!” 

Teriakan orang-orang itu tidak menghentikan gerak Namazu.  Semua bangunan retak dan rata dengan tanah.  Sementara warga yang sedang pesta lari tunggang langgang menyelaatkan diri mereka masing-masing dari himpitan bumi.

 

HIKMAH:

1. Jangan Pernah sombong atas kenikmatan yang kita terima, karena semua dari Allah SWT

2. Gunakanlah nikmat itu untuk berbagi pada sesama, saling menolong dan membantu bukan dijadikan alasan untuk menghardik dan mencemooh

3. Sifat kikir dan pelit mendatangkan murka Allah SWT dan bencana, sebaliknya, sedekah dapat menolaknya

 

FAKTA ILMIAH:

Gempa bumi erupakan getaran yang terjadi di permukaan bumi akibat dari pelepasan energy dari dalam bumi secara tiba-tiba sehingga menimbulkan gelombang seismic.  Gempa bisa disebabkan oleh gerakan lempeng bumi (tektonik) atau desakan magma pada peristiwa letusan gunung berapi (vulkanik)

 

 

Gempa bumi diukur dengan menggunakan seismometer yang merekam getaran dan menggambarkannya dalam grafik yang disebut seismograph.  Moment Magnitudo merupakan ukuran besarnya gempa atau lebih dikenal dengan satuan Scala Richter, dimana  1 SR=5 MM.

 

Berdasarkan penyebabnya ada berbagai jenis gempa bumi:

Gempa bumi tektonik

Gempa bumi vulkanik

Gempa bumi runtuhan

Gempa bumi tumbukan

Gempa bumi buatan

 

Berdasarkan kedalamannya:

Gempa bumi dalam (hiposentrum lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi)

Gempa bumi menengah ( hiposentrum antara 60 km-300 km dalam kerak bumi)

Gempa bumi dangkal (hiposentru kurang dari 60 km)

 

Berdasarkan kecepatannya:

Gempa bumi primer (kecepatan gelombangnya 7-14 km/s) getaran berasal dari hiposentrrum

 Gempa bumi sekunder (kecepatan antara 4-7 km/s) dimana getarannya tidak dapat merambat melalui lapisan cair

 

 

REFERENSI

  https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi/15 Maret 2018

  https://en.wikipedia.org/wiki/Namazu_(Japanese_mythology)/15 Maret 2018

  http://www.personal.psu.edu/faculty/g/j/gjs4/Shaking_Up_Japan.pdf/11 Maret 2018

  https://www.anehdidunia.com/2015/11/mitos-asal-usul-gempa-bumi.html/10 Maret 2018

 



 

 

LEGENDA KE-11

 ASAL MULA NAGA

(CINA)

 

KISAH:

            Di sebuah pedesaan yang asri,  dikelilingi perbukitan , diantara bukit –bukit itu terhampar padang rumput yang luas, tinggallah seorang pemuda yang teramat rajin.  Ia senang membantu ibunya,  pemuda itu bernama Liong Yu.

            Tinggal berdua dalam rumah sederhana tidak membuat mereka hilang kebahagiaan.  Liong Yu dan ibunya melewati hidup dengan kasih sayang.

            “Liong Yu, makan dulu.  Ini ibu memasak makanan kesukaanmu.”  Ibu menyodorkan hidangan kesukaannya.

            “Ibu saja yang makan, aku sudah makan di rumah Hieun Tse.  Dia mengadakan pesta hari ini.”

            “Ayolah Liong Yu, makanan itu juga hasil keringat kamu.  Ibu menukar beras dengan sekerat daging untuk kari ini.”

            Liong Yu tidak bisa menolak ajakan ibunya.  Keduanya tampak harmonis tinggal di rumah kecil itu

            Keseharian Liong Yu diisi dengan bekerja mencari rumput untuk Hieun Tse, petani kaya dengan banyak lahan dan ternak.

            “Liong Yun, ini beras untuk upah kerja kerasmu hari ini.”  Hieun Tse memberikan sekantung beras yang cukup untuk makan hari ini dan menukar sebagiannya dengan lauk pauk.

            “Terima kasih, Tuan  Hieun Tse,” balas Liong Yu.  Liong Yu pulang dengan riang.  Begitulah hari-hari dilaluinya dengan mencari rumput, pulang, menyerahkan hasil merumputnya dan beristirahat.

            Suatu ketika, negeri itu dilanda kekeringan.  Hujan tak mau menyapa hingga beberapa tahu.  Akhirnya rerumputan pun kering. 

            Liong Yu kebingungan hendak mencari rumput ke mana., sementara persediaan beras dan bahan makanan di rumahnya hampir habis.  Liong Yu tidak mau menyerah, ia terus berjalan mencari rumput.  Hingga pandangannya menyambangi hamparan rumput hijau di balik bukit.

            “Luar biasa, ternyata di sini masih ada rumput hijau.  Aku akan mengambil rumput di sini tiap hari.”  Liong Yu mulai merumput dan….. “Benda apa ini.  Indah sekali, berkilauan dan penuh warna.”  Liong Yu mengan bil benda seperti manik-manikitu dan membawanya pulang.

            Di rumahnya, ia tidak menyampaikan manik-manik yang ditemukannya pada sang ibu.  Ia menyimpannya pada wadah beras upah kerjanya.

            Saat Liong Yu hendak menuangkan beras upahnya ke dalam  kendi, ia terheran-heran.  Karena kendinya penuh terisi beras.  Diamatinya keajaiban yang terjadi di rumahnya itu. 

            “Aku yakin.  Manik-manik ini  yang membuat berasnya tak habis bahkan bisa dinikmati banyak orang.”  Liong Yu mulai memenghadiahkan beras itu pada warga.  Ia tidak lagi mencari rumput untuk Hieun Tse.  Warga pun merasa senang kecuali para petani dan juga Hieun Tse.

            Hieun Tse mulai kebingungan dengan ternaknya yang kelaparan. Ia membujuk Liong Yu untuk tetap merumput dengan upah yang lebih besar.

            “Ayolah, Liong Yu.  Tetaplah merumput untuk sapi-sapiku.  Aku akan memberimu upah lima kali lipat dari biasanya.”

            “Tidak Tuan, saya sudah lelah bekerja.  Saya kini bisa dengan mudah mendapatkan beras.  Bahkan saya bisa membagikan beras itu untuk warga yang kesusahan selama musim kering ini.

            Dalam perbincangan itu akhirnya, rahasia tentang manik-manik  terbongkar juga.  Hieun Tse berminat untuk membelinya dengan harga yang sangat mahal.

            “Aku akan merelakan semua lahan pertanian, ternak dan rumah saya, asalkan kau mau menyerahkan manic-manik itu.”

            “Tidak Tuan, manik-manik itu telah melepaskan saya dari segala kesulitan hidup.”

Hieun Tse pulang dengan rasa kecewa.  Dalam hatinya ia berniat untuk mencuri manik-manik itu.

            Malam harinya, Hieun Tse menyatroni rumah Liong Yu.  Ia mengendap-endap masuk kamar yang sempit itu.  Tanpa sengaja Hieun Tse menginjak sesuatu yang menimbulkan suara gaduh.

            Liong Yu terbangun dan kaget dengan sosok bertopeng.  Dari perawakannya ia yakin bahwa sosok itu adalah Hieun Tse.

            “Tuan Hieun Tse, untuk apa Tuan kemari.  Apa hanya sekedar mendapatkan manic-manik itu?”

            “Berikan manik-manik itu padaku atau jiwamu akan terancam.”  Hieun Tse mengarahkan senjata pada Liong Yu.

            “Baiklah, Tuan.  Tapi permintaan saya, janganlah Tuan celakai saya.”  Liong Yu menuju kendi tempat penyimpanan beras. 

            Tiba-tiba Liong Yu berpikir, bahwa dengan menelan manik-manik itu  dan semua akan baik-baik saja.

            Di luar dugaannya,  manik-manik itu  bergolak dan menimbulkan rasa pana yang luar biasa pada tubuh Liong Yu.  Rasa haus tidak dapat ditahannya.  Liong Yu lari menuju sungai dan danau kemudian meminum semua airnya.  Tapi rasa haus itu tidak juga hilang bahkan rasa haus makin menjadi.  Bara api tersembur dari mulut Liong Yu disertai perubahan bentuk dan wujudnya. 

            Liong Yu menjadi seekor binatang besar berkaki empat,  Berkepala ular dengan rumbai-rumbai  dan sisik yang memenuhi tubuhnya.  Dengan keadaan yang mengerikan itu, warga mengusirnya menjauhi kampung dan menjadi seekor ular naga.

            Hingga saat ini, orang-orang Cina menyebut ular naga dengan kata Liong atau Lung.

 

HIKMAH

1.  Jadikan kerja keras menjadi semangat hidup untuk bisa bertahan dalam keadaan mudah maupun susah, karena tiap tetes keringatlebih berharga di sisi Allah SWT daripada hasil dari tetesan keringat itu sendiri

2.  Janganlah terlena dengan sesuatu yang bisa dengan mudah kita dapatkan. 

3.  Kadang mendapatkan sesuatu tanpa banyak pengorbanan membawa risiko besar di luar perkiraan kita..

 

FAKTA ILMIAH:

            Dalam khazanah ilmu keislaman, naga merupakan makhluk ghaib yang memiliki tugas menjaga istanaIiblis.  Bahkan ular naga berkolaborasi dengan Iblis untuk memerdaya Adam dan Hawa.  Iblis memasuki surge dengan bersembunyi di mulut ular naga.  Ular naga digambarkan sebagai ular yang berbentuk semacam unta berkaki empat namun berpenampilan cantik.

            Sebagian orang menganggap bahwa Komodo adalah wujud yang paling dekat dengan ular naga.  Ada beberapa alasan orang  berpandangan demikian.  Komodo merupakan reptile tertua bahkan masuk dalam binatang purba yang masih ada di muka bumi sejak jutaan tahun yang lalu.  Komodo memiliki kulit bersisik dan tergolong binatang buas yang dapat memakan mangsa melebihi berat badannya dan bertahan tidak makan dalam beberapa pekan.  Kecepatan menangkap mangsa pun cukup fantastis untuk seekor roptil, 29 km/jam.

             Nah, sampai saat ini umumnya naga dianggap sebagai binatang mitos.  Naga adalah reptile berkaki empat seolah kadal raksasa, akan tetapi memiliki sayap, dapat terbang dan bisa menyemburkan api dari mulutnya.

            Masing-masing negara memiliki imajinasi yang beragam tentang naga ini.  Oleh karena itu penamaan dan gambaran wujudnya beraneka ragam.  Di inggris naga mendapat julukan dragon, di Skandinavia, namanya draken sedangkan di Cina disebut Liong atau Lung. 

            Sebagai contoh tentang keunikan imajinasi tentang naga ada di masyarakat Dayak Kalimantan.  Naga adalah binatang di bawah air atau tanah yang bertumbuh tambun, bersisik semacam ular dan memiliki kaki empat.

 

REFERENSI:
1.  
https://nulis.babe.news/baca/0cc0e2/pandangan-islam-tentang-ular-naga/21/2/2019
2.  
https://mocomi.com/international-folk-tales-how-the-dragon-came-to-be/21/2/2019* dengan translasi dan perubahan
3.  
https://id.wikipedia.org/wiki/Naga/21/2/2019
4.  
https://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/03/160312_vert_earth_komodo/21/2/2019


 

LEGENDA KE-12

BARONGSAI DAN TAHUN BARU CINA

(Cina)

 

Berabad-abad yang lalu, Cina masih didominasi oleh daerah pedesaan.  Mereka hidup tenang damai sebagai petani.  Musim semi hingga musim panas tiba adalah saat mereka bertanam, sedangkan musim gugur adalah masa panen.  Musim dingin adalah saat jeda mereka dari bertani dan digunakan untuk istirahat.  Persediaan panen merega gunakan memenuhi kebutuhan di musim itu.

 

Yang dicemaskan oleh penduduk desa adalah hadirnya Nian, makhluk jahat yang mengganggu mereka setiap musim dingin tiba.

 

“Inilah saat yang aku tunggu, musim salju.  Aku akan memasuki desa dan mendapatkan mangsaku.” 

 

Nian selalu bersiap keluar dari persembunyiannya untuk menakuti warga dengan lima tanduk tajam di kepalanya.  Cakar tajam di tangan, juga gigi yang siap mencabik siapapun yang ditemuinya.  Aumannya dan hentakan kakinya lebih menyeramkan dari binatang buas manapun.  Kaki besarnya siap menginjak rumah dan meratakannya dengan tanah.  Bila dijumpai ada manusia maka ia akan menyantapnya bak ayam mengais cacing kesukaannya.

 

Warga pedesaan pun selalu berusaha lari menghindar atau bersembunyi ke tempat yang di rasa aman.

“Ampun, Nian.  Jangan kau mangsa aku.  Aku akan memberikan apa saja yang kamu suka asal jangan aku dan keluargaku.”  Seseorang yang sudah berada di depan mulut nian tak bisa berkutik dan akhirnya tewas.  Mengerikan sekali.

 

Banyak diantara warga yang mengunci rumahnya. Berdoa memohon perlindungan dari yang Maha Berkuasa.   Bila rumah itu tidak terinjak oleh Nian maka mereka selamat dari Nian.  Mereka berteriak,” Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat!”

 

Nama Nian ini diberikan oleh warga sebagai penanda tahun baru.  Nian artinya tahun.  Kedatangan Nian yang muncul sekali dalam setahun membuat orang-orang berniat melawannya.  Dengan berbagai cara dan strategi yang mereka musyawarahkan bersama.  Tentu untuk merumuskan langkah penakhlukan terhadap Nian.

 

“Kita usir ramai-ramai Nian saat dia muncul.”  Salah satu peserta musyawarah berjubah hitam mengusulkan.

 

“Kalau hanya diusir, ia akan datang lagi.  Sebaiknya kita bunuh saja dia.  Dan kita aman selamanya,” Si Jubah Kuning menyahut.

 

“Bagaimana akan aman bila kita membunuhnya, sedangkan Nian adalah utusan Tuhan.  Bisa-bisa Tuhan akan memberikan hukuman yang lebih pedih untuk kita,” tukas Si Jubah Hijau.

 

Pertemuan tidak menghasilkan keputusan dan kata sepakat.  Beruntunglah hadir seorang guru yang bijaksana menenangkan suasana.  Namanya Guru Zhao.

 

“Tidak mungkin Nian itu utusan Tuhan.  Tuhan Maha Melindungi, Maha Kasih-Sayang.  Dia tidak mungkin mengutus makhluk untuk membunuh dan berbuat keji pada kita.  Percayalah Nian adalah makhluk jahat yang menjadi ujian bagi kita siapa yang mau berjuang menegakkan kebenaran, keadilan dan menjaga nikmat hidup dari Tuhan.”  Guru Zhao menasihati warga dengan bijak.  Tampaknya, warga dapat memahami nasihat Guru Zhao dan muncullah keberanian melawan Nian.

 

“Betul kata Guru Zhao, kita harus melawan Nian.  Sudah banyak keluarga kita menjadi korban.  Juga rumah dan harta benda kita dirusaknya,” ungkap warga bersahutan.

 

Musyawarah berlanjut, mengumpulkan informasi, data dan pendapat dari seluruh warga.  Terutama pengalaman warga dalam mengusir Nian.

 

“Aku pernah membunyikan petasan saat Nian  datang.  Dia langsung kabur dan menghindar dari tempat kami.”  Seorang warga berjubah coklat mengungkap pengalamannya.

 

“Kalau aku lain lagi, saat Nian datang, aku sedang memakai ikat pinggang merah.  Dia ketakutan sambil menunjuk jari tangan berkuku panjangnya kea rah ikat pinggangku.” Si Jubah Biru menimpali.

 

“Aku rasa Nian akan takut dengan semua benda berwarna merah.  Beberapa tahun lalu aku memasang lampu dan aku balut dengan kain merah.  Ia tak mau mendekati rumah kami,” tambah seorang pria bertubuh kekar.

 

Semua menganggukkan kepala, kegirangan seolah menemukan apa yang menjadi kelemahan Nian.

 

“Nah, kalau pengalamanku, aku bersama kelompok tari Barongsaiku menabuh gong dan tambur bertalu-talu.  Nian tidak mendekati tempat kami dan kamipun selamat,” jelas seorang pemuda desa.

 

“Syukurlah, pertemuan kita kali ini banyak membawa berkah dan faedah.  Jadi bisa disimpulkan bahwa Nian menakuti warna merah, tari Barongsai dan segala bunyiannya juga suara memekakkan telinga dari petasan.  Menjelang tahun baru yang tinggal beberapa hari ini, kita harus menyiapkan perlawanan pada Nian.  Semua orang harus memasang lampion bertutup kain merah di rumahnya.  Lalu kau anak muda, siapkan kelompok Barongsaimu lengkap dengan gong dan tambur yang mengiringinya.  Satu lagi siapkan petasan sebanyak mungkin untuk memekakkah telinga Nian.”

 

Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan melawan Nian.  Di sela-sela kesibukan panen pada musim gugur, warga desa menyiapkan semua yang telah disepakati.  Lampion-lampion yang mereka bungkus kain hitam menghiasi rumah tiap rumah.  Menimbulkan keindahan yang tak biasanya.

 

Hari-hari yang mendebarkan tiba.  Mereka menunggu Nian keluar dari persembunyiannya. Benar saja, begitu muncul sosok mengerikan itu, penduduk desa membunyikan petasa.  Kelompok Barongsai menari dan membunyikan petasan.  Suara menjadi gegap gempita malam itu. 

 

Nian terkaget-kaget dengan segala hal tidak menyenangkan di depannya.  Hampir saja Nian pingsan dibuatnya.  Sebagian warga yang sudah siap dengan jerat, tombak, pedang, panah dan senjata tajam lainnya tidak mau kehilangan kesempatan terbaik menghabisi petualangan Nian.

 

“Aduh!!! Tolong jangan kalian binasakan aku.  Aku akan datang dengan kawan-kawanku yang lain bila kalian mencelakaiku.”  Nian mengerang kesakitan.

 

Tidak ada jalan lain kecuali Nian melarikan diri dari tempat itu.  Dia seakan trauma dengan derita yang dialami malam itu. 

Warga pun berteriak kegirangan merayakan kemenangan mereka,”Gong xi! Gong xi! Gong xi! Selamat! Selamat! Selamat!”

 

Sejak saat itu, Barongsai, lampion merah, tabuhan gong dan tambur serta bunyi petasan selalu memeriahkan tahun baru Cina. 

 

HIKMAH:

1.      Tidak ada utusan Tuhan yang berbuat kemungkaran dan penzaliman, maka hilangkan prasangka baik pada mereka yang berbuat di luar keadilan

2.      Guru adalah seseorang yang berilmu dan berakhlak sehingga dengan kebijaksanaannya ia dapat berbuat banyak untuk sesama

3.      Musyawarah meraih mufakat membawa keberkahan dan manfaat

4.      Persatuan kesatuan menjadi kunci perbaikan dan perubahan signifikan untuk kepentingan bersama

5.      Hindarkan penzaliman karena ia akan kembali pada si pelaku kezaliman itu.

 

FAKTA:

Barongsai adalah tarian tradisional Cina yang mulai muncul pada Dinasti Chin, abad ke-3 sebelum masehi.  Dilestarikan hingga popular pada Dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei), pada tahun 420-589 Masehi.  Kostum yang digunakan memiliki wajah singa dengan warna beraneka ragam.  Kostum ini di dipakai bersama  oleh dua orang untuk mewakili empat kaki singa. Di Cina Barongsai memiliki dua versi.  Versi utara dengan kostum singa bersurai ikal, sementara versi selatan, kostum bersisik dan bertanduk sehingga lebih menyerupai naga.

 

Tari Barongsai di Indonesia sempat marak bersama perkumpulan Tiong Hoa Koan hingga meletusnya G30S-PKI.  Sejak peristiwa itu Cina tertekan secara budaya dan ideology tapi tidak secara ekonomi.  Sejak reformasi, budaya ini dimunculkan kembali.  Begitu juga dengan tradisi perayaan tahun baru  Cina yang kita kenal dengan IMLEK.

 

IMLEK sebagai peringatan tahun baru Cina menjadi hari terpenting di Cina.  Mereka memperingati pergantian selama setengah bulan.  Terhitung dari tanggal satu hingga pertengahan bulan, saat bulan purnama.  Tradisi peringatannya beraneka ragam dan  telah bergeser dari tradisi awal Cina.   Pesta kembang api lebih mendominasi daripada Barongsai dan peledakan petasan .  Akan tetapi pemasangan lampion merah justru lebih digunakan untuk menarik keberuntungan dan dipajang sepanjang tahun oleh sebagian masyarakat Tionghoa.

  

REFERENSI:

1. https://reeleks.wordpress.com/2009/11/04/asal-usul-Barongsai/21/2/201

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Barongsai/21/2/2019

3. https://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek/21/2/2019

 

 


 

LEGENDA KE-13

TERBENTUKNYA DANAU TOBA, KARENA JANJI YANG TERINGKARI

(INDONESIA)

Di daerah Sumatra Utara, pada zaman dulu, hiduplah seorang anak bernama Toba.  Daerah tempat tinggal Toba merupakan dataran rendah, daerah lembah yang subur.  Ditanami apapun, lembah itu akan menumbuhkan tanaman yang menjadi rejeki untuk penduduknya.

 

Bukan itu saja, kesejahteraan masyarakat juga tertopang dari aliran sungai yang jernih dan penuh dengan ikan.  

 

“Aku akan mengail ikan sore ini, mana tahu rejekiku banyak dan melimpah dari hasil memancing ikan,” gumam Toba seorang diri.

 

Sekian lama Toba melempar umpan diujung kailnya, tapi tak satu pun ikan ia dapati.  Diliputi perasaan putus asa, Toba putuskan untuk berhenti memancing.

 

“Mungkin bukan rejekiku dari mengail ikan kali ini.  Sungguh aneh, padahal aku lihat ikan banyak berenang-renang di sungai ini.”

 

Suatu keanehan terjadi.  Tiba-tiba saat hendak menarik kailnya, ada terasa ikan yang kuat menarik kailnya.

 

“Syukurlah, akhirnya aku dapat juga ikan besar.  Meskipun hanya satu ikan ini melebihi tangkapanku sebelumnya.”  Hati Toba benar-benar riang mendapatkan ikan emas sebesar itu, “Aku akan makan besar malam ini.”  Toba membawa ikannya dalam karung dan dipanggulnya.

 

Alangkah terkejutnya Toba.  Sesampai di rumah, ikan yang ditangkapnya itu berubah menjadi kepingan uang logam emas dan…..

 

“Siapa gadis yang ada dalam kamarku itu?  Mengapa tiba-tiba ia ada dalam kamarku?”  Toba ragu untuk memasuki kamar dan menanyakan siapa gadis itu.  Akan tetapi rasa penasaran mendera.  Paras cantik gadis yang sedang menyisir rambutnya itu mengusik hati Toba.

 

“Siapa sebenarnya kamu?” tanya Toba hati-hati

 

“Aku penjelmaan dari ikan emas yang kau bawa dari sungai itu.  Dan kepingan uang logam emas itu sisik-sisikku.”

 

Wanita yang sangat cantik itu membuat Toba jatuh cinta.  Maka saat itu juga Toba melamarnya untuk dijadikan istri.

 

“Aku tidak keberatan Kakanda, tapi dengan satu syarat, Kakanda tidak boleh mengungkit ataupun membicarakan asal-usulku, pada siapapun.”

 

“Apapun syaratnya akan aku ikuti, asal kamu mau jadi istriku.”

 

Dengan prosesi yang sederhana, menghadirkan dua saksi dan wali hakim sebagai wali nikah, pernikahan itu berjalan khidmat dan lancar.  Mereka pun hidup sebagai suami istri penuh kebahagiaan.

 

Buah cinta mereka adalah seorang anak laki-laki yang tampan dan manis, mereka berinama Samosir.  Samosir tumbuh sebagai seorang remaja yang dapat disuruh oleh ibunya.  Suatu hari ibunya menyuruh Samosir membawakan makanan untuk ayahnya di ladang.

 

“Samosir, bawakan makanan ini untuk makan ayahmu di ladang.  Kasihan ayah, pasti dia sudah lapar menunggu makanan ini.  Jangan sampai lambat, kamu harus segera menyampaikan bekal ini untuk ayah!”  Demikianlah perintah Ibu Samosir.

 

“Baik, Bu.”  Samosir segera berangkat.  Akan tetapi di tengah perjalanan, rasa lapar begitu menggoda.  Samosir berniat mengganjal perut dengan bekal untuk ayahnya itu.  Tapi karena godaan yang kuat dan rasa enaknya makanan, membuatnya hanya menyisakan sedikit makanan untuk ayahnya.

 

Toba sudah tidak bisa menahan rasa laparnya dan berniat untuk pulang.  Di tengah jalan, didapatinya anaknya, Samosir membawakan makanan untuknya.

 

“Kamu lama sekali mengantarkan makanan buat Ayah?  Sini wadah makanannya!”  Toba mengambil tempat makanan untuknya dengan rasa marah.  Apa lagi ketika dibuka, makanan itu tinggal tersisa sedikit saja.

 

Samosir mulai menyadari kesalahannya dan menunduk takut.

 

“Dasar anak ikan!” hardik Toba pada anaknya.  Suara hardikan itu seakan bergema memenuhi langit.  Sampai-sampai Istri Toba pun mendengarnya.

 

Istri Toba merasa perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Toba, ia pun marah.  “Kamu telah melanggar sumpah dan perjanjian kita.  Samosir pergilah kamu ke tempat yang tinggi.  Sebentar lagi akan datang banjir bandang dengan air bah yang besar.”

 

Samosir lari menuju suatu tempat yang tinggi.  Sementara Istri Toba menghempaskan dirinya ke dalam sungai. 

 

Tiba-tiba terjadi banjir bandang besar.  Air itu membekaskan genangan yang sangat besar dan luas yang dikenal dengan danau Toba.  Pulau yang ada di tengah danau, menjadi tempat tinggal bagi Samosir dan dinamai pulau Samosir.

 

HIKMAH:

1. Jagalah hati dari rasa amarah yang bisa membuat tindakan kita tidak terkendali

2. Menjaga lisan adalah bagian dari keselamatan di dunia dan akhirat.  Karena kesalahan ucap dari lisan dapat memutuskan hubungan baik dan menjadi sebab masuknya manusia dalam neraka

3. Peganglah janji-janji kita karena janji adalah hutang

 

FAKTA ILMIAH

Danau merupakan badan air di darat  sehingga ia menjadi bagian dari wilayah daratan.  Berdasarkan faktor pembentukannya ada berbagai macam danau.  Faktor-faktor tersebut antara lain:

1.  Terjadinya letusan gunung berapi sehingga disebut danau vulkanik.  Yaitu adanya letusan gunung berapi yang menghasilkan cekungan yang dapat menampung air dan terbentuklah danau.  Faktor ini dapat dikatakan alami atau terjadi tanpa campur tangan manusia.

2.  Adanya kegiatan penambangan, yaitu pengambilan logam atau material bermanfaat lainnya yang menyisakan cekungan di permukaan bumi.  Cekungan ini dapat menampung air dan terbentuklah danau.  Faktor ini melibatkan campur tangan manusia sehingga tergolong danau tidak alami

3.  Kesengajaan membuat danau sehingga  disebut danau buatan.  Yaitu danau yang direncanakan dengan matang pembuatannya  karena alasan tertentu, misalnya: untuk dijadikan tempat wisata, membuat penampungan dan cadangan air untuk berbagai keperluan seperti irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dll.

 

Salah satu danau alami penting di Indonesia adalah danau Toba.   Ukuran Danau Toba, panjang 100 km, lebar 30 km dan kedalaman 505 m, membuat danau ini menjadi danau vulkanik terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Ianya terbentuk pada kaldera gunung berapi super.  Letaknya ada di wilayah Provinsi Sumatra Utara, berada pada ketinggian 900 m dpl.

 

Analisa para ahli terhadap pembentukannya adalah sbb:

-Sekitar 69000-77000 tahun yang lalu terjadi kekuatan ledakan besar dari gunung berapi super massif.  Kekuatannya mencapai 8 VEI (Vulcanic Explosivity Index),  merupakan letusan terbesar yang pernah terjadi di bumi dalam 25 juta tahun,  sehingga mengakibatkan perubahan iklim global

 

REFERENSI:

https://gelut.com/misteri/misteri-dan-asal-mula-danau-toba/

https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Toba

https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/danau/danau


 

LEGENDA-14

DUA EMPU PEMBANGKANG, ASAL USUL GUNUNG MERAPI

(INDONESIA)

 

Kisah ini turun temurun diwariskan bak dongeng pengantar tidur.  Karena umur legenda ini cukup lama, maka banyak diwarnai dengan agama dan budaya yang berkembang saat itu.  Tidak heran bila kisahnya diwarnai dengan kepercayaan pada banyak dewa (politeism)

Untuk menambah khasanah kekayaan imajinasi kita, yuk kita simak legenda terbentuknya Gunung Merapi ini.

***

Konon, Pulau Jawa ini awalnya dalam kondisi miring.  Tentu saja kondisi ini tidak nyaman untuk dihuni manusia.  Para dewa di kayangan pun mulai mendiskusikan keadaan ini.

          
 “Aku ingin membuat Pulau Jawa ini rata dan tidak miring seperti yang kalian saksikan di bawah sana,” kata Batara Guru, tetua para dewa menyampaikan keresahannya.

            
Maka terjadilah diskusi serius yang menghasilkan sebuah kesimpulan akan perlunya penyeimbang di tengah pulau tersebut.  Keputusan yang diambil para dewa adalah dengan meletakkan sebuah gunung di tengahnya.  Kali ini gunung yang akan dipindahkan adalah Gunung Jamurdipa yang terletak di Pantai Selatan ke daerah perbatasan Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.

“Wah, ternyata daerah yang akan kita pakai untuk memindahkan gunung ini ditempati oleh dua empu sakti.”  Para dewa mengeluhkan kesulitan yang mereka hadapi.  Untuk mengatasi kesulitan ini diutuslah dua Dewa, yaitu Batara Narada dan Dewa Penyarikan.


“Kami mengutus kalian berdua untuk menemui Empu Rama dan Empu Pamadi.  Mereka membuat keris langsung di atas paha dengan tangan mereka.  Inilah yang membuat Pulau Jawa makin miring.  Bujuklah mereka untuk pindah dari sana,” perintah Batara Guru.


Batara Narada dan Dewa Penyarikan segera menemui dua empu itu.


“Wahai Empu Rama dan Empu Pamadi, kami mendapat amanah dari Batara Guru.  Kami akan memindahkan Gunung Jamurdipa ke tempat kalian membuat keris ini.  Maka sebagai penghormatan pada kalian, para dewa meminta kalian meninggalkan tempat ini,  Supaya kalian tidak tertindih Gunung Jamurdipa,” kata Batara Narada.


“Terimakasih atas kedatangan kalian, tapi kami hanya akan mendapatkan keris yang berkualitas bila mendapatkan bahan dan membuatnya di sini.”  Empu Rama menjelaskan alasan mereka membuat keris itu pada tempat di tengah Pulau Jawa ini.


“Tapi akibat perbuatan kalian, Pulau Jawa makin miring dan akan terus bertambah miring.  Ini sangat berbahaya buat keseimbangan dan kenyamanan penghuninya.”


“Kami tetap tidak akan pindah dari sini apapun yang terjadi.”  Empu Pamadi menegaskan satu hal yang akan berakhir dengan pertempuran antara keempatnya.


Merekapun terlibat pertempuran sengit.  Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya.  Empu Rama dan Empu Pamadi dengan keris-keris pusaka buatan mereka sendiri mampu membuat Batara Narada dan Dewa Penyarikan kewalahan.


“Rasanya pertempuran ini harus kita sudahi, kalau tidak kita bisa celaka.”  Dewa Penyarikan mengeluhkan keterdesakan dari pihak dewa.


“Sebaiknya kita kembali ke kayangan dan melaporkan keadaan ini.”  Batara Narada memutuskan untuk kebali ke kayangan meskipun dengan tangan kosong.


Setiba di kayangan dan menemui Batara Guru, mereka melaporkan sifat keras kepala dari dua empu di tengah Pulau Jawa itu.


“Mereka tidak bisa dikasih penghormatan.  Kita beritahu baik-baik malah melawan. Kita tidak usah perhitungkan lagi nasib mereka.   Aku putuskan pemindahan Gunung Jamurdipa tetap dilakukan.  Dewa Bayu, segera tiup Gunung Jamurdipa dari Pantai Selatan.”  Batara Guru memerintahkan tanpa bertimbang rasa lagi.


Sendika dawuh, Batara Guru, saya akan segera melaksanakan perintah.”  Dewa Bayu yang menguasai angin segera memerintahkan tentaranya untuk mengangkat Gunung Jamurdipa. Dalam sekali tiup, gunung itu menimpa tempat kedua empu. 


Mereka tewas tertimpa tanah hempasan Gunung Jamurdipa.  Sementara perapian pembuatan keris tetap menyemburkan api panas membara, menimbulkan kawah pada puncaknya.  Gunung itu pun mendapat sebutan Merapi yang bermakna tempat perapian.


Pada kenyataannya, Gunung Merapi menjadi gunung paling aktif di Pulau Jawa bahkan Indonesia.

 

HIKMAH:

1.  Hendaklah kita mementingkan keselamatan alam lingkungan dalam rangka berakhlak pada alam sebagai sesame makhluk Tuhan. 

2.  Hendaklah kita mementingkan keselamatan bersama, sesama insane dalam rangka berakhlak pada sesama manusia.

3. Keinginan berada pada zona aman dan nyaman kadang membuat manusia enggan berhijrah walaupun itu diperintahkan oleh Allah SWT dan RasulNya.  Maka mengambil hikmah dari perintah hijrah akan meringankan langkah.  Sesungguhnya hijrah adalah dakbus salihin untuk mencari maslahat, kebaikan dan memperbaiki keadaan.

 

FAKTA ILMIAH:

Sebenarnya tahapan terbentuknya Gunung adalah sbb:

1.  Terjadinya akumulasi sedimen, lapisan-lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk hingga kedalaman beberapa kilometer.Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi. 

2.  Sedimen pada langkah pertama pembentukan gunung, mengalami deformasi karena gaya kompresi dari tumbukan antar lempeng tektonik.

3.  Pengangkatan kerak bumi akibat gerakan blok sesar. Tumbukan antarlempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung.  Bagian yang mengalami tarikan akan merenggang dan terjadilah graben yang membentuk lembah

 

Gunung Merapi memiliki ketinggian puncak di atas 2.930 meter dpl, terletak di tengah Pulau Jawa, sebagai gunung api paling aktif.  Berada di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah.  Kabupaten Magelang di sisi baratnya, Boyolali di sisi utara dan timur, Yogyakarta dan Sleman di sisi selatan, serta Klaten di sisi tenggara.   Sejak 2004, bagian puncaknya dijadikan Taman Nasional Gunung Merapi.

 

Terhitung dari tahun 1548, Gunung Merapi meletus lebih dari 68 kali.  Bahkan dalam setahun dapat meletus dua hingga lima kali.  Oleh karena itu, Merapi menjadi gunung yang sangat berbahaya.  Meskipun demikian, wilayah pemukiman penduduk mencapai ketinggian hingga 1700 m, hanya berjarak 4 km dari puncaknya.   Nah, Gunung Merapi dengan tingkat kepentingan yang tinggi ini, termasuk dalam proyek Decade Volcanoes

 

Terakhir letusan Merapi hingga tulisan ini dibuat, terjadi pada tanggal 24 Mei 2018 dengan ketinggian kepulan asap hingga 6000 m, hujan abu menyebar kea rah barat hingga Kebumen sepanjang jarak 40 km.

 

Bagian puncak merapi tidak ditumbuhi vegetasi apapun.  Vegetasi Merapi di bagian teratas didominasi alpine khas pegunungan, misalnya Rhododendron dan Edelweis jawa.  Bagian di bawahnya terdapat hutan bamboo dan tumbuhan pegunungan tropika.  Di bagian selatan terdapat hutan hujan tropis pegununga, dengan anggrek endemic Vanda tricolor yang termasuk dalam vegetasi langka.  Di bagian kaki, pada ketinggian kurang dari satu kilometer terdapat varietas salak unggul, Pondoh dan Nglumut

 

REFERENSI:

https://histori.id/legenda-asal-usul-gunung-merapi/

https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-dari-yogyakarta-asal-mula-gunung-merapi/

https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

https://ardiyansyah.com/2016/07/fungsi-gunung-dan-proses-terjadinya.html


 

LEGENDA KE-15

SIPUT YANG SETIA KAWAN, MENGAPA SIPUT MEMANJAT DAHAN?

(PHILIPINA)

 

Diawal-awal penciptaannya, Allah SWT memenuhi bumi dengan tumbuhan, kemudian barulah binatang. Di antara binatang-binatang itu terdapat  tupai, capung, lebah besar dan siput.  Masing-masing bernama Tupi, Capi, Tawon dan Putput.

 Mereka memutuskan untuk membagi tugas sesuai dengan kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing.  Tupi adalah yang paling besar dipilih menjadi pimpinan di rumah itu.  Dalam sebuah musyawarah Tupi membagi tugas untuk seluruh anggota keluarga itu.

“Aku paling besar dan gerakkanku lincah biarlah aku bertugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan. Tugas ini cukup berat dan berisiko di luar sana. Tawon, kamu punya senjata yang ampuh dan dapat terbang.  Maka tugas kamu menjadi penjaga untuk keselamatan semua anggota keluarga.  Kamu adalah lebah besar.  Racun di sengatmu akan tetap tertancap kuat dan tidak akan lepas dari badanmu saat menyengat.  Ini sangat berbeda dengan lebah kecil dari bangsamu.  Kamu Capi, dengan penampilan rapihmu, kamu sangat cocok untuk menjadi bagian humas.  Mengatur kerjasama dengan keluarga lain, sekaligus menjadi sekretaris pribadiku.  Putput, gerakanmu lambat maka aku tugaskan kamu untuk menjadi juru masak keluarga kita.”

“Baiklah Tuan Tupi, kami akan menjalankan tugas kami dengan sebaik mungkin.”   Demikianlah satu keluarga empat satwa itu bersepakat.

Suatu hari Tupi pergi untuk mencari bahan makanan karena persediaan makanan sudah mau habis.  Tupi pergi ke hutan dan melihat ada ikan dalam tempat yang mirip sangkar burung. 

“Alhamdulillah ada ikan dalam sangkar itu aku akan membawanya.  Di hutan ini pasti tidak ada siapa yang memilikinya.”  Tupi segera memasuki sangkar.  Tapi betapa malangnya sangkar tiba-tiba tertutup dan seorang pemburu menghampirinya.

“Nampaknya aku harus puas dengan seekor tupai kali ini.  Tidak mengapa.  Aku akan mencapurkannya dengan dedak dan memberikannya pada itik peliharaanku. 

Akhir hidup Tupi sangat tragis berakhir di ujung pisau dan menjadi makanan itik.

Tiga anggota keluarga yang lain tidak tahu bagaimana nasib dari tupi.  Seua berdoa sekiranya Tupi akan kembali.  Tapi hingga rasa lapar mendera, Tupi tidak juga pulang.  Mereka kehilangan kesabaran.  Diutuslah Capi untuk mencari Tupi, pemimpin mereka.

Capi terbang kian kemari hingga tapi lelah tidak juga menemukan Tupi.  Akhirnya ia hinggap pada setangkai teratai di pinggir danau.

Seekor ikan memperhatikannya mencari akal untuk bisa menyantap Si Capi.

“Hai, Capi kasihan sekali kamu.  Kelihatannya lelah sekali?” tanya Kani si ikan licik.

“Ia aku mencari pemimpin kami Tuan Tupi.  Ia sedang mencari makan buat kami tapi tidak juga kembali.”  Capi bercerita sedih.

“Kamu kelihatan lucu dengan wajah sedih dan penampilanmu yang amburadul itu.  Ha…ha…ha…lihat dasi kamu terjuntai mau jatuh,” olok Kani dari permukaan air.

Merasa tidak enak ditertawakan seperti itu, Capi membenahi dasinya.  Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih.  Posisi hinggap yang tidak stabil membuat Capi terpelanting ke danau dan langsung disantap Si Kani.

Dua anggota keluarga mereka tinggal Putput dan Tawon.  Mereka makin kelaparan dengan habisnya bahan makanan mereka.  Yang paling menderita adalah Tawon karena ia harus mencari bahan makanan jauh dari tempat tinggal mereka.  Sementara dia tidak bisa meninggalkan tugas menjaga seisi rumah. 

Berbeda dengan Putput ia dapat dengan mudah mendapatkan makanan.  Dari rerumputan bahkan dari sisa bahan makanan yang dibuang oleh keluarga lainnya.

“Aku sudah tidak tahan lagi.  Kemana mereka pergi.  Semua tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali.  Sedangkan aku tidak boleh meninggalkan rumah ini. “ Tawon kesal dengan keadaan yang harus dihadapinya. 

“Sabar, Tawon.  Sebaiknya kita cari mereka berdua.”

“Tidak bisa siput, aku mendapat tugas menjaga rumah kita ini, bukan?”

Akhirnya Tawon sudah tidak tahan dengan apa yang dideritanya.  Diikatkannya tali  pada perutnya untuk mengurangi rasa lapar.  Malangnya ikatan itu terlalu kencang.  Ia mati lemas kelaparan, terjatuh dalam keadaan terlentang. 

“Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun, aku sendirian sekarang.  Kemana teman-temanku?  Aku tidak mau sendiri.  Aku akan cari mereka sampai ketemu.”

Siput berjalan perlahan di atas rerumputan sambil memanggil Tupi dan Capi. Merayap tiada kenal lelah.  Apabila ada tumbuhan yang ia jumpai, ia akan memanjatnya.  Tujuannya untuk bisa melihat sekeliling dengan lebih leluasa.

Begitulah Putput dengan sabar merayap dari satu tempat ke tempat lain.  Memanjat tiap kali ada tetumbuhan yang tinggi.  Sepanjang perjalanan mencari teman-temannya, Putput menangis sedih.  Akibatnya sepanjang jejaknya, membekaskan tanda basah berupa lendir dari air matanya.

Kebiasaan ini diikuti oleh anak keturunannya, dari generasi ke generasi.  Jadilah siput senang memanjat apa saja.  Dengan tetap berharap akan bisa berjumpa dengan kawan-kawan  satu keluarga yang dicintainya.

 

HIKMAH:

1.  Dalam sebuah keluarga perlu adanya pemimpin dan pembagian tugas yang jelas untuk memberikan rasa tanggung jawab.

2. Masing-masing anggota keluarga hendaklah menjalankan apa yang menjadi tugasnya masing-masing

3. Sifat rasa setia kawan akan membuat kita merasa kehilangan atas ketidakhadiran kawan kita. Maka keinginan mengetahui kabar dan keadaan kawan bagian dari sifat setia kawan.

4. Tanda kesetiaan terhadap kawan adalah pengharapan atas keberuntungan dan keselamatan mereka.

 

FAKTA ILMIAH:

Siput tergolong dalam kelas Moluska Gastropoda, bermakna hewan bertubuh kunak dengan perut sebagai alat gerak atau kakinya.  Gastropoda terdiri dari dua jenis, yaitu yang bercangkang dan tidak bercangkang.  Cangkang Gastropoda berupa mangkuk bergelung.  Sedang Gastropoda tanpa cangkang disebut siput telanjang, dalam bahasa jawa disebut resrespo.

            Jumlah spesies Gastropoda menempati urutan kedua setelah  Insekta (serangga).

            Habitat siput sangatlah luas dari parit hingga gurun dari laut dangkal sampai laut dalam. Siput dapat hidup di air tawar, payau bahkan air asin.  Sebagian besar spesies siput justru hidup di laut.

            Kebanyakan siput hidup sebagai herbivora (pemakan tumbuhan).  Ada juga yang hidup sebagai omnivora (pemakan segala) dan karnivora (pemakan daging/hewan lain).

            Beberapa jenis Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebon  (Helix, sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)

            Taksonomi Siput (Helix pomatia): Kingdom, Animalia; Filum: Moluska, Kelas: Gastropoda, Subkelas: Orthogastropoda, Superordo: Heterobranchia, Ordo: Pulmonata, Famili: Helicidae, Genus: Helix, Spesies: Helix pomatia

 

REFERENSI:

https://hubpages.com/literature/Folktales-legends-and-myths-from-the-Philippines-Why-did-the-snail-climb-the-tree

https://id.wikipedia.org/wiki/Siput

https://id.wikipedia.org/wiki/Helix_pomatia


 

LEGENDA KE-16

PERSETERUAN JAKAL DAN SINGA

(AFRIKA)

 

Berhari-hari Lion terbakar dendam karena tipuan  Jakal.  Ia merasa menjadi binatang paling bodoh meskipun badannya besar dan kuat.

 

“Tenanglah sahabat.  Aku akan membantumu mencari Jakal.  Aku juga punya dendam padanya. Satu keluargaku habis dimangsanya,” ucap Mice, si tikus betina.  Mice yang sering menjadi mangsa Jakal ingin musuhnya binasa oleh Lion.  Persahabatan Mice dan Lion bermula dari bantuan Mice untuk melepas Lion dari jaring perangkap yang dipasang pemburu.

 

Dengan bantuan Mice, Lion dapat mengetahui di mana Jakal berada.

 

“Aduh, celaka, Raja Rimba itu mengejarku.”  Jakal berlari mencari celah sempit yang bisa dipakainya untuk bersembunyi.

 

Berkali-kali Jakal harus memutar otak tiap kali bertemu Lion.  Trik apa lagi yang harus dia lemparkan untuk mengelabuhi Lion.

 

Kadang muncul kekhawatiran, apabila mereka bertemu lagi, mungkin Lion sudah tidak percaya dengan tipuannya.  Pasti Lion akan lebih waspada dan Jakal pun kebingungan tentang trik yang sudah disiapkan di otaknya bila sewaktu-waktu bertemu dengan Lion.

 

Suatu saat Jakal benar-benar berada dalam keadaan terjepit.  Dari arah berlawanan muncul Lion di depannya.

“Hai, Jakal.  Kamu belum membayar tipuanmu padaku tempo hari.  Kamu tidak akan bisa lagi mengelak dariku.”  Dari kejauhan Lion berteriak.  Wajah geramnya menyeringai.  Tampak gigi taring Lion meneteskan air liur siap menyantap mangsa.

 

Lion makin dekat.  Jakal tidak mau kehilangan akal karena takut.

 

Di depannya ada  jurang yang berundak-undak.  Banyak bebatuan di tebingnya. Jakal menuruni jurang seakan terjatuh.  Ia menyangga batu yang digesernya seolah menimpanya.

 

“Jakal kemana kamu?  Jangan sembunyi dariku!  Aku akan segera menemukanmu.”

 

“Lion, tolong aku.  Aku tertimpa batu.  Sebentar lagi batu-batu tebing ini akan runtuh dan kita berdua akan binasa.”

 

“Tipuan apa lagi yang akan kau lemparkan padaku.  Aku tidak percaya.”  Lion membalas.

 

“Lihatlah batu yang menimpaku ini.  Aku menahan batu ini supaya batu tebing ini tidak runtuh satu persatu menimpa kita.  Aku akan mengambil kayu penyangga.  Kalau tidak kita akan mati.”

 

“Baiklah aku akan menyangga batu itu dan setelah semua baik-baik saja.  Bersiaplah untuk menjadi mangsaku.”

 

Begitu Lion menyanggupi perjanjian itu, Jakal lari sekencang mungkin menjauhi Lion.  Sementara Lion tetap dalam keadaannya menyangga batu.

 

Sekian lama Lion menyangga batu, Jakal tidak juga datang.  Baru disadarinya bahwa ia telah tertipu lagi oleh jakal.  Dengan hati kesal dilemparkannya baru itu.  Tidak peduli batu-batu di atasnya menimpanya.  Tubuhnya yang kuat tidak merasa sakit yang berarti.  Lagipula sakit dihatinya lebih besar daripada sakitnya tertimpa batu.

 

PESAN MORAL

1.       Kecerdikan akan dapat mengalahkan kekuatan tapi lemah dalam akal dan ingatan.

2.       Jangan kecil dengan rasa lemah karena selalu ada jalan bagi yang mau berusaha

3.       Jangan pernah sombong oleh kekuatan yang ada pada kita semuanya atas izin dan pemberianNya

 

FAKTA ILMIAH (Tentang Singa dan Jakal sudah ada di legenda sebelumnya)

Singa tergolong dalam jenis kucing.  Makanya mereka memiliki kemiripan dalam ciri fisik.  Hanya saja ukurannya yang membuat kita menjaga jarak dengan mereka.

Beberapa fakta menarik tentang singa antara lain:
1). Singa adalah kucing terbesar kedua setelah harimau.
2). Menuanya bulu dan rambut  terkait dengan umurnya, makin tua makin gelap.  Wah kebalikan dengan kita ya, bangsa manusia.  Makin tua makin pudar warna rambutnya.
3). Rambut yang panjang dan gelap adalah daya tarik singa jantan.  Singa betina akan lebih menyukai singa berambut panjang dan gelap yang menunjukkan kematangan usia singa tersebut.
4). Singa adalah perenang yang handal, kalau dia sudah mengincar mangsa maka seolah pantang gagal menangkapnya

5). Lompatan singa sangat jauh, bisa mencapai 36 kaki.
6). Dalam satu hari singa makan hingga sekitar 18 pon (8,1 kg) daging

REFERENSI:

1.      http://sekolahbagiilmu.blogspot.com/2017/03/40-fakta-unik-tentang-singa-yang-belum.html

2.      http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore

 

 


 

LEGENDA KE-17

PERSAHABATAN MUSANG DAN BURUNG SEKRETARIS

(AFRIKA)


            Ini ada lagi cerita tentang permusuhan antara musang dan ular tapi dengan versi yang berbeda.  Kali ini versi dari negara asalnya, Afrika.

            Zaman dahulu musang bersahabat dengan  burung sekretaris (Lucu, ya, namanya?  Dinamakan burung sekretaris mungkin karena memiliki kaki jenjang dan bulu cantik seperti seseorang yang berseragam abu dan hitam.  Mengingatkan kita pada sekretaris kantor).

            Suatu ketika burung sekretaris berpamitan ingin pergi mandi karena merasa kegerahan.

Dalam kesendiriannya, musang bertemu dengan ular di semak-semak.

            “Hai, musang, maukah kamu menemaniku berjalan-jalan di padang rumput kita ini?”

            “Aku nggak keberatan ular, hitung-hitung buat mengusir rasa sepi.”
            “Tahukah kamu, ada sesuatu yang istimewa ingin aku tunjukkan padamu.”

            “Apa itu, Ular?  Musang penasaran, ingin tahu

            Setelah perjalanan yang cukup jauh, ternyata ular menunjukkan sebuah sarang di tanah.  Ada beberapa telur dalam sarang itu.  Musang benar-benar tidak tahu siapa pemilik telur itu.

            “Apakah kamu mau mencicipi telur-telur itu?  Rasanya sangat lezat, Musang.”

            “Aku tidak ingin memakannya.  Aku belum pernah makan telur sebelumnya.”

            “Mereka sangat lezat, gurih dan segar.  Aku sering memakannya.  Enak sekali, coba lihat caraku memakannya.”   Ular terus membujuk dan menampakkan kelezatan rasa dari telur-telur itu.

            Musang mulai tergoda memakan telur itu tanpa bertanya siapa yang memilikinya.
            “Benar juga, Ular, telur-telur ini memang lezat.”  Mereka berdua makan hingga telur terakhir dimakan oleh musang.  Bersamaan dengan itu, datanglah burung sekretaris.
            Ular yang licik memulai fitnahannya pada musang.”Sangat disayangkan, telur anda yang cantik ini dimakan oleh musang hingga habis.”
            “Teganya kamu, Musang.  Memakan telur teman dekatmu sendiri.”  Burung sekretaris marah besar, kecewa dan sedih  merasa dikhianati.

            “Maafkan aku aku tidak tahu kalau ini telur-telurmu.   Ular juga memakannya.  Justru ular yang mengajakku memakan  telurmu ini.  Aku sudah menolaknya tapi dia tetap membujukku.”

            Burung sekretaris juga melihat ada cangkang di samping tubuh ular. 

            “Kalian berdua memakan telur-telur saya!”
            "Anda berdua sudah makan telur saya," kata Sekretaris Bird dengan marah.

            “Ular tidak memberi tahuku bahwa ini telur kamu, kalau begitu kita serang saja perusak persahabatan kita ini.

            Mereka berdua menyerang ular dengan sengit.  Bahkan gerakan musang sangat cepat memburu kepala ular.  Ular kewalahan dan mati oleh musang.

            “Mulai sekarang, aku akan turut menjaga sarangmu dari serangan ular-ular jahat itu.  Kalu mereka mencuri telurmu, aku akan membinasakannya”
            "Benar saja.  Musang menepati janjinya untuk memakan ular.  Dengan mengandalkan gerak cepatnya, Musang dapat dengan mudah mengalahkan ular.
            Sementara itu, burung sekretaris belajar membuat sarang di tempat yang lebih aman.  Di dahan pohon yang rindang ataupun berduri, supaya aman dari serangan ular.  Hingga kini burung sekretaris juga memakan ular dengan menggunakan kekuatan kakinya yang jenjang juga menyerang dengan tanduk kakinya.

 

PESAN MORAL:

1. Janganlah kau memakai atau memakan sesuatu tanpa kau tahu siapa pemiliknya 

2. Janganlah menjadi pengkhianat karena sifat ini akan mendekatkan kita pada kebinasaan

3. Tetaplah menjalin persahabatan dan hindarkan diri dari permusuhan

4. Waspadalah pada kejahatan mereka yang senang mengadu domba dan memecah belah

5. Permintaan maaf saat bersalah akan menyambungkan kembali persahabatan yang terkoyak dan menghapus permusuhan

 

FAKTA ILMIAH

Fakta ilmiah tentang musang sudah pernah kita ungkapkan pada legenda terdahulu, sekarang kita simak dulu apa burung sekretaris itu?

 

Burung sekretaris adalah jenis burung pemangsa berukuran besar.  Merupakan hewan endemic yang khas hidup di Afrika.  Banyak dijumpai di padang rumput terbuka, Savana di wilayah Sub-Sahara  Afrika.

 

Taksonomi:

Kingdom:Animalia,  Filum: Chodata, Kelas: Aves, Ordo: Accipitriformes, Famili Sagittariidae, Genus: Sagittarius, Spesies: Sagitarius serpentarius.

 

Nah, kita tentu penasaran Mengapa burung ini mendapat julukan burung sekretaris.  Secara etimologi, ilmu asal-usul kata.   Sekretaris disematkan pada burung ini karena jambulnya yang mirip dengan pena.  Seorang sekretaris biasanya menyelipkan pena di telinganya.  Selain itu kaki yang jenjang dan bulu mirip seragam seorang sekretaris wanita bisa jadi menginspirasi pemberi nama pertama untuk burung ini.

 

Hipotesa yang lebih ilmiah adalah penyerapan kata dari bahasa Prancis yang diserap dari bahasa Arab saqr at tair yang bermakna burung pemangsa.

 

Nama genus Sagitarius, bermakna pemanah (bahasa Latin) dan nama spesies serpentarius terkait keterampilannya sebagai pemburu.

 

REFERENSI :

1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Burung_sekretaris

2.  http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore


 

LEGENDA KE-18
AWAL MULA PERSAHABATAN
 JAKAL, KARAKAL DAN ELAND

 

            Nama hewan ini tentu masih asing buat kita.  Baiklah akan diperkenalkan sedikit apa itu Jakal, Karakal dan Eland.  Jakal adalah bangsa srigala, dengan ukuran lebih kecil.  Karakal sebangsa kucing bertelinga hitam sedangkan Eland merupakan jenis kijang berukuran paling besar.

            Suatu ketika Karakal pulang dari perburuannya.  Di tengah perjalanan yang melelahkan, ia ingin segera sampai di rumah dengan berlari.  Tidak sengaja ia menabrak binatang yang belum pernah diketahuinya sebelum ini.

            Besarnya tubuh binatang itu membuatnya kaget dan ketakutan.  Tidak ada jalan lain, ia mendekati binatang itu dengan waspada dan berhati-hati,”Assalamu’alaikum, kawan, siapa namamu?”

            Sosok besar itu tidak segera menjawab, ia menghentakkan kakinya ke tanah.  Menghasilkan gumpalan debu seperti awan besar.  Kemudia ia menjawab dengan nada kasar tidak bersahabat, “Namaku Eland! Kamu siapa?”  Eland tidak menjawab salam dari Karakal.

            Karakal masih terkagum-kagum dengan ukuran besar Eland, ia lebih senang menganggapnya sebagai raja kijang atau kijang raksasa.  Hanya sampai disitu saja percakapan keduanya.  Karakal terus berlari secepat mungkin, masih dengan rasa takutnya sambil berkata,”Aku Karakal.”

            Karakal tidak begitu bersahabat baik dengan Jakal.  Sekali waktu Jakal menampakkan perhatiannya.  Anehnya, terkadang mereka juga bertengkar bahkan terlibat perkelahian.

            “Apa yang membuatmu tersengal-sengal? Adakah sesuatu yang akan ingin mencelakaimu?”

            “Aku menabrak tetangga kita di bawah sana.  Dia besar sekali.  Sungguh baru kali ini aku melihat kijang sebesar itu.”

            “Bodoh sekali kamu.  Dia itu mangsa yang sangat enak.  Kenapa tidak kau terkam daging besar itu?”

            “Aku terlalu kecil untuk memangsanya.”

            Kedua sahabat itu bersepakat untuk memangsa bersama Eland.  Pikir mereka, meskipun besar akan lebih mudah bila diserang bersama.  Saat-saat seperti ini, mereka terlihat seperti sahabat karib.  Mereka pun turun mengendap-endap ke rumah Eland di kaki bukit.  Eland menyadari kehadiran mereka.  Ia curiga bahwa mereka akan memangsanya juga keluarganya. 

            Eland segera bersembunyi di dekat isterinya.”Ada yang berniat jahat pada kita.  Apa yang harus aku lakukan?”  Eland kebingungan dalam cemasnya. 

            Isterinya menyarankan sesuatu.”Tenanglah, aku punya akal.  Buat anak kita menangis di depan mereka, katakana bahwa anakmu kelaparan. Berusahalah untuk membuat mereka iba.”

            Eland mengikuti saran isterinya, ditanduknya kaki anaknya hingga menangis.

            Tangisan yang pilu itu membuat Jakal bertanya penyebab tangisan sedih itu.”Mengapa anakmu menangis.  Tampaknya dia sedih sekali.”

            “Benar, Jakal.  Dia sudah tidak makan berhari-hari.  Kalaupun kalian menginginkan daging kami, daging kami tidak akan enak dimakan.  Kami akan bisa kalian nikmati kalau kami dalam keadaan kenyang.”

            Tiba-tiba Jakal melirik kearah Karakal.  Eland dan keluarganya sedang lapar, dagingnya akan keras.  Sementara Karakal pasti akan lebih lezat.  Maka Jakal mengikatkan tali pada Karakal. 

            “Subhanallah, Jakal, apakah kamu mau memangsaku?”  Karakal protes dengan kelakuan Jakal.

            “Tenanglah, aku sudah terlalu lapar.”  Jakal menyeringai.  Taringnya meneteskan air liur dan matanya menatap tajam.  Mengerikan.

            Karakal segera mengambil langkah penyelamatan diri.  Ia lari sekencang mungkin sedangkan Jakal tetap memegang tali pengikat leher Karakal. Jakal terjatuh ke dalam lubang cukup dalam.  Tubuhnya terpelanting hingga memar.  Sementara itu Karakal terlepas dari tali kekang itu.

            Jakal mengaduh dan meminta tolong pada Karakal.  Ia berjanji tidak akan berkhianat lagi.  Melihat Jakal celaka, Karakal membantunya untuk naik dari lubang.  Dibantunya Jakal untuk sembuh dari luka-luka itu.

            Mereka pun memutuskan untuk tidak saling mencelakai lagi.  Mereka pun bersahabat dengan Eland dengan masih terus merasa kagum dengan tubuh besarnya yang gagah.

 

PESAN MORAL:

Bersahabatlah dengan tulus maka kita akan mendapatkan ketenangan dan berbagai kemudahan.

Persahabatan berarti menyambung tali silaturahmi.  Di dalamnya ada keberkahan, saling menolong, memperpanjang umur, memperbanyak rejeki dan menjadi penyembuh dari berbagai penyakit

Hindari sifat khianat karena sifat itu akan mengantarkan kita pada celaka

Jawablah salam dengan keramahan agar menghapus segala kebencian, menghilangkan kekhawatiran dan rasa takut.

 

FAKTA ILMIAH

Karakal: Sejenis kucing berukuran sedang, habitatnya tersebar di Asia Barat, Asia Selatan dan Afrika.  Nama Karakal dari bahasa Turki karakulak yang bermakna telinga hitam.  D Afrika, dikenal dengan sebutan Rooikat atau kucing merah.

 

Karakal bertubuh ramping dan berotot, kakinya panjang, ekornya pendek.  Berat jenis jantan bisa mencapai13-18 kg, sedangkan betinanya sekitar 11 kg. Panjang tubuhnya 65-90 cm. Warna bulunya bervariasi antara merah anggur, abu-abu ataupun warna pasir, motif bintik kemerahan.  Pupil mata berupa lingkaran bercelah.  Ciri yang paling mencolok adalah telinga panjang hitamnya yang berfungsi mencari mangsa.  Kakinya berambut di antara bantalan kakinya.

 

Taksonomi:

Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo:Carnivora, Famili: Felidae, Subfamili:Felinae, Genus: Caracal, Spesies beragam sesuai pemberi namanya (Caracal caracal/Caracal melanotis/Felis caracal )

 

Jakal: Jakal tergolong dalam jenis Canis, yang meliputi serigala dan anjing.  Ada tiga macam Jakal, yaitu jakal emas, jakal punggung hitam, jakal bersisi garis.  Mereka tersebar di Afrika dan Eurosia(Asia dan Eropa)

 

Taksonomi:

Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia, Ordo:Carnivora, Famili: Canidae,  Genus: Canis, Spesies: Canis aureus (Jakal emas), jakal sisi bergaris (Canis adustus)
jakal punggung hitam Canis mesomelas

 

Eland:

Eland raksasa (Taurotragus derbianus) salah saru spesies kijang dari genus Taurotragus.  Ukurannya mencapai 220-290 cm, sangat besar , ya?  Bila dibandingkan kijang pada umumnya, sekitar dua kali lipatnya.  Habitatnya di padang rumput dan hutan terbuka di Afrika.

 

Berdasarkan jenis makanannya, Eland tergolong dalam herbivora.  Makanannya berupa ranting, rumput dan dedaunan

 

Eland hidup berkoloni dengan anggota 15-25 ekor tentu tujuannya untuk membentuk kelompok solid yang dapat menggagalkan serangan mangsa seperti harimau dan singa.

 

Taksonomi:

Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mamalia Ordo:Artiodactyla, Famili: Bovidae, Subfamili: Bovinae, Genus: Taurotragus, Spesies: T. derbianus

 

REFERENSI:

http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore

https://id.wikipedia.org/wiki/Karakal

https://id.wikipedia.org/wiki/Eland

https://id.wikipedia.org/wiki/Jakal


 

LEGENDA KE-19
MENGAPA CITAH BERLARI KENCANG,

KARUNIA ALLAH UNTUK CITAH

(Afrika)

 

Allah SWT yang Maha Mencipta memberikan ujian pada tiap makhluknya.  Dia ingin melihat siapa yang paling baik amalannya.

 

Di sebuah hutan Afrika hiduplah Citah yang bercakar lembut.  Dengan cakarnya yang lembut ini, ia kesulitan dalam mengejar maupun menangkap mangsa.

 

“Gala, maukah kau meminjami aku cakarmu yang kuat itu?  Aku kesusahan mendapatkan jejekiku.”  Citah mengeluhkan kesusahannya pada Gala, sahabat dekatnya, si serigala hutan. 

 

“Tentu saja, Citah.  Silakan kau pakai, nanti kalau kamu sudah dapat mangsa kembalikan padaku.”

 

Saat mau mencari mangsa, ternyata ada perlombaan yang diadakan raja hutan.  Perlombaan ini untuk menentukan siapa yang tercepat di hutan itu.  Yang hadir di sana keluarga kijang yang diwakili oleh Tsebi, si tsessebe, kijang dengan kecepatan paling hebat. Sedangkan keluarga besar kucing diwakili oleh Citah.

 

“Ayo Tsebi, kita bertanding kecepatan dengan sportif, ya?”

 

“Aku akan bisa mengalahkan kamu Citah.  Cakar yang kau pinjam itu akan dengan mudah lepas dari kuku kakimu.”  Tsebi mencibir dan menyombongkan diri.

 

“La haula walaa quwata illa billah.”  Hanya kalimat itu yang bisa terucapkan dari kepasrahan Citah.  Ada rasa ciut juga dalam hati Citah.  Tapi dia bertekat untuk membawa nama baik keluarga besarnya.

 

Benar saja, Tsebi meninggalkannya jauh di belakang.  Tapi Citah tetap berusaha lari secepat yang ia mampu.  Tsebi yang merasa di atas angin itu lengah dari bahaya di depannya.  Kaki panjangnya tersandung batu dan terguling.

 

“Aduh, tolooong!”  Teriakan kesakitan meminta bantuan terdengar oleh Citah. 

 

Citah yang berhati lembut berusaha mencari sumber suara itu.  Betapa kagetnya Citah, ternyata yang mendapat musibah itu Tsebi yang sempat merendahkannya.  Ada pergumulan dalam hatinya, antara menolong Tsebi atau menjadi pemenang di perlombaan ini.  Dengan rasa kasihnya, Citah memilih untuk menolong Tsebi.

 

“Tsebi, bersabarlah, aku akan mencari ramuan di hutan ini untuk menghentikan darah yang keluar dari lukamu.”

 

“Citah, aku bukan hanya luka, kaki depanku patah, Errr!” Tsebi mengerang kesakitan.

 

“Baiklah aku tahu batang pohon tulang untuk memperbaiki patah kakimu.”

 

Dengan sabar Citah merawat kaki Tsebi sampai membaik dan dapat melanjutkan perjalanan.

 

Di akhir perlombaan, para penghuni hutan sudah tidak sabar melihat jagoan tercepatnya masing-masing.  Siapa kiranya yang mencapai garis finish terlebih dahulu.  Betapa kecewanya mereka, ternyata Citah dan Tsebi datang dengan berjalan santai.  Bahkan Citah memapah Tsebi.

 

“Dengan ini, perlombaan diulang.  Pada kejuaraan kali ini dinyatakan kedua peserta terdisqualifikasi.”  Raja hutan mengumumkan dengan kecewa dan marah.  Semua yang terjadi dijelaskan oleh Citah.

 

“Paduka, sebenarnya Tsebi lebih cepat hanya saja dia terjatuh.”  Ungkap Citah.

 

“Tidak Paduka, meskipun saya lebih cepat, saya rela menyerahkan penghargaan juara pada Citah.  Justru saya ingin meminta maaf padanya sudah menyombongkan diri di depannya.”

 

Melihat kerendahan hati dan kemuliaan sikap Citah, Allah SWT mengaruniakannya cakar yang keras dan kuat lebih dari yang dipinjam Citah dari serigala.

 

Pada perlombaan yang diulang oleh raja, Citah dapat lari dengan benar-benar lebih cepat.  Tsebi pun mengakui kehebatan gerak cepat Citah yang dikaruniakan Allah SWT.

 

PESAN MORAL:

1.  Jangan pernah menyombongkan diri, segala nikmat adalah titipan dari Allah.  Sangat mudah bagiNya mencabut kembali nikmat itu.

2.  Tetaplah berbuat baik pada sesama saat mereka membutuhkan, bahkan pada sainganmu sekalipun.  Perbuatan baik itu akan melembutkan hati dan menumbuhkan kasih sayang.

3.  Allah SWT menguji dengan segala hal yang kita jumpai dalam kehidupan ini, Ia menilai siapa yang terbaik amalannya.  Dia juga yang akan membalas tanpa perhitunga, baik karunia di dunia mupun di akhirat.

 

FAKTA ILMIAH:

 

Yuk kita simak! Citah ternyata berasal dari bahasa Sansekerta, chitraka, yang artinya berbintik.  Dia termasuk anggota dari keluarga kucing (Felidae), lho!.  Dikenal memiliki kecepatan yang sangat tinggi bahkan paling cepat dengan level 110 km/jam.  Bahkan hebatnya percepatannya bisa mencapai 0-100 km/jam2.  Kecepatan ini lebih hebat dari mobil balap formula satu.

 

Corak Citah sangat indah dengan bintik gelap diantara bulu keemasannya.  Dia mengandalkan kecepatan dalam menangkap mangsa bukan dengan mengendap-endap sebagaimana jenis macan yang lain.

 

Taksonomi:

Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Mammalia, Ordo: Carnivora, Famili:Feliade, Subfamili:Acinonychinae, Genus: Acinonyx, Spesies: Acinonyx jubatus.

 

REFERENSI:

1.  http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore

2.  https://id.wikipedia.org/wiki/Citah


 

LEGENDA KE-20

GAJO DAN BELALAINYA

(AFRIKA SELATAN)

 

Satu lagi khazanah kisah dari Afrika, kali ini dari Afrika Selatan.  Tentang Gajah bernama Gajo.

Awalnya Gajo diciptakan dengan tubuh besar dan gemuk tetapi tidak memiliki hidung yang sepanjang belalainya sekarang.  Sering kali Gajo mengeluhkan kesulitan yang dialaminya.

“Rabb, badan kami besar.  Kami butuh banyak minum dan makan.  Tapi kami tidak memiliki anggota tubuh untuk meraih dedaunan di ranting pohon.  Atau meraih rumput untuk kami makan.  Juga saat minum kami harus bersusah-susah untuk merunduk.  Sedangakan badan kami setambun ini, wahai Tuhan.  Mohon kiranya Engkau beri kemudahan pada kami.”  Gajo mengeluhkan keadaan diri dan nasibnya pada Allah SWT.

Doa ini didengar oleh Jalko si burung jalak.  Jalko yang bertengger untuk mematuk serangga yang hinggap pada tubuh Gajo.

“Sudah bagus hidung kamu pendek.  Kalau hidungmu panjang.  Aku tidak akan nyaman memakan serangga-serangga yang hinggap di punggungmu.  Malah aku takut terkena pukulan hidung panjangmu.”  Burung yang membantu meringankan rasa gatal gigitan serangga di punggung Gajo itu tersenyum sendiri.  Ia membayangkan Gajo  memainkan hidung untuk mengusir mangsanya, kutu dan serangga kecil.

“Kamu sudah lama menjadi sahabatku, aku tidak akan mengusirmu dengan hidung panjangku, kalau doaku ini dikabulkan.”  Gajo berjanji.

Siang itu udara begitu panas.  Gajo merasa kehausan.  Musim kemarau yang cukup panjang mengeringkan air yang ada di kubangan kecil di padang rumput.  Terpaksa Gajo pun berjalan jauh mencari air.  Jalko masih setia menemaninya kemana pun Gajo pergi.  Jalko sudah terlalu nyaman mendapat makanan di punggung Gajo.  Sebaliknya Gajo merasa terbantu dalam mengurangi rasa gatal oleh gangguan serangga.

Perjalanan iut mengantarkan Gajo pada rawa-rawa.  Betapa senangnya Gajo mendapat tempat yang banyak airnya.

“Alhamdulillah, Jalko, di depan kita ada rawa-rawa.  Wah, kita bisa tinggal di sini dalam waktu lama.  Air ini tidak akan habis walaupun kemarau masih belum berganti musim.”

“Aku turut senang Gajo, rejekimu, keberuntunganku juga.”  Jalko menari riang kesana-kemari di atas punggung Gajo.  Sesekali ia terbang di sekitar Gajo.  

Saat Gajo istirahat di bawah pohon rindang karena kelelahan, Jalko terbang mengawasi keadaan.

“Gawat, Gajo harus tahu di rawa ini ternyata ada seekor buaya yang bisa memangsanya.”  Jalko segera kembali pada Gajo.

“Bangun Gajo, rawa-rawa ini tidak aman buat kita.  Ada buaya yang siap menjadi pemangsamu.  Ayo kita pergi dari sini.”  Jalko melaporkan apa yang dilihatnya pada Gajo.

“Tidak mungkin, aku tidak melihat bahaya apapun.  Kamu jangan membohongiku kawan.”  Gajo yang masih setengah sadar dari tidur lelapnya tidak mengindahkan kabar dari Jalko.

Saat haus makin mendera kerongkongan Gajo, ia segera menuju rawa itu.  Tanpa curiga sedikitpun bahwa ada seekor buaya sedang bergerak pelan ke arahnya.  Buaya sengaja menyelamkan tubuhnya hanya lubang hidungnya sedikit muncul di permukaan.

Gajo memasukkan hidung pendeknya ke dalam air rawa itu, sambil menyimpuhkan kaki depannya.

“Alhamdulillah rasa hausku hilang juga.”

Baru saja Gajo berusaha menegakkan kaki dari posisi bersimpuhnya, tiba-tiba…….

“Aduh tolong aku terjepit.”  Gajo menyangka bahwa hidungnya terjepit akar pohon..

Ditariknya sekuat tenaga hidung itu tapi tidak juga berhasil.  Sebaliknya buaya juga merasa mangsa yang ditariknya terlalu berat.  Buaya ingin sekali memangsa Gajo.  Lumayan buat persediaan makan berhari-hari untuk mangsa sebesar ini, batin buaya, penuh harap.

Gajo berusaha untuk mundur sementara buaya tidak ingin menampakkan kepalanya di permukaan air.  Tentu saja hidung pendek Gajo memanjang karena pertarungan itu, hampir putus.  Beruntung datang sahabat setianya, Jalko.

“Gajo, kamu dalam bahaya.  Buaya itu benar-benar ingin memangsamu.”

“Tolong aku, Jalko!  Maafkan aku tidak percaya pada kata-katamu.”  Gajo menyesal.

“Baiklah kawan, aku akan mengalihkan perhatian buaya jahat itu.”

Jalko terbang di atas kepala buaya bahkan hinggap di lubang hidung buaya.  Buaya merasa terganggu.  Bidungnya terasa gatal dan ingin bersin.

“Kurang ajar kau jalak kecil.”  Buaya tak mampu menahan lagi hidung Gajo.  Dia bersin dengn keras, hampir saja Jalko terpelanting dan masuk mulut buaya.  Beruntung Jalko dapat terbang dengan gesit.

Gajo yang masih menarik hidungnya terjengkang.

Malangnya, hidung itu tetap panjang dan tak kembali pada keadaan semula.  Bahkan dua gigi serinya juga ikut tertarik menjadi dua taring di kanan kirinya.  Gajo merasa malu dengan hidung  dan taring panjangnya.  Maka dia mengasingkan diri bersama Jalko.  Sambil menunggu luka di hidungnya perlahan-lahan membaik, Gajo mencoba menerima kondisi barunya..

“Jalko nampaknya ada hikmah besar dari memanjangnya hidungku.  Aku akan memanfaatkannya untuk meraih dedaunan dan mencabut rumput.”

“Syukurlah, Gajo.  Kamu tidak perlu lagi malu dengan hidung barumu.”

“Aku akan terus berlatih menggunakannya.”

Sejak itu, gajah merasa sangat nyaman dengan belalainya.  Ia dapat dengan mudah memperoleh makan dan minum. Bahkan untuk mandi saat panas mendera. Juga memukul musuh-musuhnya.

 

PESAN MORAL:

1. Saat kita dalam kesulitan atau pun menginginkan sesuatu maka mohonlah pada Tuhan yang Maha Mendengar

2. Tetap waspada dan hati-hati dalam berbuat, dengarkan kata orang-orang dekat yang mengasihi kita maka hal ini akan mendekatkan kita pada keselamatan

3.  Dengan bersabar, berbaik sangka dan optimisme, kita akan mampu memperbaiki keadaan, mengubah musibah menjadi potensi dan karunia Allah SWT.

 

FAKTA ILMIAH

Yuk kita kenali tokoh legenda kita kali ini.  Gajah tergolong dalam mamalia (binatang menyusui).  Penyebarannya ada di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara.  Beberapa keluarga gajah sudah mengalami kepunahan yaitu mamut dan mastodon. 

 

Gajah Afrika jantan memiliki tinggi hingga 4 meter dan massanya bisa mencapai 7000 kg, Masya Allah, besar sekali, ya.

Mereka memiliki hidung panjang yang kita sebut belalai.  Fungsinya ternyata sangat banyak yaitu bernapas, menghisap air dan mengambil benda.  Wah, mirip tangan, ya?  Taringnya yang panjang sering kita sebut gading adalah perpanjangan dari gigi serinya, berfungsi sebagai senjata sekaligus alat untuk menggali dan memindahkan sesuatu.  Daun telinganya lebar untuk membantu mengatur suhu tubuh.

 

Ternyata morfologi tubuh gajah Afrika dan Asia ada bedanya, lho?  Gajah Afrika memiliki telinga lebih lebar dan bentuk punggung cekung sedangkan gajah asia, bertelinga lebih kecil dan punggung cembung.

 

Dari jenis makanannya, gajah adalah herbivora.  Tempat hidupnya tersebar di sabana, hutan, gurun dan rawa.

 

Sekarang kita simak taksonomi dari gajah ini.   Kingdomnya tentu Animalia, Filum: Chordata, Subfilum: Vertebrata, Kelas: Mamalia, Superordo:Afrotheria, Ordo:Proboscidea, Famili:Elephantidae, Genus:Loxodonta dan Elephas), Spesies: gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus)

 

REFERENSI:

1.  https://id.wikipedia.org/wiki/Gajah

2. http://angolarising.blogspot.co.id/african-folklore